A lake in a mining site

That time I was wandering to a coal mining site not far from Banjarmasin, South Kalimantan, Indonesia, in order to look for a lake which was became a hot topic among the locals because of its beauty. Many had visited the lake and took self or group pictures with the lake as the background, and then posted the pictures in their social media; which in turn attracted more people to look for the lake.

 

img_dbp16

The lake was not a natural lake, like the one in my previous post, the lake which I visited this time was also a neglected open pit of a mine. If the previous lake was an abandoned diamond mine, this one was a deserted coal mine. Yes . . Kalimantan was also rich of coal, which was why there were many coal mines scattered in the area. Unfortunately, nature had suffered a lot of those mining activities. Many holes and craters were just left behind; the land became barren because of the chemical used in the activity. It seemed that no conservation was done in order to heal the wound of the earth.

img_dbp01

But the earth tried to heal itself by the help of the rain. From times to times the rain washed the area around the pit from the chemical and made the acidity of the soil became more tolerable for simple plants to grow. Rain also filled the holes with water, water which admitted or not was contained of chemical which previously used in the area. That was why the water in the pit was bluish green in colour, and no fishes could live in there.

img_dbp02

After several times, the pit became a lake; grass and other plants started to grow and made the area started to live. Some of them became quite pretty and attracted travelers. With many people came to the area, the locals got benefit by providing anything that needed by the visitors, such as snacks and drinks or perhaps just a safe parking lot. By this, perhaps the ex mining site which initially abandoned would come back to life.

The one I visited that time was known as Danau Biru Pengaron which could literally be translated as The Blue Lake of Pengaron; it bore the name because the water of the lake was really blue . . . dark blue green to be precise. Perhaps it would look really blue if I came to the lake at noon when the sun shone brightly, not like when I was there. It was late afternoon and dark clouds hung low after a full-day raining which made the soil around the lake became clay and easily stuck to shoes or sandals. With a heavy pair of shoes or sandals and a slippery terrain, I decided not to try to go to the lake shore. It was too dangerous to go there through a relatively steep slope.

img_dbp06

As seen on the pictures here, the surrounding area of the lake was red soil. At the cliff by the side of the lake, marks made by excavators and any other big machines used in the mining site was clearly seen. But the combination of the red soil around the blue lake combined with green vegetation was really soothing the eyes. The atmosphere was quiet but temporarily disrupted by the roar of mining trucks passed on the other side of the lake.

img_dbp07

The lake was located in Pengaron Village, Banjar District, South Kalimantan. It was about 100 kilometers from Banjarmasin. The road to the lake was good when it was on the main road, but when entering the mining site, the road was relatively bad because the road was unsealed, and was only a hardened land. When it was raining, the road would become muddy and slippery; on the other hand, when it was dry, the dust billowing into the hot air every time vehicles passed the road. Aside of that, travelers who passed through the road should be careful because they had to share the road with big mining vehicles.

There was no public transport servicing the area since it was deep in a mining area. I was there on week-days; I was the only visitor at that time, aside of my travel partner of course. There were no public utilities or simple stalls selling snacks or refreshments. The area was still untouched. Hope if someday there would be somebody or any institution made the place a well managed tourist destination, they would also and always preserve the nature.

img_dbp08

Keterangan :

Sore itu aku dan partner jalanku masih berkendara menyusuri jalan-jalan di luar kota Banjarmasin, tepatnya di arah selatan kota. Jalanan masih basah akibat gerimis yang sesekali masih turun. Maklumlah, namanya juga masih musim penghujan. Waktu yang sebenarnya kurang cocok untuk berburu keindahan di alam seperti aku waktu itu. Tapi biarlah . . . bagaimanapun kerjaan di kantor baru bisa ditinggal, lagipula toh sudah terlanjur sampai di situ juga kan 😆

