Monthly Archives: August 2017

When the sky’s color turned into flaming orange

That afternoon, most of the South Western Sumba area was wet. Hard rain was pouring the usually dry island which was located in East Nusatenggara Province, Indonesia, since before noon. The usually hot and dry air turn into relatively cool; and made people preferred to stay in their home rather than in the open. For me and my travel partner, the rain made us worried since we planned to go to Pero Beach which was boasted as a beach with the best sunset in the area.

Fortunately, at around 2 PM, the rain began to subside. So hurriedly we ran to the car and off we went to Pero. We need to be in a hurry because the distance was quite long. It took us about 1.5 to 2 hours drive from Tambolaka, the city where we stayed in our trip that time.

Pero Beach was located in a fishing village called Pero Batang (also called Pero Kodi). The beach had a long coastal line which was a combination of a sandy beach and a coral beach. The sandy part was located closer to the village, while the coral area covered the shore. So traveler should step on the sharp corals whenever they want to go to the sea. It was quite difficult to walk on the corals because of the contours. One should wear a thick soled shoes or sandals to walk on it to avoid hurting their feet.

The coral in the part which was continuously hit by the waves was quite smooth. Waves also made many big holes which filled with water. I saw many tiny fishes and sea creatures were trapped on the holes and they had to wait for the high tide before they can be freed from those basins. In some parts a kind of green algae covered the surface like a soft green carpet.

Well . . .I did not have to wait for long before the natural show presenting the a stunning sunset began. In the west, the sky gradually turned flaming orange when the big fiery ball begin its final approach to the horizon for a rest before it raised again in the east the next morning.

Thank God, you gave us a chance to witness one of your great shows. The rain that poured the area was one of your gift to Sumba and also for us, as the rain cleared the air and made the sunset more brilliance.—

Keterangan :

Siang menjelang sore itu aku masih bermalas-malasan di kamar hotelku. Hujan yang turun sejak pagi menjadi penyebabnya. Memang nggak terlalu deras sih, tapi karena durasinya yang cukup lama, cuaca yang biasanya panas berdebu berubah menjadi sejuk. Tetapi aku bermalas-malasan bukan hanya karena udara yang sejuk saja, melainkan karena aku juga nggak tahu harus ngapain. Nggak mungkin juga kan aku jalan ke pantai untuk menikmati saat-saat terbenamnya matahari kalau hujan masih turun?

Ya . . . sebetulnya sore itu aku berencana untuk ke Pantai Pero yang konon merupakan salah satu pantai di Sumba yang menyajikan sunset yang paling indah.

Untunglah sekitar jam 2, hujan mulai mereda. Awan gelap yang semula kelihatan tebal bergulung-gulung mulai buyar tertiup angin dan menampakkan langit yang biru. Aku dan partner jalanku dengan segera bergegas mengemasi barang-barang kami dan langsung berjalan menuju ke kendaraan yang sudah siap untuk membawa kami berdua ke Pantai Pero. Memang kalau dipikir-pikir waktu terbenamnya matahari masih lama sih, tapi perjalanan dari Tambolaka ke Pantai Pero yang lumayan jauh membuat aku dan partner jalanku harus bergegas. Dari Tambolaka ke Pero ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam, paling cepat juga 1.5 jam kalau pas jalanan sepi. Jalannya sendiri sih sudah lumayan bagus, hanya ketika sudah masuk ke Desa Pero Batang (ada juga yang menyebutnya Pero Kodi), jalanan sedikit menyempit dan tidak sehalus jalan raya sebelumnya. Pantai Pero memang masuk dalam wilayah Desa Pero Batang, Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya.

