Visiting the land above the clouds

I was in Bali back then. Yes Bali, an island in Indonesia which was known as an island with thousands Hindhu Temples. Bali was also known as the island of gods; and as we all believe, gods were lived in a place high above, even beyond the clouds. Up till now, many people still wondering what was it like to live gods’ life.

Well . . . in Bali travelers could feel the feeling, not all for sure; at least to feel how it was like when the clouds were below us. Of course everybody could feel such a feeling in any places in the world when they climb a high mountain. But for that, travelers should spend a great effort to reach the top of a mountain.

 

IMG_PIN01

Here in Bali, travelers could enjoy the same feeling without much effort. They just need to wake up early and then drove to Kintamani.

Kintamani . . . ?

Yes, Kintamani; a region in Bali where travelers could enjoy the cool breeze of Bali highland and also a pretty scenery of a valley with Mt. Batur as the background. In the morning, the valley would be covered with fog that showered by the yellow sunshine. From certain places, the vista was amazing as the fog was looked like a blanket made of clouds spread over the valley.

IMG_PIN07

One of the best places to see such a view was from Pinggan Village. A village located just about 14 kilometers to the east from Kintamani. It was at about 1,000 meters above sea level, so the temperature would be pretty cool at dawn, say about 15 degree Celsius. It was said that Pinggan Village was one of the old villages of Bali since it had already existed since the thirteenth century.

IMG_PIN03

To get the amazing and yet mystical view of clouds covering the village, travelers should come early to the place. Before 6 AM was enough. So for travelers who spent their night in Kuta region, they should start at about 3 AM because it needed about 3 hours drive from Kuta to Kintamani.

IMG_PIN04

Anyway, here I presented to you some pictures I got from the land above the clouds. Hope you can enjoy 🙂

IMG_PIN09

IMG_PIN10

Keterangan :

Kali ini aku mampir ke Bali. Ya . . . Bali, sebuah pulau yang dikenal sebagai Pulau Beribu Pura. Disamping itu, Bali juga dikenal sebagai Pulau Dewata karena keindahannya bak negeri para dewata di atas sana.

Atas . . . ?  😯

Iya, hampir semua orang percaya bahwa para dewa tinggal di atas sana, jauh di atas awan; dan tahu nggak sih kalau sampai sekarang banyak orang sangat ingin merasakan bagaimana sih rasanya hidup bagaikan para dewa di atas sana? Dimana kita bisa memandang hamparan awan yang ada di bawah kita.

IMG_PIN08

Memang keinginan untuk berdiri di suatu tempat sambil memandang hamparan awan di bawah kita bisa saja terpenuhi dimana saja selama kita mau sedikit bercape lelah mendaki gunung. Tapi di Bali ada suatu tempat dimana kita bisa merasakan pengalaman seperti itu tanpa harus bercape lelah mendaki gunung. Pengorbanan yang harus kita berikan hanyalah berkurangnya waktu tidur kita karena kita harus bangun subuh kemudian berkendara ke Kintamani.

IMG_PIN11

Ya Kintamani yang terletak di dataran tinggi memang memungkinkan para pelancong memandang keindahan daerah yang letaknya lebih rendah di kejauhan dengan Gunung Batur yang berdiri kokoh sebagai latar belakangnya.

Kala subuh, di beberapa lokasi, akan tampak hamparan awan yang seolah selimut tebal berwarna putih menutupi lembah yang masih terlelap. Sedikit demi sedikit selimut putih itu akan mulai dihiasi semburat jingga terkena pantulan sinar sang mentari yang baru bangun dari peraduannya.

IMG_PIN02

Nah . . . salah satu tempat terbaik untuk menyaksikan keindahan itu adalah dari Desa Pinggan. Sebuah desa yang berjarak kurang lebih 14 kilometer ke arah timur dari Kintamani. Dengan ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut, tidaklah mengherankan kalau udara di sana ketika pagi menjelang lumayan dingin. Bisa sampai 15 derajat Celsius lho. Jadi buat yang nggak tahan dingin, sebaiknya jacket jangan sampai dilupakan. Sebagai informasi tambahan, Desa Pinggan merupakan salah satu desa tua yang ada di Bali; konon sudah ada sejak abad ke XIII.

