A warm watered waterfall

I was still in North Kalimantan Province, Indonesia. After spending a night in Tarakan, I moved further north to a town called Malinau.

To reach Malinau from Tarakan, travelers could choose to fly in a very short flight or a long trip through Sesayap River on a speedboat. The flight from Tarakan to Malinau was only 17 minutes, while the speedboat from Tarakan’s port to Malinau’s port took approximately 3 hours.

So what made me went to Malinau? 🙄

First of all, I’d never been in Malinau before. Another reason was . . . I heard that there was a unique waterfall located close to Malinau. The waterfall was not high; even it might be called a dwarfed waterfall. Or . . . was it waterfall the right term to call this one?

img_sem05

The height of the waterfall was only a few meters. It was a terraced waterfall that consisted of many terraces with a shallow pool under each terrace. The final pool was a river that literary bordering the forest area with the non forest area; and the two parts was connected by a hanging bridge.

img_sem04

Travelers could climb and play at each pool without worry because it was not slippery. Aside of that, the more interesting thing was the fact that the water flowed through the waterfall was quite warm.

img_sem07

At that time, triggered by an escalating curiosity, I asked my trip partner to walk deeper to the forest, along by the river to find the hot spring. After walking for about 200 meters, our steps stopped when there was a giant rock blocked our way. The river we followed also ended at that very place. It seemed that the spring was located behind the rock, because when we stood in the river, we could feel warmer current flow from that direction. We also saw a tiny waterfall beside the rock.

img_sem14

Before we decided to go back to the waterfall, my trip partner suddenly saw a path that almost covered by grass and bushes located across the river. Was that the path that would lead us to the real hot spring?

So . . . to find the answer, instead of heading back to the waterfall, we crossed the river and started to climb, to reach and then followed the hidden path.

The path ended at a point which forced us to go down to the river and we continued our trek literary in the middle of the warm current with cliff on both sides. We walked against the current, and the further we walk the warmer the water in the river.

At last, hidden behind a cliff, we found a pool with vapor emanating from the water, indicating that the water was quite hot comparing to the temperature of the surrounding area. In the middle of the pool, there was a rock covered by yellowish material, and from the rock hot water gushed like a man made fountain.

img_sem16

The same yellowish material also covering some parts of other rocks located at the pool side. Some of those rocks also had hot water squirting although those were not as big as the natural fountain in the middle of the pool.

img_sem18

The place, which was known to locals as Semolon Hot Spring, located in Paking Village, Malinau Regency. It took approximately 1.5 hours drive to come to the place from the town center. There was no public transports serving the route, so to come to Semolon, travelers should rent a car or a bike in Malinau. The place was relatively deserted when I was there, but it was good for travelers who want to feel and to hear the nature, wasn’t it?🙂

img_sem09

Keterangan :

Aku masih pengen sedikit membagikan catatan dan foto-foto yang aku dapatkan di Propinsi Kalimantan Utara nih ceritanya. Jadi . . . setelah semalam bermalam di Tarakan, aku beranjak lebih jauh ke utara, menuju sebuah kota yang menjadi ibukota dari salah satu kabupaten yang berlokasi tidak jauh dari perbatasan negara kita dengan Malaysia. Nama kota yang menjadi tujuanku itu adalah Malinau. Konon nama kota ini muncul pada masa penjajahan Belanda. Jadi ketika itu ada orang Belanda yang datang kepada penduduk setempat dan menanyakan nama sungai yang mengalir di daerah itu, tetapi penduduk setempat menyangka kalau orang Belanda itu menanyakan apa yang sedang mereka kerjakan. Karena itu mereka menjawab sedang membuat sagu dari pahon aren. Dalam bahasa penduduk setempat, membuat sagu disebut mal dan pohon aren di sebut inau. Dari situlah orang-orang Belanda mengenal daerah itu dengan nama Malinau, dan sampai sekarang daerah yang akhirnya menjadi kota itu tetap disebut dengan nama Malinau.

