Monthly Archives: November 2015

Megalithic heritage by the beach

Ratenggaro, a name which quite known in Sumba, Indonesia. A place where every travelers could find a virgin but pretty beach with some megalithic era tombs at the beach, while not too far away, just across an estuary, there was a Sumbanese traditional village with its unique tall rooftops.

IMG_RTG01

To come to Ratenggaro, ones would feel as if they traveled back to the ancient era, where people still lived in a simple hut and put their family members’ dead bodies in a kind of sarcophagus. And although there were many stone tombs on the whole island, the ones in Ratenggaro would consider unique. Beside their locations at the beach while other were usually close to their homes, the stone tombs in Ratenggaro were also bigger than those in any other places.

IMG_RTG10

The beach had a combination of a sandy and rocky beach. The waves that reached the beach were not too big, but it was advised not to swim in Ratenggaro Beach because in some parts the water could be very deep and would be dangerous enough, especially for them who were not good enough in their swimming skill.

IMG_RTG02

IMG_RTG21

To come to Ratenggaro, travelers not only enjoy the pretty scenery of a beach with some old tombs here and there, travelers could also explore the nearby traditional village and mingle with the locals.

IMG_RTG22

IMG_RTG03

Ratenggaro was located about 48 kilometers to the south-west from Tambolaka. Travelers could reach the place by rented cars as well as by public transports. The road was quite good along the route, even though it was not too busy. For them who wanted to use the public transport, they could use the regular bus from Tambolaka or Waikabubak to Bondo Kodi, where they had to change their transportation mode from bus to local motor-taxi which known as “ojek”.–

IMG_RTG20

IMG_RTG17

IMG_RTG04

Keterangan:

Ratenggaro adalah sebuah nama yang sudah cukup dikenal di daratan Sumba sebagai salah satu destinasi wisata yang harus dikunjungi. Di sana para pelancong tidak hanya melihat sajian keindahan pantai, melainkan juga bisa menikmati sensasi seolah kembali ke jaman yang telah lampau. Bagaimana tidak, beberapa kubur batu yang telah berusia ribuan tahun berada di sebuah pantai yang sepi sementara di seberang bidang air yang merupakan muara sebuah sungai berdiri sebuah kampung dengan deretan rumah tradisional Sumba dengan atapnya yang menjulang tinggi bagaikan menara tersembul di balik pepohonan yang seolah membatasi kampung tersebut dengan pantai.

IMG_RTG14

Betul lho, berkunjung ke Ratenggaro rasanya seperti kembali ke masa silam, apalagi jika kita berkunjung tidak di hari libur. Hampir tidak tampak adanya ciri kehidupan modern di sana. Di kampung Ratenggaro, rumah-rumah penduduk masih merupakan rumah-rumah tradisional yang beratapkan ilalang dengan puncaknya yang menjulang tinggi. Kehidupan masyarakatnyapun masih bersahaja. Jika ada yang meninggal, maka jenazahnya akan diperlakukan sesuai dengan adat istiadat yang telah diikuti secara turun temurun sejak jaman nenek moyang mereka. Jenazah disempurnakan tidak dengan cara dikuburkan, melainkan dimasukkan dalam kubur batu yang bisa berisi lebih dari satu jenazah. Konon jenazah-jenazah di Ratenggaro dimasukkan ke dalam kubur batu dalam posisi berdiri, sehingga bentuk kubur batu di sana relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kubur-kubur batu yang ada di daerah-daerah lain.

IMG_RTG13

Hal lain yang membedakannya adalah bahwa beberapa kubur batu yang tampak sudah sangat tua berada di tepi pantai, sementara di tempat lain, kubur batu biasanya diletakkan dekat dengan pemukiman. Konon dahulu Kampung Ratenggaro memang terletak di dekat pantai sehingga memang berdekatan dengan “rumah” para leluhur mereka. Tetapi abrasi yang hebat menyebabkan penduduk harus memindahkan kampung mereka menjauhi bibir pantai sementara kubur batu tetap dibiarkan di tempatnya semula sampai sekarang.

IMG_RTG23

Ada tiga buah kubur batu tua yang tampak di pantai itu. Kubur yang paling besar adalah kubur orang yang dipercaya menurunkan penduduk kampung-kampung di sekitar situ yang dikenal dengan nama Rato Pati Leko. Dua kubur batu lainnya adalah kubur kedua anak Rato Pati Leko. Sampai sekarang beberapa sesepuh kampung di waktu-waktu tertentu akan datang ke pantai pada malam hari untuk berkomunikasi dengan leluhur mereka.

