Monthly Archives: January 2013

A corner of Semarang at dawn

Semarang is the largest city in Central Java Province, Indonesia. It is also the capital of the province. The city is located at the north coast of Java; hence it is also called the Port of Java for tourism purposes. It is said that the name Semarang derived from the Javanese word “asem” and “arang. “Asem” can be translated literally as tamarind and “arang” as rare or uncommon. Perhaps it was a place that only had a few tamarind trees back then  🙂

The below pictures were taken at Jalan Pandanaran, one of the main streets in Semarang. At the background, there is an open lawn or square which is used as the public central activity premise known as the Simpang Lima lawn. The area’s name shows that from there people can go to five different directions.

In the pictures, you can see a tall structure that looks like a lighthouse. The tall structure is actually the minaret of Baiturrahman Grand Mosque located in Simpang Lima. The mosque is one of Semarang’s many landmarks. Travelers can ask for a permission to go up to the top of the minaret, and enjoy the bird-eye view of Semarang panorama from up there.

Jalan Pandanaran, as one of the five streets that are crossing the Simpang Lima, is approximately 1.5 kilometres long. It is connecting Simpang Lima Area and the Tugu Muda area. Along the street, there are offices, hotels, restaurants and stores. Among all there are many stores that sell Semarang’s traditional food such as bandeng presto (pressure-cooked milkfish), lunpia Semarang (Semarang style spring rolls), and wingko babad (flame grilled sweet cake made of coconut and flour).

Aside of delicious traditional foods, Semarang also offers many interesting places to visit. So . . . anybody interested in visiting Semarang?   😎

IMG_SMG01

breaking dawn 1 ( 5:11 AM )

IMG_SMG02

breaking dawn 2 ( 5:28 AM )

IMG_SMG03

breaking dawn 3 ( 5:51 AM )

Advertisements
Categories: Travel Pictures | Tags: , , | 82 Comments

A mosque with a temple-like minaret

Kudus is a small town in Central Java Province, Indonesia, and is located around two hours drive to the east from Semarang. It is said that the town’s name was derived from Al Quds (Jerusalem’s Arabic name). Nowadays, Kudus is known for its kretek clove cigarettes.

The most known landmark of the city is an old mosque called Al-Manar Mosque or Masjid Menara (literally translated as the Tower Mosque) which was built in 1549. The mosque is also considered as one of the oldest mosques throughout Indonesia. It was built by Sunan Kudus, one of the Nine Islamic Holy Men of ancient Java known as “Wali Songo”, whose mausoleum which lies close to the mosque, is still an object of pilgrimage up till now.

the al-manar mosque with its minaret

the al-manar mosque with its minaret

The mosque is known as Masjid Menara (the Tower Mosque), because of its unique minaret. While the mosque itself is a Mogul-style building with its rounded dome and concrete pillars, the minaret is clearly not a common Islamic architecture. It is looked like a Hindu temple, instead. In my opinion, the minaret has a big resemblance to some ancient Hindu-Javanese structures from the Majapahit era of East Java (13th – 15th century). The minaret was made of red terracotta bricks, as also the wall that surrounded the mosque’s compound. At some places along the wall, there are several gateways at the form of “candi bentar” (a split temple like gate), which is also a typical gate of the Hindu Majapahit era palace complex.

From the appearance, it is clear that this is really a kind of acculturation of Hindu and Islam, which is a typical style of Islam spreading in Java at the era of Wali Songo. At that time, the Wali Songo spread their teachings of Islam without any violence, and still accepting the old values which had been grown among the local community long before that. That was why Islam can be accepted easily by the locals.

