Monthly Archives: January 2014

Gloomy afternoon in a beach threatened by abrasion

A day before the Makepung event in Jembrana, Bli Budi brought me to a beach which was surrounded by many fishermen houses, to ‘hunt’ for sunset. The beach was called Cupel Beach. It was close enough to Jembrana, and became one of the favorite places for the locals to spend their holiday. Unfortunately, as we came to the beach, the sky became so gloomy; the sun chose to hide behind lumps of dark clouds. With such condition on the spot, our intention to get colorful sunset scene at Cupel seemed should be forgotten  😦

IMG_CUP01

Anyway, did not want to give up easily, we still tested our patience in the beach, waited and hoped that the dark clouds would fade away. As we waiting, we also explored the surrounding area to look for any interesting spot which could be used as the foreground of our expected sunset.

What we found in the area was quite shocking, since we found that constant blow of waves after waves seriously threatened to destroy the area. Event the sea wall which was built to prevent the abrasion was partly damaged and even ruined in some parts. Yes, Cupel was a relatively barren beach with no vegetation grew to block the waves. Perhaps . . . it was just perhaps, mangrove could minimize the abrasion. Or, were there any other means to protect the beach area? Well, there should be any means to protect the beach area, I think.–

IMG_CUP05IMG_CUP10

Keterangan :

Sehari sebelum dilangsungkannya acara Makepung di Jembrana, Bli Budi sempat mengajakku ‘berburu’ matahari terbenam di pantai yang tidak jauh dari Jembrana. Waktu itu yang dipilih adalah Pantai Cupel. Sebuah pantai yang dikelilingi beberapa rumah nelayan. Pantai yang landai di satu sisi dan berbukit di sisi lain ini juga merupakan salah satu tempat favorit penduduk setempat untuk bersantai di hari libur. Sayangnya, semakin kami mendekati pantai, langitpun tampak semakin gelap karena tertutup awan mendung. Bahkan sesekali gerimis tipis sempat mengiringi perjalan menuju Pantai Cupel. Dengan kondisi seperti itu, rasanya keinginan untuk bisa menyaksikan keindahan sunset di Pantai Cupel harus dilupakan  😦

Meskipun demikian, sambil terus memperhatikan langit, kendaraan tetap dipacu menuju Pantai Cupel. Ceritanya sih gak gampang menyerah gitu. Harap-harap begitu sampai di pantai, langit berubah menjadi lebih cerah sehingga tujuan semula masih tetap bisa tercapai. Bahkan sesampainya di pantai, Bli Budi dan aku masih sempat melihat-lihat daerah sekitar pantai, mencari spot yang menarik.

IMG_CUP06

Tetapi tampaknya memang keinginan untuk memperoleh sunset sore itu harus disimpan untuk sementara. Awan semakin tebal, dan hembusan angin semakin kencang membawa rasa dingin. Dan rasa dingin itu semakin merayapi tubuh ketika Bli Budi dan aku menyaksikan bahwa Pantai Cupel tergerus abrasi hebat. Memang sudah ada usaha untuk menangkal abrasi itu dengan membangun tembok penghalang gelombang, tetapi tembok itu sendiripun di beberapa tempat pecah-pecah bahkan runtuh tidak mampu menahan gempuran gelombang yang terus menerus. Memang di pantai itu tidak nampak adanya vegetasi penahan gelombang. Tetapi, apakah seandainya ditanami mangrove akan bisa menolong Pantai Cupel dari kehancuran? Atau mungkin ada cara lain? Entahlah . . yang penting kawasan pantai ini harus dijaga dari kehancuran.–

IMG_CUP11

Advertisements
Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 99 Comments

Dressed-up buffaloes on a race track

Early last November, I’ve got information that a traditional buffalo race which called makepung would be held on November 24, 2013 in Jembrana, West Bali. Makepung was Jembrana’s unique tradition which usually be held after the harvest season (July – November). There was no other place in Bali held such a race, which was why Jembrana was also called the Land of Makepung.

IMG_MAK01

In the race, hundreds of pairs of buffaloes that usually used to plough the field would show their strength by racing through a designated path around the local’s paddy fields. There were many makepung tracks in Jembrana, such as Tuwed, Pangkung Dalem, Delod Berawah, Awen, Merta Sari and Kaliakah.

At that time, I was very lucky to have a friend who lived in Jembrana accompanied me, so I didn’t feel like lost in such a crowd in the event 😛 . Budi Arnaya, my friend, is a good photographer and also the author of ceritabudi.wordpress.com. Thanks for accompanying me and also for telling me about the tradition, Bli Budi.

Makepung derived form the word ‘kepung‘ which means to chase. Why chase and not race? Well, makepung was not really a race as we usually knew, because the winner would not be decided by who could run in front of its opponents. A pair of racer buffaloes would called a winner if they could close the gap with the preceding pair of buffaloes.

The contestants in the event usually divided into two groups which symbolized by the color of their flags, red and green. The winner of the race would be the groups who had majority winning buffaloes pairs. The racer buffaloes, which called ‘kerbau pepadu‘ would be dressed beautifully. So aside of the race, to see the “beautiful” or “handsome” buffaloes was also another thing to enjoy on the site.

