Posts Tagged With: unique

The war-like ritual in Sumba

I was in Sumba, Indonesia, in Ratenggaro Village to be precise. That very morning, the usually quiet village looked pretty busy and also crowded. Many people passing by the village’s gate; almost all of them walked toward the village square while many had already gathered around the square ignoring the heat caused by the scorching morning sun. Locals and visitors were mingled in there. Sounds of talking people were like the sound of buzzing bees rising into the air. Some local vendors had been ready with their merchandise under temporary tents offering bottled waters, simple snacks, and also simple toys to everyone passing their stalls. No doubt that there was a big event being held in there.

Yup . . . you’re right. That day was the day of Pasola, a big event for the Sumbanese, especially the Kodi Tribe who live in the western part of the island. Pasola was part of a series of traditional ritual which been held once a year before the rice planting season.

The name Pasola was derived from a word in local language, “sola” or “hola” which means a wooden spear that would be thrown to each other from a fast running horse between two opposing groups of clans or tribes. The word then added by prefix “pa” and became “pasola” or “pahola” that means a game or competition. So the word “pasola” could be translated as a battle like game where the participants throwing the wooden spears to their opponents while riding a fast running horse.

That morning, two groups of Sumbanese warriors were ready on each side of the fields. They sit on the back of Sumba endemic horses called the sandel horses which was known as one of the finest horses in the region. The horses were not too big, but have good endurance, easy to manage and also a fast runner. Those warriors held some wooden spears in their hands. The spears were dull, but it still could cause a serious injury when it hit bare flesh. Yes, casualties did really occur in this ritual, even death was not impossible to happen if the wooden spears hit a vital part of the body.

To the Sumbanese belief, blood that shed in a Pasola would fertilize the soil and made a very rich harvest in the coming harvesting season. No grudge was held against any casualties in the ritual; even death would be treated as a great honor.

As the sun rose higher, the tension in the battlefield also arose. The sound of whinnying horses was heard among the buzzing sounds of people. One or two warriors from each clan starting galloping their horses towards their opponents to provoke. War cry also heard from some young warriors while they made their horses run fast around the field.

At a specific time, some village’s elders with their aides entering the field followed by some horsemen. When they reached the center of the fields, those elders summoned the warriors from both sides, gave some short speech and blessed them and the square as well. It did not take too long. And when they left the square, the war began.

Warriors from each side spurred their horses and then threw their wooden spears to their targeted opponents. The targeted warriors were also very agile; they would duck or even slid at the side of their horses’ body to evade. Some of them were skilful and experienced in such a game so they can catch the wooden stick threw to them. Many others suffer and even fell from their horses when being hit by a wooden spear. Loud cheers broke into the hot air every time those situations happened.

Pasola was held once a year in the month of February and March. There were no exact dates for the ritual; it was the village elders’ decision. There were many preceding rituals before the Pasola. Unfortunately, I was only able to attend the Pasola. Hope that I can also attending and documenting the rituals before and after the Pasola next time I visit Sumba again.–

Keterangan :

Pagi di pertengahan bulan Maret yang lalu, setelah beberapa saat berjalan-jalan di Pantai Ratenggaro seperti yang sudah aku ceritakan di postingan yang lalu, aku kembali menuju ke arah Desa Adat Ratenggaro.Hari sudah semakin siang dan sinar matahari pun sudah terasa makin menyengat. Meskipun demikian, orang yang berlalu lalang rasanya semakin banyak saja. Semuanya bergerak ke satu tujuan, sebuah lapangan terbuka yang terletak tidak jauh dari gerbang masuk desa.

