Monthly Archives: October 2013

Perjalanan yang tak tuntas

Hari Sabtu dua minggu yang lalu, kebetulan aku dan keluargaku berkesempatan untuk berkunjung ke Belinyu, sebuah kota kecil yang terletak di bagian utara Pulau Bangka. Sebetulnya tidak ada keperluan khusus sih, perjalanan ke sana cuma didasari rasa penasaran kenapa Belinyu dikenal sebagai Kota Tua, sementara banyak juga yang menyebutnya sebagai Kota Kemplang. Nah karena tidak ada tujuan khusus inilah maka perjalanan ke Belinyu ini juga dijalani dengan santai, bahkan aku dan keluarga sempat berhenti di beberapa pantai yang ada di sepanjang perjalanan dari Pangkal Pinang ke Belinyu itu. Wah koq Pangkal Pinang? Iya, selama di Pulau Bangka aku dan keluarga memang memilih menginap di Pangkal Pinang, kota terbesar di Pulau Bangka.

Pagi itu perjalanan aku mulai setelah selesai sarapan. Cuaca cukup cerah, secerah wajah Pak Mul yang penuh senyum pagi itu. Pak Mul ini yang mengantar aku dan keluarga jalan-jalan selama di Bangka dengan mobilnya. Cuaca cerah pagi itu aku harapkan bisa berlangsung terus sampai sore bahkan malam harinya, meskipun sebetulnya aku agak was-was juga karena dari prakiraan cuaca yang aku lihat, diprakirakan kalau Sabtu itu Bangka akan mengalami hujan deras. Tapi karena pagi itu tidak ada tanda-tanda mendung sedikitpun, aku agak tenang. Langit betul-betul biru cerah dengan hiasan awan putih tipis di sana-sini.

Begitu sudah di dalam mobil, aku sampaikan kepada Pak Mul, beberapa tempat yang ingin aku singgahi hari itu, baik yang ada sepanjang perjalanan dari Pangkal Pinang, maupun yang berada di kota Belinyu atau sekitarnya, dengan pesan khusus bahwa aku sekeluarga ingin menikmati sunset di Pantai Remodong, sebelum kembali lagi ke Pangkal Pinang. Pak Mul mengiyakan rencanaku itu, bahkan sempat juga mengingatkan untuk mencari lotion atau tissue anti nyamuk, karena di Pantai Remodong banyak sekali agas, binatang seperti nyamuk dengan ukuran yang lebih kecil, yang meskipun tidak menghisap darah, tetapi gigitannya bisa membuat kulit kita bentol-bentol disertai rasa gatal yang sangat.

Pantai Air Anyir (Air Anyir Beach)

Pantai Air Anyir (Air Anyir Beach)

Perhentian pertama pagi itu adalah Pantai Air Anyir, yang bisa dicapai setelah berkendara kurang lebih setengah jam dari Pangkal Pinang ke arah utara. Saat aku dan keluarga sampai di sana, pantai terlihat sepi, malah bisa dibilang pengunjungnya ya cuma aku dan keluarga. Memang sih di salah satu ujung pantai ada serombongan nelayan yang lagi benerin perahu, tapi mereka kan kerja di situ bukan jalan-jalan. Pantainya sendiri cukup landai berpasir putih, sayangnya di sana-sini banyak sampah :(. Di tepi pantai juga banyak terdapat saung dari bambu. Lumayan bisa buat tempat berteduh, bahkan mungkin kalau malam bisa jadi tempat pacaran tuh. Ya siapa tahu kan  :P. Tapi kayanya sih yang betul saung-saung itu buat tempat berjualan kalau pas pantai sedang banyak pengunjungnya.

Dari Pantai Air Anyir, kendaraan tidak diarahkan kembali ke jalan utama, melainkan tetap menyusuri jalanan yang relatif sepi di tepi pantai. Sesekali kendaraan yang aku tumpangi melewati galian tambang timah, baik yang masih aktif maupun yang sudah ditinggalkan karena mungkin hasilnya sudah tidak memadai. Sedih juga melihat wajah Pulau Bangka yang bopeng-bopeng akibat aktifitas penambangan timah. Ya . . meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa di beberapa tempat, bekas galian itu membentuk suatu landscape yang unik dan indah.

Setelah beberapa saat menyusuri jalanan yang relatif sepi itu, Pak Mul menghentikan kendaraan di tepi jalan di atas tebing dengan pemandangan laut lepas di si satu sisi, sementara sisi lainnya berdiri tegak sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi. Pantai di bawah tebing kelihatan sepi dengan hiasan tumpukan batu raksasa di beberapa bagian. Pemandangan itu mengundang aku untuk mencari jalan supaya bisa turun ke arah pantai. Tetapi ketika melihat itu, Pak Mul justru menyarankan untuk ke atas bukit saja. Entahlah, mungkin dia malas juga nunggu di tepi jalan yang panas kalau aku dan keluarga nyelonong turun ke arah pantai. Tapi mendengar ucapan dia yang mengatakan bahwa di atas bukit pemandangannya lebih bagus, aku penasaran juga. Apalagi ketika aku melihat di puncak bukit kelihatannya ada suatu bangunan yang cukup megah dengan arsitektur China. Jadi pensaran deh, makanya aku dan keluarga segera kembali ke mobil karena menurut Pak Mul, untuk ke atas bisa ditempuh dengan kendaraan, jadi lumayanlah, bisa menghemat tenaga  😛

