Posts Tagged With: landscape

A lake with a unique name

On my way from Bengkulu to Curup, I passed through an area called Singaran Pati, and when my car was slowing down because of heavy traffic; I saw a very big pond on the road side. Later on I knew that the pond was actually a natural lake. The lake name was Danau Dendam Tak Sudah which literally means The Never-ending Vengeance Lake.

To hear the lake’s name, my curiosity arose; and from my source of information, I got some stories which explained why the lake had such a unique name. Some were just legends and the others were folk tales which related with local history.

I did not intended to write all of those stories in this post, I would just put the general idea of one or two of those stories 😎

Anyway, one of them told us about a big fight between two giant crocodiles, one of them was came from the lake while the other was from Lampung, a province located at the southern part of Sumatra Island. It was not clear what the cause of their fight was. Their duel was in a big river in South Sumatra called Musi River. It was a long and brutal fight between the two monsters. And as always happened in a brawl between equal opponents, it was no absolute victory. Although at the end the crocodile from Lampung gave up and admitted the superiority of its rival; the monster from the lake was lost its tail. Ashamed of its deformed body, the crocodile of the lake returned to its home in the lake with flaming vengeance burning its heart. To take the revenge, however, it had no more power and guts. What it could do was just cursed the Lampung crocodile. Since then, the local named the lake as the Never-ending Vengeance Lake; and according to the legends, many locals could see the crippled crocodile around the lake from time to time until now because it still could not take any revenge to its opponent.

Other story regarding the name of the lake was related to local history. It was said that in the colonial era, the Dutch Colonial Government intended to build a dam, so in the rainy season the lake water would never flooding the surrounding area and would not slowing down the road project which was been worked on at that time. But somehow, the dam which was already been built was never completed. The local called the structure as the Unfinished Dam or “Dam Tak Sudah” according to the local language. Years after years, the name “Dam Tak Sudah” changed became “Dendam Tak Sudah”, thus the meaning had also changed from the unfinished dam to never-ending vengeance 😆

Anyway, later on the lake became one of Bengkulu’s places of interest. On weekends and holidays, not only the locals that came to the lake to spend their leisure time on the lake shore. Many also came from neighboring cities, even from other provinces.

The surface area of the lake was about 165.5 acres. The surrounding area was overgrown with many kind of tress, except the area that located by the road. At that part, the locals built many simple stalls to serve local foods such as “baso” (local style meatballs) and roasted fish that they sold to travelers who intended to eat by the lake, especially on weekends and holidays. So, for sure it would be pretty crowded on those days, all the more it location was only about 6 kilometers from the city center. It was also quite easy to reach the lake as there were public transports serving the route from the city center to the lake.—

Keterangan :

Aku masih di Bengkulu, dan ketika itu aku dalam perjalanan ke Curup, sebuah kota pegunungan yang terletak di arah timur laut dari kota Bengkulu. Perjalanan itu membuatku melintasi Kecamatan Singaran Pati, dan ketika kendaraan yang aku tumpangi sedikit melambat karena padatnya lalu lintas, pandanganku tertumbuk pada adanya genangan air cukup luas di sisi jalan, ternyata itu adalah sebuah danau alam yang dikenal dengan nama Danau Dendam Tak Sudah. Sebuah nama yang nggak biasa untuk sebuah danau kan ya? :mrgreen:

Nama yang nggak biasa dari suatu tempat biasanya mengandung cerita ataupun legenda, dan karena aku menyukai kisah-kisah seperti itu, aku berusaha mendapatkannya dari penduduk setempat. Dan ternyata dugaanku betul, nama danau itu diberikan karena adanya kisah yang melatarinya. Bahkan nggak cuma satu, ada beberapa kisah yang menjelaskan mengapa danau itu bernama Danau Dendam Tak Sudah. Di sini aku akan coba menceritakan garis besar dari satu atau dua cerita saja ya biar postingannya nggak kepanjangan 😛