Even-though Menara Kudus is intended to be the mosque’s minaret, it was not intended to be used by a muezzin; instead it was used to place a big skin drum (“bedug“) which was used to summon people to pray. The drum was placed under a pavilion like shelter at the top of the minaret. On some spots, there are Ming’s style porcelain plates attached to the wall of the minaret for decoration purposes. The porcelain plates bear middle-east style pictures on them. Unfortunately many have been missing  😦

Categories: Travel Pictures | Tags: , , | 67 Comments

Kembali ke jaman Jurassic

He he he . . . judulnya keren ya? Jadi kaya judul film fiksi ilmiah saja. Tapi . . . jujur aja sebetulnya aku bingung mau ngasih judul apa buat catatan perjalananku kali ini. Apalagi, sudah cukup lama juga aku gak bikin tulisan. Coba saja perhatikan, postinganku akhir-akhir ini kan kebanyakan berupa foto. Tulisan terakhir yang aku posting itu hasil tulisan beberapa bulan lalu.

Anyway, balik ke soal judul, kenapa aku sampai kasih judul itu? Well, aku pikir itu pas buat ceritain perjalananku mengunjungi habitat kadal raksasa di kepulauan Nusa Tenggara yang dikatakan merupakan sisa-sisa binatang purba yang masih exist sampai sekarang itu.

Waaahhhh . . . jadi sampai juga ke Pulau Komodo ya?

Iyaaaaa . . . akhirnya setelah selama ini cuma bermimpi dan bikin rencana perjalanan kesana yang selalu batal, bisa juga aku berkunjung ke Pulau Komodo dan bertemu langsung dengan sisa-sisa hewan purba itu di habitat aslinya.

to the island

to the island

Perjalananku kesana bermula dari ajakan beberapa teman untuk bergabung dalam outing ke Bali dan Komodo. Biasanya sih aku gak pernah ikut dalam acara-acara semacam ini, tetapi berhubung tujuannya adalah tempat yang memang aku ingin datangi, aku memutuskan untuk ikut kali ini.

Akhir November lalu, rombonganku berangkat dengan pesawat ke Bali, dan baru keesokannya lagi berangkat dari Denpasar menuju Labuan Bajo di Flores.

Tahu gak, gara-gara perjalanan ini akhirnya mau gak mau aku harus beli sepatu olah raga baru. Koq bisa? Iyalah, kan biasanya aku kemana-mana cukup pakai sandal gunung dengan pertimbangan mau jalan ke gunung ok, mau nyebur ke air juga ok, gak perlu repot buka sepatu segala. Dan memang sudah aku buktikan begitu dalam perjalanan-perjalananku sebelumnya. Apalagi dalam selebaran yang aku terima sebelum perjalanan, cuma ditulis “harap mengenakan sepatu yang enak dipakai jalan karena akan melakukan trekking di Pulau Komodo”. Tetapi ternyata dalam briefing lanjutan di Bali, baru aku tahu kalau seharusnya jangan pakai sepatu sandal saat trekking nanti, mengingat adanya kemungkinan bertemu ular di sana. Bahkan pada saat trekking itu diharuskan memakai celana panjang untuk berjaga-jaga. Waduh . . . kacau deh kalau gini  :(. Sewaktu aku tanyakan kenapa tidak dari awal saja dijelaskan kalau ada kemungkinan ketemu ular saat trekking, jawaban yang aku terima adalah karena kuatir pesertanya berkurang karena takut  :(. Ya sutra lah . . . apa boleh buat, akhirnya malam itu aku harus cari sepatu juga deh jadinya. Untung masih di Bali, dan aku nginap tidak jauh dari sebuah mall sehingga tidak susah menemukan toko olah raga yang menjual sepatu juga, kalau sudah terlanjur di Labuan Bajo kan repot jadinya.

