The water was clear and green

On my trip from Banyuwangi to Bondowoso (both cities were in East Java Province, Indonesia), not long after I passed Paltuding (the gate to the Ijen Crater climbing), I saw a stream on the right side of the road. Well . . . it looked like an ordinary stream at first, but on a closer look at the stream travelers would notice that it was not just an ordinary stream like any others. Although the water was clear like the water of any mountain brooks in any other places, the water in there was green. Yes clear green; and it was literally green.

IMG_AKP01

The local called the stream Kalipait which literally meant a bitter stream. The green water in the stream came from the sulphuric crater lake of Mt. Ijen as the stream was located on Ijen’s mountain slope.

At first I intended to take many pictures of the stream and its surroundings, but some young couples in there that looked quite disturbing for me made me cancelled my intention. So after only some snaps of my camera, I left the small river behind.

In my opinion, the landscape was quite interesting and unique with the green stream flow on the surface of solid lava rocks with some trees far behind. But it was a shame that some people made the beautiful landscape ruined by writing their names or groups on some rocks with paint. Aside of that, I also found trash scattered in some place :(

Hope that people could not be so ignorant; even though a place looked like in a corner of nowhere did not mean that everybody could act as if the place was their own property and they could do whatever they want by polluting the nature.

The stream, which also often called as Kalipait Waterfall by the locals could be reached easily because it was actually by the main road. The only limitation was that there were no public transports serving the area, so people should use their own vehicles or rented a vehicle from Banyuwangi or Bondowoso to go to the stream. Usually travelers stop by at the stream on their way to or from Mt. Ijen.–

IMG_AKP08

Keterangan :

Dalam perjalanan dari Banyuwangi menuju ke Bondowoso, tidak jauh setelah melewati Paltuding yang merupakan gerbang pendakian ke Kawah Ijen, di sebelah kanan jalan akan nampak sebuah aliran sungai kecil. Sepintas memang tidak ada yang aneh dengan aliran sungai itu, tetapi kalau diperhatikan, tampaklah bahwa air di sungai tersebut berwarna kehijauan. Penasaran dengan sungai berair hijau itu, aku memutuskan untuk mampir sebentar dan melihat sungai tersebut dari dekat.

Ternyata air yang mengalir di sungai yang disebut penduduk dengan sebutan Kalipait itu merupakan rembesan air kawah Ijen. Air tersebut konon mengandung kadar belerang yang cukup tinggi. Sebelum masuk ke dalam aliran sungai, air kehijauan tersebut melewati dataran berbatu sehingga membentuk semacam air terjun kecil, meskipun terjunannya tidaklah curam.

IMG_AKP05

Semula aku bermaksud berlama-lama di situ sekaligus mencoba mengambil beberapa foto pemandangan di sekitar situ, tetapi adanya beberapa anak muda yang sedang berpacaran di situ menyebabkan aku merasa kurang nyaman, sehingga akhirnya memutuskan untuk segera meninggalkan aliran Kalipait itu.

Sebetulnya pemandangan di sepanjang aliran Kalipait cukup indah dan unik, bagaimana tidak ada sungai yang airnya kehijauan mengalir deras di antara bebatuan. Sayangnya selain mereka yang pacaran di sana, tangan-tangan jahil juga mengotori bebatuan yang ada di situ dengan tulisan-tulisan yang dibuat dengan cat :(

Entah kapan orang-orang bisa sadar bahwa meskipun suatu tempat seolah tidak ada pemilik ataupun penjaganya tetap saja tempat tersebut jangan sampai dirusak atau dikotori. Mudah-mudahan berikutnya tidak ada lagi pelancong-pelancong yang dengan seenaknya meninggalkan jejak yang tidak seharusnya ditinggalkan di situ hanya sekedar untuk memperoleh kebanggan semu bahwa dia sudah pernah berada di situ.

Aliran sungai yang sering juga disebut sebagai Air Terjun Kalipait yang terletak di Desa Kalianyar, Kecamatan Sempol, Kabupaten Bondowoso ini sebetulnya mudah dijangkau kalau pelancong mempergunakan kendaraan sendiri karena letaknya yang praktis di tepi jalan raya.

Trus bagaimana kalau yang ingin ke situ dengan kendaraan umum?