Sore itu tujuanku mencari lokasi sebuah danau yang belakangan ini sedang menjadi hit di antara para remaja Banjarmasin. Sudah banyak yang ke sana dan mengambil foto selfie atau grupie dengan latar belakang danau itu. Memang dari foto-fotonya, kelihatan kalau pemandangan di sana cukup indah, kalau kata orang-orang sih instagramable gitu 😎

img_dbp17

Danau yang aku cari ini bukanlah danau alam. Sama halnya dengan yang pernah aku unggah di postingan sebelumnya, apa yang nampak seperti danau ini sebetulnya adalah bekas tambang yang sudah ditinggalkan. Hanya saja di postingan sebelum ini, danaunya terbentuk dari bekas galian tambang intan, sementara yang aku cari ini merupakan bekas galian tambang batubara. Ya . . . bumi Kalimantan juga banyak mengandung batubara selain intan. Itu pula sebabnya banyak perusahaan tambang batubara yang beroperasi di sana. Sayangnya aktifitas penambangan terkesan merusak alam. Lubang dan cerukan besar serupa kawah akibat aktifitas pertambangan yang sudah tidak aktif lagi dibiarkan begitu saja. Tanah sekitarnya juga menjadi tandus akibat penggunaan bahan kimia.

img_dbp15

Untunglah alam memiliki mekanisme untuk menyembuhkan “luka”-nya sendiri. Hujan membantu membasuh kandungan kimia dari daerah sekitar cekungan bekas tambang sehingga sedikit demi sedikit tingkat keasaman tanah di sana kembali normal yang memungkinkan tumbuhnya tanaman. Hujan juga mengisi cekungan dan lubang bekas galian yang sidah ditinggalkan itu dengan air; air yang diakui maupun tidak memiliki kandungan bahan kimia tertentu yang semula tertinggal di daerah itu tapi akhirnya larut dalam air yang menggenangi cekungan itu. Karena adanya kandungan bahan kimia tertentu itu pulalah maka air di dalam cekungan itu berwarna kebiruan. Konon air itu akan membuat kulit kita teriritasi kalau mengenai kulit kita 😮

img_dbp09

Lama kelamaan, air yang mengisi cekungan itu semakin banyak sehingga cekungan itu berubah menjadi sebuah danau. Daerah tepian danau juga mulai ditumbuhi rumput dan ilalang serta berbagai tanaman lain yang membuat pemandangan di sana menjadi cukup menyejukan mata dan menarik pelancong untuk mengaguminya. Kedatangan para pelancong itu tentunya lama kelamaan akan membuat daerah yang semula sudah ditinggalkan menjadi hidup kembali.

Sore itu yang aku cari adalah sebuah danau yang dikenal dengan nama Danau Biru Pengaron. Nama itu disandangnya karena air danau tersebut betul-betul tampak berwarna biru jernih, biru kehijau-hijauan sih. Mungkin kalau aku ke sana pada siang hari bolong dimana matahari bersinar cerah, air danau itu akan nampak betul-betul biru, sementara aku ke sana sudah menjelang sore dan kondisi juga mendung berat.

img_dbp14

Seperti nampak dalam foto-foto yang aku sertakan di sini, danau itu terletak di sebuah dataran yang tanahnya berupa tanah merah. Bekas-bekas garukan ekskavator dan berbagai alat berat lain kelihatan jelas di dinding tebing yang ada di salah satu sisi danau. Sementara di sisi lain tanah liat yang terbentuk akibat hujan yang mengguyur daerah itu betul-betul membuat aku dan partner jalanku kerepotan akibat sandal dan sepatu yang semakin berat. Bahkan sesekali membuat langkah terhenti karena kaki seolah tertancap di tanah dan tidak bisa digerakkan. Tanah liat itu juga licin, sehingga aku membatalkan turun ke tepi danau karena medannya yang cukup curam.

