Author Archives: chris13jkt

About chris13jkt

I am just a simple worker doing a simple job in a simple office in Jakarta, Indonesia :) I like traveling as well as taking pictures in every places I visited. I also like to attend special events, especially cultural events.

Who made a gate on the shore?

 Sumba, a small island in Indonesia, has never ceased to amaze me with its natural beauty and uniqueness. After a short visit to a pretty beach with rock islands off the shore that called Watu Maladong Beach, I move a little further until Pak Agus, the man who accompany my travel partner and I exploring South West Sumba District at that time, stop his car on a corner of a grass field before an area which looked like a forest. Neither sea nor shore was visible from that place, and that caused me to ask Pak Agus whether he lost or not since I told him to go to a beach which called Bwanna Beach and not to a forest.

Firmly Pak Agus told me that he was not lost since the beach was located behind the forest.

So off we went, walked through the forest to find the beach. Some local kids accompanied us in the trek. They show the path if we were in doubt as in some places the path was covered by bushes or forked. We walked not too long when I saw an opening in front of us, and as we arrived at that point, I realized that was the end of the path. In there, I stand on the verge of a cliff and the sea was far below.

When I considered how to climb down to the foot of the hill to reach the beach, the local kids accompanied us summoned my travel partner and I to follow them climbed down through a steep path which in some part was almost stood vertically. Well . . . I did not have any other choice than to follow them playing Spiderman down the path if I want to come to the beach. And fortunately I could reach the beach safe and sound. My travel partner also managed to come to the beach safely although she was almost gave up when she reached the middle of the path because of her fear when accidentally she looked down to the rocky part of the beach far below the cliff.

The hard effort taken to reach the beach would be paid off as soon as we reached the beach. It was a sandy beach. The rocky part was only at the foot of the hill, after that to the shore was all sands, yellowish sands that felt so soft under our feet.

When I was there, although the tide was low, but the waves was quite high as the wind was quite strong affected by the bad weather. Yes the weather was not too friendly at that time, dark clouds still hung low and drizzle still came on and off.

Not too far from the end of the path at the foot of the cliff, at the left side of the beach, I found the landmark of the beach; a cliff with a big hole that formed almost a perfect circle. Yes . . the hole was really like a gate in a Chinese classic house which usually connecting the house to the garden area. The difference was that the one in Bwanna Beach was made by nature.

At that time I did not have enough courage to come under the arch because of the weather. Since that, i think I have to be back there in a better weather condition. Yes back to the beach which located in Kodi Balaghar Sub-District to explore more.

Bwanna Beach, or some people called it Banna Beach, was located in a remote area. To reach the forest before the beach, it needed approximately two hour drive from Tambolaka, the nearest town. Unfortunately there was no public transport serving the area, so the best way to come to Bwanna Beach was by renting a car from Tambolaka. The car could be parked at the field before the forest. Travellers would find some locals gathered in a small gazebo there and they willingly watch the car while travellers left the car to come to the beach. Ups, I almost forgot, once travellers left the car, travellers should walk about 500 meters through the forest before climb down the cliff to the beach. Please not to worry; the trek in the forest was a relatively soft trek.

So . . . come to Sumba and visit the moon-gate that made by Mother Nature in Bwanna Beach 😊

Keterangan :

Aku masih mau melanjutkan sedikit ceritaku ketika aku kluyuran di Sumba. Jangan bosan ya kalau aku masih ngomongin soal Pulau Sumba. Jujur aku sih nggak ada bosannya kalau ngomongin pulau yang satu ini. Gimana nggak, dari beberapa kali kunjunganku ke sana, aku masih saja “menemukan” tempat-tempat baru yang cukup indah, dan rasanya sih masih banyak lagi tempat-tempat indah yang mungkin masih tersembunyi. Eh . . . tapi yang sudah “ditemukan” saja masih banyak koq yang masih alami seolah belum tersentuh tangan manusia sama sekali, salah satu yang seperti itu adalah Pantai Bwanna, atau ada juga yang menyebutnya dengan nama Pantai Banna, yang sempat aku kunjungi beberapa waktu lalu. Pantai Bwanna ini lokasinya nggak jauh dari Pantai Watu Maladong yang sudah pernah aku tulis di postingan yang lalu.