Paginya, sesuai dengan rencana, aku dan rombongan berangkat menuju ke Labuan Bajo, Flores. Pesawat yang melayani rute ini rata-rata pesawat kecil. Jadinya karena rombonganku lumayan besar, lebih dari setengah pesawat diisi rombonganku. Perjalanan di tempuh dalam waktu sekitar 1,5 jam. Kebetulan aku dapat tempat duduk di dekat jendela, sehingga aku bisa melihat pulau-pulau yang dilewati sepanjang perjalanan dari Bali ke Flores itu.

labuan bajo airport

labuan bajo airport

Begitu sampai di Labuan Bajo dan turun dari pesawat, hampir semua penumpang menyempatkan diri untuk berfoto di depan nama bandara-nya. Lucu juga melihat orang antri untuk berfoto di situ. Ada juga yang berfoto dengan latar belakang pesawat yang membawa kita dari Bali.

Bandara Labuan Bajo tidaklah besar, bahkan menurut aku masih merupakan sebuah bandara yang sederhana. Di sini aku sempat dikagetkan dengan terdengarnya sirine mengaung. Ternyata sirine tersebut dibunyikan setiap kali akan ada pesawat yang take-off ataupun landing dengan tujuan mengusir kambing dan kerbau yang masih banyak berkeliaran di kawasan bandara. He he he . . . lucu juga sih  😀

Labuan Bajo yang merupakan kota terbesar di Kabupaten Manggarai Barat juga bukan merupakan kota yang besar. Udaranya saat itu panas sehingga menyebabkan aku dan teman-teman serombonganku agak malas untuk beraktifias. Dari bandara, rombonganku diantar langsung ke hotel untuk check-in dulu. Untunglah hotel yang jadi tempat menginap rombonganku cukup nyaman. Di bagian belakang hotel terdapat taman yang cukup luas dengan kolam renang, dan taman ini langsung menyambung ke pantai yang lumayan indah.

Hari berikut lagi, barulah aku dan rombongan berkesempatan berkunjung ke Pulau Komodo. Perjalanan dimulai dari dermaga Labuan Bajo dengan mempergunakan speed-boat. Jarak Labuan Bajo – Komodo ditempuh dalam waktu hampir dua jam dalam kondisi laut tenang. Perjalanan menuju Pulau Komodo melewati beberapa pulau kecil yang beberapa diantaranya dihuni oleh nelayan. Menurut penuturan salah seorang anak buah kapal, di pulau-pulau yang kelihatan gersang itu tidak terdapat air tawar, sehingga air tawar harus didatangkan dari Labuan Bajo. Repot juga ya.

the final briefing

the final briefing

Sesampainya di Pulau Komodo, aku dan teman-temanku langsung diminta berkumpul di sebuah gazebo yang terletak tidak jauh dari pantai untuk mendengarkan briefing lagi. Kali ini yang menjelaskan adalah salah satu ranger yang ada di situ. Yang ini ranger atau petugas penjaga hutan beneran lho ya, bukannya Power Ranger yang di film-film itu. Dalam briefing singkat itu, si Pak Ranger (sorry aku lupa namanya  :P) menjelaskan segala sesuatu mengenai si komo ini. Sifat-sifatnya dan juga kebiasaan-kebiasaannya. Termasuk juga ditanyakan apakah di antara anggota rombongan ada yang sedang datang bulan. Maklum anggota rombonganku waktu itu banyak juga ceweknya.

Memangnya kenapa sih kalau lagi datang bulan? Ya bukan kenapa-napa sih, cuma si komo ini kan penciumannya tajam, kuatirnya dia mencium bau darah datang bulan itu, terus pada datang dan nguber. Kalau kejadian gitu kan serem. Menurut informasi yang disampaikan Pak Ranger, para komodo itu bisa mencium bau mangsanya dari jarak 5 kilometer lebih. Makanya disarankan bagi mereka yang sedang datang bulan untuk tidak berkunjung ke situ demi keamanan bersama. Untunglah rupanya saat itu tidak satupun dari anggota rombonganku yang sedang datang bulan.

