Monthly Archives: May 2015

Old buildings inside the fortress

Continuing my last post about the Fortress of The Buton Palace, in this post I would bring you to explore more in the fortress perimeter since there were many historical structures and artifacts in there, besides there were also villages inhabited by the descendants of noble families in the past.

The first building which I visited was an old mosque which was built in the reign of Sultan Murhum Qaimuddin Khalifatul Khamis in 1542. It was just a simple building back then since it was only made of wood. In the reign of Sultan Saqiuddin Darul Alam in 1712, however, the mosque was renovated. The wall had been replaced into stone wall. Nowadays, the old mosque was still in a good condition and still became the place of worship for the Moslem lived there. It became the Grand Mosque of Wolio and named Masjid Al Muqarrabin Syafyi Shaful Mu’min. It was a two storey building with two canons laid side by side the main entrance. Unfortunately, when I was there, I met no one so I could not tell you how the interior looked like 😦

IMG_BTN01

In front of the mosque, there was also a 21 meters-high old flag pole made of wood. The locals called it Kasulana Tombi. It was made at the same time as the Grand Mosque. It was said that in the year 1870 the flag pole was struck by lightning, but then it was been repaired not long afterward and still exist until now.

IMG_BTN02Other interesting thing was an inscription where travelers could see all the rulers of Buton, from the first ruler known as Wa Kaa Kaa that was believed as a princess came from China until the last sultan of Buton who was reign in 1938 – 1960. Close to the inscription, there was a typical Buton house made of wood. It was said that there were no metal nail used in there. All nails used were made also of wood. It was a four storeys building. And again, I came at the wrong time so I could not gain access to the inside of the building 😦

Up on a narrow hill not far from the mosque, there was an old tomb. It was the tomb of Sultan Murhum, the first Sultan of the Buton Sultanate who was reign in 1530 – 1584. The Sultan’s name has been used as the main port in the largest city on the island up till now.

IMG_BTN04

At the foot of the hill, there was a big stone as big as a calf, and the locals called it Batu Wolio or Batu Yigandangi (Wolio Stone or Yigandangi Stone). It was believed that the first ruler of Buton, who was known as Wa Kaa Kaa, was found by the four founding fathers of Buton Kingdom known as the Mia Patamiana in the location where the stone was.

IMG_BTN09

There was sayings that somebody could not been said to be in Buton if he or she did not touch the stone. So . . . that was what I did, touched the stone so officially I was in Buton :).—

Keterangan :

Melanjutkan postinganku sebelumnya mengenai Benteng Keraton Buton, dalam postingan kali ini aku ingin mengajak Sahabat semua untuk melihat apa saja yang ada di dalam tembok benteng itu. Banyak hal menarik sebetulnya yang bisa ditemukan di dalam lingkup banteng keraton itu, apalagi di dalam benteng juga banyak penduduk yang masih merupakan keturunan dari raja ataupun bangsawan penguasa Buton di masa lampau. Banyak juga bangunan maupun tempat-tempat bersejarah yang bisa dikunjungi. Hanya saja mungkin waktu kunjunganku ke sana kurang tepat sehingga aku tidak bisa leluasa mengeksplor wilayah di dalam benteng itu.

Bangunan pertama yang aku kunjungi adalah Masigi Ogena atau Masjid Agung Wolio. Masjid yang masih terlihat kokoh ini dibangun pertama kali oleh Sultan Murhum Qaimuddin Khalifatul Khamis pada tahun 1542. Ketika itu bangunan masjid masih merupakan bangunan yang sangat sederhana dengan dinding dan tiang dari kayu sementara atapnya dari alang-alang. Pada tahun 1712, Sultan Saqiuddin Darul Alam merenovasi masjid tersebut dengan mengubah dindingnya menjadi dinding batu yang dilekatkan dengan pasir dan kapur serta atapnya diganti dengan atap dari daun nipah. Renovasi terakhir dilakukan oleh Sultan Buton ke 37 yaitu La Ode Muhamad Hamidi Qaimuddin pada tahun 1929, dimana atap masjid diganti dengan seng dan tangga serta beberapa bagian di dalam masjid diperkuat dengan semen seperti yang terlihat sekarang. Sampai saat ini, masjid ini masih terlihat dalam kondisi yang cukup terawat selain juga masih dipergunakan untuk beribadat bagi umat Islam yang tinggal di sana. Sayangnya ketika itu aku tidak berkesempatan melihat bagian dalam masjid karena tidak ada seorangpun di sana 😦