Eh ternyata betul loh, kendaraan bisa dengan mudah sampai di atas karena ternyata sudah dibangun jalan dengan aspal cukup mulus sampai ke atas. Di atas bukit itu aku sempat tertegun sebentar, karena ujung bangunan yang aku lihat dari bawah tadi ternyata merupakan puncak bangunan megah yang masih dalam tahap penyelesaian. Bentuk bangunannya sangat mirip dengan Kuil Langit (Temple of Heaven) yang ada di Beijing, China, meskipun dalam ukuran yang lebih kecil. Rupanya bangunan itu nantinya akan dipergunakan sebagai kelenteng. Menurut Pak Mul, sudah lebih dari dua tahun bangunan tersebut dikerjakan dan sampai sekarang belum selesai juga. Kebayang sih bagaimana bagusnya tempat itu nantinya kalau sudah jadi. Kelenteng megah dengan taman asri di sekelilingnya, bukit dan hutan di belakang, dan pemandangan laut lepas di depannya.

Aku dan keluarga tidak terlalu lama berada di pelataran kelenteng itu. Matahari yang semakin mendekati titik kulminasinya menyebabkan hawa panas yang semakin menyengat. Karena itu, aku sekeluarga memutuskan untuk segera melanjutkan lagi perjalanan.

Pantai Tanjung Pesona yang berbatu-batu(Tanjung Pesona Rocky Beach)

Pantai Tanjung Pesona yang berbatu-batu (Tanjung Pesona Rocky Beach)

Perhentian berikut adalah Pantai Tanjung Pesona. Tidak seperti pantai-pantai sebelumnya yang relatif belum terkelola dengan baik, di Tanjung Pesona ini sudah berdiri sebuah resort yang lumayan. Karena itulah pengunjung tidak bisa sembarangan keluar masuk kawasan pantainya. Untuk bisa menikmati keindahan pantainya, pengunjung diharuskan membeli tiket masuk seharga Rp 10.000,– per orang. Tentunya bagi tamu yang menginap di resort tersebut tidak perlu lagi membayar. Pantai di Tanjung Pesona ini bisa dibilang cukup unik, karena di satu sisi dipenuhi dengan batu besar yang tak henti-hentinya dihajar ombak, sementara di sisi lainnya berupa pantai landai berpasir keputihan sehingga memungkinkan pengunjung untuk bermain-main di pasir pantai ataupun untuk melakukan kegiatan di air seperti banana boat yang fasilitasnya disediakan oleh pihak pengelola resort.

Setelah puas berkeliling di kawasan resort tersebut dan juga sempat membasahi tenggorokan dengan segelas es jeruk di resto yang ada di tepi pantainya, aku sekeluarga segera melanjutkan perjalanan ke Belinyu dengan melewati kota Sungailiat.

Belinyu dikenal dengan sebutan Kota Tua karena banyaknya bangunan tua di sana; dan karena banyak juga penduduk Belinyu yang membuat kerupuk ikan yang disana dikenal dengan nama kemplang, maka Belinyu juga dikenal dengan nama Kota Kemplang.

kerupuk mentah (some crackers before being fried)

kerupuk mentah (some crackers before being fried)

Mengingat kemplang, aku jadi kepikiran untuk menunjukkan proses pembuatan kemplang kepada anak-anakku sehingga dalam perjalanan mereka ini ada tambahan pengetahuan yang mereka dapat juga. Karena itulah aku minta Pak Mul untuk mampir juga di Kampung Gedong, sebuah desa kecil di dekat Belinyu yang dihuni oleh keturunan orang-orang China yang dahulu didatangkan ke Pulau Bangka untuk dipekerjakan sebagai buruh tambang timah. Sekarang penduduk desa itu banyak yang menjadi pembuat kemplang.

Aku dan keluarga sampai di Kampung Gedong mendekati jam makan siang. Pak Mul menjalankan kendaraannya dengan perlahan menyusuri jalan tanah yang ada di Kampung Gedong itu, melewati rumah-rumah tua dari kayu yang menjadi kediaman penduduk di situ. Sesampainya di depan sebuah rumah sederhana yang di bagian luarnya terdapat banyak kerupuk mentah sedang di jemur, Pak Mul menghentikan kendaraannya dan mengajak aku sekeluarga untuk masuk menemui penghuninya. Aku meminta Pak Mul untuk masuk terlebih dahulu dan memintakan ijin kepada penghuninya kalau aku dan keluarga mau melihat-lihat proses pembuatan kemplang di rumahnya itu, sementara aku dan keluarga menyusul turun dari mobil.

