A natural stairway for water

Kediri, a small town in East Java, was formerly a powerful Javanese Hindu kingdom in the 11th to 13th century, before it had been defeated by the later Singhasari kingdom. It said that once, Kediri was attacked by a neighboring kingdom that sent its mightiest warrior called Iro Manggolo. The order from the king was very clear, that Iro Manggolo was not allowed to return without victory. But, alas . . . Kediri had a strong warrior too, and he led Kediri troops to intercept Iro Manggolo’s army.

Following the battle between the armies, the two warriors fought furiously, not only with weapons and their martial art skills, the two also used their magical and supernatural powers to defeat each other. At last, Iro Manggolo was the one who defeated. He was arrested, but later on was pardoned and released so he could go back to his own couIMG_IRE01ntry. Iro Manggolo refused to return to his king for he remembered the king strict order, he went to the nearby mountain, called Mt. Wilis, instead, and lived there as a hermit in the mountain slope close to pretty waterfall. His remaining soldiers accompanied him and later on became the ancestors of the people who lived close and around the waterfall. As time went by, the waterfall itself was named Irenggolo Waterfall as a commemoration for Iro Manggolo, the warrior.

Nowadays, Irenggolo Waterfall became one of Kediri’s points of interest. Located on 1,200 meters above sea level, made the climate on location was quite cool along the year. That was why many locals came to the place to refresh their body and mind from their daily routine. More than that, to reach the waterfall was not a big deal because it was only 28 kilometers away from Kediri and the road to the location was quite good.

Irenggolo Waterfall was quite unique. The water was not jumped over a cliff and fell to a pond at the foot of the cliff; in there, the water was flowed through a rocky slope that looked like a stairway, instead. To reach the waterfall, travelers should walk through a man made path for about 200 meters from the parking lot. Please be careful if travelers came in the rainy season because the path would be quite slippery.

IMG_IRE02

In order to make Irenggolo Waterfall being one of the region’s tourist destinations, the local government had already built some facilities close to the parking lot, such as simple food and refreshment stalls, praying rooms, toilets, and a simple children play ground. But it was quite a shame that most of the facilities were not in good condition, at least that was what I saw when I went there. Trash could be easily seen scattered in some places, too :(

Well . . . I hope that when I have another chance to visit Irenggolo Waterfall, I will find a much better condition than what I saw back then.—

IMG_IRE04

Keterangan :

Kediri, sebuah kota kecil di Jawa Timur, pada abad ke-XI sampai abad ke-XIII merupakan salah satu kerajaan Hindu Jawa yang cukup tangguh sebelum akhirnya lenyap setelah dikalahkan dalam penyerbuan yang dilakukan oleh Kerajaan Singhasari.

Menurut cerita yang dituturkan secara turun temurun, suatu ketika Kediri diserang oleh kerajaan tetangga yang iri dengan kemajuannya. Pasukan penyerbu dipimpin oleh Panglima Iro Manggolo yang terkenal sebagai seorang panglima pilih tanding. Sebelum melaksanakan missinya itu, Panglima Iro Manggolo sudah diperingatkan oleh rajanya bahwa missinya itu haruslah berhasil dan jika gagal Iro Manggolo tidak diperkenankan kembali ke negaranya.

Tapi . . ternyata Kerajaan Kediri sudah mengetahui akan adanya penyerbuan itu berkat informasi yang dibawa oleh pasukan telik sandinya. Karena itulah sebelum pasukan yang dipimpin Iro Manggolo masuk terlalu jauh ke dalam wilayah Kerajaan Kediri, pasukan itu sudah dicegat oleh pasukan Kediri yang dipimpin oleh seorang panglima yang tidak kalah tangguh dari Iro Manggolo.

Pertempuran segera pecah di antara kedua pasukan itu, para panglima kedua belah pihak pun turun langsung dalam pertempuran dan berhadapan untuk saling menjajal ketangguhan lawan. Tidak hanya dengan tangan kosong dan senjata, IMG_IRE03segala aji kesaktianpun dikeluarkan oleh kedua panglima ini untuk mengalahkan lawannya. Japa mantra yang membuih di mulut mereka menjadi bukti bagaimana ketatnya pertarungan kedua pemimpin pasukan itu. Sayang . . . pada akhirnya Iro Manggolo harus mengakui ketangguhan panglima Kediri. Tetapi meskipun sudah dikalahkan, Iro Manggolo tidaklah dibunuh, bahkan akhirnya dibebaskan bersama sisa pasukannya.

