Monthly Archives: December 2013

New Day – New Year – New Hope

Each morning the sun never ceased to rise, brings a new day. It is always the same everyday. As I wrote this, in my part of the world is now in the afternoon in the last day of 2013. So tomorrow, the sun will rise not only bring a new day, but also a new year. Yes, the year 2014. We cannot know what will happen in 2014, yet. We can only hope that everything will be bright and also be better than 2013. HAPPY NEW YEAR!!! Thanks for becoming my friends and contacts  😀

IMG_PEN00

The pictures here were taken in a bright morning in a corner of Penyak Beach, in Koba District, Bangka Island, Indonesia. It could be reached easily from Pangkalpinang, the major city of the island, as it was located at the side of a major highway leading to Koba. The beach itself was quite a long beach, as it was spread for 3 kilometers long.

Penyak Beach was a sandy beach with a very calm water and a quiet surrounding, unfortunately the place was quite dirty of many waste threw by the sea. On the shallow water, mangrove sprouts decorated the shoreline; while not too far from the shore, an array of coconut trees bordered the beach area from the highway.

IMG_PEN01

The beach was facing to the east, so it was an ideal place for the sunrise hunters. Do you know that Penyak Beach became one of the place which used to observe the total eclipse that happened in 1986?

IMG_PEN10

Keterangan :

Tiap pagi sang surya selalu terbit di ufuk timur memberikan cahaya dan kehangatan kepada semua makhluk di bumi ini, yang sekaligus menandai datangnya sebuah hari yang baru menggantikan hari yang sebelumnya. Saat aku menuliskan kata demi kata untuk membentuk postingan ini, hari sudah menjelang senja di hari terakhir tahun 2013. Sesaat lagi matahari pun akan segera menunaikan tugasnya hari ini. Meskipun demikian, beberapa jam kemudian, sang bagaskara akan kembali terbit, dan kali ini tidak hanya menandai datangnya sebuah hari yang baru, melainkan juga sebagai penanda kalau kita memasuki sebuah tahun yang baru juga. Ya tahun 2014. Tentu saja kita belum akan bisa mengetahui apa yang akan terjadi di tahun yang baru ini, tetapi paling tidak bisalah kita berharap agar tahun 2014 akan merupakan tahun yang lebih cerah dan lebih baik dari tahun 2013. SELAMAT TAHUN BARU!!! Terimakasih sudah sudi berteman, dan semoga pertemanan kita bisa berlanjut di tahun-tahun yang akan datang  😀

IMG_PEN11

Foto-foto yang menyertai postinganku kali ini aku ambil di Pantai Penyak. Sebuah pantai yang terletak di Kecamatan Koba, di Pulau Bangka. Pantai ini terletak persis di tepi jalan utama yang menghubungkan kota Pangkapinang dengan kota Koba, sehingga akses menuju ke pantai ini boleh dibilang sangatlah mudah. Sayangnya kawasan pantai yang panjangnya mencapai 3 kilometer ini pada saat aku ke sana tampak kurang terawat. Kotor karena banyaknya sampah laut yang dihempaskan gelombang ke pantai.

Pantainya sendiri sih sebetulnya cukup menyenangkan, pasirnya cukup lembut dengan air yang tenang dan suasana sekitar yang cukup sunyi. Paling tidak itu yang aku rasakan ketika aku kesana ya, maklumlah karena gak ada orang lain di sana waktu itu. Di perairan dangkal sepanjang pantai, beberapa bagiannya tampak penuh tunas-tunas pohon bakau sehingga membuat pemandangan di situ menjadi unik. Agak jauh dari bibir pantai, deretan pohon kelapa seolah menjadi pagar alami yang membatasi kawasan pantai dengan jalan raya.

IMG_PEN05

Pantai Penyak merupakan tempat yang ideal bagi para penikmat matahari terbit karena menghadap ke timur. Karena itu pulalah, pantai ini menjadi salah satu tempat yang dijadikan tempat pengamatan para ahli dari dalam dan luar negeri ketika kawasan ini dilintasi gerhana matahari total di tahun 1986.–

Advertisements
Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 71 Comments

A temple-like church

First of all, I’d like to say a very Merry Christmas to all of you who celebrate it; friends, colleagues, relatives, and everybody who happened to visit my blog. It’s a holiday time everywhere, and I hope that yours is the best  🙂

IMG_VEL00

In this period of time,  many type of specific Christmas ornaments could be found easily almost everywhere. Statues depicting the nativity scene could be seen in many places, most of all in many churches. The nativity scene in the picture above was taken in a quite unique church in Medan, North Sumatra, Indonesia. To me, it was unique because it had an unusual building style. It was not the usual Gothic or Baroque style; but it had Indo-Mogul style instead. So . . . unlike any other churches which could be easily recognized as a church, the one that I meant was more like a temple in India.

