Monthly Archives: June 2014

A mosque in a verdant valley

On my way to Bukit Lawang from Bukittinggi, West Sumatra, I passed through a winding road with a verdant valley on the left and lush green hills on the right. My wish to stop for a while on the road side in order to enjoy the green scenery on the valley was become reality when the man who drove the car that I rented, stopped in front of a road-side coffee stall. The stall owner greeted me wholeheartedly and ushered me to the back of his stall even though I refused it politely. As he still insisted, I followed him to find an open terrace that looked over the valley, and what I saw was as appeared in the picture below.

IMG_LAN03

In the valley, there were houses that grouped into a village or the locals called a ‘nagari’. A mosque with its red painted domes looked quite prominent compared to other houses in the village, while lush green paddy fields stretched around the village. I just imagined how the scenery would be when the paddy in the fields had ready to harvest, how the now green fields would turn yellow. I believed that the scenic valley would present its other kind of beauty with yellowish paddy fields around the village at that time.

IMG_LAN01

The stall owner told me that the valley was known as Landia River Valley and the village was called Nagari Sungai Landia or Landia River Village. The village was located in Subdistrict IV Koto, Agam Regency, West Sumatra. Travelers could reach the valley easily from Bukittinggi by about 45 minutes drive through a relatively good and winding road with picturesque scenery along the road.–

Keterangan:

Dalam perjalanan menuju ke Bukit Lawang dari arah Bukittinggi, aku melewati seruas jalan berliku yang berada di tubir bukit. Lembah menghijau di bawah yang tampak di sisi kiri jalan menjadi pemandangan sejuk yang menemani sepanjang ruas jalan itu. Keinginanku untuk berhenti sebentar guna memuaskan mata memandang kehijauan sambil menghirup udara segar terpenuhi ketika kendaraan yang aku tumpangi berhenti di depan sebuah bangunan sederhana yang ternyata adalah sebuah kedai kopi. Pemilik kedainya cukup ramah menyambut, bahkan langsung mempersilahkan masuk. Aku yang memang tidak berminat untuk membeli sesuatu di kedai itu merasa tidak enak dengan tawarannya sehingga menolak dengan halus dan sengaja berjalan menjauh ke samping kedai untuk menikmati keindahan lembah dari situ. Tetapi ternyata lelaki pemilik kedai itu tetap mengajak aku untuk mengikutinya meskipun sudah tahu kalau aku tidak akan berbelanja di kedainya. Diajaknya aku ke arah belakang kedai dimana terdapat beberapa meja dan kursi yang tertata rapi di sebuah teras terbuka yang memberikan pemandangan bebas ke dasar lembah. Dan pemandangan seperti di bawah inilah yang tersaji di depan mata.

IMG_LAN08

Lembah yang menghijau dengan rumah-rumah penduduk yang membentuk suatu nagari atau kampung tampak berada di dasar lembah. Sebuah mesjid dengan kubahnya yang berwarna merah berdiri megah dan cukup menonjol dibandingkan dengan rumah-rumah penduduk yang hampir semuanya memiliki atap berwarna kehitaman. Sawah yang subur menghijau terbentang luas di sekeliling nagari itu. Cukup lama juga aku terpaku melihat pemandangan lembah yang permai ini. Terbayang, bagaimana nuansa keindahan lain yang akan tersaji ketika padi di sawah itu sudah menguning dan siap dipanen.

IMG_LAN07

Ketika aku bertanya mengenai lembah dan perkampungan yang ada di dasarnya itu, aku memperoleh informasi kalau lembah itu dikenal dengan nama Lembah Sungai Landia. Sedangkan desa di dasar lembah itu bernama Nagari Sungai Landia yang masuk dalam wilayah Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam. Tempat ini bisa dicapai dengan berkendara kurang lebih selama 45 menit dari Bukittinggi melalui jalan yang relatif bagus dengan pemandangan indah yang menemani sepanjang perjalanan.

IMG_LAN09

Eh iya, postingan ini kan bersamaan dengan dimulainya Bulan Ramadhan, jadi bersama ini aku juga mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa bagi teman-teman dan semua pengunjung blog ini yang menjalankannya; semoga ibadahnya diterima oleh Allah SWT.–

IMG_LAN04

Advertisements
Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 40 Comments

A waterfall right by a road

West Sumatra was one of many provinces in Indonesia that had so many beautiful sceneries. That was why the province had a big chance to be one of the tourism centers in Indonesia. One of many tourist destinations in there was a small town located in Minangkabau Highlands, called Bukittinggi. But I’m not talking about the cool town, well . . . at least not in this post; I’ll talk about a waterfall that I saw on my way from Padang (the province’s capital city) to Bukittinggi, instead. The waterfall was located in a valley called Anai Valley or “Lembah Anai”, which was why the waterfall was called Lembah Anai Waterfall.