IMG_PIN05

Pada postingan kali ini, aku sertakan beberapa foto yang aku ambil di salah satu sudut Desa Pinggan. Dan untuk mendapatkan foto-foto sejenis, sebaiknya pelancong sudah berada di lokasi sebelum jam 6 pagi.

Ya nggak masalah bagi mereka yang memang menginap di Kintamani. Tapi bagi mereka yang menginap di daerah Kuta . . . siap-siap sajalah untuk bangun selepas tengah malam karena jarak Kuta – Kintamani biasanya ditempuh selama 3 jam.

IMG_PIN06

Jadi . . . tertarik mau merasakan sensasi berdiri memandang awan yang berarak di bawah kita tapi tanpa kita perlu bersusah payah?😛

IMG_PIN12

IMG_PIN13

IMG_PIN14

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | Leave a comment

Welcoming a sunset on the beach

Like I’ve mentioned in my previous post, Balikpapan, one of the main cities in East Kalimantan Province, Indonesia, had many beaches which became the locals’ place to enjoy their leisure time. This time, I take you to Melawai Beach, a beach that usually used by the locals to hang out and enjoy sunset.

IMG_MEL02

Melawai Beach was not a beach with gentle waves that lapped against a sandy beach and row of palm trees on the shore. It just an area where the sea met the land, where the sea water smashed against the coral and above the coral was a long man-made-low-wall bordering the sea with the street, as Melawai beach was located on the side of Balikpapan’s main street called Jalan Jenderal Soedirman.

IMG_MEL03

In late afternoon, the beach area became more busy, more people came and swarming the area. Simple stalls started being erected along the side street. Tables and benches were set, and the aroma of various local snacks started to fill the air. Yes . . Melawai Beach became the place for people who wanted to savor any local snacks or light meals while enjoying sunset.

IMG_MEL04

Melawai Beach was a perfect place for enjoying sunset as the place was located on a bay close to Balikpapan’s main port. Travellers could see the port activities with many vessels and boats came and went with a nice sunset as the background.

IMG_MEL05

Just off the shore, there was an islet called Tukung Island. Travelers could visit the island on foot at low tide. It was said that the island was the place where people could find sea urchin easily.

Anyway, along with the post I attached pictures of sunset that I snapped on Melawai Beach. And the post also marked the end of my trip to Samarinda and Balikpapan this time. My next post would be from other place I visit after these two cities in East Kalimantan Province. Hopefully I could be back to Balikpapan and Samarinda next time since there were many interesting places and events that I want to see🙂

IMG_MEL07

IMG_MEL08

IMG_MEL09

IMG_MEL10

IMG_MEL11

IMG_MEL12

 

Keterangan :

Seperti yang telah pernah aku sebutkan dalam postinganku sebelumnya, Balikpapan, karena lokasinya memiliki banyak pantai yang pada gilirannya menjadi tempat wisata yang selalu ramai dikunjungi penduduk setempat, khususnya pada hari-hari libur. Bahkan ada beberapa pantai yang hampir tiap hari selalu dipadati pengunjung; salah satunya adalah Pantai Melawai. Hampir tiap sore kawasan pantai ini selalu padat dan membuat lalu lintas di sekitarnya tersendat.

IMG_MEL13

Pantai Melawai bukanlah pantai seperti pantai-pantai yang biasa kita bayangkan, pantai dengan pasir putih dan deretan pohon kelapa di pantai meskipun untuk ombak memang tidaklah besar dan sangat ideal buat mereka yang ingin berenang di pantai. Pantai Melawai bukan seperti itu.

