Monthly Archives: December 2015

Welcoming the New Year

Today is December 31, the last day of the year. And as I posted it, it has already been almost midnight in my part of the world. In a couple hours the new day will begin. The dark will soon be replaced by the light. The sun will rise in the east, but this time it will be different compared to the sunrises that happened before. The very next sunrise will mark the New Year. The year 2016.

IMG_WAL01

A new year represents a new hope. Let’s leave all the bad things behind as we move forward to pursue more successes. There will be many challenges that should be conquered, as well as many obstacles that should be faced; but behind all those challenges and obstacles, there must be successes waiting for them who can pass all the difficulties they found along the way.

Sunrise is a special moment when the dark gradually vanishing and turn into light, when night become day. The process usually being waited by many sunrise lovers because of its beauty. The beautiful scene will be more perfect if we enjoy it from a beautiful place too.

IMG_WAL02

The place where I took these pictures, for example, was quite pretty. It’s called Walakiri Beach. The beach, like many other beaches in Sumba Island, Indonesia, was sloping and the sand on the beach was white. The water was quite clear and waves were not too big. Coconut trees were standing along the shore and made scenery at the beach more picturesque.

IMG_WAL03

Walakiri Beach was located about 24 kilometers from Waingapu to the east. The road to the beach area was quite good, and travelers could reach the beach in about 30 minutes drive from Waingapu. Unfortunately, it seemed that no public transport covering the area although the beach was one of the locals most preferred beach to visit on the week-end and in the holiday time. To visit it, travelers should rent a car from Waingapu.

IMG_WAL07

On the shore, travelers could enjoy the tranquil atmosphere of the sunrise as well as the warm atmosphere of the sunset as the beach was facing north, to the Sumba Strait. At that time, I was there early in the morning to catch the sunrise, perhaps next time I will go there in the afternoon to enjoy the sunset

And as this is my last post in 2015, before I close it, allow me to wish you all my friends, a happy and prosperous new year in 2016  🙂  .—

IMG_WAL11 IMG_WAL12 IMG_WAL13 IMG_WAL14 IMG_WAL15

 

Keterangan :

Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2015. Ya . . sekarang sudah tanggal 31 Desember; dan ketika aku meng-up load tulisan ini, waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam di sini. Jadi . . beberapa saat lagi hari baru akan terjelang. Kegelapan akan segera digantikan dengan terang yang ditandai dengan terbitnya sang surya di ufuk timur.

Hal yang selalu terulang tiap hari kan?

Ah tapi kali ini beda. Kali ini terbitnya sang surya akan menandai datangnya tahun yang baru. Tahun 2016.

IMG_WAL08

Tahun yang baru berarti juga harapan yang baru. Mari kita tinggalkan hal-hal yang jelek dan tidak mengenakkan yang kita alami di tahun 2015 dan kita terus maju untuk menyongsong kesuksesan baru di tahun 2016. Tentunya akan banyak tantangan maupun rintangan yang harus kita hadapi di tahun yang baru, tetapi yakinlah bahwa setelah semua penghalang itu bisa kita taklukan, kita akan memperoleh hasil yang sepadan dengan perjuangan kita.
Saat-saat terbitnya sang bagaskara adalah saat-saat yang bagi banyak orang dipandang sebagai saat-saat yang penuh misteri sekaligus juga penuh keindahan. Saat-saat kegelapan secara perlahan digantikan dengan terang biasanya membuat langit penuh warna dan nampak sangat indah, apalagi kalau kita menyaksikan saat-saat itu dari tempat yang indah juga.

IMG_WAL09

Pantai dimana aku mengabadikan momen terbitnya sang matahari yang hasilnya aku sertakan dalam postinganku kali ini, misalnya, tampak cukup indah. Pantai ini dikenal dengan nama Pantai Walakiri. Dan seperti di kebanyakan pantai lain di Sumba, Pantai Walakiri selain landai juga berpasir putih. Airnya yang jernih dan berombak kecil cukup menggoda siapapun untuk bermain air di situ. Deretan pohon kelapa yang berdiri di tepi pantai menambah keeksotisan Pantai Walakiri, apalagi di sisi barat juga terdapat rumpun mangrove dengan bentuknya yang unik yang juga memberikan kesan tersendiri bagi siapapun yang berkunjung ke sana.

