Posts Tagged With: museum

The animals in the (display) windows

What kind of animals were there in the windows? Ah . . I know then, they must be small animals; most likely pets 😎

Well . . . you’re wrong, Buddy. Look at the picture below.

IMG_MSA01

Yes, they were not only small animals. Big animals were also being seen in the windows. And yes, they were not alive. They were all stuffed animals. From the information I’ve got, the animals which they used in making the diorama in the windows were not hunted animals. They used carcasses from many zoos all over the world, instead. With such good materials and in the hands of world known taxidermists, the carcasses were arranged to look like life animals in action. After that, it was the designers turn to make dioramas depicting the animals’ habitats.

All those great dioramas could be seen in a place called Museum Satwa (Animals Museum) located in Batu, a small city neighboring Malang in East Java. The collection of the museum ranging from stuffed animals in dioramas, fossilized animals, some replicas of dinosaurs’ bones and also mounted insects in insectarium.

The museum itself was inside a huge building that looked like Pantheon with its huge pillars. Side by side of the museum building laid two huge elephant statues. Once travellers entering the building, travellers would find a hall with a raised platform in the centre of the hall; and on the raised platform four huge replicas of full skeleton of dinosaurs stand majestically. They were Tyrannosaurs Rex, Apatosaurus, Stegosaurus, and Triceratops. On the walls surrounding the platforms, some dioramas could be enjoyed.

From the hall, travellers should turn left and started to explore the museum collections. Don’t worry, travellers wouldn’t lost in the museum as well as wouldn’t miss any single collections as long as they follow the path.
Not like any museum that looked dull and boring, exploring the Animal Museum in Batu would be an interesting adventure for both adult and children. No wonder in holiday time the museum always packed with visitors although the admission ticket could not be considered cheap.—

IMG_MSA18

IMG_MSA24

 

Keterangan :

Itu judulnya gak salah? Binatang dalam etalase?
Hhhmmm . . . kalau dilihat dari foto-foto yang ada di postingan ini, kelihatan sih kalau memang bener-bener ada binatang, bahkan binatang yang cukup gede, di dalam lemari pajang. Kalau sudah begitu, apalagi dengan penataan yang apik dan profesional seperti itu, pasti itu merupakan koleksi museum. Ya kan, Bro?  😎

Ya . . . memang betul, kali ini aku mau ngomongin soal sebuah museum yang terletak di kota Batu, sebuah kota wisata yang letaknya berdekatan atau malah bisa dibilang tersambung dengan kota Malang, Jawa Timur. Museum tersebut bernama Museum Satwa, dan koleksi museum tersebut boleh dibilang cukup lengkap karena meliputi berbagai diorama yang menampilkan aneka jenis binatang, baik binatang yang hidup di darat maupun makhluk-makhluk lautan. Beberapa fosil hewan pun ikut dipamerkan di situ. Ada pula kerangka hewan-hewan raksasa, ada yang asli juga lho meskipun sebagian besar berupa replika. Museum ini juga memiliki koleksi serangga yang telah diawetkan yang disajikan dalam insektarium.

Bangunan museumnya sendiri dari luar tampak megah dengan bentuk bangunan bergaya Yunani. Di samping kiri dan kanannya terdapat patung gajah raksasa. Jika pelancong memasuki gedung museum tersebut, begitu melewati pintu utama, pelancong akan tiba di sebuah aula, ditengahnya terdapat sebuah struktur mirip panggung yang diatasnya terpajang replika kerangka lengkap empat dinosaurus yang terdiri dari kerangka T-Rex, Apatosaurus, Stegosaurus dan Triceratops. Replika-replika tersebut dibuat dengan sangat halus sehingga menyerupai aslinya. Sementara itu, di dinding di sekeliling keempat kerangka dinosaurus itu terdapat beberapa panel diorama berisi beberapa jenis binatang di lingkungan hidupnya masing-masing.

