Event Pictures

When the demon swallowed the sun

Once again the sun, the moon and earth were in a parallel position, and the occasion darkened the sky over a certain places. In March 9, 2016, the moon was passed close enough to the earth; while the sun which actually much bigger than the moon passed very far away behind the moon, and that made the sun is almost covered by the moon, leaving only a faint ring of rays exposed to view from the earth. Yes it was a total solar eclipse which visible clearly in some parts of Indonesia, while in any other parts outside the eclipse’s path there was only a partial solar eclipse.

IMG_TSE14

There were many myths and legends that related to the eclipse. Most of them say that the eclipse was caused by actions of supernatural beings or gods. In Indonesia, the most popular one was a story about Batara Kala.

IMG_TSE02

The story says that Kala, a very powerful demon, wanted to get the sacred water called Tirta Amerta that gives more power and eternal life to them who drank it. From time to time the water was distributed among the gods so they can live forever and help Batara Guru, the father of all gods, administering the world.

IMG_TSE03

As demon was forbidden to have the sacred water, Kala decided to come in disguise. He came in the form of a god, so he could mingle with other gods that came to get the sacred water directly from the sacred lake. Unfortunately, Batara Surya (the god of the sun) and Batara Candra (the god of the moon) knew about Kala’s act and they told Batara Wisnu, who in his rage to know Batara Kala’s ill conduct launched his deadly weapon called Cakra to Kala.

IMG_TSE04

At that time, Batara Kala had already started to drink the Tirta Amerta from the eternal lake. When the Cakra hit his neck and beheaded him, Kala’s head fell to the lake and it made the head immortal while the body was dead.

IMG_TSE05

In his rage, Kala’s head chased Surya and Candra to avenge what they did to him as he know that Batara Surya and Batara Candra were they who made him met his fate in Wisnu’s hand. From time to time, Kala’s head always chased the two gods and when he got one of them, Kala would swallow the gods. When Kala swallowed Batara Candra, it was the time that people saw a lunar eclipse. The same if Kala swallowed Batara Surya, it was the time when people saw a solar eclipse.

IMG_TSE06

And as Kala only had his head with no other parts of his body, once he swallowed Surya or Candra the gods would surely be free after passing through Kala’s throat. That moment was the moment when an eclipse was over.

IMG_TSE07

I was in Penyak Beach, Bangka Island, on the morning the eclipse happened. It was one of the best locations to view the eclipse. The weather was good, but thin clouds hung low which made me worry. As the winds blew strong, however, the clouds were dispersed and stay thin, so it was still possible for me to capture the eclipse’s phases. Even with the clouds, the sightings were more spectacular.

IMG_TSE08

The awe-inspiring phenomenon of a total solar eclipse successfully hypnotized thousands of people in Penyak Beach and Terentang Beach in Bangka who had already came to the beach since before the sunrise time, even many of them camped on the beach just to get the best place to view the rare event.

IMG_TSE09

Here I shared some of the pictures I captured there. Please enjoy! 🙂

IMG_TSE10

Keterangan :

Sekali lagi matahari, bulan dan bumi berada pada posisi sejajar, dan kondisi demikian membuat langit di beberapa daerah di Indonesia menjadi gelap. Gelap karena bulan yang memiliki orbit lebih dekat ke bumi seolah-olah menutupi matahari yang garis edarnya cukup jauh dari bumi dan menyisakan bentuk serupa cincin bercahaya yang tampak dengan jelas dari bumi. Ya . . . tanggal 9 Maret 2016 yang baru lalu telah terjadi gerhana matahari total yang dapat disaksikan dari beberapa wilayah yang dilalui jalur gerhana, sementara daerah-daerah lain di luar jalur gerhana hanya menyaksikan gerhana matahari sebagian.

IMG_TSE11

Kalau ngomongin soal gerhana yang merupakan sebuah fenomena alam yang menakjubkan, tentunya tidak bisa dilepaskan dari adanya mitos yang hidup di masyarakat. Hampir di semua tempat di dunia memiliki mitosnya masing-masing, tetapi hampir semuanya bercerita bahwa gerhana disebabkan oleh para dewa atau oleh mahluk-mahluk gaib. Di Indonesia sendiri, mitos terkait gerhana yang paling terkenal adalah yang menyangkut Batara Kala.

