Monthly Archives: July 2017

The inviting beauty of Ratenggaro Beach

That morning was not an ordinary morning for Ratenggaro area. Although the sun was shone so bright and the air was so hot, people were seen everywhere. The usually empty area was looked so crowded; not only of the locals but of many visitors and travelers alike. And I could be considered as one among them; I came to the area on that special morning on purpose, ignoring the scorching morning sun and the billowing dust which made some people coughing.

Was there any special event in the area?

Yes, that day was the day of Pasola in the area. (I’ll tell you about Pasola in my next post)

And as I came too early, and I did not want to wait before the arena, I decided to go to the beach which was located about 200 meters from the arena.

The beach was also looked so crowded. I have to cancel my plan to capture the ancient stone tombs on the shore with the sea as the background because of many people gather around the tombs. Fortunately I had already got some pictures of the ancient tombs in my first visit to the beach some two years ago, and for you who want to see the pictures, you can find those pictures in here.

Because of the beach condition, I switched my attention from the tombs to the tall roofs of some traditional houses across the estuary of Waiha River and also to the rocky shore of Ratenggaro Beach where fewer people were seen.

Well I don’t want to write too long about the beach which could be reached in about 90 minutes drive from Tambolaka through a relatively good road; more than that I’ve already wrote about the beach in one of my earlier posts years ago. I did not find any significant changes either which I should mention in here. Now, I just want to share the pretty landscape of the beach that always inviting many travelers to come and admire its beauty.

Believe me; the pictures I put in here could not capture all the beauty of the beach. So . . why not come and see by yourself? 🙂

Keterangan :

Pagi di pertengahan bulan Maret 2017 itu tampak berbeda di sekitar Desa Umbu Ngedo, Ratenggaro. Meskipun matahari memancarkan sinarnya dengan cukup kuat dan menyebabkan suhu udara cukup gerah, daerah yang biasanya sepi itu kelihatan ramai. Jalanan yang biasanya lengang pun menjadi macet. Jelas tampak bahwa mereka yang berlalu lalang dan memenuhi daerah itu bukan hanya penduduk lokal, banyak juga pelancong dan pengunjung yang datang dari daerah lain, bahkan dari tempat yang berada di ujung lain negeri ini; tampak dari penampilan dan logat bicaranya yang berbeda dari penduduk setempat. Ya . . rasanya aku juga bisa masuk ke kategori mereka yang datang dari jauh dan ikut memadati daerah itu sih 😛

Memangnya ada acara apa sih koq di situ rame banget ketika itu?

Mau tahu? Ok, aku kasih tahu ya, hari itu adalah hari diselenggarakannya Pasola di Maliti Bondo Ate; sebuah ritual tahunan yang selalu berhasil menarik banyak pelancong untuk menyaksikannya. (sstt . . . aku bocorin nih, di postingan setelah ini, aku mau nulis tentang tradisi Pasola. Mudah-mudahan bisa aku upload minggu depan ya)

Dan karena ketika itu aku bisa dibilang datang kepagian, aku memutuskan untuk berjalan melewati arena Pasola langsung menuju ke pantainya.Nggak jauh koq, paling sekitar 200 meteran lah . .

Tujuan semula sih pengen motret kubur batu tua yang ada di pantai dengan latar belakang birunya laut berbatas pantai, tapi sayangnya kondisi pantai yang terlalu penuh orang nggak memungkinkan aku untuk merealisasikan tujuanku itu. Bahkan di sekitar kubur batu yang tertua dan terbesar, yaitu kubur milik Rato Pati Leko, orang-orang berkerumun menyebabkan kubur Sang Rato praktis tidak tampak.

Aku kemudian mengalihkan perhatianku ke arah Desa Umbu Ngedo yang kalau dilihat dari arah pantai berada di seberang muara sungai Waiha. Pemandangan yang unik dan indah karena atap rumah-rumah di sana yang menjulang tinggi bak menara itu.

Setelah itu, aku langsung menuju pantai di bagian yang berkarang, yaitu di arah barat. Di sana masih ada juga sih hamparan pasir seperti di bagian timur pantai, tapi nggak terlalu luas. Sengaja aku berjalan menjauh untuk mencari tempat yang masih cukup indah tapi nggak terlalu banyak orang.

Di tempat itu, aku sempat melihat sekelompok anak kecil yang asyik bermain air dan berkejaran dengan lidah-lidah ombak yang tak hentinya menjilat bibir pantai di sana. Ah indahnya masa-masa ketika pikiran belum terbebani dengan berbagai persoalan hidup 😎

Well . . . kali ini aku nggak akan nulis terlalu panjang karena praktis aku belum dapat informasi baru mengenai daerah ini sejak tulisanku dua tahun lalu mengenai Ratenggaro yang bisa dilihat di sini. Hanya foto-foto yang aku ambil dari sudut yang berbeda dengan sudut pengambilan foto-fotoku di postingan terdahulu yang bisa aku sajikan di postingan kali ini.

