Posts Tagged With: sunrise

Silhouettes at the beach

That morning I woke up pretty early as usual. Aside of the intention to catch the sunrise, the hot and humid night air in the home-stay in which I spent my night along with my travel partner made my sleep was not too sound. The wish for a night showered by rain was still a wish although dark cloud hung low and the sound of rolling thunder was heard continuously.

img_kal02

I was in Kalala. A beach located in Melolo Sub-district, East Sumba, Indonesia. It was about 115 kilometers from Waingapu to the south east. Some people often said that Kalala was a kind of private beach because the beach was rarely visited by tourists. Only local fishermen and a few surfers visited Kalala. And what I saw that morning proved that what people said about the beach was true. It was just my travel partner and me who wandered at the beach. Well . . it really was like a private beach  🙂

img_kal01

At low tide, the beach was quite wide. The sands was white and looked perfect to do many outdoor activities. Not too far to the west, a port which was still in construction was clearly visible. A range of hills also clearly seen in afar, seemed like a background of the port.

img_kal04

I moved to the east in order to look for a perfect spot to capture the sunrise. Alas! The sun was not rise from the direction of the sea; it was rise from behind the trees instead. But wait . . . although I could not directly see the rising sun, the effect to the trees at the foreground was quite pretty, at least for me  :P. The pre-dawn light made the trees looked as silhouettes at the beach. Along with my post this time, I attached some pictures I captured in Kalala at that time. Please enjoy!  😀

Keterangan :

Pagi itu, seperti biasa aku sudah bangun ketika hari masih gelap, aku bangun mendahului sang matahari yang masih lelap di peraduannya yang berada di bawah kaki langit. Tapi waktu itu aku bangun bukan hanya karena ingin menyaksikan saat-saat terbitnya sang matahari saja, melainkan juga karena kegerahan. Bisa jadi mendung tebal yang memayungi kawasan home-stay dimana aku dan partner jalanku menginap malam itu yang menjadi salah satu penyebab gerahnya udara semalaman. Sayangnya, sampai pagi pun hujan yang diharapkan bakal bisa membuat udara menjadi sedikit sejuk, tidak turun juga  😦

img_kal03

O ya, aku belum bilang ya kalau waktu itu aku menginap di Pantai Kalala, sebuah pantai yang terletak di Kecamatan Melolo, Kabupaten Sumba Timur. Tidak terlalu jauh dari Pantai Watu Parunu yang sudah aku kunjungi sebelumnya. Untuk berkunjung ke pantai ini, jarak sejauh kurang lebih 115 kilometer dari Waingapu mengarah ke tenggara dapat ditempuh selama kurang lebih 3 jam dengan kendaraan pribadi melalui jalan yang relatif sudah bagus.

Pantai Kalala belum terlalu banyak dikenal pelancong. Makanya mereka yang sudah pernah ke sana mengatakan kalau Pantai Kalala mirip pantai pribadi. Ya pantai pribadi yang sepi. Bagaimana tidak, hanya nelayan setempat dan beberapa turis yang datang untuk menunggangi ombak di atas papan selancar saja yang datang ke sana. Dan apa yang dikatakan orang itu memang aku buktikan ketika aku mulai menapaki pasir pantainya yang lembut. Pantai Kalala betul-betul sepi. Nggak ada orang lain yang terlihat di pantai itu selain aku dan partner jalanku, meskipun tidak jauh dari pantai aku lihat ada sebuah kapal yang teromang-ambing ombak. He he he . . . sekali lagi aku jadi merasakan nikmatnya punya pantai pribadi  😛

img_kal08

Pada saat air laut surut, maka Pantai Kalala akan tampak sangat luas sehingga cocok untuk melakukan berbagai aktifitas olah raga pantai. Di sisi sebelah barat, tampak sebuah dermaga yang sedang dalam pembangunan dengan latar belakang deretan bukit yang seolah menjadi pembatas antara laut dan daratan.