Lhah kalau bukan seperti pantai-pantai seperti yang umum kita kenal, terus bagaimana dong kondisi Pantai Melawai ini?😯

Pantai Melawai bisa dibilang bukan pantai sebenarnya karena hanya merupakan batas antara air dan daratan. Di sana tidak ada hamparan pasir yang lembut apalagi jejeran pohon nyiur yang daunnya melambai tertiup angin laut. Di sana ombak langsung menghantam batu karang yang di atasnya telah dibangun tembok rendah yang juga berfungsi sebagai pembatas antara jalan raya dengan laut. Ya . . jalan raya karena Pantai Melawai terletak di tepi salah satu jalan utama di kota Balikpapan, yaitu Jl. Jend. Soedirman. Dan karena posisinya itulah, para pelancong yang ingin berkunjung ke sana tidaklah akan menemui kesulitan karena transportasi umum pun mudah didapat.

IMG_MEL14

Ketika sore menjelang, kawasan Pantai Melawai akan selalu bertambah ramai. Kawasan pantainya tidak hanya dipenuhi pengunjung yang datang guna menikmati keindahan saat-saat terbenamnya matahari, tetapi juga ramai dengan para pedagang yang mulai bersiap-siap mendirikan tenda dan menata meja kursi. Tidak lama kemudian, pastilah harum aroma berbagai macam kudapan akan mulai tercium, membuat perut mendadak mulai bermain musik. Aneka jajanan tradisional dan makanan ringan maupun berat akan mudah di dapat di sana menanti para pelancong yang ingin menjajal ataupun langsung mengisi perutnya sambil menikmati temaram senja bersama orang-orang terdekatnya; menikmati lezatnya kudapan dan juga nikmatnya belaian angin laut.

IMG_MEL15

Pantai Melawai memang merupakan lokasi yang sempurna untuk menikmati saat-saat terbenamnya matahari. Posisinya yang berada dalam sebuah teluk menyebabkan momen terbenamnya sang surya dapat teramati tanpa penghalang apapun. Bahkan keindahan panorama senja di sana makin bertambah dengan adanya kapal-kapal yang berlalu lalang, maklumlah . . . posisi Pantai Melawai memang berdekatan dengan pelabuhan utama kota Balikpapan, yaitu Pelabuhan Semayang.

Dari Pantai Melawai ini, kita bisa melihat adanya sebuah pulau kecil di lepas pantai. Pulau kecil itu dikenal dengan nama Pulau Tukung. Tapi ada juga orang-orang yang menyebutnya dengan nama Pulau Babi karena konon di sana banyak banget binatang Bulu Babi. Pulau ini cukup unik dan juga menarik karena pada saat laut surut, pelancong bisa berjalan kaki ke pulau itu.

IMG_MEL16

Pada postingan kali ini, aku sertakan beberapa foto yang menggambarkan suasana sunset yang aku jepret di Pantai Melawai ketika itu. Untungnya hujan yang turun sejak menjelang siang tidak berlanjut sampai sore meskipun mendung masih menggelayut di langit, sehingga aku bisa mendapatkan foto-foto ini😀

Dan postinganku ini juga menandai berakhirnya perjalananku ke Samarinda dan Balikpapan kali ini. Mudah-mudahan aku masih berkesempatan berkunjung ke sana lagi karena masih banyak tempat menarik dan juga event kebudayaan setempat yang pengen aku lihat. Postinganku berikutnya akan bercerita mengenai daerah lain tentunya. Semoga tidak ada halangan ya . . .🙂 .–

IMG_MEL17

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 14 Comments

Walking above a green forest

Balikpapan was one of East Kalimantan Province’s main cities, which was also one of the fastest developing cities in Indonesia. It located on the east coast of Kalimantan Island, Indonesia; hence it has many beaches which in turn became the city’s places of interest that always been packed by locals as well as people came from the neighboring city of Samarinda who looked for a place to relax on weekend or holidays.

Talking about places of interest in the region, there were a lot, and not only beaches that attracted travelers to come to Balikpapan. One of those was known as Bukit Bangkirai Ecotourism Area. It was a real tropical rain forest area that covered a hill known as Bangkirai Hill. The hill was named Bangkirai because there were many Yellow Balau (Shorea Leavis) trees grew on the hill, even that kind of tree dominated the area. Yellow Balau or Bangkirai according to local tongue, was only found in Indonesia, Malaysia and the Philippines. The ones that grew on Bangkirai Hill was mostly more than 150 years old with the diameter of the trunk was around 2 meters. Most of them were more than 40 meters high.

