Monthly Archives: October 2015

A natural gate at the beach

The gate was not an ordinary gate which could be used by people to go in or out to or from a certain place, although some people, especially local fishermen, used the gate when they set out to the sea to catch fishes or when they went back from the sea. The gate was actually only a gap in a cliff that bordering a small cove in a beach called Mandorak.

IMG_MDR13

Mandorak Beach was located in Kalenga Rongo Village, Sumba Barat Daya District, Indonesia. The beach was practically hidden, and the nearest town to the beach was located about 42 kilometers. To reach the beach, travelers should not depend on any public transports since there were no public transports covering the beach area.

IMG_MDR01

The beach was not long, the sands were white and the waves hitting the shore were quite big and pretty dangerous for them who want to play at the shore.

IMG_MDR06

The white sands was practically located in the so called cove and used by the local fishermen to keep their boats.

IMG_MDR14 IMG_MDR25

When I was there, as also happened when I visited some of Sumbaโ€™s hidden beaches, there were no other travelers were seen, only some local children who always tailing me when I walked around at the beach area. Some of them were trying to beg for small money while others just following my steps and paid full attention for whatever I did at the beach with my camera ๐Ÿ˜€

IMG_MDR02

Nowadays, the only access to the beach was through a private property. I always hope that the property owner would never close the access and blocked the pretty beach from travelers who want to admire its beauty.

Well . . I have no other words to describe the place, so I just put more pictures I got from Mandorak Beach in here for you to judge by yourself whether the beach was worth to visit or not. For me, it was worth to visit and I intended to visit the beach again in the near future ๐Ÿ™‚

Keterangan :

Yang aku maksud dengan istilah gerbang dalam judul postinganku kali ini sebetulnya bukanlah gerbang seperti pengertian gerbang pada umumnya, dimana orang bebas berlalu lalang melalui gerbang itu. Yang aku maksud di sini sebenarnya hanyalah sebuah celah di jajaran tebing karang yang seolah menjadi tembok pembatas antara wilayah pantai dengan lautan luas di baliknya, dan melalui celah yang menyerupai gerbang itulah air laut masuk melalui hempasan gelombang yang cukup besar sehingga menggapai pantai yang berpasir putih. Pantai yang aku maksud dikenal dengan nama Pantai Mandorak.

IMG_MDR10

Pantai ini terletak di Desa Kalenga Rongo, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Ya . . aku masih mau cerita soal Sumba. Pantai Mandorak praktis masih lumayan tersembunyi, jalan menuju ke pantai pun tidak semuanya teraspal mulus. Bahkan ketika aku ke sana, beberapa orang yang aku temui di tengah jalan dan aku mintai informasi arah jalan ke Pantai Mandorak memberikan jawaban yang berbeda-beda :roll:. Tetapi, setelah kita sampai di lokasi, rasanya capek lelah termasuk kesal karena rumitnya mencari jalan ke sana akan terbayar. O ya, kalau memang mau ke Pantai Mandorak, sebaiknya para pelancong jangan mengandalkan kendaraan umum, karena memang nggak ada kendaraan umum yang sampai ke pantai itu. Sebaiknya sih menyewa kendaraan dari Tambolaka yang berjarak sekitar 42 kilometer dari Pantai Mandorak.

IMG_MDR03

Pantai Mandorak tidaklah luas. Hamparan pasir di pantainya yang berwarna putih hanya terdapat di sekitar gugusan karang yang menyerupai gerbang itu. Air laut yang jernih kebiruan tampak indah dan tenang di kejauhan, tetapi ketika mendekati pantai, air laut yang tenang itu berubah menjadi hempasan gelombang yang lumayan besar, apalagi ketika melewati celah yang serupa gerbang itu hempasannya cukup mengerikan karena bisa menyeret siapapun yang tidak hati-hati masuk ke laut.

IMG_MDR11 IMG_MDR12

Meskipun bagi para pelancong tampak cukup berbahaya, tidaklah demikian bagi nelayan setempat. Karena mereka memanfaatkan hamparan pasir putih di Pantai Mandorak sebagai lokasi menambatkan kapal-kapal mereka ketika tidak dipergunakan. Karena itulah ketika mereka sudah siap melaut, mereka pasti akan berangkat melalui “gerbang” tersebut.

