Uncategorized

A short visit to a traditional village

On my days in Sumba, Indonesia, I got a chance to visit one of many traditional villages that scattered on the island. The village’s name was Rende and located in Melolo Sub-District, which could be reached within 1.5 hours drive from Waingapu.

The road to the village was relatively good. Savannas were at the road sides; sometimes a team of wild horses ran across the road and at other times a herd of buffaloes stop in front of our car just doing nothing, made us to be patient enough to wait until they moved to the road side by themselves because the blaring horns could not make them went away.

img_ren01

Rende Village was close enough to the main road. Cars could go directly to the village and parked in the village’s square. And although Rende was considered as the biggest traditional village still existed in Sumba, there were only a few huts that been seen. The huts were built surrounding the village’s cemetery, as in Sumba, traditionally the cemetery was always located in front of the huts or at least very close to them.

img_ren03

Once we arrived at the village, a man greeted us and ushered us to a simple wooden hall which functioned as a place to welcome guests. For Sumbanese, welcoming honorary guests was expressed by offering betel, and that was why the man offering us betel, too. The guests were supposed to receive the offering in order not to offend the host   😎

Rende was known to produce good quality traditional Sumbanese woven cloths. The designs were mainly consisted of animals such as horses, turtles, crocodiles, birds and even dragons. They used natural dyes for the color. The price of Rende’s woven cloth was relatively high. But it was worth it because of the pretty design and the time consumed to weave a piece of cloth.

img_ren02

The huts in the village were built traditionally with a very tall roof that made the Sumbanese traditional house looked like to have a tower on the roof; that was why such a hut was called “Uma Mbatangu” by the locals. “Uma Mbatangu” means a house with a towering roof. Once I wrote about the Sumbanese hut and you can see it in here.

Nowadays, some of the huts in Rende were touched by modernization. Instead of dried grass or dried rice stalks for their roofs, some of them were tin roofed although they still retained the traditional tower like structure.

img_ren04

Not all huts had their towering roofs. I saw at least one hut that had no tall structure on its roof. According to Rambu Intan, a lady who lived there, the huts with no towering roof was not used as a dwelling place. It used as a place to kept the body of the deceased family members that were not ready to be buried yet. When I was in Rende, three bodies were kept in the house. One of them was already been there for 7 years and still waiting for the perfect time to be buried, which was estimated would be done in the year 2017 with a funeral and entombment rituals attended by all the family members.

img_ren13

At the designated time agreed by all family members, the deceased body would then prepared to be buried in the village’s cemetery. In Sumba, the tombs were still like the ones built by their ancestors in the megalithic era. People would take huge blocks of stones from the surrounding hills to the village’s cemetery and built a mausoleum-like structure above the grave.

img_ren05

Nowadays, exceptions did happen, some new tombs were not made of blocks of stone; they made of bricks, instead, and decorated with modern tiles. One thing that still preserved, however, that was a totem like structure made of stone which was erected vertically above the tombs and carved with symbols indicating the clan of the deceased.

Anyway, a visit to a traditional village like Rende was truly made my trip to East Sumba quite complete. I was not only came to pristine beaches or hills with pretty landscape, but I also came to a traditional village which was still survive amid the current pace of modernization although the village was not located in an isolated area.–

img_ren12

img_ren10

Keterangan :

Dalam perjalananku ke Sumba Timur beberapa waktu lalu, kebetulan aku sempat berkunjung ke Desa Rende, sebuah desa adat yang berlokasi di Kecamatan Melolo. Desa ini cukup mudah dicapai karena kendaraan umum dari Waingapu yang mengarah ke Waijelu pasti akan melewatinya. Jaraknya pun relatif tidak terlalu jauh dari Waingapu karena bisa ditempuh dalam waktu sekitar satu setengah jam melalui jalanan yang cukup baik. Pemandangan di kiri kanan jalan menuju ke Rende didominasi dengan padang savanna. Sesekali kawanan kuda berlari menyeberangi jalan sehingga menyebabkan kendaraan harus berhenti sejenak membiarkan lawanan kuda yang terdiri dari puluhan ekor kuda itu melintas semua. Kadang-kadang, kendaraan juga harus berhenti karena adanya kawanan kerbau yang dengan santainya berbaring di jalan raya. Repotnya, kerbau-kerbau ini nggak bisa diusir dengan bunyi klakson, jadi … ya mau nggak mau kendaraan kita yang ngalah dan menunggu sampai mereka minggir sendiri  😀

Desa Rende termasuk salah satu desa adat terbesar di Sumba Timur. Meskipun demikian, ketika aku sampai di sana, yang aku jumpai hanyalah beberapa rumah adat. Nggak banyak. Di tengah desa terdapat kuburan desa karena seperti umumnya di Sumba, makam selalu terletak di depan rumah atau dekat sekali dengan rumah-rumah penduduk.