IMG_RTG05

Pantai di Ratenggaro merupakan kombinasi pantai berpasir dan berbatu. Pasir yang terhampar di beberapa bagian tampak putih dan juga lembut di kaki, sementara di beberapa bagian lain batu-batu karang yang kokoh bertonjolan dari balik pasir. Untuk melengkapi keindahan kombinasi pasir dan bebatuan itu, tidak jauh dari bibir pantai deretan tumbuhan khas pesisir menghijaukan kawasan pantai sehingga pantai tidak nampak gersang.

IMG_RTG12

IMG_RTG15

Air laut yang jernih dengan ombak yang tidak terlalu besar menggoda para pelancong untuk bermain air di sana. Meskipun demikian, para pelancong tetaplah harus berhati-hati karena di beberapa bagian lautnya cukup dalam sehingga cukup berbahaya bagi mereka yang belum mahir berenang, khususnya berenang di laut.

IMG_RTG18

IMG_RTG06

Ratenggaro terletak di Desa Umbu Ngedo, Kabupaten Sumba Barat Daya. Lokasinya berjarak kurang lebih 48 kilometer di sebelah barat daya Tambolaka. Untuk berkunjung ke sana, pelancong bisa mempergunakan kendaraan sewa maupun mempergunakan kendaraan umum yang bisa diperoleh di Tambolaka. Hanya saja, ketika pelancong memilih mempergunakan kendaraan umum, maka pelancong haruslah bersiap-siap untuk berganti moda transportasi karena bus umum dari Tambolaka atau dari Waikabubak hanya mengangkut penumpang sampai di Bondo Kodi. Selanjutnya untuk melanjutkan perjalanan dari Bondo Kodi ke Ratenggaro, pelancong bisa mempergunakan jasa ojek. Jadi . . . nggak ada alasan untuk nggak berkunjung ke Ratenggaro kan?  🙂

IMG_RTG19

IMG_RTG11

IMG_RTG16 IMG_RTG24

Categories: Travel Pictures, Uncategorized | Tags: , , , , , | 19 Comments

A hidden lake by the sea

About 60 kilometers from Tambolaka, the main city in South West Sumba, Indonesia, travelers could find a hidden lake by the sea. The water of the lake was very clear and always tempted people who came to the place to plunge and swim in there.

IMG_WEE01

The lake was called Weekuri Lake. It was a salt water lake as the water of the lake was came from the sea beyond the corral walls surrounding the lake. From time to time, travelers could see the foam caused by big waves slammed the back of the corral walls seeped in a corner of the lake. The waves, no matter how big they were, did not affect the water surface in the lake. Only small ripples seemed on the water surface. And as the lake connected to the sea by a gap under the corral walls, the depth of the lake was affected by the sea tides.

IMG_WEE02

As I mentioned before, the water of the lake was crystal clear. The white sands and some corrals here and there on the lake floor were clearly seen from the surface. From afar, the color gradation of the water in the lake looked very pretty. Green, turquoise, blue and deep blue depended on the depth of the lake in that parts.

IMG_WEE03

The surrounding of the lake was green because bushes grew everywhere as well as vines and some big trees. When I was there, only some local boys were seen. The atmosphere was so tranquil and the cool breeze caressed gently made me and my whole family enjoyed being there for quite a long time to admire the pretty scenery laid in there.

IMG_WEE06

After several times, my family and me continued to explore the surrounding corral walls. We climbed to the top of the walls that bordering the lake with the sea beyond the walls. There I could see the rough sea beneath the wall with its big waves slammed to the walls. Some time the waves were so big so they reached the top of the walls where I stood and made my clothes quite wet 😀

IMG_WEE05

The scenery was more beautiful from up there, but please be very careful for them who climbed with a thin sole shoes or sandals, because the corrals were quite sharp in some parts and could cut travelers foot easily.

