Food Notes

Segelas kopi es di kedai kopi yang melegenda

Ngomong-ngomong soal kopi . . . pasti banyak di antara kita yang suka dengan minuman yang katanya bisa membuat orang tahan melek ini; meskipun bagi beberapa orang, termasuk aku sendiri, kalau sudah ngantuk meskipun minum kopi ya tetap ngantuk aja. Kata orang, biar gak ngantuk, kopinya jangan diminum, tapi dituangin ke mata. Ha ha ha . . . itu sih ngaco, bukannya melek malah bisa-bisa harus segera dilarikan ke dokter mata ya 😆

Nah . . kalau kita ditanya mengenai tempat ngopi favorit kita, tentu jawaban kita bakal macam-macam. Buat para eksekutif muda yang berkantor di berbagai perkantoran mentereng, tentu akan menyebut nama beberapa cafe maupun kedai kopi yang sudah terkenal dengan tempat yang rata-rata bernuansa modern. Beberapa bahkan dilengkapi dengan sofa-sofa yang memungkinkan para pengunjungnya bersantai sambil ngobrol, tentu saja sambil minum berbagai minuman berbahan dasar kopi dengan nama-nama yang bagi sebagian kita, terkesan asing. Mungkin nama-nama seperti Americano, Cappuccino, Latte, Macchiato, Espresso dan lain sebagainya itu akan menaikkan gengsi para peminumnya juga disamping tentunya juga akan mendongkrak harganya. Bayangkan saja, segelas kopi bisa dibanderol harga beberapa puluh ribu Rupiah :(, padahal rasa kopinya sendiri bagi beberapa penggemar kopi dirasa kurang mantap karena kopi yang dipergunakan di cafe-cafe seperti itu rata-rata sudah diberi campuran bahan-bahan lain untuk menciptakan rasa yang khas, meskipun akibatnya menurunkan kualitas kopinya itu sendiri.

Sebagai salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia, Indonesia sendiri sebetulnya sudah lama memiliki tradisi ngobrol sambil ngopi yang dilakukan di warung-warung maupun kedai-IMG_KET17kedai, baik di kota maupun di pelosok desa. Di beberapa daerah bahkan tradisi ngobrol sambil ngopi ini sudah demikian terkenal, kedai kopi tidak hanya menjadi tempat orang minum kopi sambil mengudap makanan kecil, melainkan kedai kopi bahkan menjadi tempat orang bersosialisasi. Jadi fenomena yang sekarang mewabah dimana-mana, bahwa sebuah kedai kopi menjadi tempat bertemu dengan relasi ataupun sekedar menjadi tempat menghabiskan waktu sambil ngobrol santai, sebetulnya sudah lama di kenal di negara kita ini. Banyak kedai kopi yang sudah berdiri sejak berpuluh tahun lalu, bahkan sebelum kedai kopi modern seperti yang kita kenal sekarang berdiri, sampai sekarang masih menjadi ajang bertemunya kawan maupun keluarga diseling seruputan kopi. Salah satu kedai kopi tua yang masih eksis sampai sekarang, bahkan namanya sudah menjadi legenda bagi para pecinta kopi di Jakarta ini, adalah Kopi Es Tak Kie.IMG_KET01

Memang nama Kopi Es Tak Kie tidaklah mendunia seperti gerai-gerai kopi modern yang memiliki banyak cabang dan tampilannya modern. Tak Kie tidak memiliki cabang satupun dan tempatnyapun tidaklah mentereng. Tak Kie hanya menempati sebuah ruangan yang relatif tersembunyi di dalam sebuah gang yang berada di kawasan pecinan kota Jakarta. Tepatnya di dalam Gang Gloria di kawasan Glodok, Jakarta Barat. Meja dan kursi yang dipergunakan di sana adalah meja dan kursi kayu yang tampaknya sudah berusia cukup tua, mungkin seusia kedai kopi itu sendiri. Demikian pula dengan peralatan pembuat kopinya. Gak ada tuh mesin kopi modern seperti di gerai-gerai kopi modern yang untuk menghasilkan segelas kopi tinggal tekan tombol. Di Tak Kie, minuman yang disediakan seluruhnya dibuat secara manual.