IMG_MSA10

Dari aula tersebut, pengunjung akan diarahkan untuk berbelok ke kiri dimana terdapat lebih banyak lagi diorama dan banyak jenis koleksi museum lainnya. Jangan khawatir tersesat, karena lorong-lorong dalam museum tersebut telah dirancang sedemikian rupa sehingga pengunjung tidak akan tersesat, pun tidak akan melewatkan satupun koleksi museum yang dipamerkan di sana.

IMG_MSA20

Dan, tidak seperti museum-museum pada umumnya yang terkesan tua dan membosankan, Museum Satwa terkesan sangat modern. Bahkan menelusuri lorong-lorong dalam museum pastinya akan menjadi kegiatan yang mengasyikan bagi orang dewasa maupun anak-anak. Makanya, tidaklah heran kalau museum ini bisa dipastikan selalu dipadati pengunjung pada hari-hari libur meskipun harga tiket masuknya gak bisa dibilang murah juga.–

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 36 Comments

Once a palace, now a museum

Sumenep is a town located in the eastern part of Madura Island, Indonesia. It is also the capital of Sumenep Regency. In the thirteenth century, Sumenep was a sultanate which territory covered the whole Madura Island as well as Blambangan and Lumajang in the eastern part of Java Island.

According to an old scripture called Pararaton, it was said that the first ruler of Sumenep was Aria Wiraraja. He was a brilliant strategist who work for Kertanegara, the king of an ancient kingdom in Java called Singhasari. Wiraraja was one of high ranks officers in the palace. His brilliance advises made him the king’s trustful aide. Once, however, as the king’s ambition to expand his territory made the political situation in the capital became unstable, Wiraraja advised the king to restrain his ambition. His suggestion was made the king felt unpleasant and wanted to punish him. Luckily, the prime minister and many other high ranks officers in the palace made a petition and ask for the king’s mercy. The petition was resulted in Aria Wiraraja’s new job as the head of a front-line area in Madura called Songeneb in 1269. Later on, Wiraraja families and descendants became the ruler of Songeneb area.

The name Songeneb was then changed to Sumenep. It was said that the Dutch Colonial Government changed the name to make them easier in pronouncing the name.

halaman dalam kompleks keraton  (inside the palace's compound)

halaman dalam kompleks keraton (inside the palace’s compound)

Anyway, the palace in Sumenep which now became one of Sumenep’s historical sites was not Wiraraja’s original palace. The palace in Sumenep was built by a Chinese architect called Lauw Pia Ngo as ordered by Panembahan Somala, Sumenep’s ruler at that time. The construction was finished in 1780. The palace compound was still intact even though underwent some minor renovations. Nowadays, the palace compound was functioned as a museum that opens for public.

lambang keraton sumenep  (sumenep's coat of arms)

lambang keraton sumenep (sumenep’s coat of arms)

To visit the palace, travelers should buy an entrance ticket in a building located in front of the palace which called Museum Kencana. It was once the place to keep the royal carriage. In the building travelers could see Sumenep’s Royal Carriage as well as a carriage which was given by The Queen of England as a souvenir for the ruler of Sumenep in the 19th century. Some furniture which once used in the palace was also on display. Before the exit door, there was a wooden carving of Sumenep’s coat of arms.

Other parts of the museum was inside the palace compound and called Kantor Koneng. It was once used as the ruler’s office. In there travelers could see ceramics, utensils used for traditional rituals, some traditional clothes used by the royal family, pictures, weapons, furniture, and also many art objects. In the north of Kantor Koneng, there was a building which has five rooms inside it and known as Bindara Saod Museum because it was used by Bindara Saod, Panembahan Somala’s father, to contemplate. Because of its function to meditate, people also called the building as Romah Panyepen.