Jadi memang biasanya pelancong yang ke Pantai Watu Maladong akan sekalian juga berkunjung ke Pantai Bwanna. Maklumlah kalau nggak sekaligus dan harus bolak balik ke Tambolaka dulu tentunya akan buang waktu mengingat waktu tempuh dari Tambolaka yang cukup lama. 2 jam berkendara melalui jalan yang relatif bagus kecuali di bagian akhir ketika sudah mendekati daerah pantai yang jalannya agak kurang bagus, bukan waktu yang sebentar kan?

Route seperti itu jugalah yang aku ambil ketika itu. Sehabis dari Pantai Watu Maladong, aku dan partner jalanku dengan diantar oleh Pak Agus langsung bergerak menuju ke Pantai Bwanna dengan perasaan was-was karena langit yang makin mendung. Sepanjang jalan, aku lebih sering mengamati langit, demikian juga partner jalanku, sehingga ketika tiba-tiba Pak Agus menghentikan kendaraan di tepi hutan yang berbatasan dengan sebuah lapangan rumput yang tidak terlalu luas, aku dan partner jalanku sempat kaget dan bingung. Maklum dari tempat itu yang tampak adalah hutan dan bukannya pantai, Tapi ternyata Pak Agus nggak salah, pantainya memang ada di balik hutan itu. Katanya sih jaraknya dari tepi hutan kurang lebih 500 meter, kemudian harus menuruni tebing karena lokasi pantainya ada di bawah, terkurung bukit karang, jadi memang nggak ada jalan lain kecuali ini.

Setelah bersiap-siap, aku dan partner jalanku segera mulai berjalan memasuki hutan ditemani beberapa anak setempat. Untung juga sih karena anak-anak itu mau menemani mengingat selain sepi, jalan setapak yang ada di hutan itu kadang menghilang karena tertutup semak atau malah bercabang. Jalan sejauh 500 meter menembus hutan praktis nggak terasa karena adem dan juga medannya nggak berat. Karena itulah nggak lama kemudian aku dan partner jalanku tiba-tiba sudah bisa melihat akhir dari hutan itu. Dan tahu nggak, akhir hutan itu ya berada di bibir tebing, dan sekarang medannya jadi lumayan menantang nih karena kalau mau ke pantainya harus turun menapaki jalur yang cukup curam, bahkan di beberapa tempat nyaris vertikal.

Untunglah akhirnya aku dan partner jalanku sampai juga di kaki tebing meskipun di tengah-tengah jalur turun tadi partner jalanku hampir saja menyerah karena katanya ngeri banget melihat hamparan karang jauh di bawah ketika nggak sengaja dia ngelongok ke bawah ketika merayap turun tadi. Ya di bawah tebing itu memang berserakan batu-batu karang besar, baru setelah itu sampai ke batas air berbentuk pasir halus kecoklatan.

Setelah puas mengambil beberapa foto di kaki tebing bersama anak-anak yang mengiringi kami berdua, aku dan partner jalanku berjalan menyusuri pantai ke arah kiri. Karena di sebelah kiri itulah terdapat sebuah tebing karang yang di tengahnya berlubang dengan bentuk hampir bundar sempurna. Betul-betul jadi seperti gerbang penghubung di rumah-rumah berarsitektur China klasik yang biasanya memiliki pintu berbentuk lingkaran seperti itu. Hanya saja bedanya yang di Pantai Bwanna ini buatan alam.

Sayangnya ketika itu aku nggak bisa berlama-lama di sana, bahkan untuk berjalan ke arah lubang di karang itu pun nggak aku lakukan. Faktor cuaca yang nggak terlalu bersahabat yang menjadi pertimbangan utamaku. Jadi ketika itu mau nggak mau aku harus puas dengan memandang gerbang alam itu dari jarak yang nggak bisa dibilang terlalu dekat. Mudah-mudahan saja nggak lama lagi aku bisa balik ke pantai indah yang terletak di Kecamatan Kodi Balaghar itu ketika cuaca lebih bersahabat.

Ada yang mau ikutan ke sana . . . ?  😋

Advertisements
Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , , , | 8 Comments

A beach with rock islands off the shore

Sumba, Indonesia, was really a hidden paradise as there were many beautiful places that still not fully explored and managed well. One of such a place was called Watu Maladong Beach which was located in Sumba Barat Daya Regency. It was in Panenggo Ede Village, Kodi Balaghar Sub-district to be precise; about 57 kilometres from Tambolaka.