Untuk menuju Malinau, pelancong bisa memilih moda transportasi udara ataupun moda transportasi air. Jika memilih untuk terbang, jarak Tarakan – Malinau bisa ditempih dalam waktu yang sangat singkat, kurang lebih hanya 17 menit; sedangkan jika mempergunakan transportasi air, jarak tersebut bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam dengan mempergunakan speedboat.

Jadi . . . apa yang membuat aku tertarik untuk ke Malinau?  🙄

Pertama-tama tentu saja karena aku belum pernah ke sana sebelumnya 😛. Alasan lain adalah karena aku dapat kisikan bahwa di sana terdapat sebuah air terjun yang unik meskipun air terjun tersebut tidaklah tinggi, bahkan mungkin bagi beberapa di antara kita tidak akan menyebutnya sebagai air terjun.

img_sem06

Betapa tidak, dengan tinggi yang hanya beberapa meter, itupun airnya tidak terjun dengan deras ke sebuah kolam di dasarnya seperti umumnya air terjun yang kita kenal, melainkan airnya seolah turun melalui beberapa tingkatan yang masing-masing tingkatannya memiliki kolam dangkal, sebelum akhirnya mengalir ke sebuah sungai yang seolah membatasi wilayah hutan tempat air yang mengaliri alur air terjun itu berasal, dengan daerah yang tidak berhutan, dan sebagian sudah dijadikan sarana parkir kendaraan yang dilengkapi dengan bangunan serupa gazebo untuk duduk-duduk para pelancong.

img_sem02

Meskipun demikian, pelancong tetap bisa menyeberangi sungai tersebut dan bermain di kaki air terjun itu, baik dengan cara menyeberangi sungai yang dangkal itu ataupun melalui jembatan gantung yang melintang di atas sungai.

img_sem03

Selain untuk mengagumi keindahannya, banyak pelancong sengaja menyeberangi sungai dan bermain di kaki air terjun itu, bahkan memanjat dan bermain di kolam-kolam kecil yang berada di masing-masing tingkatan air terjun itu. Banyak dari mereka sengaja duduk dan berendam di situ karena air yang mengalir di air terjun itu hangat. Yup, betul-betul hangat, dan itulah keunikan air terjun ini disamping bentuknya yang tidak biasa itu. Banyak yang percaya kalau air yang hangat itu bisa menyembuhkan penyakit kulit  😕

img_sem08

Keunikan itu membuat aku dan teman seperjalananku tertarik untuk menyusuri sungai yang air hangatnya mengalir di air terjun itu untuk mencari mata air panasnya.

Perjalanan menyusuri sungai dan menembus hutan cukup menyenangkan dan relatif tidak sulit karena sudah ada jalurnya, maklumlah karena tempat itu sempat dicoba dikembangkan menjadi tujuan wisata pemandian air hangat meskipun rupanya tidak berhasil. Aku sempat melihat bekas-bekas bangunan kolam renang dan kamar ganti yang sudah rusak. Ada juga beberapa jembatan kayu yang dibangun untuk memudahkan para pelancong menyeberangi anak-anak sungai yang sesekali memotong jalur jalan di tengah hutan itu. Suasana cukup sunyi, hanya desir angin yang menggoyangkan daun-daun pepohonan saja yang terdengar. Sesekali terdengar juga suara burung ataupun suara berkeresek ketika ada binatang yang lari karena terusik dengan kehadiranku berdua teman seperjalananku. Tidak terdengar suara pelancong lain ketika itu. Apalagi matahari juga sudah mulai condong ke barat.