The main building in the compound was a two storeys building. In the first floor, there was a hall with two bedrooms on each side. The first bedroom was once used as the Sultan’s bedroom; in front of the Sultan’s bedroom was a bedroom for the Sultan’s wife. Then, beside the Sultan’s bedroom there was the prince bedroom which located in front of the princess bedroom.

ruang tidur sang pangeran (the prince's bedroom)

ruang tidur sang pangeran  (the prince’s bedroom)

On the floor upstairs, there was another hall and a room which seemed once used as the royal living room. In front of the main building, there was the royal hall. The palace main building usually was not opened for public.

pendopo agung  (the royal hall)

pendopo agung (the royal hall)

Other building in the compound was the Taman Sare which was used as the royal bath, and the Labang Mesem which was once the main gate to enter the palace’s compound. Labang Mesem means the gate full of smile. It was said that in the past, the gate was guarded by midgets. Guest who passed the gate would be greeted wholeheartedly by those midgets so the guests would come to the palace happily and with a smile in their face  🙂 .—

Keterangan :

Sumenep adalah sebuah kota yang terletak di ujung timur Pulau Madura, dan juga merupakan ibukota Kabupaten Sumenep. Di abad ke tiga belas, Sumenep pernah menjadi kesultanan yang wilayahnya selain meliputi seluruh Pulau Madura juga meliputi Blambangan dan Lumajang di Jawa Timur. Adalah Aria Wiraraja yang merupakan penguasa pertama Sumenep, seperti yang tercantum dalam Kitab Pararaton. Wiraraja adalah seorang ahli strategi ulung yang mengabdi kepada Sri Kertanegara, raja Singhasari pada masa itu. Berkat ide dan strateginya yang gemilang, Singhasari menjadi maju dan Wiraraja pun menjadi orang kepercayaan Baginda yang memegang posisi cukup tinggi di istana. Tetapi keadaan ini berubah ketika ambisi Sri Kertanegara untuk terus memperluas wilayah kerajaannya menimbulkan gejolak di dalam negeri. Wiraraja yang melihat kondisi yang membahayakan ini menasehati Sri Kertanegara untuk mengerem ambisinya. Tetapi bukannya didengar, malah sebaliknya nasehat Wiraraja membuat Sri Kertanegara murka dan bermaksud menghukum Wiraraja. Untunglah Patih Kerajaan dan banyak pejabat tinggi lain memintakan ampun untuk Wiraraja. Sri Kertanegara yang tetap tidak ingin melihat Wiraraja lagi di istana, pada tahun 1269 mengubah hukumannya menjadi penugasan di lini terluar wilayah kerajaan, yaitu di suatu tempat yang bernama Songeneb.

Setelah Singhasari runtuh, Wiraraja yang cukup berjasa dalam membantu Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majaphit dianugerahi wilayah Blambangan dan Lumajang. Dengan semakin luasnya wilayah kekuasaannya, Wiraraja memilih untuk mengelola wilayah baru yang dianugerahkan padanya oleh Raden Wijaya itu, dan menyerahkan pengelolaan Pulau Madura kepada adiknya yang kemudian bergelar Aria Wiraraja II. Demikian seterusnya keluarga dan keturunan Aria Wiraraja menjadi penguasa Songeneb.

Nama Songeneb ini pada jaman pemerintahan Kolonial Belanda diubah menjadi Sumenep karena orang-orang Belanda itu kesulitan melafalkan Songeneb sekaligus juga untuk menunjukkan bahwa merekalah yang berkuasa pada saat itu. Nama Sumenep inilah yang hingga kini masih bertahan.

pintu menuju ke bagian dalam keraton  (the gate to the inner part of the palace)

the gate to the inner part of the palace  (pintu menuju bagian dalam keraton)

Istana atau Keraton yang berada di Sumenep saat ini bukanlah keraton yang dibangun oleh Aria Wiraraja di abad ke tiga belas itu, meskipun demikian, umur keraton ini tetaplah sudah sangat tua karena pembangunan kompleks keraton yang berdiri di atas lahan seluas 12 hektar ini diselesaikan pada tahun 1780. Dengan usia yang sudah lebih dari 200 tahun, keraton yang dirancang dan dibangun oleh arsitek keturunan China yang bernama Lau Pia Ngo atas perintah Panembahan Somala yang memerintah Sumenep masa itu, kondisinya masih cukup kokoh. Memang beberapa renovasi sudah dilakukan, tetapi itupun hanya sebatas atap dan lantainya saja. Konstruksinya sendiri masih tetap kokoh sampai sekarang.