Tidak lama kemudian Pak Mul sudah keluar lagi diikuti seorang lelaki yang herannya aku rasakan wajahnya tidak asing lagi buat aku. Lelaki ini memperkenalkan diri dengan nama Akhiong. Pak Akhiong cukup ramah dan sama sekali tidak berkeberatan atas keinginanku untuk melihat-lihat proses pembuatan kemplang yang dikerjakannya secara manual dengan bantuan seluruh keluarga besarnya. Diajaknya aku dan keluargaku langsung menuju ke bagian belakang rumahnya, dimana proses pembuatan kemplang sedang berlangsung. Pak Akhiong juga tidak pelit informasi. Dia bercerita panjang lebar mengenai per-kemplang-an sambil wajahnya tetap dihiasi senyum. Aku sendiri mendengarkan penjelasannya sambil terus memutar otak, dimana aku pernah bertemu dengan Pak Akhiong ini sebelumnya. Setelah cukup lama aku memandang wajah dan memperhatikan gerak-gerik pak Akhiong, akhirnya aku menemukan apa penyebab Pak Akhiong rasanya tidak asing buat aku. Mau tahu sebabnya? Well . . . Pak Akhiong ini mirip sekali dengan Jacky Chen. Iya Jacky Chen yang bintang film kung-fu itu. Pantas saja aku gak merasa asing karena aku juga menyukai film-film yang dibintangi Jacky Chen  😀

Lumayan lama aku ngobrol dengan Pak Akhiong, dan obrolan itu berakhir dengan diborongnya beberapa jenis kerupuk produksi keluarga Pak Akhiong, baik yang sudah matang maupun yang masih mentah. Apalagi Pak Akhiong juga berbaik hati memberikan harga pabrik kepada keluargaku :).

Dari rumah Pak Akhiong, kembali kendaraan yang aku tumpangi menyusuri jalan-jalan desa yang berdebu menuju ke pintu gerbang desa. Sementara itu, cuaca yang semula cukup terik mulai meredup karena awan hitam tiba-tiba saja sudah muncul bergulung-gulung, anginpun bertiup semakin kencang. Belum jauh meninggalkan gerbang Kampung Gedong, tiba-tiba hujan lebat turun seperti ditumpahkan dari langit disertai angin yang cukup kencang menyebabkan jarak pandang juga menjadi sangat terbatas. Pak Mul pun memperlambat laju kendaraan karenanya.

Tiba-tiba . . . bruuukkk . . . sebatang pohon yang lumayan besar roboh ditiup angin kencang, dan robohnya tepat melintang di tengah jalan tidak jauh di depan kendaraanku. Untung saja Pak Mul sigap menginjak rem sehingga kendaraan yang aku tumpangi tidak sampai menabrak kendaraan di depanku yang tiba-tiba terhenti. Akibat robohnya pohon itu, jalan betul-betul menjadi tidak bisa dilewati. Untungnya (lagi) Pak Mul sangat paham daerah situ, sehingga dengan penuh keyakinan diarahkannya mobil untuk masuk ke sebuah jalanan kecil yang menembus sebuah perkampungan, dan keluar lagi ke jalan utama di bagian yang sudah tidak terhalang lagi oleh pohon yang tumbang tersebut. Begitu masuk kembali ke jalan utama, hujan lebat sudah tinggal menyisakan gerimis ringan saja, sehingga mobil bisa melaju lebih kencang. Nah sepanjang jalan itu aku dapati beberapa pohon lain yang roboh juga. Rupanya tadi itu anginnya betul-betul cukup kencang, sehingga mampu menumbangkan beberapa pohon di sepanjang jalan itu.

Kira-kira setengah jam kemudian, kendaraan yang aku tumpangi sudah memasuki kota Belinyu, dan karena saat itu sudah lewat dari waktu makan siang, aku meminta Pak Mul untuk berhenti dahulu mencari makan siang. Istriku menyarankan untuk berhenti di sebuah kedai otak-otak yang cukup terkenal dan menurut Pak Akhiong memang enak. Kedai ini berlokasi di depan Gereja Katolik Belinyu, sayangnya aku lupa nama warungnya :(. Tetapi yang jelas rekomendasi dari Pak Akhiong dan juga kabar yang terdengar tidak salah. Otak-otak di situ memang enak. Saus cocolnya berbeda dengan saus cocol otak-otak yang biasa aku temukan di Jakarta ataupun di Tangerang. Di belinyu itu ada dua macam saus cocol yang memiliki cita rasa berbeda, tetapi dua-duanya enak  🙂

Otak-otak udang (shrimp otak-otak)

Otak-otak udang (shrimp otak-otak)

Selain saus cocol yang berbeda, ukuran dan bahan pembuat otak-otak Belinyu juga berbeda. Kalau yang biasa ditemukan di sini hanyalah otak-otak ikan tengiri yang lebih banyak kanji daripada ikannya dengan ukuran tidak lebih besar dari dua jari, otak-otak di Belinyu bisa dibilang berukuran jumbo. Di sana dikenal dua macam otak-otak, yaitu otak-otak ikan dan otak-otak udang, Yang otak-otak udang dibungkus dengan ukuran yang lebih besar dibandingkan otak-otak ikannya.

