Travel Notes

Cerianya anak-anak desa nelayan

Hari kedua aku di Pulau Buton, pagi itu aku terbangun karena mendengar kesibukan di jalan yang ada persis di bawah jendela kamar hotelku. Secara refleks aku meraih jam tangan yang aku letakkan di meja samping tempat tidurku, hhmm . . . sudah jam enam rupanya. Nyenyak juga rupanya tidurku 😀

Setelah mandi dan sarapan, aku segera menghubungi La Ode Azis yang menemaniku kemana-mana selama di Pulau Buton. Hari itu, aku berencana untuk melihat-lihat daerah di pesisir timur Pulau Buton, ya memang tidak semua karena adanya keterbatasan waktu, karenanya aku membatasi diri untuk berkunjung ke Desa Wabula saja. Untuk itu, dari Baubau yang terletak di pesisir barat, La Ode Azis langsung mengarahkan kendaraan menuju ke Pasarwajo, sebuah kota kecil yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Buton. Pasarwajo terletak kurang lebih 2 jam perjalanan dengan mobil ke arah timur kota Baubau. Nah Desa Wabula itu berjarak kurang lebih 28 kilometer dari Pasarwajo itu. Jalan menuju Desa Wabula sudah relatif bagus koq, jadi kalau ada pelancong yang mau kesana, jangan kuatir . . 😎

Nah . . apa yang bikin aku penasaran dengan desa Wabula ini? Sebetulnya semua bermula ketika aku membaca sebuah artikel tentang adanya sebuah desa nelayan yang terletak di tepian Laut Banda, dan foto yang menyertai artikel tersebut memperlihatkan sebuah perkampungan yang resik dan rapi sehingga enak dipandang mata.

Dan ternyata apa yang digambarkan dalam artikel itu betul adanya. Ketika kendaraan yang aku tumpangi masuk ke Desa Wabula, aku mendapati jalan utama desa yang cukup lebar dan rata. Rumah-rumah berjajar rapi di sepanjang jalan desa itu, baik rumah semi modern berbahan batu maupun rumah tradisional yang berbentuk rumah panggung dari kayu. Hanya saja yang membuat aku bingung ketika itu adalah karena aku tidak melihat garis pantai. Bukannya desa nelayan selalu berada di tepi pantai ya? 😯 Desapun waktu itu bisa dibilang sepi.

IMG_WAB01

Ketika kendaraan yang aku tumpangi berhenti di depan salah satu rumah, barulah terasa ada kehidupan di Wabula. Beberapa orang wanita terlihat keluar menyongsong dengan wajah ramah. Belakangan baru aku ketahui kalau salah satunya adalah istri dari Kepala Desa Wabula. Setelah saling berkenalan, mereka mengajak aku ke arah belakang deretan rumah yang ada di sebelah kiri. Dan ternyata di belakang deretan rumah itu ada lagi sebuah jalan yang sejajar dengan jalan utama desa, hanya saja di seberang jalan bukanlah deretan rumah lagi melainkan laut. Pantas saja pantainya tidak nampak dari jalan utama desa 😀

Ketika aku mendekati bibir pantai, nampak bahwa laut di siang yang mendung itu cukup tenang, bahkan nampak seperti permukaan danau saja. Kawasan pantainya juga nggak panas. Eh ini nggak panas bukan gara-gara mendung saja lho ya, tapi karena di sepanjang bibir pantai itu tumbuh banyak pohon kelapa dan juga pohon-pohon lainnya yang berdaun cukup rindang.

IMG_WAB02IMG_WAB10

Tanpa aku sadari, selama aku memandang ke arah laut lepas, di belakangku telah berkumpul anak-anak Desa Wabula. Mereka semua tertawa lepas ketika melihat aku kaget melihat kehadiran mereka. Ah . . . anak-anak yang polos dengan wajah-wajah ceria.

IMG_WAB03

Kepolosan mereka dan tingkah polah mereka membuat tanganku gatal untuk mengabadikannya dengan jepretan kameraku. Beberapa anak terlihat cukup berani dan percaya diri, mereka tidak malu ketika aku bilang mau aku foto, beberapa lagi segera lari menjauh sambil tertawa malu-malu, sementara di kejauhan aku lihat satu dua anak yang hanya melihat ke arahku dengan wajah malu-malu.

IMG_WAB17

Mereka yang tidak malu mau saja ketika aku bilang supaya mereka main saja seperti biasa mereka bermain di tepi pantai itu sementara aku memotret mereka. Beberapa bahkan segera berlomba memanjat pohon yang tumbuh di tepi pantai dan duduk di cabangnya, sementara beberapa anak perempuan terlihat bermain ayunan.

