Waiting for sunrise at the beach

That day was my last day in Malang, East Java, and once again I had to wake up very early because I planned to chase the sunrise in another Malang’s beach. That time I wanted to go to beach called Pantai Goa Cina which literally translated as the Beach of a Chinese Cave.

IMG_PGC01

And as other beaches which I had visited before, to reach the beach I had to drive about 2 – 3 hours from my hotel in Malang. So . . with a little worry about the weather, I departed at 2.30 AM, hoping that by 5 AM I would be already at the beach to greet the first ray of the sun. Along the way, I often looked at the sky, and you know what? I became more and more worry. The cloud which hanging quite low started to spit and drizzle showered my car all the way to the south. After about an hour, however, seemed that I had left the cloud and the drizzle behind. I started to see the morning star on my left following my car . . . and thank goodness I came at the beach on time. Hurriedly I ran to the beach to wait for the sun to show his bright face. I saw many people had already been there, too. All eyes set to the east eager to see the first sign of sunrise, while thin clouds started to form as if wanted to conceal the sun from all the eyes waiting for a spectacular sunrise.

IMG_PGC02

The sun, however, did not want to be blocked by the thin cloud; he started to show his power and his rays piercing through the cloud which in turn made the eastern sky as if painted with bright colors of yellow, orange and red over the blue sky.

And as the sun rose higher, I started to explore the beach. I found that the beach was not a really sandy beach. Close to the water, there was corrals which was quite slippery in some parts. There was also an islet not too far from the beach. Travelers could walk to the islet at low tide.

IMG_PGC07

More to the west, bordered by a small hill where there was a natural cave which was became the origin of the beach name, there was another beach. It was a beach with white sands along the shore. Further to the sea, some rocks islet decorated the horizon as if guarding the beach from the raging waves of the southern ocean. And their jobs looked quite success as the wave reaching the shore was pretty gentle. Travelers, however, were forbidden to swim there as the current was quite strong and very dangerous.

IMG_PGC08

Actually, spending two or three hours there was not enough for me to capture the beach scenery; but realizing that I had to be back to Malang and preparing my things for flying back to Jakarta forced me to leave the beach. Well . . perhaps next time I’ll be back there to explore other parts of the beach, including the cave :cool: .–

IMG_PGC09 IMG_PGC10

 

Keterangan :

Hari itu adalah hari terakhirku di Malang; meskipun demikian bukan berarti aku bisa santai dan leyeh-leyeh di kamar hotel menanti waktu diantar ke airport. Sebaliknya, aku justru memilih untuk bangun beberapa saat setelah lewat tengah malam karena aku masih berkeinginan untuk menguber momen matahari terbit di pantai lain yang belum aku kunjungi sebelumnya. Tujuan pagi itu adalah Pantai Goa Cina yang lokasinya sebenarnya tidak terlalu jauh dari Pantai Sendang Biru.

Lokasi Pantai Goa Cina berjarak kurang lebih 70 kilometer dari kota Malang dengan akses jalan yang tidak semuanya lebar dan mulus, bahkan mendekati lokasi bisa dikatakan jalannya lumayan hancur, atau malah bisa dibilang belum dibuat jalanan beraspal. Nah . . .jadi ceritanya waktu itu aku berangkat sekitar jam 2.30 pagi ketika semua orang masih tidur nyenyak dengan harapan sebelum jam 5 subuh aku sudah bisa berada di pantai untuk menyaksikan terbitnya sang surya. Ya meskipun menghadap ke selatan, tetapi Pantai Goa Cina memungkinkan para pengunjungnya untuk menyaksikan sunrise dari tepi pantai.

Subuh itu aku berangkat dengan perasaan waswas. Bagaimana tidak, setelah malamnya Malang diguyur hujan deras, pagi itupun awan mendung masih terlihat melayang rendah di langit Malang. Bahkan tidak lama setelah kendaraan dipacu ke arah selatan di jalan yang masih sepi itu, hujan rintik mulai turun, sehingga semakin memuncaklah kekuatiranku, jangan-jangan aku bangun subuh pagi itu sia-sia belaka karena momen terbitnya matahari tidak akan bisa didapat. Untunglah setelah kurang lebih satu jam berkendara, gerimis mulai reda. Planet Venus yang bersinar cemerlang mulai tampak di sisi kiri seolah menemani perjalananku menuju Pantai Goa Cina. Dan . . untung aku bisa mencapai pantai sesuai dengan target, dan syukurlah hujan tidak turun di kawasan pantai. Segera aku bergegas mengarah ke pantai untuk menanti saat-saat munculnya Sang Surya di ufuk timur bersama banyak pengunjung lain yang telah lebih dahulu tiba di pantai. Saat semburat keemasan mulai muncul, saat itu juga awan mendung mulai terbentuk di langit timur, seolah-oleh memang sengaja mau menutupi ke cemerlangan sinar matahari.

