Monthly Archives: April 2013

Whispering grass in a peaceful valley

Still in the Tengger Caldera, on the other side of the Sea of Sands, there lies a totally different landscape. Instead of a plain sands and dusts, traveler will find green hilly scenery surrounding a savannah. Not like in the crowded Sea of Sands, the savannah is a relatively quiet place because not many know its existences, and even fewer who like to spend their time to listen to the whispering grass while enjoying the peaceful atmosphere in there.

IMG_SVN03

The savannah is located in a valley known as Lembah Jemplang or Jemplang Valley. It is on the southern side of the slope of Mt. Bromo. Entering the valley, travelers will be greeted by yellowish grass that dance along with the blowing wind; while not too far away, small hills covered by lush green weeds and shrubs as if covered by a giant smooth green carpet stand guarding the savannah.

So . . . if you have a plan to visit Mt. Bromo one day, why don’t you spend more time in there, so you can also visit the savannah to hear the sound of silence whispered by the golden grass?  🙂

 

Ikhtisar :

Siapa yang menduga kalau tidak jauh dari Lautan Pasir yang luas terhampar di Kaldera Tengger terdapat sebuah lembah yang menghijau. Bahkan lembah ini bisa dikatakan berbatasan langsung dengan Lautan Pasir yang gersang berdebu itu. Lembah yang terletak di punggung Bromo sebelah selatan ini dikenal dengan sebutan Lembah Jemplang. Meskipun demikian, tempat ini lebih dikenal dengan nama Bukit Teletubbies ataupun dengan sebutan savana saja.

IMG_SVN07

Tidak seperti di Lautan Pasir, di puncak Bromo, maupun di Pananjakan yang selalu ramai dan penuh manusia, Lembah Jemplang bisa dikatakan relatif sunyi. Sedikit sekali orang yang sengaja meluangkan waktu untuk mendengarkan kesunyian yang dibisikkan oleh rumput-rumput yang bergoyang tertiup angin lembut. Padahal lembah ini cukup menarik. Bayangkan saja, setelah melintasi padang pasir yang tandus berdebu, tiba-tiba mata kita disegarkan dengan pemandangan hijau perbukitan yang mengapit sebuah lembah yang dasarnya tertutup oleh hamparan rumput berwarna keemasan layaknya selembar karpet untuk menyambut kedatangan para tamu agung.

Cobalah kalau pas ke Bromo, dan masih punya sedikit waktu luang, berbeloklah sebentar untuk masuk ke Lembah Jemplang dan nikmatilah suasananya  🙂

Advertisements
Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 103 Comments

A volcano at the center of an old caldera

The volcano is known as Gunung Bromo or Mt. Bromo, which is located almost at the center of an old caldera of Tengger Mountains in East Java, Indonesia. Together with Mt. Semeru which stands not too far from the mountains, they form an area called Bromo Tengger Semeru National Park. The name ‘Bromo‘, is said to be derived from Javanese pronounciation of ‘Brahma‘, the Hindu God that create the universe.

IMG_BRM00

The Bromo Tengger Semeru National Park is a more than 58,000 hectares volcanic plateau. The Tengger caldera itself is located at the northern part of the National Park. It is the largest caldera in Java. The locals call the caldera as ‘Segoro Wedi‘ which mean the sea of sands because it is full of volcanic sands produced by the eruption of Mt. Bromo. So . . . no wonder that one will feel like walking on a dessert if he or she walks on the caldera to reach Mt. Bromo.

Close to Mt. Bromo, still on the sea of sands, lies a Hindu Temple called Pura Luhur Poten, which become the center of the annual ritual called ‘Yadnya Kesada‘. At that time, the Tengger people appease the gods by throwing offerings to the crater of Mt. Bromo. Other people say that the ritual is also a remembrance of Kesuma, the son of the ancient local leader in the area, who sacrifice himself for the sake of his parents.

Nowadays, Mt. bromo and its surrounding area become one of the most visited tourist destination in East Java. Usually travelers come to see the sunrise. It is believed that sunrise in Bromo is very spectacular. To see the sunrise, traveler can choose either enjoying the spectacular vista at the rim of Mt. Bromo’s crater, or at a view point on Mt. Pananjakan which enabled people to watch the sunrise from a higher point and with Mt. Bromo as the foreground.

IMG_BRM01

To visit Mt. Bromo, usually traveler spend a night in Cemorolawang, which is located at the shore of the sea of sands. The next day, they will wake up very early to start their trip to Mt. Bromo or directly to Mt. Pananjakan through the sea of sands. They can choose to go on foot, on horseback, or by taking an organized jeep tour.

If you want to visit Mt. bromo, please bear in mind that the temperature is quite low in there, especially at night and the early morning. The temperature range between five degrees Celcius in rainy season to some degrees below zero during dry season. At daytime, however, the temperature will never exceeded twenty degrees Celcius.

 

Ikhtisar :

Gunung Bromo merupakan sebuah gunung berapi yang terletak di tengah Kaldera Tengger, di Jawa Timur. Bersama dengan Gunung Semeru yang tegak berdiri tidak terlalu jauh dari Pegunungan Tengger ini, Gunung Bromo termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang meliputi suatu area dataran tinggi seluas lebih dari 58.000 hektar. Kaldera Tengger itu sendiri terletak di ujung utara Taman Nasional ini. Oleh masyarakat setempat, kaldera yang terluas di Pulau Jawa ini dikenal dengan sebutan ‘Segoro Wedi‘ atau Lautan pasir. Sebutan ini tidak berlebihan karena dasar kaldera betul-betul tertutup pasir vulkanis hasil letusan Gunung Bromo. Menurut penelitian, kaldera ini terbentuk 8.000 tahun yang lalu ketika terjadi letusan dahsyat sebuah gunung api purba yang kini telah padam dan sisa tubuhnya merupakan Pegunungan Tengger tersebut.