Sesampainya di lapangan tersebut, aku melihat sudah banyak juga orang yang berdiri di sekeliling lapangan. Para pedagang musiman juga sudah menggelar barang dagangan mereka yang berupa minuman ringan, makanan kecil dan juga beberapa jenis mainan sederhana, dibawah lindungan terpal ataupun kain yang dibuat sebagai tenda darurat. Dan seperti pada umumnya terdapat di tiap-tiap keramaian, ada saja umbul-umbul perusahaan rokok yang sudah berdiri berjajar dengan rapi 😛

Hari itu di Desa Ratenggaro memang sedang ada keramaian, sebuah event tahunan yang menyedot banyak pengunjung, bahkan pengunjung dari tempat yang sangat jauh karena aku juga melihat banyak turis asing ikut berkerumun di sekitar lapangan itu. Ya . . hari itu bertepatan dengan diselenggarakannya Pasola di daerah itu.

Pasola adalah sebuah upacara adat yang dijalankan oleh masyarakat Sumba, khususnya suku Kodi yang tinggal di bagian barat Pulau Sumba ini. Pasola diadakan setahun sekali sebelum musim tanam padi. Pasola berasal dari kata “sola” atau “hola” yang berarti tombak kayu yang saling dilontarkan dari atas punggung kuda yang dipacu dengan kencang oleh dua kelompok penunggang kuda yang berasal dari desa yang berbeda ataupun kelompok yang berbeda. Setelah mendapat awalan “pa” artinya berubah menjadi “permainan”. Jadi “pasola” atau” pahola” bisa diartikan sebagai permainan ketangkasan saling melemparkan tombak kayu antara dua kelompok penunggang kuda yang melakukan pelemparan dari atas punggung kuda yang sedang dipacu kencang.

Pagi itu, dua kelompok penunggang kuda sudah nampak bersiaga di kedua ujung lapangan. Di tangan mereka tergenggam tiga atau lebih tombak kayu yang siap untuk dilontarkan ke arah lawan nantinya. Mata mereka tajam mengawasi kelompok lawan di seberang lapangan. Kuda-kuda sandel yang mereka tunggangi seolah bisa merasakan ketegangan yang makin meninggi, beberapa di antara kuda-kuda itu meringkik sementara yang lain menghentak-hentakan kaki depannya ke tanah seolah tidak sabar untuk segera dipacu menyongsong lawan.

Tombak-tombak kayu yang dipergunakan dalam pasola ujungnya tumpul. Ketika tombak kayu itu dilontarkan dengan sekuat tenaga, meskipun tumpul, tetap saja akan mampu menghasilkan luka terbuka jika terkena. Dalam pasola, luka terbuka yang menyebabkan tumpahnya darah, bahkan juga tewasnya peserta pasola mungkin saja terjadi. Bagi masyarakat Sumba, darah yang membasahi bumi dipercaya akan menyuburkan tanah dan membuat hasil panen mendatang berkelimpahan. Karena itulah bagi mereka nggak ada dendam yang dibawa keluar dari arena pasola. Bahkan kematian dalam arena pasola dianggap sebagai kematian yang sangat terhormat.

Ketika hari makin siang dan ketegangan juga terasa meningkat seiring dengan bertambah panasnya udara di sekitar lapangan, satu atau dua penunggang kuda mulai menderapkan kudanya ke arah kelompok lawan. Mereka hanya berputar-putar di depan kelompok lawan seolah mengejek dan menantang.

Ketika tiba waktunya, masuklah iringan tetua adat yang disebut “Rato” beserta dengan pembantu-pembantunya, diiringi beberapa penunggang kuda. Setibanya di tengah lapangan mereka memanggil perwakilan dari kedua kelompok penunggang kuda yang akan “bertempur” di arena pasola hari itu. Entah apa yang disampaikannya karena aku kebetulan berdiri cukup jauh dari mereka. Kelihatannya sih mereka diberkati. Lapangan yang akan dipakai juga mereka berkati. Setelah ritual itu selesai, Sang Rato beserta dengan pengiringnya kembali keluar dari lapangan, dan pertempuran pun dimulai . . .