IMG_PGC06

Untungnya Sang Bagaskara tidaklah sudi kalau wajahnya yang gemilang itu ditutupi awan mendung. Sinarnya yang terang menembus lapis demi lapis awan yang pada gilirannya membuat langit seolah menjadi kanvas raksasa yang berwarna biru dengan torehan warna kuning, jingga dan merah dengan pola-pola abstrak yang indah.

IMG_PGC11 IMG_PGC12

Semakin tinggi matahari pagi itu, membuat keadaan juga semakin terang. Langit yang semula berwarna biru tua, berangsur berubah menjadi biru muda. Meskipun demikian, gumpalan-gumpalan  awan yang ada masih tetap membiaskan warna yang indah meskipun sekarang didominasi warna kuning.

Ketika matahari semakin meninggi lagi dan suasana pantai juga semakin benderang, tampaklah bahwa kawasan pantai di tempat aku menunggu terbitnya matahari itu tidak semuanya tertutup pasir. Bagian yang dekat tepi air terdiri dari batuan karang yang di beberapa bagian lumayan licin tertutup lumut. Di bagian yang berpasir pun beberapa batu karang tampak menonjol seolah-olah mengintip dari balik pasir. Tidak jauh dari pantai, terdapat sebuah pulau karang yang bisa dikunjungi dengan berjalan kaki ketika laut sedang surut.

IMG_PGC18

Lebih ke barat lagi, terdapat sebuah bukit rendah yang seolah menjadi pembatas dengan bagian pantai yang sepenuhnya berpasir putih. Jauh di tengah laut tampak beberapa gugusan karang yang seolah menghias cakrawala sehingga menambah keindahan panorama pantai.

IMG_PGC19

Kembali ke bukit rendah yang jadi pembatas itu, nah di situlah terdapat sebuah goa yang dulu pernah dijadikan tempat bertapa oleh Hing Hok, seorang Cina yang bertapa selama bertahun-tahun di sana, bahkan sampai akhirnya meninggal pula di sana. Dan itu pulalah sebabnya kenapa pantai tersebut diberi nama Pantai Goa Cina. Pemerintah setempat sudah pula membangun sebuah gapura dengan bentuk mirip bangunan Cina untuk lebih menguatkan nama pantai itu.

IMG_PGC20

Ah . . . waktu terasa cepat berlalu kalau sedang menikmati keindahan alam. Kalau saja aku tidak harus segera kembali ke Malang untuk selanjutnya bersiap-siap menuju ke airport untuk kembali ke Jakarta, mau rasanya berada lebih lama lagi di sana. Yah mudah-mudahan saja aku masih punya kesempatan untuk kembali ke Pantai Goa Cina untuk menjelajahi sudut-sudut pantainya yang belum sempat aku datangi, termasuk juga melongok ke dalam goa yang melegenda itu yang waktu itu belum sempat aku datangi :cool: .–

IMG_PGC17

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 6 Comments

The temple on a rock

After finishing our late lunch in Malang, East Java, my friend and I hurriedly drove to the south; yes . . . we intended to visit another Malang’s beach that afternoon, and as also like other beaches in the area, travelers should spend about 2 to 3 hours by car to reach the beach. And as public transports were not available to the beaches, travelers should rent a taxi to go there.

At that time, we decided to go to Balekambang Beach that located about 65 kilometers from Malang to the south. Drizzles along the road to the beach were not reducing our intention to go there. We still hoped that the sky would be quite clear at the beach so we could enjoy sunset in there which was already known to the locals as one of the best spot to enjoy sunset in the area.

Arrived at the beach area at about 5.00 PM we started to explore the beach. First we went to the left side of the beach until we reached an estuary of a small river with its clear water. After spending several minutes there, we started to go back and walked to the west along the white sandy beach that span almost 2 kilometers long, when at the distance I saw a very big corral rock off the shore with a temple on it.

