Monthly Archives: January 2015

The animals in the (display) windows

What kind of animals were there in the windows? Ah . . I know then, they must be small animals; most likely pets 😎

Well . . . you’re wrong, Buddy. Look at the picture below.

IMG_MSA01

Yes, they were not only small animals. Big animals were also being seen in the windows. And yes, they were not alive. They were all stuffed animals. From the information I’ve got, the animals which they used in making the diorama in the windows were not hunted animals. They used carcasses from many zoos all over the world, instead. With such good materials and in the hands of world known taxidermists, the carcasses were arranged to look like life animals in action. After that, it was the designers turn to make dioramas depicting the animals’ habitats.

All those great dioramas could be seen in a place called Museum Satwa (Animals Museum) located in Batu, a small city neighboring Malang in East Java. The collection of the museum ranging from stuffed animals in dioramas, fossilized animals, some replicas of dinosaurs’ bones and also mounted insects in insectarium.

The museum itself was inside a huge building that looked like Pantheon with its huge pillars. Side by side of the museum building laid two huge elephant statues. Once travellers entering the building, travellers would find a hall with a raised platform in the centre of the hall; and on the raised platform four huge replicas of full skeleton of dinosaurs stand majestically. They were Tyrannosaurs Rex, Apatosaurus, Stegosaurus, and Triceratops. On the walls surrounding the platforms, some dioramas could be enjoyed.

From the hall, travellers should turn left and started to explore the museum collections. Don’t worry, travellers wouldn’t lost in the museum as well as wouldn’t miss any single collections as long as they follow the path.
Not like any museum that looked dull and boring, exploring the Animal Museum in Batu would be an interesting adventure for both adult and children. No wonder in holiday time the museum always packed with visitors although the admission ticket could not be considered cheap.—

IMG_MSA18

IMG_MSA24

 

Keterangan :

Itu judulnya gak salah? Binatang dalam etalase?
Hhhmmm . . . kalau dilihat dari foto-foto yang ada di postingan ini, kelihatan sih kalau memang bener-bener ada binatang, bahkan binatang yang cukup gede, di dalam lemari pajang. Kalau sudah begitu, apalagi dengan penataan yang apik dan profesional seperti itu, pasti itu merupakan koleksi museum. Ya kan, Bro?  😎

Ya . . . memang betul, kali ini aku mau ngomongin soal sebuah museum yang terletak di kota Batu, sebuah kota wisata yang letaknya berdekatan atau malah bisa dibilang tersambung dengan kota Malang, Jawa Timur. Museum tersebut bernama Museum Satwa, dan koleksi museum tersebut boleh dibilang cukup lengkap karena meliputi berbagai diorama yang menampilkan aneka jenis binatang, baik binatang yang hidup di darat maupun makhluk-makhluk lautan. Beberapa fosil hewan pun ikut dipamerkan di situ. Ada pula kerangka hewan-hewan raksasa, ada yang asli juga lho meskipun sebagian besar berupa replika. Museum ini juga memiliki koleksi serangga yang telah diawetkan yang disajikan dalam insektarium.

Bangunan museumnya sendiri dari luar tampak megah dengan bentuk bangunan bergaya Yunani. Di samping kiri dan kanannya terdapat patung gajah raksasa. Jika pelancong memasuki gedung museum tersebut, begitu melewati pintu utama, pelancong akan tiba di sebuah aula, ditengahnya terdapat sebuah struktur mirip panggung yang diatasnya terpajang replika kerangka lengkap empat dinosaurus yang terdiri dari kerangka T-Rex, Apatosaurus, Stegosaurus dan Triceratops. Replika-replika tersebut dibuat dengan sangat halus sehingga menyerupai aslinya. Sementara itu, di dinding di sekeliling keempat kerangka dinosaurus itu terdapat beberapa panel diorama berisi beberapa jenis binatang di lingkungan hidupnya masing-masing.

IMG_MSA10

Dari aula tersebut, pengunjung akan diarahkan untuk berbelok ke kiri dimana terdapat lebih banyak lagi diorama dan banyak jenis koleksi museum lainnya. Jangan khawatir tersesat, karena lorong-lorong dalam museum tersebut telah dirancang sedemikian rupa sehingga pengunjung tidak akan tersesat, pun tidak akan melewatkan satupun koleksi museum yang dipamerkan di sana.