Tapi kalaupun harus menikmati danau hanya dari atas, tetaplah tidak mengurangi keasyikannya. Kombinasi warna biru kehijauan air danau yang dikelilingi tanah merah kecoklatan yang di sana-sini dironai semburat hijau rumput dan perdu, membuat mata tak bosan-bosannya melalap apa yang tersaji di depannya. Suasana cukup tenang ketika aku ke sana. Maklum aku kesana bukan di hari libur, sehingga saat itu pengunjung danau hanyalah aku dan partner jalanku. Kesunyian yang menyelimuti daerah itu hanya sesekali dipecahkan oleh deru truk tambang yang lewat di seberang danau.

img_dbp10

Danau Biru Pengaron terletak di Desa Pengaron, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Kurang lebih berjarak 100 kilometer dari Banjarmasin ke arah selatan. Pada umumnya, jalan menuju ke lokasi sudah cukup baik selama masih berada di jalan utama. Tetapi ketika sudah memasuki daerah tambang, maka jalanan tanah yang membelah kebun dan bukitlah yang harus kita lalui. Jalan yang ketika hujan turun menjadi berlumpur dan licin , sementara ketika hari panas terik menjadi sangat berdebu. Apalagi kita harus berbagi jalan juga dengan kendaraan-kendaraan tambang yang besar-besar.

Sebagai informasi, nggak ada kendaraan umum yang bisa mengantar pelancong ke sana. Jadi mau nggak mau ya harus sewa kendaraan atau bawa kendaraan sendiri. Di lokasi juga tampak bahwa daerah itu masih alami, belum tersentuh tangan pengelola atau siapapun. Karena itulah, ketika aku ke sana masih belum ada penjual ticket masuk maupun pedagang yang menjual makanan dan minuman ringan di sana. Ya mudah-mudahan sih kalau nanti ada pihak-pihak yang mau menata dan mengelola Danau Biru Pengaron sebagai obyek wisata, kelestarian lingkungan sekitar bisa tetap terjaga, bahkan kerusakan yang sudah terlanjur terjadi bisa diperbaiki.-

img_dbp18

img_dbp19

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , , | 36 Comments

Agony behind beauty

img_tic01

What do you think about the picture above? Although it looked neglected, it still pretty, isn’t it? A brown water lake bordered by a row of mountains in afar; a big tree stood by the lake shore as if protecting anybody who came to the lake of the heat of the sun that shone brightly.

The lake was actually not a natural lake. It was an open mining hole which was already abandoned by the miners because they believe that the expected mines had already run out. As the time went by, the abandoned pit was filled by rainwater, and the locals started to utilize some of the pits as fish ponds.

Anyway, behind the pretty scenery there were stories of how people should struggle in agony to mine.

The place where I took the pictures was called Cempaka, a place which known as one of the largest diamond mines in Indonesia. Cempaka was the place where a big diamond was found in the 1960s. It was said that it was as big as a chicken egg.

img_tic02

Nowadays, many miners still hoping that other big diamonds would be found in there. They still mined the land of Cempaka, practically in a traditional way. Some of them worked in a group while others worked individually.

It was my second visit to Cempaka. On my first visit two years ago, my main attention drew to big but simple structures that looked like wooden rigs. The structures were used to unearth sands and stones from the pit with the help of a simple machine. From the materials they’d got, the miners would separate the dirt form any gems including raw diamonds. Some of the miners separated any precious stones manually using simple tools that look like a pan in a pool of water. The water helped the miners extracting precious mines from the dirt.

img_tic03

In my second visit, my attention drew to a more traditional way in looking for diamonds. The way was cheaper but at the same time had a higher risk.

The way they mine was by digging a hole and then place wooden stakes around the hole to prevent the land to slide back into the hole. Sometimes, however, the hole was collapsed and buried miners alive. It happened several times and had already taken many lives among the miners; and yet the disasters never stopped them to climb down into the hole again after some time to look for precious mines, mainly for diamonds.

