Posts Tagged With: yogyakarta

A romantic morning in nature

img_hpm01

This is not a love story  😛

At that time, as usual, early in the morning I was already on the street to look for sunrise moments in the area. I was in Yogyakarta back then; a city which known as one of Indonesia’s center of art and culture. The destination I chose that morning was Imogiri area, which could be reached in approximately 1 hour drive from Yogyakarta’s city centre to the south. The place was located in a hilly area.

That morning, Yogyakarta’s streets and roads were not crowded and I was already in a place called Hutan Pinus Mangunan (Mangunan Pine Forest) in a predicted time. The tranquillity of the area was still undisturbed by neither travelers nor stall owners that were still doing their daily routines in their own homes. Only an old man was already busy sweeping the area in front of his unopened simple stall.

Leaving the car in the parking area, I hurriedly walked crossing the road and entering the forest area. The morning sun rays piercing through the pine leaves and shone the forest area with yellowish light. I stepped on the dried pine leaves that made the land looked brownish in order to look for an open space so I could get a clear view to the rising sun and valley below; and . . . fortunately I found the place that I looked for 🙂

img_hpm02

In there, facing to the east, there was a wooden platform which was built in a simple but artistic way. From above the platform, I had a clear view to the rising sun and the sea of cloud in the valley below as I expected.

img_hpm03

img_hpm04

After some time, when I finished taking pictures, I then realized that there was a young couple waiting for me before the platform. Seemed that they want to enjoy the tranquillity of the place together but they did not want to disturb me taking pictures. So, I packed quickly and stepped down from the platform and motioned them to take my place in the platform. A warm greeting following a brief chit chat with the couple, and then I left them enjoying their special moments there witnessed by the sun.

Did I really leave them alone?

Well . . . not really. I found their presence in the platform was quite photogenic. So . . . I took some pictures of them from afar :mrgreen:, and I shared the results in here, too 😛

img_hpm08

The more than 1,200 acre pine forest area was located in Mangunan Village which was administered under Dlingo Subdistrict, in Yogyakarta, Indonesia. Nowadays, Hutan Pinus Mangunan became one of the main tourist destinations in Yogyakarta, especially for teenagers. For them the pretty scenery in the forest was a perfect background for their pictures. Many couples also took pictures in there as they believed the straight trunk of the pine trees resembled their pure love and the evergreen pine leaves resembled their everlasting love. Perhaps it was the same reason that also attracted many couple to take their pre-wedding pictures in there 😛

Anyway, to be honest, I want to go back there to take more pictures in the forest. There were many parts of the forest which I hadn’t explored yet at that time. Perhaps in any other time in the near future I would have more time to explore. Care to join me? 😉

img_hpm13

img_hpm18

Keterangan :

Pagi itu, seperti biasa aku sudah berada di jalan sementara banyak orang lain masih bergelung di bawah selimut. Tujuanku juga masih sama, berusaha memperoleh momen-momen indah ketika sang surya mulai memancarkan cahayanya yang memberikan kehidupan kepada semua makhluk di bumi ini.

Waktu itu kebetulan aku sedang singgah di Yogyakarta, sebuah kota yang dikenal sebagai Kota Pelajar dan juga yang dikenal sebagai salah satu kota yang menjadi pusat kebudayaan di negeri kita ini. Dan tujuanku pagi itu mengabadikan keindahan saat-saat matahari terbit di perbukitan di daerah Imogiri dan sekitarnya.

Dengan jalan-jalan di Yogyakarta dan sekitarnya yang masih relatif sepi di pagi hari itu, dalam waktu kurang lebih satu jam aku sudah sampai di Hutan Pinus Mangunan. Ketika aku sampai di sana, keadaan masih sepi, Belum terlihat adanya pengunjung lain yang datang. Warung-warung yang ada pun rata-rata masih tutup. Hanya terlihat seorang bapak tua sedang menyapu halaman warungnya.