IMG_KET02

the barista in his corner (menyiapkan segelas kopi yang nikmat)

IMG_KET03

kitchen appliances used to prepare a cup of coffee (peralatan dapur yang dipergunakan di kedai Tak Kie)

Meskipun tempatnya tidak bisa dibilang mewah, tetapi kedai kopi yang buka dari jam 06.30 pagi sampai sekitar jam 14.00 ini hampir selalu penuh. Paling tidak dua kali aku berkesempatan ke sana, pengunjungnya penuh, bahkan aku sempat menunggu beberapa saat sebelum bisa mendapatkan kursi. Memang kalau diperhatikan, bisa dikata di sana tidak ada anak muda dengan dandanan necis seperti yang biasa kita temui di gerai kopi modern, hampir semua pengunjungnya berdandan santai, beberapa di antaranya bahkan bercelana pendek dengan baju kaos santai. Meskipun demikian, di antara mereka yang memenuhi ruangan sambil minum kopi dan makan, ada saja pembicaraan dalam bahasa asing yang ku dengar. Bukan hanya pembicaraan dalam bahasa Mandarin karena memang sebagian besar pengunjungnya beretnis Tionghoa, tapi aku dengar juga pembicaraan dalam Bahasa Jepang dan Korea. Di salah satu kesempatan aku ke sana itu, bahkan aku melihat wajah bule terselip di antara para pengunjung di sana.

almost every table occupied  (hampir semua meja penuh)

almost every table occupied (hampir semua meja penuh)

Eh tadi itu disebutkan bahwa para pengunjung kedai kopi itu selain minum kopi juga makan? Memangnya apa saja yang tersedia di Kopi Es Tak Kie itu?

IMG_KET04Yup, gak salah sih kalau aku sebutkan minum dan makan. Untuk minumnya, sesuai dengan namanya, di situ tersedia kopi es maupun kopi panas, baik kopi hitam maupun kopi susu. Gak usah mengernyit gitu, Kawan, aku gak salah tulis koq kalau dari awal tulisan ini aku menuliskan kopi es dan bukan es kopi. Menurut orang-orang yang ada di situ, memang yang tersedia di Tak Kie adalah kopi es karena untuk membuat kopi es, mereka sudah menyiapkan kopi yang dimasak sejak subuh, sehingga ketika siap disajikan, kopi tersebut sudah mendingin sehingga rasa kopi tidak akan berubah ketika dimasuki es batu. Kalau es kopi yang biasa kita temui di tempat lain kan biasanya kopi yang baru diseduh, dan panas-panas dimasukin es batu, sehingga rasa kopinya tidak akan keluar secara maksimal, baik karena bubuk kopi belum larut secara sempurna, juga karena larutan kopi itu menjadi “terkontaminasi” oleh es yang mencair karena panasnya kopi.

having breakfast in Tak Kie  (sarapan di Kopi Es Tak Kie)

having breakfast in Tak Kie (sarapan di Kopi Es Tak Kie)

Soal makanannya, tidak seperti gerai kopi modern yang utamanya menyediakan makanan kecil, di Tak Kie, rata-rata orang makan besar karena di situ mereka bisa memesan mie, nasi campur, bubur maupun sup daging kura-kura yang dikenal dengan nama sup pi oh. Selain itu, di meja dekat kasir tampak ada beberapa penganan seperti bakcang dan beberapa jenis roti. O ya, makanan di situ sebagian besar mengandung daging babi lho ya, sehingga bagi yang tidak memakannya, harus jeli dalam memilih makanan dan juga jangan segan bertanya supaya tidak salah beli.

some breads on the table  (roti di meja dekat sang kasir)

some breads on the table  (roti di meja dekat sang kasir)

