Monthly Archives: September 2015

To the market

According to Wikipedia, a market or marketplace is a regular gathering of people for the purchase and sale of provisions, livestock, and other goods. A place where buying and selling occurs.

So when we talked about a market, it must referred to a place with many people, some of them selling goods and the others buying the goods the sellers offered. Markets existed everywhere, and there were many types of market could be found. For me, I found that traditional markets were the most interesting type of markets. In there we could meet with the locals and learn how their characters were as well as find any specific items produced in a certain place.

IMG_PST13

In Tambolaka, Sumba Island, Indonesia, I found such a market quite close to my hotel, so I took the opportunity to visit and see what the locals sold in there. The market took place in a small square by the main road and it had already crowded in the morning.

IMG_PST11

Most of the sellers were people sold commodities or products harvested from their small fields, so they there were not in large quantities. Most of them were women, either young or old. The goat sellers and traditional woven-cloth sellers, however, were mostly men.

IMG_PST02IMG_PST06

And although almost similar with other traditional market in other places, there was always something unique in a market located in a certain place. It also happened in Tambolaka traditional market  🙂

Keterangan :

Menurut Wikipedia, pasar atau khususnya pasar tradisional adalah tempat bertemunya para penjual dengan para pembeli yang ditandai dengan adanya transaksi jual beli secara langsung dan biasanya disertai dengan proses tawar-menawar.

Jadi kalau kita membicarakan pasar, pasti yang terbayang adalah suatu tempat dengan banyak orang yang melakukan transaksi jual beli. Pasar terdapat di hampir semua tempat dimana terdapat pemukiman. Kalau di kota-kota besar pasar telah menempati suatu lokasi yang telah tertata rapi bahkan biasanya juga telah menempati sebuah gedung yang cukup besar, tidak demikian halnya dengan pasar-pasar yang terdapat di kota-kota kecil atau bahkan jauh di pelosok. Biasanya pasar-pasar di kota kecil hanya menempati sebuah lahan terbuka dengan los semi permanen ataupun dengan dasaran terbuka.

IMG_PST16

Aku sendiri selalu tertarik untuk berkunjung dan blusukan di pasar-pasar seperti itu. Bukan apa-apa, tetapi dengan masuk ke pasar-pasar tradisional, apalagi yang terletak jauh dari kota besar, aku juga jadi bisa mengetahui karakter dan kebiasaan penduduk setempat. Belum lagi selalu ada kemungkinan untuk menemukan komoditi yang menjadi ciri khas daerah tersebut yang dijual di pasar.

IMG_PST17

Dalam kunjunganku ke Tambolaka, Sumba Barat, aku merasa cukup beruntung ketika mengetahui bahwa ada sebuah pasar tradisional yang buka setiap hari dan lokasinya hanya di seberang jalan dari hotel tempat aku menginap.

Di Pasar Tambolaka itu, memang sebagian besar yang diperjual belikan adalah kebutuhan sehari-hari, mulai dari berbagai jenis sayur, buah-buahan dan berbagai keperluan dapur, bahkan di sisi lain pasar ada juga yang menjual ternak dan kain tenun tradisional.

IMG_PST14

Sebagian besar pedagang merupakan pedagang kecil yang menjual hasil kebunnya sendiri. Karena itulah barang yang dijual juga tidak dalam jumlah yang besar. Ketika aku ke sana, beberapa pedagang bahkan sudah nampak berkemas karena dagangannya sudah habis, padahal aku ke sana masih relatif pagi juga.

IMG_PST15

Pasar Tambolaka meskipun sepintas nampak sama seperti pasar-pasar di daerah lain, tetapi tetap saja buat aku unik. Penggunaan mangkuk-mangkuk kecil atau ikatan sebagai satuan barang yang dijual baru aku temui di Pasar Tambolaka ini. Belum lagi banyaknya lelaki dengan bibir memerah akibat mengunyah pinang sirih yang aku lihat berlalu lalang di pasar dengan memakai kain tenunan khas Sumba dan menyandang golok di pinggang menjadi pemandangan yang tidak aku jumpai di tempat lain juga.

