Monthly Archives: March 2014

Row of boats selling a variety of foods

Hmmm . . . sounds interesting, isn’t it? Do you want to know where did I find that row of boats? Well, I found them in Lembang, a small town not more than 20 kilometers from Bandung, West Java, to the north. It was in place called Lembang Floating Market. Don’t think that the place was like the floating market in Thailand or in Kalimantan which was on a big river, and the sellers and buyers really doing their transactions on boat. In Lembang, it was only the idea of a floating market that took into a kind of food court in a recreation park in which all the food stalls were in a form of small boats tied along a pier, and people eat on the pier  🙂 .

IMG_PAL01

the 'coins'

the ‘coins’

The place was actually a natural lake called Situ Umar, and it really unique to find a kind of floating market not on a river but on a lake instead. The area has been changed to be a family recreation park with a unique concept. The management forbade any transactions in the area using any other means than their chip-like coins. There were 4 kinds of ‘coin’ with different values; Rp 5,000.–, Rp 10,000.–, Rp 50,0000.–, and Rp 100,000.–. So once travelers get off from their cars, they should buy the entrance ticket and also buy coins to be used in the area as well.

In the area, travelers could find a well managed and clean park located around the lake. There was a path which brought travelers to each and every corner of the park. Some buildings made of wood were functioned to be souvenir shops, snack counter and also restaurants.

There were many activities could be done in the area almost for every body. For the young ones, for instance, they could feed the geese in a small pond close to the entrance area, or they could try to drive an ATV on a track nearby. And for the little ones, they could feed and interact with cute bunnies in an open cage, or join a coloring class.

IMG_PAL08

There was also a mini paddy field in there, so travelers could join some traditional farmers cultivating the fields. In another corner. travelers could also picking strawberries in a strawberry field. For them who like to have activities on the lake, there were canoes and paddle-boats that could be rented. To swim in the lake, however, was prohibited.

IMG_PAL04

Back to the foods sold in the market area, almost all were traditional Indonesian foods, although there were one or two boats that sold lollipops and candies. The price range for each food in there were between Rp 10,000.– (approximately US$ 1.–) to Rp 25,000.– (approximately US$2.50).

For them who want to visit Lembang Floating Market, they better come early, since it will be quite crowded later, and to find a table to enjoy the foods will also be quite difficult  :mrgreen:

IMG_PAL06

 

Keterangan :

Kalau ada sederetan perahu yang menjual aneka jenis makanan yang rasanya lezat, tentunya menarik bukan? Apalagi tempatnya berhawa lumayan sejuk, sehingga menyantap aneka makanan itu tentu akan terasa semakin nikmat. Bisa menebak di mana? Nah . . biar gak penasaran, aku kasih tahu aja deh. Tempatnya di Lembang. Ya Lembang yang dekat Bandung itu. Nama tempatnya Lembang Floating Market atau Pasar Apung Lembang. Jangan berpikir bahwa tempat ini betul-betul merupakan lokasi pasar terapung seperti yang ada di Thailand atau di Kalimantan, karena di Pasar Apung Lembang, penjual dan pembeli tidak bertransaksi di atas perahu yang berlalu lalang sepanjang ruas sungai tertentu. Maklum saja, di Lembang kan gak ada sungai yang cukup lebar seperti di Thailand atau di Kalimantan itu. Di Lembang Floating Market ini, perahu-perahunya tertambat di pinggiran semacam dermaga yang ada di sebuah danau, dan yang dijual juga hanya aneka makanan, khususnya makanan tradisional Indonesia.

IMG_PAL02

Lokasi Pasar Apung Lembang yang berada di belakang Grand Hotel Lembang ini, semula hanyalah berupa danau kecil yang menjadi tempat pemancingan bagi penduduk sekitarnya. Belakangan, danau yang bernama Situ Umar itu dikembangkan dan diubah menjadi sebuah tempat rekreasi keluarga yang tertata rapi dan memiliki konsep yang lumayan unik.

