Monthly Archives: February 2013

Environment-friendly traditional transportation

In the modern world, everything should be fast. That is including transportation. Since that, many modern vehicles have been made, and many other which considered traditional have been modernized, so they can move faster and safer. Such efforts, however, make the environment suffer, because many modern transportation modes resulting more pollution.

In many countries in Asia, however, many traditional transportation modes are still being used up till now, especially in the rural areas, and also in some tourist areas.

One of the so called traditional transportation modes is an environmental-friendly and pedal driven vehicle which is known as ‘becak’ in Indonesia. The ‘becak’ is a modernization form of the human pulled rickshaw which was originally found in the ancient Japan.

some becaks in malioboro - yogyakarta

some “becaks” in malioboro – yogyakarta

As for the name, I found two versions of its origin. A version said that the name was derived from the Hokkien term ‘be chia’ which means horse carriage. The other version said that many Chinese who came to Medan in the end of 18th century were so poor and did not have anything except the clothes they wore; so in order to get food they had to work hard which many of them chose to be the driver of a kind of vehicle that similar to nowadays ‘becak’. When people asked how come they did such a hard work, they said ‘bo chia’ which means cannot eat or haven’t eaten. The term ‘bo chia’, then became ‘becak’.

In Indonesia, ‘becak’ can be found in many rural areas across the country even-though they are become extinct nowadays. ‘Becak’ usually has three wheels; those are a pair of wheels at the front part which is also where the passengers sit, and one wheel at the back. The ‘becak’ in many parts of Indonesia are similar, and yet they also have their unique form which is differing from one area to the other. ‘Becak’ is suit comfortably for two passengers, but it is depends on the size of the passengers of course  :mrgreen:

There are also motorized ‘becak’ which can be found in North Sumatera. They called ‘betor’ or ‘becak motor’. The ‘betor’ in Pematang Siantar, North Sumatera, even more unique, because they use old motorcycles to be attached to passenger carriages.

 

Ringkasan:

Kecepatan menjadi kata kunci di era modern seperti sekarang. Ini berlaku juga untuk urusan transportasi. Untuk urusan kendaraan, sayangnya kecepatan berarti juga semakin tingginya tingkat pokusi karena semakin banyak pula kendaraan bermotor yang dipergunakan.

Meskipun demikian, di beberapa Negara Asia, beberapa jenis kendaraan tradisional masih tetap dipertahankan. Salah satunya adalah sebuah kendaraan ramah lingkungan yang kita kenal dengan nama becak. Menurut sejarahnya, becak merupakan pengembangan bentuk dari kereta penumpang yang ditarik manusia dan dikenal dengan nama rickshaw yang pertama kalinya muncul di Jepang pada jaman Shogun.

becak in beijing, china

becak in beijing, china

Untuk nama, ada dua versi yang menjelaskan asal-usul nama becak. Yang pertama mengatakan bahwa istilah becak berasal dari istilah Hokkien ‘be chia’ yang berarti kereta kuda. Sementara versi lain mengatakan bahwa pada akhir abad ke 18, banyak orang China miskin yang datang ke Medan untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Karena mereka tidak memiliki apa-apa kecuali pakaian yang melekat di badan, mereka bekerja mengandalkan otot untuk mendapatkan makanan. Kebanyakan dari mereka memilih untuk menjadi penarik kereta penumpang yang merupakan cikal bakal becak jaman sekarang. Ketika ada orang yang bertanay mengapa mereka mau bekerja seperti itu, hampir semuanya menjawab ‘bo chia’ yang artinya tidak bisa makan. Kata ‘bo chia’ ini lama kelamaan berubah menjadi becak.

Di Indonesia, becak dapat ditemukan di hampir semua kota. Bentuknya boleh dibilang sama, meskipun beberapa bagiannya sedikit berbeda di suatu kota dibandingkan dengan kota lainnya. Semuanya punya tiga roda dengan penumpang berada di depan si pengemudi, kecuali di Medan, dimana pengemudi mengayuh becaknya di samping tempat duduk penumpang. Di Medan dan sekitarnya, dikenal juga adanya becak bermesin yang dikenal dengan nama betor. Bahkan di Pematang Siantar betor-nya unik karena mempergunakan moge sebagai penggerak.