Suasana kedai kopi yang tidak berpendingin udara ini memang khas, sehingga membuat banyak yang sudah jadi pelanggan Kopi Es Tak Kie ini secara turun temurun, selain banyak pula konsumen yang sudah pernah merasakan nikmatnya kopi di situ yang kembali lagi ke sana ketika mereka kangen dengan rasa kopi yang asli, meskipun mereka sudah tidak tinggal lagi di Jakarta, bahkan sudah bermukim di luar negeri. Ruangan kedai yang dilengkapi kursi dan meja dari kayu yang berwarna coklat tua karena usia, dinding yang agak kusam, kipas angin yang tergantung di langit-langit, tv tabung yang nangkring di salah satu sudut, sampai beberapa foto orang penting yang terpajang di dinding memang seolah-olah membawa pengunjung yang memasuki ruangan itu seolah kembali ke jaman dulu.

Tak Kie was located in the alley  (Gang Gloria dimana Kopi Es Tak Kie berada)

Tak Kie was located in the alley (Gang Gloria dimana Kopi Es Tak Kie berada)

Jadi . . siapa sangka di dalam gang yang sempit yang dipenuhi penjual makanan di kiri kanannya terdapat sebuah kedai kopi tua yang melegenda. Mudah-mudahan saja Kedai Kopi Es Tak Kie yang berdiri sejak tahun 1927 ini masih bisa tetap bertahan hingga bertahun-tahun ke depan tanpa harus tergerus oleh persaingan yang makin keras, khususnya dengan hadirnya kedai kopi modern yang semakin menjamur. Ah tapi dengan kualitas dan rasa yang masih terjaga dan juga dengan konsumen yang setia dan masih ingin menikmati suasana pecinan jaman dulu, rasanya Kedai Kopi Es Tak Kie masih akan bisa bertahan lama, selama pengelolanya tidak bosan dan masih mau meneruskan usahanya. Semoga . . . .—

 

Summary:

It is all about a traditional coffee stall in the heart of Jakarta’s Chinatown, which has been existed since 1927, and became a legend among the coffee lovers, especially in Jakarta. The name was Kopi Es Tak Kie (translated literary as Iced Coffee Tak Kie).

Why iced coffee? Well . . iced coffee was its specialty of course :D. Although iced coffee was its specialty, travelers could also order hot coffee there. Iced coffee, either black or milk added, would be served in a tall glass while hot coffee would be served in a smaller cup.

IMG_KET19

Kopi Es Tak Kie hampir selalu penuh  (Tak Kie was always pretty crowded in the morning)

In the morning, the place was pretty cramped with consumers who came to the place just to sip the legendary coffee and have a chat or two with friends or relatives. Many also came to the place to have breakfast because there were some food sellers that serve breakfast, shared the room with Tak Kie. There was a Nasi Campur (rice with assorted side dish, mainly pork) seller, a noodle seller, and also a special kind of herbal soup seller. Some street vendor could also be easily been seen offering theirs in there as some of them sold traditional snacks, even others sold undergarment (yup, you read it correctly, some street vendors sold men undergarment to Tak Kie’s consumers while they sip their morning coffee or eat their breakfast 😆)

The taste of coffee in Tak Kie was so special as they used pure coffee to make the drinks. They also used a special brand of condensed milk with a specific quantity to be added in the coffee so they could maintain the same taste up till now.

IMG_KET16Entering Tak Kie was like going back to the early 1930’s. There was no air condition in there, but only cooling fans hanging from the ceiling. The furniture was so simple, all was old wooden furniture. Even the barista did not use modern coffee machine in preparing the drinks, all they used in there were old kitchen appliances.

Anyway, even though Tak Kie seems old and not as cosy as any modern coffee-shops, even Tak Kie’s name was not as famous as their worldwide “competitors” which could be easily found in almost every big city in the world, and Tak Kie had no other branches, some people purposefully came to have a glass or a cup of coffee just to feel the old Jakarta Chinatown’s atmosphere in there as Tak Kie was located in a cramped alley full of Chinese specific food street-vendors with some old Chinese shops alongside.