Travelers could visit the traditional mine anytime. The miners were open to visitors and would be gladly explained the process, even they often offered travelers to climb down the pit and felt by themselves the feeling of the miners when they were in the bottom of the pit. They also been very pleased if there were somebody came to try to pan in a waist-deep pool, looking for precious stones.

img_tic07

Cempaka was not far from Banjarmasin, the capital city of South Kalimantan Province, Indonesia. The distance was about 47 kilometers from Banjarmasin; it took only about one hour drive in a relatively good road. To visit Cempaka, however, travelers should prepare themselves as there were no public facilities nor shelter to avoid the scorching sun or a downpour.

Anyway, it was quite interesting to visit the place as travelers could see how the agony behind the beauty of the scenery in Cempaka and also the hard effort to find precious stones before they came to the jewellery stores.

img_tic15

Keterangan :

Sepintas pemandangan yang tersaji di foto di bawah ini tampak indah, meskipun air danaunya tidak berwarna biru kehijauan melainkan berwarna coklat. Tapi tahu nggak sih kalau sebetulnya ada cerita menyedihkan yang berkaitan dengan danau itu. Bukan berupa kisah legenda tejadinya danau itu, tetapi adanya korban jiwa di danau-danau sejenis, bahkan mungkin juga di danau yang fotonya aku pasang di bawah ini.

img_tic08

Lhah . . . koq serem sih? Memang orang-orang yang meninggal itu tenggelam di situ atau bagaimana? 😯

Dibilang tenggelam bisa juga sih, tapi mungkin lebih tepatnya tertimbun. Nggak usah bingung, aku nggak salah tulis. Memang tertimbun dan kejadiannya sebelum danau ini terbentuk. Bagaimanapun danau ini bukan bentukan alam. Danau yang tampak dalam foto itu sebetulnya adalah bekas galian tambang yang berbentuk seperti kawah. Ketika hasil tambang yang diharapkan sudah tidak ditemukan lagi, maka lubang-lubang bekas galian tambang itu ditinggalkan begitu saja, sehingga lama kelamaan lubang-lubang semacam itu mulai terisi dengan air hujan sehingga sejalan dengan berlalunya waktu berubah menjadi danau.

img_tic14

Terus cerita soal orang-orang yang katanya meninggal di danau itu . . . ?

Sabar . . aku pasti akan ceritakan. Nah aku mulai ya . . .

Jadi . . tempat di mana aku mengambil foto itu dikenal dengan nama Cempaka. Sebuah kecamatan yang terkenal sebagai daerah penghasil intan terbesar di Indonesia. Di Cempaka jugalah pada tahun 60-an ditemukan sebongkah intan sebesar telur ayam yang kemudian dikenal dengan nama intan Trisakti.

Sampai sekarang, masih banyak penambang yang berharap masih akan bisa menemukan bongkahan intan besar lagi di sana. Karena itu kegiatan menambang masih marak di Cempaka meskipun mereka menambang dengan cara-cara tradisional. Para penambang itu ada yang bekerja secara berkelompok, ada pula yang bekerja sendiri-sendiri.

img_tic16

Kunjunganku kali ini sebetulnya merupakan kunjunganku yang kedua ke sana. Aku ke sana pertama kalinya pada tahun 2014, dan ketika itu aku tertarik mengamati bangunan kayu yang menjulang di tengah-tengah tanah lapang. Dari orang yang mengantarku, baru aku tahu kalau bangunan itu merupakan alat untuk mengeduk aneka barang tambang dari dalam perut bumi . Gumpalan-gumpalan tanah bercampur air menyembur dari ujung bangunan itu ke penampungan di bawahnya. Beberapa penambang kemudian akan memisahkan hasil tambang itu secara manual dengan semacam alat seperti caping terbalik di dalam genangan air. Pekerjaan itu disebut dengan istilah me-lenggang. Dari hasil lenggang itu, mereka bisa memperoleh batu mulia, emas, besi, benda-benda peninggalan jaman dahulu, dan yang paling mereka cari tentunya intan.