img_ren11

Begitu aku keluar dari kendaraan yang membawaku ke sana, seorang lelaki menyambutku dengan senyum ramah, kemudian mengajak aku dan partner jalanku naik ke sebuah rumah kayu terbuka yang rupanya berfungsi sebagai tempat menyambut tamu sekaligus sebagai ruang pamer barang-barang kerajinan yang dihasilkan oleh masyarakat Desa Rende. Di situ juga terdapat sebuah alat tenun kayu yang dipergunakan untuk mempertunjukkan kepada tamu yang datang bagaimana wanita-wanita Rende membuat kain tenun ikat khas Sumba. Ya .. Rende terkenal juga sebagai salah satu penghasil kain tenun ikat khas Sumba yang pewarnaannya mempergunakan bahan-bahan alami. Kain khas Sumba dari Rende juga terkenal dengan harganya yang relatif tidak murah. Meskipun demikian, harga itu sepadan lah karena selain memang motifnya yang indah, juga proses pembuatannya yang membutuhkan waktu yang cukup lama.

img_ren18

Rumah adat Sumba terbuat dari bahan-bahan alami dengan bentuk yang khas, yaitu memiliki atap yang tinggi sehingga penduduk setempat menyebutnya sebagai “Uma Mbatangu” atau rumah dengan atap yang menyerupai menara. Tak terkecuali di Desa Rende, rumah-rumah di sana pun berupa rumah-rumah adat. Hanya saja, modernisasi rupanya mulai menyentuh desa adat ini. Beberapa rumah aku lihat sudah beratap seng, tidak lagi beratap alang-alang atau batang padi seperti aslinya meskipun bentuk menyerupai menaranya masih dipertahankan. Eneiwei, aku pernah mengulas mengenai rumah adat Sumba sebelum ini, dan jika teman-teman tertarik untuk membacanya, teman-teman bisa menemukannya di sini.

img_ren09

Dari sekian banyak rumah adat yang ada di Desa Rende, ada dua rumah yang menarik perhatianku. Yang pertama adalah sebuah rumah adat yang tampak sudah tua dengan tambahan bangunan serupa balkon di bagian depannya. Meskipun bangunan ini juga sudah beratapkan seng, tapi tampak kalau struktur bangunannya yang hampir seluruhnya dari kayu itu sudah tua. Konon bangunan itu dulunya merupakan tempat tinggal raja dan umurnya sudah lebih dari 100 tahun.

img_ren22

Trus yang kedua adalah sebuah bangunan kayu yang juga tampak sudah cukup tua, dan bangunan beratap ilalang ini tidak memiliki atap yang menjulang tinggi seperti rumah-rumah lainnya. Berdasarkan keterangan dari seorang ibu yang aku temui di sana, rumah itu berfungsi sebagai rumah untuk menyemayamkan jenazah penduduk desa yang masih menunggu saat dimakamkan. Ketika aku di sana itu, katanya ada tiga jenazah tersimpan di sana yang salah satunya sudah berumur lebih dari 7 tahun. Katanya sih upacara pemakaman akan digelar tahun 2017 dengan dihadiri oleh semua anggota keluarga yang akan datang dari mana-mana. Maklum saja karena acara pemakaman merupakan salah satu ritual penting bagi orang Sumba

Ketika waktu pemakaman sudah diputuskan bersama oleh seluruh anggota keluarga, maka ritual pemakaman akan mulai dijalankan. Bongkah-bongkah batu besar dari perbukitan di sekitar desa akan mulai dibawa ke pemakaman untuk membuat kubur batu yang akan dibangun di atas liang lahat. Masyarakat Sumba masih melakukan penguburan sanak keluarga mereka dengan cara yang sama seperti nenek moyang mereka dahulu menguburkan kerabatnya juga.

img_ren14

Tapi di era modern sekarang, kemajuan juga menyentuh kuburan masyarakat Sumba. Aku sempat melihat ada beberapa bangunan kubur yang tidak terbuat dari bongkahan batu besar. Rata-rata memang kubur baru sih. Dan sebagai pengganti batu besar, bangunan kubur itu dibuat dari bata dan semen yang dihiasi juga dengan keramik.

img_ren19

Tapi meskipun bahannya relatif berbau kekinian, ada ciri yang tidak hilang. Selain bentuknya yang tetap sama, juga adanya tiang batu berukir yang didirikan di atas bangunan kubur tetap dipertahankan. Tiang batu ini berbentuk pipih dan dihiasi dengan ukiran yang mengandung simbol-simbol yang menunjukkan orang yang dimakamkan di situ berasal dari keluarga mana.