Untuk masuk ke dalam kompleks keraton ini, pelancong akan diminta membeli tiket masuk di sebuah gedung di depan kompleks keraton yang difungsikan sebagai museum. Gedung tersebut dahulu dipergunakan sebagai tempat menyimpan kereta kerajaan sehingga kini dikenal dengan nama Museum Kencana. Di dalamnya tersimpan sebuah Kereta Kencana Keraton Sumenep dan sebuah kereta kuda yang merupakan hadiah dari Ratu Inggris pada masa itu. Ada pula ranjang yang pernah dipergunakan penguasa Sumenep dan juga beberapa tombak dan denah Keraton Sumenep. Di dekat pintu keluar tergantung sebuah ukiran kayu yang menggambarkan Lambang Keraton Sumenep.

Begitu masuk ke halaman depan kompleks keraton, di sebelah kiri terdapat sebuah bangunan yang dikenal dengan sebutan Kantor Koneng. Bangunan yang juga difungsikan sebagai museum ini menyimpan koleksi peralatan yang dipergunakan untuk upacara tradisional, keramik-keramik, senjata, foto, pakaian yang dulu dikenakan oleh penguasa Sumenep dan juga benda-benda seni. Di bagian belakang terdapat juga bajak yang dipergunakan untuk membajak sawah, dipan yang dipergunakan untuk memandikan jenazah sultan, dan juga ada beberapa arca batu bergaya Hindu.

Di sebelah utara Kantor Koneng terdapat sebuah bangunan sederhana yang dahulu sering dipergunakan oleh ayahanda Panembahan Somala yang bernama Bindara Saod untuk melakukan tapa, karena itu masyarakat menyebutnya sebagai Romah Panyepen. Bangunan ini juga dipergunakan sebagai museum yang menyimpan beberapa perabot rumah tangga yang dahulu dipergunakan oleh keluarga keraton, sehingga ada pula yang menyebut bangunan ini sebagai Museum Bindara Saod.

Bangunan utama di kompleks ini berupa bangunan dua lantai yang dahulu dipergunakan sebagai tempat tinggal keluarga keraton. Bangunan ini biasanya tidak dibuka untuk umum. Bangunan yang didepannya terdapat sebuah taman yang asri ini sekarang kosong. Di bagian belakang bangunan, di seberang taman telah dibangun bangunan lain yang kini dipergunakan sebagai rumah dinas Bupati Sumenep.

the palace's inner garden  (taman di keraton)

the palace’s inner garden  (taman di keraton)

the door to the royal chamber  (pintu masuk ke ruangan keluarga kesultanan)

the door to the royal chamber (pintu masuk ke ruangan keluarga kesultanan)

Di lantai dasar bangunan utama tersebut terdapat sebuah aula kecil dengan masing-masing dua buah kamar tidur di kiri dan kanannya. Ruang tersebut terhubungkan dengan Pendopo Agung yang terletak di sebelah depan oleh sebuah pintu besar. Keempat kamar di lantai dasar tersebut, dahulu masing-masing dipergunakan oleh sultan, istri sultan, putri sultan dan putra sultan. Di lantai atas terdapat ruang yang tampaknya dahulu dipergunakan sebagai ruang keluarga atau ruang pertemuan karena terdapat beberapa kursi dan meja.

the room upstairs  (ruangan di lantai atas)

the room upstairs (ruangan di lantai atas)

Bangunan lain di kompleks itu adalah semacam kolam pemandian yang dikenal dengan nama Taman Sare. Taman Sare memiliki tiga buah tangga atau pintu untuk turun ke kolam yang masing-masingnya dipercaya sangat bertuah seperti tercantum dalam plakat yang ditempelkan di situ. Pintu pertama diyakini dapat membuat awet muda, dipermudah mendapatkan jodoh dan keturunan. Pintu kedua diyakini dapat meningkatkan karir dan kepangkatan, sedangkan pintu ketiga diyakini dapat meningkatkan iman dan ketaqwaan. Sayangnya Taman Sare ini kelihatan kurang terawat ketika aku ke sana.

