A neglected historical hill

Close to Waingapu, the main city of East Sumba, Indonesia, there was a hill that had lots of history. The hill was stood looming the airport area; that was why everybody in a plane departing from or approaching the airport could see the hill clearly when they looked to the west. The hill’s name was Mau Hau Hill, thus the airport was named after the hill’s name before changed into its recent name in 2009.

According to people I met, Mau Hau means a place of residence for Sabu people who once were asked to help King Lewakambera of Sumba. So . . it seemed that the area was once been granted to the Sabu people as a reward for their support to the king, or it could be just the place for their encampment when they landed at the nearby port centuries ago. For you to know, the Sabu people were known as great warriors. Their native land was an island located between Sumba and Timor and called Sabu Island. Some people also called the island as Savu.

The hill was green when I was there. The grass looked very appetizing for horses and cows, and that made the people from the area often brought their horses and cattle to the top of the hill and let them grazing there.

img_mhh03

From above the hill, almost all Waingapu could be seen clearly; the residence area, airport, beaches and also public facilities in the city. Because of its strategic location, in the second World War era the Japanese built defense bunkers on the hill. Up till now, the entrance holes of the bunkers still existed. There were four holes at the top of the hill and the holes could be entered. The holes would bring travelers to the exit holes at the foot of the hill. Unfortunately, the holes were not maintained, garbage were seen around the holes . At least that was what I saw when I was there.

img_mhh01

The local history that related to the hill was not only happened in the past era. Once in modern era, a commotion burst in Waingapu between two groups of people, and the commotion was spread rapidly in almost all corners of the city. In order to regain peace in the area, the leaders of the groups made and then signed a peace agreement; and the place that was chosen in where the agreement was signed was at the top of Mau Hau Hill. The historical event made people also called Mau Hau Hill as Bukit Persaudaraan (Fraternity Hill)

img_mhh02

Nowadays, Mau Hau Hill was became one of Waingapu’s place of interests. People would go up to the top of the hill in their leisure time, either by cars or by motor-cycles. The road to the top was relatively good although it was not too wide. People would spend time enjoying the scenery unfolded below the hill while waiting for the sunset, while others chose another spot facing the airport to see planes take offing and landing at the airport. Teenagers came in a small group and did their activities with their friends.

img_mhh04

img_mhh05

And me? I was there to snap some sunset pictures. Unfortunately dark clouds prevented me to get clear pictures of the sun when it started to hide behind the rows of hill in afar 😦

img_mhh06

img_mhh07

img_mhh08

Keterangan :

Tiap kali pesawat akan mendarat di Bandara Umbu Mehang Kunda di Waingapu, Sumba Timur, jika para penumpang melihat ke arah barat, pasti akan tampaklah sebuah bukit yang di atasnya terdapat sebuah bangunan seperti paviliun. Belakangan baru aku tahu kalau bukit itu merupakan bukit yang sarat dengan sejarah, khususnya bagi masayarakat Waingapu dan sekitarnya.

Bukit tersebut dikenal dengan nama Bukit Mau Hau. Dan karena bandara terletak di kaki bukit itu, maka dahulu nama bandara itu adalah Bandara Mau Hau. Baru pada tahun 2009 diubah namamya menjadi Bandara Umbu Mehang Kunda seperti yang kita kenal sekarang.

Menurut penduduk setempat, Mau Hau berarti kediaman orang-orang Sabu yang sejak dahulu dikenal sebagai orang-orang pemberani dan pejuang tangguh. Konon di jaman dahulu salah satu raja yang ada di Sumba ini, yaitu Raja Lewakambera, meminta pertolongan dari pahlawan-pahlawan Sabu. Kemungkinan Bukit Mau Hau itu dihadiahkan kepada mereka sebagai imbalan atau bisa jadi juga menjadi tempat berkumpulnya para pejuang Sabu itu ketika mereka baru mendarat di Pulau Sumba.

