Monthly Archives: May 2016

The fairies bathing pools

I was still in South East Sulawesi Province, Indonesia. The time was not long after I captured sunrise moments in Tanjung Tiram, which pictures could be seen in here. At that time, my travel partner and I decided to continue our journey further to the south. And after about 60 kilometers from Kendari, we reached an area known as Tanjung Peropa Nature Reserve. It was a 38,937 hectares tropical forest that kept a unique waterfall called Moramo Waterfall. The waterfall was the one that became our target.

So after our driver parked our car in the parking lot, we started to walk through the forest of Tanjung Peropa Nature Reserve. At first, we walked on a paving path by a small canal. Not long afterward, we passed a small dam and then a hanging bridge.

IMG_MOR01

After passing the bridge, the path led us deeper into the jungle. Small stream by the path as if accompanied our steps roamed among the trees in the forest. The view was really soothed our eyes. In some parts, what we saw was quite pretty as if taken out from a fairy tale book. I was wondering how if there were fairies playing on the shore of the small river or they just playing hide and seek behind the shrubs as we passed :). And as no other travelers were there in the area, what we heard was only the sound of the nature. The rush of the stream, the rustling of dry leaves and birds chirping made a perfect nature melody in our ears.

IMG_MOR02

IMG_MOR03

After about two kilometers walk on an ascending and a bit slippery dirt track, passing some wrecked wooden bridges and stone steps, we arrived at Moramo Waterfall. Unfortunately, we came at the end of a long dry season and the water was not as big as we expected, so the waterfall was not as pretty as we expected.

IMG_MOR04

Moramo waterfall was a cascade type waterfall. The water fall from many levels with heights ranged from 0.5 to 3 meters. The place where the water fell after thousands of years formed many pools in every level which in turn made the view quite spectacular. On seeing the unique and pretty waterfall, the locals believed that many pools which formed Moramo Waterfall was actually the bathing pools of fairies which often came to the falls.

IMG_MOR05

Moramo waterfalls had it source of water from Biskori River which flowed through the Tambolosu mountain range. Once reached the waterfalls, the water rushed through many levels from the height of 100 meters. Moramo waterfalls had 7 main levels and 60 smaller sub-levels. So . . can you imagine how many small pools formed in there?

IMG_MOR07

It was said that the falls was first discovered in 1980 by a hunter who came to the forest to trap mouse-deers. In 1989 the road to the nature reserve was started to be built and just in 1990 it was officially opened as one of South East Sulawesi Province tourist destination. Unfortunately, up till now, there were no public transports serving the area. So travelers should look for rental cars from Kendari to come to the fairies bathing pools in Tanjung Peropa Nature Reserve.–

IMG_MOR11

IMG_MOR14

Keterangan :

Ceritanya aku masih ada di Propinsi Sulawesi Tenggara nih. Saat itu aku baru saja selesai mengabadikan saat-saat Sang Mentari keluar dari peraduannya di Tanjung Tiram yang hasilnya bisa dilihat di sini. Setelah sejenak berdiskusi, teman seperjalananku dan aku sendiri akhirnya sepakat untuk melanjutkan perjalanan lebih jauh ke arah selatan.

Perjalanan menyusuri jalanan yang tidak semuanya mulus itu berakhir ketika aku dan teman seperjalananku mencapai kawasan Cagar Alam Tanjung Peropa yang terletak di Desa Sumber Sari, Kecamatan Moramo, Kabupaten Konawe; kira-kira 60 kilometer dari Kendari. Cagar Alam Tanjung Peropa merupakan kawasan hutan tropis seluas 38.937 Hektar, dimana di dalamnya terdapat sebuah air terjun yang unik yang dikenal dengan nama Air Terjun Moramo. Air Terjun inilah yang menjadi tujuan utama kami berdua datang ke sana.

Sebelum masuk ke kawasan cagar alam, terdapat sebuah tanah lapang yang di sekitarnya banyak terdapat warung-warung sederhana yang menjual minuman maupun makanan ringan. Sayangnya ketika itu semua warung itu dalam keadaan tutup. Yah . . aku sih bisa maklum karena aku kesana bukan pada hari libur ataupun akhir pekan. Mau nggak mau aku dan teman seperjalananku harus membawa bekal air yang kami bawa dari Kendari kalau nggak mau kehausan selama perjalanan ke air terjun.