Siapa mau otak-otak?  (Do you want some otak-otak?)

Siapa mau otak-otak? (Do you want some otak-otak?)

Waktu aku dan keluarga memasuki warung yang tidak terlalu besar itu, di mejaku langsung disajikan dua buah piring yang masing-masing berisi 10 buah otak-otak udang dan 20 buah otak-otak ikan. Disamping itu juga disediakan sebuah stoples plastik berisikan 10 buah pempek lenjer mini rebus. Pelayan juga memberikan masing-masing sebuah piring kecil dengan sebatang lidi tebal kepada aku dan keluargaku. Aku perkirakan cara makan otak-otak di sana, setelah dibuka bungkusnya, otak-otak diletakkan di piring dan kemudian ditusuk dengan lidi untuk dicocolkan ke saus yang kita pilih karena memang tidak disediakan garpu di sana. Eh tetapi ternyata aku sedikit salah, karena aku lihat di meja sebelahku disediakan semacam talenan kecil yang dilengkapi dengan sebilah pisau kecil juga. Rupanya cara makan yang betul dan sopan adalah dengan cara mengupas otak-otak itu, kemudian memotong-motongnya, barulah potongan-potongan itu yang ditusuk dengan lidi sebagai pengganti garpu. Tapi karena pelayan di situ melihat aku sekeluarga yang sudah lapar bahkan juga tidak menggunakan batang lidi yang disediakan, melainkan memegang otak-otak itu langsung dengan tangan, maka di mejaku tidak disediakan talenan dan pisau itu. He he he . . . malu deh, jadi ketahuan kelaparannya  😳

Setelah menghabiskan semua yang terhidang di meja, semula aku ingin langsung menuju ke pantai, tetapi istriku mengajak mampir sebentar ke rumah Bu Martinah yang merupakan perajin renda yang cukup dikenal di Belinyu. maklumlah istriku juga gemar membuat berbagai kerajinan juga, jadi kalau di kota-kota yang dikunjungi kebetulan ada perajin, biasanya diusahakan untuk mampir, bersilaturahmi sekaligus juga berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Sore itu jadinya cukup lama juga aku sekeluarga di rumah Bu Martinah yang memiliki usaha kerajinan renda dengan nama Mar Bersaudara itu. Perbincangan istriku luamayan seru juga kelihatannya, seolah-olah mereka berdua sudah lama kenal, padahal baru sekali itu ketemu. Mungkin karena kesamaan hobby saja yang membuat mereka cepat akrab.

Menjelang jam 4.30 sore, setelah berpamitan dengan Bu Martinah, aku meminta Pak Mul untuk langsung menuju ke Pantai Remodong untuk memburu sunset seperti rencana semula, meskipun terus terang aku sangsi juga kalau bisa memperoleh sunset yang bagus mengingat mendung masih menggelayut cukup tebal di langit Belinyu. Perjalanan dari Belinyu ke Pantai Remodong yang seharusnya ditempuh sekitar 45 menit, belum juga separuh dijalani ketika mau tidak mau Pak Mul harus menghentikan kendaraannya. Bukan apa-apa sih, ternyata jalan satu-satunya menuju Pantai Remodong terputus oleh gerusan air yang membentuk semacam parit kecil melintang di jalan. Repotnya parit itu cukup lebar dan dalam, sehingga tidak memungkinkan kendaraanku untuk melewatinya meskipun penduduk sekitar sudah berusaha menutupnya dengan pecahan batu. Pantas saja sore itu aku rasakan jalan itu cukup sepi, rupanya memang tidak bisa dilewati kendaraan.

Akhirnya dengan memendam rasa kecewa, aku meminta Pak mul untuk memutar kendaraan dan kembali menuju ke Pangkal Pinang. Ternyata apa yang sudah direncanakan dengan baik belum tentu bisa dilaksanakan dengan baik pula. Perjalananku tidak bisa diselesaikan dengan tuntas hari itu. Yah . . . mudah-mudahan di kesempatan lain aku dan keluarga bisa sampai ke Pantai Remodong.–

Summary :

This is just a short note about my recent trip to Belinyu, a small old town located at the north side of Bangka Island, Indonesia. Actually, Belinyu can be reached within 2 to 2.5 hours drive from Pangkal Pinang, the largest city ini Bangka. At that time, however, I spent more time to reach the town, because I made some stops at some interesting places along the road.

I started the trip from Pangkal Pinang at around 9 AM. My main target that day was to have sunset at Remodong Beach, which is located not too far from Belinyu, and also to visit a traditionally crackers maker so that my daughters could see the process and by that could have additional knowledge about something that they don’t get in school.

My first stop that day was at Air Anyir Beach. When I was there, the beach looked deserted. There were many simple huts which I thought to be used as stalls by the locals, but there were nobody seen in the area at that time. Seemed my family were the only visitors, aside of some fishermen who were mending their boat at a far corner of the beach.