img_sem10

Perjalananku akhirnya terhenti ketika aku dan teman seperjalananku mendapati kalau jalan setapak yang kami ikuti bercabang dua, yang pertama melewati sebuah jembatan kayu yang sudah lapuk dan kelihatan sudah lama tidak dilewati sementara cabang yang kedua berbelok di samping jembatan dan berakhir di sungai. Wah . . . dua-duanya mentok😦 . Sungainya pun seolah-olah memang bersumber di situ karena aku melihat sebuah batu besar menutupi aliran sungai dan tampak air sungai keluar dari bawah batu itu. Di sampingnya tampak sebuah pancuran kecil. Aku mencoba merasakan suhu air di pancuran itu yang ternyata cukup dingin, sementara air yang mengalir di bawah batu terasa hangat. Jangan-jangan memang mata airnya ada di bawah batu besar itu . . .

Kebetulan tepat sebelum kami memutuskan untuk kembali ke air terjunnya, teman seperjalananku sempat melihat kalau di seberang sungai, mengarah agak ke atas, tampak ada jalan setapak yang tertutup belukar. Setelah berunding sejenak, akhirnya diputuskan untuk mencoba mengikuti jalan setapak itu. Jalurnya memang tidak mudah. Di beberapa tempat harus memanjat dengan berpegangan pada akar atau batang pohon yang terdapat di situ; bahkan di suatu tempat jalurnya berhenti di tebing sungai yang menyebabkan aku dan teman seperjalananku masuk ke sungai dan melanjutkan perjalanan melalui sungai yang diapit tebing dan airnya terasa semakin meningkat suhunya.

Akhirnya, dibalik sebuah tebing, kami menemukan sebuah kolam dangkal dengan uap tipis melayang di permukaannya yang menandakan bahwa air kolam itu relatif panas jika dibandingkan dengan kesejukan alam sekitarnya. Di tengah-tengah kolam tersebut, terdapat sebuah batu yang permukaannya seolah dilapisi sesuatu yang berwarna kuning. Dan dari batu itu memancar air yang cukup deras sehingga menyerupai air mancur. Rupanya inilah sumber airnya karena air yang terpancar dari bebatuan itu terasa panas.

img_sem17

Air panas juga memancar keluar dari beberapa celah batu di sekitar kolam itu, meskipun alirannya tidak sederas air yang memancar dari batu yang berada di tengah kolam.

img_sem19

Setelah beberapa saat mengagumi keunikan tempat itu sekalian beristirahat, aku dan teman seperjalananku segera kembali menyusuri sungai dan mencari jalan setapak yang semula sudah membawa kami berdua ke situ. Sebetulnya jaraknya sih tidak terlalu jauh. Dari air terjun ke mata air panas itu rasanya hanya sekitar 250 meter. Cuma memang medan yang harus ditelusuri sejak jalur setapak yang tertutup belukar itu agak berat.

img_sem15

Eh iya, sejak tadi aku belum menyebutkan nama tempat ini ya? Sorry, keasyikan cerita akhirnya jadi lupa😛. Orang mengenal tempat itu dengan nama Sumber Air Panas Semolon. Lokasinya ada di Desa Paking, Kecamatan Mentarang, Kabupaten Malinau. Untuk mencapai tempat ini, waktu itu aku butuh waktu sekitar satu setengah jam berkendara dengan mobil dari pusat kota Malinau melalui jalan yang beberapa ruasnya tidak terlalu bagus.

Nah . . . tertarik untuk berkunjung ke tempat yang unik ini?

img_sem01

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 13 Comments

Gloomy afternoon at the beach

I was in Tarakan that day, one of the major cities in North Kalimantan Province, Indonesia. Tarakan was also known as a city that has big deposit of oil since long; and that was why Tarakan had a great strategic importance and was among the first Japanese targets in the early Pacific War. At least that was what the history records said.

The name Tarakan was derived from the local language “tarak” which means a meeting place and “ngakan” that means to eat. Hence the name Tarakan means a meeting place to eat and rest. In the area, Tarakan’s strategic location made the city being visited by many fishermen, sailors and traders from the surrounding islands as well as from abroad; and it made Tarakan became the place to make transactions among them, too.