IMG_TSE12

Dalam kisah itu dikatakan bahwa ada seorang rakasasa sakti yang bernama Batara Kala, yang sebenarnya adalah putra dari Batara Guru, yang ingin ikut meminum Tirta Amerta. Tirta Amerta adalah air kehidupan yang diperoleh dari sebuah telaga yang berada di khayangan, barang siapa meminum Tirta Amerta, maka dia akan menjadi sakti dan tidak akan pernah mati. Karena itulah semua dewa memperoleh kesempatan meminum Tirta Amerta sehingga mereka bisa selalu membantu Batara Guru menata dunia ini sepanjang masa.

IMG_TSE13

Tidak seperti para dewa, raksasa bukanlah termasuk golongan yang diperbolehkan meminum Tirta Amerta. Tapi karena keinginannya sangat besar, Batara Kala nekat datang ke tepi telaga ketika diadakan acara pembagian Tirta Amerta. Hanya saja, Kala datang dengan menyamar sebagai salah seorang dewa sehingga dia bisa membaur dengan dewa-dewa lainnya. Sayangnya penyamarannya diketahui oleh Batara Surya (dewa matahari) dan Batara Candra (dewa bulan) yang bertugas melakukan pengawasan. Kedua dewa itu kemudian melaporkan temuan mereka kepada Batara Wisnu.

IMG_TSE15

Mengetahui hal itu, Batara Wisnu sangat marah, dan tanpa basa basi langsung melemparkan senjata andalannya yang bernama Cakra langsung ke arah Batara Kala. Kesaktian Cakra memang tidak tertandingi. Kala yang sakti itupun seketika terpenggal kepalanya. Tubuhnya langsung ambruk ke bumi dan mati, sementara kepalanya terlontar dan jatuh masuk ke dalam telaga yang berisikan Tirta Amerta, karena itulah meski telah terpisah dari tubuhnya, kepala Kala tetaplah hidup. Kepala Kala langsung melarikan diri setelah itu.

IMG_TSE16

Dalam pelariannya, kepala Kala yang mengetahui bahwa Batara Surya dan Batara Candra yang menyebabkan kejadian itu, menjadi sangat dendam kepada mereka berdua. Kepala Kala bermaksud membalas dendam kepada keduanya. Karena itulah kepala Batara Kala itu selalu mengejar kedua dewa itu dari waktu ke waktu. Tiap kali salah satu dari kedua dewa itu tertangkap, yang bisa dilakukan oleh kepala Kala itu hanyalah menelannya bulat-bulat. Ketika Batara Candra yang tertangkap dan tertelan, manusia melihatnya sebagai gerhana bulan, sementara kalau yang tertangkap Batara Surya, manusia akan menyaksikan gerhana matahari.

IMG_TSE17

Sayangnya, karena kepala Batara Kala itu tidak lagi memiliki badan, maka tiap kali Batara Surya atau Batara Candra ditelannya, kedua dewa itu akan selalu bisa keluar lagi setelah melewati kerongkongan Batara Kala. Saat itulah manusia melihat kalau gerhana menuju ke tahap selesai.

IMG_TSE18

Pada saat terjadi gerhana matahari total beberapa hari lalu, aku kebetulan berada di Pantai Penyak, Pulau Bangka yang merupakan salah satu spot terbaik untuk menyaksikannya. Pagi itu sebetulnya cuaca sedikit berawan sehingga sempat membuat banyak orang khawatir tidak akan dapat mengamati proses berlangsungnya gerhana dengan leluasa. Untungnya angin yang berhembus cukup kencang membuat lapsan awan tidak selalu menutupi matahari yang tampak kian mengecil dari waktu ke waktu. Proses gerhana tetap dapat teramati dengan baik, bahkan menurut aku, dengan adanya awan yang berarak membuat suasana terasa lebih mistis.

IMG_TSE19

Kejadian alam yang luar biasa ini betul-betul menghipnotis ribuan orang yang berada di Pantai Penyak dan Pantai Terentang sejak subuh hanya untuk menyaksikan peristiwa alam yang langka ini. Aku bahkan mendapati banyak juga yang dengan sengaja mendirikan tenda dan bermalam di pantai sehingga mereka mendapatkan tempat terbaik dan juga tidak sampai melewatkan gerhana matahari total kali ini.