Percayalah, apa yang aku sajikan dalam foto-foto yang aku sertakan di sini sama sekali belum berhasil menangkap keindahan Pantai Ratenggaro yang selalu mengundang datangnya para pelancong karena keindahannya. Kalau nggak percaya, yuk ke Ratenggaro buat lihat sendiri gimana keindahannya  🙂

Advertisements
Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 17 Comments

Cloudy sunset on an empty beach

That day, drizzle made the land in South West Sumba Regency quite wet. The dusts which usually billowing in the air were not seen; the usually hot and dry temperature became cooler, and it made me quite lazy to explore the area as I usually did when traveling. My travel partner looked annoyed with my laziness that afternoon :mrgreen: At last, for not to make her more annoyed, I decided to go to the nearest beach from Tambolaka, the city that I used for my base in my trip to Sumba at that time.

Fortunately, the rain was already stopped when I started to go from the hotel. The dark cloud was started to disperse and the afternoon sky became clearer. In the west, however, thin dark cloud still hung low, blocking the ray of the sun that already started to set.

In less than 30 minutes after leaving the hotel, I was already at a beach. So fast? Yes . . the beach was only about 10 kilometers from Tambolaka to the east, and the road leading to the beach was quite good. The road brought every traveler who wanted to go to the beach directly to the shore, even the road could be seen as the edge of the beach area. Beyond the road there was a wide white sandy beach that looked quite empty that afternoon. A hotel at the other side of the road was standing majestically although it also was seemed to have no guests. It was said the lack of electricity and continuous supply of fresh water made the area was not as attractive as other area.

For me, and perhaps for other sunset and sunrise lovers, the main point was a clear sky which would enable us to watch the pretty moments.

So, without further explanations about the beach which was known as Mananga Aba Beach that located in Karuni Village, South West Sumba Regency, Indonesia, let’s enjoy the sunset moments. It was still pretty even though dark clouds were hanging low at the western sky, as the clouds added colors to the sunset sky.–

Keterangan :

Hari itu gerimis yang turun sejak pagi betul-betul berhasil membasahi Kabupaten Sumba Barat Daya yang biasanya kering. Debu yang selalu beterbangan memenuhi udara dan menyesakan nafas berganti dengan aroma tanah basah yang segar. Udara pun terasa sejuk, sehingga membuatku sedikit malas untuk menjelajahi daerah sekitar seperti yang biasanya selalu aku lakukan kalau sedang melakukan perjalanan seperti itu. Kondisi itu sempat membuat partner jalanku kelihatan kesal melihatku yang masih ogah-ogahan :mrgreen: Tapi demi tidak membuatnya makin manyun, aku akhirnya memutuskan untuk mengajaknya berburu pemandangan matahari terbenam di pantai yang terletak tidak terlalu jauh dari kota Tambolaka, kota tempat aku menginap ketika itu; apalagi gerimispun sudah mulai reda, dan awan-awan mendung mulai buyar tertiup angin.

Pantai yang aku tuju sore itu adalah Pantai Mananga Aba, lokasinya yang hanya sekitar 10 km ke arah timur dari Tambolaka membuat aku dan partner jalanku sudah tiba di bibir pantai dalam waktu kurang dari setengah jam. Jalan yang aku lalui sore itu cukup mulus dan sepi. Pantai Mananga Aba yang masuk dalam wilayah administrasi Desa Karuni, Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya, sore itu kelihatan cukup sepi. Mungkin orang-orang lain juga malas ke pantai karena gerimis seharian itu 😛

Pantai ini merupakan pantai berpasir putih yang cukup bersih. Di sana sudah berdiri sebuah hotel sebetulnya, tetapi konon karena adanya masalah pasokan listrik dan air bersih membuat hotel tersebut kelihatan masih sepi. Buat aku dan partner jalanku, dan mungkin juga buat para penikmat senja seperti kami, yang paling penting adalah langit yang bersih sehingga keindahan saat-saat terbenamnya sang surya bisa dinikmati sepenuhnya. Dan sore itu, meskipun masih ada gumpalan awan yang menggantung di ufuk barat, tetap saja aku dan partner jalanku masih bisa menikmati senja di Mananga Aba. Pada postingan kali ini aku sajikan saat-saat terbenamnya matahari yang aku saksikan sore itu. Semoga tidak mengecewakan 😉

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , , | 27 Comments

Revisiting Mandorak Beach

About two years ago I posted an article in here about a pretty beach located in Kalenga Rongo Village, Southwest Sumba District, Indonesia. The beach was known as Mandorak Beach. In the article, I finished it with a wish that I still want to go back there again sometime in a near future; and apparently my wish was really granted since I had a chance to visit Mandorak Beach again in March when I came to the area to watch the Sumbanese annual ritual called Pasola.

