Soft trekking to the waterfalls

When my colleagues knew that I intended to go to Samarinda, the capital city of East Kalimantan Province in Indonesia, almost all of them asked me, “What do you want to see in there, there are nothing that you can see except the city itself and perhaps the sunset over the Mahakam River”

As usual, I always think that there must be a place which will make me interested in every corner of the world. I always want to proof to them that my opinion was right. And I thought the same about Samarinda and its surroundings. I believed that the area, for sure, had some interesting places.

So . . . in my second day there, I went out of town on purpose to look for any interesting places worth to visit. My aim was pretty landscapes and not museums nor historical buildings. My lungs need to be filled with fresh natural air and not with canned air😛. So . . off we went to the north part of the city, passed the city border to a village called Barambai in Sempaja Ujung area because I heard that there was a small waterfall in there; and nowadays, the waterfall became the main destination for local teenagers who want to spend their holiday time to camp.

IMG_BAR05

To reach the waterfall was quite easy. It need only about 15 minutes walk from the parking lot through an oil palm plantation, and then entering a forest.

IMG_BAR01

The waterfall itself was not big. The height was only about 2 to 3 meters and there was a pool at the base of the falls. Around the pools, there were stones that made the view quite pretty.

IMG_BAR06

Trees shaded the waterfall area, so it was quite cool and really comfortable to sit and relax in there. No wonder that many local teenagers choose the place to set their tent and spent their leisure time. When I was there, around 15 teenagers had already in there; and it was from them that I know that there was two other waterfalls deep in the forest but not too far from the one they used to spend their relax time.

IMG_BAR09

So after taking some pictures there, I started to walk on a dirt path deeper into the jungle. It was just a soft trekking since the track was quite flat. I needed another 15 minutes to reach the second waterfall. The path to reach the base of the second waterfall, however, was quite steep, but it was not too high.

IMG_BAR04

For me, the second waterfall and its surroundings were prettier than the first one. It was also higher. What do you think? Do you agree with me or not after you saw the pictures below?

IMG_BAR15

At that time, I decided not to continue my trek to the third waterfall because the third waterfall was even smaller than the first one and it was not worth to visit. At least that was the information I got from some people I met. So it was time for me to go back to Samarinda after I spent some time in the quieter atmosphere of the second waterfall, contemplating and enjoying the soft cool breeze while enjoying the pretty landscape.

To visit Barambai village was quite a challenge. It needed around one and half hour on a not so good road from Samarinda to the village, although the distance was only about 30 kilometres. The signs which could guide travellers to Barambai Village were pretty scarce, so travellers should ask the locals whenever they are in doubt to take a road every time they found a fork road or a cross road. Once travellers entering the village, there was a small sign on the right that marked the path to the waterfall which known as Barambai Waterfalls.

So . . . I was right that Samarinda also had a pretty destination aside of the city itself and the river that flowed through the city :)  .—

IMG_BAR11

Keterangan :

Ketika beberapa teman mengetahui kalau aku mau ke Samarinda, ibu kota Propinsi Kalimantan Timur, mereka nggak bisa menutupi keheranannya.

“Ngapain elo kesana, di sana ngak ada yang bisa dilihat selain kotanya itu sendiri atau palingan lihat matahari terbenam dari tepian Mahakam”, itu komentar yang sering aku dengar.

Trus aku jadi batal ke Samarindanya? Ya nggaklah. Aku tetap berangkat, malah aku jadi seolah tertantang untuk menemukan tempat-tempat menarik di sana sehingga aku bisa tunjukan kalau perjalananku ke Samarinda juga tidak sia-sia.

Karena itu pulalah di hari kedua aku di Samarinda, aku sengaja jalan ke sebelah utara kota, melewati batas kota, trus meluncur di jalanan yang sebagian lumayan rusak sehingga diperlukan waktu sekitar satu setengah jam hanya untuk menempuh jarak sejauh kurang lebih 30 kilometer menuju ke daerah Sempaja Ujung, tepatnya ke Desa Barambai. Aku ke sana karena aku memperoleh info bahwa di sana terdapat sebuah air terjun yang belakangan ini lumayan nge-hits buat para remaja setempat untuk dijadikan tempat camping di tiap akhir pekan.