IMG_TSE20

Dalam postingan kali ini aku sertakan beberapa foto yang berhasil aku dapatkan selama berlangsungnya gerhana yang aku ambil dari Pantai Penyak, Bangka Tengah. Please enjoy  🙂

IMG_TSE01

Categories: Event Pictures | Tags: , , , | 36 Comments

Cultural performance on the street

It was a foggy Sunday morning in a corner of Tangerang, one of Jakarta’s satellite cities. The sun seemed quite lazy to show his face. On the contrary, the people in the area seemed energetic. Many had already flooding the street doing simple exercises, some were cycling, and others were jogging or just walking around. At a certain area, the street was closed for cars so people would be safer to have activities on the street.

Among them who did many activities, I saw a group of traditional performers preparing their action in there. Three men, each of them wearing a heavy mask depicting a big tiger with a peacock on its head, were easily seen from a far. From the mask they used, I know that they were a group of Reog dancers. And as I walked closer, I saw other performers in the group, there were three other men wearing masks with faces full of hair, four pretty girls in costume, and a group of traditional musician.

IMG_RPO01

The big heavy masks were called “Singa Barong” or “Dadak Merak”, and became the main character in the show. It was made of woods, bamboo and rattan before covered by peacock’s tail feathers. The masks were so huge, they were more than 2 meters high and also 2 meters wide that made its weight were more than 50 kilograms each. And you know what . . . ? The man who wore the mask would maintain the mask from falling of his head by biting the inner part of the mask while they danced. That was why many said that reog shows always involved magical powers.

IMG_RPO02

Actually reog came from East Java, especially from an area known as Ponorogo, hence the reog more known as Reog Ponorogo. The reog ‘s origin could be traced back to an era as old as the 15th century when an ancient kingdom in Java called Majapahit was close to its end.

Legend says that at that time there was a beautiful princess in a small kingdom called Kediri that located in the eastern part of Java. The princess had special requests to be fulfilled by anyone who wanted to marry her. And as the requests were so difficult, almost all who came to propose her cancelled their intention, except of the king of Bantarangin Kingdom and the king of Lodaya Kingdom.

IMG_RPO07

So what were the princess special requests then?

Well . . . there were three things; the first was that in the marriage procession, the bride and the groom would be escorted by a troop of good-looking soldiers mounted in a row of twin horses; the second was that the princess want to see a new kind of dances which was not existed before accompanied by a band of ‘gamelan’ musician; and the last was there should be a two headed beasts as a gift for the princess.

IMG_RPO06

To make the story short, there broke a fierce battle between the handsome king of Bantarangin called Kelanasewandana who already had a troop of good looking soldiers mounted on a row of twin horses, against the tiger-like-faced king of Lodaya called Singabarong who intended to seize the troops. In the duel, Singabarong with his pet, a peacock that always sit on his shoulder, got magically hit by Kelanasewandana which in turn made the peacock body merged into Singabarong’s body. So now Singabarong became a two headed beasts. Then, Kelanasewandana brought along Singabarong with him in his trip to propose the princess as the dower asked by her.

IMG_RPO08

When the party entered the palace, they were greeted by gamelan sound that played rhythmically by the palace’s musicians. To everybody surprise, Singabarong started to dance along the gamelan music with movements that nobody had seen before. So with that, Kelanasewandana had fulfilled all the princess’ requests and could marry her.

IMG_RPO09IMG_RPO10

In modern Reog performances, aside of Singabarong that had represented by the man wearing the huge mask, there were many other characters appeared in the show, such as the jester which called Bujang Ganong and some girls who brought bamboo horses with them that represented the escort troop on twin horses. But again, the main attraction was still the Singabarongs who show their ability in controlling and lifting the heavy masks while danced along the traditional gamelan music.

Anyway, the short cultural performance on the street could attract many people to gather around them and watch the show on the foggy Sunday morning. Even many followed the group when they went back to their starting point before leaving for their home base.—

IMG_RPO13

Keterangan :

Hari Minggu pagi yang berkabut tidak menghalangi banyak orang untuk berolahraga ringan di sekitar tempat tinggal mereka. Demikian pula di salah satu kompleks perumahan yang terletak di sudut Tangerang. Bahkan di sana pagi itu berlangsung kegiatan Hari Tanpa Kendaraan Bermotor (Car Free Day). Dan seperti selalu terjadi di tempat-tempat dimana diadakan kegiatan serupa, jalanan yang dijadikan ajang diselenggarakannya Car Free Day selalu dipenuhi oleh orang, baik yang berolah raga ringan, bersepeda, berjalan-jalan, ataupun melakukan berbagai kegiatan lain.