Nah sayangnya kendaraan umum yang rutenya melewati tempat itu sangat jarang. Bahkan ketika aku ke sana itu, aku nggak bertemu dengan kendaraan umum satupun. Mudah-mudahan nantinya akan ada kendaraan umum yang melalui tempat itu sehingga akan makin banyak pelancong yang bisa ikut menikmati keindahan dan keunikan tempat itu, dengan catatan semua pelancong yang datang bisa menjaga sikap dan juga menjaga kebersihan tempat tersebut.–

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 13 Comments

A corner of Banyuwangi – The Regent House

Banyuwangi was the eastern-most regency in Java, Indonesia. The city of Banyuwangi was the so called administrative capital of the regency. It was not a big city, although the regency itself was the largest regency in East Java Province.

Banyuwangi became more and more recognized as it had many interesting places and unique traditions. Aside of that, it was easier to reach Banyuwangi nowadays. Blimbingsari Airport in Banyuwangi served many regular direct flights to and from Surabaya as well as Denpasar.

In a corner of the city of Banyuwangi, well actually it was not in a corner but almost at the center of the city, there laid the official house of the Regent of Banyuwangi. The structure was a typical Javanese noble building which had a big hall in front of the house which been used as a convention. The hall was known as the “Pendopo” even though the official name was Sabha Swagata Blambangan.

In fact, the Regent’s house was an old building which had been existed since 1771. Nowadays, it had been undergone many renovations. The lawn behind the building had been re-arranged and some new buildings had been added to the compound to accommodate any requirements and necessities of a developed area leader’s residence.

IMG_PDP01

At the right side of the hall, there was a unique small mosque. I called it unique because the small building was looked like a pyramid. It was said that the structure had been inspired by an act when the Moslem prayed.

IMG_PDP02

Behind the small mosque, there was an eco-friendly guest house. At a glance, travelers would not know that there was a guest house in there because it looked like a slanted grass lawn, but the slanted grass lawn was actually the roof of the guest house. At day time, electricity was not needed in the guest house as a good ventilating system made all the rooms in the guest house quite cool without any air conditions. The rooms were also bright without any electric lamps as the sun-rays were illuminated directly to every room through some glass panel which were placed artistically in the rooms.

IMG_PDP03

In the back yard, there was a wooden gazebo that could be used to hold an informal meeting as well as for relaxing. Close to the gazebo, there was another wooden building. That one was a model of the native tribe of Banyuwangi’s house. Such a house was called Rumah Tikel and it was made without any nails.

Well . . . at that time I did not spend too much time in there since I had to go to another place. But it I felt glad that I got the chance to visit the place, to know that modern building could be stand side by side harmoniously :) .–

the main gate to the regent's house  (gapura gedung kabupaten)

the main gate to the regent’s house (gapura gedung kabupaten)

Keterangan :

Banyuwangi adalah sebuah kabupaten yang terletak di ujung timur Pulau Jawa. Kota Banyuwangi yang merupakan ibu kota dari Kabupaten Banyuwangi, bukanlah sebuah kota yang besar, meskipun Kabupaten Banyuwangi merupakan kabupaten terluas di Jawa Timur.

Saat ini, Kabupaten Banyuwangi semakin dikenal sebagai salah satu daerah tujuan wisata yang diunggulkan di Jawa Timur. Bagaimana tidak, keindahan alam dan keunikan budayanya merupakan daya tarik utama Banyuwangi yang terbukti berhasil menyedot banyak pelancong, baik pelancong yang berasal dari manca nagari maupun pelancong Nusantara. Dibukanya Bandar Udara Blimbingsari ikut berperan besar dalam peningkatan kunjungan para pelancong tersebut.

Sebagai ibu kota administratif, di kota Banyuwangi ini terletak kantor dan juga tempat tinggal Bupatinya. Pada kunjunganku ke Banyuwangi belum lama ini, aku kebetulan memperoleh kesempatan untuk mampir dan melihat-lihat kediaman Bupati Banyuwangi yang dikenal dengan nama “Pendopo” meskipun nama resminya adalah Sabha Swagata Blambangan.

Bangunan yang berada di kawasan Taman Sri Tanjung ini sebetulnya bukanlah bangunan baru. Sebelum dipergunakan sebagai Rumah Dinas Bupati, bangunan ini sempat juga dipergunakan sebagai Kantor Pemkab Banyuwangi. Bupati Banyuwangi yang sekaranglah yang memerintahkan dilakukannya renovasi kompleks bangunan ini dengan penataan taman dan penambahan bangunan-bangunan baru sebagai pelengkap. Bantuan dari beberapa arsitek kenamaan seperti Andra Matin dan Adi Purnomo betul-betul mampu mengubah tampilan Pendopo menjadi semakin cantik.