IMG_PST01

Jadi, meskipun nggak berbelanja, nggak ada salahnya juga kan blusukan di pasar dan ikut cerewet bertanya-tanya kalau menemukan komoditi yang unik atau menarik di sebuah pasar tradisional?  🙂

Advertisements
Categories: Pictures of Life | Tags: , , , , | 13 Comments

Waiting for the sunrise in the dark

That day was my second day in Sumba Island, Indonesia and in order to get my first sunrise pictures there, I asked Agus who accompanied me in my trip, where was the best place to catch the sunrise. He suggested visiting a beach not too far from my hotel in Tambolaka. So off we went to Ketewel, a beach inhabited by some settlers from other islands and they made salts traditionally for their living.

IMG_KET01

I arrived at Ketewel long before the sun rose. The sky was still dark although a slit of red and orange had already seen in the east. The village was still as if a deserted village. But it was not too long before my presence in their village was attracted the people lived in there. They surrounded me and Agus in curiosity, but Agus’ explanation was clearly understood by them and soon they let me explore their village while waiting for the sun to rise.

IMG_KET02

I shot some picture in the dark and also walked to some simple huts that been used to store the salts they produce. From one of the villagers, I got information that they made salts not by let the sea water evaporated under the sun; but they boiled the sea water in a big wok instead.

IMG_KET03

When the sun rose, I could clearly see the condition of the village. How they made a simple sea wall to prevent the tides, and how their boats mooring in the water close to the sea-wall.

IMG_KET04IMG_KET09

I left the village after the sun shone brightly, and the village was alive with the villagers’ activities. Men mended their wooden boat, women went to the water to wash their family’s clothes, and children played in the field resulted from the low tide. Ah . . . daily life in a simple village . . .

IMG_KET05

Keterangan :

Hari itu adalah hari kedua aku di Pulau Sumba. Dan dalam rangka memperoleh foto-foto saat terbitnya matahari di Pulau Sumba, aku meminta Agus, orang yang menemani aku dan keluarga selama menjelajah Pulau Sumba, untuk mencari tempat yang ideal guna memperoleh foto-foto matahari terbit itu. Agus menyarankan untuk menuju ke Ketewel, sebuah desa di tepi pantai yang penduduknya mencari penghasilan dengan membuat garam secara tradisional. Dan itu pula sebabnya, di pagi buta itu aku dan putri bungsuku sudah berada di jalan menuju ke Desa Ketewel.

IMG_KET11

Hari masih gelap dan Ketewel masih sangat sepi. Beberapa orang terlihat baru saja selesai menunaikan shalat subuh di sebuah masjid sederhana yang terletak di mulut desa. Tak pelak kehadiran kendaraan yang membawa aku, putriku dan dikemudikan oleh Agus di tepi pantai pagi buta menarik perhatian penduduk. Segera beberapa lelaki sudah berkumpul mengelilingi kendaraan yang aku tumpangi. Untunglah penjelasan dari Agus dan juga sapaan sopan yang aku lontarkan bisa menghapus kecurigaan mereka. Sebentar kemudian obrolan santai diseling canda sudah terjadi. Itu juga sebabnya aku bisa tahu kalau mereka bukan penduduk asli Sumba, melainkan pendatang dari pulau lain.

Setelah berbincang sejenak dengan mereka, Aku dan putriku segera berpamitan untuk mulai membidik langit gelap yang mulai merona merah di ufuk timur. Suasana yang gelap memang agak menyulitkan untuk mencari foreground yang menarik.

IMG_KET12

Tapi seiring dengan makin meningginya sang surya, suasana Desa Ketewel dan juga pantainya terlihat dengan makin jelas. Pantai Ketewel bukanlah merupakan pantai wisata, melainkan betul-betul merupakan tepian laut yang menjadi batas antara pedesaan dengan laut, dimana beberapa perahu milik penduduk ditambatkan. Di tepi pantai itu juga telah dibangun semacam tembokan untuk menahan air pasang. Kebetulan pagi itu air laut sedang surut, sehingga dari pantai aku melihat air laut jauh di sana.