Puncak bangunan kelenteng di bukit (the top of a temple on the hill)

Puncak bangunan kelenteng di bukit (the top of a temple on the hill)

After Air Anyir Beach, next stop was at the side of the road on a cliff that overlooked at the blue sea with its waves continuously lapped the white sandy beach below the cliff. When I was looking for a path to go down to the shore, Mul, who accompanied my family during my visit to Bangka Island, told me that we better go upward than downward since the view from the hill on the other side of the road will be better. As I turned my head to the direction of the hill, I saw that at the top of the hill there was a huge building. Later I knew that the building was a big Chinese Temple which looked similar to the Temple of Heaven in Beijing, China. The building was not finished yet. Many people still worked on it. I then went to the front yard of the temple to enjoy the view, even though not for long, because it was too hot to stay for along time in there.

Pasir di Pantai Tanjung Pesona (Tanjung Pesona sandy beach)

Pasir di Pantai Tanjung Pesona (Tanjung Pesona sandy beach)

Tanjung Pesona was the next stop. There has already a nice resort in Tanjung Pesona, so to enter the area, visitors should pay Rp 10,000.– (around US$ 1.–) for an entrance ticket. The beach at Tanjung Pesona is quite unique, because in a part the beach is naturally decorated by big granite stones, while in other part there is a sandy beach where visitors can have many water activities safely.

It was almost noon when I asked my family to continue our trip. Mul drove the car directly to Belinyu, but right before entering Belinyu, I asked Mul to stop at Kampung Gedong. Kampug Gedong is an old village inhabited by people who are the descendants of the Chinese who came to Bangka in the past to work in the tin mines. Most of them are still live in their old wooden houses and make a living by traditionally making a kind of crackers called “kemplang“. In there, I spent more than an hour, having a warm chit chat with Mr. Akhiong, one of the crackers makers, while my daughters watched Mr. Akhiong’s family members processed fishes, squids, and shrimps to be many kind of “kemplang“.

When we bid good bye to Mr. Akhiong, I saw that dark clouds started to form and blocked the sun. Not long after I left Kampung Gedong, it was rained heavily, followed by a very strong wind. Because of the wind, some trees fell and blocked the road. Luckily, Mul knew some side roads, so we could continue our trip toward Belinyu. Luckily (again), the hard rain became just drizzle when we reached Belinyu.

Otak-otak ikan (fish otak-otak)

Otak-otak ikan (fish otak-otak)

It was passed lunch time, so I asked Mul to stop for lunch. I chose to stop at a simple restaurant recomended by Mr. Akhiong. The restaurant sold “otak-otak“, a kind of local snack made of flour and fish or shrimp which then are wrapped in a piece of banana leaf, and grilled. You can say that “otak-otrak” is a kind of fish cake. Anyway, I found that Belinyu’s “otak-otak” was so special. They were quite big compared to “otak-otak” that I ussualy found in Jakarta. Their sauce was also different. The combination of the tasteful “otak-otak” mixed with the sauce blended perfectly when you chew it. The sensation make me and my family could not stop taking more and more “otak-otak” served before us in the table  😳

Tutup tempat tissue buatan Bu Mar (one of the lace products)

Tutup tempat tissue buatan Bu Mar (one of the lace products)

After filling our stomach fully, my wife asked me to stop by at a lace artisan house before continuing the trip to Remodong Beach. Mrs. Martinah is a famous lace artisan in Belinyu. Her fine products have already known to other countries. She managed her business with her two sisters, hence her products brand name is Mar Bersaudara (Mar sisters).

At around 4.30 PM, we left Mrs. Martinah’s house and continuing the trip to Remodong directly. According to Mul, it usually takes around 45 minutes to reach the beach. But . . . alas, there was another problem blocked the trip. The road ahead was eroded, and it was totally impossible to pass the eroded part. Because of that, I decided to cancel the trip and went directly back to Pangkal Pinang  😦. Hope that I can visit the beach to get a nice sunset at other time in the near future.–

Advertisements
Categories: Travel Notes | Tags: , , , | 75 Comments

Makan malam di Warung German

Warung German? Gak salah tulis tuh? Iya Bozz, aku gak salah tulis koq, karena memang itu yang tertulis di restonya dan juga di sign-board yang ada di depan gedung dimana resto ini berada. Tapi . . . biarlah, mungkin itu merupakan strategi pemiliknya untuk menarik pengunjung ke rumah makan yang sudah memiliki beberapa outlet ini. Aku sendiri, Jumat malam kemarin berkesempatan untuk mencoba beberapa makanan di warung modern yang mengusung slogan “happiness is homemade” itu di outlet yang baru saja dibuka tanggal 11 Oktober yang lalu di Bintaro Entertainment Center. Dan karena baru seminggu dibuka, masih ada beberapa jenis makanan yang belum tersedia meskipun tercantum dalam menunya. Waiter yang melayaniku sampai beberapa kali minta maaf karena beberapa menu yang ingin aku pesan ternyata belum tersedia.