Up till now, Tarakan still be a city that visited by many people to trade and doing business. The condition made the city that was located in an Island which also called Tarakan, became one of the fast growing city, too.

Nowadays, not only businessmen visited Tarakan. Many travellers also came to explore the beauty of Tarakan and its surrounding area as well as visiting many museums in the city to know more about the region’s history. I, for instance, did not came to do any businesses, but just to look for any interesting places which I’d never visited before; and at that time I got a chance to visit one of Tarakan’s beach, called Amal Beach.

img_pal03

Actually, Amal Beach was a long beach that spanned about 12 kilometres long. Nowadays, the beach was divided into two parts. The old beach was called Pantai Amal Lama (the Old Amal Beach) while the other was called Pantai Amal Baru (the New Amal Beach). Amal Beach was not as pretty as any well-known beaches in Bali or Lombok, but still it was quite refreshing to visit the black sandy beach.

img_pal01

Due to my limited time, I was only visited Pantai Amal Lama, and unfortunately I was there at a gloomy afternoon. The rain was wetting the area since morning; and although helped by the wind that blew quite strong, dark clouds still hung low and made the sky looked gloomy.

img_pal02

In that condition, I did not dare to explore too far, I did not want to get wet. So what I did just taking a few pictures from the sea wall which was built to prevent the abrasion, and after that I went to one of some food stalls that sold the area typical foods, such as boiled shrimps and clams with a specific kind of chilli sauce, and also fried bananas with peanut sauce.

img_pal04

The beach which was located about 11 kilometres from Tarakan’s city centre to the east was still in the process of revitalization. It was said that the beach was designed to be a modern beach front tourist destination. Hope that the modernization process of the beach would not ruined the ecosystem and could helped the locals for better living.—

img_pal07

Keterangan :

Aku lagi mampir di Tarakan nih. Iya, Tarakan yang terletak di Propinsi Kalimantan Utara itu, sebuah kota yang di bumi bawahnya mengandung cadangan minyak yang sangat besar sehingga kota ini dianggap sangat penting dan menjadi sasaran utama serbuan balatentara Jepang pada Perang Pasifik yang lalu. Eh aku nggak ngarang lho . . . itu yang tertulis di banyak catatan sejarah mengenai Tarakan dan sekitarnya.

Nama Tarakan sendiri konon berasal dari Bahasa Tidung, “tarak” yang berarti tempat bertemu dan “ngakan” yang berarti makan. Jadi Tarakan bisa diartikan sebagai tempat pertemuan dimana mereka bisa makan bersama dan beristrahat. Hal ini mungkin disebabkan karena lokasi strategis Tarakan yang menjadikannya sebagai tempat yang ideal untuk singgah para nelayan, pelaut dan juga pedagang yang berasal dari daerah sekitar maupun dari jauh; dan biasanya mereka tidak sekedar singgah melainkan juga melakukan transaksi dagang atau barter.

Kondisi itu masih berlaku hingga sekarang, Tarakan masih menjadi kota dagang yang sibuk selain juga kota minyak. Karena itulah kota yang terletak di sebuah pulau yang bernama sama dengan nama kotanya ini bisa dibilang menjadi salah satu kota yang pesat perkembangannya.

Sekarang Tarakan tidak hanya dikunjungi para pedagang ataupun mereka yang datang untuk urusan dagang atau bisnis saja. Banyak juga orang yang datang dengan tujuan untuk menikmati keunikan dan keindahan yang ditawarkan oleh Tarakan. Aku termasuk dalam kategori ini, karena aku datang ke sana cuma mencari tempat-tempat yang menarik yang kebetulan belum pernah aku kunjungi sebelumnya; dan pada kali itu kebetulan aku sempat mengunjungi Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan Kota Tarakan selain juga berkunjung ke Pantai Amal.