IMG_KET13IMG_KET14

Surutnya air laut menyebabkan timbulnya daratan yang cukup luas, dan itu dipergunakan oleh remaja setempat untuk menjadi lapangan tempat mereka bermain bola. Beberapa anak yang lebih kecil nampak pula berlarian di daratan yang timbul itu.

IMG_KET15

Kehidupan di Desa Ketewel makin terlihat dengan banyaknya pula kaum ibu yang berbondong-bondong menuju ke sumur untuk mencuci pakaian ataupun mandi. Beberapa pria juga mulai terlihat memperbaiki perahu, sementara beberapa orang lagi terlihat membuka gubug-gubug sederhana beratapkan ilalang yang mereka pergunakan untuk menyimpan garam yang mereka hasilkan.

IMG_KET10

Keasyikanku mengamati kegiatan penduduk Desa Ketewel pagi itu sedikit terusik ketika perutku mulai terasa lapar. Wah . . rupanya memang sudah waktunya buat aku dan putriku untuk meninggalkan desa itu. Diiringi lambaian tangan anak-anak dan dibawah tatapan ramah penduduk desa, mobil yang aku tumpangi melesat meninggalkan Desa Ketewel, untuk kembali ke hotel yang aku pergunakan untuk bermalam di Kota Tambolaka.–

IMG_KET16 IMG_KET17

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 23 Comments

An undeveloped beach

As soon as I landed at Tambolaka Airport in West Sumba, Indonesia, I went directly to a beach nearby. It took only about 30 minutes from the airport to the beach through a relatively good road that passed through the rural area. Along the way I saw buffaloes roaming the road, some of them was herded while others were just roaming freely in their gangs as if they knew where should go. In some pools of mud by the road, I also saw buffaloes wallowing to avoid the scorching sun.

IMG_MAB01

The relatively empty road brought me to an open area that looked so barren. The white sands spread so wide while in front of me the blue ocean was seen clearly. Yes . . I arrived at the beach. It was an open beach, no ticket counters nor any attendances waiting for visitors and asking retributions like in most other beaches.

IMG_MAB03

Although the area seemed so barren, the white sandy beach looked quite potential to be developed as a tourist destination. That’s why some investors had already invest their big money on the beach. A hotel called Mario Hotel & Cafe had already operated there. And looking to the surrounding area, it looked that another hotel would soon be erected on the area. Hope that after the beach had developed, the surrounding area would still be maintained, even it would not be so barren anymore.

IMG_MAB02

The beach name was Mananga Aba, but some settlers from other islands started to call the beach with a new name, Kita Beach. They said that Mananga Aba Beach was so beautiful so it could compete the famous Kuta Beach in Bali, even they said that they want Mananga Aba would be as famous as Kuta Beach and visited by many travelers. The new name, however, raised protests from the locals. They want the beach name as it was because the name Mananga Aba had already existed from a very long time, even from the era of their ancestors. Fortunately, the local government supported the aspiration to keep the original name, and it was said that an inscription would soon be erected to ensure that the beach name was still Mananga Aba Beach.

IMG_MAB04

To visit the beach, travellers should use their own vehicles because there were no public transports serve the route to the beach from the nearby town. And as the beach was still so barren, it would be better to visit the beach while the sun was not so bright. For the sunrise or sunset hunters, Mananga Aba was a good place to get them both  🙂

IMG_MAB13IMG_MAB09

Keterangan :

Pada perjalananku ke Pulau Sumba yang terletak di Propinsi Nusatenggara Timur, aku berkesempatan mengunjungi sebuah pantai berpasir putih yang terbilang masih asli dan lokasinya tidak jauh dari Bandara Tambolaka di Sumba Barat. Hanya diperlukan waktu sekitar 30 menit berkendara melalui jalan yang relatif mulus dan sepi dari Bandara ke pantai itu. Sepanjang perjalanan, aku melalui beberapa pemukiman penduduk dengan rumah-rumah tradisionalnya. Di sepanjang jalan, kendaraan yang aku tumpangi juga harus kerap kali menepi untuk menghindari kawanan kerbau yang berbagi jalan dengan kendaraan di jalan-jalan umum. Kawanan kerbau itu ada yang dikawal penggembalanya, ada pula yang berjalan sendiri seolah mereka sudah tahu kemana harus menuju. Di tepi jalan, tampak pula kerbau-kerbau yang sedang asyik berkubang di genangan air berlumpur untuk menghindari panasnya udara akibat matahari yang bersinar cukup terik saat itu.