Para penunggang kuda dari kedua belah pihak mulai memacu kudanya keluar dari kelompoknya masing-masing menyerbu ke arah kelompok lawan. Ketika mereka menjumpai lawan yang masuk dalam jarak tembak mereka, maka terlontarlah tombak-tombak kayu dari tangan mereka. Ketangkasan mereka dalam melontarkan tombak kayu dari atas kuda yang sedang berlari kencang memang patut diacungi jempol, apalagi kuda-kuda yang mereka tunggangi tidak dilengkapi dengan pelana. Hanya semacam bantal yang mengalasi duduk mereka di punggung kuda. Para penunggang kuda itu tidak hanya tangkas dalam melontarkan tombak kayu lho, mereka juga tangkas menghindar dari tombak kayu yang meluncur deras ke arah mereka; beberapa orang menghindar dengan cara berbaring di punggung kuda, beberapa lainnya menggantung di samping tubuh kuda yang masih berlari kencang, bahkan ada pula yang cukup tangkas menangkap tombak kayu yang terbang ke arah mereka. Sorak sorai penonton membuat para penunggang kuda semakin bersemangat dan “pertempuran” juga makin seru.

Pasola biasanya diadakan pada bulan-bulan Februari dan Maret. Tanggal pastinya ditentukan oleh Rato. Sebetulnya sebelum dilaksanakannya pasola, ada juga ritual-ritual lain yang mereka jalankan di hari-hari sebelumnya. Sayang waktu itu aku hanya sempat menyaksikan ritual pertempurannya saja. Mudah-mudahan kali berikut aku ke Sumba lagi di bulan Februari atau Maret, aku sempat juga menghadiri ritual-ritual yang mendahului pasola.–

Advertisements
Categories: Event Pictures | Tags: , , , , , , , | 16 Comments

A piece of cake on the sea

What I meant with a piece of cake on the sea was not really a piece of cake, of course. It was actually a tiny island on a place called Tapak Balai in Bengkulu, Indonesia. The shape of the island was really looked like a piece of cake on a plate. Let me show you the island’s pictures . . .

So . . what do you think? It was pretty similar, wasn’t it? 😆

It seemed that in the past the tiny island was a part of Tapak Balai Beach. The strong waves of the Indian Ocean which continuously slammed to the cliff on the beach caused a very serious damage. Parts of the beach collapsed, even a part of the main road which connected Bengkulu to Padang was collapsed, too; but now the government had already made a new road parallel and quite close to the collapsed road. Up till now, travelers could see the remnants of the collapsed road and imagining how bad the land slide was when it happened.

Anyway, in Tapak Balai, the abrasion was not only made disasters, on the contrary it made the place prettier and unique. The waves had already carved the cliff on the beach, even made a part of the beach been separated from the mainland.

The pretty landscape in there attracted people to come, and that made the locals saw an opportunity to get financial benefit from the tourists. Some of them made a simple restaurant that provided simple foods and refreshments, while others provide simple wooden chairs to be used by travellers who wanted to enjoy the place.

Tapak Balai Beach was not a beach which could be used to play along its shore. It could not be used to swim or just playing in the water, too. The shore was far below the cliff, and the waves were pretty strong. It was not a sandy beach; it seemed that the beach was a corral or rocky beach. More than that, it was not easy to climb down to the shore, as the road and also the parking lot was located at the top of the cliff.

Tapak Balai Beach was quite easy to find as it was located on the main road that connected Bengkulu to Padang. It was located in Tebing Kandang Village which could be reached within 1 hour drive from Bengkulu city center. Teenagers used to use their motorcycles to come to Tapak Balai. The unique small island was the main magnet that attracted them. It was said that the island was similar to that in Bali called Tanah Lot, hence they called the island as Bengkulu’s Tanah Lot.

The beach was facing to the west, to the Indian Ocean. So for them the sunset hunter and sunset lover, Tapak Bali could be used to wait for the sunset while enjoying the refreshing young coconut water.—

Keterangan :

Judulnya membingungkan ya? Sepotong kue di tengah laut. Trus memang kenapa kalau ada kue di tengah laut? Biar aja dimakan ikan. Ya kan? 😛

Yang aku maksud dengan sepotong kue di tengah laut itu sebetulnya bukan betul-betul kue, melainkan sebuah pulau kecil di lepas Pantai Tapak Balai, Bengkulu, yang bentuknya mengingatkan aku akan bentuk sepotong kue di atas piring. Coba deh perhatikan bentuknya di foto-foto yang aku sertakan dalam postingan kali ini.