Di antara yang melakukan berbagai kegiatan itu, dari kejauhan aku melihat tiga topeng khas yang dipergunakan dalam pertunjukan Reog Ponorogo sedang meliuk-liuk. Segera aku memburu ke tempat itu, dan ternyata benar, sekelompok seniman reog sedang mempertunjukan kebolehan mereka di tengah kerumunan pengunjung Car Free Day.

Topeng khas reog berbentuk kepala harimau dengan ekor merak terkembang yang menjulang tinggi itu dikenal dengan nama Singabarong atau Dadak Merak. Topeng itu terbuat dari campuran kayu, bambu dan juga rotan sebelum akhirnya ditutup dengan mempergunakan kulit harimau dan bulu-bulu ekor merak jantan. Tingginya bisa mencapai lebih dari dua meter, demikian pula lebarnya, sehingga tidaklah mengherankan kalau topeng-topeng seperti itu memiliki bobot rata-rata 50 – 60 kilogram. Dan hebatnya, seniman yang memainkan tokoh Singabarong itu memegang topeng tersebut dengan kekuatan giginya selama melakukan atraksi meliuk-liukan topeng raksasa itu.

IMG_RPO11

Reog yang merupakan kesenian asli Jawa Timur ini bisa dirunut asal muasalnya dari jaman kerajaan Majapahit, tepatnya di masa-masa mendekati keruntuhan kerajaan besar tersebut. Ada banyak versi yang mengisahkan terbentuknya kesenian ini, tapi aku pribadi lebih suka dengan cerita yang mengisahkan mengenai perebutan Dewi Sanggalangit oleh dua orang raja yang sakti mandraguna, yaitu Prabu Kelanasewandana dari Kerajaan Bantarangin dan Prabu Singabarong dari Kerajaan Lodaya.

Dikisahkan bahwa putri Kerajaan Kediri yang bernama Dewi Sanggalangit itu sudah terkenal akan kecantikannya sehingga banyak pemuda yang berdatangan ingin menyuntingnya. Karena bingung menetapkan siapa yang akan dipilihnya untuk menjadi pendamping hidupnya, Dewi Sanggalangit mengajukan tiga syarat yang harus dipenuhi oleh siapapun yang ingin meminangnya. Karena syarat yang sangat berat itulah makanya hampir semua pelamar mengundurkan diri, dan yang tertinggal hanyalah Prabu Kelanasewandana yang tampan dan Prabu Singabarong yang mukanya mirip muka harimau.

IMG_RPO12

Pengen tahu apa saja syarat yang diajukan Sang Putri?

Nah . . yang pertama adalah bahwa orang yang layak mendampingi dirinya haruslah mampu menyediakan sepasukan tentara yang menunggang kuda berpasang-pasangan yang akan menjadi pengiring pengantin nantinya. Syarat kedua adalah bahwa orang itu harus mampu mempertunjukan suatu kesenian baru yang belum pernah ada sebelumnya; dan syarat yang ketiga adalah menyediakan sesosok makhluk berkepala dua sebagai mas kawinnya.

IMG_RPO18

Untuk mempersingkat cerita, Prabu Kelanasewandana dengan segera sudah berhasil mengumpulkan pasukan berkuda seperti yang diminta Dewi Sanggalangit dan bermaksud mengantarnya ke Kediri.

Prabu Singabarong yang mengetahui hal tersebut berusaha merebutnya, sehingga di tengah perjalanan pecahlah perang antara tentara Bantarangin melawan pasukan Lodaya. Tidak hanya para prajurit yang terlibat pertarungan, kedua raja itupun ikut berlaga mengadu kesaktian. Meskipun demikian, akhirnya tampak bahwa Prabu Kelanasewandana lebih unggul. Dengan kesaktiannya, Prabu Kelanasewandana memukul Prabu Singabarong yang mengakibatkan terjadinya keanehan, dimana burung merak kesayangan Prabu Singabarong yang selama pertempuran tersebut tetap bertengger di bahunya tiba-tiba tubuhnya menyatu dengan tubuh Prabu Singabarong, sehingga Prabu Singabarong sekarang menjadi makhluk berkepala dua yang terbaring lemas sehingga dengan mudah diringkus dan ditawan oleh Prabu Kelanasewandana serta dibawanya serta ke Kediri.