Setelah kendaraan yang membawaku ke sana terparkir dengan baik di lapangan parkir yang tersedia, aku bergegas menyeberangi jalan dan masuk ke kawasan hutan pinus itu. Sinar mentari yang kekuningan terlihat menerobos di sela-sela pokok pinus menambah keindahan kawasan hutan itu.

img_hpm09

Aku terus berjalan menyusuri jalan setapak yang ada mencari kawasan yang terbuka sehingga pandanganku ke arah terbitnya matahari tidak terhalang. Udara yang sejuk membuat langkahku ringan menginjak hamparan daun pinus kering yang seolah karpet tebal yang menutupi tanah hutan. Dan . . . untungnya aku bisa menemukan tempat seperti yang aku cari itu 🙂

img_hpm10

Di situ, aku menemukan sebuah anjungan kayu sederhana yang dibangun dengan bentuk cukup artistik. Dari atas anjungan itu, pandangan ke arah timur tidak terhalang apapun. Matahari pagi dengan sinarnya yang keemasan menyinari hamparan awan yang bak lautan di lembah di bawahnya bisa terlihat dengan jelas.

img_hpm12

Saking asyiknya menikmati keindahan yang tersaji sambil sesekali mengabadikannya, aku tidak menyadari kalau ternyata ada sepasang merpati yang menunggu untuk naik ke anjungan kayu itu. Karena itulah aku segera berkemas dan turun, memberikan kesempatan kepada keduanya untuk naik ke anjungan kayu itu. Setelah berbasa basi sebentar, aku kemudian meninggalkan mereka berdua menikmati saat-saat pribadi mereka berdua.

Eh tapi nggak juga ding :mrgreen:

Jujur aku akhirnya nggak betul-betul meninggalkan mereka berdua sendiri. Posisi mereka berdua yang sedang berada di anjungan kayu terlalu indah untuk dilewatkan tanpa diabadikan. Karena itulah aku tergoda untuk mengabadikannya dalam bentuk siluet dari kejauhan. Sorry ya Mas dan Mbak . . . 😳

Hutan Pinus Mangunan terletak di Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, yang masuk wilayah Kabupaten Bantul di Yogyakarta. Hutan seluas lebih dari 500 HA ini sekarang menjadi salah satu tujuan Wisata alam yang banyak dikunjungi pelancong baik dari Yogayakarta sendiri maupun dari luar kota. Kebanyakan pelancong yang datang masih berusia muda. Keindahan pemandangan di dalam kawasan hutan membuat banyak orang ingin berfoto di sana. Bahkan banyak juga pasangan-pasangan yang melakukan sesi foto pre-wedding di sana.

img_hpm17

Aku sendiri masih pengin kembali ke sana lagi. Aku membayangkan alangkah indahnya kalau aku bisa mendapatkan foto kawasan hutan pinus itu ketika kabut tipis melayang dan menyelinap di antara pokok-pokok pinus yang berdiri tegak dalam kesunyian. Ada yang mau ikutan ke sana? 😉

img_hpm11

img_hpm19

Advertisements
Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 10 Comments

Pernah mencoba makan dalam penjara?

Kalau pertanyaannya begitu, rasanya aku bisa bilang kalau aku pernah dong makan dalam penjara 😛 . Etapi bukan penjara beneran lho ya . . . amit-amit deh kalau sampai masuk penjara *langsung ketok meja tiga kali*. Yang aku maksud sebetulnya adalah sebuah resto yang interiornya dibikin mirip dalam penjara karena resto ini menabalkan diri dengan nama Jail Restaurant atau restoran penjara.

IMG_BKT01

Nama resto ini adalah Bong Kopitown, karena resto ini dimiliki oleh Bong Chandra yang sudah cukup dikenal sebagai seorang entrepreneur muda yang juga adalah seorang motivator dan penulis buku. Kebetulan sebelum bulan puasa kemarin, aku berkesempatan menjajal beberapa menu yang ditawarkan di salah satu cabang resto tersebut yang berada di Karawaci.

Koq salah satu? Iya, Bong Kopitown sejauh ini sudah memiliki 5 gerai, yaitu di Kelapa Gading – Jakarta Utara, Plaza Semanggi – Jakarta Pusat, Summarecon Bekasi, Supermall Karawaci, dan di Jl. Sagan Yogyakarta. Sayangnya, dari info terakhir yang aku terima, gerai yang di Plaza Semanggi sudah tutup. Entah dengan gerai-gerai yang lain. Mudah-mudahan sih masih beroperasi seperti yang di Karawaci itu, dimana aku sempat mencoba beberapa jenis masakan Bong Kopitown yang ditawarkan di sana, lokasi pasti Bong Kopitown yang di Supermall Karawaci ada di Lantai 2 mall tersebut.