Kisah pertama adalah tentang adanya pertarungan dua ekor buaya raksasa yang terjadi di jaman dahulu. Satu berasal dari danau itu dan yang lainnya berasal dari Lampung. Nggak jelas apa penyebab duel yang dilakukan di sungai Musi tersebut, apalagi mengingat tempat pertarungan keduanya juga tidaklah dekat dari daerah asal masing-masing buaya itu. Pertarungan hebat yang berlangsung berhari-hari akhirnya dimenangkan oleh buaya yang berasal dari danau, meskipun bukan kemenangan mutlak karena dia kehilangan ekornya dalam pertarungan tersebut. Akhirnya dengan membawa malu karena tubuhnya yang menjadi cacat dan penuh luka, Sang Buaya Buntung kembali ke danau. Dendam masih membara di hatinya, tetapi untuk melanjutkan pertarungan dengan Buaya Lampung, dia nggak lagi mempunyai daya. Untuk melampiaskan dendam yang masih menyesaki dadanya, yang bisa dilakukannya hanyalah mengutuk dan menyumpahi Sang Buaya Lampung. Masyarakat setempat yang mengetahui bahwa Sang Buaya Buntung masih memendam dendam kepada Buaya Lampung, akhirnya menamakan danau dimana Buaya Buntung itu bermukim dengan nama Danau Dendam Tak Sudah. Konon Buaya Buntung itu menjadi penghuni gaib di danau itu dan masih ada sampai sekarang. Banyak orang yang melihatnya menampakkan diri di hari-hari tertentu.

Kisah kedua yang mendasari munculnya nama danau itu berkaitan dengan sejarah, meskipun tetap saja tidak bisa dilacak keakuratannya. Konon pada masa penjajahan Belanda, Pemerintah Kolonial sempat berencana membangun sebuah bendungan atau dam untuk mencegah meluapnya air danau karena ketika itu mereka sedang mengerjakan sebuah proyek jalan raya yang melintas di dekat danau. Entah mengapa bendungan yang bekas-bekasnya masih bisa dilihat sampai sekarang ternyata tak kunjung selesai sampai penjajah terusir dari Bengkulu. Masyarakat menyebut proyek itu sebagai bendungan yang tak selesai atau dam tak sudah menurut dialek setempat. Lama kelamaan, sebutan dam tak sudah itu mendapat tambahan kata “den” di depannya sehingga mnenjadi dendam tak sudah, dan dengan perubahan sebutan itu tentunya artinyapun menjadi berubah 😆 Sebutan itu akhirnya menjadi nama yang diberikan untuk danau dimana bendungan yang mangkrak itu berada.

Kini Danau Dendam Tak Sudah menjadi salah satu tujuan wisata andalan Pemerintah Provinsi Bengkulu. Memang sih belum ada fasiltas umum ataupun fasilitas rekreasi buatan yang bisa dinikmati masyarakat, tetapi bukankah rekreasi alam yang masih asli lebih baik? Kawasan sekitar danau yang menghijau dengan rimbunnya pepohonan yang seolah memagari danau yang berair tenang dengan deretan pegunungan Bukit Barisan di kejauhan sudah cukup nyaman untuk dipandang.

Deretan saung di sisi jalan yang dibangun penduduk setempat bagi mereka yang ingin bersantap di tepi danau sudahlah memadai asal kebersihan lingkungan tetap terjaga. Sekedar baso ataupun nasi hangat dengan lauk ikan bakar yang disantap di saung tersebut tentunya terasa akan lebih nikmat, bukan?

Karena lokasi danau yang cuma sekitar 6 kilometer dari pusat kota, apalagi dengan adanya angkutan umum yang melayani rute dari pusat kota Bengkulu ke Danau Dendam Tak Sudah, membuat pada akhir pekan dan hari-hari libur deretan saung di situ penuh pengunjung. Karenanya tidaklah heran kalau lalu lintas di daerah itu menjadi cukup padat pada hari-hari seperti itu.–

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 21 Comments

A lake in a mining site

That time I was wandering to a coal mining site not far from Banjarmasin, South Kalimantan, Indonesia, in order to look for a lake which was became a hot topic among the locals because of its beauty. Many had visited the lake and took self or group pictures with the lake as the background, and then posted the pictures in their social media; which in turn attracted more people to look for the lake.

 

img_dbp16

The lake was not a natural lake, like the one in my previous post, the lake which I visited this time was also a neglected open pit of a mine. If the previous lake was an abandoned diamond mine, this one was a deserted coal mine. Yes . . Kalimantan was also rich of coal, which was why there were many coal mines scattered in the area. Unfortunately, nature had suffered a lot of those mining activities. Many holes and craters were just left behind; the land became barren because of the chemical used in the activity. It seemed that no conservation was done in order to heal the wound of the earth.

img_dbp01

But the earth tried to heal itself by the help of the rain. From times to times the rain washed the area around the pit from the chemical and made the acidity of the soil became more tolerable for simple plants to grow. Rain also filled the holes with water, water which admitted or not was contained of chemical which previously used in the area. That was why the water in the pit was bluish green in colour, and no fishes could live in there.

img_dbp02

After several times, the pit became a lake; grass and other plants started to grow and made the area started to live. Some of them became quite pretty and attracted travelers. With many people came to the area, the locals got benefit by providing anything that needed by the visitors, such as snacks and drinks or perhaps just a safe parking lot. By this, perhaps the ex mining site which initially abandoned would come back to life.