IMG_PBK01

When we reached the place, the locals told us that the rock was an islet and bear the name Ismoyo. There were two other islets close to Ismoyo and called Anoman and Wisanggeni. On top of Ismoyo Islet, there was a Hindhu Temple called Pura Amerta Jati. Up till now, the temple was still in use by Hindhu people to pray, so it considered a sacred place for them.

IMG_PBK07

Ismoyo Islet was connected to the beach with a 100 meters stone bridge. It was said that the temple was built in 1985. The main design was imitating the temple in Tanah Lot Bali which was also built on a giant corral off the beach. The structure of the temple, however, was not looked like the ones in Bali. It was more to look like other ancient Hindhu temples which were easily found scattered on the area.

Anyway, even though the sky was not as clear as we hoped, we still admit that Balekambang Beach with its temple on the rock was one of the best spot to enjoy sunset in the area. Don’t you agree? :) .—

IMG_PBK12IMG_PBK06

 

Keterangan:

Setelah menyelesaikan makan siang yang sangat terlambat dengan menu nasi rawon di sebuah warung, aku berdua temanku bergegas kembali ke mobil yang akan membawa aku dan temanku siang menjelang sore itu keluar kota Malang. Begitu kami sudah di dalam, kendaraan segera dipacu mengarah ke selatan. Ya . . siang menjelang sore itu tujuannya memang berkunjung ke pantai lagi. Dan seperti pantai-pantai lain di daerah Malang yang semuanya menghadap ke Samudera Hindia, butuh waktu sekitar 2 sampai 3 jam untuk mencapainya. Maklum saja, rata-rata pantai di daerah itu berjarak sekitar 60 sampai 70 kilometer dari Malang melalui jalan yang tidak semuanya mulus, belum lagi di beberapa tempat lalu lintasnya lumayan padat.

Waktu itu, aku dan temanku memutuskan untuk mengunjungi Pantai Balekambang. Pantai ini berjarak sekitar 65 kilometer dari Malang. Gerimis yang turun sepanjang perjalanan siang menjelang sore itu tidak menyurutkan niat untuk berkunjung ke pantai yang dikenal sebagai salah satu spot tercantik untuk menyaksikan saat-saat terbenamnya matahari. Di sepanjang perjalanan itu, tak hentinya aku dan temanku berharap agar awan-awan hitam yang bergelayut rendah itu tidak ikut sampai ke Pantai Balekambang sehingga keinginan untuk menikmati senja di sana tidak terhalang.

Sekitar jam 5 sore, mobil yang aku tumpangi sudah masuk ke kawasan pantai dan segera di parkir di tempat yang telah disediakan. Aku dan temanku langsung turun dan mulai menjelajah kawasan pantai itu. Mula-mula kawasan pantai di sebelah kirilah yang dijelajahi sampai akhirnya mentok di sebuah muara sungai kecil. Setelah menghabiskan beberapa saat di situ, segera aku dan temanku berbalik dan kembali ke arah darimana kami datang, ke arah barat. Pantai berpasir putih sepanjang hampir dua kilometer itu akhirnya membawa aku dan temanku ke suatu pulau karang kecil yang di atasnya tampak berdiri sebuah pura.

IMG_PBK08

Kata penduduk setempat, pulau karang itu dikenal dengan nama Pulau Ismoyo. Di dekatnya terdapat dua gundukan karang lagi yang disebut Pulau Anoman dan Pulau Wisanggeni. Ya . . nama-namanya memang diambil dari nama-nama di dunia pewayangan.

Pura yang berada di atas Pulau Ismoyo itu dikenal dengan nama Pura Amerta Jati, sebuah pura Hindhu yang masih dipergunakan sebagai tempat persembahyangan umat Hindu sampai sekarang; bahkan pura itu merupakan tempat suci bagi Umat Hindhu, sehingga bagi wanita yang sedang datang bulan tidak diperkenankan untuk berkunjung dan masuk ke kawasan pura.

IMG_PBK05

Disain Pura Amerta Jati yang dibangun pada tahun 1985 ini meniru Tanah Lot di Bali, sehingga banyak yang menyebut kalau Pantai Balekambang adalah Tanah Lot-nya Pulau Jawa. Tetap meskipun mengambil ide dari sana, tetap saja ada perbedaan yang mencolok antara Balekambang dengan Tanah Lot. Misal saja di Tanah Lot, karang tempat berdirinya pura tidak terhubung ke pantai dengan jembatan, sementara di Balekambang, ada sebuah jembatan beton sepanjang sekitar 100 meter yang menghubungkan Pulau Ismoyo dengan tepi pantai. Selain itu, bentuk pura-nya sendiri juga beda, karena di Balekambang bentuknya lebih menyerupai candi-candi peninggalan jaman dahulu yang banyak bertebaran di sekitar Malang.