IMG_WAB14

Ketika aku selesai berkeliling di sekitar pantai, beberapa butir kelapa hijau utuh sudah tersaji. Ah . . keramahan khas pedesaan yang selalu aku rindukan. Maka dengan tanpa sungkan juga aku segera menghampiri beberapa butir kelapa itu. Salah satu wanita itu segera berteriak kepada anaknya untuk mengambilkan gelas dan sendok untuk aku. Wah . . . rupanya mereka mengira aku tidak terbiasa meminum air kelapa langsung dari kelapa utuh. Ketika aku menolak untuk mempergunakan gelas dan sendok, mereka terlihat cukup sangsi. Karenanya, untuk menepis kesangsian mereka, segera aku mengambil sebutir kelapa yang sudah dilubangi ujungnya. Dan tahu nggak . . . ketika aku mulai mengangkat kelapa itu, anak-anak yang semula berceloteh ramai jadi terdiam sambil memperhatikan aku. Dan . . . ketika aku sudah selesai minum, pecahlah tawa mereka melihat mulutku yang basah berlepotan air kelapa 😀

Selesai minum air kelapa yang segar dan juga memakan sedikit daging kelapa yang gurih itu, sambil ngobrol akrab, aku diajak melihat beberapa ibu yang sedang membuat kain tenun secara manual, sementara anak-anak desa itu dengan tetap berceloteh dan bercanda mengikuti di belakang sehingga seperti membentuk barisan di belakangku.

IMG_WAB09

Sarung tenunan Wabula sudah cukup terkenal meskipun coraknya boleh dibilang cukup sederhana karena hanya bercorak kotak-kotak atau garis-garis saja seperti sarung pada umumnya. Biasanya yang bercorak kotak-kotak dipakai oleh kaum lelaki sementara yang bercoarak garis-garis dipakai oleh kaum perempuan. Beda kain tenunan dari Wabula dengan sarung pada umumnya adalah permainan warnanya, karena sarung tenunan Wabula lebih berani dalam mempergunakan warna-warni yang cerah, khususnya kain tenun yang diperuntukan bagi kaum hawa. Kain tenunan Wabula juga lebih tebal meskipun tetap lembut.

Biasanya kaum wanita Wabula menenun kain sembari menunggu kedatangan suami atau ayah mereka yang pergi melaut. Karena itulah konon mereka bisa menenun selama rata-rata 6 jam seharinya, dan satu lembar kain tenun bisa mereka selesaikan dalam waktu antara 4 sampai 5 hari saja. Menurut penuturan mereka, kaum wanita Desa Wabula sudah sejak jaman dahulu akrab dengan kegiatan tenun- menenun ini. Bahkan sejak usia yang relatif dini anak perempuan Wabula sudah diperkenalkan dan diajarkan bagaimana caranya menenun dengan peralatan tenun dari kayu yang boleh dibilang belum banyak berubah sejak jaman dahulu.

Dengan mata kepalaku sendiri aku melihat betapa dengan tekun dan telaten para ibu itu memasukkan helai demi helai benang yang lama kelamaan membentuk selembar kain. Sambil menenun para ibu itu tetap ngobrol satu sama lain, apalagi ketika aku di sana suasananya terkesan lebih ramai karena anak-anak ikut berkerumun di sekitar tempat menenun yang aku datangi itu sambil tetap berceloteh dengan ramai. Selembar kain tenunan yang sudah berbentuk sarung mereka jual seharga Rp 200.000,– ke atas, tergantung warna dan coraknya. Mahal? Ya relatif sih. Menurut aku sih ya nggak mahal juga kalau melihat proses pembuatannya yang masih dilakukan secara manual itu.

Siang menjelang sore itu akhirnya aku pamit setelah mengucapkan terimakasih atas keramahan penduduk Wabula. Sebelum aku masuk ke kendaraan untuk menuju ke tujuanku berikutnya, ibu istri Kepala Desa sempat menyayangkan kedatanganku yang kurang pas waktunya; menurut beliau, aku pasti akan lebih senang berada di desa itu kalau bertepatan dengan dilaksanakannya upacara Pidoano Kuri yang biasanya dilakukan beberapa hari menjelang tibanya bulan suci Ramadhan, karena pada saat itu aku pasti akan bisa memperoleh lebih banyak lagi foto suasana Desa Wabula. Yah . . . mudah-mudahan lain waktu aku bisa kesana lagi bertepatan dengan dilaksanakannya upacara itu ya Bu :).—

IMG_WAB05

Summary :

The article is about a small fishing village in the eastern coast of Buton Island. The village was called Wabula. I went there in my second day in Buton. Wabula could be reached within 3 hours drive from Baubau through a relatively good road.

When I entered the village, I found a neat and clean environment. Row of houses, either semi modern or traditional wooden houses with their well groomed yard were built on either sides of the village main road. At that time the village looked quite deserted. I just found few children playing in the yard. I also did not see the beach which made me quite confused since fishing villages were always laid at the beach or at least not far from the beach.

IMG_WAB16

Before my confusion grew too big, a group of women emerged from one of the houses and greeted me. After a short introduction, I was ushered towards an alley which led me to a second road paralleled with the village’s main road, only across the second road was the beach.

IMG_WAB19

At that time the beach also looked empty, no boats nor any activities except for a group of children that looked quite eager to follow me and looked at me when I took some pictures there. They seemed cheerful, and when I asked them for some pictures, some of them ran away while laughing shyly while some were still there, even made a pose in front of my camera 😀

After taking some pictures at the beach, I was taken to a place where some women were busily made woven clothes. It was a hand made cloth, and it was said that by working around 6 hours a day, a piece of woven cloth could be finished within 4 to 5 days. The women usually weaved while they wait for their man to come back from their fishing trip.

IMG_WAB18

The woven clothes of Wabula were known for their attractive color although the patterns were quite simple. The clothes were usually used as sarongs as well as shirts. Some people also used the cloth as a blanket as it was quite warm when been used.

