They lived on the river-banks

Banjarmasin is the capital of South Kalimantan Province, Indonesia. The city which was considered as one of Indonesia’s largest cities, was located on an island at the junction of two big rivers called Barito River and Martapura River. The rivers had also many rivulets and man-made canals that crisscrossing the entire city, hence Banjarmasin had also known as a river city.

Many rivers and rivulets were big enough for medium sized boats that could accommodate many people traveling together like a river bus, while others were quite small so that only small boats and sampans could pass through them.

img_rvr01

Because of the existence of many rivers in the area, for the Banjarese (the indigenous ethnic group of Banjarmasin and the surrounding area), the rivers played a significant role in their daily life, even it became their way of life. For them, rivers were not only meant as a way to travel, rivers also meant as their source of water that supporting their daily life, as a place to interact and communicate with others as well as a place to make a living. Yes the place to make a living, as their traditional markets were also on the river which now was quite known as one of Banjarmasin’s places of interest.

In those floating markets, travelers could see that early in the morning, people, mostly woman, row their sampans to a known meeting place where they could sell or buy things on the river. The traffic in the river could be very heavy with many sampans full of vegetables, fruits, spices, foods, and also other daily needs. Nowadays, as many tourists also regularly came to the market, there were sampans that sold souvenirs, too. The people in the markets expertly maneuvering their sampans as the sampans constantly wobbled on the river currents. Some little bumps between sampans could not be avoided, of course.

img_rvr02

Most Banjarese, traditionally built their home on the river banks and formed a kind of waterfront villages. The culture was derived from their ancestors who developed the ability to build their dwellings on the river banks without spoiling the environment.

img_rvr03

The Banjarese respected the river, so that they built their home on stilts and facing the river. Woods were used to build their houses. In front of their homes, they also built a kind of small wooden piers where they could tie their sampans. The wooden piers also been used as the place where they washed their clothes and took bath. Sometimes the wooden piers were built together by more than one house owners so that neighbors could interact and communicate each other while doing their morning routines.

img_rvr04

Nowadays, many people built their house by “violating” their local wisdom. The house were not built out of woods anymore, some were built in a modern way with stones and cements. More than that, the houses were not built on stilts. They built their houses and any other structures literally on the river-banks with the risk of flood at the high tide. Many industries were also grown rapidly on the banks.

img_rvr05

img_rvr06

Well . . . hope that the rivers would not become narrower or even vanished by such an acts. Somehow someway we still need healthy rivers to flow, aren’t we?

Keterangan :

Banjarmasin, sebuah kota yang termasuk salah satu kota besar di Indonesia yang juga merupakan ibu kota Propinsi Kalimantan Selatan. Kota ini didirikan di sebuah delta yang merupakan pertemuan dua buah sungai besar yang mengalir di propinsi itu, yaitu Sungai Barito dan Sungai Martapura. Dan karena kedua sungai ini memiliki banyak anak-anak sungai yang mengalir saling silang di sana, maka tidaklah heran kalau Banjarmasin dikenal juga sebagai kota seribu sungai.

Sungai dan anak sungai tersebut bermacam-macam ukurannya, ada yang cukup kecil dan sempit sehingga hanya bisa dimasuki oleh sampan, tetapi ada juga yang sedemikian besar dan luas sehingga bisa dilayari oleh kapal-kapal berukuran menengah atau besar, baik kapal tunda, kapal barang, maupun kapal penumpang yang juga berfungsi seperti angkutan umum di sungai.

img_rvr07

Bagi masyarakat Banjar, sungai memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan mereka, bahkan bisa dibilang sudah menjadi identitas diri. Sungai bukan hanya merupakan tempat mengalirnya air dari hulu ke hilir, tapi sungai merupakan segalanya bagi mereka. Baik sebagai sarana transportasi pengganti jalan raya, sebagai sumber air yang menunjang kehidupan sehari-hari, sebagai tempat untuk berinteraksi dan berkomunikasi dan juga sebagai sumber penghasilan mereka. Betul, sumber penghasilan atau tempat mereka mencari nafkah. Tidak hanya nafkah dari hasil mencari ikan sungai, tetapi juga nafkah dari hasil jual beli. Ya . . . pasar mereka ada di atas sungai. Para penjual dan pembeli melakukan transaksi dari atas sampan-sampan yang mereka naiki. Dan karena keunikannya ini, maka pasar terapung di Banjarmasin ini sudah menjadi salah satu ikon wisata di Banjarmasin.

