Monthly Archives: December 2016

My last post in 2016

“A large drop of sun lingered on the horizon and then dripped over and was gone, and the sky was brilliant over the spot where it had gone, and a torn cloud, like a bloody rag, hung over the spot of its going. And dusk crept over the sky from the eastern horizon, and darkness crept over the land from the east.”
― John Steinbeck, The Grapes of Wrath

img_tak01

Every day, God provide us with two brilliant shows which never be the same; one in the early morning and the other in the late afternoon. The shows always free for us to enjoy, but almost all of us tend to let the shows gone. The title of the shows was sunset and sunrise. Same titles every day, never ceased even just for a single day.

Today was the last day of 2016. So the sunset would be the last show in 2016. The last sunset of 2016 was the mark that tomorrow would be the first sunrise in 2017. A new year which surely would be full of anything that we should face and conquer in an optimistic way.

In that case, along with the last sunset of 2016, let us throw away any hurt feeling, hatred, envy, disappointments and any other bad feelings. Let us forget those all bad memories and prepare ourselves in welcoming the first sunrise of 2017 that bring along the hope of new beginnings and possibilities.

Happy New Year to you all. May the New Year brings us good times, happiness, health and great success 🙂

Anyway, the pictures in here were taken in Takisung Beach, a beach located in Pelaihari District, South Kalimantan, Indonesia. The beach could be reached easily within 2 hours drive from Banjarmasin through a relatively good road.

img_tak02

Takisung Beach had already been developed into a tourist destination and also been equipped with many public facilities. At the beach there were many simple stalls that sold simple foods and refreshments as well as souvenirs. An operator at the beach rented some unit of ATVs to travelers. Many sampan owners also offered to bring travelers riding their sampans around the beach or visiting small islands off the shore.

img_tak03

The beach itself was a beach with brown sands. The water was quite muddy so it was not suitable for swimming even though the wave was calm. People usually came to the beach just for enjoying the facilities or waiting for the sunset as the beach facing to the west.

img_tak04

As far as I know, Takisung Beach was the most popular beach among any other beaches in Pelaihari District. No wonder there was always travellers at the beach almost every day. And since it was the most popular beach in there, it was easy to find the direction to the beach. I believe if the beach could be managed well, it will become the main tourist destination of Pelaihari.—

img_tak06

img_tak07

img_tak08

Keterangan :

Disadari ataupun tidak, tiap hari Sang Maha Pencipta menyajikan dua buah pertunjukan akbar yang tidak akan pernah sama sampai kapanpun; satu di kala fajar dan yang lainnya di kala senja. Pertunjukan itu selalu diberikan untuk dinikmati secara gratis oleh seluruh umat manusia meskipun sebagian besar dari kita cenderung untuk mengabaikannya dengan berbagai alas an. Pertunjukan akbar itu dikenal dengan nama matahari terbenam dan matahari terbit. Judul yang sama tiap hari tetapi keindahannya tidak akan pernah sama.

img_tak12

Hari ini, tanggal 31 Desember 2016, merupakan hari terakhir di tahun 2016, sehingga matahari terbenam hari ini akan merupakan pertunjukan akbar terakhir yang digelar di tahun 2016 ini pula. Tetapi terbenamnya matahari kali ini bukanlah merupakan suatu akhir, justru ini merupakan suatu pertanda bahwa setelah sang bagaskara kembali ke peraduannya dan beristirahat sepanjang malam, esok dia akan datang lagi menyertai hari yang baru di tahun yang baru juga. Ya . . besok pagi akan merupakan pertunjukan akbar yang pertama di tahun yang baru. Tahun yang pastinya terdiri dari hari-hari yang harus kita lalui dengan cara menghadapi semua hal, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, dengan optimis dan dengan keyakinan bahwa di akhir tahun 2017 nanti kita akan bisa dengan bangga berkata “aku menang!

Karena itu, marilah semua rasa sakit hati, kebencian, iri dengki, kekecewaan dan semua perasaan buruk lainnya kita biarkan ikut terbenam bersama terbenamnya sang surya. Kita lupakan semua kenangan buruk yang kita alami di tahun 2016 dan kita ganti dengan semangat penuh menyambut tahun yang baru yang akan segera tiba. Tahun baru yang tentunya akan membawa harapan dan kemungkinan-kemungkinan baru juga.