In the afternoon, I bid the people of Wabula farewell as I had to go to my next destination. And when they said their good byes, some of them asked me to come again next time, especially when they carried out their ritual to greet the fasting month that called the Pidoano Kuri. Well, thanks for the invitation, and hope that someday I can be back there to join them in their Pidoano Kuri :).–

IMG_WAB12

Advertisements
Categories: Travel Notes | Tags: , , , , | 20 Comments

Bertaruh nyawa untuk suatu ketidak-pastian

Siang itu, sepintas aku lirik jam tanganku yang ternyata sudah menunjukkan jam 11.00. Matahari yang sebentar lagi berada tegak lurus di atas kepala terlihat sangat terik. Sinarnya yang panas langsung menghunjam bumi tanpa dihalangi oleh gumpalan awan yang aku lihat hanya bergerombol nun jauh di kaki langit, seolah takut akan kegarangan sang surya. Alat pendingin udara yang berada dalam kendaraan yang aku tumpangi dalam perjalanan dari Banjarmasin ke arah Martapura hanya sedikit mengusir rasa gerah. Kebayang bagaimana panasnya di luar sana. Pantas saja tidak banyak orang berlalu lalang aku lihat di sepanjang perjalananku itu, mungkin merekapun enggan tersengat panasnya sinar matahari yang terik.

Ketika aku sedang asyik memperhatikan keadaan di luar mobil yang seolah lari berkejaran ke arah yang berlawanan dengan arah laju kendaraanku itulah, tiba-tiba Pak Sopir membelokkan kendaraan ke arah kiri memasuki sebuah jalanan desa yang tidak beraspal. Ditelusurinya jalanan tanah yang cukup lebar itu selama beberapa saat, sampai tiba-tiba tanpa kusadari ternyata kendaraan yang aku tumpangi tersebut sudah berjalan menyusuri tepian sebuah kawasan terbuka yang cukup luas. Di kejauhan aku lihat ada beberapa bangunan berbentuk aneh. Dibilang aneh karena bangunan tersebut mirip seperti menara tetapi tidak terlampau tinggi juga, dan bentuknya juga tidak mengerucut ke atas layaknya menara pada umumnya.

IMG_CPK01

Sejurus Pak Sopir masih menjalankan kendaraan tersebut menyusuri tepian tanah lapang luas itu, dan ketika kendaraan mencapai halaman samping sebuah rumah sederhana yang di terasnya tampak sekelompok orang yang sedang bercakap-cakap, dihentikannya kendaraan di situ.

Ketika melihat kendaraan yang aku tumpangi berhenti, beberapa diantara orang-orang tersebut segera beranjak menghampiri. Dari dalam kendaraan kulihat orang-orang tersebut semuanya pria berkulit legam dengan sorot mata tajam. Kulihat pula tak ada senyum sedikitpun di wajah-wajah yang tampak keras itu. Sempat terbersit pikiran untuk segera meminta Pak Sopir untuk menjalankan kembali kendaraannya dan pergi meninggalkan tempat itu. Tetapi sebelum apa yang ada dalam pikiranku itu terlontar keluar, Pak Sopir sudah mendahului mengajak aku untuk turun dan menemui orang-orang tersebut. Melihat bahwa aku tidak punya pilihan lain, aku segera keluar dari kendaraan.

Ketika aku turun dan sedang berusaha menyesuaikan mata yang silau karena sinar matahari yang begitu terik, lelaki-lelaki berkulit gelap tersebut sudah tiba di depanku. Mereka berhenti beberapa langkah di depanku. Tidak kuduga, ternyata setelah aku memberanikan diri menyapa mereka, wajah-wajah yang semula kelihatan garang tersebut berubah menjadi ramah dengan senyum yang tersungging di bibir mereka. Baru kemudian aku tahu kalau orang-orang tersebut adalah para pendulang intan. Ya . . rupanya kendaraanku berhenti di Cempaka, tempat yang dikenal sebagai salah satu tempat pendulangan intan terbesar di Kalimantan Selatan.

Pak Sopir segera memperkenalkanku kepada orang-orang tersebut dan juga menerangkan tujuanku datang ke Cempaka.

Ketika mereka mengetahui maksud kedatanganku itu, yaitu untuk melihat bagaimana usaha para penambang itu dalam menemukan intan secara tradisional, salah seorang di antara mereka yang kelihatannya merupakan salah satu orang yng dituakan di situ segera maju menghampiriku, kemudian dengan ramah mengajakku menuju ke arah tengah tanah lapang luas itu, dimana terdapat bangunan serupa menara itu.

IMG_CPK02

Sepintas di kananku aku melihat sekelompok orang sedang menggali tanah dan menaikkannya ke sebuah truk, mengira kalau kegiatan tersebut adalah bagian dari kegiatan para penambang intan itu, aku mengarahkan kameraku untuk menangkap kegiatan tersebut, tetapi ternyata dugaanku salah karena orang yang mengantarku itu dengan tertawa berkata, “Wah yang itu gak usah difoto Pak, mereka bukan mencari intan tetapi memang mengangkut tanah untuk bahan bangunan. Yang mencari intan itu letaknya di depan sana, sebentar lagi juga Bapak akan melihatnya sendiri”

Ha ha ha . . . ternyata aku salah. Jadi malu juga . . :oops:, karena terlalu bersemangat dan juga malas bertanya akhirnya aku salah. Kalau cuma melihat kegiatan orang mengangkut pasir ngapain juga jauh-jauh aku datang ke Kalimantan Selatan ini kan ya? 😀

Akhirnya untuk menutupi rasa malu sekaligus juga untuk menggali sedikit informasi mengenai tempat tersebut, aku membarengi langkah orang tersebut yang langsung saja bercerita mengenai kehidupan para pencari intan di situ.