Pantai Pero yang menghadap langsung ke Samudera Hindia memiliki bentang pantai yang lumayan panjang. Pantainya cukup unik karena ada yang berpasir ada pula yang berbatu-batu karang. Bagian yang berpasir terletak lebih jauh dari bibir pantai. Jadi kalau mau menuju ke laut, para pelancong harus melalui bagian yang berkarang setelah melewati bagian yang berpasir tadi. Hamparan karangnya cukup luas dan konturnya tidak rata. Hal tersebut cukup menyulitkan kita melangkah. O ya, kalau ke sana, jangan lupa memakai alas kaki yang lumayan tebal. Hal ini perlu untuk menghindari terlukanya kaki kita karena karang yang harus dilewati untuk menuju ke bibir pantai lumayan tajam. Belum lagi di sana banyak pecahan botol juga. Partner jalanku sempat jadi korban, kakinya terluka karena terkena pecahan botol yang menembus sandalnya 😦

Untunglah mendekati pantai, hamparan karangnya makin halus akibat terkena gempuran ombak yang terus menerus. Di beberapa tempat ombak membuat ceruk-ceruk di permukaan karang yang menyerupai baskom. Ceruk-ceruk itu berisi air yang cukup jernih. Beberapa ceruk cukup lebar sehingga memungkinkan pelancong untuk duduk berendam di dalamnya :P. Aku juga melihat di beberapa ceruk itu ada ikan dan berbagai makhluk laut yang terjebak di sana. Mereka harus bersabar sampai tibanya air pasang yang akan membebaskan mereka dari kungkungan ceruk itu kembali ke laut lepas.

Di beberapa bagian, hamparan karang dan tepian ceruk dilapisi oleh sejenis ganggang yang menyerupai karpet hijau. Ombak yang nggak hentinya berkejaran menuju pantai dan menghantam karang kadang membuat semburan air yang cukup tinggi ke udara. Derasnya ombak membuat mereka yang ingin bermain air harus ekstra hati-hati. Kombinasi ombak yang deras dan hamparan batu karang yang di beberapa bagiannya runcing itu cukup membahayakan kan?

Balik ke soal saat-saat matahari terbenam . . . sore itu aku dan partner jalanku kebetulan nggak perlu menunggu terlalu lama. Langit di ufuk barat perlahan tapi pasti berubah warna dari biru menjadi oranye kemerahan mengiringi sang bola raksasa yang tampak dengan jelas turun per lahan-lahan ke balik horizon dengan anggunnya untuk berisitirahat setelah seharian bertugas.

Terimakasih Tuhan atas kesempatan yang Kau berikan kepada kami untuk ikut menyaksikan pertunjukan agung yang Kau rancang dengan indahnya berbonus selendang tujuh warna yang kau bentangkan di langit timur. Hujan yang kau tumpahkan seharian itu selain merupakan anugerah untuk Pulau Sumba yang biasanya kering, juga sekaligus membersihkan udara sehingga saat-saat terbenamnya matahari sore itu menjadi lebih indah.–

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , , , | 8 Comments

The war-like ritual in Sumba

I was in Sumba, Indonesia, in Ratenggaro Village to be precise. That very morning, the usually quiet village looked pretty busy and also crowded. Many people passing by the village’s gate; almost all of them walked toward the village square while many had already gathered around the square ignoring the heat caused by the scorching morning sun. Locals and visitors were mingled in there. Sounds of talking people were like the sound of buzzing bees rising into the air. Some local vendors had been ready with their merchandise under temporary tents offering bottled waters, simple snacks, and also simple toys to everyone passing their stalls. No doubt that there was a big event being held in there.

Yup . . . you’re right. That day was the day of Pasola, a big event for the Sumbanese, especially the Kodi Tribe who live in the western part of the island. Pasola was part of a series of traditional ritual which been held once a year before the rice planting season.

The name Pasola was derived from a word in local language, “sola” or “hola” which means a wooden spear that would be thrown to each other from a fast running horse between two opposing groups of clans or tribes. The word then added by prefix “pa” and became “pasola” or “pahola” that means a game or competition. So the word “pasola” could be translated as a battle like game where the participants throwing the wooden spears to their opponents while riding a fast running horse.

That morning, two groups of Sumbanese warriors were ready on each side of the fields. They sit on the back of Sumba endemic horses called the sandel horses which was known as one of the finest horses in the region. The horses were not too big, but have good endurance, easy to manage and also a fast runner. Those warriors held some wooden spears in their hands. The spears were dull, but it still could cause a serious injury when it hit bare flesh. Yes, casualties did really occur in this ritual, even death was not impossible to happen if the wooden spears hit a vital part of the body.