The road to the beach was quite good, except some kilometers close to the beach, at least that was what I found when I was there; even worse the last part of the road was vanished, swept to the bottom of the cliff by a land slide happened days before. I have to walk to reach the beach that surrounded by natural stone wall, while off the shore there were some corral islets scattered here and there. At that day I walked under a light drizzle, and that was why in some of my pictures here you can see parts that seemed a little blurred since my lens was wet :mrgreen:

The beach was quite empty when I was there. My travel partner and I were the only human at the beach, the others were only goats and cows 😁

After a moment contemplating and enjoying the sea wind that made the waves quite big at the beach, my travel partner and I walked to the left, through a narrow path toward another beach that located behind an enormous corral. There laid the icon of the beach; a big corral island which looked like a giant turtle shell supported by four legs. Yes . . . the rock island seemed to have four legs as the waves had already carved a big hole under the island.

In there, the beach was also empty. Unfortunately the weather was not so friendly, as the drizzle became a light rain, although it was on and off; but as I afraid that the rain became harder, I canceled my plan to walk to the island and came below it. Well . . . perhaps I have to go back there some time in the future to see what will I find beneath an island

As I stated before, Watu Maladong Beach was one of many beaches which was not managed as a tourist destination yet, since that travelers could not find any public facilities in the beach area. The beach was still relatively untouched. To reach the beach from Tambolaka, travelers need a special effort as public transports was only served to Walandimu, and after that travelers should only rely on a motor taxi to go to the beach. The more secure way was by renting a car or a motor vehicle from Tambolaka.

So . . . do you interested in finding a beach that had rocks islands off the shore and that one of the islands had four legs under it?

Keterangan :

Pulau Sumba yang terletak di Nusa Tenggara Timur memang bisa dibilang sebagai surga yang tersembunyi, bagaimana tidak, di sana banyak sekali tempat-tempat indah yang masih belum terjamah, bahkan banyak di antaranya belum banyak diketahui orang. Hanya penduduk setempat yang tahu dan menikmati keindahannya.Untunglah sekarang tempat-tempat indah itu sedikit demi sedikit mulai “ditemukan” dengan harapan bahwa setelah “ditemukan” bisa tetap dipelihara keindahannya dan tidak malah dirusak.

Salah satu tempat indah yang bisa aku kategorikan sebagai tempat indah yang semula tersembunyi itu adalah sebuah pantai yang terletak di Desa Panenggo Ede, Kecamatan Kodi Balaghar, Sumba Barat Daya; kira-kira 57 kilometer dari Tambolaka. Sebuah jarak yang bisa dikategorikan nggak dekat juga di Sumba. Pantai tersebut dikenal dengan nama Pantai Watu Maladong, meskipun ada sebagian orang yang juga menyebutnya dengan nama Pantai Watu Malando.

Untuk menuju ke Pantai Watu Maladong dari Tambolaka, pelancong akan melewati jalanan yang sudah cukup bagus, kecuali di kilometer-kilometer akhir mendekati lokasi pantai. Ketika aku ke sana, jalan di dekat pantai tidak hanya rusak, bahkan jalanannya hilang tersapu longsor yang rupanya belum lama terjadi. Akibatnya aku dan partner jalanku harus berjalan kaki turun menuju ke pantai. Nggak jauh sih, hanya saja karena ketika itu cuaca hujan rintik dan medan yang harus ditempuh untuk menuju ke pantai penuh tanah dan kerikil, mau nggak mau ya harus jalan dengan hati-hati kalau nggak mau kepleset. 😱

Di ujung jalan yang menurun itu, aku dan partner jalanku sampai ke sebuah pantai berpasir yang dikelilingi tebing-tebing karang. Rupanya sebelum longsor mobil bisa mencapai pantai ini, bahkan bisa diparkir di tepi pantainya. Tapi ketika aku ke sana itu, pantai betul-betul sepi. Hanya ada aku dan partner jalanku, selain itu yang ada di pantai hanyalah kambing-kambing dan juga beberapa ekor sapi.