Mungkin beberapa orang akan bertanya-tanya, apa yang menarik di sebuah desa adat? Buat aku sih banyak hal yang menarik di sana. Kita bisa melihat keseharian masyarakat di sana, bisa pula dapat informasi dari tangan pertama mengenai adat dan kepercayaan mereka, belum lagi kita bisa melihat langsung bagaimana mereka menghasilkan selembar kain tenun ikat khas Sumba yang indah. Tapi yang jelas sih aku jadi tahu kalau di Sumba tidak hanya ada banyak pantai perawan dan bukit-bukit yang memiliki pemandangan yang menyejukan mata, melainkan ada pula desa-desa adat yang masih tetap bertahan di tengah gempuran modernisasi, seperti Desa Rende ini.–

img_ren20

img_ren21

Advertisements
Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , | 14 Comments

Megalithic heritage by the beach

Ratenggaro, a name which quite known in Sumba, Indonesia. A place where every travelers could find a virgin but pretty beach with some megalithic era tombs at the beach, while not too far away, just across an estuary, there was a Sumbanese traditional village with its unique tall rooftops.

IMG_RTG01

To come to Ratenggaro, ones would feel as if they traveled back to the ancient era, where people still lived in a simple hut and put their family members’ dead bodies in a kind of sarcophagus. And although there were many stone tombs on the whole island, the ones in Ratenggaro would consider unique. Beside their locations at the beach while other were usually close to their homes, the stone tombs in Ratenggaro were also bigger than those in any other places.

IMG_RTG10

The beach had a combination of a sandy and rocky beach. The waves that reached the beach were not too big, but it was advised not to swim in Ratenggaro Beach because in some parts the water could be very deep and would be dangerous enough, especially for them who were not good enough in their swimming skill.

IMG_RTG02

IMG_RTG21

To come to Ratenggaro, travelers not only enjoy the pretty scenery of a beach with some old tombs here and there, travelers could also explore the nearby traditional village and mingle with the locals.

IMG_RTG22

IMG_RTG03

Ratenggaro was located about 48 kilometers to the south-west from Tambolaka. Travelers could reach the place by rented cars as well as by public transports. The road was quite good along the route, even though it was not too busy. For them who wanted to use the public transport, they could use the regular bus from Tambolaka or Waikabubak to Bondo Kodi, where they had to change their transportation mode from bus to local motor-taxi which known as “ojek”.–

IMG_RTG20

IMG_RTG17

IMG_RTG04

Keterangan:

Ratenggaro adalah sebuah nama yang sudah cukup dikenal di daratan Sumba sebagai salah satu destinasi wisata yang harus dikunjungi. Di sana para pelancong tidak hanya melihat sajian keindahan pantai, melainkan juga bisa menikmati sensasi seolah kembali ke jaman yang telah lampau. Bagaimana tidak, beberapa kubur batu yang telah berusia ribuan tahun berada di sebuah pantai yang sepi sementara di seberang bidang air yang merupakan muara sebuah sungai berdiri sebuah kampung dengan deretan rumah tradisional Sumba dengan atapnya yang menjulang tinggi bagaikan menara tersembul di balik pepohonan yang seolah membatasi kampung tersebut dengan pantai.

IMG_RTG14

Betul lho, berkunjung ke Ratenggaro rasanya seperti kembali ke masa silam, apalagi jika kita berkunjung tidak di hari libur. Hampir tidak tampak adanya ciri kehidupan modern di sana. Di kampung Ratenggaro, rumah-rumah penduduk masih merupakan rumah-rumah tradisional yang beratapkan ilalang dengan puncaknya yang menjulang tinggi. Kehidupan masyarakatnyapun masih bersahaja. Jika ada yang meninggal, maka jenazahnya akan diperlakukan sesuai dengan adat istiadat yang telah diikuti secara turun temurun sejak jaman nenek moyang mereka. Jenazah disempurnakan tidak dengan cara dikuburkan, melainkan dimasukkan dalam kubur batu yang bisa berisi lebih dari satu jenazah. Konon jenazah-jenazah di Ratenggaro dimasukkan ke dalam kubur batu dalam posisi berdiri, sehingga bentuk kubur batu di sana relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kubur-kubur batu yang ada di daerah-daerah lain.

IMG_RTG13

Hal lain yang membedakannya adalah bahwa beberapa kubur batu yang tampak sudah sangat tua berada di tepi pantai, sementara di tempat lain, kubur batu biasanya diletakkan dekat dengan pemukiman. Konon dahulu Kampung Ratenggaro memang terletak di dekat pantai sehingga memang berdekatan dengan “rumah” para leluhur mereka. Tetapi abrasi yang hebat menyebabkan penduduk harus memindahkan kampung mereka menjauhi bibir pantai sementara kubur batu tetap dibiarkan di tempatnya semula sampai sekarang.