To the Sumbanese belief, blood that shed in a Pasola would fertilize the soil and made a very rich harvest in the coming harvesting season. No grudge was held against any casualties in the ritual; even death would be treated as a great honor.

As the sun rose higher, the tension in the battlefield also arose. The sound of whinnying horses was heard among the buzzing sounds of people. One or two warriors from each clan starting galloping their horses towards their opponents to provoke. War cry also heard from some young warriors while they made their horses run fast around the field.

At a specific time, some village’s elders with their aides entering the field followed by some horsemen. When they reached the center of the fields, those elders summoned the warriors from both sides, gave some short speech and blessed them and the square as well. It did not take too long. And when they left the square, the war began.

Warriors from each side spurred their horses and then threw their wooden spears to their targeted opponents. The targeted warriors were also very agile; they would duck or even slid at the side of their horses’ body to evade. Some of them were skilful and experienced in such a game so they can catch the wooden stick threw to them. Many others suffer and even fell from their horses when being hit by a wooden spear. Loud cheers broke into the hot air every time those situations happened.

Pasola was held once a year in the month of February and March. There were no exact dates for the ritual; it was the village elders’ decision. There were many preceding rituals before the Pasola. Unfortunately, I was only able to attend the Pasola. Hope that I can also attending and documenting the rituals before and after the Pasola next time I visit Sumba again.–

Keterangan :

Pagi di pertengahan bulan Maret yang lalu, setelah beberapa saat berjalan-jalan di Pantai Ratenggaro seperti yang sudah aku ceritakan di postingan yang lalu, aku kembali menuju ke arah Desa Adat Ratenggaro.Hari sudah semakin siang dan sinar matahari pun sudah terasa makin menyengat. Meskipun demikian, orang yang berlalu lalang rasanya semakin banyak saja. Semuanya bergerak ke satu tujuan, sebuah lapangan terbuka yang terletak tidak jauh dari gerbang masuk desa.

Sesampainya di lapangan tersebut, aku melihat sudah banyak juga orang yang berdiri di sekeliling lapangan. Para pedagang musiman juga sudah menggelar barang dagangan mereka yang berupa minuman ringan, makanan kecil dan juga beberapa jenis mainan sederhana, dibawah lindungan terpal ataupun kain yang dibuat sebagai tenda darurat. Dan seperti pada umumnya terdapat di tiap-tiap keramaian, ada saja umbul-umbul perusahaan rokok yang sudah berdiri berjajar dengan rapi 😛

Hari itu di Desa Ratenggaro memang sedang ada keramaian, sebuah event tahunan yang menyedot banyak pengunjung, bahkan pengunjung dari tempat yang sangat jauh karena aku juga melihat banyak turis asing ikut berkerumun di sekitar lapangan itu. Ya . . hari itu bertepatan dengan diselenggarakannya Pasola di daerah itu.

Pasola adalah sebuah upacara adat yang dijalankan oleh masyarakat Sumba, khususnya suku Kodi yang tinggal di bagian barat Pulau Sumba ini. Pasola diadakan setahun sekali sebelum musim tanam padi. Pasola berasal dari kata “sola” atau “hola” yang berarti tombak kayu yang saling dilontarkan dari atas punggung kuda yang dipacu dengan kencang oleh dua kelompok penunggang kuda yang berasal dari desa yang berbeda ataupun kelompok yang berbeda. Setelah mendapat awalan “pa” artinya berubah menjadi “permainan”. Jadi “pasola” atau” pahola” bisa diartikan sebagai permainan ketangkasan saling melemparkan tombak kayu antara dua kelompok penunggang kuda yang melakukan pelemparan dari atas punggung kuda yang sedang dipacu kencang.