IMG_BAR07

Sepanjang perjalanan, karena minimnya rambu, aku jadi harus sering-sering bertanya kepada penduduk setempat, yang konyolnya kadang mereka juga nggak tahu dimana ada air terjun di Desa Berambai. Bahkan ada juga yang justru mengarahkan aku ke air terjun lain yang lokasinya tidak terlalu jauh dari situ. Tapi akhirnya GPS yang aku pergunakan membuahkan hasil. Eh GPS ini bukan GPS alat penentu lokasi berdasarkan satelit itu ya, GPS yang aku pergunakan merujuk pada “Gunakan Penduduk Setempat”, untuk bertanya tentunya😛

Di suatu tempat aku melihat sebuah papan bertuliskan “Air Terjun Barambai” di sebelah kanan jalan. Papannya tidak terlalu besar, sehingga akan gampang terlewat kalau nggak hati-hati. Di dekat papan petunjuk itu terdapat sebuah lahan yang dipergunakan sebagai tempat parkir mobil dan motor pengunjung, yang ketika aku sampai di sana sudah terdapat beberapa buah motor yang terparkir rapi.

Beberapa pemuda yang baru tiba kembali setelah menghabiskan malam di sekitar air terjun menjadi sumber informasi bagi aku untuk mengetahui medan yang akan aku tempuh ke air terjun itu. Mereka mengatakan bahwa jalannya tidaklah berat. Cukup mengikuti jalan tanah di samping lahan parkir itu, menembus kebun sawit, dan sedikit masuk hutan maka aku akan sampai ke air terjun. Dan ketika aku mengikuti jalur yang mereka tunjukkan itu, dalam waktu kurang lebih 15 menit aku sudah sampai di air terjunnya.

IMG_BAR02

Air terjunnya sendiri tidaklah besar. Tingginya pun hanya berkisar antara 2 – 3 meter saja. Airnya yang cukup jernih mengalir mengikuti tebing batu dan akhirnya jatuh di sebuah kolam di dasarnya. Di sekitar kolam, terdapat banyak batu yang seolah-olah menjadi batas tepi kolam. Suasana di sekitarnya cukup sejuk. Sinar matahari tidak menyorot langsung karena terhalang rimbunnya pepohonan di sekitar air terjun. Tidaklah heran kalau suasana yang menyenangkan itu mengundang para remaja Samarinda untuk menikmati alam di sana.

IMG_BAR08

Setelah mengambil beberapa foto, aku memutuskan untuk meninggalkan air terjun tersebut dan masuk lebih jauh ke dalam hutan karena beberapa remaja di sana mengatakan bahwa masih ada air terjun lain di aliran sungai itu, dan letaknya pun tidak terlalu jauh dari situ.

Dan memang dengan trekking sedikit lebih jauh, aku menemukan air terjun kedua yang ternyata selain sedikit lebih tinggi juga nampak lebih indah kalau dibanding dengan air terjun yang pertama. Bagaimana menurut pendapat teman-teman setelah melihat foto di bawah ini? Setuju apa nggak kalau aku bilang air terjun kedua lebih indah dari yang pertama?

IMG_BAR16

IMG_BAR18

Nah . . trus gimana dengan air terjun yang ketiga? Sayangnya waktu itu aku tidak melanjutkan perjalananku menuju ke air terjun yang ketiga. Berdasarkan informasi yang aku terima, perjalanan ke air terjun ketiga sedikit lebih sulit tetapi keindahannya kurang, bahkan kalau dibandingkan dengan air terjun yang pertama sekalipun.

Meskipun demikian, aku masih bisa membuktikan bahwa Samarinda maupun daerah sekitarnya memang memiliki beberapa tempat yang cukup indah dan layak dikunjungi. Jadi perjalanan ku ke Samarinda memang tidak sia-sia kan?:) .–

IMG_BAR17

IMG_BAR20

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 6 Comments

Beautiful mosque by the river

That afternoon, I had just entering Samarinda, the capital city of East Kalimantan Province, Indonesia, from the neighboring city called Balikpapan. When I passed the bridge that spanned over the Mahakam River, I saw a big and beautiful mosque with its domes and minaret gleamed under the yellowish afternoon sun. The locals said that the mosque was Samarinda’s Islamic Centre Mosque, which was also the second largest mosque in Indonesia after Istiqlal Mosque in Jakarta.

IMG_ICM01

The mosque was erected on a land that previously was a saw mill owned by a government company, which then been donated to East Kalimantan Province. It needed 7 years to build the beautiful mosque which was inaugurated in 2008.