the royal bath  (pemandian keluarga keraton)

the royal bath (pemandian keluarga keraton)

Bangunan terakhir yang juga menarik adalah bangunan yang dahulu dipergunakan sebagai gerbang utama keraton dan dikenal dengan nama Labang Mesem atau pintu tersenyum. Katanya dahulu gerbang ini dijaga oleh orang-orang kerdil yang akan menyambut setiap tamu yang berkunjung dengan ramah dan senyum yang selalu tersungging di bibir mereka, sehingga setiap tamu yang masuk ke kompleks keraton akan merasa senang dan diwajahnya juga ikut tersungging senyuman 🙂 .

the main gate to the palace's compound  (gerbang utama kompleks keraton)

the main gate to the palace’s compound (gerbang utama kompleks keraton)

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 43 Comments

Mengenal budaya Mataram di kesejukan lereng Merapi

Kali ini, supaya gak bosan bolak-balik main di pantai terus, sekali-kali aku posting tujuan wisata lain yang bukan pantai ya. Yuk kali ini kita mendaki ke tempat yang agak tinggi, sekaligus mencari udara sejuk :). Masih di sekitaran Yogyakarta juga koq. Bisa menebak kan? Yup seratus buat yang menebak betul; pada kesempatan ini aku mampir di Kaliurang, sebuah tempat wisata yang berlokasi di sebelah utara kota Yogyakarta. Karena letaknya yang berada dilereng Gunung Merapi dengan ketinggian sekitar 900 meter di atas permukaan laut, Kaliurang berhawa cukup sejuk. Eh tapi sekali ini aku gak ngajak jalan-jalan di Kaliurang, melainkan langsung menuju ke salah satu sudut Kaliurang. Tepatnya ke Jalan Boyong, Kaliurang.

“Lhah emangnya ada apa di situ?” 😯

Nah di salah satu sudut kawasan Kaliurang ini, terselip sebuah bangunan yang sepintas tampak seperti bangunan yang terbengkelai karena hampir tertutup oleh berbagai jenis tumbuhan yang tumbuh subur dan rimbun di sekelilingnya. Tembok-temboknyapun kelihatan sudah berlumut. Hus jangan bisik-bisik gitu, kita bukannya mau berburu Dracula di situ. Mentang-mentang bentuk bangunannya mirip kastil-kastil di Eropa itu, jangan terus berpikir horror gitu ah. Meskipun bangunannya bergaya gothic, bangunan itu sepenuhnya bukan milik orang asing, bahkan bangunan itu sebetulnya merupakan sebuah museum yang didedikasikan untuk seni dan budaya Jawa. Jadi memang merupakan sebuah tempat yang pantang dilewatkan oleh para pecinta budaya, khususnya budaya Jawa. Namanya Museum Ullen Sentalu. Tuh lihat di pintu masuknya jelas terlihat namanya di sela-sela rimbunan pohon itu.

the entrance to the museum  ( pintu masuk museum )

the entrance to the museum ( pintu masuk museum )

“Namanya koq kedengaran tidak biasa ya? Bukan Bahasa Jawa rasanya, ataukah nama itu diambil dari Bahasa Sansekerta?” 🙄

Untuk namanya, memang sepintas seperti mempergunakan bahasa asing, tetapi sebetulnya Ullen Sentalu merupakan singkatan kata-kata dalam Bahasa Jawa, yaitu dari kata-kata ‘Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku’, yang mengandung arti ‘nyala dian yang menjadi penuntun dalam melangkah dan meniti kehidupan’. Hal ini sesuai dengan tujuan didirikannya museum tersebut oleh Yayasan Ulating Blencong pada tahun 1994 yang lalu, yaitu untuk melestarikan kebudayaan Jawa sehingga adanya museum ini bisa diibaratkan bagai sebuah lampu penerang yang bisa menerangi suasana redup yang melingkupi kebudayaan, khususnya Budaya Jawa, yang semakin terkikis oleh kemajuan jaman.