Gimana . . ? Mirip kan? 😆

Rasanya, dulunya pulau kecil itu merupakan bagian dari daratan Pulau Sumatra, hanya saja gempuran ombak Samudera Indonesia yang ganas dan terus menerus selama berbilang tahun akhirnya membuat sebagian tebing di pantai itu menyerah dan runtuh. Bagian tebing yang masih bertahan dan nggak mau menyerah kepada gampuran ombak itu tetap tegak berdiri meskipun akhirnya harus terpisah dari daratan dan membentuk sebuah pulau mungil di lepas pantainya.

Di Pantai Tapak Balai inilah kita bisa menemukan bahwa abrasi hebat dari air laut ternyata tidak hanya menyisakan kehancuran, tetapi bisa juga menghasilkan keindahan dan keunikan, bahkan bisa memberikan manfaat ekonomis bagi masyarakat setempat. Bagaimana tidak, pemandangan tebing pantai yang kemerahan dengan pulau kecil yang terbentuk dari abrasi itu ternyata menarik banyak pelancong untuk datang berwisata ke sana. Banyaknya pengunjung membuat munculnya kedai-kedai sederhana yang menyediakan aneka penganan dan minuman ringan, selain juga dibangunnya meja dan kursi kayu sederhana yang bisa membuat pelancong semakin betah menghabiskan waktu di sana.

Pantai Tapak Balai terletak di tepi jalan raya Trans Sumatra yang menghubungkan Bengkulu dengan Padang. Jadi tidaklah sulit untuk menemukan lokasinya. Meskipun demikian, pengguna jalan tidak akan bisa langsung melihat dahsyatnya deburan ombak Samudera Indonesia yang sempat membuat jalan ini terputus karena longsor beberapa waktu lalu karena pantai aslinya terletak jauh di bawah. Ya . . jalan raya terletak di lamping bukit dan pantai yang sebenarnya terletak di kaki bukit. Kedai-kedai yang ada dan juga meja kursi kayu pun nggak terletak di tepi pantai seperti yang kita bayangkan, tetapi terletak di sebidang tanah di bekas jalan lama yang memungkinkan pelancong duduk-duduk santai di bawah rindangnya pepohonan sambil memandang laut lepas yang dihiasi adanya sebuah pulau yang mirip sepotong kue itu.

Pantai yang terletak di Desa Tebing Kandang ini jaraknya lumayan dekat dari Bengkulu. Kalau mempergunakan kendaraan roda empat, Pantai Tapak Balai bisa dicapai dalam waktu kurang lebih satu jam saja melalui jalanan yang lumayan mulus. Bahkan para remaja biasanya kesana dengan motor mereka hanya untuk bersantai sambil menikmati pemandangan pulau yang sering mereka sebut dengan nama Tanah Lotnya Bengkulu itu. Sore hari akan menjadi waktu yang menjadi favorit mereka karena pemandangan akan semakin mempesona dengan latar langit lembayung menjelang saat-saat terbenamnya matahari.–

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 18 Comments

When wastes turned into pretty decorations

Bengkulu, a city which was located at the west coast of Sumatra, Indonesia, had many beaches; and each beaches had their own uniqueness, either natural uniqueness or man-made uniqueness.

One of the beaches which I visited when I was in Bengkulu was Tapak Paderi Beach. Nowadays many had come to the beach because of its uniqueness, a man-made uniqueness, to be precise. In there, travelers could see how wastes had turned into pretty beach decorations and many people eager to use those decorations as their background pictures.

The decorations theme was love, and the idea was a place where people could see others loves expressions in the form of things; in France for example, the things were love padlocks. Usually, the couple who put a love padlock would inscribe their name on the padlock before they put the padlock on a specific place and threw away the key. With that they believed that their love would bind together forever.

As the habit spread rapidly, and many places became the place where couples put their love padlocks, many municipal authorities started to treat the act as vandalism or littering; while many others were willing to use the place as tourist destinations.