Iro Manggolo yang tahu bahwa dia tidak mungkin kembali lagi ke kerajaannya karena kekalahannya itu akhirnya meminta ijin kepada Raja Kediri untuk menetap bersama sisa pasukannya di wilayah Kediri, dan tempat yang dipilihnya adalah lereng Gunung Wilis di dekat sebuah air terjun yang indah. Ketika ijin diperolehnya, Iro Manggolo tinggal di tempat itu sampai wafatnya. Sisa prajuritnya dipercaya menjadi nenek moyang penduduk setempat. Sementara air terjun yang ada di tempat itu dinamai Air Terjun Iro Manggolo untuk mengenang Sang Panglima. Nama Air Terjun Iro Manggolo lama kelamaan berubah menjadi Air Terjun Irenggolo sampai sekarang.

Air Terjun Irenggolo merupakan air terjun yang cukup unik menurut aku, karena air di Air Terjun Irenggolo tidaklah terjun ke bawah dari atas tebing, melainkan mengalir melalui sebuah lereng berbatu yang berbentuk seperti undak-undakan sehingga menghasilkan sebuah pemandangan yang indah. Udaranya pun sejuk karena air terjun ini terletak di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Jarak dari kota Kediri yang hanya 28 kilometer melalui jalanan menanjak berkelok dengan aspal yang cukup halus membuat banyak warga Kediri menjadikan Air Terjun Irenggolo menjadi salah satu tujuan mereka untuk mencari tempat tetirah setelah lelah berkutat dengan kegiatan rutin mereka masing-masing.

IMG_IRE06

Sebetulnya Pemerintah Daerah setempat sudah berusaha membuat Kawasan Air Terjun Irenggolo menjadi salah satu tujuan Wisata andalan Kediri, terbukti dengan telah dbangunnya fasilitas penunjuang di situ. Lapangan parkir, warung yang menjual makanan dan minuman, mushola, gerai cendera mata, toilet, bahkan sebuah arena bermain telah di bangun di sana. Sayangnya hampir semuanya dalam kondisi tidak terawat ketika aku ke sana :(.

IMG_IRE05

Mudah-mudahan saja semua fasilitas itu bisa segera diperbaiki, siapa tahu akan menarik lebih banyak pengunjung, yang pada gilirannya akan mengisi kas daerah juga. Sayang kan kalau keindahan alam yang ada dinodai dengan adanya fasilitas yang rusak ataupun sampah yang tercecer?

Air Terjun Irenggolo memang indah, dan rasanya semua orang juga akan mengakui keindahannya dan tidak bosan-bosannya juga mengabadikannya, termasuk anakku yang mengabadikan aliran airnya yang seolah berlomba menuruni undakan batu itu. Di bawah ini, aku sertakan 3 foto hasil jepretannya.–

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 12 Comments

Paris? No, it was not in Paris

Seeing the picture below, at a glance people would think that I was taking pictures of the Arc de Triomphe in Paris. But . . . it was not the famous Paris landmark we knew as the Arc de Triomphe, although it seemed pretty similar, especially when we looked at it from a distant. The structure I brought to you in the post was known as The Simpang Lima Gumul Monument. The monument was the new landmark of Kediri, a small town in East Java, which was located about 120 kilometers from Surabaya to the south west.

IMG_SLG01

The monument itself was located amidst a square in the middle of a big intersection of 5 main roads in an area called Gumul. The roads were led to Kediri City Center, and the others were led to Plosoklaten, Pamenang, Pesantren and North Pare. The square itself had an area of 804 square meters.

The Simpang Lima Gumul Monument was started to be built in 2003, and then inaugurated in 2008. The inspiration behind the construction of the monument was of the idea of King Jayabaya, who in the 12th century determined to unify all five areas in the whole Kediri region. Jayabaya was a great king of the ancient Kediri Kingdom.

IMG_SLG02

As I stated before, the base area of the monument was of 804 square meters. It was 25 meters high with three 3 meters high stairs in it. It was laso had three underground tunnels which led to areas across the street that became parking lots for a time being. The figures indicated the date of the supposedly Kediri’s inauguration, March 25, 804 AD. At the four outer walls of the monument, there were some carved stone panels depicting Kediri’s people, Kediri’s culture and also the history of the region.