IMG_FWR15Anyway, Warung German ini memiliki nama dagang Frank Wurst, dengan logo bergambar seorang lelaki gendut berkumis melintang memegang cangkir bir yang cukup besar, dan mengenakan busana khas Jerman, termasuk juga topinya. Kalau melihat nama dan logonya, orang boleh berharap bahwa di resto ini bisa diperoleh aneka makanan khas Jerman, khususnya berbagai jenis sosisnya dan tentu juga beer  😀

Outlet Frank Wurst – Warung German yang ada di Bintaro Entertainment Center terletak di lantai dua bangunan tersebut, dengan model gerai yang terbuka. Jadi jika kita berjalan-jalan di selasar lantai dua itu, maka interior resto yang kelihatan cukup cerah ini bisa tmpak dengan jelas tanpa perlu bersusah payah melongok melalui pintu. Ya iyalah wong di situ gak ada pintunya  😛

Pada saat aku ke sana, dari sekitar 15 meja yang tertata rapi di ruangan berbentuk huruf “L” itu, hanya beberapa yang terisi. Jadi masih mudah buat aku untuk memilih posisi meja yang aku kehendaki. Meja-meja yang dipergunakan di situ di finish dengan nuansa natural, jadi masih terlihat tekstur kayunya, demikian juga kursi-kursi yang melengkapi meja-meja berukuran kecil. Meja-meja yang berukuran lebih besar dilengkapi dengan tempat duduk semi sofa yang cukup nyaman dengan kain kursi bermotif bunga. Di atas masing-masing meja terletak hiasan berupa bunga dalam pot-pot mungil.

the interior of the restaurant

Di salah satu sudutnya terdapat bar yang dilengkapi kursi bulat dengan bantalan terbungkus kulit kambing lengkap dengan bulu-bulunya. Bar ini berfungsi sebagai tempat untuk meracik minuman yang akan disajikan. Di bagian lain terdapat sebuah jendela kaca yang cukup lebar yang membatasi area saji dengan area dapur yang kelihatan bersih dan terang.

Dinding resto di dominasi warna kuning tua dengan lantai dari parquette kayu sehingga suasananya terasa hangat dan homey. Beberapa poster bernuansa vintage menghiasai salah satu sisi dinding, sementara di sisi lain terdapat lukisan bermotif daun. Di belakang meja kasir juga terdapat lukisan, tetapi yang ini menggambarkan seorang gadis dengan rambut dikepang dengan busana khas Jerman sedang membawa sosis di atas piring.

Nah sekarang soal makanannya. terus terang menurut aku sih cukup enak. Jumat malam kemarin aku memesan bruschetta, nachos, bagel burger, spaghetti carbonara, dan chicken schnitzel. Banyak ya? He he he . . . itu gak aku makan sendirilah, gak muat perutku. Itu makanan pesananku beserta keluarga  :D. Semula sih pengen nyoba hot-dog atau bratwurst-nya, sayang kemarin itu semua jenis sosis belum tersedia.

Untuk harganya,menurut aku masih normallah untuk level sebuah rumah makan di sebuah mall. Satu porsi makanan rata-rata sekitar 50K, kecuali untuk beberapa jenis beef steak yang memang aku tahu di tempat lain harganya juga cukup mahal. Kemarin itu kebetulan aku lagi gak terlalu berminat makan beef. Lain kali aku harus balik lagi untuk mencoba nih  🙂

IMG_FWR06Untuk minumannya, cukup banyak juga pilihannya. Aku lihat ada beberapa jenis beer juga. Semula aku bermaksud untuk menggoda waiter atau waitress-nya kalau gak ada beer di resto yang mengusung tema resto di Jerman ini, eh ternyata ada. Jadi deh aku gak jadi godain mereka, lagi pula kemarin itu aku juga cuma pesan teh hangat koq.

Nah . . . untuk yang tinggal di Jakarta atau kebetulan berkunjung ke Jakarta dan pengen mencoba bersantap di resto ini, Frank Wurst punya dua outlet, yaitu di Kemang Timur Raya dan di Bintaro Entertainent Center itu. Di Yogya juga ada loh, posisinya di daerah kota Baru, tepatnya di Jalan Sabirin. Trus katanya mereka akan buka cabang juga di Malang, Jawa Timur.

Eh aku nulis ini bukan buat promo lho ya, aku gak dibayar buat bikin tulisan ini koq. Ini murni iseng gara-gara nyobain kamera-phone-ku untuk motret makanan. Terus karena suasana resto yang cukup homey, aku iseng juga motret suasana dan interiornya. Nah berhubung banyak juga hasil jepretanku, aku pikir kenapa gak bikin postingan aja. Yah itung-itung belajar bikin review gitu deh  😎

 

Summary :

This is a short review about a new outlet of a restaurant in Bintaro Entertainment Center in Tangerang, a Jakarta’s satelite city, as I happened to have dinner in there with my family last Friday. The restaurant adopts and also calls itself a German tavern. It name is Frank Wurst. It also has a slogan “happiness is homemade”. The outlet where I had my dinner is the third outlet of Frank Wurst and also the newest, since it has just opened for about a week. The other two are in Kemang – South Jakarta and in Yogyakarta. Soon they will also have another outlet in Malang – East Java.