IMG_WEE04

 

Anyway, the trip to Weekuri Lake was worth the effort. The rough dirt path in some parts of the road from Tambolaka to Weekuri and the experience we had as we almost lost was almost nothing compared to the beauty of the lake by the sea in North Kodi area. Unfortunetely, there were no public transports that could be used to visit the pretty lake, yet. Travelers should rent a car or motorcycle in Tambolaka to go to the lake. And as there were only very few sign indicating the direction to the lake, it would be better if travelers asked for the locals who knew the area pretty well to accompany them to go to Weekuri Lake.–

IMG_WEE17

 

Keterangan :

Jika berkunjung ke Sumba Barat Daya, nggak ada salahnya kalau datang ke sebuah danau yang terletak di daerah Kodi Utara, kurang lebih 60 kilometer dari Kota Tambolaka yang menjadi ibu kota Kabupaten Sumba Barat Daya. Danau ini terletak di tepi laut, di balik sebuah tembok karang yang seolah melindunginya dari gempuran gelombang laut yang ada di balik tembok karang itu. Air danau yang jernih betul-betul menggoda tiap pelancong yang berkunjung ke sana untuk menceburkan diri dan berenang-renang di sana.

IMG_WEE10

Danau tersebut dikenal dengan nama Danau Weekuri. Danau ini merupakan danau berair payau karena air danau ini merupakan percampuran dari air yang berasal dari mata air di danau itu dengan air laut yang masuk melalui celah di bawah dinding karang di salah satu sudut danau. Para pelancong akan dengan mudah melihat masuknya air laut ke danau itu karena dari waktu ke waktu di salah satu sudut danau nampak buih keputihan yang disebabkan hempasan ombak di balik dinding karang. Meskipun demikian, sedahsyat apapun pukulan gelombang di balik tembok karang itu, ketenangan permukaan air Danau Weekuri hanya sedikit terpengaruh. Paling hanya riak kecil yang nampak di permukaan air danau yang sangat jernih itu. Hanya saja, karena air danau itu terhubung langsung dengan air laut, kedalaman Danau Weekuri berubah-ubah sesuai dengan pasang surut air laut.

IMG_WEE11

Seperti sudah aku kemukakan di atas, air Danau Weekuri sangatlah jernih, sehingga dasar danau yang berpasir putih lembut dengan hiasan batu karang hitam di sana sini tampak dengan jelas dari permukaan danau. Dari kejauhan, gradasi warna hijau, biru muda dan biru tua karena perbedaan kedalaman danau membuat pemandangan menjadi lebih indah.

IMG_WEE13

Di sekeliling danau, semak belukar yang menghijau membuat suasana terasa jauh lebih sejuk. Beberapa pohon besar dan juga tanaman liar yang merambat terlihat meneduhi beberapa bagian tepian danau. Ketika aku berkunjung ke sana, aku dan keluargaku hanya bertemu beberapa anak penduduk setempat yang sedang bermain-main. Semilir angin yang sejuk menemani aku dan keluargaku menikmati keindahan Danau Weekuri dalam suasana yang sangat tenang bahkan cenderung sepi.

IMG_WEE14

Setelah beberapa saat di tepi danau, aku dan keluargaku memutuskan untuk memanjat ke atas dinding karang yang menjadi pembatas antara danau dengan laut. Dari atas situ, aku bisa memandang laut lepas yang berada di bawah tembok karang itu dengan ombak yang terlihat ganas menghempas karang. Bahkan beberapa kali hempasan gelombang itu sedemikian dahsyatnya sehingga melontarkan buih tinggi ke udara melewati tembok karang, bahkan sampai membasahi pakaianku yang saat itu berdiri di puncak tembok karang itu :D.

IMG_WEE15

Dari atas situ, pemandangan terlihat lebih indah. Hanya saja, untuk memanjat ke sana perlu kehatian-hatian ekstra mengingat bahwa karang-karang tersebut cukup tajam. Sebaiknya memakai sepatu dengan alas yang cukup tebal dan kuat kalau nggak mau kaki menjadi sakit tertusuk tajamnya batuan karang.

IMG_WEE12

Danau Weekuri bisa dicapai dengan berkendara selama kurang lebih 2 jam dari Tambolaka. Jalanannya sebagian besar sih sudah cukup baik, tetapi mendekati lokasi danau, jalanannya hanya berupa jalanan tanah dengan semak belukar di kiri kanan jalan. Minimnya petunjuk arah di jalanan membuat aku dan keluargaku yang diantar oleh Pak Agus hampir salah jalan beberapa kali. Meskipun demikian, keindahan yang tersaji kala kita sampai, seolah menghapus semua kekesalan dan juga rasa capek dalam perjalanan menuju ke sana. Bagi teman-teman yang berencana ke sana, karena tidak ada kendaraan umum yang sampai ke sana, sebaiknya teman-teman menyewa kendaraan dari Tambolaka atau bisa juga dengan mempergunakan ojek. Sebaiknya juga minta ditemani penduduk setempat yang tahu dengan persis daerah itu sehingga tidak banyak waktu terbuang hanya untuk memastikan bahwa jalan yang ditempuh sudah betul.–