IMG_BBK01

So . . what was so interesting in the area that could attract people to come to Bangkirai Hill?

Well . . the one that most people seek was a canopy bridge that hung 30 meters above the forest ground, and the bridge was connected five big Bangkirai Trees.

IMG_BBK10

To come to the area, travelers should drive for about 1.5 to 2 hours to cover the 58 kilometers distance from Balikpapan. It was located in Samboja Sub-district, in Kutai Kertanegara Regency. Once travelers came to the area, and parked the cars on the wide parking area, travelers could come directly to the ticket booth. After that, it was time to start your journey into the real tropical rain-forest of Kalimantan. Please not to worry; it was just a light trekking to the canopy bridge. The distance was about 1 kilometer which could be covered in about 15 minutes. Travelers just following a slightly ascending dirt path in the jungle, which in some parts travelers should walk over or under fallen trees; but mostly it was an enjoyable walk🙂

IMG_BBK02

Once travelers came under the canopy bridge, travelers should climb a wooden tower. Just climb slowly and keep your breath steady as there was no elevator to bring travelers 30 meters up to walk on the bridge.

When it came to the top, then it was time to challenge your gut to walk on the hanging bridge. Only one person was allowed to walk on the bridge at one time. So nobody could accompany or hold you once you start your walk on the swaying bridge.

IMG_BBK07

Just walk slowly and enjoy the scenery. As travelers walk on a 30 meters high bridge, travelers could see how dense the forest was from high above. If it was lucky enough, travelers not only could feel the fresh forest air, but also heard the chirping of birds or even could see monkeys swaying from one branch to another.

IMG_BBK08

IMG_BBK09

The area was inaugurated on March 1998. It covered more than 1,000 acre tropical rain forest which still alive up till now. The main idea in settling Bukit Bangkirai Ecotourism Area was for biodiversity research, and also for training and education about Kalimantan’s tropical rain forest as well as for tourism. The canopy bridge itself was designed and made by the Canopy Construction Associates. It was said that the bridge was built in 1 month and designed to last for 20 years after construction.

IMG_BBK06

So . . . do you brave enough to walk on the swaying canopy bridge that hung 30 meters above the gound?😎 .—

IMG_BBK25

 

Keterangan :

Balikpapan, salah satu kota besar yang ada di Propinsi Kalimantan Timur, dan terletak di pesisir timur Pulau Kalimantan. Karenanya tidaklah mengherankan kalau Balikpapan memiliki banyak pantai yang juga menjadi tujuan wisata bagi penduduk setempat, bahkan juga bagi penduduk Samarinda yang ingin bersantai di pantai pada akhir pekan atau pada hari-hari libur.

Nah . . kalau berbicara mengenai tempat-tempat yang menjadi tujuan wisata di Balikpapan dan sekitarnya, sebetulnya ada banyak lho, dan bukan cuma pantai. Salah satunya adalah Kawasan Wisata Alam Bukit Bangkirai yang terletak di Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kertanegara. Sesuai dengan namanya, kawasan itu merupakan sebuah bukit yang tertutup hutan lebat dimana sebagian besar pohon yang tumbuh di kawasan itu merupakan pohon Bangkirai (Shorea Leavis). Menurut informasi yang aku dapatkan, pohon Bangkirai ini hanya tumbuh di Indonesia, Philipina dan Malaysia. Pohon Bangkirai merupakan pohon berkayu keras. Diameter pohonnya bisa mencapai sekitar 2 meter dengan tinggi di atas 40 meter. Apalagi yang tumbuh di Bukit Bangkirai, diperkirakan rata-rata sudah berumur 150 tahun. Kebayang kan betapa besar dan tingginya?

Nah . . . jadi apa yang menarik di sana? Tentunya bukan cuma melihat pohon-pohon Bangkirai yang besar-besar itu aja kan?