Actually nothing had really changed in two years. The path to the beach was still passing through a private property, there were also fishermen’s boats tied in a narrow sandy beach located between reefs, I also still tailed by a group of children wherever I wander on the beach area.

The only change I found was that this time a group of teenagers stopped the car I used in front of the gate to the private area, they asked me to park the car outside the perimeter and they also asked for some money from any travelers who wanted to go to the beach. There was no official rate of course. From a trusted source, I got information that they did such an action every time the landowner was away; and they used the money they got to have a party and get drunk  😡

Anyway, in my second visit to Mandorak, I did not go the area I had gone in my first visit, this time I went to the right, passed a row of fishermen’s sampans, and walked up to a low cliff located at the north side of the private property. I stopped at that point to admire the pretty landscape unfolded before my eyes, the vast ocean with waves rushing to the shore before slamming to the cliffs; and a structure that had built in the private property similar to a traditional Sumbanese hut made it even prettier.

Well . . . I will not write too long this time. I think the information about Mandorak Beach was enough as this article was only a complement to the article about Mandorak I had posted before which can be seen in here. Aside of that, here I added some pictures I got in my second trip there so you can see what I saw at that time. Hope you like them  🙂

Keterangan :

Kira-kira dua tahun yang lalu aku mem-posting sebuah tulisan mengenai sebuah pantai indah yang terletak di Desa Kalenga Rongo, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Pantai itu dikenal dengan nama Pantai Mandorak. Dan di akhir tulisanku itu aku sempat menyebutkan kalau aku masih ingin kembali ke sana lagi. Rupanya harapanku betul-betul terkabul karena di bulan Maret yang lalu, ketika aku ke Sumba lagi untuk menyaksikan ritual Pasola, aku berkesempatan mampir lagi ke Pantai Mandorak.

Sebetulnya praktis nggak ada yang berubah selama hampir dua tahun itu. Aku masih masuk ke wilayah pantai melalui tanah milik perorangan, masih ada juga sampan-sampan nelayan di secuil pantai berpasir di antara hamparan karang, demikian juga rombongan anak-anak yang nggak bosannya mengikuti aku dan partner jalanku kemanapun aku dan partner jalanku melangkah sambil merengek meminta uang  😦

Satu-satunya perbedaan yang aku rasakan adalah bahwa kali ini kendaraan yang aku tumpangi tidak diperbolehkan masuk mendekati wilayah pantai, melainkan diminta diparkir di luar tembok yang menjadi pembatas tanah yang dimiliki perorangan tersebut. Selain itu, jika dahulu aku bebas masuk sampai ke tepi pantai, kali ini ada sekelompok pemuda yang duduk di gerbang pagar tanah pribadi itu dan meminta uang kepada pelancong-pelancong yang ingin ke pantai Mandorak. Nggak ada tarip yang resmi karena konon uang yang mereka tarik itu dipergunakan pemuda-pemuda situ untuk berpesta dan bermabuk-mabukan. Dari informasi yang aku dapatkan, hal tersebut mereka lakukan ketika pemilik tanah sedang tidak berada di Sumba seperti ketika aku kesana itu. Sayang ya . . 😦

Anyway . . . pada kesempatan kali ini, aku tidak menjelajah di bagian pantai yang pernah aku datangi dahulu. Kali ini aku berjalan ke arah kanan, melewati beberapa nelayan yang sedang mempersiapkan sampan mereka di pasir pantai, terus naik ke bukit karang kecil yang berada di sebelah utaranya. Dari tempat itulah aku bebas memandang lautan yang membiru dengan ombaknya yang tidak hentinya berkejaran ke arah pantai dan memecah di batu-batu karang yang ada di Mandorak.

Dan kali ini aku nggak akan menulis terlalu panjang karena bisa dikatakan bahwa tulisanku mengenai Mandorak kali ini hanya menjadi pelengkap tulisanku mengenai Mandorak sebelumnya yang bisa di lihat di sini. Di samping itu, foto-foto yang aku sertakan di sini aku harap bisa ikut membantu memberikan gambaran mengenai pantai ini . . .  🙂

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 22 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.