Menurut aku, ide Bong Chandra untuk membuat themed restaurant seperti ini cukup brilian. Apalagi perlengkapan makannya juga disesuaikan dengan keadaan dalam penjara, paling tidak itu yang aku lihat dalam film-film yang bertema penjara di bioskop maupun di televisi :D. Makanan disajikan di atas piring-piring logam, ataupun mangkuk logam. Sedangkan untuk minuman, kalau aku gak salah, hanya teh panas saja yang disajikan dalam cangkir logam, sementara minuman dingin tetap disajikan dalam gelas.

secangkir teh panas di atas daftar menu  (a cup of hot tea on a restaurant menu)

secangkir teh panas di atas daftar menu (a cup of hot tea on a restaurant menu)

Makanan yang disajikan di Bong Kopitown adalah makanan China Peranakan yang merupakan warisan keluarga Bong. Dari beberapa jenis yang aku coba, rasanya cukup lezat. Pada kesempatan itu, aku sempat mencoba nasi goreng ala Keluarga Bong, kuetiaw goreng, bihun goreng Singapura, nasi fu yung hai, mie goreng, nasi penjara, dan juga mie penjara. Wah koq banyak, memang muat perutnya? 😯  He he he . . . tentu saja gak muatlah, perutku masih normal koq, bukan karung :P. Cuma kebetulan aku ke sana bersama keluargaku, jadi pasti muatlah semua makanan itu, apalagi porsinya juga pas koq, gak terlalu besar dan juga gak terlalu kecil. Sebetulnya masih banyak lagi menu yang ditawarkan di sana, seperti misalnya nasi lemak, nasi ikan asam manis, laksa Singapura, yamien, dan lain-lain. Dan semuanya memang kelihatan enak. Cuma ya itu tadi, apa daya perut sudah gak muat  :(.  Lain kali rasanya perlu balik lagi untuk mencoba menu yang lain juga.

Jenis-jenis makanan yang aku sebut di atas masuk dalam kategori menu utama, karena untuk yang cuma perlu camilan untuk teman ngobrol, resto ini juga menawarkan berbagai macam makanan ringan seperti ubi goreng, pisang goreng, roti bakar ala Hong Kong dan lain-lain. Aku sendiri waktu itu sempat mencoba singkong ala Thailand. Untuk minumannya, resto ini menawarkan berbagai macam minuman, baik dingin maupun panas. Semuanya bisa dipilih di menu yang bentuknya menyerupai lembaran koran yang di beri nama Old Town Post, dimana di halaman utamanya memajang berita mengenai adanya tiga orang buronan paling dicari yang menyerahkan diri. Di halaman muka tersebut juga bisa dibaca sedikit cerita mengenai ketiga buronan itu dan mengapa mereka akhirnya menyerahkan diri.

Keunikan resto ini tidak hanya tampak dari suasana ruangan yang dibuat mirip dengan keadaan dalam penjara lengkap dengan jeruji besi dan sel-sel yang bisa ditempati pengunjung tamu ini untuk menyantap hidangan yang mereka pesan, tetapi juga dari seragam para pramusaji yang akan dengan ramah menyambut para tamu dan mencatat pesanan. Seragam yang berwarna hitam putih bergaris sepintas mirip seragam penjara dalam film-film. Bahkan untuk masuk ke area resto, pengunjung harus melalui tirai yang terbuat dari rantai-rantai yang digantung.

Begitu masuk ruangan resto, yang pertama kali akan dijumpai adalah meja tinggi yang difungsikan sebagai tempat meracik minuman, sedangkan di sebelah kanannya merupakan ruangan dapur yang dibatasi tembok dengan ruangan pengunjung. Tembok tersebut memiliki jendela untuk tempat keluarnya masakan pesanan pengunjung yang sudah siap disajikan.

Nah . . bagaimana? Tertarik untuk mencoba makan dalam penjara? Tertarik sih tertarik, tapi bagaimana harganya? Oh iya, hampir lupa . . . :oops:.  Harganya gak mahal juga koq. Untuk makanan utama harganya berkisar antara 20K – 30K, sementara snack tidak lebih dari 20K per porsinya. Minuman pun berkisar segitu, tergantung apa yang dipesan. Ya masih cucuklah membayar harga tersebut untuk suasana yang unik dan rasa masakan yang enak  🙂