IMG_WAL10

Pantai Walakiri ini cukup dekat dengan Waingapu; jaraknya kurang lebih hanyalah 24 kilometer dari Waingapu. Akses jalan menuju pantai ini dari Waingapu juga cukup lebar dan beraspal mulus disamping tentu saja relatif tidak macet. Waktu tempuh rata-rata dari Waingapu ke Pantai Walakiri hanyalah 30 menit. Karena itu pantai ini menjadi lokasi favorit bagi penduduk setempat untuk menghabiskan hari-hari libur mereka; hanya saja kelihatannya belum ada kendaraan angkutan umum yang melayani rute dari Waingapu ke Pantai Walakiri ini, sehingga para pelancong yang ingin berkunjung ke pantai ini haruslah mempergunakan kendaraan pribadi ataupun mempergunakan kendaraan sewa yang bisa diperoleh di Waingapu.

Pantai Walakiri menghadap ke Utara, ke arah Selat Sumba. Dan karena posisinya itu, pelancong dapat menikmati saat-saat terbitnya matahari seperti maupun saat-saat terbenamnya sang surya. Ketika itu, aku hanya berkesempatan menikmati saat-saat terbitnya sang bagaskara, mudah-mudahan saja aku memperoleh kesempatan berkunjung lagi ke sana pada sore hari, sehingga akan lengkaplah perjalananku ke Pantai Walakiri karena bisa menikmati fajar dan senja dari pantai yang sama.

IMG_WAL16

Kemudian, karena ini adalah postinganku yang terakhir di tahun 2015, sebelum aku mengakhiri tulisan ku kali ini, perkenankanlah aku menyampaikan Selamat Tahun Baru kepada semua rekan, sahabat dan juga semua yang sempat mampir dan membaca tulisanku ini. Mudah-mudahan tahun 2016 lebih baik dan membawa banyak kebahagiaan buat kita semua. Amin.–

IMG_WAL17

Advertisements
Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 25 Comments

I wish you a very merry Christmas

It has been almost a month since stores and buildings started to be decorated with ornaments which represented a special occasion that happens once every year. An occasion which made almost everybody happy and full of joy. Yes . . it is Christmas time, my friend.

Look . . Christmas trees have been standing in many places. Malls and offices seemed as if they were competing each other to brighten the atmosphere with their Christmas decorations. Christmas songs were played; either by choirs on a stage or just recorded songs played and amplified through a building’s audio system. Men dressed up as Santa walking around in certain malls greeting people, especially the little ones and offering candies to them. Some of the children asked their parents to be allowed to sit on Santa’s lap and been photographed. Others also using Christmas ornaments as the background of their pictures as many Christmas decorations looked so pretty.

IMG_C1509

The Christmas decorations which pictures I put in here, for example, were quite beautiful; more than that, they were animated which in turn attracted more people to come and see. They were put in the atrium of a big mall in West Jakarta, Indonesia, known as Mall Taman Anggrek.

IMG_C1504

Anyway, along the post, I want to say Merry Christmas to all my friends and families, and to everybody who celebrate the special occasion. May your Christmas always be merry and also full of wonderful things that bring joy among your family 😀 .—

IMG-C1507

Keterangan :

Sudah sejak sebulan belakangan ini banyak gedung dan mall yang mulai bersolek dengan berbagai hiasan indah yang mencirikan suatu peristiwa yang selalu terjadi sekali tiap tahunnya. Suatu peristiwa yang selalu membawa suasana ceria. Ya . . bulan Desember telah tiba dan berarti Natal telah tiba pula 😀

IMG_C1503

Kalau kita lihat, gedung-gedung perkantoran dan juga pertokoan menjadi lebih meriah selama sebulan ini karena berbagai hiasan bertema Natal yang mereka pasang. Suasana Natal juga makin terasa dengan diputarnya lagu-lagu Natal. Di beberapa mall, kadang Nampak juga orang-orang berpakaian Santa Klaus berjalan mondar mandir menyapa pengunjung, khususnya anak-anak. Anak-anakpun dengan riang meminta pada orang tuanya agar diperbolehkan duduk di pangkuan Santa dan di foto. Pengunjung lain banyak pula yang sengaja berfoto di depan berbagai dekorasi bertema Natal karena dekorasi yang terpasang di banyak mall dan gedung itu memang indah-indah.