img_pal05

Pantai Amal memiliki bentang pantai yang lumayan panjang, kira-kira sepanjang 12 kilometer. Sekarang bentang pantai itu terbagi menjadi dua dan disebut dengan Pantai Amal Lama dan Pantai Amal Baru. Memang keindahan Pantai Amal tidak bisa dibandingkan dengan keindahan pantai-pantai lain di Bali atau Lombok yang sudah lama terkenal; tetapi pantai berpasir hitam ini tetaplah menarik untuk dikunjungi.

img_pal10

Sayangnya karena terbatasnya waktu yang aku punyai, ketika itu aku hanya sempat berkunjung ke Pantai Amal Lama. Itupun kondisinya kurang menguntungkan karena langit tertutup awan mendung dan sesekali gerimis turun membasahi kawasan pantai. Itu juga sebabnya aku membatasi diri untuk tidak “menjelajah” terlalu jauh. Bagaimanapun aku nggak mau jadi basah kuyup tersiram hujan di pantai. Aku cuma sempat mengambil beberapa foto dari atas tembok yang dibangun untuk menahan abrasi di pantai yang konon akan dikembangkan lebih lanjut menjadi kawasan wisata pantai yang modern.

img_pal08

Setelah itu, aku menyempatkan mampir ke salah satu warung yang berderet di sepanjang pantai untuk mencicipi makanan khas Pantai Amal yang berupa udang sambal jeruk dan kapah rebus yang bisa dimakan begitu saja atau sebagai teman makan ketupat. Selain itu, aku sempat juga mencicipi pisang dan ubi goreng yang dicocol sejenis sambal sehingga memperkaya rasanya. Hasilnya, rencana untuk makan kepiting harus dibatalkan karena sudah keburu kenyang di situ😳😀

img_pal06

Pantai Amal masuk dalam wilayah Kelurahan Amal yang berjarak sekitar 11 kilometer dari pusat kota Tarakan ke arah timur. Jarak itu bisa ditempuh dengan berkendara selama kurang lebih 20 menit melalui jalan yang sebagian besar sudah cukup baik.

Mudah-mudahan saja proses pembangunan dan revitalisasi kawasan Pantai Amal menjadi kawasan wisata pantai modern tetap memperhatikan kelestarian lingkungan pantai selain juga bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitarnya.–

img_pal09

img_pal12

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 10 Comments

A cup of coffee with a view

Bali was quite known among travelers, especially for its tradition, temples and beautiful beaches. Aside of that, Bali also had many pretty places in their highlands. Ubud and Kintamani were among many places on the highland which had landscapes that soothed the eyes of many travelers. In my opinion, it was not only the pretty sceneries that attract people to come to those places; the cool air was also quite convenience for them who ran from the hustle bustle of big cities and looking for a place to relax.

And do you know what . . ? The best way to enjoy lovely views and cool breeze was in a nice chair with a cup of hot coffee. At least, that was for me 😎

In Ubud, travelers could enjoy relaxing atmosphere like that because there were many place that called themselves agro-tourism providers and they provide a simple tour in a coffee and chocolate plantations, as well as introducing the process in making one of the most expensive coffee called Kopi Luwak or Civet Coffee.

At that time, after visiting Pinggan Village in the morning, I continue my journey to such a place called Bali Pulina. It located about 12 kilometers from Ubud city center and about 5 minutes drive to the north from Tegalalang, the place famed for its terraced paddy field.

img_pul01

Upon arrival, I was greeted by a girl who then took me on a short tour around the place. First stop was at some cages with civet cats (Paradoxurus hermaphrodites) in the cages. In those cages there were also plates with coffee berries in it. The coffee berries were the civet cats favorite food. Actually they only like the berries’ flesh, but the cats swallowed the berries in a whole, including the hard seed inside the berries. The civet cats’ digestive system, however, could not digest the seed. So the seeds just passed through the system and out with the cats poops. It was said that the civet cat’s digestive system strengthens the coffee aroma and lessen the bitterness of the coffee taste, and that was why Kopi Luwak was sought by many coffee drinkers.

