A beach beyond a savanna

Time flies so fast. It has been more than two weeks since my last post. I hope, however, that you still remember what I posted back then.

Yes . . I posted about horses that roamed Mou Dulu Savanna in East Sumba.

Now, I posted about a beach which located close to Mou Dulu Savanna. It was beyond the savanna to be précised. The beach was known as Puru Kambera Beach.

IMG_PUR01

It was close to sunset time when I visited the white sandy beach that had row of pines bordering the beach area. The row of pines made the beach area was not too hot in midday. In holiday time, many locals visited the beach area and relaxing under the pine trees; some of them picnicking while others just laying down and dozing off while enjoying the gentle breeze caressing their body.

IMG_PUR02

Puru Kambera Beach was not too crowded when I was there. On the contrary, it looked deserted. It seemed that only my family was there. Well . . . another “private beach” for me and my family in Sumba :P

IMG_PUR12

Puru Kambera which could be reached in about 1 hour ride from Waingapu was a perfect place to enjoy sunset. Fortunately, when I was there, the weather were quite good, so I could get pretty moments when the sun setting.

IMG_PUR03

Here I share to you all the pretty sunset moments that I captured in Puru Kambera Beach. Enjoy! :D .–

IMG_PUR05 IMG_PUR06 IMG_PUR07 IMG_PUR08 IMG_PUR09 IMG_PUR10 IMG_PUR11

Keterangan :

Waktu berlalu dengan cepat, tak terasa sudah lebih dari dua minggu berlalu sejak terakhir kalinya aku nge-post. Meskipun demikian, aku harap Teman-Teman masih ingat postinganku yang terakhir itu ya, karena postinganku kali ini boleh dibilang merupakan kelanjutannya. Bukan kelanjutan ceritanya sih, tapi kalau mau menuju pantai yang foto-fotonya aku posting kali ini, mau nggak mau harus melewati savanna yang sudah aku sebutkan di postinganku sebelum ini.

Pantai Puru Kambera, demikian orang menyebut pantai yang indah ini. Lokasinya yang tidak terlalu jauh dari Waingapu yang merupakan ibu kota Kabupaten Sumba Timur, menjadikan pantai ini sebagai salah satu tujuan wisata utama bagi penduduk Sumba Timur khususnya. Karena itu, tidaklah heran kalau pada tiap akhir pekan maupun hari-hari libur, Pantai Puru Kambera yang memiliki pasir putih yang terbentang luas di bibir pantainya ini menjadi ramai.

IMG_PUR13

Daya tarik pantai ini tidak hanya dari bentangan pasir putihnya yang mencapai panjang hampir 5 kilometer dengan lebar mencapai 50 meter dan air lautnya yang jernih dengan alun yang tenang saja, melainkan juga dari jajaran pohon cemara yang seolah memagari daerah pantai itu. Nggak bisa dipungkiri bahwa dengan adanya pohon-pohon cemara itu, udara di pantai juga jadi tidak terasa terlalu panas. Banyak pengunjung pantai yang memanfaatkan kerindangannya untuk duduk-duduk santai menikmati belaian angin sambil memandang laut lepas.

IMG_PUR15

Aku kesana tidak pada hari libur dan juga tidak di akhir pekan sehingga aku mendapati Pantai Puru Kambera yang sepi. Boleh dibilang tidak ada pengunjung lain selain aku dan keluargaku sore itu. Yah . . . sekali lagi aku menikmati “kemewahan” karena Pantai Puru Kambera sore itu seolah-olah menjadi pantai pribadi buat aku dan keluargaku :P :P

IMG_PUR04

Pantai Puru Kambera yang bisa dicapai dengan berkendara selama kurang lebih 1 jam dari Waingapu itu merupakan spot yang tepat untuk menikmati saat-saat matahari terbenam. Ketika aku ke sana, kebetulan cuaca cukup cerah sehingga aku cukup leluasa untuk menangkap keindahan saat terbenamnya sang surya di sana.

IMG_PUR14

Bersama postinganku kali ini, aku sertakan juga beberapa hasil jepretanku di Pantai Puru Kambera untuk kita nikmati bersama. Semoga suka ya :) .–

IMG_PUR16 IMG_PUR17

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 25 Comments

Horses at the savanna

Sumba, an island located in the East Nusa Tenggara Province, Indonesia, was known to have local breed horses called Sumba Horses. They were not as big as the famous Arabian Horses, but their endurance and great agility could be compared to the Arabian Horses or to other horses from any parts of the world.

IMG_MOU01

The Sumba Horses was said to be the descendant of Mongolian Horses. According to the history, in the Middle Ages, at the early era of an ancient kingdom called Majapahit in Java Island, the Mongolian troop came to Java Island and brought along with them their horses which they would use in the battle against Javanese soldiers. When the Mongolian troop was defeated, they left the horses behind which then were taken by Majapahit soldiers to be used as their war horses.

IMG_MOU02

Then the horses were used in many expedition held by the kingdom to many parts of the region, including to Sumba. And when Sumba was conquered, some Majapahit Officers who stayed in Sumba started to breed the horses which now were known as the Sumba Horses.