img_tic10

Pada kunjunganku kali ini, perhatianku tidak lagi tertuju pada bangunan kayu itu, melainkan pada para penambang intan yang melakukan penggalian betul-betul secara manual. Memang cara ini relatif lebih murah, tapi juga lebih berisiko. Bagaimana tidak, dengan cara demikian, mereka betul-betul membuat lubang di tanah dengan kedalaman sesuai perkiraan dimana mereka akan menemukan intan. Tepi lubang akan disangga dengan kayu untuk menghindari longsor, dan pada kedalaman-kedalaman tertentu di dalam lubang juga dibangun semacam panggung untuk tempat berpijak.

img_tic11

img_tic12

Tetapi, meskipun tepian lubang sudah diganjal dengan kayu, tetap saja ada kejadian dimana dinding lubang itu runtuh dan mengubur hidup-hidup para penambang yang masih ada di dalam lubang. Biasanya kalau hal ini terjadi, penduduk sekitar akan bergegas bergotong royong menggali lubang itu untuk menolong temannya yang terkubur. Tidak jarang karena dalamya lubang tambang, mereka yang terkubur tidak dapat ditemukan  😦

Nah . . gitu ceritanya kenapa aku tadi katakana ada kemungkinan di danau itu pernah ada orang yang meninggal, bukan karena tenggelam tetapi karena tertimbun longsoran sebelum air hujan mengisi cekungan bekas tambang yang sudah ditinggalkan tersebut.

Kalau mau menyaksikan secara langsung kegiatan para penambang itu, para pelancong bisa berkunjung ke Cempaka. Praktis mereka melakukan kegiatan tiap hari, kecuali hari Jumat. Meskipun sepintas kelihatan seram karena sorot mata mereka yang tajam, tapi sebetulnya para penambang itu cukup ramah koq. Mereka akan dengan senang hati menceritakan proses menambang dan melenggang, bahkan mereka nggak sungkan untuk memperagakannya kepada pelancong jika diminta. Buat yang punya cukup nyali untuk turun ke dasar tambang, merekapun akan dengan senang hati mempersilahkan untuk turun dan merasakan apa yang dirasakan para penambang intan tradisional di dasar lubang tambang.

img_tic13

Lokasi tambang intan ini nggak terlalu jauh dari Banjarmasin. Jaraknya kurang lebih hanya 47 kilometer, atau kurang lebih 1 jam perjalanan dengan mobil. Hanya saja, karena di sana bukan merupakan tempat wisata yang umum, jadi jangan berharap kalau di sana terdapat fasilitas umum seperti yang biasa terdapat di tempat-tempat wisata lain ya . . .

Anyway, kunjungan ke Cempaka rasanya perlu juga; karena dengan berkunjung ke sana, kita bisa mengetahui bagaimana tingginya risiko yang dihadapi para penambang dalam menemukan intan maupun batu mulia lain. Betapa banyak keringat dan air mata yang tertumpah sebelum sebuah perhiasan indah dan mahal diletakkan di etalase toko perhiasan.–

img_tic09

Categories: Pictures of Life | Tags: , , , , | 22 Comments

An island roamed by monkeys

I was still in South Kalimantan Province, Indonesia. That morning my travel partner and I were just visiting one of the famous floating markets of Banjarmasin in Lok Baintan. On our way back to our hotel via Martapura River, the boat man offered us to visit a small island located at the junction of Alalak River with its main river, the Barito. So the island was actually a river delta, a land formed by sediments carried years after years by rivers that met up at the junction. The tiny island was known as Pulau Kembang.