Eh iya, jangan berfikir kalau ini promo lho ya. Ini murni iseng karena menurut aku resto ini unik dan layak di coba. Banyak lho pengunjung yang menyempatkan berfoto-foto juga di dalam ruangan resto ini. O ya, pada akhir pekan, resto ini cukup penuh pada jam-jam makan. Jadi kalau memang berniat mencoba, sebaiknya datang sebelum waktu makan atau justru setelahnya. Waktu aku ke sana sih kebetulan aku sampai sebelum waktu makan siang, jadi masih dapat tempat di dalam salah satu sel “penjara” itu 😀

 

Summary :

The title of the post can be translated as “have you ever had your meal in jail?”
Yup, you’re not mistaken, but what I meant here was not a real jail, of course. It was only a themed restaurant in Karawaci, a Jakarta’s satellite city, where I had my lunch with my family recently. I intently made my lunch as one of my post because the restaurant’s theme was quite unique; even the restaurant’s name underlined the theme. As you’ve seen in the last picture below, the name was Bong Kopitown Jail Restaurant.

IMG_BKT18

The restaurant owner was Bong Chandra, a young entrepreneur who was also a motivator and a book writer; hence the restaurant name was Bong Kopitown. He boasted that all the dishes were made based on his family old recipe. It was a Peranakan cuisine. Well, about peranakan cuisine, according to Wikipedia the cuisine combines Chinese, Malay, and other influences into a unique blend; and Bong Chandra proved that the blend were really made good taste dishes  🙂

To have a meal in Bong Kopitown, not only you taste various delicious foods, but also a unique environment. In there you can choose to seat in a small hall together with other guests or in a cell, even you can close the cell’s door if you want it 😀 . The utensils used were also like the ones used in a jail as portrayed in films (sorry I haven’t been in a jail and don’t even want to be in a jail, so I don’t know what were the real utensils used in a real jail 😛 ). The waiters and waitresses were all wear an inmate uniform.

IMG_BKT17

Anyway, it was a unique concept to be applied on a restaurant, and yet it was a successful trick as the restaurant was almost always full during lunch and dinner time. Perhaps it also caused by the price that was quite cheap for such a restaurant. It was only about Rp 20,000.- – Rp 30,000.- (US$ 2.- – US$ 3.-) per serving.

At last, the post was not intended as a promotion for the restaurant which already had 5 outlets. I made it just because I thought the restaurant was quite unique and all the dishes served were worth the price  🙂

IMG_BKT22

Categories: Food Notes | Tags: , , , , | 82 Comments

Mengenal budaya Mataram di kesejukan lereng Merapi

Kali ini, supaya gak bosan bolak-balik main di pantai terus, sekali-kali aku posting tujuan wisata lain yang bukan pantai ya. Yuk kali ini kita mendaki ke tempat yang agak tinggi, sekaligus mencari udara sejuk :). Masih di sekitaran Yogyakarta juga koq. Bisa menebak kan? Yup seratus buat yang menebak betul; pada kesempatan ini aku mampir di Kaliurang, sebuah tempat wisata yang berlokasi di sebelah utara kota Yogyakarta. Karena letaknya yang berada dilereng Gunung Merapi dengan ketinggian sekitar 900 meter di atas permukaan laut, Kaliurang berhawa cukup sejuk. Eh tapi sekali ini aku gak ngajak jalan-jalan di Kaliurang, melainkan langsung menuju ke salah satu sudut Kaliurang. Tepatnya ke Jalan Boyong, Kaliurang.

“Lhah emangnya ada apa di situ?” 😯

Nah di salah satu sudut kawasan Kaliurang ini, terselip sebuah bangunan yang sepintas tampak seperti bangunan yang terbengkelai karena hampir tertutup oleh berbagai jenis tumbuhan yang tumbuh subur dan rimbun di sekelilingnya. Tembok-temboknyapun kelihatan sudah berlumut. Hus jangan bisik-bisik gitu, kita bukannya mau berburu Dracula di situ. Mentang-mentang bentuk bangunannya mirip kastil-kastil di Eropa itu, jangan terus berpikir horror gitu ah. Meskipun bangunannya bergaya gothic, bangunan itu sepenuhnya bukan milik orang asing, bahkan bangunan itu sebetulnya merupakan sebuah museum yang didedikasikan untuk seni dan budaya Jawa. Jadi memang merupakan sebuah tempat yang pantang dilewatkan oleh para pecinta budaya, khususnya budaya Jawa. Namanya Museum Ullen Sentalu. Tuh lihat di pintu masuknya jelas terlihat namanya di sela-sela rimbunan pohon itu.