Dari tanah lapang yang juga menjadi lapangan parkir kendaraan, aku dan teman seperjalananku mengikuti jalan setapak masuk ke kawasan cagar alam. Jalan setapak itu akan melewati sebuah bendungan dan kemudian melintasi sebuah jembatan gantung. Jalur yang semula merupakan jalur yang dilapisi paving blocks mulai berubah menjadi jalur tanah ketika kami masuk lebih dalam ke hutan. Sebuah sungai kecil berair tenang mengalir di samping jalan setapak, seolah menemani kami berdua yang berjalan mengikuti jalan setapak di antara pepohonan dan semak.

IMG_MOR06

IMG_MOR08

Rindangnya pepohonan membuat siapapun tidak merasa kepanasan selama berjalan menuju ke air terjunnya. Hijaunya pemandangan betul-betul menyejukan mata. Di beberapa bagian hutan, pemandangan yang tersaji mengingatkanku akan gambaran hutan di negeri peri seperti yang diceritakan di buku-buku dongeng. Makanya tidaklah heran kalau pikiranku melayang . . membayangkan bahwa di tempat itu aku akan melihat peri-peri kecil yang sedang bermain di tepian sungai atau malah mungkin sedang bermain petak umpet di rerimbunan semak belukar yang kami lalui :). Dan karena tidak ada orang lain selain kami berdua, ketenangan hutan seolah menghanyutkan. Gemericik air sungai dan desauan angin yang ditingkahi kicauan burung merupakan suara-suara alam yang terdengar merdu di telinga.

IMG_MOR10

Setelah berjalan kurang lebih 2 kilometer, akhirnya aku dan teman seperjalananku sampai di Air Terjun Moramo. Sebuah air terjun yang unik karena airnya tidak terjun dari ketinggian, melainkan terjun dari tingkatan-tingkatan setinggi antara setengah meter sampai 3 meter. Jadi kelihatannya seperti banyak air terjun kecil yang bersusun-susun. Tiap air terjun kecil itu memiliki kolam penampungan yang airnya akan meluber jatuh ke kolam penampungan berikutnya di tingkat yang lebih rendah. Kalau dihitung, secara keseluruhan terdapat 7 tingkatan yang agak besar dan ada 60 tingkatan yang agak kecil.

IMG_MOR13

Secara keseluruhan, tampak seolah-olah air terjun ini membentuk banyak kolam air yang karena indahnya dipercaya penduduk setempat diajdikan tempat mandi dan bermain air oleh para bidadari ataupun peri yang acap kali bertandang ke situ.

IMG_MOR12

Sayangnya aku ke sana tidak pada waktu yang tepat. Musim kemarau berkepanjangan membuat debit air di air terjun itu menurun banyak. Rupanya sumber airnya yang terletak di Pegunungan Tambolosu juga agak mengering sehingga Sungai Biskori yang aliran airnya masuk ke Air Terjun Moramo ini juga tidak sanggup menyediana air yang cukup untuk membuat Air Terjun Moramo memamerkan keindahannya secara maksimal. Rasanya aku harus balik lagi ke sana nih, dan kalau memang harus ke sana lagi, aku harus memilih waktu yang tepat sehingga aku bisa melihat bidadari yang sedang mandi di sana . . . eh salah, sehingga aku bisa menikmati keindahan Air Terjun Moramo secara maksimal 😛

IMG_MOR17

IMG_MOR16

Menurut cerita penduduk setempat, air terjun unik ini belum lama ditemukan. Seorang transmigran yang masuk ke hutan untuk menjerat binatang menemukan air terjun ini pada tahun 1980. Tetapi baru sepuluh tahun kemudian air terjun dan kawasan cagar alam ini diresmikan sebagai salah satu obnyek wisata andalan Propinsi Sulawesi Tenggara. Sayangnya, sampai ketika aku berkunjung ke sana, aku tidak melihat adanya kendaraan umum yang melalui daerah itu. Jadi, jika ada pelancong yang ingin berkunjung ke tempat pemandian para bidadari ini, pelancong tersebut haruslah mempergunakan kendaraan pribadi ataupun kendaraan sewa dari Kendari.–

IMG_MOR09

IMG_MOR15

Advertisements
Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 24 Comments

Sunrise at a neglected old port

You still remember my last post, do you? It was about an old and neglected port in South East Sulawesi Province, Indonesia, called Tanjung Tiram. Just in case you still don’t remember it, you can see the post in here.

Anyway, while the last post was about the sunset moments I got at the port; my recent post would be about the sunrise moments I captured in the same location.

IMG_TTF01

So . . at that time, early in the morning, I was already in the car with my travel partner on our way from our hotel in Kendari, to Tanjung Tiram. The road was relatively empty, and that made our driver could bring the car faster than usual.

IMG_TTF03

When we arrived at Tanjung Tiram, I found that the place was as deserted as we found the day before when I captured the sunset moments. The main difference was the sea. It was at the lowest tide that morning, so the area around the wooden pier just looked like a muddy land.