IMG_BTN05

Di bagian depan sebelah kiri masjid tersebut, terdapat sebuah tiang bendera dari kayu yang kelihatan sangat tua, bahkan di beberapa bagiannya sampai ditumbuhi tanaman pakis. Konon tinggi tiang IMG_BTN06bendera itu 21 meter. Pembuatan tiang bendera itu dilakukan bersamaan dengan saat dibangunnya Masjid Agung Wolio. Pada tahun 1870, tiang bendera itu sempat disambar peitr sehingga rusak parah, tetapi kemudian diperbaiki dan masih bertahan hingga sekarang. Di tiang bendera itulah dikibarkan panji-panji kebesaran Kesultanan Buton yang disebut Tombi Longa-Longa.

Tidak jauh dari tiang bendera itu, terdapat sebuah papan yang memuat nama-nama semua penguasa Buton beserta dengan kapan mereka memerintah, dimulai dari penguasa pertama yaitu Ratu Wa Kaa Kaa sampai Sultan Buton terakhir yang berkuasa dari tahun 1938 sampai dengan tahun 1960. Didekat papan tersebut, terdapat sebuah bangunan empat lantai yang merupakan rumah adat Buton. Konon dalam pembangunannya, tidak dipergunakan satupun paku dari bahan logam di rumah itu, Semua paku dan pasak yang dipergunakan terbuat dari kayu seperti juga sebagian besar bahan pembuat rumah tersebut.

Sedikit lebih jauh, terdapat sebuah bukit kecil yang di atasnya tampak sebuah makam. Ketika aku mendatanginya, tampaklah bahwa itu adalah makam dari Sultan Buton yang pertama yaitu Sultan Murhum.

IMG_BTN08

Di bawah bukit itu, terdapat sebuah batu sebesar anak kerbau yang sedang berbaring. Batu yang disebut sebagai Batu Wolio atau Batu Yigandangi ini memainkan peranan yang penting dalam kehidupan masyarakat Buton. Bahkan seseorang belum bisa dikatakan pernah menginjakan kaki di bumi Buton kalau belum menyentuh Batu Yigandangi itu. Di dekat batu itulah konon Mia Patamiana menemukan Wa Kaa Kaa yang kemudian dilantik menjadi pemimpin pertama Kerajaan Buton.

Di bagian lain dari benteng itu, juga terdapat sekelompok makam yang kalau dari keterangan yang terpampang disebutkan sebagai makam Sultan Alimuddin yang bergelar Oputa Mosambuna Yi Wandayilolo dan kerabatnya. Sultan Alimudin memerintah Kesultanan Buton dari tahun 1788 sampai dengan tahun 1791.

IMG_BTN10

Sebetulnya masih banyak sih tempat-tempat menarik yang bisa dijelajahi di dalam Benteng Keraton Buton yang luas itu. Tapi nantilah kalau aku berkesempatan berkunjung ke sana lagi, aku akan jelajahi sampai pelosok-pelosoknya kemudian akan aku ceritakan lewat psotingan di sini. Kali ini, karena merupakan kunjungan pertama, cukuplah segini dulu ya :cool:.–

Advertisements
Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 15 Comments

The land of a thousand fortresses

There were some places in Indonesia which known to have many specific buildings hence it called to have thousands of that specific buildings; for example Bali which called the island of a thousand Hindhu Temples; and other example was a small town called Singkawang in West Kalimantan which called a town with a thousand Chinese Temples.

Now, I’d like to introduce you to a place which known as a land of a thousand fortresses. The place was an island located at the south eastern of Sulawesi peninsula. The island was known as Buton Island. And although it was just a relatively small island, Buton had so many fortresses which originally were built during the sultanate era in the Middle Ages. Some of them were already ruined, while others were well maintained and became one of the island’s points of interests.

IMG_BKW14

One of the biggest fortresses in Buton was known as the Buton Palace Fortress or some people also called the Wolio Palace Fortress. The fortress was so big, as it covered an area of more than 57,700 acres and made the fortress been recorded as the most enormous fortress in the world by the 2006 Guinness Book of World Records.