Ayo kita lihat dari depan. Jadi lokasinya memang sedikit masuk kalau dari jalan utama, Tapi jangan khawatir, karena petunjuknya cukup jelas koq. Nah begitu sudah masuk ke area drop-off penumpang di depan sebuah bangunan seperti pendopo, kendaraan dapat langsung diparkir di area parkir yang lumayan luas. Sementara itu, penumpangnya dapat langsung masuk ke bangunan pendopo tersebut untuk membeli karcis masuk. Selain karcis, pelancong juga harus membeli sejenis koin berbahan plastik yang akan dipergunakan untuk melakukan transaksi selama berada di dalam kawasan Pasar Apung Lembang itu. Ya di situ tidak bisa melakukan transaksi dengan uang tunai ataupun kartu kredit. Jadi yang dipakai ya koin itu. Koin-koin yang dipergunakan itu memiliki 4 nominal, yaitu Rp 5.000,–, Rp 10.000,–, Rp 50.000,–, dan Rp 100.000,–. Bentuk koinnya seperti apa, tuh fotonya aku pasang di atas  😛

Begitu selesai dengan urusan beli karcis dan juga koin, pelancong dapat memasuki kawasan taman rekreasi itu melalui pintu belakang pendopo itu. Dan begitu keluar dari pintu, pelancong akan disuguhi pemandangan sebuah kawasan taman yang cukup luas dan rapi dengan sebuah danau di tengah-tengahnya. Di sekeliling danau ada jalan yang cukup lebar sehingga pengunjung tidak perlu berdesakan menyusuri tepian danau dan menjelajah sudut-sudut kawasan tersebut. Beberapa bangunan kayu di sepanjang jalan itu dipergunakan sebagai kios cendera mata ataupun sebagai restoran dan kios penjual makanan kecil.

IMG_PAL03

Ada banyak aktifitas yang bisa dilakukan di sana. Buat para remaja misalnya, mereka bisa memberi makan angsa-angsa yang berada di sebuah kolam kecil tidak jauh dari pintu masuk. Atau bisa juga menjajal kemampuan mereka mengendarai ATV di sebuah trek yang tidak jauh dari kandang angsa-angsa itu. Sedangkan buat mereka yang masih kecil, aktifitas memberi makan dan berkejaran dengan kelinci-kelinci lucu di sebuah kandang terbuka juga pastilah menyenangkan. Atau kalau tidak mau berlarian, duduk tenang menggambar dan mewarnai di salah satu saung yang ada di situ tentu akan mengasyikan juga.

IMG_PAL07

Di sudut lain, terlihat sebidang sawah dengan padinya yang baru ditanam. Kawasan sawah ini ditandai dengan sebuah gapura dengan papan nama “Kampung Leuit”. Para pelancong yang berkunjung ke situ bisa mengamati atau malah ikut serta melakukan kegiatan di sawah tersebut. Dan buat yang ingin melakukan aktifitas di danau, mereka bisa menyewa sampan dan berdayung berkeliling danau ataupun melatih otot-otot kaki dengan menggenjot perahu berpedal. Eh tapi kalau mau berenang di danau gak bisa ya. Ada larangan untuk berenang di situ.

IMG_PAL09

Sekarang balik ke soal makanan. Di salah satu sudut danau, dibuat semacam dermaga beratap dengan bentuk huruf “U” yang dipergunakan sebagai food court. Hanya saja bedanya dengan food court yang di mall-mall, kalau di sini tempat berjualan dan menyiapkan hidangan bukanlah berupa konter, melainkan berupa perahu-perahu kecil yang tertambat di sepanjang tepi dermaga itu. Perahu-perahu itu di cat dan didandani cukup meriah sehingga menambah keunikannya. Harga makanannya sih ya relatiflah. Sewaktu aku kesana itu, per porsi dihargai antara Rp 10.000,– sampai Rp 25.000,–