IMG_TTF04

In this post I would not write too long as you could read the explanation about Tanjung Tiram in my last post. I don’t want to make you lost your interest because I put too many words in here 😛  I think it would be better to tell you about the place in sunrise time just by pictures. So . . please enjoy! 😀

IMG_TTF06

IMG_TTF07

IMG_TTF08

IMG_TTF09

IMG_TTF10

 

IMG_TTF12

IMG_TTF13

IMG_TTF14

 

Keterangan :

Masih ingat postinganku sebelumnya kan? Itu lho . . . yang mengenai Tanjung Tiram di kala senja menjelang. Tapi kalau masih belum ingat juga ya sudah lah, nggak perlu repot mengingat-ingatnya. Postingan yang aku maksud itu bisa di lihat di sini koq.

Kali ini aku masih akan memposting mengenai Tanjung Tiram, makanya judul postinganku kali ini juga mirip dengan judul postingan sebelumnya, hanya saja bedanya kalau sebelumnya aku menggambarkan suasana senja, kali ini aku mengangkat suasana fajarnya.

IMG_TTF02

Nah . . untuk bisa menyajikan suasana fajar di Tanjung Tiram itulah makanya di subuh itu aku sudah berada di dalam mobil bersama teman seperjalananku ketika banyak orang lain masih bergelung di balik selimut. Jalanan kota Kendari yang relatif masih sepi pagi itu memungkinkan Pak Sopir untuk memacu kendaraan lebih cepat dari biasanya menuju ke Tanjung Tiram.

Seperti sudah aku duga sebelumnya, suasana di Tanjung Tiram tetap sepi, sesepi ketika aku ke sana sore sebelumnya. Hanya saja pagi ini, karena laut sedang surut, maka di sekitar dermaga kayu rusak yang sore sebelumnya tertutup air laut, pagi itu nampak seperti daratan berlumpur.

IMG_TTF05

Eniwei, aku nggak akan nulis kepanjangan kali ini karena kan keterangan mengenai Tanjung Tiram sudah aku tulis di postingan yang lalu. Aku nggak mau bikin bosan. Jadi . . . rasanya akan lebih baik kalau kali ini aku menceritakan mengenai suasana di tempat itu di saat terbitnya matahari melalui beberapa foto yang aku dapatkan ketika itu. Ok? 😀

IMG_TTF17

IMG_TTF19

 

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 23 Comments

Sunset at a neglected old port

On my way back to Kendari (the capital of South East Sulawesi Province, Indonesia) from the southern hilly part of the province, all of a sudden my driver turned the car to the right and entered a small road. When I asked him, he said that he remembered that there was a place that we could use to capture sunrise moments and he wanted to show to me and my travel partner just in case we could use it in the next morning.

The place name was Tanjung Tiram which could literally translated into the “Oyster Cape”. I did not know why it was bore such a name. Perhaps it was the place where the local fishermen got so much oyster in the past :P.

IMG_TTS01

Tanjung Tiram was considered an old village in South Konawe Regency, that could be reached in about one hour drive from Kendari. The inhabitants were mostly fishermen and sea-weed farmers who depending their life to the sea that close to their village. Some of them even built a kind of station off the shore in their effort to still go to the sea at low tide.

The road to Tanjung Tiram was not so good. The asphalt was peeled off in some parts and made the gravels could not gripped the road anymore, which in turn made our trip quite bumpy. The road led us to the shore, where we saw a kind of wooden pier which looked abandoned. There were no other people except of us. So after the driver parked the car, my travel partner and I walked to the far end of the pier and looking around to make sure that I could capture the sunrise moments in the next morning from there. The sea was on high tide at that time, so there was only water around the pier. The pier itself was not in a good condition as it was ruined in some part, hit by the sea and no one had ever mended it because it was not used anymore.

IMG_TTS02

The time went by and the sky became darker. And as I turned back to go to the car, I realized that it was nearly sunset time. I decided to wait for a moment to enjoy the tranquil moment of the sunset in there although I knew that we could not see the big red ball touching the horizon since the view was blocked by the dense mangrove forest at the beach.

IMG_TTS03

Presented below are the sunset moments which I captured in Tanjung Tiram back then. Please enjoy!