The island was known as the habitat of long tailed monkeys (macaca fascicularis) for a long time. It was said that there were hundredth of them living on the more than 125 acre island. The island, which now had become one of Banjarmasin’s tourist destinations could be reached easily by a small boat from many piers in the city. The distance from the city was only about 1.5 kilometres from the city, so it would only take about 15 minutes trip on the river to reach the monkey island.

img_puk01

To accommodate travelers who wanted to explore and interact with the monkeys, on the shore, the local government had built a permanent pier, so travelers could land on the island easily. Aside of the pier, they also built a ticket booth. Yes, to enter the island, travelers should buy a ticket. The price was relatively cheap, please not to worry 😎

On the island itself, to make travelers easy and comfortable exploring the mangrove forest which had been the nest of the monkeys, a wooden path had been made. The path crisscrossed some part of the island entering the forest, so travelers could see the monkeys playing, climbing the trees, running and doing anything in their natural habitat.

img_puk03

img_puk04

There were many legends lived among the locals that related to the origin of the island and many monkeys that inhabited it. One of them was about an invasion to the local kingdom of Banjar in the 18th century. It was said that a big ship from China once came through the river, and the intention was to conquer the kingdom of Banjar. Later on, the grand vizier of Banjar with its supernatural power could defeat the intruder and sunk the intruder ship along with all the people inside the ship.

Time after time, the sunken ship was covered by mud and sediments, and turned into an island. Seeing the island at the junction of Alalak and Barito River, the later king of Banjar ordered one of his men to guard the island. To accompany him guarding the newly formed island, the guard bring along with him two monkeys. After a long time, the monkeys bred and now the population was so big.

img_puk18

On the other hand, the Chinese community in the area considered the island as the tomb of their kin. They often pray for the deceased on the island. They brought flowers to use in their ritual. The locals who passed the island often saw many flowers laid on the island shore. And since then, the locals called the new island Pulau Kembang (pulau means island and kembang means flower). Later on, the Chinese community also built a small temple with an altar on the island for the purpose of their ritual. The altar was still existed up till now and still being used at a certain time.

img_puk05

So . . . are you interested to meet and play with some cute monkeys on the island? If so, please be careful because the monkeys on Pulau Kembang were still wild monkeys, they were not pets :mrgreen:

img_puk21

Keterangan :

Pagi itu, setelah berkunjung ke salah satu lokasi pasar terapung yang sudah menjadi ikon Banjarmasin, aku dan teman seperjalananku menyusuri Sungai Martapura untuk kembali ke kota ketika tiba-tiba si bapak yang mengemudikan perahu kelotok menawarkan untuk langsung ke Pulau Kembang sekalian sebelum kembali ke kota. Katanya sih lokasinya nggak jauh dari kota, paling juga sekitar 1.5 kilometer dan bisa ditempuh dalam waktu yang nggak terlalu lama dengan kelotok yang aku tumpangi itu.

Pulau Kembang sebetulnya merupakan tanah delta sungai yang terletak di pertemuan antara aliran sungai Alalak dengan Sungai Barito. Endapan lumpur berbilang tahun di situ menyebabkan timbulnya daratan yang kemudian ditutupi mangrove. Pulau seluas kurang lebih 60 Hektar ini merupakan habitat kawanan kera ekor panjang (macaca fascicularis). Konon sih ada juga bekantan yang hidup di sana, tapi sayangnya bekantan-bekantan ini jarang menampakkan dirinya. Mungkin malu karena hidungnya yang besar itu 😆

img_puk09

Pulau Kembang sudah dikembangkan menjadi salah satu tujuan wisata andalan Banjarmasin. Di sana sudah dibangun dermaga yang memudahkan perahu-perahu kelotok yang mengangkut pelancong bersandar dan menurunkan penumpangnya. Di dekat dermaga juga sudah dibangun sebuah bangunan yang difungsikan sebagai loket penjualan tiket.

Lho . . jadi ke situ harus bayar tiket segala ya? 😯

Iya, tapi jangan kuatirlah. Buat kita orang lokal, harga tiketnya murah banget koq. Ketika aku kesana, per orang hanya dikenakan Rp 5.000,– pada hari biasa dan Rp 7.500,– di hari libur.