Kata orang,berkunjung ke Banjarmasin tanpa berkunjung ke salah satu pasar terapungnya belumlah bisa disebut sudah berkunjung ke Banjarmasin 😀

img_rvr08

Pentingnya sungai bagi kehidupan urang Banjar juga nampak dari rumah-rumah mereka. Di sepanjang sungai, bisa kita lihat deretan rumah kayu urang Banjar yang berupa rumah panggung dengan semacam dermaga kecil di depannya. Dengan gaya bangunan yang seperti itu, keberadaan sungai tetaplah lestari. Itulah kearifan lokal yang diturunkan nenek moyang mereka sampai sekarang.

img_rvr09

img_rvr10

Sayangnya akhir-akhir ini, modernisasi mulai melunturkan nilai-nilai luhur itu. Mulai banyak rumah yang tidak dibangun di atas panggung, melainkan dengan cara menguruk tepian sungai ataupun didirikan langsung di tepian sungai. Bahan pembuat rumahnyapun tidak lagi dari kayu, melainkan sudah dari batu. Praktek yang demikian dikhawatirkan akan berdampak dengan makin sempitnya aliran sungai yang pada gilirannya akan mempengaruhi ekosistim di sana. Belum lagi bangunan industri yang juga banyak dibangun di sepanjang tepi sungai dengan segala macam pertimbangannya.

img_rvr11

img_rvr12

Padahal, jika kearifan lokal itu tetap terjaga, banyak hal positif akan tetap terjaga pula. Tidak hanya lestarinya aliran sungai dan lingkungan sekitarnya, tetapi juga guyub rukunnya masyarakat di sana. Bagaimana tidak, dengan rumah panggung kayu yang memiliki dermaga kecil di depannya itu, penduduk masih berkomunikasi secara akrab dengan tetangganya karena selain untuk menambatkan perahu, dermaga kecil itu juga berfungsi sebagai tempat mencuci dan mandi masyarakat. Pada saat mereka melakukan aktifitas pagi itulah seringkali mereka juga melakukannya bersama dengan tetangga sebelah menyebelah sambil bersosialisasi karena banyak juga dermaga kecil yang dibangun bersama di depan beberapa rumah.

img_rvr14

Ah . . . semoga saja budaya dan kearifan lokal di sana tetap terjaga dan alam juga bisa terjaga kelestariannya ya  😎

img_rvr13

Categories: Pictures of Life | Tags: , , , | 4 Comments

A beach with no sands (almost)

On my journey to Pelaihari, South Kalimantan, Indonesia, I visited many beaches. One of the beaches was known as Tanjung Dewa Beach. It bore the name because the beach was located in Tanjung Dewa Village, Tanah Laut District. The distance from Banjarmasin was approximately 100 kilometers to the south; about 2 to 3 hours drove depended on the traffic situation. The road to the beach was quite good at that time.

img_ptd02

Tanjung Dewa Beach was a unique beach. When almost all beaches were sandy beaches, Tanjung Dewa Beach was not a sandy beach; at least only a small part of the beach was a sandy beach. Travelers could call Tanjung Dewa Beach as a rocky beach, instead. Yes . . a rocky beach. No, it was not a corral beach. It really a rocky beach as the hard materials which formed a beach was more similar to limestone than corrals. They were more like the structure of hardened lava. Perhaps it was caused by a massive earthquake eons ago which made the rocks in the earth’s mantle thrust out to the surface and formed the island.

img_ptd11

img_ptd17

Anyway, the rocks formation at the beach somehow made the beach had a unique landscape, which in turn when it combined with the row of mountains in the distance made the view was quite pretty. Some trees which grew literally on the rock surely added something to the beach pretty landscape.

img_ptd04

And even the water looked quite calm; it was still dangerous for people who wanted to swim at the beach. The risk that the swimmer could be smashed or even just knocked to any rocks at the beach was quite high. More than that, the water was not too clear. So . . . please stay safe and throw away your intention to swim there  😛

Off the shore there was a small island known as Datu Island. Many people came to the island to visit the tomb of Datu Pamulutan, a man who believed to be the first to spread Islam to the locals. It was also believed that long time ago Datu Island was not an island. It was a part of Tanjung Dewa Beach. Nowadays, people had to use a boat or a sampan to visit the island.

img_ptd08

At the beach some sampans were moored. The sampans were owned by locals that mostly made a living as fishermen. In their spare time, however, the sampan owners also offered travelers who wanted to go to the island to use their sampans, with a fee, of course.

img_ptd10

Tanjung Dewa Beach was not developed as a tourist destination in the area, yet. There was no such an entrance ticket to be paid as usually happen in any tourist destinations. Travelers who visited the beach only needed to pay a small amount of money to the locals who kept guard of travelers’ vehicles that be parked in a so called parking area close to the beach.