IMG_C1505

Dekorasi bertema Natal yang foto-fotonya aku sertakan di postinganku kali ini misalnya, betul-betul indah. Apalagi berbagai dekorasi berbentuk boneka itu bisa bergerak. Dekorasi indah dan unik ini terpasang di atrium Mall Taman Anggrek yang berlokasi di Jakarta Barat. Dengan adanya dekorasi indah ini, semarak suasana Natal jadi makin terasa dan pengunjungpun semakin banyak pula.

IMG_C1506

Eniwei, dengan postinganku kali ini, aku juga ingin mengucapkan Selamat Hari Natal kepada semua sahabat, teman, maupun siapa saja yang berkesempatan membaca postinganku kali ini dan juga merayakannya. Semoga damai dan keceriaan Natal selalu ada di antara kita semua 🙂 .–

IMG_C1508

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 32 Comments

Whispering grass on a hill

I was still in Sumba, Indonesia, by then, and I was on my trip to Waingapu. Before entering the city from the west, I saw a narrow hill on the left side of the main road. There was nothing interesting about the hill if travelers looked at it from the road. It was just an ordinary hill like many other hills which could be easily found in Sumba Island. It was only a hill which covered by not-so-tall grass. And as I came to the place in the middle of a long dry season, I found the grass that covered the hill was yellowish.

IMG_WAR01

When I climbed the hill and came to the top, the pretty scenery unfolded before my eyes. A row of narrow hills spread on either side of a valley; and behind those hills there were more hills stretch as far as our eyes could see.

IMG_WAR02

I stood at the top for a while, adoring the scenic vista and also looked at the grass overlaying the hills that looked like a thick blanket covering all the hills in the area. And when the soft breeze blew softly, the grass started to whisper in an unknown language telling the story of how eons ago God created the hills and arranged them in such a way in Sumba Island until they formed unique but beautiful scenery which became one of the assets which the Sumbanese proud of.

IMG_WAR03

The hill was known as Warinding Hills. Travelers could reach the hills within 30 to 60 minutes drive from Waingapu, the capital of East Sumba Regency. Unfortunately there were no public transport covering the area, so for them who wanted to come to Warinding Hill, it would be better if they used a rented car which could easily find in Waingapu.

Visiting Warinding Hills in different times would result in having different pictures. In the rainy season, Warinding Hills and all the hills in the area were green, but in the dry season, the hills were decorated mostly in yellow and brown colors.

IMG_WAR07

So . . . which one do you prefer? Green hills or yellowish hills? I prefer yellowish hills as you can see in the pictures I put in the post. No special reason actually, just looked more exotic for me if a hill was covered by yellowish grass 😀 .—

IMG_WAR08

IMG_WAR09

 

Keterangan :

Waktu itu kendaraan yang aku tumpangi sudah mendekati kota Waingapu dari arah barat ketika Pak Agus menawarkan untuk mampir sebentar di sebuah tempat kurang lebih berjarak 30 kilometer dari Waingapu. Aku ingat banget Pak Agus bilang kalau di sekitar situ ada satu bukit kecil yang belakangan ini banyak dikunjungi pendatang padahal menurut Pak Agus nggak ada istimewanya. Apa yang dikatakan Pak Agus sontak menimbulkan rasa ingin tahu ku sehingga aku menerima tawarannya untuk singgah sejenak di situ. Memang sih kalau di lihat dari arah jalan raya nggak ada sesuatu yang istimewa. Bukit itu hanyalah bukit biasa yang terletak di sebelah kiri jalan utama sama seperti bukit-bukit lain yang juga ada di kanan jalan. Sebuah bukit yang permukaannya ditumbuhi rerumputan yang tidak terlalu tinggi.