IMG_MOU03

The Sumbanese use the horses for many purposes; as a dowry in a wedding ceremony, as offerings in a traditional funeral ritual, and also being used in the Sumbanese war game where men throwing lance on horseback, called Pasola. Up till now, the horses also represent the owner’s social status.

Sumba Horses could be seen easily in many savannas spread on most part of the island. They were roaming freely without any herdsmen. Late in the afternoon, the horses would went back to their stable by themselves as if somebody herd them to go back to their owners.

IMG_MOU06

These pictures were taken in Mou Dulu, a savanna located on the way to Purukambera Beach from Waingapu, East Sumba. It was such a sight for me to see horses roaming freely together with some buffaloes on a savanna as what I saw was usually cars and motorcycles on a traffic jam :P

IMG_MOU12

IMG_MOU07

Keterangan :

Pulau Sumba di Nusatenggara Timur, sudah lama dikenal memiliki sejenis kuda yang meskipun bertubuh relatif kecil tetapi cukup tangguh. Kuda-kuda itu dikenal dengan nama Kuda Sumba. Ciri khas kuda Sumba selain tubuhnya yang kecil juga warna bulunya yang polos, sangat jarang yang belang.

IMG_MOU08

Dari informasi yang aku dengar, Kuda Sumba merupakan keturunan dari Kuda Mongol yang juga bertubuh kecil dan tangguh. Konon dahulu ketika pasukan Tartar menyerbu Pulau Jawa untuk menghukum Kertanegara, mereka membawa serta kuda-kuda mereka untuk dipergunakan dalam pertempuran. Tetapi akhirnya kuda-kuda itu mereka tinggalkan ketika mereka dipukul mundur oleh pasukan Raden Wijaya. Pada gilirannya, kuda-kuda itu kemudian diambil oleh para prajurit Majapahit dan dipergunakan dalam berbagai ekspedisi dalam rangka mempersatukan Nusantara, termasuk ke Sumba. Nah kuda-kuda yang dibawa ke Sumba ini akhirnya dikembang biakkan di sana oleh penduduk setempat yang kemudian keturunan kuda-kuda itu dikenal dengan nama Kuda Sumba.

IMG_MOU09

Masyarakat Sumba tidak bisa dipisahkan dari kuda-kudanya. Bagi mereka kuda juga merupakan lambang status sosial pemiliknya di masyarakat. Bahkan dalam ritual kematian masyarakat Sumba, ketika pemiliknya meninggal, maka kudanya akan ikut dikurbankan karena mereka percaya bahwa si mati akan menunggangi kudanya di alam kelanggengan. Kuda Sumba juga dipergunakan sebagai seserahan dalam perkawinan adat sumba. Selain dalam berbagai upacara yang menyangkut siklus hidup masayarakat Sumba, Kuda Sumba juga ditunggangi oleh para prajurit Sumba dalam ritual Pasola yang diadakan setahun sekali.

IMG_MOU10

Kuda-kuda Sumba sangat mudah ditemui ketika kita berada di pulau itu. Biasanya kuda-kuda itu dilepaskan di padang rumput yang banyak terdapat di sana. Kuda-kuda itu nampak seperti kawanan kuda liar karena tidak ada penggembala yang mengawasi kawanan kuda yang merumput bersama kerbau atau kambing di padang rumput yang luas. Anehnya ketika malam menjelang, kuda-kuda itu akan berjalan beriringan kembali ke kandangnya masing-masing seolah ada orang yang menuntun mereka kembali ke pemiliknya masing-masing.

IMG_MOU14

Foto-foto yang aku sertakan dalam postingan kali ini aku ambil di Padang Rumput Mou Dulu yang terletak di antara Waingapu dan Pantai Purukambera. Buat aku yang terbiasa melihat mobil-mobil maupun kendaraan bermotor lain yang terjebak kemacetan di jalan, melihat kuda-kuda yang dibiarkan bebas merumput di padang luas tentunya merupakan pemandangan yang luar biasa. Bagaiman dengan teman-teman? :D

IMG_MOU15

IMG_MOU16

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 31 Comments

Welcoming the New Year

Today is December 31, the last day of the year. And as I posted it, it has already been almost midnight in my part of the world. In a couple hours the new day will begin. The dark will soon be replaced by the light. The sun will rise in the east, but this time it will be different compared to the sunrises that happened before. The very next sunrise will mark the New Year. The year 2016.

IMG_WAL01

A new year represents a new hope. Let’s leave all the bad things behind as we move forward to pursue more successes. There will be many challenges that should be conquered, as well as many obstacles that should be faced; but behind all those challenges and obstacles, there must be successes waiting for them who can pass all the difficulties they found along the way.

Sunrise is a special moment when the dark gradually vanishing and turn into light, when night become day. The process usually being waited by many sunrise lovers because of its beauty. The beautiful scene will be more perfect if we enjoy it from a beautiful place too.

IMG_WAL02

The place where I took these pictures, for example, was quite pretty. It’s called Walakiri Beach. The beach, like many other beaches in Sumba Island, Indonesia, was sloping and the sand on the beach was white. The water was quite clear and waves were not too big. Coconut trees were standing along the shore and made scenery at the beach more picturesque.