Sejenak aku menikmati kesunyian pantai itu sambil memandang ombak yang kelihatan cukup tinggi akibat tiupan angin yang lumayan kencang. Setelah itu, aku dan partner jalanku mulai berjalan menuju sebuah tebing batu yang terletak di ujung kiri pantai. Di bawah tebing batu itu ada jalan kecil yang membawaku ke balik bukit batu, dan . . . . tarara . . . . di situlah terletak sebuah pulau karang yang seolah-olah disangga oleh empat kaki karena ombak yang menghajarnya berbilang tahun telah mengukir sebuah lubang yang cukup besar di bagian bawah pulau karang itu. Pulau yang bentuknya sepintas mirip tempurung kura-kura itulah yang menjadi icon pantai ini.

Di sisi pantai yang ini, suasana juga cukup sepi. Bener-bener jadi kaya pantai pribadi deh. Sebetulnya aku kepengn banget jalan menuju pulau itu dan ngelongok di bagian bawahnya, apalagi kebetulan laut juga sedang surut. Sayangnya cuaca kurang bersahabat. Mendung tebal yang masih saja menggelayut rendah mulai menumpahkan isinya. Memang masih gerimis sih, tapi jujur aja aku nggak mau jadi basah kuyup kalau aku memaksakan diri berjalan ke pulau itu trus tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Mungkin memang lain waktu aku harus balik ke sana, bagaimanapun aku masih penasaran untuk melihat apa yang ada di bawah pulau karang itu.

Anyway, seperti sudah aku kemukakan di atas, Pantai Watu Maladong relatif belum tertata. Kondisinya masih alami. Karena itu, jangan harap di sana ada berbagai fasilitas penunjang yang biasanya ada di sebuah tempat wisata. Pedagang makanan kecil atau minuman dalam kemasan yang biasanya selalu ada di hampir tiap pantai juga nggak ada. Jadi bagi pelancong yang mau ke pantai itu, jangan lupa bawa bekal sendiri ya . . .  😇

Nah . . . tertarik apa nggak berkunjung ke Pantai Watu Maladong? Terlebih lagi, penasaran apa nggak sama apa yang ada di bawah pulau karang yang seolah ditopang empat kaki itu?

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 15 Comments

When the sky’s color turned into flaming orange

That afternoon, most of the South Western Sumba area was wet. Hard rain was pouring the usually dry island which was located in East Nusatenggara Province, Indonesia, since before noon. The usually hot and dry air turn into relatively cool; and made people preferred to stay in their home rather than in the open. For me and my travel partner, the rain made us worried since we planned to go to Pero Beach which was boasted as a beach with the best sunset in the area.

Fortunately, at around 2 PM, the rain began to subside. So hurriedly we ran to the car and off we went to Pero. We need to be in a hurry because the distance was quite long. It took us about 1.5 to 2 hours drive from Tambolaka, the city where we stayed in our trip that time.

Pero Beach was located in a fishing village called Pero Batang (also called Pero Kodi). The beach had a long coastal line which was a combination of a sandy beach and a coral beach. The sandy part was located closer to the village, while the coral area covered the shore. So traveler should step on the sharp corals whenever they want to go to the sea. It was quite difficult to walk on the corals because of the contours. One should wear a thick soled shoes or sandals to walk on it to avoid hurting their feet.

The coral in the part which was continuously hit by the waves was quite smooth. Waves also made many big holes which filled with water. I saw many tiny fishes and sea creatures were trapped on the holes and they had to wait for the high tide before they can be freed from those basins. In some parts a kind of green algae covered the surface like a soft green carpet.

Well . . .I did not have to wait for long before the natural show presenting the a stunning sunset began. In the west, the sky gradually turned flaming orange when the big fiery ball begin its final approach to the horizon for a rest before it raised again in the east the next morning.

Thank God, you gave us a chance to witness one of your great shows. The rain that poured the area was one of your gift to Sumba and also for us, as the rain cleared the air and made the sunset more brilliance.—

Keterangan :

Siang menjelang sore itu aku masih bermalas-malasan di kamar hotelku. Hujan yang turun sejak pagi menjadi penyebabnya. Memang nggak terlalu deras sih, tapi karena durasinya yang cukup lama, cuaca yang biasanya panas berdebu berubah menjadi sejuk. Tetapi aku bermalas-malasan bukan hanya karena udara yang sejuk saja, melainkan karena aku juga nggak tahu harus ngapain. Nggak mungkin juga kan aku jalan ke pantai untuk menikmati saat-saat terbenamnya matahari kalau hujan masih turun?