Di dalam museum tersebut tersimpan dan juga tersaji dengan apik berbagai benda, tulisan dan juga foto yang berkaitan dengan Dinasti Mataram yang pernah berkuasa di Tanah Jawa ini sebelum akhirnya pecah menjadi empat keraton, dua di Yogya dan dua lagi di Solo. Yang di Yogya adalah Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman; sedangkan yang di Solo adalah Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunegaran.

Untuk menjelajahi museum ini, pengunjung tidak dibiarkan kluyuran sendiri, melainkan dipandu oleh seorang pemandu yang menjelaskan dengan lancar dan cara yang cukup menarik mengenai isi keseluruhan museum itu dari ruangan ke ruangan, dari satu lemari pajang ke lemari pajang yang lain, dan dari satu panel ke panel yang lain juga. Lamanya penjelajahan ini kira-kira 1 jam. Jadi, kalau kebetulan ada pengunjung yang datang sendiri, biasanya akan digabung dengan pengunjung lain sehingga bisa membentuk suatu kelompok kecil.

Penjelajahan di dalam Museum Ullen Sentalu itu dimulai dengan memasuki Gua Selo Giri. Yang disebut dengan Gua Selo Giri ini sebetulnya bukan merupakan gua seperti bayangan kita, melainkan bangunan yang terletak sedikit di bawah permukaan tanah dan dibangun mengikuti kontur tanah dan juga akar-akar raksasa pepohonan yang sudah berusia ratusan tahun sehingga ruangan satu dengan ruangan lain dihubungkan dengan lorong-lorong. Dalam Gua Selo Giri ini pemandu menjelaskan mengenai sejarah dan kehidupan para bangsawan Dinasti Mataram jaman dahulu. Banyak benda dan lukisan baik besar maupun kecil yang merupakan peninggalan masa lalu terpajang di sana, antara lain perangkat gamelan dan lukisan-lukisan yang menggambarkan para penari keraton dan juga kehidupan para bangsawannya.

IMG_ULS02

Setelah keluar dari Gua Selo Giri, pengunjung akan diajak menjelajahi ruangan-ruangan lain berikutnya. Antara lain ruangan yang berisi berbagai macam batik, khususnya batik dengan pola-pola klasik. Di sini pengunjung memperoleh penjelasan menggenai kapan waktu yang tepat untuk mempergunakan batik dengan pola tertentu. Ternyata tidak sembarang pola batik bisa dipergunakan di setiap kesempatan lho :P. Dijelaskan pula beberapa corak batik yang diciptakan oleh puteri-puteri kraton dan latar belakang terciptanya pola batik tersebut. Misal saja pola batik truntum yang diciptakan oleh salah satu puteri keraton ketika hatinya bersedih kala mengetahui suaminya menikah lagi. Tetapi ketika suaminya melihat pola batik ciptaannya tersebut, sang suami kembali terbit rasa cintanya kepada puteri tersebut, sehingga pola batik itu dinamakan ‘truntum’ yang bisa berarti bersemi kembali <3.

Ada pula ruangan khusus yang seolah menjadi saksi kisah cinta seorang puteri dari Keraton Solo yang dikenal dengan nama Puteri Tineke, sehingga ruangan tersebut dinamakan Ruang Tineke, meskipun sebenarnya bernama Ruang Sekar Kedaton. Puteri Tineke adalah puteri dari Sunan Pakubuwono XI. Puteri yang bernama asli GRAy Koes Sapariyam ini memiliki kisah cinta yang cukup menyedihkan, karena hubungan cintanya dengan pemuda pujaannya tidak direstui oleh orang tuanya. Untungnya saat itu Sang Puteri memilik banyak kawan yang selalu mendukungnya. Dukungan itu berujud surat yang dikirimkan kepada Puteri Tineke dalam kurun waktu antara tahun 1939 – 1947. Sekarang, surat-surat yang pada umumnya berbentuk puisi cinta itu terpajang dengan rapi, bahkan disertai juga dengan foto-foto pengirimnya, serta juga diberikan terjemahannya karena sebagian surat-surat itu aslinya berbahasa Belanda. Pengunjung bisa membaca satu demi satu kumpulan surat yang sudah terpajang dalam panel-panel di dinding karena kesemua surat tersebut masih terawat dan tulisannya masih terbaca jelas. O ya, mungkin ada yang penasaran dengan akhir kisah cinta Puteri Tineke ini? Well . . . akhirnya adalah akhir yang indah seperti dalam buku-buku cerita dongeng, karena Sang Puteri akhirnya bisa menikah dengan pria pujaannya dan hidup berbahagia ❤ 🙂 ❤