So . . someday when you came to Jakarta, why don’t you try a glass of a legendary iced coffee in Kopi Es Tak Kie? 😉

IMG_KET24

Advertisements
Categories: Food Notes | Tags: , , , , | 33 Comments

Pernah mencoba makan dalam penjara?

Kalau pertanyaannya begitu, rasanya aku bisa bilang kalau aku pernah dong makan dalam penjara 😛 . Etapi bukan penjara beneran lho ya . . . amit-amit deh kalau sampai masuk penjara *langsung ketok meja tiga kali*. Yang aku maksud sebetulnya adalah sebuah resto yang interiornya dibikin mirip dalam penjara karena resto ini menabalkan diri dengan nama Jail Restaurant atau restoran penjara.

IMG_BKT01

Nama resto ini adalah Bong Kopitown, karena resto ini dimiliki oleh Bong Chandra yang sudah cukup dikenal sebagai seorang entrepreneur muda yang juga adalah seorang motivator dan penulis buku. Kebetulan sebelum bulan puasa kemarin, aku berkesempatan menjajal beberapa menu yang ditawarkan di salah satu cabang resto tersebut yang berada di Karawaci.

Koq salah satu? Iya, Bong Kopitown sejauh ini sudah memiliki 5 gerai, yaitu di Kelapa Gading – Jakarta Utara, Plaza Semanggi – Jakarta Pusat, Summarecon Bekasi, Supermall Karawaci, dan di Jl. Sagan Yogyakarta. Sayangnya, dari info terakhir yang aku terima, gerai yang di Plaza Semanggi sudah tutup. Entah dengan gerai-gerai yang lain. Mudah-mudahan sih masih beroperasi seperti yang di Karawaci itu, dimana aku sempat mencoba beberapa jenis masakan Bong Kopitown yang ditawarkan di sana, lokasi pasti Bong Kopitown yang di Supermall Karawaci ada di Lantai 2 mall tersebut.

Menurut aku, ide Bong Chandra untuk membuat themed restaurant seperti ini cukup brilian. Apalagi perlengkapan makannya juga disesuaikan dengan keadaan dalam penjara, paling tidak itu yang aku lihat dalam film-film yang bertema penjara di bioskop maupun di televisi :D. Makanan disajikan di atas piring-piring logam, ataupun mangkuk logam. Sedangkan untuk minuman, kalau aku gak salah, hanya teh panas saja yang disajikan dalam cangkir logam, sementara minuman dingin tetap disajikan dalam gelas.

secangkir teh panas di atas daftar menu  (a cup of hot tea on a restaurant menu)

secangkir teh panas di atas daftar menu (a cup of hot tea on a restaurant menu)

Makanan yang disajikan di Bong Kopitown adalah makanan China Peranakan yang merupakan warisan keluarga Bong. Dari beberapa jenis yang aku coba, rasanya cukup lezat. Pada kesempatan itu, aku sempat mencoba nasi goreng ala Keluarga Bong, kuetiaw goreng, bihun goreng Singapura, nasi fu yung hai, mie goreng, nasi penjara, dan juga mie penjara. Wah koq banyak, memang muat perutnya? 😯  He he he . . . tentu saja gak muatlah, perutku masih normal koq, bukan karung :P. Cuma kebetulan aku ke sana bersama keluargaku, jadi pasti muatlah semua makanan itu, apalagi porsinya juga pas koq, gak terlalu besar dan juga gak terlalu kecil. Sebetulnya masih banyak lagi menu yang ditawarkan di sana, seperti misalnya nasi lemak, nasi ikan asam manis, laksa Singapura, yamien, dan lain-lain. Dan semuanya memang kelihatan enak. Cuma ya itu tadi, apa daya perut sudah gak muat  :(.  Lain kali rasanya perlu balik lagi untuk mencoba menu yang lain juga.