the entrance to the museum  ( pintu masuk museum )

the entrance to the museum ( pintu masuk museum )

“Namanya koq kedengaran tidak biasa ya? Bukan Bahasa Jawa rasanya, ataukah nama itu diambil dari Bahasa Sansekerta?” 🙄

Untuk namanya, memang sepintas seperti mempergunakan bahasa asing, tetapi sebetulnya Ullen Sentalu merupakan singkatan kata-kata dalam Bahasa Jawa, yaitu dari kata-kata ‘Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku’, yang mengandung arti ‘nyala dian yang menjadi penuntun dalam melangkah dan meniti kehidupan’. Hal ini sesuai dengan tujuan didirikannya museum tersebut oleh Yayasan Ulating Blencong pada tahun 1994 yang lalu, yaitu untuk melestarikan kebudayaan Jawa sehingga adanya museum ini bisa diibaratkan bagai sebuah lampu penerang yang bisa menerangi suasana redup yang melingkupi kebudayaan, khususnya Budaya Jawa, yang semakin terkikis oleh kemajuan jaman.

Di dalam museum tersebut tersimpan dan juga tersaji dengan apik berbagai benda, tulisan dan juga foto yang berkaitan dengan Dinasti Mataram yang pernah berkuasa di Tanah Jawa ini sebelum akhirnya pecah menjadi empat keraton, dua di Yogya dan dua lagi di Solo. Yang di Yogya adalah Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman; sedangkan yang di Solo adalah Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunegaran.

Untuk menjelajahi museum ini, pengunjung tidak dibiarkan kluyuran sendiri, melainkan dipandu oleh seorang pemandu yang menjelaskan dengan lancar dan cara yang cukup menarik mengenai isi keseluruhan museum itu dari ruangan ke ruangan, dari satu lemari pajang ke lemari pajang yang lain, dan dari satu panel ke panel yang lain juga. Lamanya penjelajahan ini kira-kira 1 jam. Jadi, kalau kebetulan ada pengunjung yang datang sendiri, biasanya akan digabung dengan pengunjung lain sehingga bisa membentuk suatu kelompok kecil.

Penjelajahan di dalam Museum Ullen Sentalu itu dimulai dengan memasuki Gua Selo Giri. Yang disebut dengan Gua Selo Giri ini sebetulnya bukan merupakan gua seperti bayangan kita, melainkan bangunan yang terletak sedikit di bawah permukaan tanah dan dibangun mengikuti kontur tanah dan juga akar-akar raksasa pepohonan yang sudah berusia ratusan tahun sehingga ruangan satu dengan ruangan lain dihubungkan dengan lorong-lorong. Dalam Gua Selo Giri ini pemandu menjelaskan mengenai sejarah dan kehidupan para bangsawan Dinasti Mataram jaman dahulu. Banyak benda dan lukisan baik besar maupun kecil yang merupakan peninggalan masa lalu terpajang di sana, antara lain perangkat gamelan dan lukisan-lukisan yang menggambarkan para penari keraton dan juga kehidupan para bangsawannya.

IMG_ULS02

Setelah keluar dari Gua Selo Giri, pengunjung akan diajak menjelajahi ruangan-ruangan lain berikutnya. Antara lain ruangan yang berisi berbagai macam batik, khususnya batik dengan pola-pola klasik. Di sini pengunjung memperoleh penjelasan menggenai kapan waktu yang tepat untuk mempergunakan batik dengan pola tertentu. Ternyata tidak sembarang pola batik bisa dipergunakan di setiap kesempatan lho :P. Dijelaskan pula beberapa corak batik yang diciptakan oleh puteri-puteri kraton dan latar belakang terciptanya pola batik tersebut. Misal saja pola batik truntum yang diciptakan oleh salah satu puteri keraton ketika hatinya bersedih kala mengetahui suaminya menikah lagi. Tetapi ketika suaminya melihat pola batik ciptaannya tersebut, sang suami kembali terbit rasa cintanya kepada puteri tersebut, sehingga pola batik itu dinamakan ‘truntum’ yang bisa berarti bersemi kembali <3.