Selamat Tahun Baru, Sahabat. Semoga tahun 2017 membawa damai, kebahagiaan, kesehatan dan juga kesuksesan buat kita semua   🙂

Anyway, foto-foto yang aku sertakan dalam postingan kali ini aku ambil di Pantai Takisung, sebuah pantai yang terletak di Kecamatan Takisung, Kabupaten Pelaihari, Kalimantan Selatan. Jarak sejauh kurang lebih 87 kilometer dari Banjarmasin dapat ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam berkendara melalui jalanan yang relatif sudah bagus.

img_tak13

Pantai ini sudah dikembangkan menjadi salah satu tujuan wisata daerah setempat, dan juga sudah dilengkapi dengan fasilitas umum. Di tepi pantai yang berbatasan dengan jalan raya telah didirikan lapak-lapak sederhana yang dipergunakan oleh penduduk setempat untuk berjualan makanan dan minuman selain juga cendera mata dan oleh-oleh khas daerah itu yang berupa berbagai jenis ikan asin. Lebih dekat ke batas air, ada juga orang yang menyewakan ATV kepada para pelancong.

img_tak14

Banana Boat juga tersedia untuk disewa bagi mereka yang berminat. Sementara itu, di bibir pantai, beberapa tukang perahu kelotok berteriak-teriak menawarkan jasanya mengantar para pelancong yang ingin berperahu di sekitar situ.

img_tak16

Di Pantai Takisung, telah dibangun tanggul pencegah abrasi, dan diatas tanggul ini didirikan huruf-huruf yang menandai nama pantai tersebut. Banyak pengunjung yang menyempatkan diri berfoto di depan tulisan itu.

img_tak15

Aslinya Pantai Takisung merupakan pantai berpasir coklat yang lembut. Pantai ini menghadap ke Laut Jawa sehingga ombaknya juga relatif kecil. Sayangnya air laut yang keruh kecoklatan menjadi kendala bagi siapapun yang ingin bermain air di sana. Mungkin adanya beberapa sungai yang bermuara di dekat situ berpengaruh terhadap tingkat kekeruhan air laut di Pantai Takisung. Karena itulah sebagian besar pengunjung di sana hanya bermain di pantai, berfoto ria, ataupun menunggu saat-saat terbenamnya sang matahari seperti yang aku lakukan di sana waktu itu.

img_tak05

Sejauh yang aku tahu, pantai ini merupakan pantai yang paling terkenal jika dibandingkan dengan beberapa pantai lain yang ada di Kabupaten Pelaihari. Karena itu, tidaklah mengherankan kalau pantai ini selalu ramai meskipun bukan pada hari libur atau akhir pekan. Para pedagang di sana pun rata-rata buka tiap hari, tidak seperti di pantai-pantai wisata lainnya. Dengan penataan yang lebih optimal, rasanya pantai ini akan bisa menjadi tujuan wisata utama di Pelaihari.–

img_tak11

Advertisements
Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 16 Comments

The unique church of Saint Francis of Assisi

First of all, allow me to wish you all who celebrate Christmas, a very Merry Christmas. May Christmas and all of your days be a perfect blending of good times, laughter, joy, love and never ending happiness  🙂

In this special occasion, I would like to introduce you to a unique church located in Berastagi, a small town in North Sumatra Province, Indonesia. The town was located 70 kilometers south of Medan, and on about 1,300 meters above sea level which made the climate was relatively cool. The cool climate was also the main reason why in the colonial era, the Dutch traders escaped the heat of Medan to Berastagi. And nowadays, at weekends or other holidays along the year, many Medan people as well as other visitors like to spend their days in Berastagi with the same reason as the Dutch traders in the colonial era.

Berastagi was also the area where Batak Karo people live. Their villages was scattered around with their culture still remain in their tradition and in the shape of their traditional houses which was made of wood with their high thatched roofs and specific ornaments.