Diceritakannya bahwa di situ ada dua jenis penambang, yaitu penambang yang bekerja secara berkelompok dan penambang yang bekerja sendirian. Biasanya mereka yang berkelompok tersebut memiliki modal yang lebih besar dan dalam melakukan penambangan, mereka sudah mempergunakan mesin sederhana. Sebetulnya yang disebut mesin itupun hanyalah sebuah pompa yang bisa menyedot atau menyemprotkan air dengan deras, serta juga bisa mengalirkan udara ke dalam lubang-lubang galian. Bangunan-bangunan aneh serupa menara yang sempat aku lihat dari kejauhan, ternyata merupakan bagian dari perlengkapan para penambang yang bekerja berkelompok itu. Bangunan tersebut dipergunakan untuk menyaring dan memisahkan tanah dari material berharga lainnya dengan cara menyiramnya dengan air dari puncak bangunan tersebut.

Sementara itu, para penambang yang bekerja sendiri-sendiri biasanya mencari material berharga dari sisa-sisa buangan para penambang yang berkelompok tersebut, karena penyaringan dengan alat sering kali masih banyak meloloskan material berharga juga. Dengan mengambil material sisa buangan tersebut, para penambang individual tersebut tidak perlu bersusah payah turun ke lubang-lubang raksasa yang mereka sebut kawah untuk mencari material berharga tersebut. Dengan tidak turun ke dalam kawah, para penambang individual tersebut juga bisa terhindar dari terkena longsoran tepian kawah yang seringkali mengundang maut.

Mengundang maut? 😯 Ya, memang kedengarannya menyeramkan, tetapi itulah yang dihadapi para penambang di sana, khususnya mereka yang bekerja berkelompok. Jadi mereka bekerja dengan cara menggali tanah yang mereka perkirakan mengandung banyak batuan berharga, termasuk intan. Galian tersebut akan membentuk sebuah lubang raksasa, sehingga tidak salahlah kalau mereka menyebutnya sebagai “kawah”, karena memang menyerupai kawah gunung berapi bentuknya. Lubang-lubang yang sudah sangat dalam pada gilirannya mengharuskan para penambang untuk turun ke dasar kawah, baik untuk menggali di dinding kawah maupun untuk mengoperasikan mesin penyedot air kalau dasar kawah tergenang air.

IMG_CPK03

Nah . . mereka yang turun ke dasar kawah inilah yang menghadapi risiko terbesar, baik dari kematian yang diakibatkan oleh tipisnya kadar oksigen di dasar kawah maupun dari longsoran tebing kawah yang seringkali runtuh menimbun mereka. Dan jika sampai terjadi longsor, menurut informasi yang aku terima, biasanya sangat sulit untuk menyelamatkan para penambang yang tertimbun itu, karena tanah yang menimbun mereka bisa bermeter-meter tebalnya, disamping juga sangat sulit untuk menemukan dimana lokasi tepatnya orang-orang yang tertimbun longsoran dinding kawah itu.

Tetapi meskipun risikonya tinggi, para penambang itu seolah tidak mempedulikannya karena mereka juga masih dibayangi harapan tinggi bahwa mereka akan bisa kaya mendadak jika menemukan intan, apalagi intan dengan ukuran yang sangat besar seperti pernah terjadi pada tahun 1965, dimana ditemukan intan sebesar telur burung merpati.

Sementara itu, para penambang individual yang mengambil sisa-sisa buangan material akan mencari batu-batu berharga dengan cara meletakkan material sisa buangan mereka yang bekerja secara berkelompok tersebut sedikit demi sedikit di sebuah alat yang bentuknya mirip caping berwarna hitam, kemudian mereka akan mengayak material tersebut secara perlahan di dalam air dengan cara memutar caping itu sehingga lapisan tanah akan larut dalam air sementara batuan ataupun mineral lainnya yang lebih berat akan mengendap di dasar alat mereka itu. Alat semacam caping itu dikenal dengan nama “linggangan”. Sementara itu, para penambang tradisional dikenal dengan nama “pendulang” dan pekerjaan mereka mencari intan dan bahan berharga lainnya itu disebut “mendulang”.

Para pendulang tersebut bekerja dengan cara berendam di kolam ataupun kubangan air di bawah terik matahari. Dengan telaten diayaknya material-material berharga itu dengan tidak mempedulikan panasnya matahari yang menyengat sehingga tidaklah heran kalau kulit mereka menjadi legam terbakar matahari. Mereka juga tidak berputus asa meskipun bisa berhari-hari bahkan kadang berbulan-bulan belum menemukan intan sebutirpun. Ketika aku tanyakan, darimana mereka memperoleh penghasilan kalau sampai berbulan-bulan belum menemukan intan; aku memperoleh jawaban bahwa hasil pendulangan itu tidak hanya intan. Kadang mereka menemukan emas, batu-batu berharga seperti safir dan sejenisnya, dan kadang juga barang-barang peninggalan masa lampau. Ketika aku berada di sana, aku menyaksikan sendiri seorang pendulang menemukan beberapa keping uang logam kuno. Nah . . jika mereka belum menemukan intan, barang-barang temuan tersebut akan mereka jual. Hasilnya lumayan juga meskipun memang tidak sebesar kalau mereka menemukan intan.

