Monthly Archives: February 2014

Legend of a temple by the sea

Bali, an island in Indonesia, is known as the island of thousands temples because there are so many temples, both large and small, scattered on the entire island. Most of the main temples are quite old; many are more than 100 years old. On my last visit to the beautiful island, I got an opportunity to stop by at one of those temples. The one that I visited was Pura Rambut Siwi or Rambut Siwi Temple.

Located in Jembrana Regency, the temple was around 17 kilometers away from Negara, one of the main city in the regency. It could be reached in about 2.5 hours drive from Denpasar. Travelers could find the temple easily since it was on the side of Denpasar – Gilimanuk main road. Many people passing the area would stop to pray in Pura Rambut Siwi for their safe trip, because it was believed that Pura Rambut Siwi was the perfect place to ask for God’s protection against any accidents and bad lucks.

There were many stories and legends about the origin about the temple which was on top of a cliff by the sea, as well as the origin of its name. According to an old manuscript called Pasraman Teledu Nginyah Jembrana, it was said that a very long time ago there was a holy-man called Ida Maharsi Markandia who was deep in meditation on a mountain in East Java called Mount Raung. One day, he saw a very bright light emanated from a place far to the east from the place he meditated, so Ida Maharsi decided to go to the place in order to find what was the cause of the celestial light.

IMG_PRS05Soon he started his journey to the east and came at a place where the light emanated; it was at the beach which later on became the location of Pura Rambut Siwi. At the top of a cliff, where he could see almost all the beach area, Ida Maharsi Markandia started to meditate to get God’s direction. One day, as an answer to his pray, Hyang Jagadnatha (the supreme God who ruled the world) appeared and said that the place was a part of a sacred island in which Gods resided; so only selected people were allowed to come and live on the island. As for Ida Maharsi Markandia, the God said that he was a very special man who was invited by the God to come to the island to help administering the island as well as to protect the island from intruders.

Ida Maharsi Markandia accepted Hyang Jagadnatha’s order, and to be able to fulfill his task, he seek help from Hyang Vishnu (the God who maintained and preserved the world) and also from Hyang Varuna (the God of the ocean). The two Gods agreed to help Ida Maharsi in performing the task. They helped him by creating a flaming giant net that appeared from the ocean off the coast where Ida Maharsi meditated. The net would sort out the people who intended to land on Bali. It was a net made of tangled sea-weeds. Sea-weed was ‘bulung rambut’ in the local tongue. That was why the place was called Rambut Siwi, because ‘rambut siwi‘ could be translated freely as tangled sea-weed.

Later on, long after that, according to another old manuscript known as Dwijendra Tatwa, a Brahmana (Hindhu priest) called Danghyang Dwijendra came to the place in his journey around the island. He met a man who did his job cleaning the area around an old temple which believed was built by Ida Maharsi Markandia. The man held Danghyang Dwijendra and urged him to stop and pray in the temple. He said that the temple was sacred as well as haunted. People who passed the area without stopping and praying in the temple would surely die because of tiger’s attack. To hear about that, just to respect the man, Danghyang Dwijendra agreed to pray in the temple.

IMG_PRS12

As Danghyang Dwijendra started meditating and chanting his pray, suddenly the main structure in the site collapsed. Having seen what has happened to the main structure, the man was in panic and felt afraid at the same time. He came to Danghyang Dwijendra and asked for forgiveness. He also asked Danghyang Dwijendra to restore the place and to become the spiritual leader in there. Danghyang Dwijendra felt pity, and with his spiritual power he re-built the place. He also took a string oh his hair to be placed in the temple as a mean of worship and also as a sign that he would always protect everybody who pray in the temple from any bad lucks or accidents.