IMG_VEL01The unique church was named Graha Maria Annai Velangkanni. It was said that the church was a replica of a church in Velangkanni, a small coastal village in Tamil Nadu, India, where the Holy Mother appeared in front of several children in the 17th century. In there, she was known as Annai Velangkanni which means the Mother of Velangkanni.

Back to Medan, in 2001, Rev. Father James Bharataputra, SJ. an Indian priest who had already lived in Medan for more than 40 years, initiated to build a shrine dedicated to the Virgin Mary. He tried to give a concrete form to his life-long contemplation on the mystery of incarnation, by designed a church which inspired by one of the spiritual experiences of St. Ignatius of Loyola, the founder of the Jesuit Order.

After 4 years construction works, the unique place of worship, which was also known as the Temple of Our Lady of Good Health, was finished and then inaugurated. It really looked like an Indian temple with its bright color and many colorful statues in it. It was a two storeys building, with a community hall on the ground floor and a main room for celebrating the holy mass on the upper floor. There was a balcony in the church room to accommodate more people who wanted to join in the holy mass which celebrated in the church.

IMG_VEL13

On the path-way to the main entrance of the church, there were colorful relief depicting the creation of the world as written in the Holy Bible. At the main entrance, there were big statues of St. Paul and St. Francis Xavier on either side of the door. On the right and left wall of the nave, there were statues of the 12 apostles connected to the pillars of the church.The ceiling was also a work of arts as it also beautifully decorated. On the right side of the altar, there was a statue of Annai Velangkani with baby Jesus in her hand.

Outside the church, on its left side, there was a small chapel of Annai Velangkanni; and behind the chapel there was a small garden with a statue of Jesus with children.

All in all, the building was really a unique church building.–

IMG_VEL15

 

Keterangan :

Pertama-tama, aku ingin menyampaikan Selamat Hari Natal kepada siapa saja yang merayakan kelahiran Sang Penebus; rekan, sahabat, kerabat, maupun siapa saja yang berkunjung ke blog-ku ini. Semoga damai Natal turun atas kita semua.

Nah . . kalau ngomongin Natal, pasti tidak akan bisa dipisahkan dari munculnya berbagai pernak-pernik Natal yang akan dapat dengan mudah ditemui di hampir semua tempat. Salah satu yang juga mudah dijumpai adalah patung-patung kecil yang menggambarkan suasana di sebuah gua ataupun kandang, dimana tampak bayi Yesus terbaring di palungan dengan ditunggui oleh Bunda Maria dan Santo Yosef, serta tampak pula beberapa gembala dan malaikat serta juga sering kali dilengkapi dengan adanya beberapa binatang ternak.

Patung-patung yang menggambarkan suasana kelahiran Yesus yang aku pasang di awal postinganku kali ini aku ambil di sebuah gereja di Medan, Sumatera Utara, yang menurut aku cukup unik. Maksudku bukan gua Natalnya yang unik, melainkan justru bangunan gerejanya yang menurut aku tidak biasa. Bagaimana tidak aku menyebut unik kalau secara sepintas bangunan gereja tersebut lebih menyerupai bentuk bangunan sebuah kuil India yang penuh warna. Nama gereja yang terletak di kawasan Perumahan Taman Sakura Indah ini dikenal dengan nama Graha Maria Annai Velangkanni.

IMG_VEL02

Bentuk bangunan dan namanya koq tidak terlalu Indonesia ya? Iya, memang gereja yang pembangunannya digagas oleh Pastor James Bharataputra, SJ., seorang pastor yang berasal dari India dan sudah lebih dari 40 tahun menetap di Medan ini, terinspirasi dari peristiwa penampakan Bunda Maria kepada anak-anak di desa Velangkanni, sebuah desa kecil di tepi pantai yang berada di daerah Tamil Nadu, India. Penampakan tersebut terjadi pada abad ke-17. Di sana Bunda Maria disebut sebagai Annai Velangkanni atau Ibu dari Velangkanni. Karena terjadinya peristiwa itu, maka Velangkanni juga sering disebut sebagai Lourdes dari timur.

IMG_VEL05Graha Maria Annai Velangkanni mulai dibangun pada tahun 2001 dan selesai empat tahun kemudian. Bangunan unik ini terdiri dari dua lantai, dimana lantai dasar dipergunakan sebagai aula untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan, dan ruangan ibadah berada di lantai atasnya. Di dalam ruangan gereja juga terdapat balkon untuk menampung umat yang beribadah di sana kalau ruangan gereja yang tidak terlalu luas itu sudah penuh.

Dari arah halaman, untuk masuk ke dalam gereja, pengunjung akan melewati sebuah jalur jalan melengkung di kiri dan kanan pintu utama. Ke dua jalur jalan tersebut akan menyatu di depan pintu utama gereja yang seolah-olah dijaga oleh patung Santo Paulus dan patung Santo Fransiskus Xaverius di kiri dan kanannya. Jalur jalan itu sendiri dindingnya dipenuhi relief dengan warna-warna cerah yang menggambarkan penciptaan dunia seperti yang tertulis dalam Kitab Kejadian.