Pada umunya becak cukup nyaman jika ditumpangi dua orang penumpang. Tapi itu tergantung ukuran penumpangnya juga sih  :mrgreen:

sleep well and sweet dream  :)

sleep well and sweet dream 🙂

Advertisements
Categories: Pictures of Life | Tags: , , | 70 Comments

A small town with a legend

Let me bring you to small town located on the shore of Toba Lake in North Sumatera, Indonesia. The town is also known as the transit town for them who want to visit Samosir Island by boat. The climate there is relatively cool the whole year, and make the small town is a perfect place for holiday.

a town on the shore of toba lake

a town on the shore of toba lake

The town’s name is Parapat, and it lies about 176 kilometres from Medan. It can be reached in about 4 – 6 hours drive, depends on the traffic situation en route. With cool climate and beautiful scenery, no wonder that Parapat become one of the main tourist attraction in North Sumatera. There is a local legend about the name “Parapat”.

So . . . once upon a time, on a small rocky peninsula on a corner of Toba Lake, there was an elderly couple who had a beautiful and good mannered daughter.

The family owned a piece of land not too far from the lake shore which was used to plant rice-paddy. Day by day, the family worked in their field together to take care of the plants. Their work resulted in a good harvest, which they usually brought to the local market to be sold for fulfilling their daily needs.

One day, the couple had to go to another village to visit their relatives, so their daughter had to go to the field alone. Arriving at the fields, she was not doing her daily routine as usual. Instead of that, she went directly to the lake shore and sat on top of a big rock gloomily. Her dog, which followed her step, sat silently beside her as if it knew that its master was in deep sorrow.

toba lake from the height

toba lake from the height

She was indeed so sad and depressed because her parents asked her to marry a man of their choice, while actually she had a boy-friend to whom she promised to marry with. She could not refuse her parents proposal, because she loved her parents so much. On the other hand, she also could not end her relationship with her lover.

In desperation, she decided to commit suicide by plunging herself to the lake from the nearby cliff. So, with tears on her cheeks, she walked to the cliff, when suddenly she fell into a hole. Her body slid swiftly in the dark hole until finally she stuck in a narrow gap. In fear she realized that nobody knew that she fell into the hole, but her wild mind then took over her conscious mind. She thought that her condition at that time was the perfect solution for her unbearable problem. With that in her mind, she began to chant wishing for the stone wall around her to close and crush her body.

“Parapat . . . parapatlah batu . . . parapat”, she said again and again. The words means “Close  . . . please close and crush me oh stone . . . close”

Meanwhile, her dog kept barking at the mouth of the hole. Two farmers, who just finished their daily activities in their fields, heard the barking and rushed toward the hole. As they heard the girl’s voice, they realized that somebody had fallen into the hole, so hurriedly they ran to the village to seek for help.

The elderly couple, who just came to their home, heard the commotion and in horror they found that her beloved daughter was in deep trouble. Along with other villagers they rushed to the hole to help her. Faintly, they still heard her voice, “Parapat . . . parapatlah batu . . . parapat”

All of a sudden, as if fulfilling the girl’s wish, there was a strong earthquake happened that made the hole collapsed and buried her in it. The mouth of the hole was closed by then.

Days later, the sad story remained being the talk among the villagers, especially in the market which located near the now vanished hole. The girl’s chants were the hot topic at that place, which later on became a town called Parapat.

Ringkasan :

Parapat, sebuah kota kecil yang terletak di tepi Danau Toba, Sumatera Utara. Kota kecil berhawa sejuk ini dapat ditempuh dalam 4-6 jam perjalanan darat dari Medan, tergantung dari kondisi lalu lintas sepanjang jalan itu.

Ada sebuah cerita rakyat yang berkaitan dengan asal mula nama kota tersebut. Semuanya bermula dari adanya sepasang suami istri paruh baya yang memiliki seorang putri yang cantik dan berbudi luhur. Mereka tinggal di sebuah bukit berbatu di salah satu sudut Danau Toba. Sehari-hari, keluarga itu mengerjakan sawahnya yang tidak seberapa luas dan letaknya tidak jauh dari tepian danau. Karena selalu dikerjakan dengan sepenuh hati, hasil panenannya pun selalu baik. Sebagian hasil panenan itu biasanya akan mereka jual di pasar untuk membeli kebutuhan hidup mereka.