Pagi itu, dua kelompok penunggang kuda sudah nampak bersiaga di kedua ujung lapangan. Di tangan mereka tergenggam tiga atau lebih tombak kayu yang siap untuk dilontarkan ke arah lawan nantinya. Mata mereka tajam mengawasi kelompok lawan di seberang lapangan. Kuda-kuda sandel yang mereka tunggangi seolah bisa merasakan ketegangan yang makin meninggi, beberapa di antara kuda-kuda itu meringkik sementara yang lain menghentak-hentakan kaki depannya ke tanah seolah tidak sabar untuk segera dipacu menyongsong lawan.

Tombak-tombak kayu yang dipergunakan dalam pasola ujungnya tumpul. Ketika tombak kayu itu dilontarkan dengan sekuat tenaga, meskipun tumpul, tetap saja akan mampu menghasilkan luka terbuka jika terkena. Dalam pasola, luka terbuka yang menyebabkan tumpahnya darah, bahkan juga tewasnya peserta pasola mungkin saja terjadi. Bagi masyarakat Sumba, darah yang membasahi bumi dipercaya akan menyuburkan tanah dan membuat hasil panen mendatang berkelimpahan. Karena itulah bagi mereka nggak ada dendam yang dibawa keluar dari arena pasola. Bahkan kematian dalam arena pasola dianggap sebagai kematian yang sangat terhormat.

Ketika hari makin siang dan ketegangan juga terasa meningkat seiring dengan bertambah panasnya udara di sekitar lapangan, satu atau dua penunggang kuda mulai menderapkan kudanya ke arah kelompok lawan. Mereka hanya berputar-putar di depan kelompok lawan seolah mengejek dan menantang.

Ketika tiba waktunya, masuklah iringan tetua adat yang disebut “Rato” beserta dengan pembantu-pembantunya, diiringi beberapa penunggang kuda. Setibanya di tengah lapangan mereka memanggil perwakilan dari kedua kelompok penunggang kuda yang akan “bertempur” di arena pasola hari itu. Entah apa yang disampaikannya karena aku kebetulan berdiri cukup jauh dari mereka. Kelihatannya sih mereka diberkati. Lapangan yang akan dipakai juga mereka berkati. Setelah ritual itu selesai, Sang Rato beserta dengan pengiringnya kembali keluar dari lapangan, dan pertempuran pun dimulai . . .

Para penunggang kuda dari kedua belah pihak mulai memacu kudanya keluar dari kelompoknya masing-masing menyerbu ke arah kelompok lawan. Ketika mereka menjumpai lawan yang masuk dalam jarak tembak mereka, maka terlontarlah tombak-tombak kayu dari tangan mereka. Ketangkasan mereka dalam melontarkan tombak kayu dari atas kuda yang sedang berlari kencang memang patut diacungi jempol, apalagi kuda-kuda yang mereka tunggangi tidak dilengkapi dengan pelana. Hanya semacam bantal yang mengalasi duduk mereka di punggung kuda. Para penunggang kuda itu tidak hanya tangkas dalam melontarkan tombak kayu lho, mereka juga tangkas menghindar dari tombak kayu yang meluncur deras ke arah mereka; beberapa orang menghindar dengan cara berbaring di punggung kuda, beberapa lainnya menggantung di samping tubuh kuda yang masih berlari kencang, bahkan ada pula yang cukup tangkas menangkap tombak kayu yang terbang ke arah mereka. Sorak sorai penonton membuat para penunggang kuda semakin bersemangat dan “pertempuran” juga makin seru.

Pasola biasanya diadakan pada bulan-bulan Februari dan Maret. Tanggal pastinya ditentukan oleh Rato. Sebetulnya sebelum dilaksanakannya pasola, ada juga ritual-ritual lain yang mereka jalankan di hari-hari sebelumnya. Sayang waktu itu aku hanya sempat menyaksikan ritual pertempurannya saja. Mudah-mudahan kali berikut aku ke Sumba lagi di bulan Februari atau Maret, aku sempat juga menghadiri ritual-ritual yang mendahului pasola.–

Categories: Event Pictures | Tags: , , , , , , , | 12 Comments

Blog at WordPress.com.