Actually, there was another kind of makepung in Jembrana, and it was said that it was the original makepung. It called makepung lampit. Not like the one I’ve described above, makepung lampit was held before the planting time and held in a wet paddy field area. If you want to know about makepung lampit, you can see in the post about the event by Budi Arnaya in here.

IMG_MAK06 IMG_MAK07 IMG_MAK17

 

Keterangan :

Awal November lalu aku memperoleh informasi kalau di tanggal 24 November 2013 akan diadakan suatu acara yang disebut makepung di Jembrana, Bali Barat. Makepung ini mirip dengan karapan sapi di Madura, tetapi di Jembrana yang dipacu bukanlah sepasang sapi, melainkan sepasang kerbau. Tradisi makepung yang semula berasal dari pelampiasan kegembiraan para petani sehabis panen ini hanya terdapat di Kabupaten Jembrana. Itu pula sebabnya Jembrana dikenal pula dengan sebutan Bumi Makepung.

IMG_MAK15

Dalam acara itu, ratusan pasang kerbau yang biasanya dipergunakan untuk membajak sawah akan mempertunjukkan keperkasaannya dengan berpacu menarik sebuah kereta kayu kecil yang dikendalikan oleh seorang joki. Sirkuitnya berupa lintasan tanah yang mengelilingi sawah penduduk. Sebetulnya ini bukanlah sirkuit yang khusus diperuntukkan bagi penyelenggaraan makepung saja, melainkan merupakan jalanan desa yang juga merupakan penghubung beberapa desa di daerah dimana sirkuit itu berada. Di Jembrana terdapat beberapa tempat yang sudah dikenal sebagai sirkuit tempat penyelenggaraan makepung, misal saja yang terdapat di Tuwed, Pangkung Dalem, Delod Berawah, Awen, Merta Sari and Kaliakah. Aku sendiri pada waktu itu menyaksikan makepung yang diadakan di Desa Tuwed.

Saat itu aku cukup beruntung karena aku ditemani seorang sahabat yang memang tinggal di Jembrana, sehingga selain tidak seperti orang bingung di arena makepung, aku juga mendapat cukup banyak penjelasan mengenai tradisi ini. Terimakasih Bli Budi karena sudah menyempatkan waktu menemani aku sewaktu aku nyasar ke Jembrana untuk melihat makepung  🙂 . Ya, Bli Budi, atau lengkapnya Budi Arnaya, adalah seorang fotografer handal dan juga blogger aktif pemilik akun ceritabudi.wordpress.com.

Istilah makepung sendiri diturunkan dari kata dasar ‘kepung’ yang berarti mengejar. Lho koq bukan pacu? Ya. karena penentuan pemenang dalam makepung tidak ditentukan oleh siapa yang terlebih dahulu masuk ke garis finis. Jika sepasang kerbau yang berlari mengejar pasangan kerbau di depannya bisa memperpendek jarak, maka pasangan kerbau yang di belakang tersebut sudah cukup untuk dinyatakan sebagai pemenang. Di samping itu, dalam makepung tidak dikenal adanya babak penyisihan segala. Jadi untuk tiap makepung, pasangan kerbau hanya sekali saja berlaga di lintasan. Hal ini disebabkan karena makepung merupakan lomba antar kelompok. Jadi kelompok mana yang paling banyak memiliki pasangan kerbau yang menang, akan otomatis menjadi pemenangnya. Biasanya sih cuma ada dua kelompok yang dicirikan dengan warna bendera yang dipasang di kereta yang dihela oleh pasangan kerbau yang berpacu itu, merah dan hijau.

IMG_MAK12IMG_MAK19

Jika menyaksikan makepung, pelancong tidak hanya menyaksikan kemeriahan kerbau-kerbau yang beradu cepat di lintasan, melainkan juga bisa menyaksikan “ketampanan” kerbau-kerbau itu, karena tiap kerbau peserta makepung, yang disebut sebagai kerbau pepadu, akan dihias dengan bunga atau mahkota dan selendang.

Sebetulnya ada sejenis makepung yang justru dikatakan merupakan cikal bakal makepung seperti yang kita kenal sekarang ini. Makepung tersebut tidak dilaksanakan di lintasan kering seperti yang aku sampaikan di tulisan ini, melainkan dilaksanakan di sawah berair yang belum ditanami padi. Makepung yang demikian disebut sebagai makepung lampit. Dalam makepung lampit, kerbau-kerbau tidak dihias semeriah dalam makepung kering, selain juga tidak menghela kereta kayu. Kalau ingin tahu mengenai makepung lampit, coba saja berkunjung ke blognya Bli Budi yang kebetulan hari ini juga menurunkan tulisan mengenai makepung lampit itu di sini.

IMG_MAK13 IMG_MAK14 IMG_MAK21 IMG_MAK22

Categories: Event Pictures | Tags: , , , | 92 Comments

Blog at WordPress.com.