Monthly Archives: November 2013

Wasteland transformed into greenery

As I’ve mentioned before in my previous posts about Bangka; the island was once known as having a huge deposit of tin, and hence it bore the name Tin Island. The effect of having such a huge deposit was, many tin mines were opened, either by the government-owned companies or by legally private owned companies. Aside of those companies, there were also many individuals dug the land of Bangka to get the tin. As a result, there were many man-made holes and pools scattered throughout the entire island. Bangka’s environment suffered because of the mining activity.

Not too far from Pangkalpinang, the biggest city on the island, there was a closed mining site which was abandoned and become waste-land for years. In 2007, PT Dona Kembara Jaya started to turn the 300 hectares wasteland into something more purposeful as its corporate social responsibility program. The company’s effort resulted in a private managed plants and animals conservation that know known as Bangka Botanical Garden.

IMG_BBG01

Don’t think that the place was a beautiful garden with many pretty flowers and plants. It was more like an eco-park where people could take their young ones to explore and learn more about nature and the environment. Bangka Botanical Garden was not only being a usual new tourist destination on the island, it had also other functions such as a place for environmental research and educational development; and also a place that gave additional income for the people who lived in the surrounding area since they could work in the garden as well. A 300 hectares field consist of so many trees, farms and also fishing ponds had to have many workers to make it operated well.

In the middle of the garden, there was a traditional Bangka house. The path which led travelers to the house was red soiled with array of trees stood on either side of the path. There were also other red soiled paths which led to other parts of the garden.

Close to the traditional house, there was a pond with large koi fishes in it. Travelers may buy pellets to feed the kois if they want, a favorite activity for young travelers, I think  🙂

There were farm animals in there too. The garden had many cows in a fenced field like that in a big farm and also cows that placed in cowsheds. Travelers who interested in milking the cows may ask the attendants for daily milking schedules. Aside of cows, there were other animals too. At least I found a very tame goat and an irritated turkey  😀

IMG_BBG12

There was also a simple cafe in there, which served some kind of foods which ingredients were taken from the plantation inside the Garden and meats or eggs taken from the Garden’s farm. So don’t worry, travelers won’t be starving in there  😛  Interested to jog or just take a stroll on the paths in Bangka Botanical Garden?

Keterangan :

Seperti telah pernah aku kemukakan juga dalam beberapa postingan mengenai Bangka sebelumnya, pulau ini pernah terkenal dengan sebutan Pulau Timah karena banyaknya kandungan timah yang ditemukan di ‘perut’-nya. Karena itulah, maka banyak tambang timah dibuka di pulau ini sehingga manusia bisa mengeluarkan isi ‘perut’ Bangka yang sangat berharga itu. Banyak sekali perusahaan yang melakukan penggalian di sana, baik perusahaan milik pemerintah maupun perusahaan swasta yang sudah mengantongi ijin ekskavasi. Tetapi ternyata tidak hanya mereka yang ingin mengeluarkan isi ‘perut’ pulau ini, karena banyak penduduk lokal maupun perusahaan abal-abal yang juga melakukan kegiatan pernggalian meskipun mereka tidak mengantongi ijin resmi. Akibat dari itu, permukaan Pulau Bangka dipenuhi lubang-lubang bekas galian. Penderitaan pulau yang sekarang tubuhnya dipenuhi bopeng ini semakin diperparah dengan hilangnya lapisan tanah yang subur, baik akibat tergerus pada saat dilakukannya penggalian maupun akibat penggunaan bahan kimia yang dipergunakan dalam aktivitas pertambangan yang tidak terencana dengan baik. Karena itulah daerah di sekitar tambang menjadi daerah yang tandus. Pemandangan danau gersang yang merupakan lubang bekas tambang yang sudah dipenuhi air menjadi pemandangan yang bisa ditemui di hampir setiap sudut pulau ini. Daerah-daerah seperti itu menjadi daerah mati. Tetumbuhan tidak bisa tumbuh sedangkan ikan yang dimasukkan ke dalam lubang-lubang berair itupun mati.