As I mentioned earlier, there was a unique church in Berastagi. It was a Catholic Chruch, and I found it quite unique because of its structure, which was in the shape of a Batak Karo traditional house; although it was not built of natural materials as usually been used in the real Batak Karo traditional houses. From the information I’ve got, the building process, however, from the very beginning was following the ritual of traditional Batak Karo people when they built their own houses.

img_gfa07

The church was named after St. Francis of Assisi. It was located in the main road that connected Medan and Karo Highland, so travelers who passed the road would surely see the church as the church structure was quite high. The highest part of its roof was about 35 meters high, and as it stood in as relatively high part of the town, the top part of the church would be easily seen form a far.

img_gfa01

The church itself was quite big and could hold about 1000 people attending the regular Holy Mass. The main building was 32 meters long and 24 meters wide. In addition, there was also an open hall which could be used for many kind of activities related to the church.

Nowadays, the church which was inaugurated on February 20, 2005 still be used to celebrate holly mass regularly. Aside of that, because of its unique structure, it became one of Berastagi’s point of interest  🙂

Keterangan :

Pertama-tama, perkenankanlah aku menyampaikan Selamat Hari Natal kepada sahabat, teman dan siapapun juga yang kebetulan membaca postingan kali ini dan merayakan Natal. Semoga Natal membawa damai dan mengisi hari-hari kita dengan keceriaan dan kebahagiaan 

Pada kesempatan ini pula, aku ingin mengajak pengunjung blog-ku ini jalan-jalan ke Berastagi melalui postingan kali ini. Ya Berastagi sebuah kota kecil yang terletak kurang lebih 70 kilometer di sebelah selatan Medan. Sebuah kota kecil berhawa sejuk karena lokasinya yang berada di ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut. Dan karena kesejukannya itu pulalah, di jaman penjajahan dahulu,para pejabat Belanda banyak yang tetirah di Berastagi untuk menghindari hawa panas pesisir yang dirasakannya di Medan. Eh tapi sampai sekarang, di akhir pekan dan di hari-hari libur, masih banyak juga koq penduduk Medan maupun para pelancong yang datang ke Berastagi untuk merasakan kesejukan udaranya 😛

Berastagi terletak di Tanah Karo, karena itulah sebagian besar penduduknya merupakan suku Batak Karo. Orang-orang Karo masih banyak yang memegang teguh tradisi leluhurnya yang antara lain tampak dari masih mudahnya ditemukan rumah-rumah adat Karo di Berastagi dan sekitarnya.

Salah satu bangunan yang berbentuk rumah adat Karo di Berastagi ternyata merupakan sebuah gereja Katolik. Sebuah gereja inkulturasi yang mulai dibangun pada tahun 1999 dan diresmikan dalam sebuah Misa Agung yang dipimpin oleh Uskup Agung Medan pada tanggal 20 Februari 2005. Gereja yang dikenal dengan nama Gereja Katolik Santo Fransiskus Asisi ini berlokasi di Desa Sempajaya, Berastagi, tepatnya di Jl. Letjend Jamin Gintings. Lokasinya yang persis di tepi jalan utama yang menghubungkan Medan dengan Tanah Karo menyebabkan gereja ini mudah dicari. Atapnya yang menjulang setinggi 35 meter dan lokasinya yang berada di ketinggian menyebabkan bangunan gereja dapat terlihat pula dari kejauhan.

img_gfa06

Bangunan gereja betul-betul mengambil bentuk rumah tradisional Karo, bahkan konon pembangunannya pun mengikuti ritual adat Karo sejak dari awal sampai jadinya. Bangunan utama gereja lumayan besar lho, dengan panjang 32 meter dan lebar 24 meter, gereja dapat menampung sekitar 1000 umat yang mengikuti misa agung di sana; belum lagi adanya bangunan tambahan serupa pendopo yang sering dipergunakan oleh kaum muda gereja dalam melakukan berbagai kegiatan kerohanian.

img_gfa02

Sampai sekarang, Gereja Santo Fransiskus Asisi Berastagi masih dipergunakan untuk menyelenggarakan Misa Kudus secara rutin, baik harian maupun mingguan. Maklumlah, Berastagi sejak Februari 2005 itu sudah menjadi paroki tersendiri, terlepas dari Paroki Kabanjahe.