The 2 meters thick and 4 meters high fortress was made of corrals and limestone. At first, it was built only as a border between the palace’s areas with the common people residences, hence it only in the form of corrals and limestone piles which was built surrounding the palace’s compound. Later on, in the reign of Sultan Dayanu Ikhsanuddin (1597-1631), the fourth Buton Sultan, the piles of rocks was being reconstructed and strengthened to become the real fortress.

IMG_BKW04

The Buton Palace Fortress had 12 gates along it and each gate had its own design and structure. The one I visited had a gazebo-like structure on top of the gate which functioned as an observation deck. The locals called the gate “lawa” and they believed that the 12 gates represented the 12 holes in a human body.

IMG_BKW01

Aside of the 12 gates, the fortress also had 16 “baluara” or bastions. On two of those bastions, there were armories to keep all the munitions. Travelers could also still see old canons that placed on top of the fortress every several meters, as if they were still ready to fire in defending the land against enemies’ attacks.

IMG_BKW12

Perhaps some of you would ask, what were there inside the fortress?
Well, inside the fortress, there were some old buildings and other things that were actually relics of the Buton Sultanate era in the past. For all those relics, however, I intended to bring to you in the next post along with a brief description about them. Ok? 😎 .—

Keterangan :

Kita tahu ada beberapa tempat di negeri kita ini yang menyandang sebutan “seribu . . . “ karena di tempat itu banyak terdapat bangunan tertentu; misal saja Bali yang dikenal dengan sebutan Pulau Seribu Pura, atau Singkawang di Kalimantan Barat yang dikenal juga dengan sebutan Kota Seribu Kelenteng, selain itu ada juga Manggar di Belitung Timur yang juga dikenal sebagai Kota Seribu Warung Kopi. Nah . . dalam postingan kali ini, ceritanya aku sampai di Pulau Seribu Benteng nih. Mungkin sudah bisa menduga kan aku mau ngomongin pulau apa, khususnya buat mereka yang sudah sempat baca postinganku sebelum ini . . . yup, aku masih ngomong soal Pulau Buton.

Ya . . di pulau yang tidak terlalu luas ini memang terdapat banyak sekali benteng yang merupakan peninggalan berbagai kerajaan yang pernah berdiri di Pulau Buton pada abad-abad lalu. Beberapa benteng itu sudah berbentuk reruntuhan saja, tetapi ada juga yang masih utuh, bahkan kawasan sekitarnya sengaja ditata dan dilengkapi dengan taman sehinga kelihatan menarik. Salah satu dari yang masih utuh ini adalah benteng yang dikenal sebagai Benteng Keraton Buton atau ada juga yang menyebutnya sebagai Benteng Keraton Wolio. Dan tahu nggak sih kalau ternyata Benteng Keraton Buton ini pernah masuk di Guiness Book of World Records tahun 2006 sebagai benteng terluas di dunia? Hebat kan? Benteng yang meliputi wilayah seluas 23.375 hektar ini bahkan lebih luas dari benteng di Denmark yang sebelumnya dikatakan sebagai yang terluas di dunia 😀

IMG_BKW06

Selain terluas, Benteng Keraton Buton juga disebut yang terunik, bagaimana tidak kalau bebatuan yang dipergunakan untuk membuat benteng ini tidak direkatkan dengan semen melainkan dengan campuran rumput laut, pasir dan putih telur. Dan hebatnya benteng ini masih bertahan setelah melalui rentang waktu terbilang abad. Benteng yang bertinggi rata-rata 4 meter dan panjangnya hampir 3 kilometer ini mengelilingi sebuah bukit sehingga betul-betul menjadi titik pertahanan yang susah ditembus.

IMG_BKW08

Cikal bakal benteng ini semula hanyalah tumpukan batu yang dimaksudkan sebagai pembatas wilayah istana dengan perkampungan penduduk. Pada masa pemerintahan Sultan Dayanu Ikhsanuddin (1597-1631), di beberapa tempat tumpukan batu itu diperkuat menjadi benteng pertahanan yang mereka sebut ‘baluara’. Tepatnya ada 16 baluara yang dibangun saat itu dengan dua diantaranya dibangunkan juga semacam gudang amunisi di atasnya. Gudang amunisi ini disebut ‘godo’ yang berarti ruang penyimpanan dalam bahasa setempat.