Bukit Mau Hau ternyata memiliki nilai strategis tersendiri, apalagi dari puncak bukit itu hampir seluruh wilayah Waingapu bisa terlihat jelas. Bandara sampai ke pesisir pantai di sebelah timur juga tampak dengan jelas. Itu pula rasanya mengapa Tentara Pendudukan Jepang pada masa Perang Dunia Kedua memilih Bukit Mau Hau sebagai salah satu titik penting yang harus dikuasai dan dipertahankan sampai-sampai mereka membangun bunker-bunker pertahanan di sana. Sampai sekarang lubang-lubang masuk bunker itu masih bisa ditemukan di puncak bukit. Bunker-bunker itu juga memiliki pintu-pintu lain di kaki bukit. Sayang keberadaannya sekarang praktis tidak terawat. Ketika aku ke sana, sampah nampak terserak dan bau tidak enak juga lumayan menyengat 😡

img_mhh12

Arti penting Bukit Mau Hau tidak berhenti sampai masa Perang Dunia Ke Dua saja. Ketika Waingapu sempat diguncang bentrokan antar kelompok, lagi-lagi Bukit Mau Hau berperan penting karena di atas puncak bukit itu akhirnya ditandatangai perjanjian damai yang mengakhiri pertikaian antar kelompok itu. Karena itulah Bukit Mau Hau disebut juga dengan nama Bukit Persaudaraan.

img_mhh17

Sekarang Bukit Mau Hau menjadi salah satu tujuan wisata bagi penduduk Waingapu maupun bagi pelancong dari luar daerah situ. Adanya jalan yang memungkinkan kendaraan roda empat mendaki sampai ke puncak bukit membuat puncak bukit itu lumayan ramai pengunjungnya, khususnya pada hari-hari libur. Tetapi tiap sore pun ada saja orang yang datang ke sana untuk sekedar bersantai sambil memandang bentang sawah menghijau yang terhampar di kaki bukit atau ada juga yang datang ke sana kemudian memilih duduk menghadap ke timur sehingga mereka bisa melihat bandara dan pesawat-pesawat yang baru take off atau mau mendarat dengan jelas.

img_mhh13

img_mhh14

Di puncak bukit itu penduduk setempat juga menggembalakan ternaknya, baik kuda maupun sapi. Ternak-ternak itu kelihatan gembira bisa merumput di sana karena rumputnya kelihatan tebal dan segar.

img_mhh15

Aku sendiri datang ke sana dengan tujuan menyaksikan saat-saat terbenamnya matahari di balik deretan pegunungan di kejauhan. Sayangnya mendung tebal menghalangi keinginanku itu. Saat-saat Sang Surya menghilang di balik bukit tidak bisa aku nikmati sepenuhnya 😦

img_mhh16

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 2 Comments

Silhouettes at the beach

That morning I woke up pretty early as usual. Aside of the intention to catch the sunrise, the hot and humid night air in the home-stay in which I spent my night along with my travel partner made my sleep was not too sound. The wish for a night showered by rain was still a wish although dark cloud hung low and the sound of rolling thunder was heard continuously.

img_kal02

I was in Kalala. A beach located in Melolo Sub-district, East Sumba, Indonesia. It was about 115 kilometers from Waingapu to the south east. Some people often said that Kalala was a kind of private beach because the beach was rarely visited by tourists. Only local fishermen and a few surfers visited Kalala. And what I saw that morning proved that what people said about the beach was true. It was just my travel partner and me who wandered at the beach. Well . . it really was like a private beach 🙂

img_kal01

At low tide, the beach was quite wide. The sands was white and looked perfect to do many outdoor activities. Not too far to the west, a port which was still in construction was clearly visible. A range of hills also clearly seen in afar, seemed like a background of the port.

img_kal04

I moved to the east in order to look for a perfect spot to capture the sunrise. Alas! The sun was not rise from the direction of the sea; it was rise from behind the trees instead. But wait . . . although I could not directly see the rising sun, the effect to the trees at the foreground was quite pretty, at least for me 😛. The pre-dawn light made the trees looked as silhouettes at the beach. Along with my post this time, I attached some pictures I captured in Kalala at that time. Please enjoy! 😀

Keterangan :

Pagi itu, seperti biasa aku sudah bangun ketika hari masih gelap, aku bangun mendahului sang matahari yang masih lelap di peraduannya yang berada di bawah kaki langit. Tapi waktu itu aku bangun bukan hanya karena ingin menyaksikan saat-saat terbitnya sang matahari saja, melainkan juga karena kegerahan. Bisa jadi mendung tebal yang memayungi kawasan home-stay dimana aku dan partner jalanku menginap malam itu yang menjadi salah satu penyebab gerahnya udara semalaman. Sayangnya, sampai pagi pun hujan yang diharapkan bakal bisa membuat udara menjadi sedikit sejuk, tidak turun juga 😦

img_kal03

O ya, aku belum bilang ya kalau waktu itu aku menginap di Pantai Kalala, sebuah pantai yang terletak di Kecamatan Melolo, Kabupaten Sumba Timur. Tidak terlalu jauh dari Pantai Watu Parunu yang sudah aku kunjungi sebelumnya. Untuk berkunjung ke pantai ini, jarak sejauh kurang lebih 115 kilometer dari Waingapu mengarah ke tenggara dapat ditempuh selama kurang lebih 3 jam dengan kendaraan pribadi melalui jalan yang relatif sudah bagus.