Ya . . . sebetulnya sore itu aku berencana untuk ke Pantai Pero yang konon merupakan salah satu pantai di Sumba yang menyajikan sunset yang paling indah.

Untunglah sekitar jam 2, hujan mulai mereda. Awan gelap yang semula kelihatan tebal bergulung-gulung mulai buyar tertiup angin dan menampakkan langit yang biru. Aku dan partner jalanku dengan segera bergegas mengemasi barang-barang kami dan langsung berjalan menuju ke kendaraan yang sudah siap untuk membawa kami berdua ke Pantai Pero. Memang kalau dipikir-pikir waktu terbenamnya matahari masih lama sih, tapi perjalanan dari Tambolaka ke Pantai Pero yang lumayan jauh membuat aku dan partner jalanku harus bergegas. Dari Tambolaka ke Pero ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam, paling cepat juga 1.5 jam kalau pas jalanan sepi. Jalannya sendiri sih sudah lumayan bagus, hanya ketika sudah masuk ke Desa Pero Batang (ada juga yang menyebutnya Pero Kodi), jalanan sedikit menyempit dan tidak sehalus jalan raya sebelumnya. Pantai Pero memang masuk dalam wilayah Desa Pero Batang, Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya.

Pantai Pero yang menghadap langsung ke Samudera Hindia memiliki bentang pantai yang lumayan panjang. Pantainya cukup unik karena ada yang berpasir ada pula yang berbatu-batu karang. Bagian yang berpasir terletak lebih jauh dari bibir pantai. Jadi kalau mau menuju ke laut, para pelancong harus melalui bagian yang berkarang setelah melewati bagian yang berpasir tadi. Hamparan karangnya cukup luas dan konturnya tidak rata. Hal tersebut cukup menyulitkan kita melangkah. O ya, kalau ke sana, jangan lupa memakai alas kaki yang lumayan tebal. Hal ini perlu untuk menghindari terlukanya kaki kita karena karang yang harus dilewati untuk menuju ke bibir pantai lumayan tajam. Belum lagi di sana banyak pecahan botol juga. Partner jalanku sempat jadi korban, kakinya terluka karena terkena pecahan botol yang menembus sandalnya 😦

Untunglah mendekati pantai, hamparan karangnya makin halus akibat terkena gempuran ombak yang terus menerus. Di beberapa tempat ombak membuat ceruk-ceruk di permukaan karang yang menyerupai baskom. Ceruk-ceruk itu berisi air yang cukup jernih. Beberapa ceruk cukup lebar sehingga memungkinkan pelancong untuk duduk berendam di dalamnya :P. Aku juga melihat di beberapa ceruk itu ada ikan dan berbagai makhluk laut yang terjebak di sana. Mereka harus bersabar sampai tibanya air pasang yang akan membebaskan mereka dari kungkungan ceruk itu kembali ke laut lepas.

Di beberapa bagian, hamparan karang dan tepian ceruk dilapisi oleh sejenis ganggang yang menyerupai karpet hijau. Ombak yang nggak hentinya berkejaran menuju pantai dan menghantam karang kadang membuat semburan air yang cukup tinggi ke udara. Derasnya ombak membuat mereka yang ingin bermain air harus ekstra hati-hati. Kombinasi ombak yang deras dan hamparan batu karang yang di beberapa bagiannya runcing itu cukup membahayakan kan?

Balik ke soal saat-saat matahari terbenam . . . sore itu aku dan partner jalanku kebetulan nggak perlu menunggu terlalu lama. Langit di ufuk barat perlahan tapi pasti berubah warna dari biru menjadi oranye kemerahan mengiringi sang bola raksasa yang tampak dengan jelas turun per lahan-lahan ke balik horizon dengan anggunnya untuk berisitirahat setelah seharian bertugas.

Terimakasih Tuhan atas kesempatan yang Kau berikan kepada kami untuk ikut menyaksikan pertunjukan agung yang Kau rancang dengan indahnya berbonus selendang tujuh warna yang kau bentangkan di langit timur. Hujan yang kau tumpahkan seharian itu selain merupakan anugerah untuk Pulau Sumba yang biasanya kering, juga sekaligus membersihkan udara sehingga saat-saat terbenamnya matahari sore itu menjadi lebih indah.–

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , , , | 18 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.