IMG_BKW05

Baru pada masa pemerintahan Sultan Buton yang kelima, yaitu Sultan Gafarul Wadudu (1632-1645), baluara-baluara itu mulai dihubungkan satu sama lain sehingga membentuk benteng yang kuat. Sang Sultan juga memerintahkan dibuatnya 12 gerbang yang menghubungkan wilayah di dalam benteng dengan wilayah di luar benteng. Dibuatnya 12 gerbang, atau ‘lawa’ dalam bahasa setempat, melambangkan adanya 12 lubang yang ada pada tubuh manusia. Masing-masing lawa tersebut memiliki bentuk dan bahan yang berbeda-beda. Salah satu lawa yang aku kunjungi memiliki semacam anjungan dari kayu di atasnya yang dahulu juga berfungsi sebagai pos pengamatan.

IMG_BKW07

Di atas benteng itu, sampai sekarang pelancong masih tetap bisa menyaksikan banyaknya meriam besi peninggalan Portugis maupun Belanda yang moncongnya mengarah keluar benteng, seolah-olah masih saja bersiaga untuk menangkis serangan musuh yang sewaktu-waktu akan menyerang.

IMG_BKW02

Nah . . kalau ada kesempatan ke Buton, nggak ada salahnya kalau sekalian berkunjung ke Benteng Keraton Buton ini. Dengan berdiri di atas benteng, selain kita bisa merasakan sensasi seolah sedang mengintai musuh yang siap menyerang, kita juga bisa menikmati pemandangan indah perairan Buton sementara di bagian lain kita bisa juga melihat kota Baubau dari ketinggian lho . . .

IMG_BKW03

Dari tadi kan ngomongin bentengnya melulu nih, trus di dalam bentengnya ada apa? Masa cuma tanah lapang luas?

Iya . . di dalam benteng ada banyak bangunan juga sih, selain perkampungan masyarakat adat juga banyak bangunan lain yang merupakan peninggalan Kesultanan Buton di abad yang silam. Tapi . . . nanti aku ceritakannya di postingan berikut aja ya. Kalau di sini kuatir kepanjangan juga nih 😛 .–

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 16 Comments

Corners of Baubau – the city landmarks

It was my first visit to Buton, an island located off the southeast peninsula of Sulawesi, Indonesia. After a long flight from Jakarta via Makassar, I landed on Betoambari Airport. The airport was small and also the only airport on the island.

By flew in to Buton, actually I missed one of a city landmark which could be seen clearly from afar. The landmark was similar to the Hollywood landmark as it depicted a big set of letters which notify everyone about the name of a location. The thing that made the one in Buton was not the same with the one in Hollywood, that the one in Buton could only be seen clearly when travelers came to Buton by sea. And similar to that in Hollywood, the set of letters in Buton was also located in a hill; in Buton, it called Kolema Hill. The landmark was known as “Baubau Letter” as it showed the name of the largest city on the island, Baubau.

IMG_BAU01

To satisfy my curiosity to the landmark, I went to Kolema Hill by car in the next day. It was a nice place although looked quite deserted. From a small platform at the base of the landmark, travelers could see the blue sea spanned to the horizon. And to make it more perfect to everybody who want to enjoy the atmosphere there, some street vendors offered local snacks and drinks. Yes . . . Baubau Letter has become one of local’s tourist destinations, especially for the teenagers.

IMG_BAU08

Perhaps some of you would ask why was Baubau’s name which was put as a landmark on Kolema Hill? Well . . . actually it was quite natural, aside that Baubau was the largest city on the island; Baubau was once the center of the ancient Buton Kingdom, too. Baubau was also the center of local government. The office of the Mayor of Baubau was located up another hill called Palagimata, and facing the city below. That was why that the plaza in front of the Mayor Office also became an interesting destination for them who wanted to see Baubau from above.

IMG_BAU12

There were two such monuments in front of the Mayor Office. One on the left was in a form of four stone pillars standing on circular platform symbolizing the Mia Patamiana or the four founding fathers of Buton Kingdom. According to an old manuscript written in the 13th century, there were four brave men from Malay Peninsula named Sipangjonga, Simalui, Sitamanajo and Sijawangkati came to Buton and found a settlement which later became a village called Wolio. The Mia Patamiana then appointed a leader for the village who they called Limbo. As Wolio became larger and stronger, it then turned into a kingdom, and the person who was appointed as a leader, actually a woman called Wa Kaa Kaa. People believed that Wa Kaa Kaa was one of the Khan of China’s daughters. It explained why there were similarities in some of Buton’s traditional attires to China’s traditional dresses.