Selain fungsinya sebagai tempat ibadah Umat Katolik, akhir-akhir ini gereja ini juga sering menjadi tujuan wisata karena bentuknya yang unik. Ya Gereja St. Fransiskus Asisi Berastagi sudah menjadi salah satu point of interest di Berastagi   😎

img_gfa08

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 10 Comments

Corner of Wulla Waijelu – horses roaming at the beach

Wulla Waijelu was the name of a sub-district located in East Sumba, Indonesia. It was at the eastern tip of Sumba Island, more than 135 kilometers from Waingapu, the capital city of East Sumba. To reach the region, travelers should spend more than 3 hours drive on a relatively good road, although sometimes travelers should drove slowly or even stop because there were cattle stopping or laying on the road blocking the traffic 😛

Wulla Waijelu had many pretty beaches. One of them was Watu Parunu Beach which I visited before and my note about the beach could be seen in here.

At that time, I was driving far to the east from Watu Parunu Beach. The road was not as good as before. In some parts, the road was so broken and made every driver who drove past those roads to be extra careful. The scenery along the road, however, was quite beautiful. The blue sea was clearly seen far below because the road took us along the ridge of a hill.

img_tab01

After about 30 minutes in a rough ride on the broken road, my travel partner and I arrived at a place that looked like a small forest consisted of trees with whitish barks. It Seemed that I was at a beach because the sea was clearly seen close enough from the forest. When I asked Pak Ebet, who accompanied us in the trip, he said that locals called the beach as Wairano Beach while others also called it Tamarind Beach because the forest consisted of tamarind trees.

img_tab02

There were no other people except the tree of us at the beach. Well . . . another “private beach” for us to explore then  😎

Pak Ebet parked the car under a sole tamarind tree not too far from the beach, so he could rest under the shade of the tamarind leaves while my travel partner and I explored the area and walked deeper among the trees.

img_tab03

Sumba could not be separated with horses. Here, in a remote area, I also found horses roaming freely. I was looking around to find the horses’ owner, but I could not find any. Yes, here in Sumba, horses were free to roam and looked for their own food from the surrounding area, but amazingly they would go to their own stables at night by themselves. The owners were only there to wait for the horses and close the stables.

img_tab04

img_tab05

Walking to the beach, I found that a part of the beach was a sandy beach with many beach plants and trees as if bordering the beach area. Far behind the beach, a row of hills was seen. At the opposite part of the sandy beach, there was a corral beach. Brownish corral was at the beach lapped by the sea and made the beach more pretty.

img_tab06

img_tab07

Seeing such a pretty scenery like I found in here, I always hope that the nature beauty would always never been harmed, never been disturbed or destroyed by unplanned area development. Let the nature still had its pride with its beauty and we could still admiring the pretty scenery for long  ❤ ❤

img_tab08

img_tab09

img_tab10

img_tab11

 

Keterangan :

Wulla Waijelu adalah nama sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Sumba Timur, rasanya kecamatan ini merupakan kecamatan yang paling timur di Pulau Sumba Ini. Lokasinya yang berjarak lebih dari 135 kilometer di tenggara Waingapu yang menjadi ibukota kabupaten, membuat para pelancong harus bersiap-siap menghabiskan waktu lebih dari 3 jam berkendara untuk sampai di sana. Jalannya memang lumayan mulus sih, tapi kendaraan juga tidak bisa dipacu terlalu kencang karena ada saja kawanan ternak yang berjalan santai di tengah jalan, bahkan di beberapa tempat akan kita temukan adanya sapi yang dengan tenangnya berbaring di jalan sambil memamah biak, tidak peduli bahwa dengan berbaring di jalan itu dia menutup lalu lintas dan membuat antrian kendaraan yang cukup panjang. Repotnya lagi, suara klakson yang dibunyikan para pengendara itu belum tentu ampuh untuk mengusir para sapi itu   😛

Tetapi perjuangan dan waktu yang cukup lama untuk mencapai Wulla Waijelu akan terbayar koq karena Wulla Waijelu memiliki banyak pantai indah. Salah satunya adalah Pantai Watu Parunu yang pernah aku kunjungi sebelumnya, dan catatan mengenai Watu Parunu bisa dilihat di sini.