IMG_MAB05

Jalan yang sepi itu berakhir di sebuah kawasan yang dari jauh tampak seperti padang pasir. Maklum saja, pemandangan pasir putih terhampar luas dengan sangat sedikit pohon yang tampak membuat aku mau tidak mau berpikir mengenai daerah gurun. Hanya saja di situ, daerah yang mirip padang pasir itu dibatasi dengan laut yang membiru di ujungnya. Ya . . aku sudah sampai di pantai. Pantai yang tampak gersang dan sepi saat itu. Bahkan tidak ada loket ataupun orang-orang yang mengutip retribusi ketika aku memasuki kawasan pantai, tidak seperti di pantai-pantai lain pada umumnya.

IMG_MAB06

Meskipun kelihatan gersang, tetapi hamparan pasir putih berbatas laut yang jernih dengan ombak yang relatif tenang, tampaknya cukup potensial untuk mengembangkan kawasan pantai ini menjadi salah satu kawasan wisata yang akan menyedot banyak pelancong. Karena itu, tidaklah heran kalau banyak investor berlomba-lomba menguasai tanah di kawasan itu dan mengakibatkan harga tanah di sana melonjak tinggi.

Ketika aku ke sana, di sana sudah berdiri sebuah hotel yang cukup bagus. Mario Hotel & Cafe namanya. Dan kalau melihat beberapa lokasi sudah digali untuk membuat fondasi, rasanya tidak lama lagi akan segera menyusul hotel-hotel lainnya. Ya ada bagusnya sih kalau daerah itu berkembang, karena bisa meningkatkan taraf hidup penduduk setempat, asal saja berkembangnya daerah itu jangan sampai merusak ataupun mengotori lingkungan yang asri. Tetapi kalau kawasan pantai itu jadi lebih hijau dengan pohon-pohon atau tumbuhan asli setempat tentu akan lebih baik lagi kan ya?

IMG_MAB07

Eh iya, dari tadi aku belum menyebutkan nama pantainya. Pantai yang aku bicarakan ini dikenal dengan nama Pantai Mananga Aba. Meskipun demikian, para pendatang banyak yang menamai pantai ini dengan nama Pantai Kita. Menurut mereka, pantai ini mengingatkan mereka pada keindahan Pantai Kuta di Bali, dan mereka mengharapkan supaya nantinya pantai ini bisa menyaingi kepopuleran Pantai Kuta. Harapan itu tentunya disertai juga dengan harapan akan semakin banyaknya pengunjung yang datang ke situ, yang pada akhirnya juga mendatangkan keuntungan.

IMG_MAB10

Nama Pantai Kita menimbulkan protes dari masyarakat setempat karena menurut mereka nama asli pantai itu adalah Mananga Aba, dan nama itu sudah dikenal sejak dahulu, bahkan sejak jaman nenek moyang mereka. Untungnya pemerintah daerah setempat mendukung aspirasi mereka dan menetapkan bahwa nama pantai itu tetaplah Pantai Mananga Aba.

IMG_MAB12

Sayangnya untuk berkunjung ke Pantai Mananga Aba, pelancong masih belum bisa mempergunakan kendaraan umum karena memang belum ada kendaraan umum yang melayani rute dari kota terdekat langsung menuju pantai. Entah sih nantinya kalau pantai ini sudah lebih ramai. Selain itu, karena kawasan pantai itu masih gersang, sebaiknya pelancong ke sana pada pagi atau sore hari dimana matahari tidak segarang ketika siang hari. Eh tapi buat para pemburu sunrise dan sunset, Mananga Aba bisa dimasukan ke dalam catatan lokasi-lokasi yang perlu diperhitungkan lho, karena pantai ini memungkinkan mereka untuk menemukan momen-momen indah yang diburunya itu  🙂 .–

IMG_MAB11

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 10 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.