Beside the apparels, the kingdom also adopted the mythical dragon similar to Chinese dragons as their mascot. According to them, dragon was perfectly depicted the Buton people’s character as they were strong, persistent and triumphant as a dragon. And as a reminder of their characteristics, the other monument in front of the Mayor’s Office was in a form of a dragon tail.

What? A dragon tail? Why was it only the tail? 😯 And where was the head and the dragon’s upper body?

According to the locals, the dragon tail symbolizing that every power some day some how should end, no matter how big the power was. That was why the monument was built in front of the center of the power on the island. The head, however, was built in Kamali Beach, a beach located at the southern part of the island’s port. The head and the upper body looked like just emerged from a big hole, while 5 kilometres away, up the Palagimata Hill, the tail seemed jutted out from a hole. So . . . as a whole, it seemed that the dragon was entering a hole in front of the Mayor’s Office and emerged at Kamali Beach. Wow . . . it really was a very long dragon 🙂

IMG_BAU18

Anyway, those city landmarks were only some of many other interesting places in Buton. There were many more that worth to visit, as there were hills, waterfalls, beaches, caves and many other places and interesting things on the island of Buton 😉

Keterangan :

Saat itu adalah kali pertama aku berkunjung ke Buton, sebuah pulau yang cukup terkenal sebagai salah satu penghasil aspal dengan kualitas terbaik di dunia. Pulau yang terletak di ujung tenggara Pulau Sulawesi ini, bisa dicapai baik melalui jalur laut maupun melalui udara. Ketika itu aku memilih melalui jalur udara dengan pertimbangan waktu. Maklum saja jatah cutiku tidak mengijinkan aku untuk meninggalkan kantor berlama-lama. Nah . . . akhirnya setelah melalui penerbangan panjang dari Jakarta dan transit di Makassar, siang menjelang sore itu aku mendarat di Airport Betoambari, yang hanya merupakan sebuah airport kecil dan juga satu-satunya di Pulau Buton.

Sebetulnya dengan melalui jalur udara, aku melewatkan sebuah pemandangan tidak biasa yang mengingatkan kita pada Hollywood di Amerika sana. Bukan karena film-nya, tapi justru karena landmark yang dimiliki Buton dan bisa kelihatan dari kejauhan. Ya . . . kalau kita menggunakan transportasi laut, sebelum kita masuk ke dermaga Murhum di kota Baubau, dari kejauhan, nun di atas bukit, akan kelihatan tulisan “Baubau”. Memang tulisan yang dibuat di atas Bukit Kolema itu seolah mengucapkan selamat datang di Pulau Buton kepada semua orang yang masuk Buton melalui jalur laut.

IMG_BAU02

Untuk memuaskan rasa penasaran karena tidak bisa melihat tulisan itu dari tengah laut, hari berikut aku di di Pulau Buton, aku memerlukan untuk mendatangi Bukit Kolema dan melihat tulisan Baubau itu dari dekat. Memang lokasi tulisan itu yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan nama Baubau Letter, sekarang sudah menjadi salah satu tujuan wisata warga setempat. Bagaimana tidak, karena selain bisa menikmati udara sejuk, dari pelataran tulisan itu, pelancong bisa menikmati bentang laut yang membiru dengan Pulau Makassar yang ada di lepas pantainya. Dan yang menambah keasyikan, di Bukit Kolema, di sekitar Baubau Letter itu, beberapa pedagang tampak menjual penganan dan minuman khas Buton. Jadi, tidak hanya mata saja yang dipuaskan dengan indahnya pemandangan, tetapi perutpun bisa kenyang :D.