Aku dan partner jalanku memutuskan untuk menyusuri pantai mengarah ke timur dengan tujuan mencari spot yang tepat untuk mengabadikan saat-saat terbitnya matahari. Eh tapi … waduh! Ternyata mataharinya nggak muncul dari arah laut yang terbuka, melainkan justru dari balik pepohonan. Tapi … ternyata nggak sia-sia juga bercapek lelah menyusuri pantai ke arah timur karena ternyata pemandangan yang tersaji cantik juga koq meskipun aku nggak bisa secara langsung melihat munculnya sang bola merah raksasa dari balik cakrawala. Cahaya fajar yang kemerahan dan berangsur berubah menjadi kuning membuat pepohonan yang ada di tepi pantai itu seolah bayangan. Nah supaya aku nggak nulis terlalu panjang untuk menggambarkan apa yang aku lihat di Pantai Kalala pagi itu, aku menyertakan beberapa foto yang aku dapatkan di postingan kali ini juga. Please enjoy!  😀

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 10 Comments

A romantic morning in nature

img_hpm01

This is not a love story  😛

At that time, as usual, early in the morning I was already on the street to look for sunrise moments in the area. I was in Yogyakarta back then; a city which known as one of Indonesia’s center of art and culture. The destination I chose that morning was Imogiri area, which could be reached in approximately 1 hour drive from Yogyakarta’s city centre to the south. The place was located in a hilly area.

That morning, Yogyakarta’s streets and roads were not crowded and I was already in a place called Hutan Pinus Mangunan (Mangunan Pine Forest) in a predicted time. The tranquillity of the area was still undisturbed by neither travelers nor stall owners that were still doing their daily routines in their own homes. Only an old man was already busy sweeping the area in front of his unopened simple stall.

Leaving the car in the parking area, I hurriedly walked crossing the road and entering the forest area. The morning sun rays piercing through the pine leaves and shone the forest area with yellowish light. I stepped on the dried pine leaves that made the land looked brownish in order to look for an open space so I could get a clear view to the rising sun and valley below; and . . . fortunately I found the place that I looked for 🙂

img_hpm02

In there, facing to the east, there was a wooden platform which was built in a simple but artistic way. From above the platform, I had a clear view to the rising sun and the sea of cloud in the valley below as I expected.

img_hpm03

img_hpm04

After some time, when I finished taking pictures, I then realized that there was a young couple waiting for me before the platform. Seemed that they want to enjoy the tranquillity of the place together but they did not want to disturb me taking pictures. So, I packed quickly and stepped down from the platform and motioned them to take my place in the platform. A warm greeting following a brief chit chat with the couple, and then I left them enjoying their special moments there witnessed by the sun.

Did I really leave them alone?

Well . . . not really. I found their presence in the platform was quite photogenic. So . . . I took some pictures of them from afar :mrgreen:, and I shared the results in here, too 😛

img_hpm08

The more than 1,200 acre pine forest area was located in Mangunan Village which was administered under Dlingo Subdistrict, in Yogyakarta, Indonesia. Nowadays, Hutan Pinus Mangunan became one of the main tourist destinations in Yogyakarta, especially for teenagers. For them the pretty scenery in the forest was a perfect background for their pictures. Many couples also took pictures in there as they believed the straight trunk of the pine trees resembled their pure love and the evergreen pine leaves resembled their everlasting love. Perhaps it was the same reason that also attracted many couple to take their pre-wedding pictures in there 😛

Anyway, to be honest, I want to go back there to take more pictures in the forest. There were many parts of the forest which I hadn’t explored yet at that time. Perhaps in any other time in the near future I would have more time to explore. Care to join me? 😉

img_hpm13

img_hpm18

Keterangan :

Pagi itu, seperti biasa aku sudah berada di jalan sementara banyak orang lain masih bergelung di bawah selimut. Tujuanku juga masih sama, berusaha memperoleh momen-momen indah ketika sang surya mulai memancarkan cahayanya yang memberikan kehidupan kepada semua makhluk di bumi ini.

Waktu itu kebetulan aku sedang singgah di Yogyakarta, sebuah kota yang dikenal sebagai Kota Pelajar dan juga yang dikenal sebagai salah satu kota yang menjadi pusat kebudayaan di negeri kita ini. Dan tujuanku pagi itu mengabadikan keindahan saat-saat matahari terbit di perbukitan di daerah Imogiri dan sekitarnya.