The interior was quite homey and warm. Its yellow wall is decorated with some vintage style posters and some vignette. There are only about 15 tables in the room. In a corner there is a bar which is used as the serving corner for any kind of drinks ordered by the guests. The pantry is in another side, separated by a big glass window with the dining area.

The foods are quite delicious although some items in the menu were not avalilable yet when I was there. The waiter said that they will serve their full items in these days as the restaurant will be fully operated by then. Well . . . I think I have to go back there to prove what they had already said, and also to try other kind of foods, of course. Last Friday, I’ve just tried bruschetta, nachos, bagel burger, spaghetti carbonara, and chicken schnitzel. I hope that others I’ve never tried yet are as good as the ones that I’ve already tried  🙂

IMG_FWR13

Anyway, I wrote the review not to promote the restaurant. It was started when I tried my camera-phone to snap on some foods I ordered. When I saw the results, I thought that I have to share them to you all. So I started to snap also on the interior of the restaurant to make my post more complete, since I think it will look incomplete if I just posted some food pictures without anything. Say that I only learned how to write a review on something in this post  😛

Categories: Food Notes | Tags: , , , | 96 Comments

Jakarta’s house of wayang

Wayang is a kind of cultural performance which was widely known in Indonesia, especially in Java. The word “wayang” derived from the Javanese word “ayang-ayang” which means shadow, as the spectators watch the performance from behind a white curtain, so they only see the shadow of the puppets which are played by the puppet master called “dalang“. Wayang is also used to call the puppets in such cultural performance; hence the term wayang can also be used to call such movable puppets from other countries.

IMG_MWY04

Basically, there are three main category of wayang which are widely known in Indonesia; those are wayang orang (a traditional theatrical performance by a group of people who wear specific costumes), wayang kulit (a traditional two dimensional leather puppets with some movable parts), and wayang golek (a traditional three dimensional and movable figures usually made of woods). Most of the wayang performances play tales based on the famous Indian epoch, the Mahabharata and the Ramayana. Aside of that, there are also special wayangs which are used to play stories from other sources than those epoch, such as local legends, tales from daily life, tales of Indonesia national struggle to gain independence, and even tales from the Holy Bible.

In Jakarta Old City Area, there is a museum dedicated to wayang which called Museum Wayang or the Puppet Museum. Many kind of wayangs are on display in there. Not only Indonesian wayangs, there are also wayangs or puppets from various countries in the world. Visitors can also see traditional musical instruments which are used to build a specific impression on a specific occasion in the performance, as well as any other accessories used in a wayang performance. The set of musical instruments is called “gamelan“.

IMG_MWY01

The museum itself is an old building from the colonial era. It called De Nieuwe Hollandse Kerk after been renovated in 1732. Yes, it was a church at that time. When a massive earthquake struck the area in 1808, the building was badly damaged, so Daendels, the Governor General at that time, ordered to destroy the building and then built a new building which was then used as a warehouse by a private company. In 1938, however, the colonial government re-claimed the building and renovated it so it has its looks as it is at present.

In the middle part of the building, there is a small garden which was used as the funeral site of the former Governor General Jan Pieterzoon Coen and also some other noble people in the era. Up till now, visitors can still see the inscription in the garden wall together with some other inscription taken from some old graves in there.

While the facade of the museum looks old, the interior looks quite modern. The collections are displayed on the ground floor and on the floor above. There are many kinds of wayangs collected from many parts of Indonesia are on display in the two storeys building. As for the puppets from other countries, they are displayed in a room located on the upper floor.

To see the whole collections, visitors can follow the path from the ground floor, started at the entrance to the back of the museum, then up to the upper floor, and back down to the ground floor via another path. Right after the descending path, there is a room which was usually used to hold a scheduled wayang performances which can be watched for free. For them who need souvenirs, the museum has a booth of souvenirs right before the exit door  🙂

Keterangan :

Wayang merupakan sebutan yang merujuk pada suatu jenis pertunjukan seni tradisional yang cukup dikenal di indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Beberapa mengatakan bahwa kata “wayang” berasal dari kosa kata Bahasa Jawa “ayang-ayang” yang berarti bayangan, karena penonton biasanya menonton pertunjukan dari balik layar putih yang memantulkan bayangan wayang yang dimainkan oleh dalang. Tentu saja hal ini secara spesifik merujuk pada pertunjukan wayang kulit yang banyak dipertunjukkan di Jawa Tengah, karena pada pertunjukan wayang golek yang banyak dipertunjukkan di Jawa Barat dan juga pada pertunjukan wayang orang, penonton menyaksikan secara langsung dan tidak hanya menonton bayang-bayangnya saja.

IMG_MWY05

Selain untuk meneyebut seni pertunjukannya, istilah wayang juga sering dipergunakan untuk menyebut ‘boneka’ atau figur yang dimainkan si dalang. Jadi rasanya sebutan wayang juga bisa dipergunakan secara universal untuk menyebut semua jenis boneka yang bisa digerakkan oleh dalang, dari manapun asalnya.