Pak Ranger ini juga menjelaskan bahwa kita akan trekking ke habitat asli komodo, dan karena komodo yang ada di Pulau Komodo ini bukan binatang peliharaan, maka Pak Ranger juga tidak menjamin bahwa kita pasti akan bertemu komodo dalam trekking nanti. Sebelum mulai melakukan trekking, Pak Ranger mengajukan pilihan kepada rombonganku untuk memilih route mana yang akan ditempuh. Maklum saja ada tiga route yang bisa ditempuh, yaitu route pendek, route menengah dan route panjang. Tentunya semakin panjang route, medannya akan semakin berat karena akan diajak masuk lebih dalam ke hutan di pedalaman pulau, tetapi kemungkinan ketemu komodo tentunya jadi lebih besar. Siang itu karena udara yang terasa panas ditambah keadaan pulau yang gersang, rombonganku memilih menempuh route pendek saja. Route pendek ini akan ditempuh dalam waktu kurang lebih 45 menit.

the rangers

the rangers

Setelah semuanya siap dan penjelasan Pak Ranger bisa dimengerti oleh semua anggota rombongan, maka rombongan dipecah menjadi dua rombongan besar, dan masing-masing rombongan itu didampingi oleh beberapa ranger. Perbandingannya untuk rata-rata 5 orang anggota rombongan, dijaga oleh seorang ranger yang bersenjatakn tongkat panjang yang ujungnya bercabang. Menurut para ranger itu, cabang yang ada di ujung tongkat tersebut dipergunakan untuk menekan kepala komodo kalau seandainya ada komodo yang mau menyerang anggota rombongan. Itupun menurut mereka kalau komodonya sedang beringas, bisa-bisa tongkat mereka tidak menolong, dan kita harus lari. Pada saat itu diinformasikan juga, kalau seandainya terjadi hal terburuk, kita harus lari dengan jalur berbelok-belok karena seperti halnya babi hutan, komodo sulit bermanuver dengan lincah pada saat mengejar mangsanya. Kemudian diusahakan juga untuk memanjat pohon untuk menghindar. Komodo dewasa tidak bisa memanjat pohon karena berat tubuhnya. Lho koq ditekankan komodo dewasa, komodo remaja dan komodo kecil gimana? Nah . . .kalau itu memang mereka hidupnya justru di atas pohon. Waduh . . serem juga dong, dibawah diuber komodo dewasa di atas pohon ditungguin komodo remaja dan komodo kecil  😦

Ngomong-ngomong, beneran nih komodo muda dan komodo kecil itu hidup di atas pohon? Iya bener. Ini merupakan salah satu mekanisme pertahanan diri alamiah para komodo itu. Koq bisa gitu, iya . . jadi berdasarkan info dari Pak Power Ranger itu, komodo termasuk hewan yang setia dengan pasangannya seumur hidup, dan ini merupakan suatu kondisi yang jarang ditemui di dunia perkadalan. Masa kawin para komodo ini biasanya terjadi antara bulan Mei sampai Agustus yang kemudian dilanjutkan dengan masa pengeraman telur yang memakan waktu antara 7 – 8 bulan. Selama masa pengeraman ini, komodo betina biasanya akan menjaga telur-telurnya dan menjadi sangat ganas, bahkan sering kali pula sama sekali tidak mau didekati oleh komodo jantan pasangannya. Sementara itu, komodo jantan akan melakukan patroli dan menjaga sarangnya dari serangan komodo lain ataupun dari serangan predator lainnya. Biasanya pula pada saat ini sering terjadi pertempuran antar komodo jantan untuk memperebutkan wilayah. Sebetulnya pengen juga sih lihat perempuran ini, soalnya keren. Dalam perempuran ini biasanya dua komodo jantan akan saling memeluk dan berusaha menjatuhkan dengan bertumpu pada kaki belakang masing-masing. Sepintas seperti sedang berdansa  :).