IMG_WAL03

Walakiri Beach was located about 24 kilometers from Waingapu to the east. The road to the beach area was quite good, and travelers could reach the beach in about 30 minutes drive from Waingapu. Unfortunately, it seemed that no public transport covering the area although the beach was one of the locals most preferred beach to visit on the week-end and in the holiday time. To visit it, travelers should rent a car from Waingapu.

IMG_WAL07

On the shore, travelers could enjoy the tranquil atmosphere of the sunrise as well as the warm atmosphere of the sunset as the beach was facing north, to the Sumba Strait. At that time, I was there early in the morning to catch the sunrise, perhaps next time I will go there in the afternoon to enjoy the sunset

And as this is my last post in 2015, before I close it, allow me to wish you all my friends, a happy and prosperous new year in 2016  :)  .—

IMG_WAL11 IMG_WAL12 IMG_WAL13 IMG_WAL14 IMG_WAL15

 

Keterangan :

Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2015. Ya . . sekarang sudah tanggal 31 Desember; dan ketika aku meng-up load tulisan ini, waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam di sini. Jadi . . beberapa saat lagi hari baru akan terjelang. Kegelapan akan segera digantikan dengan terang yang ditandai dengan terbitnya sang surya di ufuk timur.

Hal yang selalu terulang tiap hari kan?

Ah tapi kali ini beda. Kali ini terbitnya sang surya akan menandai datangnya tahun yang baru. Tahun 2016.

IMG_WAL08

Tahun yang baru berarti juga harapan yang baru. Mari kita tinggalkan hal-hal yang jelek dan tidak mengenakkan yang kita alami di tahun 2015 dan kita terus maju untuk menyongsong kesuksesan baru di tahun 2016. Tentunya akan banyak tantangan maupun rintangan yang harus kita hadapi di tahun yang baru, tetapi yakinlah bahwa setelah semua penghalang itu bisa kita taklukan, kita akan memperoleh hasil yang sepadan dengan perjuangan kita.
Saat-saat terbitnya sang bagaskara adalah saat-saat yang bagi banyak orang dipandang sebagai saat-saat yang penuh misteri sekaligus juga penuh keindahan. Saat-saat kegelapan secara perlahan digantikan dengan terang biasanya membuat langit penuh warna dan nampak sangat indah, apalagi kalau kita menyaksikan saat-saat itu dari tempat yang indah juga.

IMG_WAL09

Pantai dimana aku mengabadikan momen terbitnya sang matahari yang hasilnya aku sertakan dalam postinganku kali ini, misalnya, tampak cukup indah. Pantai ini dikenal dengan nama Pantai Walakiri. Dan seperti di kebanyakan pantai lain di Sumba, Pantai Walakiri selain landai juga berpasir putih. Airnya yang jernih dan berombak kecil cukup menggoda siapapun untuk bermain air di situ. Deretan pohon kelapa yang berdiri di tepi pantai menambah keeksotisan Pantai Walakiri, apalagi di sisi barat juga terdapat rumpun mangrove dengan bentuknya yang unik yang juga memberikan kesan tersendiri bagi siapapun yang berkunjung ke sana.

IMG_WAL10

Pantai Walakiri ini cukup dekat dengan Waingapu; jaraknya kurang lebih hanyalah 24 kilometer dari Waingapu. Akses jalan menuju pantai ini dari Waingapu juga cukup lebar dan beraspal mulus disamping tentu saja relatif tidak macet. Waktu tempuh rata-rata dari Waingapu ke Pantai Walakiri hanyalah 30 menit. Karena itu pantai ini menjadi lokasi favorit bagi penduduk setempat untuk menghabiskan hari-hari libur mereka; hanya saja kelihatannya belum ada kendaraan angkutan umum yang melayani rute dari Waingapu ke Pantai Walakiri ini, sehingga para pelancong yang ingin berkunjung ke pantai ini haruslah mempergunakan kendaraan pribadi ataupun mempergunakan kendaraan sewa yang bisa diperoleh di Waingapu.

Pantai Walakiri menghadap ke Utara, ke arah Selat Sumba. Dan karena posisinya itu, pelancong dapat menikmati saat-saat terbitnya matahari seperti maupun saat-saat terbenamnya sang surya. Ketika itu, aku hanya berkesempatan menikmati saat-saat terbitnya sang bagaskara, mudah-mudahan saja aku memperoleh kesempatan berkunjung lagi ke sana pada sore hari, sehingga akan lengkaplah perjalananku ke Pantai Walakiri karena bisa menikmati fajar dan senja dari pantai yang sama.

IMG_WAL16

Kemudian, karena ini adalah postinganku yang terakhir di tahun 2015, sebelum aku mengakhiri tulisan ku kali ini, perkenankanlah aku menyampaikan Selamat Tahun Baru kepada semua rekan, sahabat dan juga semua yang sempat mampir dan membaca tulisanku ini. Mudah-mudahan tahun 2016 lebih baik dan membawa banyak kebahagiaan buat kita semua. Amin.–

IMG_WAL17

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 24 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,500 other followers