Memang sih orang datang ke sana bukan hanya pengen melihat pohon-pohon besar atau berjalan-jalan di dalam hutan saja; mereka kebanyakan ingin melihat dan menjajal Jembatan Tajuk atau Canopy Bridge yang tergantung 30 meter di atas tanah dan menghubungkan 5 batang pohon Bangkirai raksasa yang masih hidup.

IMG_BBK23

Untuk mencapai kawasan wisata alam ini, pelancong akan menempuh perjalanan darat sepanjang kurang lebih 58 kilometer dari Balikpapan ke arah Samarinda. Biasanya jarak sejauh itu ditempuh antara 1,5 sampai 2 jam karena di bagian akhir, begitu mendekati lokasi, jalanan agak rusak. Paling tidak itu yang aku temui ketika aku ke sana.

Setiba di lokasi, pelancong diwajibkan membeli ticket terlebih dahulu sebelum mulai berjalan memasuki hutan. Perjalanan menuju ke lokasi canopy bridge harus ditempuh dengan berjalan kaki melalui jalan setapak yang sedikit menanjak. Di beberapa tempat jalanan terhalang pohon tumbang sehingga pelancong harus merunduk untuk lewat di bawahnya sementara di bagian lain pelancong harus melompati batang pohon yang melintang di jalan. Jarak yang harus di tempuh dari tempat parkir kendaraan kurang lebih 1 kilometer. Yah kalau jalan santai, kira-kira sekitar 15 menitan pasti sudah sampai di bawah jembatan tajuknya.

Sesampai di sana, kalau kebetulan sedang banyak pelancong lain, kita harus sabar menunggu giliran untuk naik ke atas menara kayu yang akan membawa para pelancong ke ketinggian 30 meter di atas tanah.

IMG_BBK17

Nah . . kalau sudah tiba gilirannya, silahkan mulai mendaki anak tangga demi anak tangga. Pelan-pelan saja naiknya supaya nggak kehabisan napas sesampainya di atas. Maklumlah naiknya nggak pakai lift😛

IMG_BBK18

Sesampainya di atas, bersiaplah untuk menjajal keberanian dengan berjalan di jembatan gantung yang membentang di antara batang-batang pohon Bangkirai itu. Menyeberang di jembatan tajuk itu harus dilakukan satu per satu demi keamanan para pelancong sendiri, dan menyeberangnya nggak boleh lari ya. Berjalanlah dengan santai dan rasakan sensasinya ketika jembatan mulai bergoyang pada saat pelancong menapakinya.

IMG_BBK19

Dari jembatan itu pelancong akan dapat melihat betapa lebatnya hutan di bawah kaki pelancong. Rasakan semilirnya angin yang membelai, dan juga dengarkanlah kicauan burung- burung liar. Kalau beruntung, pelancong akan bisa juga melihat kawanan kera yang berkejaran, berayun dan melompat dari satu pucuk pohon ke pucuk pohon lainnya.

IMG_BBK21

IMG_BBK22

Kawasan wisata alam yang meliputi hutan alam seluas lebih dari 510 Hektar ini diresmikan pada bulan Maret 1998. Kawasan ini dibangun sebagai tempat penelitian keaneka ragaman hayati yang ada di hutan hujan Kalimantan, juga sebagai tempat pendidikan dan pelatihan tentang segala sesuatu yang terkait dengan hutan hujan tropis, khususnya yang ada di Kalimantan. Selain untuk tujuan-tujuan ilmiah tersebut, kawasan ini juga dibuka untuk umum sebagai kawasan wisata alam. Jembatan tajuknya sendiri dirancang dan dikerjakan oleh Canopy Construction Associates yang memang ahli dalam pembuatan jembatan-jembatan tajuk di pelbagai tempat lain di dunia ini.Konon jembatan tajuk yang ada di bukit Bangkirai ini dirancang untuk bertahan selama 20 tahun sejak saat pembuatannya.

IMG_BBK24

Jadi . . . berani mencoba untuk merasakan sensasi tersendiri ketika berjalan di atas pucuk-pucuk pohon di Bukit Bangkirai? 😎

IMG_BBK20

IMG_BBK26

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 14 Comments

Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,575 other followers