Tidak jauh dari Gunung. Bromo, masih di Lautan pasir itu juga, terdapat sebuah Pura yang bernama Pura Luhur Poten. pura ini merupakan sebuah pura yang cukup penting bagi masyarakat Tengger yang beragama Hindu, terutama pada perayaan Yadnya Kesada. Pada perayaan tersebut penduduk akan melemparkan sesaji ke dalam kawah Gunung Bromo sebagai peringatan akan pengorbanan diri yang dilakukan oleh Kesuma, putera bungsu Nyai Roro Anteng dan Kyai Joko Seger.

Sekarang ini Bromo menjadi salah satu tujuan wisata yang menarik banyak turis baik lokal maupun manca negara yang sengaja datang untuk menyaksikan matahari terbit di sana. Mereka ingin membuktikan informasi yang mereka dengar yang mengatakan bahwa keindahan matahari terbit di Bromo merupakan salah satu yang terindah di muka bumi ini. Para pelancong ini biasanya akan menginap di Cemorolawang, sebelum keesokan subuhnya berangkat untuk menyaksikan matahari terbit dari puncak Gunung Bromo ataupun dari Gunung Pananjakan dimana mereka bisa menyaksikan keelokan matahari terbit dengan Gunung Bromo sebagai latar depannya. Perjalanan dari penginapan menuju posisi yang dipilih untuk menyaksikan matahari terbit bisa dilakukan dengan berjalan kaki, berkuda, ataupun mempergunakan jeep sewaan untuk melintasi Lautan Pasir itu.

IMG_BRM06

Suhu udara di daerah ini lumayan dingin. Maklum letaknya yang tinggi ditambah hembusan angin yang kadang-kadang cukup kencang, menyebabkan suhu udara pada malam hari bisa mencapai lima derajat Celcius di musim penghujan, dan bahkan mencapai beberapa derajat Celcius di bawah nol pada musim kemarau. Siang haripun udara masih cukup sejuk karena suhunya tidak pernah melebihi dua puluh derajat Celcius sepanjang tahun. Nah . . . buat yang mau kesana, jangan lupa bawa jaket ya biar gak kedinginan  🙂

Categories: Travel Pictures, Uncategorized | Tags: , , , | 115 Comments

The twin volcanoes in East Java

IMG_AWC01

Gunung Arjuno (Mt. Arjuno) and Gunung Welirang (Mt. Welirang), which are located in Malang, East Java, Indonesia, are often called as twin volcanoes. Most probably, because the two mountains lies side by side on a mountain ridge. Together with other small mountains, such as Mt. Anjasmoro, Mt. Ringgit, and Mt. Linting, they form a mountain range.

The twin volcanoes are stratovolcano type mountains with the height of more than 3,000 meters above sea level. Stratovolcano means a high conical volcano which formed by layers of hardened lava.

The summit of Mt. Arjuno and Mt. Welirang, which seem unvegetated, are often being the target for they who like to do outdoor activities, especially hill walking and mountain climbing. There are many routes can be taken to reach the mountain tops. One can start the climb from Lawang, Tretes, or from Batu as well.

At that time, I just took the pictures of Mt. Arjuno and Mt. Welirang from afar. It was from Pananjakan to be precise. Pananjakan is located at the rim of Tengger Caldera, approximately 90 kilometers from those mountains. But . . . who knows that one day I can take pictures from the summit of Mt. Arjuno and Mt. Welirang?  🙂

IMG_AWC02

IMG_AWC03

IMG_AWC05

 

Ringkasan :

Gunung Arjuno dan Gunung Welirang yang terletak di daerah Malang, Jawa Timur, dikenal sebagai gunung kembar, mungkin karena letaknya yang sebelah menyebelah di suatu punggungan gunung; yang bersama-sama dengan Gunung Anjasmoro, Gunung Ringgit, dan Gunung Linting membentuk sebuah gugusan gunung.

Kedua gunung yang termasuk type stratovolcano ini memiliki ketinggian lebih dari 3.000 meter di atas permukaan laut. Stratovolcano berarti gunung berapi yang bentuknya tinggi mengerucut dan terbentuk dari lapisan-lapisan lava hasil letusan yang telah mengeras.

Puncak Gunung Arjuno dan Gunung Welirang acap kali menjadi tujuan para pendaki gunung. Ada beberapa rute yang bisa diambil untuk mencapai puncak kedua gunung tersebut, antara lain dari arah Lawang, Tretes, atau bisa juga dari arah Batu. Konon di sekitaran kedua gunung tersebut masih banyak terdapat peninggalan purbakala yang masih belum terurus, disamping juga terdapat beberapa air terjun yang memiliki panorama cukup indah.

Ketika itu, aku mengambil foto-foto Gunung Arjuno – Welirang ini dari Pananjakan yang terletak di bibir Kaldera Tengger, dan berjarak sekitar 90 kilometer dari kedua gunung tersebut. Yah . . . kali ini cukuplah  memandang dan memotret si gunung kembar dari kejauhan saja, tetapi siapa tahu suatu ketika aku bisa menjejakkan kaki di puncaknya?  🙂

IMG_AWC04

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 53 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.