IMG_BAU04

Sstt . . tahu nggak kalau menurut kepercayaan setempat, Bukti Kolema juga merupakan bukit jodoh? Konon kalau ada jomblo yang datang ke bukti itu seorang diri, bisa dipastikan pulangnya dia sudah memiliki pasangan 😛

Nah . . kemudian mengapa nama Baubau yang dipilih untuk ditulis di atas Bukit Kolema? Sebetulnya wajar saja sih mengingat Baubau memang kota terbesar yang ada di Pulau Buton. Bahkan berabad yang lalu, Baubau merupakan pusat Kerajaan Buton. Baubau juga merupakan pusat pemerintahan di Pulau Buton. Apalagi sejak tahun 2001 yang lalu Baubau telah memperoleh status sebagai Kota. Karena itulah, tidak mengherankan kalau di Baubau ini terdapat Kantor Walikota. Dan tahu nggak? Kantor Walikota Baubau termasuk megah lho. Lokasinya berada di atas Bukit Palagimata dengan pemandangan Kota Baubau terbentang di bawahnya. Karena itu, tidaklah mengherankan kalau di depan Kantor Walikota itu juga menjadi tempat pesiar bagi warga lokal maupun para pelancong yang ingin menikmati pemandangan Kota Baubau dari ketinggian.

IMG_BAU11

Di depan Kantor Walikota terdapat pelataran yang luas dan bersih yang menurut perkiraanku merupakan tempat diselenggarakannya upacara-upacara resmi mengingat di situ juga terdapat tiang bendera yang cukup tinggi. Di seberang jalan raya yang terbentang di depan pelataran luas itu, di tepi tebing, terdapat lagi pelataran yang tidak terlalu luas. Di ujung kiri dan kanan pelataran itu terdapat dua bangunan serupa tugu, yang satu berupa empat pilar batu di atas sebuah pelataran bundar sementara yang lain berupa ekor naga.

Lho koq cuma ekor? Kepalanya kemana? 😯

Mau tahu . . . ? Ok aku kasih tahu deh dimana kepala naganya berada. Jangan kaget kalau aku katakan bahwa kepala naga itu terletak di Pantai Kamali yang berada di sebelah selatan Pelabuhan Murhum. Memang kalau di lihat, ekor naga itu mencuat dari pelataran berbentuk lingkaran yang kalau diperhatikan baik-baik mengesankan kalau sang naga masuk ke lubang menembus bukit sampai ke Pantai Kamali yang berjarak kurang lebih 5 kilometer dari situ dan muncul di sana karena kepala naga itu juga berdiri di atas pelataran bundar juga. Kebayang kan betapa panjangnya naga itu kalau memang badannya betul-betul dibikin juga?

IMG_BAU17

Kenapa naga? Begini . . . , jadi menurut penuturan warga setempat, naga atau Lawero menurut bahasa setempat, adalah binatang yang mengingatkan orang Buton akan asal-usulnya. Menurut cerita turun temurun, dipercaya bahwa leluhur orang Buton berasal dari Negeri China, bahkan raja pertama Kerajaan Buton adalah seorang putri yang berasal dari Negeri Tirai Bambu bernama Wa Kaa Kaa. Karena itulah Kerajaan Buton juga mempergunakan naga sebagai lambang resmi kerajaan. Bagi mereka, naga merupakan lambang kekuatan, kegigihan dan kejayaan. Meskipun demikian, menurut mereka, sekuat apapun kekuasaan, pada suatu ketika pasti akan berakhir, itulah sebabnya patung ekor naga di bangun di depan Kantor Walikota dan dimaksudkan sebagai pengingat bahwa kekuasaan diberikan oleh rakyat dan tidak bersifat abadi.

Sementara itu, bangunan tugu lainnya yang berupa empat buah pilar melambangkan Mia Patamiana, yaitu empat tokoh pendiri kerayaan Buton. Mereka adalah Sipangjonga, Simalui, Sitamanajo dan Sijawangkati. Asal usul keempat orang tersebut adalah dari Tanah Melayu; dan hal ini tercatat dalam Sejarah Semenanjung Tanah Melayu yang ditulis pada abad ke tiga belas. Konon Mia Patamiana ketika tiba di Pulau Buton, membuka lahan dan membentuk sebuah pemukiman yang kemudian dikenal dengan nama Wolio. Mia Patamiana kemudian juga menunjuk seseorang untuk memimpin pemukiman itu dengan sebutan Limbo. Nah . . Desa Wolio inilah yang menjadi cikal bakal Kerajaan Buton nantinya.

Itulah sepintas mengenai beberapa landmark yang ada di sekitar kota Baubau. Dan bagi para pelancong yang datang ke Buton, jangan kuatir kehabisan obyek yang dikunjungi, karena beberapa landmark yang aku sebutkan dalam postingan ini hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak tempat menarik yang layak dikunjungi kala kita menjejakkan kaki di Buton.–

IMG_BAU13 IMG_BAU03

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 27 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.