There were no other public utilities in the area, too. Travelers who needed to use toilets, for example, could use the toilet in one of the houses in the area. There were also no restaurants, only some people offering refreshments and salty fishes produced by locals.

Even so, I heard that the condition of the beach when I visited was way better than before. Hope that the beach condition would always be better and cleaner without sacrificing the beach ecosystem. By developing the beach area, the locals would also get the benefits, wouldn’t they?  😎

img_ptd05

img_ptd18

Keterangan :

Di antara beberapa pantai yang aku kunjungi ketika aku jalan-jalan ke Pelaihari, Kalimantan Selatan, ada satu pantai yang menurut aku cukup unik. Bagaimana tidak, jika hampir semua pantai merupakan pantai yang memiliki hamparan pasir yang lembut, bahkan beberapa pantai memiliki hamparan pasir yang luas, tidak demikian dengan pantrai yang satu ini. Di sana bisa dibilang nggak ada pasirnya, ya ada juga sih sebetulnya, tapi cuma di sebagian kecil wilayah pantai. Yang sebagian besarnya merupakan wilayah bebatuan. Bukan pantai berpasir yang di sana sini terdapat batu-batuan lho ya, tapi memang pantainya terdiri dari batu. Betul-betul batu bukan karang.

img_ptd01

Dari beberapa foto yang aku sertakan di sini, rasanya kelihatan banget strukturnya yang berbeda dari struktur batu karang kan? Yang ada di pantai ini adalah bebatuan yang lebih mirip lahar yang telah membatu. Mungkin memang di jaman dahulu di daerah itu pernah terjadi gempa bumi dahsyat yang menyebabkan bebatuan di bawah permukaan bumi terdorong ke atas, bahkan sampai mengoyak permukaan bumi; dan ketika gempa tersebut mereda, bebatuan yang bertonjolan keluar tersebut tidak tertarik lagi ke bawah permukaan bumi.

img_ptd12

img_ptd16

Tapi . . . ya nggak apa juga sih. Bebatuan yang ada di pantai tersebut sekarang selain menjadi ciri khas dan keunikan pantai itu, juga membuat pemandangan di pantai tersebut indah. Apalagi ketika bebatuan yang ada itu dipadukan dengan deretan pegunungan yang biru kehijauan nun jauh di sana berlatarkan langit yang membiru dengan gugusan awan yang berarak seolah berlayar menyeberangi bentang langit.

img_ptd09

Eh iya, sedari tadi belum aku sebutkan nama pantainya rupanya 😛. Pantai yang aku ceritakan di sini dikenal dengan nama Pantai Tanjung Dewa. Bisa jadi namanya itu disebabkan lokasinya yang terletak di Desa Tanjung Dewa, Kecamatan Panyipatan, Kabupaten Tanah Laut. Jaraknya dari Banjarmasin kurang lebih 100 km mengarah ke selatan. Ya kira-kira 2 atau 3 jam berkendara gitu, tergantung dari kondisi lalulintasnya.

Pantai Tanjung Dewa menghadap ke selatan, yaitu ke Laut Jawa. Itu sebabnya ombak di Pantai Tanjung Dewa relatif tenang. Meskipun demikian, tetaplah sangat berbahaya kalau ada yang berenang di sana. Kemungkinan terhempas ke bebatuan yang membentuk bibir pantai, atau paling sedikit benjol karena ke jedot di batu-batuan itu masih sangat tinggi. Jadi . . . buang jauh-jauh ya keinginan buat mandi-mandi di pantai itu. Lagi pula, airnya nggak jernih koq. Mendingan foto-foto narsis aja kalau ke sana karena pantainya cukup banyak menawarkan sudut-sudut cantik yang bisa dijadikan latar belakang foto-foto kalian  ❤

img_ptd03

Tidak jauh di lepas pantainya, terdapat sebuah pulau kecil yang dikenal dengan nama Pulau Datu. Konon dahulu pulau itu masih menyambung dengan daratan Pulau Kalimantan, sehingga penduduk Desa Tanjung Dewa cukup berjalan kaki jika ingin ke Pulau Datu. Tetapi sekarang, mau nggak mau harus mempergunakan perahu karena Pulau Datu sudah betul-betul terpisah dari daratan Kalimantan. Tapi jangan kuatir koq, di Pantai Tanjung Dewa banyak terdapat nelayan pemilik perahu yang dengan senang hati akan mengantarkan para pelancong yang ingin ke Pulau Datu, tentu saja kalau harganya cocok ya   😛

img_ptd19

Para pelancong berkunjung ke Pulau Datu selain untuk bermain di pantainya, juga untuk berziarah, karena di sana terdapat sebuah makam yang dipercaya sebagai makam Datu Pamulutan, seorang ulama yang pertama-tama menyebarkan Islam kepada penduduk setempat.