IMG_TTS12

IMG_TTS13

IMG_TTS14

IMG_TTS15

IMG_TTS16

IMG_TTS17

IMG_TTS18

IMG_TTS19

Keterangan :

Pada saat itu, aku dan teman seperjalananku sedang dalam perjalan kembali ke Kendari dari daerah dataran tinggi yang berada di bagian selatan Propinsi Sulawesi Tenggara ini, ketika tiba-tiba pengemudi kendaraan yang kami sewa membelokkan kendaraan ke arah kanan memasuki sebuah jalan kecil dengan aspal yang sudah mengelupas di sana sini sehingga banyak lubang menganga. Kondisi jalan yang seperti itu tentu saja membuat aku dan teman seperjalananku sering kali terlompat ketika roda mobil masuk ke lubang jalan. Ketika aku bertanya padanya, dia mengatakan bahwa dia teringat kalau di situ ada tempat yang harusnya bisa dipergunakan untuk menanti saat terbitnya Sang Surya, dan dia mengajakku untuk melihatnya, siapa tahu aku tertarik untuk menangkap saat-saat terbitnya Sang Surya di situ keesokan paginya.

Tempat yang dituju adalah sebuah desa di tepi laut yang bernama Tanjung Tiram. Aku sendiri nggak tahu dan Pak Sopir juga nggak bisa menerangkan kenapa namanya Tanjung Tiram. Aku sempat menduga-duga, apakah mungkin dulu di tempat itu banyak tiramnya 😛

Desa Tanjung Tiram terletak di Moramo yang masuk dalam wilayah Kabupaten Konawe Selatan. Perjalanan dari Kendari ke tempat ini akan melalui jalan yang relatif sejajar dengan garis pantai. Dengan demikian, laut akan selalu nampak; kadang dekat, kadang jauh, dan sesekali akan tertutup pula oleh rimbun pepohonan yang ada di antara pantai dan jalan. Dengan pemandangan laut seperti itu, perjalanan selama kurang lebih satu jam berkendara dari Kendari ke Tanjung Tiram tidaklah akan terasa melelahkan. Sayangnya belum ada kendaraan umum yang bisa ditumpangi jika ada pelancong yang ingin menuju ke Tanjung Tiram dari Kendari dengan kendaraan umum.

Tanjung Tiram bukanlah merupakan tempat wisata, melainkan hanya sebuah kampung nelayan. Di situ pernah dibangun sebuah dermaga dengan perkiraan jika wilayah tersebut hidup, maka tingkat hidup masyarakatnya yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan ataupun petani rumput laut, bisa ikut terangkat. Sayangnya rencana tersebut tidak berjalan seperti yang diharapkan. Dermaga Tanjung Tiram yang sudah dibangun menjadi terbengkelai dan mulai rusak. Tidak ada lagi kegiatan bongkar muat di sana. Hanya sepi yang menemani dermaga kayu yang kian melapuk. Seperti ketika sore itu aku tiba di sana, aku tidak melihat adanya pengunjung lain kecuali aku dan teman seperjalananku plus si Pak Sopir yang memang selalu ikut kemanapun aku dan teman seperjalananku pergi. Konon sekarang jarang sekali orang berkunjung ke sana. Kadang hanya mereka yang datang untuk mengambil foto saja yang berkunjung. Itupun sangat jarang.

IMG_TTS10

Ketika aku ke sana sore itu, air laut sedang pasang, sehingga dermaga kayunya benar-benar seperti terkepung air. Di bibir pantai, hutan bakau melindungi garis pantai dari abrasi. Beberapa tanaman bakau dengan bentuknya yang unik membuat pemandangan seolah berada di dunia dongeng. Kepiting-kepiting kecil beraneka warna berlarian di lumpur, di sela-sela akar hisap bakau yang bermunculan.

Tanpa kusadari, ternyata suasana mulai temaram. Hari telah semakin sore rupanya, sehingga aku dan teman seperjalananku memutuskan untuk segera kembali ke Kendari daripada kemalaman di jalan. Pada saat itulah aku menyadari kalau suasana senja di Tanjung Tiram juga cukup indah meskipun kita tidak bisa menyaksikan saat-saat Sang Bola Merah Raksasa menyentuh cakrawala karena selain adanya deretan pegunungan di kejauhan, lebatnya hutan bakau di tepi pantai juga seolah menjadi tirai bagi Sang Mentari yang malu-malu mau masuk ke peraduannya.

IMG_TTS11

Di postingan kali ini aku sajikan apa yang aku dapatkah sore itu sehingga teman-teman bisa mendapatkan sedikit gambaran mengenai suasana saat sunset di Tanjung Tiram.

Lho koq jadi suasana sunset? Katanya tadi Tanjung Tiram bagus untuk ambil sunrise?

Sabar ya, postingan berikut akan aku sajikan juga suasana sunrise yang aku tangkap di sana. Kali ini sunsetnya dulu  😎

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 15 Comments

Blog at WordPress.com.