Nah kalau sekali waktu berencana berkunjungke sana, aku sih menyarankan untuk jangan kesiangan saja kesananya. Bukan apa-apa sih, hanya saja semakin siang di sana pengunjungnya semakin penuh. Apalagi di akhir pekan dan hari-hari libur. Kalau sudha ramai begitu, tentu akan susah juga memperoleh kursi untuk duduk menikmati berbagai jenis makanan yang kita pesan di situ bukan  :mrgreen:

IMG_PAL05

Advertisements
Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 83 Comments

A waterfall caused by strong waves

Still in Pacitan area, East Java, Indonesia; I visited another beach. The road to reach the beach at that time was quite narrow and bad, but I saw that there was a major project in progress to make the road in a better condition so that travelers can reach the beach easily. Hope that the project has been finished as I wrote this post  🙂

IMG_KLB01

The beach’s name was Klayar Beach or Pantai Klayar in Bahasa Indonesia. It located about 40 kilometers to the west of Pacitan. It was in a village called Kalak. On the way to the beach, there was another tourist destination called Gua Gong or Gong Cave which I, unfortunately, could not visit at that time because it was too crowded with visitors. Next time, if I have another opportunity to visit Pacitan, I will come to the cave for sure, so that I can tell you about its beauty and uniqueness. This time, however, let’s talk about Klayar Beach  😎

The beach was facing to the south, to the Indian Ocean, which known to have big and strong waves. Seeing from a hill on the way to the beach, Klayar Beach looked like a cove bordered by cliffs on each side. At the west, the cliff was quite high and on top of it there was a small open hut in which travelers could spend their time enjoying the soft sea breeze caressed their body and took away the tiredness they got when climbed up the hill to reach the hut. It was great just to sit in there looking to the ocean with its waves that never ceased rushing to hit the rocks at the foot of the cliff.

On the other side, at the east, there was a narrower cliff stood guard of the beach. The rocks on the cliff and also below it were like the work of art. They looked like modern statues, but those ones were carved by nature. Some people said that at a glance, one of ‘the rock statue’ on top of the cliff looked like the sphinx.

IMG_KLB12

So . . . once reached the beach area, travelers could choose whether they wanted to climb to the top of the cliff and enjoyed the beautiful landscape from the open hut or just walking along the beach to the east to pay a visit to the sphinx-like rock. If they choose to walk to the east, they should be prepared that they have to cross a shallow estuary with its clear water running to the sea. It was only knee deep and about 2 to 3 meters wide with a quite strong current.

After passing the estuary, travelers could see a big rock on the beach which always hit by big waves, and every time a wave hit it, the water would leap over the edge of the rock and formed a small waterfall. The so called waterfall was not high, it was only about 2 meters high. At that time I saw many people tested their courage by sitting behind the rock, under the edge, so that if a big waves surged and a waterfall formed, the water would pour over them.

IMG_KLB07

Close to the big rock, there was an iron ladder that lead to a higher cliff on which the sphinx-like rock located. The ladder would close at high tide, like when I was there, because it was too dangerous to be there. The strong waves would surely smash everybody there to the rocks. In low tide, however, it quite safe and many people would climb the ladder to see another unique natural phenomena on top of the rock, behind the sphinx-like rock. It was a hole at the rock which would shoot out a stream of water and made a fountain every time waves hit the empty space below the rock. Local people called it the ocean flute, because not only emitting water, the hole also produce a unique sound.

IMG_KLB08

Well . . all in all, Klayar Beach was a beautiful beach worth to visit. For them who like to be in a quiet beach, they better do not visit Klayar in holiday times. The beach will surely be very crowded in those times.–

IMG_KLB09

Keterangan :

Masih di Pacitan nih ceritanya. Sebelum meninggalkan kota ini, aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke satu pantai lagi yang katanya cukup indah dan memiliki beberapa fenomena lama yang unik. Pantai yang aku maksud itu dikenal dengan nama Pantai Klayar.

