Posts Tagged With: jakarta

I wish you a very merry Christmas

It has been almost a month since stores and buildings started to be decorated with ornaments which represented a special occasion that happens once every year. An occasion which made almost everybody happy and full of joy. Yes . . it is Christmas time, my friend.

Look . . Christmas trees have been standing in many places. Malls and offices seemed as if they were competing each other to brighten the atmosphere with their Christmas decorations. Christmas songs were played; either by choirs on a stage or just recorded songs played and amplified through a building’s audio system. Men dressed up as Santa walking around in certain malls greeting people, especially the little ones and offering candies to them. Some of the children asked their parents to be allowed to sit on Santa’s lap and been photographed. Others also using Christmas ornaments as the background of their pictures as many Christmas decorations looked so pretty.

IMG_C1509

The Christmas decorations which pictures I put in here, for example, were quite beautiful; more than that, they were animated which in turn attracted more people to come and see. They were put in the atrium of a big mall in West Jakarta, Indonesia, known as Mall Taman Anggrek.

IMG_C1504

Anyway, along the post, I want to say Merry Christmas to all my friends and families, and to everybody who celebrate the special occasion. May your Christmas always be merry and also full of wonderful things that bring joy among your family 😀 .—

IMG-C1507

Keterangan :

Sudah sejak sebulan belakangan ini banyak gedung dan mall yang mulai bersolek dengan berbagai hiasan indah yang mencirikan suatu peristiwa yang selalu terjadi sekali tiap tahunnya. Suatu peristiwa yang selalu membawa suasana ceria. Ya . . bulan Desember telah tiba dan berarti Natal telah tiba pula 😀

IMG_C1503

Kalau kita lihat, gedung-gedung perkantoran dan juga pertokoan menjadi lebih meriah selama sebulan ini karena berbagai hiasan bertema Natal yang mereka pasang. Suasana Natal juga makin terasa dengan diputarnya lagu-lagu Natal. Di beberapa mall, kadang Nampak juga orang-orang berpakaian Santa Klaus berjalan mondar mandir menyapa pengunjung, khususnya anak-anak. Anak-anakpun dengan riang meminta pada orang tuanya agar diperbolehkan duduk di pangkuan Santa dan di foto. Pengunjung lain banyak pula yang sengaja berfoto di depan berbagai dekorasi bertema Natal karena dekorasi yang terpasang di banyak mall dan gedung itu memang indah-indah.

IMG_C1505

Dekorasi bertema Natal yang foto-fotonya aku sertakan di postinganku kali ini misalnya, betul-betul indah. Apalagi berbagai dekorasi berbentuk boneka itu bisa bergerak. Dekorasi indah dan unik ini terpasang di atrium Mall Taman Anggrek yang berlokasi di Jakarta Barat. Dengan adanya dekorasi indah ini, semarak suasana Natal jadi makin terasa dan pengunjungpun semakin banyak pula.

IMG_C1506

Eniwei, dengan postinganku kali ini, aku juga ingin mengucapkan Selamat Hari Natal kepada semua sahabat, teman, maupun siapa saja yang berkesempatan membaca postinganku kali ini dan juga merayakannya. Semoga damai dan keceriaan Natal selalu ada di antara kita semua 🙂 .–

IMG_C1508

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 32 Comments

A bridge that has not been used as it meant to be anymore

It was an old wooden bridge located in the old city area of Jakarta, Indonesia. The bridge was built in 1628 by the Dutch Colonial Government in Batavia (old Jakarta) as the sole connector between the Dutch Fort and the British Fort over a river that separated the two forts; hence it named Engelse Burg (England Bridge). In the same year, it was destroyed during an attack by Banten and Mataram army, and then rebuilt in 1930. At that time, the new bridge was located close to a chicken market so it named De Hoender Pasarbrug (Chicken Market Bridge). Later on, it named Jembatan Kota Intan (Diamond City Bridge) up till now, even though the bridge that still exists was not the original bridge.

IMG_JKI01

The recent bridge was a wooden draw-bridge which was built in 1938 to prevent damages happened as a result of regular flood on the area as well as to accommodate ships that passing through the river. It was said that the shape and dimension of the draw-bridge was similar to the original bridge, only the structure was different as the old one was not a draw-bridge.