Nowadays, the Simpang Lima Gumul Monument became one of the region’s points of interest. Many people came to the area just to spend their time with their friends, relatives and families. Some events, either cultural or commercial, were also conducted in the area. No wonder in holiday time, the monument and its surrounding area was quite crowded :cool:

 

Keterangan :

Jika sepintas melihat bangunan berbentuk hampir seperti kubus itu, orang tentu akan berpikir bahwa bangunan itu adalah salah satu bangunan terkenal yang ada di Paris, Perancis. Ya . . . memang sih, secara sepintas bangunan ini memang sangat mirip dengan Arc de Triomphe yang menjadi monumen untuk mengenang para pejuang Perancis yang gugur dalam pertempuran membela kejayaan Perancis dalam Revolusi Perancis dan dalam Perang Napoleon. Meskipun demikian, bangunan yang fotonya aku pasang dalam postinganku kali ini bukanlah Arc de Triomphe di Paris. Bangunan ini ada di Indonesia, di salah satu daerah di Jawa Timur malah. Heran? Jangan heran, karena bangunan ini betul-betul terletak di Desa Tugurejo, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri. Tepatnya di suatu tempat yang dikenal dengan nama Gumul, kurang lebih 6 kilometer dari Kota Kediri. Bangunan megah ini dikenal dengan nama Monumen Simpang Lima Gumul atau banyak yang menyebutnya sebagai Monumen SLG.

IMG_SLG07

Disebut Monumen Simpang Lima Gumul karena monumen ini betul-betul berdiri di tengah-tengah persimpangan lima buah jalan utama yang melintasi daerah Gumul itu. Ke lima jalan itu masing-masing menuju ke kota Kediri sendiri, kemudian ke Plosoklaten, Pamenang, Pesantren dan ke Pare Utara.

Bangunan yang sekarang menjadi salah satu ikon dan kebanggaan masyarakat Kediri itu mulai dibangun pada tahun 2003 dan diresmikan pada tahun 2008. Menurut informasi, monumen ini dibangun karena terinspirasi tekad Prabu Jayabaya, seorang raja agung di Kerajaan Kediri pada abad ke-12, yang ingin mempersatukan kelima wilayah yang ada di kerajaannya itu.

IMG_SLG08

Mengenai fisik bangunannya sendiri, luas keseluruhan bangunan itu adalah 804 meter persegi dengan tinggi 25 meter. Bangunan ini memiliki 3 buah tangga dengan tinggi masing-masing 3 meter, dan memiliki tiga buah lorong bawah tanah yang menghubungkannya dengan beberapa tempat di sekitarnya yang sekarang dipergunakan sebagai lahan parkir kendaraan pengunjung monumen. Angka-angka tersebut sebenarnya menggambarkan tanggal kelahiran Kediri, yaitu 25 Maret tahun 804 Masehi. Di dinding bagian luar bangunan terdapat beberapa relief yang menggambarkan keadaan masayrakat Kediri, beberapa kesenian yang ada di daerah Kediri, dan juga sejarah Kediri. Langit-langit bangunan tersebut berbentuk kubah, sedangkan di bagian dasarnya terdapat juga toko cendera mata, yang sayangnya menurut aku koq kurang tepat dibilang toko cendera mata karena toko tersebut tidak menjual sesuatu yang bisa dibawa pengunjung sebagai kenangan setelah berkunjung ke sana.

Sekarang ini Monumen Simpang Lima Gumul selain menjadi ikon kebanggaan masyarakat, juga menjadi salah satu daya tarik wisata. Khususnya bagi masyarakat sekitar. Apalagi pemerintah setempat memang merencanakan untuk mengembangkan kawasan Gumul sebagai kawasan terpadu dan akan melengkapinya dengan berbagai fasilitas seperti hotel, mall, arena bermain dan sebagainya. Berbagai kegiatan juga sudah mulai banyak yang diselenggarakan di situ, baik kegiatan kesenian, kegiatan amal, bahkan kegiatan yang bersifat komersil. Makanya, tidaklah heran kalau kawasan Monumen Simpang Lima Gumul ini selalu dipadati pengunjung, baik yang hanya datang sekedar karena ingin tahu, maupun yang datang ke sana sengaja untuk duduk-duduk menghabiskan waktu bersama teman maupun keluarga :cool:

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 12 Comments

Way of the Cross in a unique church compound

Today was a special day for all Christians around the world because today they celebrating the resurrection of Jesus the Savior from the dead. Yes, today was known as Easter. So, in this special occasion, I wish you who celebrate the occasion a very Happy Easter. May God bless you and your loved ones.

Anyway, in this post I’ll bring you to a unique church in a small town in East Java, Indonesia, called Kediri. To be precise, the church was located at the foot of Mount Wilis and known as Gereja Katolik Puhsarang (Puhsarang Catholic Church). It was unique because the style of the church building itself was an acculturation of a typical church with a local royal building.

IMG_PUH01

In the church’s compound, there was a replica of Virgin Mary statue in Lourdes. Because of that, Gereja Katolik Puhsarang also known as one of the pilgrimage destination among Catholics, especially in Java.