Tidak jauh dari Pangkalpinang, ada juga sebuah lokasi bekas tambang. Tempat tersebut sudah lama terbengkelai dan dibiarkan dalam kondisi mengenaskan. Untungnya pada tahun 2007, PT Dona Kembara Jaya berinisiatif untuk mengubah lahan terlantar itu menjadi suatu kawasan yang bisa dimanfaatkan sebagai salah satu program tanggung jawab sosial perusahaan. Usaha yang dilakukan perusahaan tersebut kini sudah menampakkan hasil yang menggembirakan karena kawasan yang semula tandus itu sekarang sudah mulai menghijau, bahkan sudah menjadi sebuah kawasan konservasi lingkungan yang menyandang nama Bangka Botanical Garden.

IMG_BBG13

Meskipun menyandang nama “Garden”, tetapi jangan berharap akan melihat sebuah kebun yang dipenuhi tanaman dengan bunga-bunga indah bermekaran di seantero kawasan. Yang akan dijumpai adalah sebuah kawasan terpadu perkebunan, peternakan, dan lokasi penelitian mengenai lingkungan yang cukup menarik juga untuk dijelajahi, apalagi kalau kesana mengajak anak-anak, karena di sana mereka akan bisa banyak mengenal aneka jenis sayur dan buah yang ditanam dan tumbuh dengan subur dalam kawasan Bangka Botanical Garden itu. Mereka juga akan bisa mengenal beberapa jenis sapi, bahkan bisa juga ikut memerah sapi kalau mau. Ada juga beberapa hewan peternakan lain seperti ayam, kambing dan juga kalkun. Ada pula sebuah kolam besar berisi banyak sekali ikan koi. Atau mau memancing? Di sanapun terdapat kolam pancing yang dihuni ikan-ikan konsumsi.

Di tengah kawasan seluas 300 hektar ini juga terdapat sebuah rumah adat Bangka. Menurut informasi, ruangan dalam rumah adat itu bisa disewa untuk suatu acara.

Terus ada apa lagi? Hmm . . . o ya, ada resto sederhana juga. Kalau lapar bisa saja mampir dan memesan makanan yang bahan-bahannya dijamin masih segar karena diambil langsung dari lahan yang ada di dalam taman ini. Mereka juga menyediakan susu segar bagi yang ingin membelinya.

IMG_BBG02

Jalan-jalan di dalam Bangka Botanical Garden merupakan tanah merah yang di kiri dan kanannya berdiri berderet pohon-pohon yang seragam. Jadi kalau di suatu jalur jalan di apit pohon-pohon pucuk merah, di jalur lain mungkin saja jalurnya diapit oleh deretan pohon pinus. Meskipun demikian, apapun pohonnya . . . tetap cantik kalau dipakai sebagai background foto. Kata beberapa temanku sih pemandangan jalan yang diapit pohon itu jadi kaya pemandangan yang suka ditampilkan dalam film-film Korea 😀

Jadi . . . tertarik mau ke sana? Mumpung masih gratis lho masuknya.–

Categories: Travel Pictures, Uncategorized | Tags: , , , | 54 Comments

Was it really smelly out there?

Once I heard that there was a quiet beach which could be reached in about 45 minutes drove from Pangkal Pinang on the direction to Sungailiat, Bangka. The beach bore a specific name which meant that the water at the beach was smelly. The beach’s name was Pantai Air Anyir. The name could be translated freely as the beach that has fish smelled water.

So, to satisfy my curiosity, when I’ve got a chance to pass the area, I decided to visit the beach. Was it really smelly out there? Well . . . on the contrary, I didn’t smell anything bad. I could fill my lung freely without been afraid of fish smelled air nor any other foul odor. More than that, the beach was quite pretty with white sands along the shore and many trees lining up as if they stood guard on the beach area. The water was quite calm so it must be safe for everybody to swim or just to play in the water. For them who just wanted to enjoy the relaxing atmosphere on the beach, there were many simple gazebos that accommodated their need for a place to sit or even to lie lazily  🙂

IMG_PAA01

IMG_PAA02

Looking at those gazebos on the beach, I believe that the beach would be pretty crowded in holiday time, even though what I found at that time was a deserted beach.

The beach was located in Air Anyir Village, Merawang District. There were a ritual held annually in the area which called Rebo Kasan.  The local held the ritual to get rid of any troubles, especially troubles which they would face when they caught fishes at the sea, as most of the village’s inhabitants were fishermen. Hope that someday I can come when they held the ritual so that I can get more knowledge about the local custom there.