IMG_JKI02

According to local historical records, the name Jembatan Kota Intan was given because it was so close to an old Dutch bastion called Bastion Diamant (Diamond Bastion). Diamant or diamond in English could be translated as “intan”, and as the bastion was so huge that it looked like a city, the locals called it Kota Intan (Diamond City).

Nowadays, the bridge was not served as it meant to be as the river was not as deep as it was in the past, which in turn prevents any ships to sail along it. The bridge became a monument to remind the recent generation about Jakarta’s past history. Anyway, it still worth to visit as Jembatan Kota Intan was the only old draw-bridge built by the Dutch Colonial Government that still existed in Jakarta.—

IMG_JKI09

 

Keterangan :

Jembatan yang menjadi sebuah monumen yang aku maksud dalam postingan kali ini adalah sebuah jembatan kayu yang terletak di Kawasan Kota Tua Jakarta, tepatnya di Jalan Kali Besar. Pada mulanya, di atas sungai yang dikenal dengan nama Kali Besar itu pada tahun 1628 didirikan sebuah jembatan untuk menghubungkan Benteng Belanda dengan Benteng Inggris yang terletak di seberangnya. Karena itulah jembatan tersebut dikenal dengan nama Engelse Brug atau Jembatan Inggris. Tetapi jembatan tersebut hancur pada tahun 1628 itu juga akibat serangan balatentera Banten dan Mataram. Tetapi setelah peperangan tersebut usai, Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1630 membangun kembali jembatan tersebut. Hanya saja karena dengan berlalunya waktu di dekat lokasi jembatan itu terdapat sebuah pasar yang menjual ayam, jembatan tersebut berganti sebutan menjadi Jembatan Pasar Ayam (De Hoender Pasarbrug). Baru beberapa tahun kemudian namanya berubah lagi menjadi Jembatan Kota Intan seperti yang kita kenal sampai sekarang, meskipun jembatan yang kita kenal sekarang bukanlah jembatan yang dibangun pada abad ke-XVII itu.

IMG_JKI07

Jembatan seperti yang sekarang masih bisa kita saksikan baru dibangun pada tahun 1938. Bentuk jembatan yang semula tetap dipertahankan, demikian pula lokasi dan dimensinya, hanya saja strukturnya diubah menjadi jembatan gantung. Perubahan tersebut dilakukan untuk menghindari kerusakan yang kerap dialami jembatan ini akibat banjir yang sering melanda daerah itu, selain juga untuk memungkinkan kapal-kapal pengangkut komoditi yang masuk ke daerah tersebut berlayar di Kali Besar yang mengalir di bawah jembatan.

IMG_JKI06

Menurut catatan sejarah, nama Jembatan Kota Intan diberikan karena lokasi jembatan yang terletak cukup dekat dengan sebuah banteng pertahanan Belanda yang dikenal dengan nama Bastion Diamant. Kita tahu bahwa diamant atau diamond kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berarti intan. Sementara itu kondisi banteng pertahanan Belanda yang cukup besar hingga menyerupai sebuah kota menyebabkan penduduk setempat menyebutnya sebagai Kota Intan. Karena itulah, jembatan yang lokasinya dekat dengan Kota Intan akhirnya disebut juga dengan sebutan Jembatan Kota Intan.

IMG_JKI08

Sekarang jembatan ini sudah tidak berfungsi lagi sebagai sebuah jembatan, selain karena strukturnya yang sudah tua, juga Kali Besar sekarang sudah sedemikian dangkal sehingga tidak mungkin lagi dilayari oleh perahu-perahu pengangkut komoditi. Jembatan ini sekarang hanya menjadi semacam monumen penanda sejarah; sebagai peringatan kepada generasi sekarang akan sejarah kota Jakarta. Meskipun demikian, kalau kebetulan ada waktu, jembatan ini masih menarik juga koq kalau dikunjungi, apalagi Jembatan Kota Intan merupakan satu-satunya jembatan sejenis yang masih tersisa sampai sekarang di Jakarta ini.–