Terus seperti apa bentuk intan yang belum di asah?

Mau tahu? Sepintas sih bentuk intan yang belum diasah tidak ada bedanya dengan batu atau pecahan kaca biasa saja. Kalau aku yang disuruh ikut mendulang di situ, mungkin ada intan sebesar kelerengpun akan aku buang karena aku kira cuma pecahan kaca biasa :P.

raw diamond  (intan mentah yang belum diasah)

raw diamonds  (intan mentah yang belum diasah)

Meskipun demikian, karena para pendulang tersebut sudah melakukan pekerjaannya selama bertahun-tahun, mereka secara sepintas saja sudah bisa membedakan mana yang intan, mana yang merupakan batu berharga, mana batuan yang mengandung emas atau logam lainnya, dan mana yang hanya batuan biasa yang layak dibuang.

Jadi ternyata intan yang baru di dapat dari hasil tambang itu betul-betul tidak ada indah-indahnya sama sekali. Baru ketika kemudian intan tersebut selesai di gosok, tampaklah keindahannya.

Kawasan pendulangan intan Cempaka terbuka untuk umum sehingga siapapun bisa datang dan menyaksikan kegiatan para pendulang untuk menemukan intan. Baik para pendulang yang bekerja secara berkelompok maupun yang bekerja secara perorangan. Bagi mereka yang berminat membeli intan mentah, mereka bisa juga langsung bertransaksi dengan para pendulang itu. Biasanya harga yang mereka minta tidak terlalu tinggi. Meskipun demikian, jika membeli intan dari mereka, pembeli tidak memiliki jaminan apakah intan yang mereka beli itu memiliki kualitas bagus atau jelek, maklumlah karena para pendulang tersebut tentu saja tidak bisa mengeluarkan sertifikat seperti jika seandainya kita membeli batu-batu berharga tersebut di toko khusus yang menjual intan ataupun batu-batu berharga lain yang banyak terdapat di Pasar Cahaya Bumi Selamat, Martapura.

Satu hal yang aku sayangkan ketika aku melihat langsung pendulangan intan di sana. Yaitu bahwa banyak sekali lubang-lubang bekas galian yang sudah tidak terpakai lagi. Ya lubang-lubang itu dibiarkan menganga. Beberapa memang dijadikan tempat pemeliharaan ikan, tetapi masih lebih banyak lagi yang ditinggalkan begitu saja. Ah sayang sekali . . .  😦

IMG_CPK08

Trus, susah apa gak sih kalau mau ke tempat pendulangan intan di Cempaka itu?

Sebetulnya gak susah sih, jaraknya cuma 47 kilometer dari Banjarmasin atau kira-kira satu jam berkendara. Hanya saja kalu mau ke sana, pelancong harus siap-siap untuk kepanasan karena di sana tidak ada tempat berteduh. Demikian juga kalau hujan para pelancong pasti akan basah kuyup. Tidak hanya tidak ada tempat berteduh, fasilitas penunjang seperti kamar kecil atau warung yang menjual minuman segar juga tidak terdapat di sana. Jadi . . . buat yang tertarik mau ke sana, siap-siap ya, bawa topi atau payung jika memang tidak tahan panas. Soal makan dan minum, setelah dari Cempaka, pelancong bisa bebas memilih berbagai rumah makan yang terdapat di Martapura, karena Cempaka hanya berjarak sekitar 7 kilometer dari Martapura.—

polished diamond (intan yang sudah diasah)

polished diamond  (intan yang sudah diasah)

Summary:

The post is about my trip to Cempaka, which known as a place where the locals did the panning for diamonds traditionally. The place was located about 47 kilometers from Banjarmasin, the capital city of South Kalimantan Province, Indonesia.

When I was there, I was told that there were two kind of panning activities although both were conducted traditionally. The first was peoples who did the panning in a group. They worked by digging a large hole on the ground and with a simple machine, they sucked the materials from the bottom of the hole to a wooden rig-like structure where they separated the dirt from any precarious materials. The dirt would be thrown aside and they only took precious stones, included raw diamonds.

While they worked at the bottom of the hole, they actually risked their own life since sometimes there were not enough oxygen when the hole was deep enough. Other than that, when they dig the wall of the hole, they risked their life for the land slide. It was already happened several times when some of the workers were buried alive by the land slide, and yet the disasters never stopped them to climb down the hole again after some time to look for precious stones, mainly the diamonds.

IMG_CPK09

Aside of the peoples who worked in group, there were also peoples who work individually. This kind of peoples usually took the materials from under the rig-like structures used by them who worked in a group. The materials were considered waste, so it was free for others outside the group to take. Even though considered as waste, for the people who worked individually, the materials were still quite precious as they could still get some precious stones, gold, some old artifacts such as old coins, and even diamonds. Usually this kind of people took the materials to a pond nearby, there they would stand in waist deep water, panning the materials on a plate-like tool made of wood which called “linggangan”. They moved the “linggangan” in the water in circle in order to separate the precious materials from the waste.