IMG_MSA20

Dan, tidak seperti museum-museum pada umumnya yang terkesan tua dan membosankan, Museum Satwa terkesan sangat modern. Bahkan menelusuri lorong-lorong dalam museum pastinya akan menjadi kegiatan yang mengasyikan bagi orang dewasa maupun anak-anak. Makanya, tidaklah heran kalau museum ini bisa dipastikan selalu dipadati pengunjung pada hari-hari libur meskipun harga tiket masuknya gak bisa dibilang murah juga.–

Advertisements
Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 36 Comments

Corner of Malang – a monument at the center of the city square

Malang, a city in East Java, was the second largest city in the province. It was also known as a student city because Malang had many universities and institutes where many students from all corners of Indonesia came to study, even some foreign students also came to study in some of the universities scattered in and around Malang.

In the Dutch colonial era, Malang was already known as a popular tourist destination for the Dutch and other European as well. Its cool temperature and the pretty landscape in the surrounding area attracted people as far as Surabaya to visit the city.

IMG_TUM01

And like any other cities anywhere, Malang also had its own landmarks. One of those many landmarks was a monument located in the old city square. In Bahasa Indonesia, such a monument was called “tugu”. And since that, the square was named Tugu Square or Alun-Alun Tugu; and because the square had a round shape, it also called The Round Square ( so do you think was it round or square? 😛 )

IMG_TUM03

Some old buildings surrounded the square, such as the major office, the city council office, Malang train station, an old hotel called Hotel Tugu, and also some school buildings. The monument itself was located in the center of a pond full of water lilies. In night time, like when I took the pictures in this post, the monument was illuminated by colorful lights.

IMG_TUM02

According to historical records, the existing monument was the second monument ever built in there. The first one was built in 1946 as a commemoration of the time when the first Indonesian leader got the highest authority over Malang. Later on, the first monument was destroyed by the Dutch colonial army in 1948; but in 1953 the monument was re-built by the local government to replace the one that had been destroyed. The second monument then became one of Malang’s city landmarks.—

IMG_TUM04

 

Keterangan :

Malang, adalah sebuah kota yang terletak di Jawa Timur. Kota yang berhawa sejuk dan juga merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur ini dikenal juga sebagai Kota Pelajar karena banyaknya perguruan tinggi maupun sekolah yang tersebar di seantero Malang. Para pelajar dari seluruh penjuru Nusantara banyak datang ke Malang untuk menuntut ilmu di pelbagai institusi pendidikan yang ada di sana. Bahkan beberapa pelajar dari manca nagari pun ada yang datang menimba ilmu di Malang.

Selain sebagai Kota Pelajar, Malang sejak jaman penjajahan dahulu sudah menjadi tempat tetirah favorit para tuan dan nyonya Belanda maupun orang-orang Eropa lainnya. Hawa sejuk dan pemandangan indah di sekitarnyalah yang menjadi daya tarik utama.

IMG_TUM05

Dan seperti halnya kota-kota lain dimanapun, Malang juga memiliki beberapa bangunan yang menjadi ‘landmark’ kebanggaan masyarakat Malang. Salah satunya yang cukup terkenal adalah sebuah tugu yang terletak di alun-alun kota. Dan dengan adanya tugu tersebut, alun-alun tersebut dikenal juga dengan nama Alun-Alun Tugu. Alun-alun ini sudah ada sejak jaman penjajahan dulu dan karena bentuknya yang melingkar, banyak orang menyebut dengan nama Alun-Alun Bundar juga. Sebetulnya penamaan alun-alun ini sekaligus juga untuk membedakannya dengan alun-alun lain yang disebut Alun-Alun Jami karena terletak di depan Masjid Jami. Ya, tidak seperti kota atau daerah lain, Malang memang memiliki dua buah alun-alun.

IMG_TUM06

Di sekitar Alun-Alun Tugu ini terdapat beberapa bangunan tua yang sampai sekarang masih terawat dan juga masih dipergunakan, baik sebagai kantor, hotel maupun sekolahan. Yang cukup kelihatan ya Balai Kota, Gedung DPRD, Hotel Tugu dan beberapa SMA Negeri. Tugunya sendiri terletak di tengah alun-alun, di tengah sebuah kolam yang dipenuhi tanaman teratai. Di waktu malam, seperti ketika aku mengambil foto-foto yang aku pasang di postingan ini, tugu tersebut akan disinari oleh lampu berwarna-warni yang menambah keindahannya.