IMG_JKI10

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 17 Comments

Segelas kopi es di kedai kopi yang melegenda

Ngomong-ngomong soal kopi . . . pasti banyak di antara kita yang suka dengan minuman yang katanya bisa membuat orang tahan melek ini; meskipun bagi beberapa orang, termasuk aku sendiri, kalau sudah ngantuk meskipun minum kopi ya tetap ngantuk aja. Kata orang, biar gak ngantuk, kopinya jangan diminum, tapi dituangin ke mata. Ha ha ha . . . itu sih ngaco, bukannya melek malah bisa-bisa harus segera dilarikan ke dokter mata ya 😆

Nah . . kalau kita ditanya mengenai tempat ngopi favorit kita, tentu jawaban kita bakal macam-macam. Buat para eksekutif muda yang berkantor di berbagai perkantoran mentereng, tentu akan menyebut nama beberapa cafe maupun kedai kopi yang sudah terkenal dengan tempat yang rata-rata bernuansa modern. Beberapa bahkan dilengkapi dengan sofa-sofa yang memungkinkan para pengunjungnya bersantai sambil ngobrol, tentu saja sambil minum berbagai minuman berbahan dasar kopi dengan nama-nama yang bagi sebagian kita, terkesan asing. Mungkin nama-nama seperti Americano, Cappuccino, Latte, Macchiato, Espresso dan lain sebagainya itu akan menaikkan gengsi para peminumnya juga disamping tentunya juga akan mendongkrak harganya. Bayangkan saja, segelas kopi bisa dibanderol harga beberapa puluh ribu Rupiah :(, padahal rasa kopinya sendiri bagi beberapa penggemar kopi dirasa kurang mantap karena kopi yang dipergunakan di cafe-cafe seperti itu rata-rata sudah diberi campuran bahan-bahan lain untuk menciptakan rasa yang khas, meskipun akibatnya menurunkan kualitas kopinya itu sendiri.

Sebagai salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia, Indonesia sendiri sebetulnya sudah lama memiliki tradisi ngobrol sambil ngopi yang dilakukan di warung-warung maupun kedai-IMG_KET17kedai, baik di kota maupun di pelosok desa. Di beberapa daerah bahkan tradisi ngobrol sambil ngopi ini sudah demikian terkenal, kedai kopi tidak hanya menjadi tempat orang minum kopi sambil mengudap makanan kecil, melainkan kedai kopi bahkan menjadi tempat orang bersosialisasi. Jadi fenomena yang sekarang mewabah dimana-mana, bahwa sebuah kedai kopi menjadi tempat bertemu dengan relasi ataupun sekedar menjadi tempat menghabiskan waktu sambil ngobrol santai, sebetulnya sudah lama di kenal di negara kita ini. Banyak kedai kopi yang sudah berdiri sejak berpuluh tahun lalu, bahkan sebelum kedai kopi modern seperti yang kita kenal sekarang berdiri, sampai sekarang masih menjadi ajang bertemunya kawan maupun keluarga diseling seruputan kopi. Salah satu kedai kopi tua yang masih eksis sampai sekarang, bahkan namanya sudah menjadi legenda bagi para pecinta kopi di Jakarta ini, adalah Kopi Es Tak Kie.IMG_KET01

Memang nama Kopi Es Tak Kie tidaklah mendunia seperti gerai-gerai kopi modern yang memiliki banyak cabang dan tampilannya modern. Tak Kie tidak memiliki cabang satupun dan tempatnyapun tidaklah mentereng. Tak Kie hanya menempati sebuah ruangan yang relatif tersembunyi di dalam sebuah gang yang berada di kawasan pecinan kota Jakarta. Tepatnya di dalam Gang Gloria di kawasan Glodok, Jakarta Barat. Meja dan kursi yang dipergunakan di sana adalah meja dan kursi kayu yang tampaknya sudah berusia cukup tua, mungkin seusia kedai kopi itu sendiri. Demikian pula dengan peralatan pembuat kopinya. Gak ada tuh mesin kopi modern seperti di gerai-gerai kopi modern yang untuk menghasilkan segelas kopi tinggal tekan tombol. Di Tak Kie, minuman yang disediakan seluruhnya dibuat secara manual.