komodo's nest

komodo’s nest

Soal sarang, biasanya para komodo ini mempergunakan sarang yang sebetulnya dibuat oleh burung gosong berkaki jingga. Sarang tinggalan dari burung tersebutlah yang menjadi tempat favorit para komodo untuk meletakkan telur-telurnya. Biasanya pada akhir musim penghujan, telur-telur tersebut mulai menetas, dan keluarlah bayi-bayi komodo yang panjangnya sekitar 40 cm. Berbeda dengan pada saat masih berwujud telur yang selalu dijaga oleh induk komodo, begitu menetas bayi komodo sudah harus berjuang sendiri untuk hidup. Induk komodo akan meninggalkannya, bahkan tidak jarang malah memakan bayi-bayinya sendiri. Komodo jantan juga akan memburu bayi komodo jantan karena mereka menganggapnya sebagai ancaman dan pesaing. Jadi para komodo itu termasuk hewan kanibal juga. Oleh karena itulah begitu menetas, setelah beberapa saat para bayi komodo ini harus bergegas memanjat pohon untuk berlindung dari terkaman induknya ataupun juga berlindung dari incaran predator lain di darat.

Di atas pohon pun sebetulnya para bayi komodo ini tidak sepenuhnya aman. Burung Gagak, Burung Elang Flores, juga ular yang banyak dijumpai di pulau itu menjadi ancaman keselamatan bayi komodo yang berlindung di atas pohon. Sedangkan untuk makanannya, para bayi komodo dan komodo muda itu berburu anak-anak burung, dan binatang kecil lainnya yang dijumpainya di atas pohon. Biasanya mereka berada di atas pohon sampai berumur 3 – 5 tahun, dimana tubuh mereka sudah cukup berat untuk bisa tetap nangkring di atas pohon, sementara secara umur mereka juga sudah menjadi dewasa dan siap untuk mencari pasangan.

the komodo

the komodo

Pada saat melakukan trekking, rombonganku termasuk beruntung. Karena tidak begitu jauh memasuki hutan, seekor komodo jantan muncul dari balik semak di sebelah kiri rombongan, kemudian dengan santai berjalan menghampiri rombongan. Para ranger segera mempersiapkan tongkat saktinya sambil meminta kepada semua anggota rombongan untuk tidak berada di jalur yang sekiranya akan dilewati si komo ini. Kemudian dengan penuh percaya diri dan sambil menjulur-julurkan lidah bercabangnya, komodo dengan panjang badan lebih dari dua meter ini menghampiri rombonganku, dan setelah cukup dekat dia berhenti, dan dengan santai berbaring sambil menengok ke kiri dan ke kanan seolah-olah menikmati menjadi pusat perhatian seluruh anggota rombongan, Sementara itu anggota rombonganku segera memanfaatkan momen itu untuk memotretnya.

Setelah puas memotret, rombonganku kembali melanjutkan perjalanan menyusuri jalur-jalur jalan dalam hutan yang gersang itu. Selama perjalanan, Pak Ranger terus memberikan penjelasan mengenai komodo. Ditunjukkannya kotoran komodo kering yang kebetulan dijumpai di tengah jalur trekking ini. Kebetulan kotoran itu berwarna putih. Menurut Pak Ranger, itu sisa-sisa tulang binatang yang dimakan komodo, karena komodo memakan mangsanya secara utuh termasuk tulang-tulangnya. Kalau sisa-sia daging dan bulu biasanya kotorannya berwarna kecoklatan, katanya.