IMG_ULS11

woman statue by the pool in the backyard (patung wanita di tepi kolam di halaman belakang museum)

Ruangan lain yang juga didedikasikan untuk seorang puteri dikenal dengan nama Ruang Puteri Dambaan. Dalam ruangan ini, pengunjung bisa lebih mengenal sosok Gusti Nurul, seorang puteri Keraton Mangkunegaran Solo yang betul-betul menjadi dambaan banyak pria pada saat mudanya karena selain memang berparas cantik, Gusti Nurul juga dikenal pandai dan cakap dalam menari, berkuda, bermain tenis dan juga berenang. Puteri Mangkunegoro VIII dengan Gusti Ratu Timur ini bernama asli GRAy Siti Nurul Kamaril Ngarasati Kusumawardhani. Konon pada waktu itu, hampir setiap sore Gusti Nurul berlatih menunggang kuda di suatu tanah lapang, dan setiap kali Gusti Nurul berkuda di situ, hampir dipastikan kalau tanah lapang itu akan dipenuhi para pemuda yang ingin menyaksikan kecantikan Gusti Nurul. Di dalam ruangan Puteri Dambaan tersebut terpajang banyak sekali foto Gusti Nurul, sejak beliau masih bayi sampai sekarang. Di antara foto-foto itu, tampak juga foto Gusti Nurul sedang menari di hadapan para tamu agung pada pesta pernikahan Puteri Juliana di Belanda. Uniknya, saat itu Gusti Nurul menari dengan iringan gamelan yang dimainkan di Solo dan diperdengarkan melalui sambungan telepon. Kalau jaman sekarang sih mungkin merupakan hal yang biasa, tetapi waktu itu merupakan hal yang sangat luar biasa. Gusti Nurul yang sekarang sudah berusia lebih dari 90 tahun dan tinggal di Bandung ini dikenal sebagai seorang puteri yang dengan tegas menentang poligami, sehingga pada masa mudanya berulangkali menolak pinangan para pangeran maupun pejabat tinggi yang pada saat itu biasa memiliki istri lebih dari satu.

Di ruangan lain dalam museum ini, pengunjung juga akan bisa mengetahui perbedaan busana pengantin Jawa gaya Surakarta dan gaya Yogyakarta. Di situ, selain dijelaskan secara detail apa saja perbedaannya pengunjung juga akan dijelaskan apa arti dari semua riasan dan perlengkapan busana yang dikenakan sang pengantin.

Sebelum mengakhiri kunjungan di museum ini, pengunjung akan diajak beristirahat sejenak di suatu ruangan. Di situ pemandu akan menyajikan minuman berupa ramuan berbagai bahan yang dipercaya bisa menyegarkan tubuh. Konon ramuan tersebut adalah ramuan yang berasal dari keraton. Rasanya . . . uenakkk lho, segar dan tidak pahit. Sayang gak boleh minta tambah 😀

IMG_ULS05

Penjelajahan dalam museum yang seolah membawa pengunjung ke jaman yang telah lampau itu diakhiri di sebuah ruangan yang merupakan sebuah toko, dimana pengunjung bisa membeli cendera mata, batik, baju dan lain sebagainya.