IMG_PAA03 IMG_PAA07 IMG_PAA08

Keterangan :

Sebelum melakukan perjalanan ke Pulau Bangka, aku sempat memperoleh informasi bahwa kalau kita berkendara dari arah Pangkal Pinang menuju Sungailiat melalui jalan yang menyusuri pantai, kita akan menjumpai sebuah pantai yang bernama Pantai Air Anyir. Ketika pertama mendengar namanya, dahiku sempat berkerut, karena pemahamanku anyir adalah bau yang tidak enak, amis seperti bau darah. Jadi apa menariknya berkunjung ke sebuah pantai yang menguarkan bau yang tidak enak? Meskipun demikian, nama itu juga menimbulkan rasa penasaran di hatiku. Betulkah pantai itu memiliki air yang berbau anyir? Apakah bau itu timbul karena banyaknya bangkai ikan yang terdampar di sana? Atau mungkin karena kebiasaan penduduknya yang kurang memperhatikan kebersihan lingkungan?

Karena itulah, ketika kebetulan melewati daerah itu, aku sengaja minta diantar ke Pantai Air Anyir. Dan . . . ternyata apa yang semula aku khawatirkan tidak aku temui di sana. Udara pantai yang bebas dari polusilah yang justru memenuhi paru-paruku, sehingga membuat aku betah berlama-lama di sana. Apalagi kondisi pantai yang menurut aku cukup indah semakin membuat aku enggan beranjak dari sana. Bayangkan saja, pantai yang sepi dengan pasir putih di sepanjang pantainya dengan alun air laut yang lumayan tenang. Belum lagi deretan pepohonan yang memayungi beberapa pondokan sederhana yang terbuat dari bambu dan beratapkan daun kelapa kering membuat udara di pantai tidak terasa terlalu panas. He he he . . . pasti asyik juga tuh buat pacaran  😛

IMG_PAA05

Meskipun waktu itu bisa dibilang kalau aku dan keluargaku merupakan satu-satunya pengunjung, aku yakin di hari libur pastilah pantai itu dipenuhi pengunjung. Mudah-mudahan saja pada saat penuh pengunjung, kebersihan pantai juga tetap terjaga. Pas aku ke sana, sampah yang aku temukan sih hanyalah sampah alam yang terbawa ombak ketika laut pasang pada malam harinya. Sampah bawaan manusia relatif jarang sekali aku temukan.

Pantai yang terletak di Desa Air Anyir, Kecamatan Merawang ini juga menjadi tempat dilaksanakannya upacara Rebo Kasan, yang diselenggarakan pada tiap hari Rabu terakhir di bulan Sapar menurut penanggalan Hijriyah. Upacara tersebut dipercaya penduduk setempat sebagai penolak bala yang mungkin akan terjadi ketika mereka melaut untuk mencari ikan. Yah maklum saja, penduduk desa itu sebagian besar adalah nelayan. Mudah-mudahan sekali waktu nanti aku berkesempatan menyaksikan upacara Rebo Kasan ini.–

IMG_PAA04 IMG_PAA06 IMG_PAA09

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 58 Comments

A temple on a hill

On my way from Pangkal Pinang to Belinyu (Bangka Island), when entering Sungailiat District, I drove along an empty road which in some parts was pretty close to the shore. At a point, there was a cliff facing a beautiful beach far below, while on the other side, there was a hill. Since the scenery was quite pretty, I decided to stop for a while to explore the area. I also tried to look for a path which would lead me down to reach the beach. It seemed a perfect idea, to be able to play in the water in the very hot sunny day  🙂

can you see the white sands on the shore?

can you see the white sands on the shore?

When my friend knew about my intention, he suggested me to climb upward to the hill instead of down to the beach. He said that the view from the top of the hill would be better. More than that, I could save my energy because I could use the car to reach the top.

So . . . off we went to the top of the hill . . . by car of course  😛  The road to the top was quite good, and once we reached the top, I was stunned to see that there was a big Chinese Temple stood still facing the sea. At that time, the temple was still being built. I saw some workers were finishing the exterior while some others were decorating the interior of the temple.