IMG_KLB10

Pantai yang terletak di Desa Kalak, Kecamatan Donorojo, Pacitan Timur ini bisa dicapai dengan berkendara selama kurang lebih 1 sampai 1,5 jam dari kota Pacitan. Maklum saja, meskipun cuma berjarak 40 kilometer di barat Pacitan, setelah berbelok dari jalan utama yang mulus, jalan ke Pantai Klayar lumayan sempit dan jelek. Itu waktu aku ke sana lho ya. Mudah-mudahan sih sekarang sudah lebih lebar dan kondisinya juga lebih halus karena pas aku kesana itu memang sedang dilakukan proyek perbaikan jalan.

Sebetulnya di jalan yang menuju Pantai Klayar itu ada juga obyek wisata lain, yaitu Gua Gong. Cuma waktu itu aku sengaja tidak mampir karena terlihat kalau pengunjungnya membludak. Terus terang aku malas kalau harus berdesak-desakan kalau mengunjungi suatu tempat, khususnya tempat wisata  😦 . Mudah-mudahan lain waktu aku berkesempatan mampir di sana, supaya bisa juga membagikan keunikan dan keindahannya di sini. Ah tapi yuk balik lagi saja ke topik semula; kita ngomongin Pantai Klayar aja kali ini  😎

Pantai Klayar menghadap ke Samudra Indonesia yang terkenal dengan ombaknya yang cukup besar. Dilihat dari ketinggian, pantai ini tampak berupa sebuah teluk kecil yang dikelilingi bukit. Di sisi kanan dan kirinya berdiri kokoh bukit karang. Di atas bukit karang yang terletak di sisi barat, terdapat semacam pondokan terbuka yang bisa dipergunakan oleh para pelancong untuk duduk-duduk sambil memandang lautan lepas dengan ombaknya yang seolah tak pernah lelah berkejaran untuk akhirnya memecah di bebatuan karang di kaki bukit itu sehingga menghasilkan percikan air yang bertampiasan kemana-mana. Di atas bukit itu, angin juga bertiup semilir menyejukan sehingga rasa lelah akibat perjalanan mendaki bukit akan lenyap. Eh tapi jangan sampai ketiduran karena menikmati belaian angin semilir itu lho ya  😛

IMG_KLB11

Di sisi lain, yaitu di sebelah timur pantai, seonggok karang raksasa juga membentuk bukit yang tampaknya tidak setinggi bukit yang di sebelah barat itu. Meskipun demikian, karang-karang di sebelah timur ini bisa dibilang memiliki bentuk yang indah, yang merupakan hasil pahatan alam selama berbilang tahun.

Karena itulah, begitu mencapai pantai, pelancong dapat memilih untuk berjalan ke arah yang disukainya. Ke barat mendaki bukit dan menikmati bentang alam dan keindahan pantai dari ketinggian; atau ke timur menyusur pantai yang berpasir lembut untuk menuju karang-karang indah yang merupakan karya seni yang dihasilkan oleh alam itu.

IMG_KLB18

Jika pilihannya adalah menyusur pantai ke arah timur, pelancong akan menemukan sebuah muara sungai yang harus diseberangi guna mencapai lokasi karang-karang yang artisitik itu. Jangan khawatir, meskipun arusnya lumayan deras, muara sungai ini masih bisa diseberangi dengan berjalan kaki koq. Dalamnya hanya selutut orang dewasa dengan lebar kira-kira 2 sampai 3 meter. Air di muara itu cukup jernih sehingga dasarnya tampak jelas.