img_pul04

Later on, the poops would be collected and sorted. The coffee seeds been separated and dried under the sun; and when it was dry enough, the seeds would be washed, roasted and finally ground to make them into coffee powder.

img_pul11

After explaining the process in producing Kopi Luwak, she then showed me many traditional tools that been used in a coffee plantation, and finally ushered me to a kind of café to try the taste of various drinks they provide. There were 8 small cups on a wooden tray consisted of Lemon Tea, Ginger Tea, Ginger Coffee, Ginseng Coffee, Chocolate Coffee, Pure Cocoa, Vanilla Coffee and Pure Bali Coffee that could be tasted for free 😀

img_pul14

Aside of those small cups, travelers could order any other drinks and snacks, too. The Luwak Coffee was one among various kinds of drinks they served. When I was there, the price was IDR 50,000.—(approximately USD 4.–) per cup of black Kopi Luwak.

img_pul13

The café itself was a nice place that looked over a valley with terraced paddy fields. There were also wooden platforms that hung over the valley that could be used by them who want to take pictures with the valley and the paddy fields as the background. For them who did not want to take pictures, they could still sit on their chosen seat and enjoy the scenery while sipping a cup of hot coffee and savoring some delicious local snacks.

img_pul15

Done with the drinks and snacks, on the way out, travelers could stop by at Pulina’s shop and bought some packs of coffee powder as well as souvenirs. Well . . at least travelers still brought something home aside of a nice memory on the taste of the Kopi Luwak and pictures of pretty scenery captured from Bali Pulina 🙂 .—

Keterangan :

Bali, siapa sih yang nggak kenal dengan pulau yang juga dikenal sebagai Pulau Dewata ini? Pura-puranya yang indah, tradisi yang masih kental serta berbagai pantai indah membuat banyak orang tertarik untuk berlibur di sana. Dan meskipun sebagian besar orang lebih tertarik dengan pantai-pantainya yang indah, Bali sebenarnya masih menyimpan keindahan lain yang terletak di ketinggian. Bukan di langit tentu saja, melainkan di daerah pegunungannya. Ada banyak tempat yang memiliki pemandangan yang sungguh memanjakan mata siapapun yang datang ke sana. Misal saja pemandangan yang bisa kita jumpai di Ubud dan Kintamani. Udara yang sejuk merupakan nilai tambah yang membuat orang datang ke sana untuk bersantai dan lari sejenak dari rutinitas dan kesibukan sehari-hari

img_pul20

Dan . . . tahu nggak apa yang paling enak kita lakukan di tempat-tempat seperti itu? Buat aku, pemandangan indah yang memanjakan mata dengan udara sejuk yang membelai kita tentu akan lebih asyik kalau kita nikmati sembari duduk nyaman dengan secangkir kopi hangat di tangan. Apalagi kalau kopinya itu kopi kelas premium yang sudah terkenal kelezatannya 😎

Nah . . di Ubud, suasana nyaman seperti yang aku bayangkan itu bisa kita dapatkan karena di sana ada banyak tempat yang menawarkan kegiatan ber-agrowisata singkat di kebun kopi dan coklat yang diakhiri dengan mencicip kelezatan kopi yang mereka produksi, termasuk juga mencicip salah satu kopi yang masuk kategori premium, yaitu Kopi Luwak.