Jenis-jenis makanan yang aku sebut di atas masuk dalam kategori menu utama, karena untuk yang cuma perlu camilan untuk teman ngobrol, resto ini juga menawarkan berbagai macam makanan ringan seperti ubi goreng, pisang goreng, roti bakar ala Hong Kong dan lain-lain. Aku sendiri waktu itu sempat mencoba singkong ala Thailand. Untuk minumannya, resto ini menawarkan berbagai macam minuman, baik dingin maupun panas. Semuanya bisa dipilih di menu yang bentuknya menyerupai lembaran koran yang di beri nama Old Town Post, dimana di halaman utamanya memajang berita mengenai adanya tiga orang buronan paling dicari yang menyerahkan diri. Di halaman muka tersebut juga bisa dibaca sedikit cerita mengenai ketiga buronan itu dan mengapa mereka akhirnya menyerahkan diri.

Keunikan resto ini tidak hanya tampak dari suasana ruangan yang dibuat mirip dengan keadaan dalam penjara lengkap dengan jeruji besi dan sel-sel yang bisa ditempati pengunjung tamu ini untuk menyantap hidangan yang mereka pesan, tetapi juga dari seragam para pramusaji yang akan dengan ramah menyambut para tamu dan mencatat pesanan. Seragam yang berwarna hitam putih bergaris sepintas mirip seragam penjara dalam film-film. Bahkan untuk masuk ke area resto, pengunjung harus melalui tirai yang terbuat dari rantai-rantai yang digantung.

Begitu masuk ruangan resto, yang pertama kali akan dijumpai adalah meja tinggi yang difungsikan sebagai tempat meracik minuman, sedangkan di sebelah kanannya merupakan ruangan dapur yang dibatasi tembok dengan ruangan pengunjung. Tembok tersebut memiliki jendela untuk tempat keluarnya masakan pesanan pengunjung yang sudah siap disajikan.

Nah . . bagaimana? Tertarik untuk mencoba makan dalam penjara? Tertarik sih tertarik, tapi bagaimana harganya? Oh iya, hampir lupa . . . :oops:.  Harganya gak mahal juga koq. Untuk makanan utama harganya berkisar antara 20K – 30K, sementara snack tidak lebih dari 20K per porsinya. Minuman pun berkisar segitu, tergantung apa yang dipesan. Ya masih cucuklah membayar harga tersebut untuk suasana yang unik dan rasa masakan yang enak  🙂

Eh iya, jangan berfikir kalau ini promo lho ya. Ini murni iseng karena menurut aku resto ini unik dan layak di coba. Banyak lho pengunjung yang menyempatkan berfoto-foto juga di dalam ruangan resto ini. O ya, pada akhir pekan, resto ini cukup penuh pada jam-jam makan. Jadi kalau memang berniat mencoba, sebaiknya datang sebelum waktu makan atau justru setelahnya. Waktu aku ke sana sih kebetulan aku sampai sebelum waktu makan siang, jadi masih dapat tempat di dalam salah satu sel “penjara” itu 😀

 

Summary :

The title of the post can be translated as “have you ever had your meal in jail?”
Yup, you’re not mistaken, but what I meant here was not a real jail, of course. It was only a themed restaurant in Karawaci, a Jakarta’s satellite city, where I had my lunch with my family recently. I intently made my lunch as one of my post because the restaurant’s theme was quite unique; even the restaurant’s name underlined the theme. As you’ve seen in the last picture below, the name was Bong Kopitown Jail Restaurant.

IMG_BKT18

The restaurant owner was Bong Chandra, a young entrepreneur who was also a motivator and a book writer; hence the restaurant name was Bong Kopitown. He boasted that all the dishes were made based on his family old recipe. It was a Peranakan cuisine. Well, about peranakan cuisine, according to Wikipedia the cuisine combines Chinese, Malay, and other influences into a unique blend; and Bong Chandra proved that the blend were really made good taste dishes  🙂

To have a meal in Bong Kopitown, not only you taste various delicious foods, but also a unique environment. In there you can choose to seat in a small hall together with other guests or in a cell, even you can close the cell’s door if you want it 😀 . The utensils used were also like the ones used in a jail as portrayed in films (sorry I haven’t been in a jail and don’t even want to be in a jail, so I don’t know what were the real utensils used in a real jail 😛 ). The waiters and waitresses were all wear an inmate uniform.