It was a tough life they did, as nobody knew when they would get a jackpot by finding a diamond. For their daily life, they also sold anything they found in their activity. There was a market not far from Cempaka called Cahaya Bumi Selamat Market, where they could sell any precious stones they found. Sometimes, there were also travelers who bought raw diamonds or any precious stones directly from them as a souvenir. Some of them also had small polished diamonds which they offered to travelers who visited the place.

For travellers who wanted to visit Cempaka and see directly how they worked, they should be prepared by bringing along a hat or an umbrella because there were neither shelters nor big trees that could be used to protect them from the sun. Anyway, it was still worth it to visit the place as travelers could see how hard to find a diamond before it came to the jewelery stores.–

IMG_CPK17

Categories: Travel Notes | Tags: , , , , | 34 Comments

Mengenal budaya Mataram di kesejukan lereng Merapi

Kali ini, supaya gak bosan bolak-balik main di pantai terus, sekali-kali aku posting tujuan wisata lain yang bukan pantai ya. Yuk kali ini kita mendaki ke tempat yang agak tinggi, sekaligus mencari udara sejuk :). Masih di sekitaran Yogyakarta juga koq. Bisa menebak kan? Yup seratus buat yang menebak betul; pada kesempatan ini aku mampir di Kaliurang, sebuah tempat wisata yang berlokasi di sebelah utara kota Yogyakarta. Karena letaknya yang berada dilereng Gunung Merapi dengan ketinggian sekitar 900 meter di atas permukaan laut, Kaliurang berhawa cukup sejuk. Eh tapi sekali ini aku gak ngajak jalan-jalan di Kaliurang, melainkan langsung menuju ke salah satu sudut Kaliurang. Tepatnya ke Jalan Boyong, Kaliurang.

“Lhah emangnya ada apa di situ?” 😯

Nah di salah satu sudut kawasan Kaliurang ini, terselip sebuah bangunan yang sepintas tampak seperti bangunan yang terbengkelai karena hampir tertutup oleh berbagai jenis tumbuhan yang tumbuh subur dan rimbun di sekelilingnya. Tembok-temboknyapun kelihatan sudah berlumut. Hus jangan bisik-bisik gitu, kita bukannya mau berburu Dracula di situ. Mentang-mentang bentuk bangunannya mirip kastil-kastil di Eropa itu, jangan terus berpikir horror gitu ah. Meskipun bangunannya bergaya gothic, bangunan itu sepenuhnya bukan milik orang asing, bahkan bangunan itu sebetulnya merupakan sebuah museum yang didedikasikan untuk seni dan budaya Jawa. Jadi memang merupakan sebuah tempat yang pantang dilewatkan oleh para pecinta budaya, khususnya budaya Jawa. Namanya Museum Ullen Sentalu. Tuh lihat di pintu masuknya jelas terlihat namanya di sela-sela rimbunan pohon itu.

the entrance to the museum  ( pintu masuk museum )

the entrance to the museum ( pintu masuk museum )

“Namanya koq kedengaran tidak biasa ya? Bukan Bahasa Jawa rasanya, ataukah nama itu diambil dari Bahasa Sansekerta?” 🙄

Untuk namanya, memang sepintas seperti mempergunakan bahasa asing, tetapi sebetulnya Ullen Sentalu merupakan singkatan kata-kata dalam Bahasa Jawa, yaitu dari kata-kata ‘Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku’, yang mengandung arti ‘nyala dian yang menjadi penuntun dalam melangkah dan meniti kehidupan’. Hal ini sesuai dengan tujuan didirikannya museum tersebut oleh Yayasan Ulating Blencong pada tahun 1994 yang lalu, yaitu untuk melestarikan kebudayaan Jawa sehingga adanya museum ini bisa diibaratkan bagai sebuah lampu penerang yang bisa menerangi suasana redup yang melingkupi kebudayaan, khususnya Budaya Jawa, yang semakin terkikis oleh kemajuan jaman.

Di dalam museum tersebut tersimpan dan juga tersaji dengan apik berbagai benda, tulisan dan juga foto yang berkaitan dengan Dinasti Mataram yang pernah berkuasa di Tanah Jawa ini sebelum akhirnya pecah menjadi empat keraton, dua di Yogya dan dua lagi di Solo. Yang di Yogya adalah Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman; sedangkan yang di Solo adalah Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunegaran.

Untuk menjelajahi museum ini, pengunjung tidak dibiarkan kluyuran sendiri, melainkan dipandu oleh seorang pemandu yang menjelaskan dengan lancar dan cara yang cukup menarik mengenai isi keseluruhan museum itu dari ruangan ke ruangan, dari satu lemari pajang ke lemari pajang yang lain, dan dari satu panel ke panel yang lain juga. Lamanya penjelajahan ini kira-kira 1 jam. Jadi, kalau kebetulan ada pengunjung yang datang sendiri, biasanya akan digabung dengan pengunjung lain sehingga bisa membentuk suatu kelompok kecil.