Ketika itu, sepulang dari Desa Pinggan, aku melanjutkan perjalanan ke arah Ubud. Tujuannya adalah sebuah tempat agrowisata bernama Bali Pulina yang terletak kurang lebih 12 kilometer dari pusat kota Ubud. Bali Pulina ini tidak jauh lokasinya dari Tegalalang yang sudah dikenal dengan keindahan sawah berundaknya.

img_pul03

Di Bali Pulina, begitu sampai, kita akan disambut oleh seseorang yang bertindak selaku guide bagi para pengunjung. Umumnya, begitu memasuki gerbang Bali Pulina, pengunjung akan diajak ke sebuah tempat dimana terdapat beberapa kandang besar yang berisi binatang luwak (Paradoxurus hermaphrodites). Di dalam kandang-kandang itu juga tampak adanya wadah yang berisi buah kopi masak yang memang menjadi makanan kesukaan para luwak itu. Sebetulnya sih yang disukai adalah daging buah kopinya karena bijinya kan keras banget. Hanya saja para luwak itu memakan buah-buah kopi itu secara utuh sama biji-bijinya. Nah . . biji-biji kopi itu saking kerasnya nggak bisa dicerna oleh system pencernaan luwak, sehingga akan keluar utuh bersama kotorannya.

img_pul05

Proses pembuatan kopi luwak sebetulnya mulai dari sini. Jadi . . kotoran-kotoran luwak yang mengandung biji kopi akan dikumpulkan dan biji-biji kopinya akan dipisahkan. Kemudian biji-biji kopi itu akan dijemur di bawah terik matahari sampai kering. Setelah kering, biji-biji itu akan dicuci bersih sebelum dijemur lagi. Tahap berikutnya adalah menyangrai biji-biji kopi itu. Di Bali Pulina aku melihat proses menyangrainya yang dilakukan secara tradisional. Biji kopi yang sudah matang kemudian dihaluskan dan diayak sehingga dihasilkanlah bubuk kopi halus yang siap seduh.

Trus kenapa kita mau-maunya minum kopi yang sebelumnya diambil dari kotoran binatang luwak?

Katanya sih, kopi luwak ini merupakan kopi yang paling enak. Selain luwak hanya makan buah kopi yang sudah betul-betul masak, juga sistem pencernaan luwak ini menghasilkan enzim tertentu yang menyebabkan aroma kopi menjadi lebih kuat tetapi rasanya justru menjadi tidak terlalu pahit.

Tour kita di situ akan berlanjut setelah selesai melihat proses pembuatan kopi luwak itu, petugas tadi akan mempersilahkan para pengunjung untuk menuju ke sebuah bangunan di tepi lembah untuk mencicipi beberapa jenis kopi yang mereka hasilkan. Jalan menuju bangunan tersebut akan melewati sebuah gubug terbuka dimana kita akan bisa melihat berbagai peralatan tradisional yang umum dipakai di perkebunan kopi dan coklat.

img_pul12

Ada 8 jenis minuman yang disajikan dalam cangkir-cangkir kecil yang bisa kita cicip dengan gratis di sana, yaitu Teh Lemon, Teh Jahe, Kopi Jahe, Kopi Ginseng, Kopi Coklat, Coklat, Kopi Vanili dan Kopi Bali murni. Buat mereka yang ingin mencicip rasa kopi luwak, bisa juga memesannya di situ. Mereka membanderol secangkir kopi luwak dengan harga 50K. Buat yang ingin mengunyah sesuatu, di situ juga disediakan berbagai snack yang lezat.

img_pul16

Selain tempat duduk untuk ngopi sambil memandang hamparan sawah berundak di dalam lembah, Bali Pulina juga menyedian beberapa anjungan dari kayu yang dibuat artistik sehingga mengundang banyak orang untuk berfoto di atasnya.

img_pul21

Setelah puas, pengunjung yang berjalan menuju pintu keluar akan melewati sebuah toko kecil yang menjual aneka olahan kopi dan teh seperti yang sudah dicicip sebelumnya, disamping juga beberapa jenis souvenir. Bagi yang berminat silahkan berbelanja sehingga ketika pulang tidak hanya kenangan yang dibawa, melainkan juga ada bawaan berupa kopi yang lezat 😛

img_pul22

img_pul24

img_pul26

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 14 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.