IMG_BKT17

Anyway, it was a unique concept to be applied on a restaurant, and yet it was a successful trick as the restaurant was almost always full during lunch and dinner time. Perhaps it also caused by the price that was quite cheap for such a restaurant. It was only about Rp 20,000.- – Rp 30,000.- (US$ 2.- – US$ 3.-) per serving.

At last, the post was not intended as a promotion for the restaurant which already had 5 outlets. I made it just because I thought the restaurant was quite unique and all the dishes served were worth the price  🙂

IMG_BKT22

Categories: Food Notes | Tags: , , , , | 82 Comments

Makan malam di Warung German

Warung German? Gak salah tulis tuh? Iya Bozz, aku gak salah tulis koq, karena memang itu yang tertulis di restonya dan juga di sign-board yang ada di depan gedung dimana resto ini berada. Tapi . . . biarlah, mungkin itu merupakan strategi pemiliknya untuk menarik pengunjung ke rumah makan yang sudah memiliki beberapa outlet ini. Aku sendiri, Jumat malam kemarin berkesempatan untuk mencoba beberapa makanan di warung modern yang mengusung slogan “happiness is homemade” itu di outlet yang baru saja dibuka tanggal 11 Oktober yang lalu di Bintaro Entertainment Center. Dan karena baru seminggu dibuka, masih ada beberapa jenis makanan yang belum tersedia meskipun tercantum dalam menunya. Waiter yang melayaniku sampai beberapa kali minta maaf karena beberapa menu yang ingin aku pesan ternyata belum tersedia.

IMG_FWR15Anyway, Warung German ini memiliki nama dagang Frank Wurst, dengan logo bergambar seorang lelaki gendut berkumis melintang memegang cangkir bir yang cukup besar, dan mengenakan busana khas Jerman, termasuk juga topinya. Kalau melihat nama dan logonya, orang boleh berharap bahwa di resto ini bisa diperoleh aneka makanan khas Jerman, khususnya berbagai jenis sosisnya dan tentu juga beer  😀

Outlet Frank Wurst – Warung German yang ada di Bintaro Entertainment Center terletak di lantai dua bangunan tersebut, dengan model gerai yang terbuka. Jadi jika kita berjalan-jalan di selasar lantai dua itu, maka interior resto yang kelihatan cukup cerah ini bisa tmpak dengan jelas tanpa perlu bersusah payah melongok melalui pintu. Ya iyalah wong di situ gak ada pintunya  😛

Pada saat aku ke sana, dari sekitar 15 meja yang tertata rapi di ruangan berbentuk huruf “L” itu, hanya beberapa yang terisi. Jadi masih mudah buat aku untuk memilih posisi meja yang aku kehendaki. Meja-meja yang dipergunakan di situ di finish dengan nuansa natural, jadi masih terlihat tekstur kayunya, demikian juga kursi-kursi yang melengkapi meja-meja berukuran kecil. Meja-meja yang berukuran lebih besar dilengkapi dengan tempat duduk semi sofa yang cukup nyaman dengan kain kursi bermotif bunga. Di atas masing-masing meja terletak hiasan berupa bunga dalam pot-pot mungil.

the interior of the restaurant

Di salah satu sudutnya terdapat bar yang dilengkapi kursi bulat dengan bantalan terbungkus kulit kambing lengkap dengan bulu-bulunya. Bar ini berfungsi sebagai tempat untuk meracik minuman yang akan disajikan. Di bagian lain terdapat sebuah jendela kaca yang cukup lebar yang membatasi area saji dengan area dapur yang kelihatan bersih dan terang.

Dinding resto di dominasi warna kuning tua dengan lantai dari parquette kayu sehingga suasananya terasa hangat dan homey. Beberapa poster bernuansa vintage menghiasai salah satu sisi dinding, sementara di sisi lain terdapat lukisan bermotif daun. Di belakang meja kasir juga terdapat lukisan, tetapi yang ini menggambarkan seorang gadis dengan rambut dikepang dengan busana khas Jerman sedang membawa sosis di atas piring.