Ketika aku ke sana, Pantai Tanjung Dewa belum betul-betul menjadi obyek wisata yang tertata. Belum ada karcis masuk ke area pantai seperti di pantai-pantai lain yang sudah tertata. Aku hanya dimintai sekedar uang parkir karena aku membawa kendaraan. Fasilitas umum belum ada. Buat mereka yang mau ke kamar mandi, beberapa penduduk setempat menyediakan kamar mandi mereka untuk bisa dipergunakan, tentunya dengan sedikit biaya yang menurut mereka akan dipergunakan untuk kebersihan dan pemeliharaan. Warung juga belum ada ya, tetapi ada beberapa orang yang menjual minuman ringan dan juga berbagai jenis ikan asin. Ya . . Desa Tanjung Dewa cukup terkenal sebagai penghasil ikan asin.

Meskipun demikian, menurut informasi yang aku dapat, kondisi Pantai Tanjung Dewa ketika aku kesana sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Tapi aku tetap berharap supaya pantai yang unik ini bisa ditata lebih baik lagi dan juga kebersihannya lebih dijaga. Tentunya penataan yang tidak sampai mengorbankan lingkungan. Keasrian dan keaslian pantai harus tetap terjaga. Bagaimanapun kalau pantai ini banyak pengunjungnya, penduduk setempat juga akan mendapatkan manfaatnya juga kan?   😎

img_ptd07

img_ptd06

img_ptd20

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 17 Comments

My last post in 2016

“A large drop of sun lingered on the horizon and then dripped over and was gone, and the sky was brilliant over the spot where it had gone, and a torn cloud, like a bloody rag, hung over the spot of its going. And dusk crept over the sky from the eastern horizon, and darkness crept over the land from the east.”
― John Steinbeck, The Grapes of Wrath

img_tak01

Every day, God provide us with two brilliant shows which never be the same; one in the early morning and the other in the late afternoon. The shows always free for us to enjoy, but almost all of us tend to let the shows gone. The title of the shows was sunset and sunrise. Same titles every day, never ceased even just for a single day.

Today was the last day of 2016. So the sunset would be the last show in 2016. The last sunset of 2016 was the mark that tomorrow would be the first sunrise in 2017. A new year which surely would be full of anything that we should face and conquer in an optimistic way.

In that case, along with the last sunset of 2016, let us throw away any hurt feeling, hatred, envy, disappointments and any other bad feelings. Let us forget those all bad memories and prepare ourselves in welcoming the first sunrise of 2017 that bring along the hope of new beginnings and possibilities.

Happy New Year to you all. May the New Year brings us good times, happiness, health and great success 🙂

Anyway, the pictures in here were taken in Takisung Beach, a beach located in Pelaihari District, South Kalimantan, Indonesia. The beach could be reached easily within 2 hours drive from Banjarmasin through a relatively good road.

img_tak02

Takisung Beach had already been developed into a tourist destination and also been equipped with many public facilities. At the beach there were many simple stalls that sold simple foods and refreshments as well as souvenirs. An operator at the beach rented some unit of ATVs to travelers. Many sampan owners also offered to bring travelers riding their sampans around the beach or visiting small islands off the shore.

img_tak03

The beach itself was a beach with brown sands. The water was quite muddy so it was not suitable for swimming even though the wave was calm. People usually came to the beach just for enjoying the facilities or waiting for the sunset as the beach facing to the west.

img_tak04

As far as I know, Takisung Beach was the most popular beach among any other beaches in Pelaihari District. No wonder there was always travellers at the beach almost every day. And since it was the most popular beach in there, it was easy to find the direction to the beach. I believe if the beach could be managed well, it will become the main tourist destination of Pelaihari.—

img_tak06

img_tak07

img_tak08

Keterangan :

Disadari ataupun tidak, tiap hari Sang Maha Pencipta menyajikan dua buah pertunjukan akbar yang tidak akan pernah sama sampai kapanpun; satu di kala fajar dan yang lainnya di kala senja. Pertunjukan itu selalu diberikan untuk dinikmati secara gratis oleh seluruh umat manusia meskipun sebagian besar dari kita cenderung untuk mengabaikannya dengan berbagai alas an. Pertunjukan akbar itu dikenal dengan nama matahari terbenam dan matahari terbit. Judul yang sama tiap hari tetapi keindahannya tidak akan pernah sama.