IMG_RPO14

Sesampainya di tujuan, Raja Kediri menyambut kedatangan Raja Bantarangin tersebut dengan upacara kebesaran, lengkap dengan musik yang dihasilkan melalui seperangkat gamelan yang ditabuh oleh para nayaga terpilih. Saat itulah terjadi keanehan lagi. Prabu Singabarong yang semula terbaring lemas dalam keadaan terikat tiba-tiba bangkit dengan badan segar dan melepaskan ikatan yang melilit tubuhnya dengan mudah, tetapi alih-alih kembali melakukan perlawanan, Prabu Singabarong malah menari dengan lincahnya dan mempertunjukan gerakan-gerakan yang belum pernah dilihat orang sebelumnya.

Tetapi dengan kejadian itu, berarti semua permintaan Dewi Sanggalangit terpenuhi oleh Prabu Kelanasewandana, sehingga Sang Putri tidak ragu lagi menerima pinangan dari Raja Bantarangin yang tampan itu.

Dalam pertunjukan reog modern, sosok Prabu Singabarong diwakili oleh orang yang mengenakan Dadak Merak itu. Dan orang itulah yang menjadi aktor utama dalam pertunjukan, dimana orang tersebut akan mempertontonkan kebolehannya menari sambil mengenakan topeng yang berat itu. Beberapa gerakan sulit dan juga nyaris mustahil kerap dipertontonkannya. Karena itulah banyak yang berpendapat bahwa pertunjukan seni reog selalu melibatkan unsur magis. Mungkin pendapat itu pulalah yang menyebabkan setiap pertunjukkan Reog Ponorogo selalu dipenuhi penonton. Tidak dapat dipungkiri kalau segala seuatu yang berbau magis selalu menarik perhatian banyak orang. Pertunjukan akan semakin dipenuhi penonton jika pemeran Bujang Ganong-nya mempertunjukan juga berbagai gerakan lincah dan lucu sesuai dengan karakternya seperti yang aku sempat tonton di Minggu pagi yang berkabut itu.–

IMG_RPO19

Categories: Event Pictures | Tags: , , , | 31 Comments

The plates were not used only in the dining room

West Sumatra, Indonesia, a province which is known of its beautiful scenery and its delicious culinary. It is also known for its traditional dances, for the province has so many, such as Tari Indang (Indang Dance), Tari Pasambahan (Offering Dance), and Tari Payuang (Umbrella Dance). The most known, however, was Tari Piriang (Plate Dance).

IMG_PIR05

The dance was originated from a town called Solok. It was called Tari Piriang or Plate Dance because the performers used plates in their dance. They held plates, one in each hand, which then the plates would be swung fast and rhythmically without the dancers lost their grips at the plates while clicking their ringed middle finger at the plates they hold, while a traditional music played with gandang (big drum), talempong (traditional gamelan percussion) and saluang (traditional flute) accompanied the dance.

playing the saluang  (meniup saluang)

playing the saluang  (meniup saluang)

Once, I got an opportunity to attend a traditional dance performance which one of the dances they performed that night was Tari Piriang. At that time, the performers were two boys and four girls which wore modernized traditional bright attires. They dance for about 10 minutes, and when it reached the climax, all dancers smashed the plates they held to the ground and then they continued their dance on top of the shattered plates.

Wow . . . weren’t they hurt because they stepped on the broken plates? 😯

Amazingly they were not hurt even-though they danced and even jumped on the sharp broken plates 😐

Tari Piriang was once used to be performed by young boys and girls to show their gratitude to their gods for the good harvest. The performers would dance energetically by holding plates in their hands. The movements were a combination of moves which they called tupai bagaluik (fighting squirrels), bagalombang (a surge of waves) and aka malilik (twisted roots) which were based on their traditionally martial arts called silek. It was said that originally when the dance was meant to appease the gods, the plates were full of dishes, but now only empty plates which were used in the dance.

Anyway, for you who want to see the full Plate Dance performance, at the end of the post I embed a simple video made by my youngest daughter. Sorry for the poor quality since she made it with her simple pocket camera 😛

IMG_PIR06

 

Keterangan :

Sumatra Barat, merupakan salah satu propinsi di negara kita yang sudah terkenal akan keelokan alamnya dan juga akan berbagai jenis makanannya yang lezat. Selain itu, propinsi ini juga terkenal memiliki berbagai jenis tari tradisional, misal saja Tari Indang yang menggambarkan kehidupan nelayan di derah Pariaman, Tari Pasambahan yang sering dipergunakan sebagai tarian untuk menyambut tamu kehormatan, dan Tari Payuang yang menggambarkan sepasang remaja yang saling jatuh cinta. Meskipun demikian, rasanya yang paling terkenal adalah Tari Piring atau jika mengikuti dialek lokal disebut dengan nama Tari Piriang.