IMG_MDR23

Ketika aku berkunjung ke sana, sama halnya seperti ketika aku mengunjungi beberapa pantai di dekat-dekat situ, aku tidak menemui adanya pelancong lain selain aku dan keluargaku. Beberapa anak penduduk setempat tampak bermain di pantai, dan ketika aku bersama keluargaku berjalan menuju ke pantai, mereka mulai mengikuti. Beberapa dari mereka mencoba meminta uang, sementara yang lainnya hanya memperhatikan. Banyak juga yang cukup berani berinteraksi dengan aku maupun keluargaku sehingga keakraban segera terjalin, bahkan mereka tidak malu-malu lagi ketika aku minta berpose di depan kamera ๐Ÿ™‚

IMG_MDR19

Sebetulnya ada satu hal yang mengganjal, yaitu bahwa satu-satunya akses jalan menuju ke Pantai Mandorak haruslah melewati sebidang tanah milik perorangan. Memang ketika aku ke sana, akses itu masih bisa aku lalui, tetapi entah di saat-saat selanjutnya. Aku sih berharap bahwa akses tersebut jangan sampai ditutup sehingga siapa saja masih tetap dapat menikmati keindahan Pantai Mandorak dengan ombaknya yang kelihatan garang menghajar tebing-tebing karang di pantai sehingga menimbulkan cipratan air yang cukup tinggi itu. Ngeri sih melihatnya, tapi juga indah.

IMG_MDR17

Nah . . aku tidak akan menulis lebih panjang lagi mengenai Pantai Mandorak ini. Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, aku pasang lebih banyak foto dibanding biasanya. Silahkan simpulkan sendiri apakah pantai ini layak dikunjungi. Buat aku sendiri, pantai ini masih menarik dan aku masih ingin berkunjung ke sana lagi. Mungkin dalam waktu dekat ini ๐Ÿ˜‰

IMG_MDR22 IMG_MDR24

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 15 Comments

A hidden beach

Well . . . perhaps it wouldnโ€™t be hidden any longer in the short future if there were more travelers came to the beach; but when I visited it . . . yes it was not easy to find the way and I found only one or two people at the beach. A vast and desolate but pretty beach bordered by big trees. No wonder that it became hidden from many people.

IMG_PTK05

There were two roads which could led every travelers to the hidden beach. The main road was quite good and wide but became narrow when it close to the beach; while the other was not so good, even in some places it was covered by bushes. I took the second road as the road was the shortest way that I could took from Mandorak Beach (Iโ€™ll tell you about Mandorak Beach later).

The beach name was Tanjung Karoso Beach. In Bahasa Indonesia, the word โ€œtanjungโ€ means a cape, and the beach name was perfectly described its location at a cape which became one of Sumba Islandโ€™s west tip. So it would be a perfect place for every sunset lovers, wouldnโ€™t it? The beach was administered under Kalena Rongo Village, Sumba Barat Daya Sub-district, East Nusa Tenggara Province, Indonesia. To reach the beach, travelers could rent a car with its driver from Tambolaka because there were no public transports served the area. It took about 1 hour drive to cover the 30 km distance from Tambolaka to Tanjung Karoso.

IMG_PTK03

The beach was quite clean and looked so pretty. The sands were white with calm torquoise sea water lapping the shore. It was so deserted when I was there. No locals that usually lingering at a tourist spot selling souvenirs, bottled water or simple snacks. I only spotted a simple open hut in the distance, perhaps built by local fishermen as the beach was so close to their village. My friend who accompanied me at that time, told me that the beach was also became the local fishermen landing site after their night-long fishing job.

IMG_PTK04

The beach was not looked barren as a row of big trees bordering along the beach area. The trees became natural sunshades for every travelers who visited the area and also made the temperature at the beach was not too hot.

IMG_PTK01

The water at the beach was clear and quite shallow, so it would be safe enough for travelers who want to swim at the beach. The bottom of the sea at the beach area was not rocky, it was soft sands like those at the beach, instead.