Suatu hari, karena kedua orang tuanya harus pergi mengunjungi sanak saudaranya di desa lain, si gadis pergi ke sawah seorang diri. Anjing kesayangannya, seperti biasa mengiringi langkah kakinya. Hanya saja hari itu si gadis tidak langsung bekerja, melainkan hanya duduk termenung di atas sebuah batu. Matanya memandang kosong kearah danau. Si gadis sedang dilanda kebingungan karena orang tuanya menjodohkannya dengan pria pilihan mereka. Si gadis tidak kuasa menolak permintaan kedua orang tuanya karena dia tidak ingin membuat mereka bersedih, padahal si gadis sudah memiliki seorang kekasih yang sangat dicintainya; bahkan mereka berdua sudah bersumpah untuk menikah dan hidup sebagai suami istri.

Dalam kesedihan dan kebingungannya, si gadis memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara melompat ke danau dari atas tebing batu yang tidak jauh letaknya dari tempatnya duduk. Dengan pikiran itu, si gadis bangkit dan mulai berjalan ke tebing batu tersebut ketika tiba-tiba dia terperosok masuk ke sebuah lubang batu. Tubuhnya meluncur deras di dalam lubang sampai akhirnya terhenti karena tubuhnya terjepit di dalam lubang yang menyempit.

Kepanikan yang menyelimutinya tidak lama kemudian berubah menjadi pemikiran bahwa kondisi itu merupakan jalan keluar terbaik baginya untuk lepas dari permasalahan yang dihadapinya. Karena itu, si gadis mulai berharap agar dinding lubang batu tempatnya tersangkut semakin merapat dan mengubur dirinya di situ.

“Parapat . . . parapatlah batu . . . parapat”, demikian ujarnya berulang-ulang.

Sementara itu, melihat majikannya terperosok dalam lubang, anjingnya menggonggong terus menerus di mulut lubang sehingga menarik perhatian dua orang petani yang sedang berjalan kembali ke desa. Kedua petani yang mendekati mulut lubang, sayup-sayup bisa mendengar suara si gadis, sehingga mereka tahu bahwa seseorang telah terperosok dalam lubang itu. Karena itulah, mereka berdua segera berlari ke desa untuk meminta bantuan.

Orang tua si gadis yang mendengar keributan di luar rumahnya, segera menyadari kalau anak gadisnya tidak berada di rumah. Dengan panik, mereka berdua mengikuti penduduk desa yang beramai-ramai menuju ke lubang untuk menolong anak semata wayangnya.

Sesampainya di tepi lubang, kedua orang tua tersebut mendengar suara anaknya yang masih saja mengucapkan “Parapat . . . parapatlah batu . . . parapat”, ketika mendadak terjadilah gempa bumi yang cukup kuat. Seolah-olah mendengar harapan si gadis, runtuhlah lubang tersebut mengubur si gadis di dalamnya. Mulut lubang pun menjadi tertutup karenanya.

Selama beberapa hari kemudian, cerita mengenai gadis yang menginginkan merapatnya batu ke tubuhnya tetap menjadi perbincangan orang-orang desa, khususnya di pasar yang lokasinya tidak jauh dari tempat dimana sebelumnya terdapat sebuah lubang tempat terperosoknya si gadis. Tempat tersebut lama kelamaan semakin ramai dan berkembang menjadi sebuah kota yang kita kenal dengan nama Parapat sampai sekarang.

IMG_PRP10

toba lake as seen from a hill in parapat

Categories: Travel Pictures | Tags: , , | 76 Comments

A blade that stab a valley

Actually, the blade is a waterfall located in Tanah Karo Regency, North Sumatra, Indonesia, at the north shore of the great Toba Lake. The waterfall is known as Sipiso-piso Waterfall. The term “piso” means knife or blade. The waterfall earned its name because the locals who live at the surrounding area saw that the narrow waterfall looked like a giant blade that cut a hill and stab the bottom of the valley below.