IMG_ICM02

At a glimpse, the mosque looked like the Hagia Sophia in Istanbul, Turkey; but it also adopted the local culture. It has 7 minarets which consisted of one main minaret, four smaller minarets at every corner of the mosque and two minarets at the main gate. The main minaret was 99 meters high while the smaller minarets was not that high.

IMG_ICM03

I took these pictures from across the river while waiting for the sunset. Unfortunately I did not have enough time to take the picture from the other side of the mosque. I hope that I would have another chance to visit Samarinda and took pictures from there.—

Keterangan :

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki populasi pemeluk agama Islam terbesar di dunia, makanya tidaklah mengherankan jika pelancong dapat dengan mudah menemukan masjid di hampir seluruh pelosok negeri ini. Ada bermacam bentuk bangunan masjid yang pada gilirannya juga membuat masjid-masjid tersebut menjadi tujuan wisata religi yang peminatnya juga tidak bisa dibilang sedikit.

Dari sekian banyak masjid yang pernah aku kunjungi ataupun hanya sekedar melewatinya, kadang aku menemukan masjid-masjid yang indah dan besar, selain juga ada banyak yang unik. Nah . . dari antara sekian banyak yang menurut aku indah, adalah Masjid Islamic Centre di Samarinda.

IMG_ICM04

Pertama kali aku melihat masjid ini adalah ketika pada suatu sore aku mulai memasuki kota Samarinda dan mulai menyeberangi jembatan yang terbentang di atas Sungai Mahakam. Di kejauhan aku melihat sebuah bangunan yang sepintas mirip dengan Hagia Sophia di Istanbul, Turki. Segera aku meminta Pak Anto, yang mengantarku waktu itu, untuk lewat di depan bangunan masjid tersebut. Dan ketika kendaraan yang aku tumpangi melintas di depannya, keindahan masjid makin tampak nyata. Di halaman masjid yang tampak luas itu, tampak beberapa bus terparkir, mungkin waktu itu sedang ada rombongan yang kebetulan sedang memenuhi panggilan untuk menunaikan sholat, mengingat memang sudah waktunya. Aku memutuskan untuk tidak berhenti karena kuatir mengganggu kekhusukan mereka yang sedang bersembahyang di sana. Aku kemudian meminta Pak Anto untuk menuju ke seberang sungai, sehingga aku bisa mengabadikan kemegahan masjid yang merupakan masjid terbesar kedua di Indonesia setelah Masjid Istiqlal di Jakarta itu, dengan bentang Sungai Mahakam sebagai latar depannya.

IMG_ICM08

Setelah beberapa saat mencari-cari lokasi yang tepat, akhirnya aku menemukan sebuah gang sempit menembus sebuah perkampungan sederhana, dan gang tersebut membawa langkah kakiku ke tepian sungai, hampir berseberangan langsung dengan Masjid Islamic Centre. Kebetulan saat itu matahari sudah mulai condong ke barat. Sinarnya yang kekuningan menyiram kubah dan menara-menara masjid. Dan tidak lama kemudian ketika matahari makin condong ke barat, lampu-lampu di masjid itupun mulai dinyalakan sehingga menambah keindahannya.

IMG_ICM09

Masjid Islamic Centre Samarinda dibangun di atas tanah yang semula merupakan tempat penggergajian kayu milik PT Inhutani I yang kemudian dihibahkan kepada Pemerintah Propinsi Kalimantan Timur. Mulai dibangun pada tahun 2001 dan butuh waktu selama tujuh tahun untuk menyelesaikan masjid yang megah ini. Bagaimana tidak bisa dibilang megah kalau selain kubah utamanya yang berukuran sangat besar, masjid ini juga memiliki tujuh buah menara. Menara utama masjid memiliki tinggi 99 meter sebagai simbolisasi Asmaul Husna. Di keempat sudut bangunan masjid juga terdapat menara-menara yang ukurannya lebih rendah dari menara utama. Dua menara lagi dibangun mengapit gerbang masuk masjid. Keenam menara selain menara utama itu merupakan simbolisasi keenam Rukun Iman.

IMG_ICM10

Sebetulnya agak menyesal juga sih kenapa ketika itu aku tidak menyempatkan diri masuk ke dalam masjid dan mengagumi keindahannya dari dalam. Yah mudah-mudahan masih ada kesempatan lain untuk berkunjung ke Samarinda, dan kalau ada kesempatan itu, aku pasti akan menyempatkan diri untuk mengagumi kemegahan masjid ini dari jarak yang lebih dekat atau bahkan dari dalamnya.