Ada pula ruangan khusus yang seolah menjadi saksi kisah cinta seorang puteri dari Keraton Solo yang dikenal dengan nama Puteri Tineke, sehingga ruangan tersebut dinamakan Ruang Tineke, meskipun sebenarnya bernama Ruang Sekar Kedaton. Puteri Tineke adalah puteri dari Sunan Pakubuwono XI. Puteri yang bernama asli GRAy Koes Sapariyam ini memiliki kisah cinta yang cukup menyedihkan, karena hubungan cintanya dengan pemuda pujaannya tidak direstui oleh orang tuanya. Untungnya saat itu Sang Puteri memilik banyak kawan yang selalu mendukungnya. Dukungan itu berujud surat yang dikirimkan kepada Puteri Tineke dalam kurun waktu antara tahun 1939 – 1947. Sekarang, surat-surat yang pada umumnya berbentuk puisi cinta itu terpajang dengan rapi, bahkan disertai juga dengan foto-foto pengirimnya, serta juga diberikan terjemahannya karena sebagian surat-surat itu aslinya berbahasa Belanda. Pengunjung bisa membaca satu demi satu kumpulan surat yang sudah terpajang dalam panel-panel di dinding karena kesemua surat tersebut masih terawat dan tulisannya masih terbaca jelas. O ya, mungkin ada yang penasaran dengan akhir kisah cinta Puteri Tineke ini? Well . . . akhirnya adalah akhir yang indah seperti dalam buku-buku cerita dongeng, karena Sang Puteri akhirnya bisa menikah dengan pria pujaannya dan hidup berbahagia ❤ 🙂 ❤

IMG_ULS11

woman statue by the pool in the backyard (patung wanita di tepi kolam di halaman belakang museum)

Ruangan lain yang juga didedikasikan untuk seorang puteri dikenal dengan nama Ruang Puteri Dambaan. Dalam ruangan ini, pengunjung bisa lebih mengenal sosok Gusti Nurul, seorang puteri Keraton Mangkunegaran Solo yang betul-betul menjadi dambaan banyak pria pada saat mudanya karena selain memang berparas cantik, Gusti Nurul juga dikenal pandai dan cakap dalam menari, berkuda, bermain tenis dan juga berenang. Puteri Mangkunegoro VIII dengan Gusti Ratu Timur ini bernama asli GRAy Siti Nurul Kamaril Ngarasati Kusumawardhani. Konon pada waktu itu, hampir setiap sore Gusti Nurul berlatih menunggang kuda di suatu tanah lapang, dan setiap kali Gusti Nurul berkuda di situ, hampir dipastikan kalau tanah lapang itu akan dipenuhi para pemuda yang ingin menyaksikan kecantikan Gusti Nurul. Di dalam ruangan Puteri Dambaan tersebut terpajang banyak sekali foto Gusti Nurul, sejak beliau masih bayi sampai sekarang. Di antara foto-foto itu, tampak juga foto Gusti Nurul sedang menari di hadapan para tamu agung pada pesta pernikahan Puteri Juliana di Belanda. Uniknya, saat itu Gusti Nurul menari dengan iringan gamelan yang dimainkan di Solo dan diperdengarkan melalui sambungan telepon. Kalau jaman sekarang sih mungkin merupakan hal yang biasa, tetapi waktu itu merupakan hal yang sangat luar biasa. Gusti Nurul yang sekarang sudah berusia lebih dari 90 tahun dan tinggal di Bandung ini dikenal sebagai seorang puteri yang dengan tegas menentang poligami, sehingga pada masa mudanya berulangkali menolak pinangan para pangeran maupun pejabat tinggi yang pada saat itu biasa memiliki istri lebih dari satu.

Di ruangan lain dalam museum ini, pengunjung juga akan bisa mengetahui perbedaan busana pengantin Jawa gaya Surakarta dan gaya Yogyakarta. Di situ, selain dijelaskan secara detail apa saja perbedaannya pengunjung juga akan dijelaskan apa arti dari semua riasan dan perlengkapan busana yang dikenakan sang pengantin.

Sebelum mengakhiri kunjungan di museum ini, pengunjung akan diajak beristirahat sejenak di suatu ruangan. Di situ pemandu akan menyajikan minuman berupa ramuan berbagai bahan yang dipercaya bisa menyegarkan tubuh. Konon ramuan tersebut adalah ramuan yang berasal dari keraton. Rasanya . . . uenakkk lho, segar dan tidak pahit. Sayang gak boleh minta tambah 😀

IMG_ULS05

Penjelajahan dalam museum yang seolah membawa pengunjung ke jaman yang telah lampau itu diakhiri di sebuah ruangan yang merupakan sebuah toko, dimana pengunjung bisa membeli cendera mata, batik, baju dan lain sebagainya.