IMG_PDP12

Tembok di sekitar bangunan Pendopo yang semula tinggi diubah menjadi rendah sehingga sekat yang selama ini terbangun antara penguasa dengan rakyatnya menjadi lenyap; meskipun demikian keberadaan gapura berbentuk candi bentar tetap dipertahankan, bahkan menambah indahnya halaman depan Kabupaten.

Di sisi kanan Pendopo, terletak sebuah mushola yang berbentuk unik. Bentuknya tidak seperti bentuk bangunan mushola pada umumnya, melainkan berbentuk mirip limas. Katanya bangunan mushola itu terinspirasi dari gerakan rukuh pada saat seseorang menjalankan shalat.

IMG_PDP05

Di belakang bangunan mushola terdapat bangunan guest house yang berkonsep eco-friendly. Dari luar, tidak akan tampak adanya bangunan karena yang tampak hanyalah hamparan rumput hijau dengan kemiringan sekitar 60 derajat yang di beberapa bagiannya tampak ada tonjolan tembok berbentuk segi empat yang menambah indahnya hamparan rumput hijau tersebut. Tetapi siapa sangka bahwa di bawah hamparan rumput hijau tersebut terdapat sebuah lorong yang di kiri kanannya terdapat beberapa kamar berperabot lengkap dengan standard hotel berbintang?

IMG_PDP06

Meskipun praktis terletak di “bawah tanah”, keadaan kamar-kamar dan lorong tersebut tidaklah gelap dan pengap, melainkan terang dan sejuk. Terangnya bukan karena bantuan energi listrik, melainkan karena sinar matahari yang menerobos masuk melalui bangunan tembok segi empat yang tampak seolah pemanis taman itu. Sirkulasi udara yang baik juga menyebabkan udara di dalamnya sejuk tanpa bantuan pendingin udara. Bangunan guest house tersebut juga dilengkapi dengan ruang tamu dan ruang makan serta dapur yang cukup bersih.

Di halaman belakang kediaman Bupati Banyuwangi yang luas dan asri, terdapat sebuah bangunan gazebo yang cukup luas dengan tempat duduk yang ditata melingkar. Pohon-pohon rindang yang berada di sekitar gazebo membuat siapapun yang duduk-duduk di gazebo itu tidak akan merasa gerah, bahkan bisa saja malah terkantuk-kantuk dibelai angin yang semilir. Tidak jauh dari gazebo itu, berdiri sebuah bangunan kayu yang kelihatan sudah cukup tua. Itulah bangunan Rumah Tikel, rumah adat Suku Osing yang merupakan penduduk asli Banyuwangi. Konon Rumah Tikel yang asli tidak mempergunakan paku sama sekali dalam pembuatannya.

Ketika itu aku tidak menghabiskan waktu lama di sana karena aku harus mengejar waktu untuk menuju ke Paltuding. Bagaimanapun aku nggak mau kemalaman tiba di tujuanku berikutnya. Meskipun demikian, kunjungan singkat itu cukup menyenangkan, karena di sana kau bisa melihat bagaimana bangunan modern bisa berdampingan serasi dengan bangunan tradisional yang masih terpelihara dengan baik di tengah taman yang asri  :) .–

IMG_PDP09

 

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 14 Comments

Cloudy sunset on Palagimata Hill

That day was the day before I left Buton island. My partner and I just returned from Pasarwajo and we were still on our way back to Baubau. My watch told me that it was over 04.00 PM. I kept staring at the cloudy sky when my partner asked whether I had anything in my mind that bothers me. Startled, I’d just mumbled that it could be raining that evening in Baubau and our plan to get some sunset pictures would be ruined.

Before my partner could say anything, Azis, who drove the car we used, suggested that we better go to Palagimata Hill, where we could see the whole Baubau city from above. He also said that Palagimata Hill was a perfect place to have a great sunset when the sky was clear enough. Having no other choices, my partner and I agreed to spend the early evening waiting for sunset in Palagimata Hill.

IMG_PGM01

Palagimata Hill was located in Lipu Village, Betoambari Subdistrict, about 15 minutes drove from the Baubau city-center. The road to the hill top was quite good; it was wide and smooth. Nowadays, the hill top was the location of the Mayor of Baubau’s office which was facing the city below as if the mayor always stayed guard of all the citizen of Baubau that led by him.