Nowadays, there have been many restorations in the temple compound in order to maintain the existence of the old temple. The restoration was also make the compound easier to reach and comfortable enough for people who come to pray. Beautiful structures were built around the old temple which still preserved and being the center of the compound. Pura Rambut Siwi was a perfect place to enjoy the tranquil atmosphere and respecting God’s creation, as it was a perfect place to enjoy sunset, too.–

Keterangan  :

Bali, sebuah pulau indah yang dikenal juga sebagai Pulau Seribu Pura karena dengan mudah pelancong dapat menjumpai pura baik besar maupun kecil tersebar di hampir semua tempat di Bali. Tentu saja kalau duhitung betul-betul jumlahnya pasti akan lebih dari seribu sih  :P. Tapi biarlah, karena sebutan Pulau Seribu Pura hanyalah sebutan yang menggambarkan betapa banyaknya bangunan pura yang ada di Bali. Banyak juga bangunan pura itu yang sudah berumur ratusan tahun. Nah . . aku sempat mampir juga di salah satu pura yang katanya sudah cukup tua itu dalam perjalananku ke Bali beberapa waktu lalu.

IMG_PRS07

Pura ini terletak di Kabupaten Jembrana, kira-kira 17 kilometer di sebelah timur kota Negara. Pura yang terletak di atas sebuah tebing yang menghadap ke Selat Bali ini dikenal dengan nama Pura Rambut Siwi. Karena letaknya yang di tepi jalur utama Denpasar – Gilimanuk, menyebabkan pura ini juga banyak dikunjungi orang-orang yang sedang melakukan perjalanan di rute itu, baik yang berkunjung untuk bersembahyang memohon perlindungan Yang Maha Esa dalam perjalanannya maupun yang sekedar berwisata.

IMG_PRS01

Mengenai asalu usul nama Pura Rambut Siwi, sebetulnya ada beberapa versi yang menceritakannya. Kalau mengikuti versi seperti yang tertuang dalam Pasraman Teledu Nginyah Jembrana, diceritakan bahwa pada jaman dahulu kala ada seorang Brahmana suci bernama Ida Maharsi Markandia yang sedang bersemedi di Gunung Raung yang terdapat di Jawa Timur. Pada suatu hari, Sang Maharsi melihat kemunculan seberkas sinar yang sangat terang di arah timur.

Karena penasaran, Ida Maharsi Markandia menunda tapanya, dan segera menuruni Gunung Raung kemudian berjalan ke arah timur untuk mencari tahu apa kiranya yang bisa menimbulkan sinar yang sangat terang itu. Sinar tersebut seolah menjadi bintang pedoman Sang Maharsi dalam melakukan perjalanannya yang terus menuju ke timur. Perjalanannya tidak terhenti di ujung timur Pulau Jawa, melainkan dilanjutkan sampai menyeberangi Selat Bali sehingga akhirnya tiba di tempat dimana sekarang terdapat Pura Rambut Siwi.

Di tempat itu, Ida Maharsi Markandia kembali melakukan puja semedi untuk memohon petunjuk Dewata. Karena khusyuknya tapa yang dilakukannya, Sang Hyang Jagadnatha (Dewa penguasa alam semesta) menampakkan diri di hadapan Ida Maharsi. Sang Jagadnatha memberitahukan kepada Sang Maharsi kalau tempat tersebut merupakan bagian dari sebuah pulau yang disucikan karena merupakan tempat tinggal para dewa. Karena itulah, hanya orang-orang terpilih yang diperkenankan datang dan bertempat tinggal di pulau tersebut. Ida Maharsi Markandia sendiri sebenarnya diundang secara khusus oleh dewata untuk datang ke tempat itu dangan sarana pancaran sinar yang sangat terang tersebut. Hyang Jagadnatha bersabda pula bahwa dengan kesucian dan kesaktiannya, para dewata berharap agar Sang Maharsi dapat membantu para dewa dalam menata pulau tersebut sekaligus juga menjaga jangan sampai ada orang-orang yang tidak pantas yang masuk ke pulau tersebut. Setelah menyampaikan amanatnya itu, Sang Hyang Jagadnatha menghilang.