Nah sekarang soal makanannya. terus terang menurut aku sih cukup enak. Jumat malam kemarin aku memesan bruschetta, nachos, bagel burger, spaghetti carbonara, dan chicken schnitzel. Banyak ya? He he he . . . itu gak aku makan sendirilah, gak muat perutku. Itu makanan pesananku beserta keluarga  :D. Semula sih pengen nyoba hot-dog atau bratwurst-nya, sayang kemarin itu semua jenis sosis belum tersedia.

Untuk harganya,menurut aku masih normallah untuk level sebuah rumah makan di sebuah mall. Satu porsi makanan rata-rata sekitar 50K, kecuali untuk beberapa jenis beef steak yang memang aku tahu di tempat lain harganya juga cukup mahal. Kemarin itu kebetulan aku lagi gak terlalu berminat makan beef. Lain kali aku harus balik lagi untuk mencoba nih  🙂

IMG_FWR06Untuk minumannya, cukup banyak juga pilihannya. Aku lihat ada beberapa jenis beer juga. Semula aku bermaksud untuk menggoda waiter atau waitress-nya kalau gak ada beer di resto yang mengusung tema resto di Jerman ini, eh ternyata ada. Jadi deh aku gak jadi godain mereka, lagi pula kemarin itu aku juga cuma pesan teh hangat koq.

Nah . . . untuk yang tinggal di Jakarta atau kebetulan berkunjung ke Jakarta dan pengen mencoba bersantap di resto ini, Frank Wurst punya dua outlet, yaitu di Kemang Timur Raya dan di Bintaro Entertainent Center itu. Di Yogya juga ada loh, posisinya di daerah kota Baru, tepatnya di Jalan Sabirin. Trus katanya mereka akan buka cabang juga di Malang, Jawa Timur.

Eh aku nulis ini bukan buat promo lho ya, aku gak dibayar buat bikin tulisan ini koq. Ini murni iseng gara-gara nyobain kamera-phone-ku untuk motret makanan. Terus karena suasana resto yang cukup homey, aku iseng juga motret suasana dan interiornya. Nah berhubung banyak juga hasil jepretanku, aku pikir kenapa gak bikin postingan aja. Yah itung-itung belajar bikin review gitu deh  😎

 

Summary :

This is a short review about a new outlet of a restaurant in Bintaro Entertainment Center in Tangerang, a Jakarta’s satelite city, as I happened to have dinner in there with my family last Friday. The restaurant adopts and also calls itself a German tavern. It name is Frank Wurst. It also has a slogan “happiness is homemade”. The outlet where I had my dinner is the third outlet of Frank Wurst and also the newest, since it has just opened for about a week. The other two are in Kemang – South Jakarta and in Yogyakarta. Soon they will also have another outlet in Malang – East Java.

The interior was quite homey and warm. Its yellow wall is decorated with some vintage style posters and some vignette. There are only about 15 tables in the room. In a corner there is a bar which is used as the serving corner for any kind of drinks ordered by the guests. The pantry is in another side, separated by a big glass window with the dining area.

The foods are quite delicious although some items in the menu were not avalilable yet when I was there. The waiter said that they will serve their full items in these days as the restaurant will be fully operated by then. Well . . . I think I have to go back there to prove what they had already said, and also to try other kind of foods, of course. Last Friday, I’ve just tried bruschetta, nachos, bagel burger, spaghetti carbonara, and chicken schnitzel. I hope that others I’ve never tried yet are as good as the ones that I’ve already tried  🙂

IMG_FWR13

Anyway, I wrote the review not to promote the restaurant. It was started when I tried my camera-phone to snap on some foods I ordered. When I saw the results, I thought that I have to share them to you all. So I started to snap also on the interior of the restaurant to make my post more complete, since I think it will look incomplete if I just posted some food pictures without anything. Say that I only learned how to write a review on something in this post  😛

Categories: Food Notes | Tags: , , , | 96 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.