O ya, mungkin banyak yang bertanya juga mengapa tidak banyak foto yang aku sertakan dalam postingan ini. Ya, hal ini dikarenakan di dalam area museum, pengunjung dilarang mengambil foto. Jadi buat yang kurang puas dan ingin tahu lebih banyak, mampirlah ke Museum Ullen Sentalu kalau pas ke Yogyakarta 🙂 .—

IMG_ULS10

 

Summary:

The post is about a museum called Ullen Sentalu. The name was an abbreviation of a Javanese quotes “Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku” which can be translated freely as the light that guides people in their living on the world. The museum was located in a corner of Kaliurang, a resort at the slope of Mount Merapi, about 30 kilometers from Yogyakarta to the north.

The museum was a place to preserve Javanese culture as well as to display everything about Mataram Dynasty, a dinasty that once became the ruler of Java before then it was separated into four centers of authorities, two of them were in Yogyakarta and the other two were in Solo. In Yogyakarta they were known to rule from two palaces, Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat (Yogyakarta Sultanate) and Kadipaten Pakualaman (Pakualam Princedom); while in Solo there were Kasunanan Surakarta (Surakarta Sunanate) and Praja Mangkunegaran (Mangkunegara Special Teritory).

IMG_ULS01

To enter the museum, travelers would be escorted by an experienced guide who would lead the way and explain about everything in the museum. Yes this was a guided tour through the museum; and during the excursions, travelers were free to ask about everything related to the displayed items in there. The duration of the tour through the museum was approximately 1 hour.

To start the excursion, travelers would be guided through a tunnel to a room called Gua Selo Giri. The name Gua Selo Giri could be translated as the Mountain Stones Cave. It was not a real cave, actually. It has the name because the room was built underground like a cave, even though when people entered the room it was far from a look of a room in a cave. In the room, there was a set of ‘gamelan’ – Javanese traditional music instruments which was said to be given by the Sultan of Yogyakarta. There were also some big paintings depicting the life of Javanese noblemen in the past as well as paintings depicting the royal dancers in action.

IMG_ULS06

To come to the next room, travelers would pass through a path with many antique paintings and statues, most of the paintings were about the Sultans, Princes, and Princesses of the dynasty. In one of the room, travelers would be explained about the ‘batik’; how they were be made, the different style and pattern of ‘batik’ originated from Yogya and Solo, when one should wear a special pattern of ‘batik’, and also the story behind some of the ‘batik’ pattern.

There were also two rooms dedicated to certain princesses of Solo. The first one was called Balai Sekar Kedaton (the Princess Room) or most commonly known as Tineke Room because many things about Princess Tineke was displayed in the room; most of them were letters be written by the princess friends to encourage and support her when she was very depressed because she was not allowed to marry her lover by his father, the king of Solo called Sunan Pakubuwono XI. The princess, whose real name was GRAy Koes Sapariyam, received so many letters, either in Dutch as well as in Bahasa Indonesia during the period of the year 1939 through 1947. Most of the letters were poems. Now, most of the letters were on display together with the picture of the senders, so travellers could read and feel the same feeling as the princess, as all the letters were still intact. And . . . don’t you want to know how about the end of her love story? Well, as in almost every fairy tale, the story ended with happiness as the princess married her lover at last ❤ 🙂 ❤

modern style statues in the park  ( patung bergaya modern di taman belakang )

modern style statues in the park ( patung bergaya modern di taman belakang )

The other room that also dedicated to a princess was called Ruang Puteri Dambaan (the Room of the Desired Princess). The princess was known as Gusti Nurul, the daughter of Mangkunegoro VIII of Solo. Her real name was GRAy Siti Nurul Kamaril Ngarasati Kusumawardhani, and she was known for her beauty. She was also known as a smart girl as well as good in traditional Javanese dancing, horse ridding, lawn tennis and swimming. She was also known to strictly say no to polygamy, which was why she refused many marriage proposals sent by many princes and noblemen, because it was a common practice that kings and noblemen had more than one wife at that time. In the room, travelers could see many pictures of Gusti Nurul and could prove how pretty she was. Nowadays, Gusti Nurul, who was more than 90 years old, was lived in Bandung, Indonesia.

Well . . . to end this post, I think it was a trip worth to join, especially for travelers who love to explore many cultures 🙂 .–

Categories: Travel Notes | Tags: , , , | 73 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.