Setelah beberapa saat berada di Balekambang, mau gak mau aku dan temanku sepakat bahwa tempat itu memang merupakan spot yang bagus untuk menikmati saat-saat terbenamnya matahari. Meskipun waktu itu langit tetap tertutup awan mendung, keindahan Pantai Balekambang dengan Pura Amerta Jati-nya tetap tidak hilang. Kebayang bagaimana indahnya kalau cuaca cerah dan Sang Pelukis Agung berkenan membiaskan warna warni cerah di langit untuk mengiringi sang surya yang kembali ke peraduannya.–

IMG_PBK13

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 28 Comments

Other animals in the (display) windows

Last week I uploaded a post about stuffed animals which had already arranged in a special manner so they looked like living animals in their original habitat. The animals were on display in such dioramas in a museum called Museum Satwa (Animals Museum) located in a town called Batu, in East Java, Indonesia. And now, I posted another that told you about other animals in display windows. This time, however, not like the animals in the previous post, they all were living animals. Yes, this post is about a zoo. It located just side by side to the Animals Museum, and called Batu Secret Zoo.

IMG_BSZ03

So why the zoo was called a secret zoo? Well . . . honestly I don’t know. Some people said that entering the zoo was like opening a book full of secret about any species that people had never seen before in their normal life in Indonesia. Others said that secrets about certain animals could be revealed by participating in any interactive game-boards that can be easily found scattered in the zoo.

All in all, Batu Secret Zoo was not like other ordinary zoos. Aside of the unique animals they gathered from all over the world, their collection was also consisted of mammals, birds, fishes and water creatures both saltwater and freshwater, reptiles, and also insects.

The zoo’s management was also divided the 35 acres zoo into some zones such as flying lemur zone where travelers could see many kind of primates including lemurs. In aquarium zone, which was in a man-made underground grotto with big aquariums on its walls, travelers could see many water creatures and reptiles, while on the wall close to the exit door of the aquarium zone, many small glass boxes were hung. The glass boxes were actually small terrariums with insects in it. There was also an alleyway with clear glass walls on either side called the savannah since behind the glass walls there were some African animals living in areas that looked like African savannah.

In the area that called tiger land, travellers could see many species of the big cat such as Sumatran Tiger, Bengal Tiger, White Tiger, Siberian Tiger and also a pack of lions.

IMG_BSZ14

a day dreaming tiger :) (ini tampang harimau kalau lagi galau :) )

There were also an area called Fantasy Land which was actually a big playground with some rides and a water play area where children can play and have fun in some children friendly rides. There were also some cafes and a big restaurant for travelers who need refreshments or even food to relish.

In my opinion, Batu Secret Zoo which was inaugurated in 2010 by the President of Indonesia at that time, was a great zoo. Even Trip Advisor put Batu Secret Zoo in Top Ranks Zoo in Asia based on travelers choice. So . . are you interested in visiting the zoo? :D

 

Keterangan :

Masih ingat kan kalau minggu lalu aku meng-upload sebuah postingan mengenai Museum Satwa yang berisi pelbagai macam hewan yang telah diawetkan dan tertata dengan apik dalam diorama-diorama yang menggambarkan habitat asli binatang-binatang itu? Nah . . kali ini aku kembali meng-upload sebuah postingan lain yang masih ngomongin pelbagai jenis binatang, hanya saja kali ini mengenai binatang-binatang yang masih hidup.

Kalau mengenai binatang yang masih hidup, berarti ngomongin soal kebun binatang dong ya?

Nah pinterrr . . . ini memang ngomongin sebuah kebun binatang, dan kebun binatang ini tidak seperti kebun binatang pada umumnya loh. Lokasi kebun binatang ini juga masih di Batu. Iya Batu yang dekat Malang itu. Kebun binatang ini terletak di sebelah Museum Satwa, dan dikenal dengan nama Batu Secret Zoo.

Secret Zoo? Kebun Binatang Rahasia? Koq namanya unik ya, pakai rahasia-rahasiaan segala. Memang apa sih rahasianya?