img_tak12

Hari ini, tanggal 31 Desember 2016, merupakan hari terakhir di tahun 2016, sehingga matahari terbenam hari ini akan merupakan pertunjukan akbar terakhir yang digelar di tahun 2016 ini pula. Tetapi terbenamnya matahari kali ini bukanlah merupakan suatu akhir, justru ini merupakan suatu pertanda bahwa setelah sang bagaskara kembali ke peraduannya dan beristirahat sepanjang malam, esok dia akan datang lagi menyertai hari yang baru di tahun yang baru juga. Ya . . besok pagi akan merupakan pertunjukan akbar yang pertama di tahun yang baru. Tahun yang pastinya terdiri dari hari-hari yang harus kita lalui dengan cara menghadapi semua hal, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, dengan optimis dan dengan keyakinan bahwa di akhir tahun 2017 nanti kita akan bisa dengan bangga berkata “aku menang!

Karena itu, marilah semua rasa sakit hati, kebencian, iri dengki, kekecewaan dan semua perasaan buruk lainnya kita biarkan ikut terbenam bersama terbenamnya sang surya. Kita lupakan semua kenangan buruk yang kita alami di tahun 2016 dan kita ganti dengan semangat penuh menyambut tahun yang baru yang akan segera tiba. Tahun baru yang tentunya akan membawa harapan dan kemungkinan-kemungkinan baru juga.

Selamat Tahun Baru, Sahabat. Semoga tahun 2017 membawa damai, kebahagiaan, kesehatan dan juga kesuksesan buat kita semua   🙂

Anyway, foto-foto yang aku sertakan dalam postingan kali ini aku ambil di Pantai Takisung, sebuah pantai yang terletak di Kecamatan Takisung, Kabupaten Pelaihari, Kalimantan Selatan. Jarak sejauh kurang lebih 87 kilometer dari Banjarmasin dapat ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam berkendara melalui jalanan yang relatif sudah bagus.

img_tak13

Pantai ini sudah dikembangkan menjadi salah satu tujuan wisata daerah setempat, dan juga sudah dilengkapi dengan fasilitas umum. Di tepi pantai yang berbatasan dengan jalan raya telah didirikan lapak-lapak sederhana yang dipergunakan oleh penduduk setempat untuk berjualan makanan dan minuman selain juga cendera mata dan oleh-oleh khas daerah itu yang berupa berbagai jenis ikan asin. Lebih dekat ke batas air, ada juga orang yang menyewakan ATV kepada para pelancong.

img_tak14

Banana Boat juga tersedia untuk disewa bagi mereka yang berminat. Sementara itu, di bibir pantai, beberapa tukang perahu kelotok berteriak-teriak menawarkan jasanya mengantar para pelancong yang ingin berperahu di sekitar situ.

img_tak16

Di Pantai Takisung, telah dibangun tanggul pencegah abrasi, dan diatas tanggul ini didirikan huruf-huruf yang menandai nama pantai tersebut. Banyak pengunjung yang menyempatkan diri berfoto di depan tulisan itu.

img_tak15

Aslinya Pantai Takisung merupakan pantai berpasir coklat yang lembut. Pantai ini menghadap ke Laut Jawa sehingga ombaknya juga relatif kecil. Sayangnya air laut yang keruh kecoklatan menjadi kendala bagi siapapun yang ingin bermain air di sana. Mungkin adanya beberapa sungai yang bermuara di dekat situ berpengaruh terhadap tingkat kekeruhan air laut di Pantai Takisung. Karena itulah sebagian besar pengunjung di sana hanya bermain di pantai, berfoto ria, ataupun menunggu saat-saat terbenamnya sang matahari seperti yang aku lakukan di sana waktu itu.

img_tak05

Sejauh yang aku tahu, pantai ini merupakan pantai yang paling terkenal jika dibandingkan dengan beberapa pantai lain yang ada di Kabupaten Pelaihari. Karena itu, tidaklah mengherankan kalau pantai ini selalu ramai meskipun bukan pada hari libur atau akhir pekan. Para pedagang di sana pun rata-rata buka tiap hari, tidak seperti di pantai-pantai wisata lainnya. Dengan penataan yang lebih optimal, rasanya pantai ini akan bisa menjadi tujuan wisata utama di Pelaihari.–

img_tak11

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 12 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.