Pantai Kalala belum terlalu banyak dikenal pelancong. Makanya mereka yang sudah pernah ke sana mengatakan kalau Pantai Kalala mirip pantai pribadi. Ya pantai pribadi yang sepi. Bagaimana tidak, hanya nelayan setempat dan beberapa turis yang datang untuk menunggangi ombak di atas papan selancar saja yang datang ke sana. Dan apa yang dikatakan orang itu memang aku buktikan ketika aku mulai menapaki pasir pantainya yang lembut. Pantai Kalala betul-betul sepi. Nggak ada orang lain yang terlihat di pantai itu selain aku dan partner jalanku, meskipun tidak jauh dari pantai aku lihat ada sebuah kapal yang teromang-ambing ombak. He he he . . . sekali lagi aku jadi merasakan nikmatnya punya pantai pribadi 😛

img_kal08

Pada saat air laut surut, maka Pantai Kalala akan tampak sangat luas sehingga cocok untuk melakukan berbagai aktifitas olah raga pantai. Di sisi sebelah barat, tampak sebuah dermaga yang sedang dalam pembangunan dengan latar belakang deretan bukit yang seolah menjadi pembatas antara laut dan daratan.

Aku dan partner jalanku memutuskan untuk menyusuri pantai mengarah ke timur dengan tujuan mencari spot yang tepat untuk mengabadikan saat-saat terbitnya matahari. Eh tapi … waduh! Ternyata mataharinya nggak muncul dari arah laut yang terbuka, melainkan justru dari balik pepohonan. Tapi … ternyata nggak sia-sia juga bercapek lelah menyusuri pantai ke arah timur karena ternyata pemandangan yang tersaji cantik juga koq meskipun aku nggak bisa secara langsung melihat munculnya sang bola merah raksasa dari balik cakrawala. Cahaya fajar yang kemerahan dan berangsur berubah menjadi kuning membuat pepohonan yang ada di tepi pantai itu seolah bayangan. Nah supaya aku nggak nulis terlalu panjang untuk menggambarkan apa yang aku lihat di Pantai Kalala pagi itu, aku menyertakan beberapa foto yang aku dapatkan di postingan kali ini juga. Please enjoy! 😀

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 12 Comments

A short visit to a traditional village

On my days in Sumba, Indonesia, I got a chance to visit one of many traditional villages that scattered on the island. The village’s name was Rende and located in Melolo Sub-District, which could be reached within 1.5 hours drive from Waingapu.

The road to the village was relatively good. Savannas were at the road sides; sometimes a team of wild horses ran across the road and at other times a herd of buffaloes stop in front of our car just doing nothing, made us to be patient enough to wait until they moved to the road side by themselves because the blaring horns could not make them went away.

img_ren01

Rende Village was close enough to the main road. Cars could go directly to the village and parked in the village’s square. And although Rende was considered as the biggest traditional village still existed in Sumba, there were only a few huts that been seen. The huts were built surrounding the village’s cemetery, as in Sumba, traditionally the cemetery was always located in front of the huts or at least very close to them.

img_ren03

Once we arrived at the village, a man greeted us and ushered us to a simple wooden hall which functioned as a place to welcome guests. For Sumbanese, welcoming honorary guests was expressed by offering betel, and that was why the man offering us betel, too. The guests were supposed to receive the offering in order not to offend the host  😎

Rende was known to produce good quality traditional Sumbanese woven cloths. The designs were mainly consisted of animals such as horses, turtles, crocodiles, birds and even dragons. They used natural dyes for the color. The price of Rende’s woven cloth was relatively high. But it was worth it because of the pretty design and the time consumed to weave a piece of cloth.

img_ren02

The huts in the village were built traditionally with a very tall roof that made the Sumbanese traditional house looked like to have a tower on the roof; that was why such a hut was called “Uma Mbatangu” by the locals. “Uma Mbatangu” means a house with a towering roof. Once I wrote about the Sumbanese hut and you can see it in here.