Dalam berburu, komodo biasanya sendirian dan dilakukan dengan cara menyergap mangsanya yang lengah. Biasanya mangsanya akan digigit kemudian dibiarkan menjadi sangat lemah atau bahkan mati. Butuh waktu antara 2 – 3 hari sampai mangsanya tersebut mati. Dan selama itu dengan sabar si komodo akan mengikuti mangsanya. Begitu memungkinkan baru komodo akan menerkam dan memakannya sampai habis tidak bersisa. Oleh karena itu, menurut Pak Ranger pernah ada peneliti asing yang hilang di Pulau Komodo, dan tidak pernah ditemukan lagi. Para pencari hanya menemukan kacamata, kamera dan tasnya. Diperkirakan peneliti malang tersebut telah habis dimakan komodo. Pernah pula ada kejadian seorang anak penduduk setempat yang sedang buang air di semak-semak tiba-tiba digigit dari belakang oleh komodo. Meskipun tidak bisa diselamatkan secara utuh, tetapi sebagian jasadnya masih bisa dibawa karena kebetulan saudara anak itu berteriak dan mendapatkan pertolongan dari kerabatnya yang kemudian berhasil mengusir komodo yang datang karena bau kotoran anak kecil itu dan kemudian memangsanya. Dengan berbagai kejadian itu, diterapkan peraturan bahwa untuk menjelajah Pulau Komodo tidak boleh sendirian, melainkan harus berombongan. Hal ini untuk mencegah terulangnya serangan komodo terhadap manusia.

the trekking

the trekking

Selain tidak berjalan sendirian, ada juga anjuran lain bagi pengunjung. Antara lain jangan membawa barang yang dijinjing sehingga barang tersebut berayun-ayun, karena inipun akan memancing komodo untuk mendekat dan kemudian berusaha untuk meraih barang yang terayun itu. Hal lain yang juga disarankan adalah tidak berisik selama melakukan trekking karena komodonya lagi tidur siang, juga dianjurkan untuk tidak memakai pakaian dengan warna mencolok dan juga tidak memakai parfum dengan bau yang kuat. Topi dianjurkan untuk dipakai, dan oleskan juga sun-block buat yang tidak terbiasa berada di bawah terik matahari. O ya, jangan lupa bawa air minum karena sepanjang jalur trekking gak ada warung 😛

Sepanjang jalur trekking itu, aku dan rombongan beberapa kali bertemu dengan hewan-hewan lain yang juga hidup bebas di situ. Ada kijang, babi hutan, juga beraneka jenis burung, tapi yang aku lihat paling banyak sih burung gagak hitam yang cukup besar dan terus berkaok-kaok dengan suaranya yang parau.

a view from frigatta hill

a view from frigatta hill

Sebelum sampai di akhir route trekking, rombonganku sempat diajak juga mendaki ke Frigata Hill yang merupakan sebuah bukit, dan dari atas bukit ini kita bisa memandang keindahan pantai dan pelabuhan Pulau Komodo. Jalur trekking ini berakhir di mess para Ranger, dimana terdapat juga sebuah kantin sederhana, sehingga aku dan teman-teman berebutan membeli minuman dingin untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering karena sepanjang jalur trekking itu medannya gersang, ditambah sengatan sinar matahari yang lumayan terik.

Tidak jauh dari kantin itu, terdapat deretan kamar kecil dan juga deretan kamar sederhana yang bisa disewa pengunjung yang ingin bermalam di Pulau Komodo. Di seberang kantin, terdapat dapur yang dipergunakan memasak makanan para ranger dalam bentuk rumah panggung. Nah di bawah dapur ini berkumpul beberapa komodo yang tertarik datang karena mencium bau masakan. Buat yang belum puas memotret komodo, disinilah kesempatan untuk memotretnya. Mumpung lagi pada ngumpul tuh komodonya.

Setelah cukup beristirahat, aku dan rombonganku kembali ke titik awal route trekking, yaitu di dekat dermaga. Kali ini melalui jalur di tepi pantai yang juga melewati beberapa lapak penjual souvenir, sehingga jalannya mudah dan tidak melelahkan. Sebentar kemudian rombonganku sudah sampai lagi di dermaga.

the pink beach

the pink beach

Perjalanan kembali ke Labuan Bajo kembali ditempuh dengan speed-boat. On the way kembali itu, aku dan rombongan menyempatkan diri mampir sebentar di Pink Beach yang terletak di salah satu sudut Pulau Komodo. Di Pink Beach ini sebagian besar anggota rombonganku menyempatkan diri untuk mencebur ke laut untuk berenang, dan beberapa orang melakukan snorkeling karena pemandangan bawah air di daerah tersebut sangat indah. Siang itu Pink Beach cukup ramai. Karena tampak beberapa kapal yang ditumpangi turis-turis asing juga sedang berlabuh di lepas pantainya. Cuma saja aku dan rombongan tidak terlalu lama berada di Pink Beach. Menurut beberapa teman, arus bawah lautnya kuat sekali di situ, sehingga kurang nyaman untuk berenang.

Perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Bidadari untuk sekali lagi berlabuh dan sejenak bermain air di pantainya yang indah. Disini boleh dibilang semua anggota rombongan turun ke pantai. Sebagian berenang-renang di laut yang sangat jernih dan sebagian lagi duduk-duduk sambil ngobrol. Menjelang sore, perjalanan dilanjutkan lagi menuju ke Labuan Bajo.

Asyik juga petualangan kali ini kembali masuk ke jaman Jurassic dan bertemu sisa-sisa dinosaurus di pulau Komodo. Sayang para komodo yang ditemui terkesan kurang buas. Eh . . .tapi kalau lagi buas memangnya berani ngadepinnya? Ya, memang mikir-mikir juga sih ya kalau ketemu komodo yang lagi buas-buasnya, he he he . . .

Summary :

Last November, I got an opportunity to visit an island that inhabited by creatures which is known as the remaining living dinosaurs. The creatures are known as the komodo dragons, and the island I visited was Pulau Komodo or Komodo Island.

I started my journey with a direct flight from Jakarta to Denpasar, Bali. After an overnight in Bali, the following morning, I continued my trip with a flight to Labuan Bajo, in Flores. A hot and dry climate greeted me and my group in Labuan Bajo, which made us prefer to stay in the hotel than having a city tour around the city.

fisherman's village

fisherman’s village

The following morning was the time we went to Komodo Island. The journey was started from the city port. We used a big speed-boat to reach the island in about 2 hours. En route, we passed several islands inhabited by fishermen. According to one of the sailors, the fishermen conduct hard living there. Those islands are dry; and to fulfill their need of fresh water, they have to buy form Labuan Bajo.

On arrival at Komodo Island, we gathered in a small hut close to the simple port to get briefs from the rangers about the island and also about the komodo itself. The rangers explain the dos and the don’ts for the visitors of Komodo Island. Among all, they asked if any members of the group having her period at that time. If so, the ranger suggested her not to follow the group that would trek through the dry forest of the island; because the komodos can smell blood from as far as 5 kilometers, and if such a woman joining the trek, she would increase the risk to be attacked by komodos. Fortunately there was nobody that having period  🙂

At that time, the ranger offered us three routes; the short, middle, and long trek; in which my group chose to trek on the shortest route which took approximately 45 minutes. Since the komodos live freely in their habitat on the island, there was no guarantee that our group met them on the path we chose. To increase the chance to meet the komodos, one should choose the longest trek actually.

one of the komodos

one of the komodos

On our trek, every 5 persons will be accompanied by 1 ranger for precautions. Along the trekking path, the ranger told us more details about komodo. So according to them, if chased by komodo, one should run zigzagging because komodo cannot maneuver easily. It would be better if the person being chased find a tree so he or she can climb on it. Beware, however, that while the adult komodos cannot climb a tree, the baby and young adult komodos live on a tree as their natural defense system. In the wild, the baby and young adult komodos are the easy preys for predators such as, crows, eagles, vipers, and other adult komodos that include their parents as well.

Fortunately on our group’s short trek, we found some komodos. One on our path in the dry forest, and some others under the ranger’s headquarters. Our trek included a short climb to Frigata Hill, a low hill that facing the sea, where we can enjoy the beautiful scenery of Komodo Island’s port and beach.

On our way back to Labuan Bajo, we stop for swimming and snorkelling at the Pink Beach and the Angel Island. .–

Categories: Travel Notes | Tags: , , | 69 Comments

Blog at WordPress.com.