In my opinion, the temple will be very beautiful when it finished. Imagine that a big Chinese Temple which looked similar to the Temple of Heaven in Beijing, China, stands facing the blue sea with ripples touching the white sandy shore below the cliff; the now barren front yard will turn green with some flower plants and become a pretty garden, and also several big trees blocking the scorching heat of the sun with their dense leaves.

Before I left the area, I asked about the name of the beach at the foot of the cliff. Their answer was : Pantai Tikus, which literally means the Mouse Beach. Unfortunately, nobody could tell me how the beach got its name. One of them said that perhaps the name was assigned to the place because there was many granite rocks on the beach which looked like mice. Well . . the rocks are still there, but I cannot see any resemblances with any mouse  🙄

Keterangan :

Dalam perjalanan dari Pangkal Pinang ke Belinyu, begitu memasuki daerah Kecamatan Sungailiat, kendaraan yang aku tumpangi masuk ke sebuah jalan alternatif yang di beberapa bagiannya sejajar dan bahkan berjarak tidak jauh dari pantai. Pada suatu tempat, jalan tersebut melalui sebuah tebing dengan pemandangan sebuah pantai berpasir putih yang tampak sepi di bawahnya, sementara di sisi lain jalan berdiri sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi. Karena tidak mau melewatkan pemandangan yang indah ini, aku meminta agar kendaraan berhenti sebentar di atas tebing sehingga memungkinkan buat aku dan keluarga untuk menikmati keindahan yang tersaji. Aku sendiri tidak lama kemudian sudah sibuk mencari jalan yang kira-kira bisa menuntun langkah kakiku menuruni tebing guna menyambangi pantai tersebut. Aku bayangkan, pastilah menyenangkan untuk bisa sekedar bermain air sejenak di siang panas itu.

Sewaktu aku sampaikan niatku itu kepada temanku yang kebetulan hari itu menemaniku bersama keluarga untuk berkunjung ke Belinyu, bukannya membantu mencarikan jalan melainkan dia justru menyarankan untuk mendaki bukit yang ada di sisi lain jalan itu. Dia bilang selain di atas pemandangannya akan lebih luas, juga bisa menghemat tenaga, karena untuk mencapai puncak bukit itu bisa dilakukan dengan kendaraan. Jadilah kemudian aku dan keluarga kembali ke mobil, yang kemudian langsung dikemudikannya menuju puncak bukit melalui jalanan yang sudah relatif bagus. Dan . . . sesampai di atas mataku terbelalak karena ternyata di sana terdapat sebuah bangunan kelenteng yang cukup besar dan masih dalam tahap penyelesaian. Meskipun belum selesai, keindahan dan kemegahan bangunan tersebut sudah tampak dengan jelas.

the temple on a hill

the temple on a hill

Kelenteng itu berbentuk seperti silinder, dan kalau diperhatikan bentuknya sangat mirip dengan Temple of Heaven yang ada di Beijing, di China sana. Aku jadi membayangkan keindahan tempat itu kalau kelenteng tersebut sudah selesai, dan halaman depan yang saat itu gersang nantinya sudah ditumbuhi aneka tanaman yang hijau membentuk sebuah taman yang asri. Pohon-pohon yang sekarang masih meranggas nantinya menjadi rimbun sehingga bisa meredam kegarangan panas matahari Bangka. Wah koq ya terus jadi menghayal gini ya  😳

Setelah berkeliling sebentar di sana, dan sebelum meninggalkan tempat itu, iseng aku bertanya kepada orang yang ada di situ mengenai pantai yang ada di bawah itu. Orang-orang mengatakan bahwa pantai itu dikenal dengan nama Pantai Tikus. Tapi sayangnya tak seorangpun yang bisa menceritakan mengapa pantai tersebut disebut Pantai Tikus. Ada sih orang yang mencoba memberikan jawaban meskipun terus terang aku agak meragukannya; katanya di pantai tersebut banyak terdapat bebatuan granit yang kalau dilihat sepintas tampak seperti sekawanan tikus. Nah batu-batu itu masih ada sih sampai sekarang, tapi dari atas sini menurut aku koq ya gak ada mirip-miripnya dengan tikus yah. Atau mungkin harus di lihat dari arah pantai? Kalau iya begitu, berarti suatu waktu aku harus balik lagi ke sini untuk turun ke pantainya dan melihat bebatuan itu. Kapan ya enaknya . . . ?  🙂

Categories: Uncategorized | 50 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.