IMG_WEE16

IMG_WEE18

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 14 Comments

Crimson twilight in a tranquil beach

That afternoon, I was in another trip to look for a perfect place to enjoy the sunset. I departed from Tambolaka, Sumba Island, in the direction to the airport. Pak Agus, carefully but without any doubt, drove the car through an empty road that seemed far from nowhere; I even did not see any other car passing or going the same direction with my car. Dry bushes were on each side of the road, and behind the bushes the yellowish savanna was like a carpet covering a wide area. Horses and buffaloes were seen in a distance grazing dry grasses.

After driving for about one and half hour, Pak Agus brought the car to a narrow dirt road passing through a simple gate and then stop in a kind of car park close to a relatively big house. Later on, I knew that the big house was Siska and Lukas’ home. They owned the place and named it Oro Beach House. There were three smaller houses a few meters away from the main house which they rented to any guests who wanted to spend a night or two in there. According to Siska, most of their guests were foreigner who enjoyed the tranquil atmosphere. Oro Beach House compound was built very close to a pretty beach known as Oro Beach.

IMG_ORB01

The beach had white sands on its shore and low corral cliffs bordering the beach area. The waves were not too big and safe enough for them who wanted to swim or play. The beach area was quite clean; no trashes were seen in there. What I knew later on was that Siska and Lukas were did their best to keep the beach clean.

After exploring the vast beach area, I sat on the soft sands waiting for the sunset. The beach was facing North West, so it was quite perfect to watch the moment when the sun set. I did not have to wait for long, since I arrived at Oro Beach not too long before the sunset.

IMG_ORB05

Gradually the blue sky turned into crimson red as the sun went lower and lower. The cloud hanging low added something that made the vista more beautiful. Slowly the intense light became dimmer and the sun appeared as a giant red ball that sunk behind the horizon. Here, I presented to you all the moments of twilight in Oro Beach that I captured  🙂

IMG_ORB10 IMG_ORB11 IMG_ORB12 IMG_ORB13 IMG_ORB14 IMG_ORB15 IMG_ORB16 IMG_ORB17 IMG_ORB18 IMG_ORB19 IMG_ORB20 IMG_ORB21 IMG_ORB22 IMG_ORB23

 

Keterangan :

Sore itu, aku bersama keluargaku sedang dalam perjalanan mencari lokasi yang tepat untuk menikmati saat-saat terbenamnya sang surya di ufuk barat. Aku berangkat dari hotel tempat aku dan keluargaku menginap di Tambolaka sekitar jam 15.00, dan kendaraan yang aku tumpangi dibawa oleh Pak Agus, yang mengantar aku dan keluarga selama di Sumba, ke arah Bandara Tambolaka. Ketika aku tanyakan, Pak Agus mengatakan kalau nggak jauh dari Bandara ada sebuah pantai cantik yang cocok buat menunggu saat terbenamnya matahari.

Jalan menuju ke pantai yang dikatakan Pak Agus cukup sepi meskipun relatif bagus. Seingatku, ketika itu aku nggak berpapasan dengan kendaraan lain sepanjang jalan; yang searah dengan kendaraan yang aku tumpangi juga nggak ada. Malah beberapa kali kendaraan sempat melambatkan lajunya ketika ada rombongan kerbau berjalan seenaknya di tengah jalan. Kadang-kadang Pak Agus juga harus mengerem mendadak ketika ada babi yang tiba-tiba lari menyebarang jalan. Di beberapa daerah yang jauh dari pemukiman, jalan yang dilalui seolah diapit oleh semak-semak yang kelihatan kering karena memang sudah lama hujan nggak turun.

Setelah berkendara selama kurang lebih satu setengah jam, Pak Agus membelokkan kendaraan ke sebuah jalan kecil yang belum beraspal, melewati semacam gerbang dan akhirnya berhenti di sebidang tanah yang tampaknya merupakan halaman dari sebuah rumah. Ketika Pak Agus kemudian mematikan mesin dan mengajak keluar, aku dan keluargaku sempat kebingungan karena dari tempat kendaraan diparkir itu nggak nampak ada pantai. Tapi melihat Pak Agus kelihatannya sudah biasa datang ke situ, aku dan keluargaku ikut saja kemana Pak Agus melangkah, dan . . . ternyata tidak jauh dari tempat kendaraan diparkir, tampaklah bentang pantai yang indah dan juga sepi. Betul-betul seperti datang ke pantai pribadi. Lagi-lagi aku nggak menemui adanya pengunjung lain selain aku dan keluargaku.