IMG_KET02

the barista in his corner (menyiapkan segelas kopi yang nikmat)

IMG_KET03

kitchen appliances used to prepare a cup of coffee (peralatan dapur yang dipergunakan di kedai Tak Kie)

Meskipun tempatnya tidak bisa dibilang mewah, tetapi kedai kopi yang buka dari jam 06.30 pagi sampai sekitar jam 14.00 ini hampir selalu penuh. Paling tidak dua kali aku berkesempatan ke sana, pengunjungnya penuh, bahkan aku sempat menunggu beberapa saat sebelum bisa mendapatkan kursi. Memang kalau diperhatikan, bisa dikata di sana tidak ada anak muda dengan dandanan necis seperti yang biasa kita temui di gerai kopi modern, hampir semua pengunjungnya berdandan santai, beberapa di antaranya bahkan bercelana pendek dengan baju kaos santai. Meskipun demikian, di antara mereka yang memenuhi ruangan sambil minum kopi dan makan, ada saja pembicaraan dalam bahasa asing yang ku dengar. Bukan hanya pembicaraan dalam bahasa Mandarin karena memang sebagian besar pengunjungnya beretnis Tionghoa, tapi aku dengar juga pembicaraan dalam Bahasa Jepang dan Korea. Di salah satu kesempatan aku ke sana itu, bahkan aku melihat wajah bule terselip di antara para pengunjung di sana.

almost every table occupied  (hampir semua meja penuh)

almost every table occupied (hampir semua meja penuh)

Eh tadi itu disebutkan bahwa para pengunjung kedai kopi itu selain minum kopi juga makan? Memangnya apa saja yang tersedia di Kopi Es Tak Kie itu?

IMG_KET04Yup, gak salah sih kalau aku sebutkan minum dan makan. Untuk minumnya, sesuai dengan namanya, di situ tersedia kopi es maupun kopi panas, baik kopi hitam maupun kopi susu. Gak usah mengernyit gitu, Kawan, aku gak salah tulis koq kalau dari awal tulisan ini aku menuliskan kopi es dan bukan es kopi. Menurut orang-orang yang ada di situ, memang yang tersedia di Tak Kie adalah kopi es karena untuk membuat kopi es, mereka sudah menyiapkan kopi yang dimasak sejak subuh, sehingga ketika siap disajikan, kopi tersebut sudah mendingin sehingga rasa kopi tidak akan berubah ketika dimasuki es batu. Kalau es kopi yang biasa kita temui di tempat lain kan biasanya kopi yang baru diseduh, dan panas-panas dimasukin es batu, sehingga rasa kopinya tidak akan keluar secara maksimal, baik karena bubuk kopi belum larut secara sempurna, juga karena larutan kopi itu menjadi “terkontaminasi” oleh es yang mencair karena panasnya kopi.

having breakfast in Tak Kie  (sarapan di Kopi Es Tak Kie)

having breakfast in Tak Kie (sarapan di Kopi Es Tak Kie)

Soal makanannya, tidak seperti gerai kopi modern yang utamanya menyediakan makanan kecil, di Tak Kie, rata-rata orang makan besar karena di situ mereka bisa memesan mie, nasi campur, bubur maupun sup daging kura-kura yang dikenal dengan nama sup pi oh. Selain itu, di meja dekat kasir tampak ada beberapa penganan seperti bakcang dan beberapa jenis roti. O ya, makanan di situ sebagian besar mengandung daging babi lho ya, sehingga bagi yang tidak memakannya, harus jeli dalam memilih makanan dan juga jangan segan bertanya supaya tidak salah beli.

some breads on the table  (roti di meja dekat sang kasir)

some breads on the table  (roti di meja dekat sang kasir)