Dengan jalan-jalan di Yogyakarta dan sekitarnya yang masih relatif sepi di pagi hari itu, dalam waktu kurang lebih satu jam aku sudah sampai di Hutan Pinus Mangunan. Ketika aku sampai di sana, keadaan masih sepi, Belum terlihat adanya pengunjung lain yang datang. Warung-warung yang ada pun rata-rata masih tutup. Hanya terlihat seorang bapak tua sedang menyapu halaman warungnya.

Setelah kendaraan yang membawaku ke sana terparkir dengan baik di lapangan parkir yang tersedia, aku bergegas menyeberangi jalan dan masuk ke kawasan hutan pinus itu. Sinar mentari yang kekuningan terlihat menerobos di sela-sela pokok pinus menambah keindahan kawasan hutan itu.

img_hpm09

Aku terus berjalan menyusuri jalan setapak yang ada mencari kawasan yang terbuka sehingga pandanganku ke arah terbitnya matahari tidak terhalang. Udara yang sejuk membuat langkahku ringan menginjak hamparan daun pinus kering yang seolah karpet tebal yang menutupi tanah hutan. Dan . . . untungnya aku bisa menemukan tempat seperti yang aku cari itu 🙂

img_hpm10

Di situ, aku menemukan sebuah anjungan kayu sederhana yang dibangun dengan bentuk cukup artistik. Dari atas anjungan itu, pandangan ke arah timur tidak terhalang apapun. Matahari pagi dengan sinarnya yang keemasan menyinari hamparan awan yang bak lautan di lembah di bawahnya bisa terlihat dengan jelas.

img_hpm12

Saking asyiknya menikmati keindahan yang tersaji sambil sesekali mengabadikannya, aku tidak menyadari kalau ternyata ada sepasang merpati yang menunggu untuk naik ke anjungan kayu itu. Karena itulah aku segera berkemas dan turun, memberikan kesempatan kepada keduanya untuk naik ke anjungan kayu itu. Setelah berbasa basi sebentar, aku kemudian meninggalkan mereka berdua menikmati saat-saat pribadi mereka berdua.

Eh tapi nggak juga ding :mrgreen:

Jujur aku akhirnya nggak betul-betul meninggalkan mereka berdua sendiri. Posisi mereka berdua yang sedang berada di anjungan kayu terlalu indah untuk dilewatkan tanpa diabadikan. Karena itulah aku tergoda untuk mengabadikannya dalam bentuk siluet dari kejauhan. Sorry ya Mas dan Mbak . . . 😳

Hutan Pinus Mangunan terletak di Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, yang masuk wilayah Kabupaten Bantul di Yogyakarta. Hutan seluas lebih dari 500 HA ini sekarang menjadi salah satu tujuan Wisata alam yang banyak dikunjungi pelancong baik dari Yogayakarta sendiri maupun dari luar kota. Kebanyakan pelancong yang datang masih berusia muda. Keindahan pemandangan di dalam kawasan hutan membuat banyak orang ingin berfoto di sana. Bahkan banyak juga pasangan-pasangan yang melakukan sesi foto pre-wedding di sana.

img_hpm17

Aku sendiri masih pengin kembali ke sana lagi. Aku membayangkan alangkah indahnya kalau aku bisa mendapatkan foto kawasan hutan pinus itu ketika kabut tipis melayang dan menyelinap di antara pokok-pokok pinus yang berdiri tegak dalam kesunyian. Ada yang mau ikutan ke sana? 😉

img_hpm11

img_hpm19

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 10 Comments

Visiting the land above the clouds

I was in Bali back then. Yes Bali, an island in Indonesia which was known as an island with thousands Hindhu Temples. Bali was also known as the island of gods; and as we all believe, gods were lived in a place high above, even beyond the clouds. Up till now, many people still wondering what was it like to live gods’ life.

Well . . . in Bali travelers could feel the feeling, not all for sure; at least to feel how it was like when the clouds were below us. Of course everybody could feel such a feeling in any places in the world when they climb a high mountain. But for that, travelers should spend a great effort to reach the top of a mountain.

 

IMG_PIN01

Here in Bali, travelers could enjoy the same feeling without much effort. They just need to wake up early and then drove to Kintamani.

Kintamani . . . ?