Guna dapat memenuhi amanat Sang Jagadnatha, Ida Maharsi Markandia kembali memusatkan seluruh indranya dan memohon bantuan kepada Sang Hyang Batara Wisnu (dewa pemelihara alam semesta) dan juga kepada Sang Hyang Batara Baruna (dewa penguasa lautan). Kedua dewa tersebut terkesan dengan kesungguhan dan ketulusan Sang Maharsi, dan bersedia memberikan bantuan. Seolah sebagai jawaban atas tapanya, tiba-tiba di lepas pantai muncul sebuah jala raksasa yang bernyala-nyala dari dalam laut. Jala yang terbuat dari anyaman rumput laut ini akan mencegah orang-orang yang tidak mendapat perkenan dewata mendarat di pantai pulau suci tersebut. Sebaliknya, jika ada orang yang cukup pantas untuk masuk ke pulau suci yang sekarang kita kenal dengan nama Pulau Bali ini, maka jala raksasa tersebut akan lenyap dan membiarkan orang tersebut mencapai pantai.

Rumput laut dikenal juga dengan istilah ‘bulung rambut’ oleh masyarakat setempat. Karena itu, orang-orang menyebut pantai dimana Ida Maharsi Markandia bersemedi hingga memunculkan jala raksasa yang terbuat dari jalinan rumput laut itu di lepas pantainya dengan sebutan rambut siwi, karena rambut siwi bisa juga diartikan sebagai jalinan rumput laut.

IMG_PRS13

Lama kemudian setelah itu, menurut Kitab Dwijendra Tatwa, seorang Brahmana dari Majapahit bernama Danghyang Dwijendra tiba juga di tempat tersebut dalam perjalanannya menyebarkan dharma. Saat itu di tempat tersebut sudah berdiri sebuah pura yang dipercaya masyarakat setempat sebagai pura yang suci sekaligus angker. Pada saat sang Brahmana melintas di tempat tersebut, langkahnya dihentikan seseorang yang sedang menyapu membersihkan halaman di sekitar pura. Si Tukang Sapu memaksa Sang Brahmana untuk bersembahyang di pura tersebut karena kalau tidak maka Sang Brahmana akan mati diterkam harimau.

Untuk tidak menyinggung perasaan si Tukang Sapu, Danghyang Dwijendra setuju untuk berhenti sejenak dan bersembahyang di pura yang dipercaya sebagai peninggalan Ida Maharsi Markandia tersebut. Pada saat Sang Brahmana mulai bersemedi dan merapalkan puja mantranya, tiba-tiba bangunan tersebut runtuh. Melihat itu, si Tukang Sapu menjadi sangat ketakutan. Dengan berurai air mata dan tubuh gemetar, si Tukang Sapu menemui Danghyang Dwijendra untuk memohon ampun atas perbuatannya yang tidak pantas itu. Si Tukang Sapu juga memohon agar Danghyang Dwijendra sudi memulihkan kembali bangunan tersebut sekaligus juga memohon kesediaan Sang Brahmana untuk menjadi pemimpin rohani di situ. Danghyang Dwijendra yang merasa iba meluluskan permohonan tersebut. Dengan kesaktiannya, dipulihkannya bangunan tersebut ke keadaannya semula. Setelah itu, Danghyang Dwijendra mengambil sehelai rambutnya dan diserahkan kepada si Tukang Sapu untuk diletakkan di dalam pura sebagai sarana pemujaan sekaligus juga sebagai tanda bahwa Sang Brahmana akan melindungi orang-orang yang bersembahyang di situ dari kecelakaan dan nasib buruk.

Sekarang, kompleks Pura Rambut Siwi sudah tidak lagi tampak sebagai sebuah bangunan yang sudah tua. Banyak perbaikan dan juga bangunan baru yang didirikan untuk memudahkan dan memberikan kenyamanan bagi umat yang ingin bersembahyang di situ. Meskipun demikian, bangunan baru tersebut dibuat selaras dengan bangunan lama, termasuk pura utama, yang masih tetap di jaga keasliannya. Banyak orang yang datang ke tempat ini hanya untuk menikmati ketenangan suasananya dan juga keindahan pemandangan sekitar pura. Meskipun demikian, hanya orang-orang yang mau bersembahyang saja yang diperkenankan masuk ke pura utama. Dari dalam kompleks Pura Rambut Siwi ini, semilir angin laut bisa dinikmati sambil menyaksikan betapa ombak seakan tak pernah lelah berkejaran menuju pantai dan kembali lagi. Pemandangan sawah milik penduduk di sekitar kompleks pura juga menyebabkan banyak orang betah untuk berlama-lama di sini. Sayang waktu itu waktuku cukup sempit, sehingga aku tidak bisa terlalu lama menikmati keindahan ini.–

IMG_PRS06

IMG_PRS15

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 107 Comments

Pretty fishing boats mooring in an estuary

In Jembrana Regency, Bali, there were places other than Cupel Beach that seemed to be a perfect place to capture the sunset moment; one of them was the estuary of Perancak River which could be easily reached from Jembrana’s downtown since it was only 6 kilometers away. That was why I also visited Perancak when I was in the area.