IMG_WAR10

Tetapi ternyata bukit yang tampak biasa itu menjadi tidak biasa ketika aku sudah sampai di puncaknya yang tidak terlalu tinggi. Aku mendapatkan sebuah pemandangan yang sempat membuatku terbengong sesaat. Bagaimana tidak, dari puncak bukit itu sejauh mata memandang kelihatan gundukan-gundukan bukit yang lebih rendah yang seolah ditata membentuk panorama yang unik tapi juga indah. Permukaan bukit-bukit itu terlihat kuning kecoklatan karena rumput yang menutupi permukaannya mengering dihajar kemarau berkepanjangan.

IMG_WAR11

Beberapa saat aku menghabiskan waktu di puncak bukit itu, menikmati keindahan panorama yang tersaji dengan dibelai semilir angin yang sejuk meskipun aku kesana di tengah hari bolong. Dan ketika angin mulai bertiup sedikit lebih kencang, aku mulai mendengar desahan lembut yang disuarakan oleh hamparan rumput di atas bukit itu.

IMG_WAR12

Aku terdiam mendengarkan cerita alam yang disampaikan mereka, bagaimana terbilang abad yang lampau para Dewata mulai membentuk bukit-bukit itu dan menatanya dengan cita rasa surgawi di Tanah Sumba bagian timur, kemudian menutupi jajaran bukit yang sudah terbentuk itu dengan hamparan rumput yang tebal sehingga menciptakan pemandangan yang membuat siapapun yang melihat tidak akan merasa bosan untuk menikmatinya. Jujur aku iri dengan beberapa penduduk yang bertempat tinggal di situ karena mereka dapat tiap saat menikmati keindahan tempat itu sambil duduk-duduk di teras rumah mereka yang sederhana.

IMG_WAR13

IMG_WAR14

Bukit yang aku maksud dikenal dengan nama Bukit Warinding. Belakangan namanya makin berkibar ketika keindahannya terekspos dalam sebuah film nasional yang pengambilan gambarnya dilakukan di sana. Sayangnya untuk menuju ke Bukit Warinding masih memerlukan usaha sedikit lebih karena kendaraan umum yang melewati tempat itu masih sangat jarang kalau malah bisa dibilang nggak ada. Jadi . . paling aman ya mempergunakan kendaraan sewa yang bisa didapatkan di kota Waingapu.

IMG_WAR15

Kalau kita berkunjung ke Bukit Warinding di musim berbeda pastinya akan memperoleh pemandangan yang berbeda juga. Di musim penghujan, pemandangan di Bukit Warinding tentunya akan didominasi warna hijau karena rumput yang menutupinya memperoleh cukup air, sementara di musim kemarau panorama tentunya akan didominasi warna coklat kekuningan dari hamparan rumput yang mongering. Sama seperti ketika aku berkunjung ke sana waktu itu.

IMG_WAR16

Jadi . . . mana yang lebih teman-teman sukai? Kalau aku sih lebih suka kalau hamparan rumputnya menguning. Kelihatan lebih eksotis aja menurut aku. Kalaupun hamparan rumput itu menghijau, aku yakin keindahannya tidaklah kalah dengan ketika hamparan rumput itu menguning. Tapi apapun pilihannya, satu yang harus tetap diingat oleh setiap pelancong yang bertandang ke sana, janganlah keindahan yang ada dinodai dengan sampah apalagi coretan-coretan cat yang ditorehkan hanya untuk membuktikan bahwa seseorang pernah sampai di sana. Biarlah kenangan dan bukti bahwa seseorang pernah sampai di sana hanya berwujud foto-foto saja, meskipun apa yang terekam melalui kamera tidak bisa menyamai keindahan yang kita lihat langsung ketika kita berdiri di Bukit Warinding itu.—

IMG_WAR17

IMG_WAR18

IMG_WAR19

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 20 Comments

Blog at WordPress.com.