IMG_ANA06

To come to the waterfall was quite easy; travelers could reach the location by car. It was only about 60 to 90 minutes drive from Padang. “Don’t be afraid to miss the fall for it is clearly visible from the main road”, said a hotel attendant when I asked him about the waterfall. And by visiting the waterfall, I proved that what the attendant said was true, for the waterfall was there, right by the main road, even the mist emanating from the more than 40 meters high waterfalls often made the cars passing the road became quite damp.

IMG_ANA01

According to some locals that I met there, there were two other waterfalls aside the waterfall by the main road, but to reach the other two, travelers need more stamina and preparation because those two other waterfalls were located deep inside a natural reserve forest above the first waterfall, and there was no path built for tourists there, yet. I believe that the two waterfalls must be prettier and the atmosphere was also more tranquil than in the first waterfall. Well, I hope that I can reach those two waterfalls when I got another chance to visit the area 🙂

IMG_ANA09

By the way, In front of Lembah Anai Waterfall, there was an old railway track which crisscrossed the main road in several place in the valley. It was not a usual track, it was a rack track instead. A rack track enable a locomotive to drag wagons climbing through a slope. Unfortunately, the track was not in use for regular trains anymore. It was only used for special trains for tourists that embarked from Padang by now.–

Keterangan :

Sumatera Barat merupakan salah satu propinsi yang memiliki potensi yang cukup besar di bidang pariwisata karena memiliki banyak lokasi dengan pemandangan indah, bahkan beberapa di antaranya juga unik. Salah satu yang merupakan daerah tujuan wisata yang cukup terkenal di sana adalah kota Bukittinggi. Ah tapi kali ini aku gak membahas mengenai Bukittinggi sih, paling tidak aku tidak membahasnya dalam postingan kali ini. Kali ini aku hanya akan membahas mengenai sebuah air terjun yang terdapat di tepi jalan utama yang menghubungkan kota Padang dengan Bukittinggi, tepatnya di suatu lembah yang dikenal dengan nama Lembah Anai. Karena lokasinya inilah, air terjun ini juga dikenal dengan nama Air Terjun Lembah Anai.

IMG_ANA07

Air terjun ini benar-benar berada di tepi jalan utama, jadi rasanya mustahil ada orang yang tidak melihatnya kalau sedang melintas di jalan tersebut, kecuali orang itu sedang tidur nyenyak ya :P. Bahkan karena lokasinya yang benar-benar di tepi jalan itu, tampias air yang timbul akibat terjunan air setinggi lebih dari 40 meter di Air Terjun Lembah Anai itu kerap membasahi kendaraan-kendaraan yang lewat di situ.

IMG_ANA08

Menurut beberapa orang yang sempat aku temui di lokasi air terjun itu, sebetulnya masih ada dua air terjun lain di sekitar situ. Tetapi untuk mencapainya dibutuhkan stamina lebih dan tentu juga persiapan mengingat lokasinya yang berada di dalam hutan di atas air terjun yang pertama itu, apalagi jalan menuju kesana belum dibuka untuk tujuan wisata. Aku membayangkan, pastilah di sana suasananya lebih asri dibandingkan di lokasi air terjun pertama yang menurut aku terlalu ramai pengunjung sementara petugas kebersihan kurang, sehingga di lokasi terkesan kotor akibat sampah yang ditinggalkan pengunjung. Nantilah, mudah-mudahan di lain kesempatan aku bisa sampai juga di dua air terjun yang ada di atas posisi Air Terjun Lembah Anai itu.

IMG_ANA05

O ya, di depan Air Terjun Lembah Anai terdapat juga jalur kereta api. Kalau diperhatikan betul, kelihatan kalau rel di situ agak berbeda dibanding rel-rel yang ada di jalur lain, karena yang ada di sana adalah jalur rel bergigi yang memungkinkan lokomotif menarik gerbong di jalur dengan kemiringan di atas normal. Maklumlah karena di situ kereta harus merayap di lamping bukit. Di beberapa lokasi di lembah itu, jalur kereta api berpotongan dengan jalur jalan aspal melalui jembatan-jembatan yang dibangun di atas jalan tersebut sehingga membuat pemandangan bertambah indah. Sayangnya jalur itu sudah tidak dipergunakan lagi untuk angkutan kereta api reguler, sehingga keinginanku untuk bisa memperoleh foto kereta yang sedang melintas di jembatan di atas jalan itu tidak terlaksana. Dengar-dengar sih katanya yang melewati jalur itu sekarang hanyalah rangkaian kereta Wisata, itupun kebetulan sedang tidak jalan ketika aku ke sana 😦 .–

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 48 Comments

Lonely guard on a desolate beach

On my trip to Bangkalan, Madura, I met an old and lonely guard on a desolate beach called Sembilangan. What I meant with the guard, actually was not a human being, it was just an old lighthouse which was erected in 1879 by the Dutch in the colonial era, like it was stated in an inscription above the entrance door to the lighthouse. So it was really old, wasn’t it? And referring to its function, it really like a guard that guiding ships which entering the Surabaya harbor from the Java Sea through the Madura strait, as the lighthouse was located adjacent to the harbour, by the strait. Nowadays, the lighthouse was not in use anymore, even though it still stood intact in its place. At the top of the lighthouse was functioned as the base of a radar antenna which still operated well up till today.