Penjelajahan di dalam Museum Ullen Sentalu itu dimulai dengan memasuki Gua Selo Giri. Yang disebut dengan Gua Selo Giri ini sebetulnya bukan merupakan gua seperti bayangan kita, melainkan bangunan yang terletak sedikit di bawah permukaan tanah dan dibangun mengikuti kontur tanah dan juga akar-akar raksasa pepohonan yang sudah berusia ratusan tahun sehingga ruangan satu dengan ruangan lain dihubungkan dengan lorong-lorong. Dalam Gua Selo Giri ini pemandu menjelaskan mengenai sejarah dan kehidupan para bangsawan Dinasti Mataram jaman dahulu. Banyak benda dan lukisan baik besar maupun kecil yang merupakan peninggalan masa lalu terpajang di sana, antara lain perangkat gamelan dan lukisan-lukisan yang menggambarkan para penari keraton dan juga kehidupan para bangsawannya.

IMG_ULS02

Setelah keluar dari Gua Selo Giri, pengunjung akan diajak menjelajahi ruangan-ruangan lain berikutnya. Antara lain ruangan yang berisi berbagai macam batik, khususnya batik dengan pola-pola klasik. Di sini pengunjung memperoleh penjelasan menggenai kapan waktu yang tepat untuk mempergunakan batik dengan pola tertentu. Ternyata tidak sembarang pola batik bisa dipergunakan di setiap kesempatan lho :P. Dijelaskan pula beberapa corak batik yang diciptakan oleh puteri-puteri kraton dan latar belakang terciptanya pola batik tersebut. Misal saja pola batik truntum yang diciptakan oleh salah satu puteri keraton ketika hatinya bersedih kala mengetahui suaminya menikah lagi. Tetapi ketika suaminya melihat pola batik ciptaannya tersebut, sang suami kembali terbit rasa cintanya kepada puteri tersebut, sehingga pola batik itu dinamakan ‘truntum’ yang bisa berarti bersemi kembali <3.

Ada pula ruangan khusus yang seolah menjadi saksi kisah cinta seorang puteri dari Keraton Solo yang dikenal dengan nama Puteri Tineke, sehingga ruangan tersebut dinamakan Ruang Tineke, meskipun sebenarnya bernama Ruang Sekar Kedaton. Puteri Tineke adalah puteri dari Sunan Pakubuwono XI. Puteri yang bernama asli GRAy Koes Sapariyam ini memiliki kisah cinta yang cukup menyedihkan, karena hubungan cintanya dengan pemuda pujaannya tidak direstui oleh orang tuanya. Untungnya saat itu Sang Puteri memilik banyak kawan yang selalu mendukungnya. Dukungan itu berujud surat yang dikirimkan kepada Puteri Tineke dalam kurun waktu antara tahun 1939 – 1947. Sekarang, surat-surat yang pada umumnya berbentuk puisi cinta itu terpajang dengan rapi, bahkan disertai juga dengan foto-foto pengirimnya, serta juga diberikan terjemahannya karena sebagian surat-surat itu aslinya berbahasa Belanda. Pengunjung bisa membaca satu demi satu kumpulan surat yang sudah terpajang dalam panel-panel di dinding karena kesemua surat tersebut masih terawat dan tulisannya masih terbaca jelas. O ya, mungkin ada yang penasaran dengan akhir kisah cinta Puteri Tineke ini? Well . . . akhirnya adalah akhir yang indah seperti dalam buku-buku cerita dongeng, karena Sang Puteri akhirnya bisa menikah dengan pria pujaannya dan hidup berbahagia ❤ 🙂 ❤

IMG_ULS11

woman statue by the pool in the backyard (patung wanita di tepi kolam di halaman belakang museum)

Ruangan lain yang juga didedikasikan untuk seorang puteri dikenal dengan nama Ruang Puteri Dambaan. Dalam ruangan ini, pengunjung bisa lebih mengenal sosok Gusti Nurul, seorang puteri Keraton Mangkunegaran Solo yang betul-betul menjadi dambaan banyak pria pada saat mudanya karena selain memang berparas cantik, Gusti Nurul juga dikenal pandai dan cakap dalam menari, berkuda, bermain tenis dan juga berenang. Puteri Mangkunegoro VIII dengan Gusti Ratu Timur ini bernama asli GRAy Siti Nurul Kamaril Ngarasati Kusumawardhani. Konon pada waktu itu, hampir setiap sore Gusti Nurul berlatih menunggang kuda di suatu tanah lapang, dan setiap kali Gusti Nurul berkuda di situ, hampir dipastikan kalau tanah lapang itu akan dipenuhi para pemuda yang ingin menyaksikan kecantikan Gusti Nurul. Di dalam ruangan Puteri Dambaan tersebut terpajang banyak sekali foto Gusti Nurul, sejak beliau masih bayi sampai sekarang. Di antara foto-foto itu, tampak juga foto Gusti Nurul sedang menari di hadapan para tamu agung pada pesta pernikahan Puteri Juliana di Belanda. Uniknya, saat itu Gusti Nurul menari dengan iringan gamelan yang dimainkan di Solo dan diperdengarkan melalui sambungan telepon. Kalau jaman sekarang sih mungkin merupakan hal yang biasa, tetapi waktu itu merupakan hal yang sangat luar biasa. Gusti Nurul yang sekarang sudah berusia lebih dari 90 tahun dan tinggal di Bandung ini dikenal sebagai seorang puteri yang dengan tegas menentang poligami, sehingga pada masa mudanya berulangkali menolak pinangan para pangeran maupun pejabat tinggi yang pada saat itu biasa memiliki istri lebih dari satu.