Nah setelah menyeberangi muara sungai itu, pelancong akan tiba di sebuah gugusan karang di tepi pantai yang bentuknya mirip Tanah Lot mini. Di situ terdapat fenomena alam yang unik, yaitu terciptanya sebuah air terjun tiap kali gelombang yang cukup besar menghantam karang tersebut. Meskipun terjunan airnya tidak tinggi, tetapi dorongan ombak yang cukup kuat menyebabkan air yang tertumpah dari bibir karang itu lumayan deras juga. Beberapa orang aku lihat menjajal keberanian mereka di sana waktu itu. Mereka duduk di balik tebing, sehingga ketika ombak besar menerpa, tubuh mereka akan tersiram terjunan air dari atasnya sehingga basah kuyup. Kelihatannya seru juga  😀

IMG_KLB16

Tidak jauh dari air terjun mini itu, aku melihat sebuah tangga besi permanen yang terpasang di dinding karang, yang memungkinkan pelancong untuk memanjat ke atas karang tersebut. Di atas karang itu, dari jauh tampak sebuah batu pahatan alam yang menyerupai sphinx yang ada di Mesir sana. Sayangnya tangga itu hanya dapat dipergunakan jika air laut sedang surut. Pada saat air pasang seperti ketika aku kesana, sangat berbahaya untuk menaiki tangga itu. Di dekat tangga itupun sudah sangat berbahaya karena kemungkinan dihempas ombak sangat besar.

Di atas karang itu, tidak jauh dari batuan yang menyerupai sphinx itu, terdapat sebuah lubang yang sewaktu-waktu akan menyemburkan air disertai bunyi yang unik kala ombak menerpa batuan di bawahnya. Karena itulah penduduk setempat menyebutnya sebagai Seruling Samudra. Sayangnya aku belum cukup beruntung untuk melihatnya dengan mata kepala sendiri  😦

IMG_KLB20

Meskipun demikian, aku cukup puas juga bisa berkunjung ke Pantai Klayar ini. Panoramanya yang indah tidaklah membosankan untuk dinikmati. pasti akan lebih puas menikmatinya kalau pantai dalam keadaan sepi, seperti keadaan pantai pada saat bukan hari libur.–

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 77 Comments

Dark shrouds over a lonely beach

On a very early morning, I intentionally went to a beach around 15 kilometers to the east of a small city called Pacitan; in hoping that when I came to the beach, the clouds would have already vanished and I would get a nice sunrise on the beach. As I came to the beach, however, the dark shrouds still hanging over the beach as you can see in the pictures below.

IMG_SOG12

Nobody been seen on the beach except for four teenagers with cameras waiting in despair for the sunrise as I did. At that time, the wind blew quite strong which made the rolling waves struck wildly against the rocks in a corner of the beach, made water splashes flung high.

IMG_SOG01

After waiting for more than one hour, the sun started to peek from behind the clouds, but unfortunately it was quite late. The sun had already too high. Well . . . perhaps luck will be with me at any other time in the future when I am visiting the beach again, so I will get a nice sunrise in there.

IMG_SOG06

Anyway, I took the pictures at a beach called Soge. It located in Sidomulyo Village, Pacitan Regency, in East Java. It was very easy to reach the beach, because the beach was by the South Java Main Road. The sight of the beach area was quite pretty if you see it from the road.

As for the beach itself, it was quite deserted when I was visited the area, perhaps I was too early to meet other other people at that time  😛 . The beach has a long sandy area with rocks and low cliff on one side that located just below the road. There were simple hut and stalls on the beach, which I believe would be a place to sell simple snacks and drinks. When visiting Soge Beach, beware of the waves, because it was quite big with a very strong current, too. So, it will be better not to swim in the area, except you are a very good swimmer.–

IMG_SOG07IMG_SOG08IMG_SOG09

Keterangan :

Ketika aku berkunjung ke Pacitan, di suatu subuh yang berawan aku dengan sengaja pergi untuk mencari matahari terbit di sebuah pantai yang berjarak kurang lebih 15 kilometer di sebelah timur kota Pacitan. Memang kelihatannya sebuah perjalanan yang sia-sia, tetapi dengan memperhitungkan jarak dan juga waktu, aku masih punya harapan bahwa ketika aku sampai di pantai yang aku tuju, awan mendung yang menggelayut di langit sudah memudar, atau mungkin juga awan yang bergulung itu akan sejenak tersibak menampakkan moment terbitnya metahari. Bagaimanapun, pemandangan pastilah akan lebih indah jika saat terbitnya matahari, langit tidaklah polos berwarna biru, melainkan dihiasi juga dengan gumpalan awan di sana-sini.