IMG_PTK09

When visiting Tanjung Karoso Beach, travelers could feel the feeling as if they owned a private beach. Well . . . with nobody seen around in a tranquil beach, wouldnโ€™t it made somebody felt the feeling? ๐Ÿ˜€

IMG_PTK02

 

Keterangan:

Pantai tersembunyi? Ya . . . bisa aja sih sebentar lagi sudah nggak jadi pantai yang tersembunyi lagi, apalagi kalau sudah semakin banyak orang yang tahu keberadaannya dan makin banyak pula yang datang ke sana; tapi ketika aku berkunjung ke sana . . . buat nemuin jalan ke sananya aja udah susah, dan pas sampai di pantainya yang aku temui adalah sebuah pantai yang sepi tapi indah. Waktu itu cuma ada dua atau tiga orang deh selain aku dan keluargaku yang ada di sana.

IMG_PTK10

Untuk menuju ke pantai yang aku maksud itu, ada dua jalan yang bisa ditempuh. Yang pertama memang cukup bagus sampai ke kota kecamatan, tapi selanjutnya menyempit. Sementara jalan yang kedua memang sempit dan di beberapa tempat jalannya seolah menghilang karena tertutup semak dan ilalang. Nah . . . yang aku tempuh memang jalan yang kedua sih karena memang jalan itu merupakan jalan yang terpendek yang bisa aku tempuh untuk menuju ke sana dari Pantai Mandorak yang aku kunjungi sebelumnya (soal Pantai Mandorak, sabar ya . . . pasti aku angkat juga koq di blog-ku ini).

Nama pantai yang jadi bahasanku kali ini adalah Pantai Tanjung Karoso. Sesuai dengan namanya, pantai ini memang terletak di sebuah tanjung di ujung barat Pulau Sumba. Lokasi pantai ini berada di Desa Kalena Rongo, Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya. Dari Tambolaka yang menjadi ibu kota kabupaten, Tanjung Karoso bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam. Sebetulnya jaraknya hanya sekitar 30 kilometer, tetapi tetap saja kendaraan harus berjalan pelan di beberapa ruas jalan yang menyempit ataupun rusak.

IMG_PTK11

Pantai Tanjung Karoso cukup indah, terbayarlah reportnya menuju ke tempat itu ketika sudah sampai di pantainya. Bagaimana tidak, pantai berpasir putih yang terbentang luas dan panjang lagi sepi dengan air laut yang tampak biru kehijauan dengan alun air laut yang relatif tenang seolah menjilati bibir pantai.Ditambah lagi dengan pepohonan rindang yang banyak tumbuh di tepi pantai. Kebayang kan keindahannya?

IMG_PTK07

Di sana nggak kelihatan adanya para pengasong yang biasanya banyak dijumpai di tempat-tempat wisata. Warung yang menjual makanan kecil atau minumanpun nggak ada. Jadi kalau suatu ketika teman-teman pelancong mau ke Tanjung Karoso, jangan lupa siapkan bekal secukupnya ya kalau nggak mau kelaparan ataupun kehausan :P.

IMG_PTK08

Lha trus itu yang kelihatan kaya gubuk di kejauhan apa dong kalau bukan warung? ๐Ÿ™„

Ooo . . itu cuma gubuk tanpa dinding koq. Mungkin dibangun oleh nelayan setempat untuk berteduh, maklumlah Pantai Tanjung Karoso juga merupakan tempat pendaratan ikan bagi nelayan-nelayan setempat.

IMG_PTK12

Duduk-duduk di Pantai Tanjung Karoso juga enak lho. Nggak panas karena adanya deretan pohon besar di sepanjang pantainya. Sayang aku nggak tahu ini jenis pohon apa. Rasanya aku harus nanya dulu ke Bu Prih nih kalau soal pohon-pohonan (sambil clingak clinguk nyari Bu Prih)ย  ๐Ÿ˜‰

Air di pantai itu jernih banget dan dasar lautnya berpasir, betul-betul membuat siapapun ingin nyebur. Apalagi airnya cukup dangkal dan ombaknya hanya berupa alun yang sangat lembut. Cocoklah pokoknya kalau mau main air ataupun berenang di sana.