Di dalam ruangan gereja juga tidak kalah indahnya; di tembok kiri dan kanannya berjajar patung 12 rasul Yesus. Langit-langitnya yang cukup tinggi juga berhiaskan lukisan yang menggambarkan kehidupan bersakramen. Altarnya sendiri berlatar belakang lukisan perjamuan terakhir, sementara kubah di atas altar mengandung lukisan kedatangan Yesus di akhir jaman. Di sebelah kanan altar terdapat patung Annai Velangkani sedang menggendong bayi Yesus.

Di bagian luar, di sisi kanan bangunan gereja, terdapat sebuah Kapel di mana di dalamnya juga terdapat patung Annai Velangkani. Di bagian belakang Kapel ini terdapat sebuah taman kecil dengan patung Yesus yang sedang bercengkerama bersama anak-anak, sementara di bagian depan Kapel terdapat sebuah toko kecil yang menjual berbagai barang rohani dan buku doa.

Graha Maria Annai Velangkanni juga menjadi salah satu tujuan ziarah umat Katolik di Sumatera Utara, sekaligus juga menjadi salah satu tujuan wisata religi. Pada saat aku berkunjung ke sana, selain menjumpai umat yang memang datang untuk berdoa, aku juga menjumpai beberapa orang yang datang karena tertarik dengan keunikan bentuk bangunan gereja ini.–

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 78 Comments

Green carpet covered the hills

How big was the carpet? Was that a giant carpet? What was the purpose of covering hills with green carpet?

Well, what I mean with ‘the carpet’ here was not a real carpet. It actually was tea shrubs in a very big tea plantation I visited early last November in Cianjur. The plantation area was so wide, that it covered many hills. The tea shrubs, which were maintained at the height of about 1 meter, covered almost all of the area; so from a distance it looked like the hills were covered by a thick layer of giant green carpet. The tea shrubs were maintained low so that the tea shoots could be plucked easily every morning. Then the finest shoots would be brought to the factory to be processed further.

IMG_CAM04

Cianjur, a hilly area at the south of Jakarta, was known to have many tea plantations, either government owned or private owned. Almost all were old plantations. I used the term ‘old’ because I’ve got information that many plantations had already existed since the colonial era. That means more than 70 years ago, and perhaps even more than a hundred years ago.

At that time, I was invited to spend a night in Gunung Campaka Tea Plantation, a private owned tea plantation in the area. These pictures were taken in the morning; but unfortunately there were no tea plucking activities at that time. Hope that next time I can come to the plantation when there is tea plucking activity, so that I can watch how skillful a tea plucker doing her job  🙂

IMG_CAM05 IMG_CAM06

Keterangan :

Wah terus seberapa lebar karpetnya? Koq aneh-aneh aja, ada bukit ditutupi karpet, buat apa sih?

Sebetulnya yang aku sebut ‘karpet’ di sini bukanlah betul-betul karpet, melainkan hamparan tanaman teh di sebuah perkebunan di Cianjur. Sedemikian luasnya perkebunan ini, sehingga mencakup pula beberapa bukit di kawasan itu. pohon-pohon teh yang dipertahankan tetap berbentuk perdu dengan ketinggian sekitar satu meter itu menutupi bukit-bukit yang ada dalam kawasan perkebunan sehingga dari kejauhan tampak bahwa bukit-bukit itu seolah-olah diselimuti karpet hijau. Pohon-pohon teh tetap dipertahankan setinggi itu untuk memudahkan pemetikan pucuknya yang akan dipergunakan sebagai bahan baku di pabrik-pabrik teh.

IMG_CAM01IMG_CAM03

Waktu itu juga aku baru tahu kalau tanaman teh itu tidak dipangkas, maka tanaman teh bisa juga tumbuh tinggi. He he he . . .semula aku pikir tanaman teh itu ya memang berbentuk perdu dan gak bisa tumbuh tinggi  😳

Cianjur, yang waktu itu aku capai dengan berkendara selama 4 jam lebih dari Jakarta menembus jalanan yang cukup padat, memang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil teh. Ada beberapa perkebunan teh di sana, baik milik pemerintah maupun milik swasta. Hampir semua perkebunan teh di daerah itu merupakan perkebunan teh yang sudah berpuluh tahun ada di sana, bahkan menurut informasi yang aku dengar, beberapa bagiannya dulu merupakan kebun teh milik pemerintah kolonial Belanda.

Beberapa foto yang aku post di sini aku ambil di Perkebunan Teh Gunung Campaka, sebuah perkebunan teh milik swasta yang dilengkapi juga dengan adanya pabrik pengolahan teh di dalam kawasan perkebunan. Sayangnya pagi itu tidak ada kegiatan pemetikan teh. Yah mudah-mudahan lain kali aku bisa datang lagi pas ada kegiatan pemetikan, sehingga aku akan bisa mengamati ketangkasan para pemetik teh itu menjalankan tugasnya  🙂

IMG_CAM08 IMG_CAM15

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 64 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.