Also like those in Cupel, most of Perancak’s inhabitants made their living by capturing fishes in the sea. The thing that made Perancak so special was the fishing boats that been used by the locals. Basically the boats had a similar shape, but varied in their colors, decorations, and ornaments, which made the boats look so pretty. One could easily find such boats mooring in the Perancak Estuary among the usual sampans and small fishing boats. The boats were quite big; they were about 15 meters long and 3.5 meters wide. Usually it had to be handled by around 40 crews. When operated, the big fishing boats would set in pair. One for capturing the fishes while the other for carrying and transporting the captured fishes.

IMG_PRC01

From what I heard, the fishing boats in Perancak were similar in shape to the fishing boats in Madura and also in Muncar, East Java. It was quite possible that such acculturation happened, since there were many fishermen from East Java shared their fishing spots in the Bali strait with the fishermen from Bali, in this case with the fishermen from Perancak. Nowadays such boats which called ‘selerek‘ by the locals, were decorated with Balinese style decorations, too.

IMG_PRC02

The hull of a ‘selerek‘ boat was made of wood. It had pointy parts both at the bow and at the aft. Those pointy parts were called ‘linggi‘. Each boat also had two wooden masts. At the boat that used for capturing fishes, on the front mast there was a small bridge at the top of the mast. The bridge was used by the skipper in directing the boat when the boat was operated.

Between the two masts, there was part which called ‘landangan‘. Usually ‘landangan‘ was made of  bamboos that tied horizontally at both masts, colored with bright colors, thus made the boat prettier. When I visited Perancak Estuary, I also found some small boats that have a kind of ‘landangan‘ on them although the boats did not have real masts.

IMG_PRC03

Other than that, there were also several ornaments and paintings decorated the ‘selerek‘. At the small bridge at the top of the main mast on the boat functioned to capture the fishes, for example, there was a picture depicting a girl, a holy man, or Hindhu God and Goddesses. At other boats which been used for carrying and transporting fishes, there was no small bridge on the top of their main masts; they had a shield-like form which used only for decoration. The locals called such a part as ‘tabing‘ The ‘tabing‘ itself was also decorated with a similar painting to the painting on the bridge-like part in their partner’s boats.

Well . . at that time I had to admit that I did not regret that I could not capture the sunset at Perancak as I got other interesting objects; the ‘selerek‘ boats which was mooring among the sampans and other small colorful boats. Thank to Bli Budi who brought me there  🙂

 

Keterangan :

Selain Pantai Cupel, sebetulnya masih banyak pantai lain di Kabupaten Jembrana yang bisa menyajikan pemandangan cantik saat-saat tenggelamnya sang surya di ufuk barat. Salah satu dari banyak tempat itu adalah Muara Perancak yang juga sempat aku kunjungi setelah berkunjung ke Pantai Cupel. Muara Perancak dapat dengan mudah dicapai karena jaraknya hanya sekitar 6 kilometer dari pusat kota Jembrana.

Sama halnya dengan di Cupel, sebagian besar penduduk Muara Perancak adalah nelayan. Hanya saja ada satu hal yang membuat Muara Perancak menjadi spesial. hal tersebut adalah perahu yang mereka pergunakan untuk menangkap ikan. Nelayan di Perancak mempergunakan perahu yang relatif besar untuk menangkap ikan sehari-hari. Bayangkan saja besarnya kalau panjang perahu tersebut mencapai 15 meter dan lebarnya 3,5 meter dengan awak yang mendekati jumlah 40 orang. Perahu-perahu besar tersebut bentuknya hampir serupa, tetapi warna, hiasan, dan juga ornamen yang melekat di badan perahu sangat bervariasi antara satu perahu dengan perahu lainnya. Sepintas orang akan menyangka kalau perahu-perahu tersebut adalah perahu wisata dan bukannya perahu penangkap ikan karena keindahannya. Perahu-perahu demikian sangat mudah ditemukan berlabuh di Muara perancak, di antara sampan dan perahu-perahu kecil bercadik.