Berkunjung ke Pantai Tanjung Karoso membuat kita merasa seolah-olah memiliki pantai pribadi. Kondisi pantai yang sepi tanpa orang lain selain kita dan keluarga atau teman-teman kita di sana mau nggak mau membuat perasaan memiliki pantai pribadi itu muncul. Jadi . . . mau merasakan seolah memiliki pantai pribadi? ๐Ÿ˜€

IMG_PTK06

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 13 Comments

Sumbanese traditional huts

Every tribe in the world have their own cultures that have affected by their environments which in turn also affect their daily life, include their dwellings. The Sumbanese, who lives in an Island called Sumba in Indonesia, was not an exception. Up till now, many of them are still live in their traditional huts which have very tall roofs with their ancestors and families tombs placed in front or at least quite close to their huts.

the table-like structures are the tombs (bangunan kotak serupa meja adalah kuburan)

the table-like structures are the tombs (bangunan kotak yang mirip meja itu adalah kuburan)

Sumbanese traditional hut were made of natural stuff and built on stilts. The walls and floors were made of bamboos and the roofs were made of dried grass or dried rice stalks. The main construction of the house consisted of four main pillars made of very big logs erected at the center of the house. In the constructions, the Sumbanese did not use any nails nor tacks to secure any joints, they used rattan ropes instead.

IMG_RAS08

The Sumbanese traditional hut had attic under the towering roofs which they used as their rice barns. The center of the attics, above the parts where they used as their barns, however, was used as their sacred room as they spent their sacred effigies and things in their beliefs which called โ€œmarapuโ€ in there. The Sumbanese placed them below the towering roof because they believed that under the roofs was the most sacred place in their house.

The Sumbanese built their house in such a way which divided the construction into three main parts from the top to the bottom. In their beliefs, it reflected the universe. The top parts, which included the attic was the most sacred place because it reflected the heaven, the place for God. They called that part โ€œuma dalukuโ€, but the very top room where they used to spend their sacred things was called โ€œhindi marapuโ€. The middle parts, which they called โ€œrongu umaโ€, reflected the earth, it was the place where they lived and did their daily activities. In the middle parts, they also had their simple kitchen with open stoves, where they cooked their meals. The fumes and smoke emanated from the stuff they cooked would rise to the top parts of the house which in turn would strengthen the structures of the house and also got rid of any bugs or creepy crawlies from the house. The lowest part of the house was laid under the house in the form of an open cellar which they usually used to keep their livestock. The part was reflected the underworld in their beliefs, and they called it โ€œlei bunganโ€.

IMG_RAS16

Sumbanese traditional huts were easily found in any traditional villages scattered on many parts of the island. They were easily seen from afar because of their typical roofs. The locals called their traditional huts as โ€œuma mbatanguโ€ which means a house with a towering roof. Others also called such a house as โ€œuma bokuluโ€ or a big house as a big family usually lived together in such a hut.โ€”

IMG_RAS02 IMG_RAS03 IMG_RAS04

Keterangan :

Tiap suku bangsa di dunia ini pastilah memiliki tradisi dan kebudayaannya sendiri-sendiri yang dipengaruhi oleh lingkungan dimana mereka tinggal, dan pada gilirannya kebudayaan mereka itu juga akan mempengaruhi gaya dan cara hidup mereka sehari-hari, termasuk juga mempengaruhi cara berpakaian dan bentuk tempat tinggal mereka. Suku Sumba yang merupakan penduduk asli Pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur tentu juga tidak dapat dikecualikan. Bahkan sampai sekarang banyak dari mereka masih tinggal di rumah-rumah tradisional Sumba yang memiliki atap menjulang tinggi bagaikan menara, dengan kubur-kubur batu yang merupakan jejak kebudayaan megalitik terletak di depan ataupun di sekitar rumah mereka.

IMG_RAS13

Rumah tradisional Suku Sumba merupakan rumah panggung yang dibangun dari bahan-bahan alami dan tidak mempergunakan paku sama sekali. Untuk menyambungkan satu bagian dengan bagian lain, mereka mempergunakan tali yang terbuat dari rotan. Dinding maupun laintainya tidaklah terbuat dari batu seperti rumah-rumah modern, melainkan terbuat dari jajaran batang-batang bambu yang terikat dengan kuat. Karena itulah dinding maupun lantai rumah adat Sumba tidaklah rapat sehingga memungkinkan sirkulasi udara yang cukup baik di dalamnya.

IMG_RAS10

Konstruksi utama sebuah rumah adat Sumba dan yang juga menjadi sumber kekuatannya berupa empat buah pilar utama yang terletak di tengah rumah. Pilar-pilar ini biasanya terbuat dari batang kayu utuh yang sangat besar dan kuat yang disebut kambaniru ludungu. Untuk atapnya, Suku Sumba biasanya mempergunakan ilalang kering ataupun jerami sebagi penutupnya.