In Bengkulu, what happened in Tapak Paderi Beach was not exactly like that in other places where people put love padlocks in a certain places and the places became popular, later on. What the locals did in Tapak Paderi Beach was something different. It started with the locals actually took garbage from the beach area, mostly were wastes threw by the ocean to the beach. To their surprise, the quantity was quite huge. So they started to sort them out. Sandals and shoes, plastic bottles, woods and logs, even surfboards were among what they found.

Their creative minds soon found the idea to make the pretty Tapak Paderi Beach to be prettier. They started to turn the sea wastes into pretty decorations and ornaments. Among others, sandals were the most. They started to put the sandals to frame-like structures made of bamboo. The remaining sandals then were arranged in a wall made of bamboo, too.

One day, a man came to the beach. He said that one of his wife’s sandals was lost when they visited the neighboring beach. He was pretty sure that the wave would throw his wife’s sandal not too far from where it was lost. Pantai Tapak Paderi was the first beach he visited. Once he saw so many sandals turned into ornaments at the beach, he started to examine them. To his surprise, he found what he was looking for. The story became viral among the locals, and they started to call the beach with a new name, Pantai Sandal Jodoh (the Match Sandals Beach). Later on, visitors started to write their name in the sandals along with their loved one’s name. They believed that by doing so they stated that they already found their other half like the man’s wife’s sandal which was re-united.

Tapak Paderi Beach was located only about 10 kilometers from the city center. It was once became the main port of Bengkulu, that was the reason why the British Colonial Government decided to build a fort nearby. It was easy to come to the beach. Travelers could use public transports as well as their private vehicles.

The beach itself was a sandy beach. It was quite wide with rows of cypress grew and bordering the beach area. Fishermen lived nearby also used the beach to keep their sampan. Fortunately the sampans were quite colorful, so they can blend perfectly with the decorations.

So . . . interested to come to Tapak Paderi Beach and took selfie or wefie pictures with your loved one? 😀

Keterangan :

Bengkulu, sebuah kota yang juga merupakan ibukota propinsi yang bernama sama dengannya, yaitu Propinsi Bengkulu, merupakan sebuah kota yang sarat sejarah. Selain sarat sejarah, kota ini juga memiliki jajaran pantai yang indah dan unik sehingga menjadi tempat warga sekitar menghabiskan waktu di akhir minggu ataupun di hari-hari libur lainnya. Keunikan yang terdapat di masing-masing pantai itu bervariasi, ada yang merupakan keunikan alam dan ada juga yang merupakan keunikan buatan manusia.

Ketika aku berada di Bengkulu, aku sempat berkunjung ke beberapa pantai itu, salah satunya adalah Pantai Tapak Paderi yang akhir-akhir ini cukup menyedot perhatian banyak orang karena keunikan yang disajikannya. Keunikan yang ada di pantai tersebut merupakan keunikan buatan manusia karena berupa berbagai ornamen cantik yang terpasang di pantai. Tetapi tahukah teman-teman kalau bahan dasar ornamen-ornamen cantik itu adalah sampah yang terdampar di pantai sekitarnya?

Iya bener loh, ornamen-ornamen cantik yang akhir-akhir ini banyak menghiasi berbagai akun media sosial karena dipergunakan sebagai background foto pemilik akun tersebut betul-betul dibuat dari sampah.

Memang setelah jadi dan terpasang seperti sekarang, sepintas nggak tampak kalau itu sampah. Apalagi ornamen bertemakan cinta itu kelihatan cantik. Bukan melulu cinta antara sepasang kekasih, tetapi cinta secara umum juga.

Jika di berbagai tempat lain di dunia terdapat lokasi-lokasi dimana pasangan kekasih meletakkan gembok cinta, di Pantai Tapak Paderi yang ada bukan gembok cinta, melainkan sandal jodoh.