O ya, kebetulan aku posting kali ini bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri, karena itu pada kesempatan ini, perkenankanlah aku juga mengucapkan:

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI
1 SYAWAL 1437H
MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN

IMG_ICM11

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 23 Comments

Sunset over the city port

That afternoon, I was on my trip back to Kendari, the capital city of South East Sulawesi Province, Indonesia. I was rather in a bad mood; my intention to capture a nice sunset moment from Purirano Beach should be cancelled because the place was not in such a condition as I expected.

Nobody talked that time. The gloomy atmosphere was in the car along the way, until suddenly I saw an opening when the car entering the city through the main road by the sea. I saw the sun was ready to set with red colored sky as the background, clearly.

IMG_POK01

Well . . . I could not stand for not to stop. Soon, my friend and I were already forgotten our bad mood as we found a much better place to enjoy sunset without anything that prevented our view to the setting sun as there in Purirano Beach.

And as Kendari was a waterfront city facing to the west, to the Bay of Kendari, no wonder that Kendari had many places which could be used to enjoy sunset. Along the beach road which was also one of the city main road, there was a long low brick wall that usually been used by the locals to sit and wait for the sunset. My friend and I were also did the same with the locals, sat on top of the low brick wall at the road side facing the sea to enjoy the show provided by nature, sunset over the city port.

The pictures below were taken from the road side where my friend and I stop on our way back to our hotel in Kendari. I share them here so you can also enjoy what I saw at that time. But . . . believe me, it would be more awe-inspiring if you enjoy the nature show directly :)  .—

IMG_POK02

IMG_POK03

IMG_POK04

IMG_POK05

IMG_POK06

IMG_POK07

IMG_POK08

IMG_POK09

IMG_POK10

IMG_POK11

IMG_POK12

IMG_POK13

Keterangan :

Sore itu aku berdua dengan partner jalanku sedang dalam perjalanan kembali ke Kendari, sebuah kota yang menjadi ibukota Propinsi Sulawesi Tenggara. Jujur, aku agak kesel ketika itu. Bagaimana tidak, rencana semula akan mengambil moment terbenamnya matahari dari Pantai Purirano, tapi ternyata harus dibatalkan hanya gara-gara salah informasi dan kondisi pantai yang tidak seperti yang diharapkan. Sepanjang perjalanan baik aku maupun partner jalanku sama-sama diam. Suasana jadi nggak enak di dalam mobil yang tetap melaju kencang.

Suasana di dalam kendaraan sontak berubah ketika mobil yang aku tumpangi mulai memasuki Kota Kendari dari arah selatan; di kiri jalan raya terdapat pantai terbuka dan aku dengan jelas melihat sang surya sudah bersiap-siap kembali ke peraduannya berlatarkan langit yang mulai memerah. Dan yang membuat aku tak tahan untuk segera berhenti adalah pemandangannya tidak terhalang apapun. Kapal-kapal besar yang sandar tidak jauh dari situ malah menjadi latar depan yang mempercantik keindahan yang tersaji.

Ya maklumlah, Kendari kan sebuah kota pelabuhan yang terletak di cekungan Teluk Kendari. Kota ini praktis menghadap ke barat, sehingga menjadikan tepian jalan raya yang langsung berbatasan dengan laut menjadi tempat yang paling pas buat menikmati saat-saat terbenamnya sang matahari.

IMG_POK14

Sore itu banyak juga penduduk setempat yang menantikan terbenamnya sang surya dengan duduk-duduk di atas tembok rendah yang terbentang di sepanjang tepi jalan. Tembok rendah itu seolah sebagai pembatas antara daratan dengan laut karena di balik tembok tersebut tidak ada lagi daratan, melainkan langsung laut Teluk Kendari. Keberadaan beberapa kapal besar yang sedang sandar di dekat situ menunjukkan bahwa Pelabuhan Kendari tidak jauh dari situ.

Foto-foto yang aku sertakan dalam postingan kali ini aku ambil di salah satu sisi pelabuhan, aku dan partner jalanku ikutan nangkring di atas tembok rendah yang ada di situ, sama seperti banyak orang lain yang sengaja ke situ untuk menikmati pertunjukan spektakuler yang disajikan alam. Pertunjukan yang selalu berulang tiap hari tapi tidak pernah membosankan, apalagi kalau bisa melihatnya secara langsung:) .–

IMG_POK15

IMG_POK16

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 8 Comments

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,552 other followers