IMG_RAS17

Karena bentuk atapnya yang tinggi, rumah tradisional Sumba memiliki ruangan yang cukup luas di bawah atap, bahkan biasanya ruangan tersebut terbagi menjadi dua tingkat, dimana tingkat yang paling atas di pergunakan sebagai tempat tinggal Marapu yang hadir dalam bentuk berbagai benda pusaka yang biasanya sudah dimiliki keluarga secara turun temurun. Dibawah ruangan yang dipergunakan sebagai ruang pusaka itu, biasanya dipergunakan sebagai lumbung tempat menyimpan padi dan bahan makanan. Ruangan di bawah atap ini merupakan ruangan khusus yang disucikan dan hanya boleh dimasuki oleh kepala keluarga karena dalam kepercayaan Marapu yang mereka anut, hanya kepala keluargalah yang boleh berhubungan dengan Marapu.

IMG_RAS11

Suku Sumba menganggap ruangan di bawah atap sebagai tempat yang tersuci karena menurut mereka ruangan di bawah atap menggambarkan alam ketuhanan dimana tuhan dan dewa mereka yang disebut Marapu bertempat tinggal. Hal ini sejalan dengan pembagian alam semesta yang dimanifestasikan dalam pembagian struktur bangunan rumah adat mereka dari tingkat yang tertinggi sampai yang terendah. Bagian kedua yang menggambarkan alam manusia terwujud dalam bentuk ruangan dimana mereka tinggal dan melakukan kegiatan sehari-hari. Di bagian ini juga terdapat tungku terbuka yang mereka pergunakan untuk memasak makanan mereka. Asap yang keluar dari tungku akan membubung ke atas dan keluar ke udara terbuka dengan cara merembes melalui susunan bahan penutup atap. Dengan adanya pengasapan yang terus menerus, maka bahan atap dan juga konstruksinya menjadi lebih awet dan kuat, selain juga secara tidak langsung mengusir serangga dan berbagai hewan pengganggu lainnya keluar rumah. Suatu kearifan lokal yang mungkin sudah mereka lakukan turun termurun tanpa mengetahui dengan pasti asal muasalnya. Bagian ketiga atau yang paling rendah terletak di kolong rumah panggung mereka. Bagian ini menggambarkan alam kematian. Bagian ini dipergunakan sebagai tempat mereka menyimpan peralatan bertani mereka dan juga sebagai tempat memelihara hewan ternak mereka.

IMG_RAS15

Dalam bahasa setempat, bagian rumah yang menggambarkan alam surgawi disebut sebagai uma daluku, sadangkan bagian yang dipergunakan sebagai tempat tinggal disebut sebagai rongu uma. Bagian bawah atau kolong rumah panggung mereka sebut sebagai lei bungan.

Rumah-tumah adat Sumba masih dapat dengan mudah kita temui kalau berkunjung ke Pulau Sumba. Hanya saja rumah-rumah adat itu hanya ada di desa-desa adat yang tersebar di banyak tempat di pulau ini. Adanya suatu desa adat dapat diketahui dengan mudah pula karena dari kejauhanpun atap rumah-rumah tradisional Sumba yang menjulang tinggi sudah terlihat. Atap yang menjulang tinggi bak menara itu menyebabkan rumah adat Sumba sering disebut sebagai rumah bermenara, dan penduduk setempat menyebutnya dengan nama uma mbatangu.

IMG_RAS14

Sebagian lain juga menyebut rumah tradisional Sumba itu dengan sebutan uma bokulu karena di suatu rumah, tinggal suatu keluarga besar secara bersama-sama. Rumah adat Sumba memiliki pembagian ruangan yang relatif sama antara satu rumah dengan rumah lainnya, dimana masing-masing rumah itu memisahkan wilayah pria dan wanita disamping juga wilayah formal dan non formal. Pemisahan ruangan ini masih diikuti secara adat, sehingga bisa terjadi suatu keadaan dimana seorang wanita di suatu rumah tidak pernah tahu isi rumahnya sendiri di bagian yang diperuntukkan bagi kaum lelaki; apalagi pintu untuk keluar masuk rumahnyapun dipisahkan antara pintu untuk kaum lelaki dan kaum perempuan.–

IMG_RAS09 IMG_RAS12 RAS189776

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 19 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.