IMG_PUH02

Close to the Virgin Mary statue, there was a series of statues which representing scenes in the passion of Christ. There were 15 stations that each of them corresponded to a specific incident, started from first station that depicted when Christ was condemned to death to the last station depicting the empty tomb after the resurrection.

The quiet atmosphere in the compound really helped people who came to the place to communicate with the God. No wonder many people came to the place, not only they who came to pray, but also they who came just to know about the place and to enjoy the stillness in the place.—

Keterangan :

Hari ini adalah hari yang memiliki makna khusus bagi umat Kristiani di seluruh dunia karena pada hari ini umat Kristiani sedunia merayakah kebangkitan Yesus Kristus dari kuasa maut. Ya hari ini adalah Hari Raya Paskah. Karena itu, pada kesempatan ini, kepada mereka yang merayakannya, perkenankanlah aku juga menyampaikan Selamat Hari Raya Paskah, semoga Tuhan selalu memberkati

Pada kesempatan ini juga, aku ingin mengajak pengunjung blog ini ke Kediri, tepatnya ke sebuah gereja unik yangterletak di kaki Gunung Wilis. Gereja tersebut dikenal dengan nama Gereja Katolik Puhsarang meskipun nama sebenarnya adalah Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang seperti yang tertera di bongkahan batu berukir di depan gereja.

IMG_PUH19

Gereja ini dibilang unik karena bentuk bangunannya memang tidak seperti bentuk bangunan gereja pada umumnya. Bangunan Gereja Katolik Puhsarang merupakan perpaduan bentuk bangunan istana jaman Majapahit dengan bangunan gereja yang disesuaikan dengan iman Kristiani.

Di bagian depan bangunan gereja, terdapat halaman yang cukup luas dimana terdapat beberapa warung yang menjual cendera mata rohani maupun makanan. Ada pula beberapa makam yang menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi beberapa biarawan dan biarawati. Di halaman itu pulalah terdapat dua buah tugu. Tugu yang pertama di puncaknya terdapat relief Yesus dengan segala kebesarannya sebagai raja dan tugu yang kedua dengan atap mirip rumah tradisional Minang, menaungi patung Bunda Maria. Di halaman depan itu pulalah terdapat relief-relief jalan salib yang tampak sudah cukup tua. Meskipun demikian, bukan stasi-stasi jalan salib di halaman depan ini yang menarik perhatianku, melainkan justru yang terletak di halaman belakang gereja.

Nah . . dengan masuk melalui samping Gedung Serba Guna Emaus yang berbentuk pendopo dengan altar di bagian depannya, aku menyusuri jalan setapak menuju ke bagian belakang gereja.

IMG_PUH23

Di bagian belakang gereja yang dibangun oleh Romo Jan Wolters CM pada tahun 1936 ini, terdapat sebuah Gua Maria yang merupakan replika dari Gua Maria Lourdes di Perancis.

IMG_PUH24 Di dekat Gua Maria itulah, melingkari sebuah bukit kecil yang rindang karena naungan pohon-pohon besar, tampaklah patung-patung seukuran manusia bercat kuning keemasan yang menggambarkan kisah sengsara Yesus. Ya itulah rangkaian stasi jalan salib yang di situ diberi nama Jalan Salib Bukit Golgota. Semuanya ada 15 perhentian. Memang di Puhsarang agak unik karena jika biasanya hanya ada 14 stasi atau perhentian yang menggambarkan peristiwa tertentu dalam kisah sengsara Yesus yang dimulai sejak Yesus dijatuhi hukuman mati sampai Yesus dimakamkan; maka di Puhsarang terdapat stasi atau perhentian yang ke lima belas yang menggambarkan kubur kosong karena Yesus telah bangkit.

Suasana di sana yang tenang betul-betul sangat mendukung bagi mereka yang datang untuk berdoa. Ya memang Gua Maria yang ada di bagian belakang Gereja Katolik Puhsarang memang sudah cukup dikenal di kalangan umat Katolik, khususnya di Pulau Jawa, sebagai salah satu tujuan Wisata Ziarah. Meskipun demikian, ternyata yang datang ke sana tidak hanya melulu mereka yang ingin berdoa. Seperti yang aku temui ketika aku berkunjung ke sana, tampak beberapa orang yang datang kesana benar-benar hanya untuk berwisata. Memang Gereja Katolik Puhsarang dan juga kompleks Gua Maria Puhsarang terbuka untuk siapapaun yang ingin berkunjung, hanya saja diharapkan meraka yang hanya berwisata dan melihat-lihat jangan sampai mengganggu mereka yang sedang berdoa.–

IMG_PUH17

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 24 Comments

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,393 other followers