O ya, mungkin banyak yang bertanya juga mengapa tidak banyak foto yang aku sertakan dalam postingan ini. Ya, hal ini dikarenakan di dalam area museum, pengunjung dilarang mengambil foto. Jadi buat yang kurang puas dan ingin tahu lebih banyak, mampirlah ke Museum Ullen Sentalu kalau pas ke Yogyakarta 🙂 .—

IMG_ULS10

 

Summary:

The post is about a museum called Ullen Sentalu. The name was an abbreviation of a Javanese quotes “Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku” which can be translated freely as the light that guides people in their living on the world. The museum was located in a corner of Kaliurang, a resort at the slope of Mount Merapi, about 30 kilometers from Yogyakarta to the north.

The museum was a place to preserve Javanese culture as well as to display everything about Mataram Dynasty, a dinasty that once became the ruler of Java before then it was separated into four centers of authorities, two of them were in Yogyakarta and the other two were in Solo. In Yogyakarta they were known to rule from two palaces, Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat (Yogyakarta Sultanate) and Kadipaten Pakualaman (Pakualam Princedom); while in Solo there were Kasunanan Surakarta (Surakarta Sunanate) and Praja Mangkunegaran (Mangkunegara Special Teritory).

IMG_ULS01

To enter the museum, travelers would be escorted by an experienced guide who would lead the way and explain about everything in the museum. Yes this was a guided tour through the museum; and during the excursions, travelers were free to ask about everything related to the displayed items in there. The duration of the tour through the museum was approximately 1 hour.

To start the excursion, travelers would be guided through a tunnel to a room called Gua Selo Giri. The name Gua Selo Giri could be translated as the Mountain Stones Cave. It was not a real cave, actually. It has the name because the room was built underground like a cave, even though when people entered the room it was far from a look of a room in a cave. In the room, there was a set of ‘gamelan’ – Javanese traditional music instruments which was said to be given by the Sultan of Yogyakarta. There were also some big paintings depicting the life of Javanese noblemen in the past as well as paintings depicting the royal dancers in action.

IMG_ULS06

To come to the next room, travelers would pass through a path with many antique paintings and statues, most of the paintings were about the Sultans, Princes, and Princesses of the dynasty. In one of the room, travelers would be explained about the ‘batik’; how they were be made, the different style and pattern of ‘batik’ originated from Yogya and Solo, when one should wear a special pattern of ‘batik’, and also the story behind some of the ‘batik’ pattern.

There were also two rooms dedicated to certain princesses of Solo. The first one was called Balai Sekar Kedaton (the Princess Room) or most commonly known as Tineke Room because many things about Princess Tineke was displayed in the room; most of them were letters be written by the princess friends to encourage and support her when she was very depressed because she was not allowed to marry her lover by his father, the king of Solo called Sunan Pakubuwono XI. The princess, whose real name was GRAy Koes Sapariyam, received so many letters, either in Dutch as well as in Bahasa Indonesia during the period of the year 1939 through 1947. Most of the letters were poems. Now, most of the letters were on display together with the picture of the senders, so travellers could read and feel the same feeling as the princess, as all the letters were still intact. And . . . don’t you want to know how about the end of her love story? Well, as in almost every fairy tale, the story ended with happiness as the princess married her lover at last ❤ 🙂 ❤

modern style statues in the park  ( patung bergaya modern di taman belakang )

modern style statues in the park ( patung bergaya modern di taman belakang )

The other room that also dedicated to a princess was called Ruang Puteri Dambaan (the Room of the Desired Princess). The princess was known as Gusti Nurul, the daughter of Mangkunegoro VIII of Solo. Her real name was GRAy Siti Nurul Kamaril Ngarasati Kusumawardhani, and she was known for her beauty. She was also known as a smart girl as well as good in traditional Javanese dancing, horse ridding, lawn tennis and swimming. She was also known to strictly say no to polygamy, which was why she refused many marriage proposals sent by many princes and noblemen, because it was a common practice that kings and noblemen had more than one wife at that time. In the room, travelers could see many pictures of Gusti Nurul and could prove how pretty she was. Nowadays, Gusti Nurul, who was more than 90 years old, was lived in Bandung, Indonesia.

Well . . . to end this post, I think it was a trip worth to join, especially for travelers who love to explore many cultures 🙂 .–

Categories: Travel Notes | Tags: , , , | 73 Comments

Blog at WordPress.com.