IMG_RTG23

Ada tiga buah kubur batu tua yang tampak di pantai itu. Kubur yang paling besar adalah kubur orang yang dipercaya menurunkan penduduk kampung-kampung di sekitar situ yang dikenal dengan nama Rato Pati Leko. Dua kubur batu lainnya adalah kubur kedua anak Rato Pati Leko. Sampai sekarang beberapa sesepuh kampung di waktu-waktu tertentu akan datang ke pantai pada malam hari untuk berkomunikasi dengan leluhur mereka.

IMG_RTG05

Pantai di Ratenggaro merupakan kombinasi pantai berpasir dan berbatu. Pasir yang terhampar di beberapa bagian tampak putih dan juga lembut di kaki, sementara di beberapa bagian lain batu-batu karang yang kokoh bertonjolan dari balik pasir. Untuk melengkapi keindahan kombinasi pasir dan bebatuan itu, tidak jauh dari bibir pantai deretan tumbuhan khas pesisir menghijaukan kawasan pantai sehingga pantai tidak nampak gersang.

IMG_RTG12

IMG_RTG15

Air laut yang jernih dengan ombak yang tidak terlalu besar menggoda para pelancong untuk bermain air di sana. Meskipun demikian, para pelancong tetaplah harus berhati-hati karena di beberapa bagian lautnya cukup dalam sehingga cukup berbahaya bagi mereka yang belum mahir berenang, khususnya berenang di laut.

IMG_RTG18

IMG_RTG06

Ratenggaro terletak di Desa Umbu Ngedo, Kabupaten Sumba Barat Daya. Lokasinya berjarak kurang lebih 48 kilometer di sebelah barat daya Tambolaka. Untuk berkunjung ke sana, pelancong bisa mempergunakan kendaraan sewa maupun mempergunakan kendaraan umum yang bisa diperoleh di Tambolaka. Hanya saja, ketika pelancong memilih mempergunakan kendaraan umum, maka pelancong haruslah bersiap-siap untuk berganti moda transportasi karena bus umum dari Tambolaka atau dari Waikabubak hanya mengangkut penumpang sampai di Bondo Kodi. Selanjutnya untuk melanjutkan perjalanan dari Bondo Kodi ke Ratenggaro, pelancong bisa mempergunakan jasa ojek. Jadi . . . nggak ada alasan untuk nggak berkunjung ke Ratenggaro kan?  🙂

IMG_RTG19

IMG_RTG11

IMG_RTG16 IMG_RTG24

Categories: Travel Pictures, Uncategorized | Tags: , , , , , | 20 Comments

Merry Christmas & Selamat Natal

It has been a month since the Christmas ornaments was started to appear almost in each and every mall in Jakarta, Indonesia. Wreaths, Christmas trees, Christmas figurines; all of those decorated the malls’ windows, corners and halls. I believe that it also happened in other parts of the world. Yes . . . it’s the month of December, when Christians celebrated the day when The Savior of the world was born in the little town of Bethlehem.

So . . in this special occasion, through my simple blog, let me wish you all who celebrate the event to have a very Merry Christmas. May the joy of the holiday season brings joy to your whole family and neighborhood 🙂

Christmas decoration in one of many big malls in Jakarta  (hiasan bertema Natal di salah satu pusat perbelanjaan papan atas di Jakarta)

Christmas decoration in one of many big malls in Jakarta (hiasan bertema Natal di salah satu pusat perbelanjaan papan atas di Jakarta)

Keterangan  :

Sudah kurang lebih sebulan terakhir ini bisa dikatakan semua pusat perbelanjaan maupun gedung perkantoran yang ada di Jakarta ini, seperti halnya juga gedung dan mall lain hampir di seluruh dunia, bersolek dengan berbagai hiasan bernuansa Natal. Dari hiasan yang ala kadarnya sampai hiasan-hiasan yang dengan serius dipersiapkan untuk menyambut bulan yang spesial ini. Ya bulan spesial karena di bulan ini umat Kristiani di seluruh dunia memperingati lahirnya Sang Penebus lebih dari 2000 tahun lalu di sebuah kota kecil bernama Bethlehem.

Karena itulah, pada kesempatan ini, perkenankanlah aku untuk mengucapkan Selamat Hari Natal kepada semua yang merayakannya. Semoga damai dan kebahagiaan Natal mengisi relung-relung hati semua orang dan menular dengan cepat ke tiap-tiap keluarga dan lingkungan sehingga kedamaian dan kebahagiaan selalu ada di antara kita semua  🙂

Categories: Uncategorized | Tags: , , , | 32 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.