IMG_PIR03

Tari Piriang berasal dari sebuah kota yang bernama Solok. Disebut Tari Piriang karena dalam tarian tersebut, para penarinya memegang masing-masing sebuah piring di masing-masing tangannya. Piring-piring di kedua tangan para penari itu akan diayunkan ke kiri kanan depan belakang secara cepat dan berirama tanpa jatuh dengan ditingkah bunyi berdetik yang dihasilkan dari beradunya cincin di jari para penari dengan piring-piring yang mereka pegang tersebut. Biasanya tari piring diiringi dengan irama yang rancak dari peralatan musik tradisional seperti gandang, talempong dan saluang.

memainkan talempong  (playing the talempong percussion)

memainkan talempong (playing the talempong percussion)

Sekali waktu kebetulan aku berkesempatan menyaksikan pertunjukan berbagai jenis tari tradisional Minangkabau yang salah satunya adalah Tari Piriang ini. Waktu itu tarian ini dibawakan oleh dua orang pemuda dan empat orang gadis. Mereka mengenakan pakaian tradisional Minang yang sudah dimodernisasi, mungkin karena mereka menari dalam suatu pertunjukan. Tarian yang aku saksikan itu berdurasi kurang lebih selama 10 menit. Mula-mula mereka menari dengan gerakan cepat meskipun tetap indah dipandang. Panggung seolah-oleh mereka kuasai karena mereka menari dengan gerakan maju mundur dan juga kekiri dan kanan seluas panggung. Ketika menginjak puncak tarian, tiba-tiba semua penari tersebut berdiri berkeliling dan membanting piring-piring yang mereka pegang tersebut ke lantai panggung sehingga pecah berkeping-keping. Setelah itu, para penari segera melanjutkan lagi tariannya dengan menginjak pecahan-pecahan piring tersebut.

IMG_PIR09

Wah . . memangnya kaki mereka gak luka dan berdarah tuh 😯

Nah itu dia hebatnya, ternyata mereka tidak terluka meskipun mereka menari dan bahkan melompat-lompat di atas pecahan piring tersebut. Bahkan pada akhir pertunjukkan, tiba-tiba lampu ruangan dipadamkan dan seorang penari pria dengan bertelanjang dada membawa obor masuk mempertunjukkan betapa tubuhnya kebal meskipun obor yang menyala-nyala di sundutkan ke beberapa bagian tubuhnya. Bahkan tubuhnya juga tetap tidak terluka ketika penari tersebut berbaring di atas pecahan piring dengan diinjak oleh salah seorang kawannya sambil memainkan gandang  😐

IMG_PIR10

Kalau dilihat dari asal mula timbulnya tari ini, dikatakan bahwa Tari Piriang semula dimaksudkan sebagai tari untuk mengucap syukur kepada para dewata atas panenan yang melimpah. Pada masa itu, piring-piring tersebut berisi aneka hidangan untuk sesembahan. Tetapi dengan berlalunya waktu, Tari Piriang mengalami pergeseran menjadi tari untuk menghormati raja bahkan kemudian bergeser lebih jauh menjadi tari yang kerap dipertunjukkan dalam acara-acara yang dihelat oleh masyarakat Minang. Dan karena tidak lagi dipergunakan untuk mengantar sesembahan kepada para dewa, piring-piring yang dipergunakan dalam Tari Piriang adalah piring-piring kosong. Gerakan dalam tari ini merupakan kombinasi dari berbagai gerakan dasar seperti tupai bagaluik (tupai berkelahi), bagalombang (bergelombang) dan aka malilik (akar melilit) yang sebetulnya merupakan gerakan-gerakan ilmu bela diri tradisional Minang yang dikenal dengan nama Silek.

IMG_PIR12

Mudah-mudahan saja tarian yang indah dan unik ini tetap lestari sehingga anak cucu kita masih bisa menyaksikannya secara langsung.

O ya buat yang kebetulan ada waktu dan ingin menyaksikan tariannya secara lengkap, di bawah ini aku sertakan juga sebuah rekaman video yang dibuat oleh putri bungsuku ketika menonton pertunjukkan tersebut. Sorry kualitas rekamannya gak bagus karena dia merekamnya dengan kamera saku. Tapi gerakan-gerakan tariannya masih kelihatan koq  :P.–

Categories: Event Pictures | Tags: , , , | 48 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.