Menurut catatan sejarah, tugu yang ada sekarang ini adalah tugu kedua yang dibangun di tempat itu. Lha trus tugu pertamanya kemana dong? 😯

Tugu pertama, yang dibangun pada tahun 1946 untuk memperingati ditetapkannya orang Indonesia untuk memegang tampuk pemerintahan daerah sendiri di Malang, akhirnya hancur ketika terjadi agresi Belanda pada tahun 1948. Meskipun demikian, Pemerintah Daerah Malang akhirnya memutuskan untuk membangun kembali tugu tersebut pada tahun 1953.

Tugu Malang mengambil bentuk bambu runcing sebagai simbol perlawanan rakyat terhadap penjajahan. Ada pula bentuk rantai yang melingkar yang menggambarkan persatuan rakyat Indonesia. Teratai yang ditanam di kolam di sekitar tugu juga terdiri dari teratai yang bunganya berwarna merah dan berwarna putih sebagai perlambang bendera Indonesia.

IMG_TUM07

Alun-alun yang berada di sekitar tugu yang sarat makna ini selalu dipenuhi pengunjung juga loh, malah sepanjang hari bisa dibilang selalu penuh. Bahkan di malam-malam libur, pengunjungnya semakin penuh. Psstt . . . banyak pemuda pemudi yang pacaran di situ juga lho kalau malam :P.—

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 28 Comments

Row of boats mooring off the shore

On one cloudy morning, after visiting a more known beach called Sendang Biru in Southern Malang, East Java, I stop in a nearby beach called Tamban Beach. And as soon as I stepped my foot on the beach, a thing got my attention . . . boats. Yes boats, there were many boats mooring off the shore as if they were a full armada of war ships ready to do a fierce sea battle. The view reminded me on a scene in a film about Trojan War; the row of boats mooring off the shore looked similar to row of Greece’s war ships that came to Troy by sea to reclaim Helen from Paris. The boats off the shore Tamban Beach, however, were not war ships, of course. They were all fishing boats, instead. Yes, Tamban was a fishing village.

IMG_TAM01

Tamban was a sandy beach that had a very long coastal line. It stretched for about 1,500 meter. The sands were white. Unfortunately when I visited the beach, it was quite dirty  :(. Plastic bottles, snack wraps, empty soft drink cans scattered on the beach. I’m pretty sure that the condition would make any travelers uncomfortable to spend their time there.

IMG_TAM03

As for the name Tamban, it was said that it derived from the word “tamba” or “tombo”. The word was in local language that means medicine or something that can cure. The story went back to the late 19th century; it was in 1880 to be exact. Three wise men called Kyai Ngastowo, Kyai Mangun and Kyai Yaser who intended to stay in that place, started to open the forest to make a village. In their hard effort, the three were dehydrated badly. As it was quite difficult to find fresh water in the region, the three were forced to drink from a nearby river. Alas . . . the water in the river was tasted very bad and made them sick. To wipe the bad taste from their mouths, the three ran to the beach and started to drink the clear sea water. To their amazement, they found that the sea water was pretty fresh and made the bad taste in their mouth vanished. To always remind the people of the incident, they named the place Tamban as the sea water in there cured them from the illness.

IMG_TAM02

To reach the beach was pretty easy. Travelers who departed from Malang should turn left and take a side road about 5 kilometers before Sendang Biru. There was a clear sign that showed the way to Tamban Beach. The road was quite good at that time although it was quite narrow. It took about 5 more kilometers from the sign to reach the beach. Tamban was not as famous as Sendang Biru, hence it was not as crowded as Sendang Biru.—

Keterangan :

Di suatu pagi yang berawan, dalam perjalanan pulang dari Pantai Sendang Biru yang terletak di Malang Selatan, aku memutuskan untuk mampir ke sebuah pantai lain yang terletak tidak jauh dari Pantai Sendang Biru. Pantai yang aku maksud dikenal dengan nama Pantai Tamban. Dan tahukah kawan, ada sebuah pemandangan menarik yang menyita perhatianku begitu aku menjejakkan kakiku di pasir pantai dan mengarahkan pandanganku ke arah laut. Di lepas pantai itu aku melihat puluhan kapal berjajar, seolah-olah satu armada kapal yang sudah siap tempur. Pemandangan seperti itu sontak mengingatkanku akan salah satu adegan di film yang pernah aku saksikan, yaitu adegan pengepungan kota Troya oleh pasukan Yunani di bawah pimpinan Agamemnon. Kala itu pasukan Yunani dengan menumpang berpuluh-puluh kapal perang menyeberangi laut menuju Troya demi merebut kembali Helen yang dilarikan oleh Paris ke Troya. Tetapi . . . tentu saja yang ada di lepas pantai yang berdekatan dengan Pantai Sendang Biru itu bukanlah kapal perang, melainkan kapal-kapal penangkap ikan milik nelayan setempat. Ya, Tamban merupakan perkampungan nelayan, sehingga tidaklah mengherankan kalau di lepas pantainya tampak puluhan kapal nelayan. Mungkin laut di sekitar Pantai Tamban tidak terlalu dalam sehingga para nelayan tersebut “berlabuh” agak jauh dari pantai untuk menghindarkan kandasnya kapal-kapal mereka.