Suasana kedai kopi yang tidak berpendingin udara ini memang khas, sehingga membuat banyak yang sudah jadi pelanggan Kopi Es Tak Kie ini secara turun temurun, selain banyak pula konsumen yang sudah pernah merasakan nikmatnya kopi di situ yang kembali lagi ke sana ketika mereka kangen dengan rasa kopi yang asli, meskipun mereka sudah tidak tinggal lagi di Jakarta, bahkan sudah bermukim di luar negeri. Ruangan kedai yang dilengkapi kursi dan meja dari kayu yang berwarna coklat tua karena usia, dinding yang agak kusam, kipas angin yang tergantung di langit-langit, tv tabung yang nangkring di salah satu sudut, sampai beberapa foto orang penting yang terpajang di dinding memang seolah-olah membawa pengunjung yang memasuki ruangan itu seolah kembali ke jaman dulu.

Tak Kie was located in the alley  (Gang Gloria dimana Kopi Es Tak Kie berada)

Tak Kie was located in the alley (Gang Gloria dimana Kopi Es Tak Kie berada)

Jadi . . siapa sangka di dalam gang yang sempit yang dipenuhi penjual makanan di kiri kanannya terdapat sebuah kedai kopi tua yang melegenda. Mudah-mudahan saja Kedai Kopi Es Tak Kie yang berdiri sejak tahun 1927 ini masih bisa tetap bertahan hingga bertahun-tahun ke depan tanpa harus tergerus oleh persaingan yang makin keras, khususnya dengan hadirnya kedai kopi modern yang semakin menjamur. Ah tapi dengan kualitas dan rasa yang masih terjaga dan juga dengan konsumen yang setia dan masih ingin menikmati suasana pecinan jaman dulu, rasanya Kedai Kopi Es Tak Kie masih akan bisa bertahan lama, selama pengelolanya tidak bosan dan masih mau meneruskan usahanya. Semoga . . . .—

 

Summary:

It is all about a traditional coffee stall in the heart of Jakarta’s Chinatown, which has been existed since 1927, and became a legend among the coffee lovers, especially in Jakarta. The name was Kopi Es Tak Kie (translated literary as Iced Coffee Tak Kie).

Why iced coffee? Well . . iced coffee was its specialty of course :D. Although iced coffee was its specialty, travelers could also order hot coffee there. Iced coffee, either black or milk added, would be served in a tall glass while hot coffee would be served in a smaller cup.

IMG_KET19

Kopi Es Tak Kie hampir selalu penuh  (Tak Kie was always pretty crowded in the morning)

In the morning, the place was pretty cramped with consumers who came to the place just to sip the legendary coffee and have a chat or two with friends or relatives. Many also came to the place to have breakfast because there were some food sellers that serve breakfast, shared the room with Tak Kie. There was a Nasi Campur (rice with assorted side dish, mainly pork) seller, a noodle seller, and also a special kind of herbal soup seller. Some street vendor could also be easily been seen offering theirs in there as some of them sold traditional snacks, even others sold undergarment (yup, you read it correctly, some street vendors sold men undergarment to Tak Kie’s consumers while they sip their morning coffee or eat their breakfast 😆)

The taste of coffee in Tak Kie was so special as they used pure coffee to make the drinks. They also used a special brand of condensed milk with a specific quantity to be added in the coffee so they could maintain the same taste up till now.

IMG_KET16Entering Tak Kie was like going back to the early 1930’s. There was no air condition in there, but only cooling fans hanging from the ceiling. The furniture was so simple, all was old wooden furniture. Even the barista did not use modern coffee machine in preparing the drinks, all they used in there were old kitchen appliances.

Anyway, even though Tak Kie seems old and not as cosy as any modern coffee-shops, even Tak Kie’s name was not as famous as their worldwide “competitors” which could be easily found in almost every big city in the world, and Tak Kie had no other branches, some people purposefully came to have a glass or a cup of coffee just to feel the old Jakarta Chinatown’s atmosphere in there as Tak Kie was located in a cramped alley full of Chinese specific food street-vendors with some old Chinese shops alongside.

So . . someday when you came to Jakarta, why don’t you try a glass of a legendary iced coffee in Kopi Es Tak Kie? 😉

IMG_KET24

Categories: Food Notes | Tags: , , , , | 31 Comments

Blog at WordPress.com.