Menurut informasi yang aku dapatkan, dahulu Pantai Tapak Paderi cukup kotor dengan berbagai sampah yang terbawa ombak. Kawasan pantai yang kotor membuat kelompok nelayan disana menjadi risih, sehingga mereka tergerak untuk membersihkan kawasan pantai itu. Sampah-sampah yang mereka temukan dikumpulkan di suatu tempat di pantai. Berbagai macam barang mereka temukan dan jumlahnya lumayan banyak. Ada botol-botol plastik bekas minuman, berbagai jenis sandal dan sepatu, potongan-potongan kayu, plastik bekas kemasan, bahkan papan seluncur.

Melihat tumpukan sampah yang menggunung itu, ide kreatif muncul di benak mereka sehingga mereka mulai memilah-milah barang temuan itu. Di antara berbagai jenis sampah itu, ternyata banyak sekali sandal atau sepatu. Tentu saja cuma sebelah. Mereka mulai membuat bentuk-bentuk dari batang bambu, kemudian menata sandal-sandal tersebut menjadi berbagai bentuk dua dimensi. Ada kupu-kupu ada pula bentuk hati. Sisa sandal yang masih banyak mereka tata dalam bentuk seperti dinding.

Suatu hari seorang lelaki datang ke Pantai Tapak Paderi. Katanya dia mendapat informasi bahwa di Pantai Tapak Paderi terdapat banyak sekali sandal yang terdampar di pantai. Lelaki itu bermaksud mencari sebelah sandal istrinya yang terlepas dan hanyut ketika mereka bermain di pantai yang tidak jauh dari Pantai Tapak Paderi. Dan dasar memang masih berjodoh, lelaki itu menemukan sebelah sandal istrinya yang hilang di situ. Kabar ini tidak lama kemudian sudah menjadi viral dan pada gilirannya mengundang orang untuk datang berkunjung ke pantai itu. Orang-orang yang datang itu semula hanya ingin melihat seperti apa sih sandal-sandal yang ada di sana, dan ternyata apa yang mereka temukan di sana betul-betul di luar perkiraan mereka. Para pelancong itu tidak menemukan tumpukan sampah melainkan hiasan indah yang cocok sekali dijadikan latar belakang ketika mereka melakukan selfie atapun wefie.

Para pengunjung yang didominasi para remaja itu kemudian ada yang mulai menulisi sandal-sandal itu dengan nama mereka. Para remaja itu beranggapan bahwa kalau nama mereka tertulis di situ, maka berarti mereka betul-betul merupakan pasangan yang tak terpisahkan sama halnya seperti sandal milik istri lelaki dalam cerita di atas. Dengan kondisi begitu, sebutan sandal jodoh juga lama-lama menjadi terkenal, bahkan banyak orang sekarang menyebut pantai itu dengan sebutan Pantai Sandal Jodoh.

Pantai Tapak Paderi dahulu merupakan pelabuhan utama Bengkulu. Itu pula sebabnya tidak jauh dari pantai ini berdiri sebuah benteng peninggalan Inggris. Lokasinya yang tidak jauh dari kota dan akses serta transportasi yang mudah untuk datang ke pantai itu membuat Pantai Tapak Paderi hampir selalu ramai pengunjung. Baik mereka yang berkunjung karena penasaran dengan cerita sandal jodoh, maupun mereka yang datang untuk menikmati keindahan alami pantai tersebut.

Pantai Tapak Paderi memiliki wilayah pantai yang cukup luas sehingga banyak nelayan yang juga mempergunakan wilayah pantai itu untuk menyimpan perahunya. Dan menariknya lagi, perahu-perahu nelayan itu dicat dengan warna-warni yagn ceria sehingga bisa menyatu dengan berbagai dekorasi dan ornamen yang dipasang di sana. Ombaknya yang tidak terlalu besar meskipun langsung menghadap ke samudra luas, membuat banyak pengunjung yang bermain air di bibir pantai. Posisinya yang menghadap ke barat membuat pantai ini banyak dikunjungi para pemburu sunset juga.

Nah . . . gimana? Tertarik buat ikutan selfie atau wefie di Pantai Sandal Jodoh? 😀

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 31 Comments

Blog at WordPress.com.