IMG_TAM07

Pantai Tamban sebetulnya memiliki potensi untuk dikembangkan mejadi salah satu tujuan Wisata, apalagi pantai yang terbentang sejauh sekitar 1.500 meter itu tertutup pasir putih yang lembut. Sayangnya ketika aku berkunjung ke sana, aku mendapati bahwa pantai tersebut cukup kotor. Bekas botol maupun kaleng minuman dalam kemasan, juga bungkus makanan kecil dan sisa-sisa makanan tampak berserakan di beberapa bagian pantai 😦. Kondisi pantai yang seperti itu, tentulah akan menyebabkan pelancong enggan untuk berkunjung dan bermain-main di pantai.

IMG_TAM09

Mengenai nama Tamban itu sendiri, konon nama itu berasal dari kata “tamba” atau “tombo”. Kata yang berasal dari Bahasa Jawa itu bisa diartikan sebagai “obat” atau sesuatu yang membuat sembuh. Konon nama itu berasal dari adanya cerita mengenai tiga orang Kyai yang datang ke tempat itu pada akhir abad ke-19, tepatnya di tahun 1880, untuk menetap di situ. Ketiga orang itu dikenal dengan nama Kyai Ngastowo, Kyai Mangun and Kyai Yaser. Mereka bertiga bertekad membuka hutan yang ada di situ untuk diubah menjadi perkampungan. Karena itulah, setelah niat mereka mendapatkan persetujuan dari pemuka masyarakat yang tinggal tidak jauh dari situ, ketiganya segera bekerja keras membabat hutan. Karena di sekitar situ memang sulit sekali ditemukan air tawar untuk minum, ketiganya hanya sedikit minum. Alhasil ketiganya mengalami dehidrasi hebat sehingga jatuh sakit. Dalam usaha untuk menemukan sumber air tawar, mereka menemukan sebuah sungai kecil yang mengalir di dekat situ. Sayangnya ketika mereka mencoba meminum air sungai itu, bukannya dahaga mereka menjadi hilang, melainkan mulut mereka terasa pahit sekali dan sakit mereka malah menjadi-jadi. Dalam keputus asaan, ketiganya bergegas berjalan ke pantai untuk berkumur dengan air laut yang jernih dengan harapan agar rasa pahit di mulut mereka bisa berkurang. Ajaib . . . ternyata mereka bertiga merasakan kalau air laut di situ rasanya cukup segar, bahkan sakit mereka bertigapun mendadak lenyap. Untuk mengenang kejadian itu, mereka menamakan pantai itu Tamban, karena mereka mendapati air yang ada di pantai itu menjadi tamba atau obat yang menyembuhkan mereka dari sakit.

IMG_TAM06

Jalan ke Pantai Tamban tidak sulit untuk ditemukan. Jika berangkat dari Malang, kurang lebih 5 kilometer sebelum mencapai Pantai Sendang Biru, di sebelah kiri jalan akan ditemukan sebuah papan petunjuk bertuliskan “Pantai Tamban” dengan panah menunjuk ke sebuah jalan kecil di sebelah kiri. Ikuti saja jalan itu sejauh kurang lebih 5 kilometer lagi, dan tadaaa . . . sampailah kita di Pantai Tamban :D. Jalannya memang tidak terlalu bagus dan relatif sempit sih, tapi masih oke koq kalau mau dijalani. O ya, yang mau kesana mengandalkan kendaraan umum, sebaiknya merencanakan ulang perjalanannya karena tidak ada kendaraan umum yang menuju ke Pantai Tamban lho.–

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 34 Comments

Blog at WordPress.com.