IMG_SSW00

sipiso-piso waterfall

Sipiso-piso Waterfall is considered one of the highest waterfalls in Indonesia. The water come from an underground river on the Karo Plateau, then plunge into some 120 meters gorge below with a thunderous roar. The water then flow through a small river at the bottom of the gorge to the nearby Toba Lake.

Travelers can enjoy the scenery without any special efforts because the waterfall is seen clearly from an opening close to the parking lot. There are some viewing posts that enable travelers see the waterfall on one side and also a part of Toba Lake on the other side. For them who want to go to the base of the waterfall, however, they have to walk down hundreds of steep stone stairs which guide them directly to the base of the waterfall.

I was there on a cloudy afternoon. Drizzle greeted me and my family at the site, so I decided not to go down to the base of the waterfall. It seemed that I took a good decision, for a downpour came right after I left the viewing post to get to my car.

Located on a 800 meters above sea level make the temperature quite cool, and fog easily formed at the top of the surrounding hills. The hills look green because they are covered by pine forests. The location is not too far from Brastagi, the small town known as the fruit and flower heaven of Sumatra.

Ringkasan :

Sipiso-piso merupakan nama air terjun yang terletak di Tanah Karo, Sumatera Utara. Posisinya ada di sebelah utara Danau Toba. Nama Sipiso-piso terinspirasi dari bentuk air terjun itu yang relatif tidak lebar tetapi cukup tinggi, sehingga sepintas nampak seperti sebilah pisau yang menghunjam ke dasar lembah tempat dimana air terjun itu jatuh. Itu pulalah sebabnya, mengapa penduduk setempat akhirnya menyebut air terjun ini dengan nama Sipiso-piso.

Air Terjun Sipiso-piso merupakan salah satu air terjun tertinggi di Indonesia. Sumber airnya berasal dari perbukitan di sekitarnya yang mengalir melalui sebuah sungai bawah tanah yang akhirnya keluar di sebuah tebing membentuk air terjun setinggi kurang lebih 120 meter dihitung dari dasar lembah tempat jatuhnya air. Air dari air terjun Sipiso-piso ini mengalir melalui sebuah sungai kecil dan bermuara di Danau Toba.

Untuk menikmati pemandangan air terjun ini, pengunjung tidak perlu bersusah payah berjalan jauh, karena dekat dengan tempat parkiran mobil terdapat gardu pandang yang bisa dipergunakan untuk menikmati keindahan air terjun tersebut dari kejauhan, bahkan selain air terjun, di sisi lain dari gardu pandang tersebut, tampak keindahan sebagian pantai Danau Toba. Trus kalau mau main air di dasar air terjun bisa apa gak? Jangan khawatir, sudah tersedia sebuah jalur tangga batu dengan ratusan anak tangga untuk mengantar mereka yang ingin turun ke dasar lembah tempat jatuhnya air dari Air Terjun Sipiso-piso ini. Tentunya dibutuhkan stamina yang kuat untuk turun dan kemudian naik lagi pada saat kembali dari dasar lembah.

Aku sendiri waktu itu tidak turun ke dasar lembah, karena pada saat aku sampai di sana bersama keluarga, mendung tebal menggelayut rendah dengan ditingkahi gerimis tipis yang cukup bisa membasahi tubuh. Untungnya aku memutuskan untuk tidak turun ke dasar lembah, karena tidak lama kemudian, pas ketika aku meninggalkan area gardu pandang menuju mobil, hujan sangat deras turun seolah-olah disiramkan dari langit.

Hawa di Sipiso-piso cukup sejuk karena terletak pada ketinggian 800 meter di atas permukaan laut, sehingga kabutpun dengan mudah terbentuk menyelimuti puncak-puncak perbukitan disekitarnya yang menghijau karena tanaman pinus.

Lokasi air terjun ini tidak jauh dari Brastagi, sebuah kota kecil yang dikenal sebagai penghasil bunga dan aneka buah.

Categories: Travel Pictures | Tags: , , | 72 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.