IMG_ORB25

Pantai indah itu dikenal dengan nama Pantai Oro. Pantai ini masuk wilayah Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Belakangan baru aku ketahui bahwa rumah di tepi pantai, dimana Pak Agus memarkir kendaraannya dimiliki oleh pasangan Siska dan Lukas, dan mereka berdua menjaga kebersihan Pantai Oro dengan sepenuh hati. Pantas saja ketika aku dan keluargaku menjelajahi pantai itu, aku tidak menemukan sampah sedikitpun.

IMG_ORB06

Siska dan Lukas mengelola sebuah penginapan kecil yang hanya terdiri dari beberapa bungalow yang dibangun menyerupai rumah tradisional Sumba. Mereka menamainya Oro Beach House. Menurut Siska, sebagian besar tamu yang menginap di Oro Beach House adalah orang asing. Ya memang nggak bisa dipungkiri sih kalau tamu-tamu asing memang lebih menikmati suasana sepi seperti yang ada di situ.

Pantai Oro cukup luas, Siska dan Lukas tidak memagari pantai itu sehingga penduduk desa yang berada tidak jauh dari lokasi itupun bebas keluar masuk Pantai Oro, seperti halnya dua anak yang aku jumpai sore itu tengah bermain di pantai.

IMG_ORB26

Pasirnya yang putih dan deretan karang yang kokoh membentengi wilayah pantai menambah keindahan panorama di situ. Menurut Siska, pernah dilakukan penelitian atas karang-karang yang ada di pantai dan ternyata diketahui kalau karang-karang itu sudah berumur ribuan tahun. Wah . . . betul-betul harus dijaga nih, sayang kalau sampai ada tangan-tangan jahil yang sampai merusak atau mengotorinya dengan cat seperti di banyak tempat lain.

IMG_ORB24

Setelah puas menjelajah pantai, aku duduk di pasir pantai yang lembut memperhatikan dua anak penduduk setempat yang asyik bermain. Kadang mereka jalan ke air yang berombak perlahan, kadang pula mereka berkejaran di sepanjang pantai. Memang laut di Pantai Oro relatif kecil ombaknya, sehingga aman bagi mereka yang ingin berenang ataupun bermain air di pantai. Apalagi airnya yang jernih betul-betul menggoda semua orang untuk bermain air di situ.

Keasyikan memperhatikan kedua anak itu terputus dengan pemandangan indah yang tersaji di langit barat. Sang mentari yang semula memancarkan sinarnya dengan garang dengan latar belakang langit biru, perlahan tapi pasti mulai tampak meredup sinarnya seiring dengan berlalunya waktu. Langit yang semula biru juga mulai berubah warna, kuning . . jingga . . dan lama kelamaan semakin memerah. Bulatan bola raksasa itupun semakin condong dan perlahan mulai terbenam di balik horizon. Ah . . betapa indahnya sajian pertunjukan yang selalu terulang tiap hari tetapi tidak sekalipun pernah sama. Aku menunggu sampai matahari sudah benar-benar berada di balik cakrawala, barulah beranjak meninggalkan pantai yang indah itu. Saat-saat terbenamnya sang surya itu aku coba sajikan dalam postingan kali ini. Percayalah . . menyaksikannya secara langsung jauh lebih indah disbanding apa yang sempat aku tangkap dengan kameraku.

Di dekat tempat parkir, Siska dan Lukas ternyata sudah menunggu, dan dengan ramah menanyakan apakah aku dan keluargaku mendapatkan foto-foto sunset seperti yang diharapkan. Siska kemudian mengajak aku dan keluargaku untuk mampir di rumah induk dan ngobrol. Keramahan pasangangan ini betul-betul membuat aku sekeluarga lupa waktu, sehingga ketika akhirnya berpamitan kepada mereka langit sudah betul-betul gelap. Semoga suatu ketika aku bisa ke Pantai Oro lagi dan mencoba menginap di tempat Siska dan Lukas sehingga bisa lebih puas menjelajah dan mengabadikan keindahan alam yang tersaji di sana.–

Lukas, Siska, and their three daughters (Lukas, Siska dan ketiga putri mereka)

Lukas, Siska, and their three daughters (Lukas, Siska dan ketiga putri mereka)

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 14 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.