Nowadays, some of the huts in Rende were touched by modernization. Instead of dried grass or dried rice stalks for their roofs, some of them were tin roofed although they still retained the traditional tower like structure.

img_ren04

Not all huts had their towering roofs. I saw at least one hut that had no tall structure on its roof. According to Rambu Intan, a lady who lived there, the huts with no towering roof was not used as a dwelling place. It used as a place to kept the body of the deceased family members that were not ready to be buried yet. When I was in Rende, three bodies were kept in the house. One of them was already been there for 7 years and still waiting for the perfect time to be buried, which was estimated would be done in the year 2017 with a funeral and entombment rituals attended by all the family members.

img_ren13

At the designated time agreed by all family members, the deceased body would then prepared to be buried in the village’s cemetery. In Sumba, the tombs were still like the ones built by their ancestors in the megalithic era. People would take huge blocks of stones from the surrounding hills to the village’s cemetery and built a mausoleum-like structure above the grave.

img_ren05

Nowadays, exceptions did happen, some new tombs were not made of blocks of stone; they made of bricks, instead, and decorated with modern tiles. One thing that still preserved, however, that was a totem like structure made of stone which was erected vertically above the tombs and carved with symbols indicating the clan of the deceased.

Anyway, a visit to a traditional village like Rende was truly made my trip to East Sumba quite complete. I was not only came to pristine beaches or hills with pretty landscape, but I also came to a traditional village which was still survive amid the current pace of modernization although the village was not located in an isolated area.–

img_ren12

img_ren10

Keterangan :

Dalam perjalananku ke Sumba Timur beberapa waktu lalu, kebetulan aku sempat berkunjung ke Desa Rende, sebuah desa adat yang berlokasi di Kecamatan Melolo. Desa ini cukup mudah dicapai karena kendaraan umum dari Waingapu yang mengarah ke Waijelu pasti akan melewatinya. Jaraknya pun relatif tidak terlalu jauh dari Waingapu karena bisa ditempuh dalam waktu sekitar satu setengah jam melalui jalanan yang cukup baik. Pemandangan di kiri kanan jalan menuju ke Rende didominasi dengan padang savanna. Sesekali kawanan kuda berlari menyeberangi jalan sehingga menyebabkan kendaraan harus berhenti sejenak membiarkan lawanan kuda yang terdiri dari puluhan ekor kuda itu melintas semua. Kadang-kadang, kendaraan juga harus berhenti karena adanya kawanan kerbau yang dengan santainya berbaring di jalan raya. Repotnya, kerbau-kerbau ini nggak bisa diusir dengan bunyi klakson, jadi … ya mau nggak mau kendaraan kita yang ngalah dan menunggu sampai mereka minggir sendiri 😀

Desa Rende termasuk salah satu desa adat terbesar di Sumba Timur. Meskipun demikian, ketika aku sampai di sana, yang aku jumpai hanyalah beberapa rumah adat. Nggak banyak. Di tengah desa terdapat kuburan desa karena seperti umumnya di Sumba, makam selalu terletak di depan rumah atau dekat sekali dengan rumah-rumah penduduk.

img_ren11

Begitu aku keluar dari kendaraan yang membawaku ke sana, seorang lelaki menyambutku dengan senyum ramah, kemudian mengajak aku dan partner jalanku naik ke sebuah rumah kayu terbuka yang rupanya berfungsi sebagai tempat menyambut tamu sekaligus sebagai ruang pamer barang-barang kerajinan yang dihasilkan oleh masyarakat Desa Rende. Di situ juga terdapat sebuah alat tenun kayu yang dipergunakan untuk mempertunjukkan kepada tamu yang datang bagaimana wanita-wanita Rende membuat kain tenun ikat khas Sumba. Ya .. Rende terkenal juga sebagai salah satu penghasil kain tenun ikat khas Sumba yang pewarnaannya mempergunakan bahan-bahan alami. Kain khas Sumba dari Rende juga terkenal dengan harganya yang relatif tidak murah. Meskipun demikian, harga itu sepadan lah karena selain memang motifnya yang indah, juga proses pembuatannya yang membutuhkan waktu yang cukup lama.