Nah . . kalau nanya ke aku, terus terang aku sendiri juga penasaran, apa sih rahasianya itu. Dari beberapa orang yang sempat aku temui, rata-rata juga tidak bisa dengan pasti menyebutkan apa rahasia yang ada di sana. Hanya saja ada yang mengatakan bahwa kalau kita masuk ke kebun binatang ini rasanya sama seperti sedang membuka sebuah buku yang berisi macam-macam rahasia satwa yang tidak bisa dengan mudah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia; bagaimana tidak kalau koleksi kebun binatang ini berasal dari seluruh penjuru dunia dan beberapa diantaranya bahkan merupakan jenis hewan langka.

Ada pula orang-orang yang berpendapat bahwa rahasia pelbagai hewan tersebut bisa kita ketahui kalau kita mau belajar dari papan bermain interaktif yang banyak tersebar di seluruh penjuru kebun binatang ini.

Kebun binatang yang memiliki luas 14 hektar secara keseluruhan ini memiliki koleksi berupa mamalia, reptil, ikan dan macam-macam binatang air baik air asin maupun air tawar, burung, bahkan serangga. Hampir semua binatang tersebut berada dalam kandang yang diatur sedemikian rupa sehingga menyerupai habitat asli hewan-hewan tersebut, dan dengan pengunjung kebun binatang hanya dibatasi dengan kaca tebal sehingga memungkinkan pengunjung untuk mengamati binatang-binatang tersebut dengan tanpa terganggu kawat kandang ataupun jeruji besi seperti yang biasa terdapat dalam kebun binatang biasa. Bahkan kalau hewan dalam kandang tersebut mendekat ke kaca, pengunjung bisa berfoto seolah-olah tanpa pembatas dengan satwa dalam kandang tersebut.

Kebun binatang ini dibagi menjadi beberapa zona dengan ciri khasnya masing-masing. Misal saja zona flying lemur dimana pengunjung bisa melihat koleksi berbagai jenis monyet, kera dan juga lemur. Dalam zona Dunia Reptil, pengunjung bisa melihat dari dekat berbagai jenis ular dan reptil lainnya. Ada juga zona lain yang disebut Fantasy Land. Di situ pengunjung, khususnya yang masih bocah ataupun berjiwa anak-anak bisa bermain sepuasnya karena Fantasy Land merupakan taman bermain yang memiliki beberapa wahana tunggang selain juga sebuah arena bermain air. O ya . . di dalam kawasan kebun binatang ini juga terdapat beberapa kedai yang menjual minuman di samping juga terdapat satu food-court. Jadi selama di dalam kebun binatang, pengunjung gak usah kuatir kehausan atau kelaparan.

Pengunjung juga tidak perlu khawatir akan melewatkan salah satu koleksi binatang di kebun binatang ini karena pengelola kebun binatang telah membuat jalur jalan yang jika diikuti akan membawa pengunjung ke tiap-tiap “kandang” binatang yang menjadi koleksi Batu Secret Zoo. Dan jika pengunjung menganggap bahwa jalur tersebut terlalu melelahkan untuk dijalani dengan berjalan kaki, pengunjung bisa menyewa skuter listrik yang bisa dipergunakan untuk menyusuri berbagai zona yang ada dalam kebun binatang yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2010 itu.

Eh tahu gak kalau Batu Secret Zoo ini pernah dinobatkan sebagai kebun binatang terbaik ke lima dari seluruh kebun binatang yang ada di Asia berdasarkan Traveller’s Choice dan dirilis oleh Trip Advisor, sebuah situs perjalanan yang sudah cukup punya nama di dunia. Ya gimana tidak, selain penataannya apik, kebersihannya terjaga, koleksi binatangnya pun bis aterbilang unik. Bahkan beberapa masuk kategori menggemaskan seperti sepasang rubah kacamata yang berhasil dijepret oleh anakku dan fotonya sengaja aku pasang di bawah ini.

IMG_BSZ30

what the girl with the camera want from us? (bro, cewek yang bawa kamera itu lihatin kita terus tuh)

Jadi, meskipun harga tiket masuknya relatif lebih mahal dari kebun binatang-kebun binatang lain di Indonesia ini, rasanya gak rugi juga untuk masuk dan menyingkap rahasia-rahasia yang ada didalamnya kan? :D .–

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 28 Comments

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,358 other followers