IMG_PRC07

Dari apa yang aku dengar, perahu-perahu demikian memiliki bentuk yang hampir sama dengan perahu-perahu nelayan di Madura dan di Muncar, Jawa timur. Yah hal demikian bisa dimaklumi karena nelayan-nelayan dari Jawa Timur tersebut juga berbagi lahan penangkapan ikan di Selat Bali dengan nelayan-nelayan dari Perancak. Sekarang, jenis perahu penangkap ikan seperti itu, yang oleh penduduk setempat disebut sebagai perahu selerek, juga banyak yang memiliki hiasan dan ornamen khas Bali disamping masih ada juga yang masih memiliki hiasan khas Jawa Timuran.

Badan perahu selerek terbuat dari kayu berkualitas yang tahan terhadap air laut. Di haluan dan buritan perahu tersebut dibuat meruncing ke atas. Bagian yang meruncing ke atas ini disebut ‘linggi’. Perahu-perahu itu juga memiliki dua tiang yang lumayan tinggi, tingginya bisa mencapai lebih dari 2 meter dan terbuat dari kayu juga, satu tiang di bagian depan dan satu lagi di bagian belakang perahu. Kedua tiang tersebut dihubungkan dengan sederetan batang bambu yang diikat melintang dan di cat dengan warna-warna terang. Bagian ini disebut ‘landangan’. Pada saat aku ke Perancak, aku juga  sempat menemukan beberapa perahu kecil yang juga memiliki landangan seperti halnya perahu selerek, meskipun landangan di perahu kecil tersebut tidak terikat pada tiang yang tinggi. Yah paling tidak dengan adanya tambahan landangan tersebut, perahu-perahu kecil itu juga menjadi lebih indah.

IMG_PRC09

Pada saat melaut, perahu-perahu selerek selalu berangkat berpasangan, dimana satu perahu akan difungsikan sebagai perahu penangkap ikan, sementara perahu pasangannya digunakan untuk menampung dan membawa hasil tangkapan tersebut. Sepasang perahu tersebut mirip satu sama lainnya, baik dari segi cat maupun dekorasinya. Perbedaannya hanya pada apa yang terdapat di ujung tiang utama kapal yang terletak di bagian haluan perahu. Pada perahu yang berfungsi sebagai perahu penangkap ikan, di ujung tiang utama itu terdapat semacam panggung kecil beratap. Panggung tersebut akan dipergunakan oleh nakhoda untuk mengarahkan kemana kapal harus menuju. Sementara itu, di kapal yang berfungsi sebagai penampung hasil tangkapan, di atas tiang utamanya tidak terdapat panggungan tersebut melainkan hanya terdapat sebuah hiasan berbentuk perisai yang disebut tabing. Baik panggungan maupun tabing dari perahu selerek yang berpasangan memiliki motif dan juga lukisan indah yang mirip satu sama lain. Tiang perahu satunya yang terdapat di bagian buritan juga dihiasi dengan ornamen yang menambah keindahan tampilan perahu-perahu selerek itu.

IMG_PRC10

Yah memang sih tujuan utama kunjunganku ke Perancak waktu itu tidak tercapai karena cuaca yang kurang bersahabat. Tetapi rasanya aku juga harus mengubur dalam-dalam rasa kecewaku karena aku mendapatkan pengganti yang tidak kalah menariknya, yaitu perahu-perahu selerek yang indah yang aku lihat sedang berlabuh di Muara Perancak, di antara perahu-perahu lainnya yang lebih kecil, yang juga tidak kalah indahnya dengan aneka warna dan juga dengan hiasan umbul-umbulnya. Terimakasih Bli Budi sudah sempat mengajakku menengok Muara Perancak  🙂

Categories: Travel Pictures, Uncategorized | Tags: , , , | 71 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.