img_ren18

Rumah adat Sumba terbuat dari bahan-bahan alami dengan bentuk yang khas, yaitu memiliki atap yang tinggi sehingga penduduk setempat menyebutnya sebagai “Uma Mbatangu” atau rumah dengan atap yang menyerupai menara. Tak terkecuali di Desa Rende, rumah-rumah di sana pun berupa rumah-rumah adat. Hanya saja, modernisasi rupanya mulai menyentuh desa adat ini. Beberapa rumah aku lihat sudah beratap seng, tidak lagi beratap alang-alang atau batang padi seperti aslinya meskipun bentuk menyerupai menaranya masih dipertahankan. Eneiwei, aku pernah mengulas mengenai rumah adat Sumba sebelum ini, dan jika teman-teman tertarik untuk membacanya, teman-teman bisa menemukannya di sini.

img_ren09

Dari sekian banyak rumah adat yang ada di Desa Rende, ada dua rumah yang menarik perhatianku. Yang pertama adalah sebuah rumah adat yang tampak sudah tua dengan tambahan bangunan serupa balkon di bagian depannya. Meskipun bangunan ini juga sudah beratapkan seng, tapi tampak kalau struktur bangunannya yang hampir seluruhnya dari kayu itu sudah tua. Konon bangunan itu dulunya merupakan tempat tinggal raja dan umurnya sudah lebih dari 100 tahun.

img_ren22

Trus yang kedua adalah sebuah bangunan kayu yang juga tampak sudah cukup tua, dan bangunan beratap ilalang ini tidak memiliki atap yang menjulang tinggi seperti rumah-rumah lainnya. Berdasarkan keterangan dari seorang ibu yang aku temui di sana, rumah itu berfungsi sebagai rumah untuk menyemayamkan jenazah penduduk desa yang masih menunggu saat dimakamkan. Ketika aku di sana itu, katanya ada tiga jenazah tersimpan di sana yang salah satunya sudah berumur lebih dari 7 tahun. Katanya sih upacara pemakaman akan digelar tahun 2017 dengan dihadiri oleh semua anggota keluarga yang akan datang dari mana-mana. Maklum saja karena acara pemakaman merupakan salah satu ritual penting bagi orang Sumba

Ketika waktu pemakaman sudah diputuskan bersama oleh seluruh anggota keluarga, maka ritual pemakaman akan mulai dijalankan. Bongkah-bongkah batu besar dari perbukitan di sekitar desa akan mulai dibawa ke pemakaman untuk membuat kubur batu yang akan dibangun di atas liang lahat. Masyarakat Sumba masih melakukan penguburan sanak keluarga mereka dengan cara yang sama seperti nenek moyang mereka dahulu menguburkan kerabatnya juga.

img_ren14

Tapi di era modern sekarang, kemajuan juga menyentuh kuburan masyarakat Sumba. Aku sempat melihat ada beberapa bangunan kubur yang tidak terbuat dari bongkahan batu besar. Rata-rata memang kubur baru sih. Dan sebagai pengganti batu besar, bangunan kubur itu dibuat dari bata dan semen yang dihiasi juga dengan keramik.

img_ren19

Tapi meskipun bahannya relatif berbau kekinian, ada ciri yang tidak hilang. Selain bentuknya yang tetap sama, juga adanya tiang batu berukir yang didirikan di atas bangunan kubur tetap dipertahankan. Tiang batu ini berbentuk pipih dan dihiasi dengan ukiran yang mengandung simbol-simbol yang menunjukkan orang yang dimakamkan di situ berasal dari keluarga mana.

Mungkin beberapa orang akan bertanya-tanya, apa yang menarik di sebuah desa adat? Buat aku sih banyak hal yang menarik di sana. Kita bisa melihat keseharian masyarakat di sana, bisa pula dapat informasi dari tangan pertama mengenai adat dan kepercayaan mereka, belum lagi kita bisa melihat langsung bagaimana mereka menghasilkan selembar kain tenun ikat khas Sumba yang indah. Tapi yang jelas sih aku jadi tahu kalau di Sumba tidak hanya ada banyak pantai perawan dan bukit-bukit yang memiliki pemandangan yang menyejukan mata, melainkan ada pula desa-desa adat yang masih tetap bertahan di tengah gempuran modernisasi, seperti Desa Rende ini.–

img_ren20

img_ren21

Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , | 14 Comments

Blog at WordPress.com.