Soal jenisnya, menurut aku sih wayang bisa dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar, yang nantinya bisa dibagi lagi menjadi sub keompok lain yang lebih spesifik; yaitu wayang orang (pertunjukkan seni drama tari yang dimainkan oleh sekelompok orang yang mengenakan busana pewayangan), wayang pipih dua dimensi (biasanya dibuat dari kulit, memiliki bagian-bagian yang bisa digerakkan dan dimainkan dari balik layar), dan yang terakhir adalah wayang yang berupa figur tiga dimensi (biasanya dibuat dari kayu dan dikenal sebagai wayang golek). Meskipun berbeda, tetapi ketiga kategori wayang itu mempunyai satu kesamaan, yaitu bahwa cerita yang dimainkan biasanya berasal dari cerita Mahabharata atau Ramayana. Selain itu, sebenarnya masih ada juga wayang-wayang khusus yang dibuat untuk menceritakan kisah lain selain dari Mahabharata dan Ramayana; misal saja yang menceritakan cerita legenda, cerita perjuangan kemerdekaan Indonesia, cerita dari kehidupan sehari-hari, bahkan ada pula yang dipergunakan untuk menceritakan kisah-kisah dari Kitab Suci.

Kalau tertarik melihat bermacam-macam jenis wayang sekaligus tanpa perlu bersusah payah bepergian ke berbagai tempat, kita bisa meluangkan waktu untuk berkunjung ke Museum Wayang yang terletak di Kawasan Kota Tua Jakarta. Di dalamnya bisa disaksikan berbagai macam wayang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan ada juga yang berasal dari luar negeri. Ada juga beberapa perlengkapan pendukung suatu pertunjukan wayang, seperti gamelan dan juga blencong – ingat ya bukan bencong 😀. Blencong adalah sejenis lampu minyak yang khusus dipergunakan dalam pertunjukan wayang kulit.

Gedung museum itu sendiri sebetulnya merupakan gedung tua peninggalan jaman penjajahan dulu. Semula gedung tersebut merupakan sebuah bangunan gereja yang setelah direnovasi pada tahun 1732 dikenal dengan sebutan De Nieuwe Hollandse Kerk. Gedung tersebut mengalami kerusakan parah setelah Batavia dilanda gempa bumi hebat pada tahun 1808, sehingga Gubernur jenderal Daendels memerintahkan pengahancuran bangunan tersebut untuk kemudian diatasnya dibangun sebuah bangunan gudang yang dipergunakan oleh sebuah perusahaan swasta. Tetapi mengingat di dalam bangunan tersebut terdapat beberapa makam pejabat penting VOC, termasuk juga makam Jan Pieterzoon Coen, maka pemerintah Hindia Belanda mengambil alih kembali bangunan tersebut pada tahun 1938 dan kemudian merenovasinya sehingga tampak seperti yang bisa kita saksikan sekarang. Di bagian tengah bangunan tersebut ada sebuah taman kecil dengan dinding tembok berprasasti yang menerangkan bahwa JP Coen dikuburkan di situ. Prasasti ini, bersama dengan beberapa prasasti nisan lain masih bisa kita saksikan sampai sekarang di tembok selasar yang menghubungkan bagian depan dengan bagian belakang museum.

Meskipun bagian luarnya merupakan gedung kuno, bagian dalam museum justru kelihatan modern. Benda-benda yang dipamerkan diletakkan dalam lemari-lemari dan panel-panel kaca yang berada di lantai dasar dan lantai di atasnya. Sayangnya pencahayaan dalam museum kurang diperhatikan sehingga bayangan pengunjung hampir pasti akan terpantul pada kaca yang melapisi barang-barang koleksi museum tersebut sehingga sedikit mengurangi kenyamanan dalam menikmati berbagai koleksi yang terpajang di situ. Hal lain yang juga dirasa sedikit mengganggu adalah penjelasan dalam Bahasa Inggris yang tujuannya untuk menjelaskan jenis atau karakter wayang yang ada. Bukan apa-apa sih, tetapi ketika aku berkunjung ke sana beberapa waktu lalu, Bahasa Inggris yang dipergunakan banyak yang tidak tepat, bahkan salah 😦

Tapi secara keseluruhan, keberadaan museum ini sangat bermanfaat. Apalagi wayang sudah diakui oleh UNESCO sebagai salah satu Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity yang harus selalu kita jaga kelestariannya. Di Museum Wayang ini juga secara berkala diadakan pertunjukan wayang yang bisa dinikmati secara gratis oleh pengunjung. Buat yang ingin memiliki cindera mata berupa berbagai jenis wayang, Museum Wayang juga memiliki sebuah counter yang menjual aneka cindera mata lho. Counter ini terletak di dekat pintu keluar. So . . . ayo berkunjung ke museum  🙂

IMG_MWY46

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 38 Comments

Blog at WordPress.com.