IMG_PGM05

In front of the mayor’s office, across the road, there was a long terrace with monuments at each side. According to some locals, the platform would be crowded by locals each evening as after the regular office time ended, the hill became one of the popular destinations for the city residence, mainly the teenagers, to spend their time waiting and watching sunset together with families, relatives and friends; and my partner and I found that it was true since it was not only my partner and me who enjoy the nature show which presented a great sunset even though the sky was cloudy.—

IMG_PGM06

 

Keterangan :

Hari itu adalah sehari sebelum aku dan teman seperjalananku meninggalkan Buton, kembali ke tempat tugas kami masing-masing. Saat itu kami masih dalam perjalanan kembali ke Baubau setelah berkunjung ke Pasarwajo. Arloji di tanganku menunjukkan bahwa saat itu sudah lewat dari jam 4 sore. Aku masih asyik memandangi langit yang tampak tertutup awan mendung ketika tiba-tiba teman seperjalananku menggamit bahuku dan menanyakan apakah ada masalah denganku karena sedari tadi dia melihatku hanya menatap keluar jendela mobil. Dengan agak terkejut aku menoleh padanya, dan sambil nyengir agak malu aku katakan bahwa aku cuma lagi memperhitungkan apakah sore ini kami bisa dapat sunset yang indah apa nggak, mengingat mendung kelihatan begitu tebal. Lagi pula, jarak ke pantai dimana kami berencana akan menunggu saat-saat terbenamnya matahari sore itu masih jauh.

Tiba-tiba, sebelum teman seperjalananku sempat menjawab, sambil mengemudikan kendaraan dengan tenang, Azis mengusulkan agar kami nggak usah ke pantai, melainkan mengubah tujuan ke Bukit Palagimata saja. Menurut Azis, selain lebih dekat, Bukit Palagimata juga merupakan tempat yang tepat untuk menikmati saat-saat terbenamnya matahari karena pemandangan dari atas bukit kalau cuaca cerah sangat indah. Aku dan teman seperjalananku tidak dapat menolak usulan itu karena memang tidak ada pilihan lain.

IMG_PGM07

Bukit Palagimata merupakan sebuah bukit berhawa sejuk yang terletak di Kelurahan Lipu, Kecamatan Betoambari. Di puncak Bukit Palagimata sekarang telah berdiri dengan megah Kantor Walikota Baubau yang menghadap ke laut di kejauhan dan Kota Baubau yang terhampar di kaki bukit; sehingga seolah-olah Sang Walikota selalu menjaga penduduk Baubau dengan cara selalu mengamati berbagai potensi gangguan yang akan berdampak pada kota Baubau dan penduduknya dari atas bukit sehingga bisa segera mencegah berbagai ancaman yang mungkin timbul.

IMG_PGM08

Dari teras yang dibangun di seberang jalan, di depan Kantor Walikota itu, pelancong akan dapat dengan jelas melihat seluruh kota Baubau, bahkan keluar masuknya kapal ke Pelabuhan Baubau pun bisa jelas terlihat. Demikian juga setiap pesawat yang mendarat ataupun tinggal landas dari Bandara Betoambari tampak dengan jelas dari situ.

IMG_PGM12

Menurut beberapa orang yang sempat aku jumpai di sana, puncak Bukit Palagimata, tepatnya di depan Kantor Walikota, selepas jam kantor berubah menjadi tempat wisata yang cukup populer bagi penduduk Baubau dan sekitarnya. Bagaimana tidak, tempat itu dapat ditempuh dalam waktu sekitar 15 menit dengan kendaraan bermotor melalui jalan yang cukup lebar dan mulus. Hal itu memang terbukti karena ternyata ketika aku dan teman seperjalananku mencapai lokasi, tempat itu sudah cukup ramai pangunjung. Sebagian besar terdiri dari para remaja, meskipun aku lihat juga beberapa keluarga yang sedang asyik menikmati keindahan senja.

Rupanya langit berawan tebal yang sedikit mengurangi keindahan dan kemegahan saat-saat kembalinya Sang Surya ke peraduannya tidak menyurutkan minat orang-orang tersebut untuk berkumpul di Bukit Palagimata untuk menyaksikan momen itu.–

IMG_PGM13

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 14 Comments

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,429 other followers