Di ruangan lain dalam museum ini, pengunjung juga akan bisa mengetahui perbedaan busana pengantin Jawa gaya Surakarta dan gaya Yogyakarta. Di situ, selain dijelaskan secara detail apa saja perbedaannya pengunjung juga akan dijelaskan apa arti dari semua riasan dan perlengkapan busana yang dikenakan sang pengantin.

Sebelum mengakhiri kunjungan di museum ini, pengunjung akan diajak beristirahat sejenak di suatu ruangan. Di situ pemandu akan menyajikan minuman berupa ramuan berbagai bahan yang dipercaya bisa menyegarkan tubuh. Konon ramuan tersebut adalah ramuan yang berasal dari keraton. Rasanya . . . uenakkk lho, segar dan tidak pahit. Sayang gak boleh minta tambah 😀

IMG_ULS05

Penjelajahan dalam museum yang seolah membawa pengunjung ke jaman yang telah lampau itu diakhiri di sebuah ruangan yang merupakan sebuah toko, dimana pengunjung bisa membeli cendera mata, batik, baju dan lain sebagainya.

O ya, mungkin banyak yang bertanya juga mengapa tidak banyak foto yang aku sertakan dalam postingan ini. Ya, hal ini dikarenakan di dalam area museum, pengunjung dilarang mengambil foto. Jadi buat yang kurang puas dan ingin tahu lebih banyak, mampirlah ke Museum Ullen Sentalu kalau pas ke Yogyakarta 🙂 .—

IMG_ULS10

 

Summary:

The post is about a museum called Ullen Sentalu. The name was an abbreviation of a Javanese quotes “Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku” which can be translated freely as the light that guides people in their living on the world. The museum was located in a corner of Kaliurang, a resort at the slope of Mount Merapi, about 30 kilometers from Yogyakarta to the north.

The museum was a place to preserve Javanese culture as well as to display everything about Mataram Dynasty, a dinasty that once became the ruler of Java before then it was separated into four centers of authorities, two of them were in Yogyakarta and the other two were in Solo. In Yogyakarta they were known to rule from two palaces, Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat (Yogyakarta Sultanate) and Kadipaten Pakualaman (Pakualam Princedom); while in Solo there were Kasunanan Surakarta (Surakarta Sunanate) and Praja Mangkunegaran (Mangkunegara Special Teritory).

IMG_ULS01

To enter the museum, travelers would be escorted by an experienced guide who would lead the way and explain about everything in the museum. Yes this was a guided tour through the museum; and during the excursions, travelers were free to ask about everything related to the displayed items in there. The duration of the tour through the museum was approximately 1 hour.

To start the excursion, travelers would be guided through a tunnel to a room called Gua Selo Giri. The name Gua Selo Giri could be translated as the Mountain Stones Cave. It was not a real cave, actually. It has the name because the room was built underground like a cave, even though when people entered the room it was far from a look of a room in a cave. In the room, there was a set of ‘gamelan’ – Javanese traditional music instruments which was said to be given by the Sultan of Yogyakarta. There were also some big paintings depicting the life of Javanese noblemen in the past as well as paintings depicting the royal dancers in action.

IMG_ULS06

To come to the next room, travelers would pass through a path with many antique paintings and statues, most of the paintings were about the Sultans, Princes, and Princesses of the dynasty. In one of the room, travelers would be explained about the ‘batik’; how they were be made, the different style and pattern of ‘batik’ originated from Yogya and Solo, when one should wear a special pattern of ‘batik’, and also the story behind some of the ‘batik’ pattern.

There were also two rooms dedicated to certain princesses of Solo. The first one was called Balai Sekar Kedaton (the Princess Room) or most commonly known as Tineke Room because many things about Princess Tineke was displayed in the room; most of them were letters be written by the princess friends to encourage and support her when she was very depressed because she was not allowed to marry her lover by his father, the king of Solo called Sunan Pakubuwono XI. The princess, whose real name was GRAy Koes Sapariyam, received so many letters, either in Dutch as well as in Bahasa Indonesia during the period of the year 1939 through 1947. Most of the letters were poems. Now, most of the letters were on display together with the picture of the senders, so travellers could read and feel the same feeling as the princess, as all the letters were still intact. And . . . don’t you want to know how about the end of her love story? Well, as in almost every fairy tale, the story ended with happiness as the princess married her lover at last ❤ 🙂 ❤

modern style statues in the park  ( patung bergaya modern di taman belakang )

modern style statues in the park ( patung bergaya modern di taman belakang )

The other room that also dedicated to a princess was called Ruang Puteri Dambaan (the Room of the Desired Princess). The princess was known as Gusti Nurul, the daughter of Mangkunegoro VIII of Solo. Her real name was GRAy Siti Nurul Kamaril Ngarasati Kusumawardhani, and she was known for her beauty. She was also known as a smart girl as well as good in traditional Javanese dancing, horse ridding, lawn tennis and swimming. She was also known to strictly say no to polygamy, which was why she refused many marriage proposals sent by many princes and noblemen, because it was a common practice that kings and noblemen had more than one wife at that time. In the room, travelers could see many pictures of Gusti Nurul and could prove how pretty she was. Nowadays, Gusti Nurul, who was more than 90 years old, was lived in Bandung, Indonesia.

Well . . . to end this post, I think it was a trip worth to join, especially for travelers who love to explore many cultures 🙂 .–

Categories: Travel Notes | Tags: , , , | 73 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.