IMG_SOG16

Sayangnya harapan tinggalah harapan. Sesampainya aku di pantai, ternyata sebaran awan mendung masih cukup merata memayungi pantai, bahkan sampai di atas perairan di lepas pantai. Pantainya sendiri juga cukup sepi. Selain dua pasang muda-mudi yang juga menenteng kamera yang tampaknya juga memiliki harapan yang sama seperti aku, aku tidak menemukan adanya pengunjung lain. Sambil mencoba untuk tetap berharap, baik aku maupun keempat remaja itu menjelajahi pantai menembus angin yang cukup kencang, yang menyebabkan ombakpun semakin besar dan seolah murka karena dengan garangnya menghantam karang yang berdiri kokoh di salah satu sudut pantai. Hantaman ombak itu menyebabkan buih dan percikan air melambung cukup tinggi.

IMG_SOG10IMG_SOG11

Setelah cukup lama menunggu dan hari beranjak siang, dimana baik keempat remaja itu dan juga aku sendiri merasa sudah cukup menjelajah kawasan pantai untuk mencari obyek yang menarik menurut kacamata masing-masing, saat itulah sang mentari baru mulai mengintip malu-malu dari balik awan, seolah malu karena bangun kesiangan. Ah tapi rasanya sudah terlalu siang juga untuk berburu matahari terbit, karena matahari sudah cukup tinggi dan sinarnya juga sudah cukup menyilaukan meskipun masih terhalang awan tipis. Cacing-cacing di perut yang sudah mulai menyuarakan protes mendorong aku untuk segera menuju kendaraan yang akan membawa aku kembali ke Pacitan. Mungkin lain kali kalau ke Pacitan lagi aku lebih beruntung dengan cuaca yang lebih bersahabat.

IMG_SOG17

Eh iya, dari tadi rupanya aku belum menyebutklan nama pantainya ya? Sorry . . . he he he aku sampai kelupaan nih  😳 .  Nama pantai itu adalah Pantai Soge. Letaknya di Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan. Posisi pantainya persis di tepi Jalan Lintas Selatan Jawa yang belum lama ini diresmikan pengunaannya. Karena posisinya itu, siapapun yang melintas di jalan ini akan bisa menikmati keindahan Pantai Soge.

Pantai Soge merupakan pantai berpasir yang lumayan panjang. Pasirnya cukup lembut di kaki, sayangnya di beberapa bagian terdapat sampah yang mengganggu pemandangan. Di sudut pantai yang terletak di bawah jalan raya, merupakan gugusan karang. Hati-hati kalau berjalan di daerah sini karena karangnya cukup tajam. Untuk bermain air di pantaipun harus berhati-hati karena ombak di Pantai Soge ini cukup besar dengan arus yang kuat juga.

Di pantai terdapat beberapa gubuk sederhana yang bisa dipakai untuk duduk-duduk sambil memandang laut, sedangkan lebih jauh ke arah daratan ada beberapa gubuk lagi yang difungsikan sebagai warung sederhana yang menjual aneka jajanan dan minuman ringan.

Ngomong-ngomong, perjalanan dari kota Pacitan ke Pantai Soge juga cukup menyenangkan. Pemandangan indah di kiri kanan jalan akan tersaji sepanjang perjalanan, dan di beberapa bagian pelancong akan melewati bagian jalan yang membelah bukit batu. Di bagian itu, bukit batu yang seolah terpotong dengan pisau akan mengapit jalanan. Cuma saja perlu diperhatikan bagi yang mau kesana, seingatku pada saat aku kesana itu aku tidak melihat adanya kendaraan umum lho ya. Jadi ya mau tidak mau harus pakai kendaraan sendiri atau sewa tuh.–

IMG_SOG19

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 62 Comments

Blog at WordPress.com.