Ketika itu, aku dan teman seperjalananku menyempatkan diri untuk menjelajah lebih jauh lagi, melewati Pantai Watu Parunu, menyusuri jalan yang tidak sebagus jalanan sebelumnya, bahkan di beberapa tempat cukup rusak karena aspal yang sudah mengelupas. Jalan tersebut membawa aku dan teman seperjalananku menyusuri lamping bukit dengan pemandangan birunya laut jauh di bawah dan hijaunya perbukitan nun jauh di sana seolah mencegah laut untuk tidak naik lebih jauh ke daratan.

img_tab13

Setelah kurang lebih setengah jam terguncang-guncang dan bahkan sesekali kepentok di dalam mobil yang berjalan pelan karena kondisi jalan itu, akhirnya aku dan teman seperjalananku sampai ke suatu daerah terbuka dengan sekelompok pepohonan yang kelihatan seperti hutan, meskipun tidak terlalu lebat. Pepohonan yang ada di situ berbatang keputih-putihan dan cabang-cabangnya cukup banyak. Rupanya itu adalah pohon-pohon asam. Aku lihat birunya air laut juga tidak jauh ada di belakang pepohonan itu. Wah . . . rupanya sudah sampai di pantai lagi nih. Ketika aku bertanya kepada Pak Ebet yang mengantar aku dan teman seperjalananku waktu itu, aku memperoleh informasi kalau penduduk setempat menyebut pantai itu dengan nama Pantai Wairano tetapi karena di pantai tersebut banyak pohon asamnya, pelancong yang datang ke sana banyak juga yang menyebutnya dengan nama Tamarind Beach.

img_tab14

Ketika aku sampai di sana, pantai dalam keadaan sepi, hanya ada aku, teman seperjalananku dan Pak Ebet. Wah ketemu “pantai pribadi” lagi nih   😎

Setelah Pak Ebet memarkirkan kendaraan di bawah sebatang pohon asam yang cukup rindang, aku dan teman seperjalananku segera berjalan masuk ke hutan asam yang ada di sana. Wah . . . banyak kuda ternyata. Ya memang sih, Sumba tidak bisa dipisahkan dari kuda; makanya nggak mengherankan kalau di situ aku menemukan banyak kuda. Dan seperti halnya di tempat lain di Pulau Sumba ini, kuda-kuda di pantai itu juga dibiarkan bebas karena aku juga nggak menemukan adanya penggembala atau pemilik kuda –kuda itu di situ. Eh tapi tahu nggak, meskipun nggak digembalakan dan juga nggak ditungguin, kuda-kuda itu nggak trus ngabur nggak karuan lho, bahkan ketika malam menjelang mereka akan pulang kembali ke kandangnya masing-masing dengan tertib. Si pemilik tinggal menunggu saja di kandang dan setelah kuda-kudanya masuk, tinggal mengunci pintu kandangnya saja.

img_tab15

img_tab16

img_tab17

Setelah puas menjelajah dan memotret di dalam hutan asam itu, aku dan teman seperjalananku beralih ke kawasan pantainya.

Pantai yang menempel dengan hutan asam itu merupakan pantai berpasir lembut. Kawasan yang berpasir dengan kawasan hutan hanya dibatasi dengan tumbuhan pandan laut yang banyak tumbuh di situ, dan pandan lautnya sudah tumbuh lumayan tinggi lho. Keindahan kawasan pantai itu menjadi lebih lengkap dengan adanya deretan perbukitan yang tampak menghijau di kejauhan.

img_tab18

Di bagian lain pantai, terdapat kawasan yang berbatu karang. Di kawasan itu praktis sedikit saja pasirnya. Pantainya didominasi bebatuan yang berwarna coklat kemerahan sehingga menambah keindahan pemandangan di sana.

img_tab19

Ah . . andai keindahan ini bisa lestari. Jangan sampai terganggu apalagi sampai rusak dengan pengembangan kawasan yang tidak terkontrol. Biarlah alam bisa tetap berbangga dengan kecantikannya dan kita bisa menikmati kecantikan itu sampai lama, bahkan anak cucu kitapun masih bisa menikmatinya. Semoga . . .   ❤ ❤

img_tab20

img_tab22

img_tab23

img_tab24

img_tab25

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , , | 11 Comments

Blog at WordPress.com.