IMG_SEM01

The lighthouse was a 17 storeys metal tower painted in white, and at the 17th floor was the house of the big lamp which was used as the guiding light for many ships that passing the area to the harbor. It was said that the total height of the lighthouse was more than 70 meters. To reach the top, travelers should climb metal stairs level by level. Don’t worry, it was not dark in there because in every level, there were two windows which would give a nice view of the lighthouse’s surrounding area. In the middle of the structure, there was a metal hole which was used for bringing things from the bottom to the top of the lighthouse and vice versa. Perhaps it was a kind of service lift as we know today 🙂

Sembilangan, where the lighthouse was located, was a small village by the sea. It located about 6 kilometres from Bangkalan through a relatively wide road with a good condition. Closing to the lighthouse, however, the road was narrower and a little rough as it passed along an area that used to be a mangrove forest area, although it was only an open area with shallow water now. There was no public transport going directly to the lighthouse, so in order to visit the area, traveler should use a taxi or a hired car.

IMG_SEM05

Not many people come to the lighthouse. So the atmosphere was pretty tranquil in there. In holidays time, however, many people would come to the area as the lighthouse was one of the preferred spot for the locals to spend their holiday time; and at that time, I think, the old guard would not feel lonely at the time like that 😛

Keterangan :

Dalam perjalananku melintasi Bangkalan, Madura, aku sempat berkunjung ke suatu tempat bernama Sembilangan, yang terletak di sebelah baratdaya kota Bangkalan. Pada masa pemerintahan Pangeran Cakraningrat IV, seorang penguasa Madura yang terkenal karena perjuangannya melawan penjajah Belanda, Sembilangan merupakan lokasi Kraton. Baru pada masa pemerintahan Pangeran Cakraningrat V, Kraton dipindahkan ke kota Bangkalan.

the inscription  (plakat di atas pintu mercusura)

the inscription (plakat di atas pintu mercusura)

Apa yang menarik di Sembilangan kalau Kratonnya saja sudah tidak ada lagi sehingga membuat aku mampir ke sana? Mau tahu? Nah . . . di Sembilangan itu ada sebuah mercusuar yang sudah cukup tua. Umurnya sudah lebih dari 100 tahun, tetapi bangunannya masih kokoh loh. Layaknya seorang penjaga yang meskipun sudah tua dan kesepian, tetapi tetap setia menempati posnya di suatu pantai yang sepi. Mercusuar yang dibangun pada tahun 1879 seperti yang tertulis dalam prasasti yang ditempelkan di atas pintu masuknya itu, dulu berfungsi untuk menuntun kapal-kapal yang datang dari arah Laut Jawa masuk melalui Selat Madura dan kemudian merapat di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Katanya sih sekarang mercusuar ini sudah tidak dipergunakan lagi meskipun masih berdiri kokoh. Di puncaknya sekarang ditempatkan peralatan radar yang modern yang masih berfungsi untuk memantau keadaan sekitarnya.

Bangunan mercusuar ini sepenuhnya terbuat dari logam, sehingga ketika berada di dalam badan mercusuar, hampir setiap suara akan terdengar bergema. Bagian luar bangunan yang terdiri dari 17 lantai ini seluruhnya bercat putih, sehingga dari jauh kelihatan cukup mencolok. Untuk menuju ke puncak mercusuar, pelancong harus mendaki satu demi satu anak tangga yang juga seluruhnya terbuat dari metal. Lumayan menguras tenaga juga untuk mencapai puncaknya, tetapi keletihan dan perjuangan encapai puncak akan terbayar ketika pelancong sudah sampai di lantai 17, dimana terdapat lampu suar yang konon dahulu bisa mencapai kejauhan 20 mil itu. Dari teras di lantai 17 itu, pelancong dapat mengedarkan pandangan ke sekeliling mercusuar, yang kalau cuaca cerah akan menyajikan pemandangan yang sangat indah. Di bagian tengah bangunan mercusuar itu, terdapat sebuah lorong vertikal yang dulu dipergunakan untuk menaik turunkan barang dari lantai dasar ke puncak menara. Yah mungkin mirip dengan lift barang jaman sekarang tuh  🙂

Sembilangan terletak sekitar 6 kilometer dari kota Bangkalan. Tidak jauh memang, apalagi dengan kondisi jalan yang cukup bagus. Meskipun demikian, suasana di sekitar mercusuar pada hari-hari biasa tidaklah ramai. Bahkan cenderung sepi. Mungkin ketiadaan kendaraan umum yang melintas di dekat mercu suar menjadi salah satu penyebabnya. Meskipun demikian, pada hari-hari libur, suasana di sana lumayan ramai karena mercusuar ini merupakan salah satu tempat wisata favorit penduduk setempat. Nah pada saat-saat itulah aku rasa ‘sang penjaga tua’ ini tidak akan merasa kesepian. Betul kan? 😛

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 62 Comments

Blog at WordPress.com.