Kemudian untuk memudahkan para pelancong menjelajah sebagian pulau, pemerintah setempat sudah membangun jalur jalan dari kayu yang saling bersilangan masuk ke dalam hutan mangrove yang tumbuh lebat di pulau itu. Dengan demikian, pelancong juga tidak perlu berjalan di lumpur yang menutupi permukaan pulau kalau ingin melihat tingkah polah monyet-monyet di sana. Ya meskipun jadinya kita juga sering berbagi jalan bersama monyet-monyet yang kadang main kejar-kejaran di jalur jalan itu atau malahan asyik saling mencari kutu atau berpacaran layaknya jalur jalan itu punya moyangnya 😛

img_puk10

img_puk12

Ada banyak legenda yang berkaitan dengan asal mula Pulau Kembang dan monyet-monyet yang hidup di sana. Salah satunya menceritakan bahwa pada abad ke 18, sebuah jung besar dari negeri tirai bambu masuk melalui Sungai Barito dengan tujuan ingin menaklukan kerajaan Banjar. Patih Banjar yang sakti segera menghadang rombongan tersebut dan meminta mereka untuk mengurungkan niatnya. Tapi rupanya pertempuran tidak bisa dihindarkan.

Akhirnya Sang Patih berhasil mengalahkan para penyerbu itu; bahkan dengan kesaktiannya, perahu besar itu dapat ditenggelamkan beserta seluruh isinya.

Berbilang tahun kemudian, kapal yang tenggelam tersebut menjadi penghambat aliran air sungai Barito maupun Alalak sehingga tubuh kapal mulai tertutup lumpur yang terbawa aliran sungai-sungai tersebut. Lama kelamaan lumpur yang melapisi badan kapal menjadi semakin tebal bahkan mengendap dan membentuk daratan yang kemudian perlahan mulai ditumbuhi berbagai tanaman mangrove. Rupanya tanah endapan yang subur itu memang cocok sebagai tempat tumbuh tanaman mangrove sehingga tidak terlalu lama, tumbuhan yang ada di pulau itu sudah membentuk hutan.

Raja Banjar yang kemudian, meminta salah satu orang kepercayaannya untuk tinggal di pulau yang baru terbentuk itu sekaligus menjaganya. Orang tersebut membawa serta dua ekor kera kesayangannya untuk menemaninya di pulau itu. Konon setelah beberapa tahun orang tersebut menghilang dan rohnya dipercaya menjadi penunggu pulau; sementara sepasang kera yang dibawanya berkembang biak menjadi sangat banyak bahkan sekarang jumlah kera keturunannya di sana sudah ratusan.

img_puk11

Sementara itu masyarakat keturunan Tionghoa yang tinggal di sekitar sungai Barito, menganggap bahwa pulau yang baru terbentuk itu juga merupakan pusara bagi kerabat mereka. Karena itulah mereka sering datang ke pulau itu sambil membawa bunga dan melakukan ritual persembahyangan di sana.

Penduduk sekitar sering kali melihat taburan maupun tumpukan bunga yang cukup banyak di pulau itu, sehingga lambat laun mereka mulai menyebut pulau itu dengan nama pulau yang banyak bunga atau kembangnya; dan lama kelamaan nama Pulau Kembang menjadi sebutan untuk pulau tersebut.

Belakangan, di pulau tersebut dibangun juga sebuah bangunan terbuka dengan altar persembahyangan di dalamnya. Bangunan dan altar ini sampai sekarang masih sering dipergunakan oleh masyarakat Tionghoa setempat untuk melakukan ritual persembahyangan.

img_puk13

Nah itu sedikit gambaran mengenai Pulau Kembang, sebuah pulau yang ada di tengah sungai dan dihuni oleh ratusan ekor monyet. Tertarik ke sana? Kalau iya, tetap harus berhati-hati kalau bercanda dengan para monyet di sana ya. Biarpun kelihatan lucu dan jinak, tetap saja monyet-monyet itu hewan liar yang bisa sewaktu-waktu nakal dan bahkan beringas.–

img_puk20

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 24 Comments

Blog at WordPress.com.