Yes, Kintamani; a region in Bali where travelers could enjoy the cool breeze of Bali highland and also a pretty scenery of a valley with Mt. Batur as the background. In the morning, the valley would be covered with fog that showered by the yellow sunshine. From certain places, the vista was amazing as the fog was looked like a blanket made of clouds spread over the valley.

IMG_PIN07

One of the best places to see such a view was from Pinggan Village. A village located just about 14 kilometers to the east from Kintamani. It was at about 1,000 meters above sea level, so the temperature would be pretty cool at dawn, say about 15 degree Celsius. It was said that Pinggan Village was one of the old villages of Bali since it had already existed since the thirteenth century.

IMG_PIN03

To get the amazing and yet mystical view of clouds covering the village, travelers should come early to the place. Before 6 AM was enough. So for travelers who spent their night in Kuta region, they should start at about 3 AM because it needed about 3 hours drive from Kuta to Kintamani.

IMG_PIN04

Anyway, here I presented to you some pictures I got from the land above the clouds. Hope you can enjoy  🙂

IMG_PIN09

IMG_PIN10

Keterangan :

Kali ini aku mampir ke Bali. Ya . . . Bali, sebuah pulau yang dikenal sebagai Pulau Beribu Pura. Disamping itu, Bali juga dikenal sebagai Pulau Dewata karena keindahannya bak negeri para dewata di atas sana.

Atas . . . ?   😯

Iya, hampir semua orang percaya bahwa para dewa tinggal di atas sana, jauh di atas awan; dan tahu nggak sih kalau sampai sekarang banyak orang sangat ingin merasakan bagaimana sih rasanya hidup bagaikan para dewa di atas sana? Dimana kita bisa memandang hamparan awan yang ada di bawah kita.

IMG_PIN08

Memang keinginan untuk berdiri di suatu tempat sambil memandang hamparan awan di bawah kita bisa saja terpenuhi dimana saja selama kita mau sedikit bercape lelah mendaki gunung. Tapi di Bali ada suatu tempat dimana kita bisa merasakan pengalaman seperti itu tanpa harus bercape lelah mendaki gunung. Pengorbanan yang harus kita berikan hanyalah berkurangnya waktu tidur kita karena kita harus bangun subuh kemudian berkendara ke Kintamani.

IMG_PIN11

Ya Kintamani yang terletak di dataran tinggi memang memungkinkan para pelancong memandang keindahan daerah yang letaknya lebih rendah di kejauhan dengan Gunung Batur yang berdiri kokoh sebagai latar belakangnya.

Kala subuh, di beberapa lokasi, akan tampak hamparan awan yang seolah selimut tebal berwarna putih menutupi lembah yang masih terlelap. Sedikit demi sedikit selimut putih itu akan mulai dihiasi semburat jingga terkena pantulan sinar sang mentari yang baru bangun dari peraduannya.

IMG_PIN02

Nah . . . salah satu tempat terbaik untuk menyaksikan keindahan itu adalah dari Desa Pinggan. Sebuah desa yang berjarak kurang lebih 14 kilometer ke arah timur dari Kintamani. Dengan ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut, tidaklah mengherankan kalau udara di sana ketika pagi menjelang lumayan dingin. Bisa sampai 15 derajat Celsius lho. Jadi buat yang nggak tahan dingin, sebaiknya jacket jangan sampai dilupakan. Sebagai informasi tambahan, Desa Pinggan merupakan salah satu desa tua yang ada di Bali; konon sudah ada sejak abad ke XIII.

IMG_PIN05

Pada postingan kali ini, aku sertakan beberapa foto yang aku ambil di salah satu sudut Desa Pinggan. Dan untuk mendapatkan foto-foto sejenis, sebaiknya pelancong sudah berada di lokasi sebelum jam 6 pagi.

Ya nggak masalah bagi mereka yang memang menginap di Kintamani. Tapi bagi mereka yang menginap di daerah Kuta . . . siap-siap sajalah untuk bangun selepas tengah malam karena jarak Kuta – Kintamani biasanya ditempuh selama 3 jam.

IMG_PIN06

Jadi . . . tertarik mau merasakan sensasi berdiri memandang awan yang berarak di bawah kita tapi tanpa kita perlu bersusah payah? 😛

IMG_PIN12

IMG_PIN13

IMG_PIN14

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 48 Comments

Blog at WordPress.com.