The one I visited that time was known as Danau Biru Pengaron which could literally be translated as The Blue Lake of Pengaron; it bore the name because the water of the lake was really blue . . . dark blue green to be precise. Perhaps it would look really blue if I came to the lake at noon when the sun shone brightly, not like when I was there. It was late afternoon and dark clouds hung low after a full-day raining which made the soil around the lake became clay and easily stuck to shoes or sandals. With a heavy pair of shoes or sandals and a slippery terrain, I decided not to try to go to the lake shore. It was too dangerous to go there through a relatively steep slope.

img_dbp06

As seen on the pictures here, the surrounding area of the lake was red soil. At the cliff by the side of the lake, marks made by excavators and any other big machines used in the mining site was clearly seen. But the combination of the red soil around the blue lake combined with green vegetation was really soothing the eyes. The atmosphere was quiet but temporarily disrupted by the roar of mining trucks passed on the other side of the lake.

img_dbp07

The lake was located in Pengaron Village, Banjar District, South Kalimantan. It was about 100 kilometers from Banjarmasin. The road to the lake was good when it was on the main road, but when entering the mining site, the road was relatively bad because the road was unsealed, and was only a hardened land. When it was raining, the road would become muddy and slippery; on the other hand, when it was dry, the dust billowing into the hot air every time vehicles passed the road. Aside of that, travelers who passed through the road should be careful because they had to share the road with big mining vehicles.

There was no public transport servicing the area since it was deep in a mining area. I was there on week-days; I was the only visitor at that time, aside of my travel partner of course. There were no public utilities or simple stalls selling snacks or refreshments. The area was still untouched. Hope if someday there would be somebody or any institution made the place a well managed tourist destination, they would also and always preserve the nature.

img_dbp08

Keterangan :

Sore itu aku dan partner jalanku masih berkendara menyusuri jalan-jalan di luar kota Banjarmasin, tepatnya di arah selatan kota. Jalanan masih basah akibat gerimis yang sesekali masih turun. Maklumlah, namanya juga masih musim penghujan. Waktu yang sebenarnya kurang cocok untuk berburu keindahan di alam seperti aku waktu itu. Tapi biarlah . . . bagaimanapun kerjaan di kantor baru bisa ditinggal, lagipula toh sudah terlanjur sampai di situ juga kan 😆

Sore itu tujuanku mencari lokasi sebuah danau yang belakangan ini sedang menjadi hit di antara para remaja Banjarmasin. Sudah banyak yang ke sana dan mengambil foto selfie atau grupie dengan latar belakang danau itu. Memang dari foto-fotonya, kelihatan kalau pemandangan di sana cukup indah, kalau kata orang-orang sih instagramable gitu 😎

img_dbp17

Danau yang aku cari ini bukanlah danau alam. Sama halnya dengan yang pernah aku unggah di postingan sebelumnya, apa yang nampak seperti danau ini sebetulnya adalah bekas tambang yang sudah ditinggalkan. Hanya saja di postingan sebelum ini, danaunya terbentuk dari bekas galian tambang intan, sementara yang aku cari ini merupakan bekas galian tambang batubara. Ya . . . bumi Kalimantan juga banyak mengandung batubara selain intan. Itu pula sebabnya banyak perusahaan tambang batubara yang beroperasi di sana. Sayangnya aktifitas penambangan terkesan merusak alam. Lubang dan cerukan besar serupa kawah akibat aktifitas pertambangan yang sudah tidak aktif lagi dibiarkan begitu saja. Tanah sekitarnya juga menjadi tandus akibat penggunaan bahan kimia.

img_dbp15

Untunglah alam memiliki mekanisme untuk menyembuhkan “luka”-nya sendiri. Hujan membantu membasuh kandungan kimia dari daerah sekitar cekungan bekas tambang sehingga sedikit demi sedikit tingkat keasaman tanah di sana kembali normal yang memungkinkan tumbuhnya tanaman. Hujan juga mengisi cekungan dan lubang bekas galian yang sidah ditinggalkan itu dengan air; air yang diakui maupun tidak memiliki kandungan bahan kimia tertentu yang semula tertinggal di daerah itu tapi akhirnya larut dalam air yang menggenangi cekungan itu. Karena adanya kandungan bahan kimia tertentu itu pulalah maka air di dalam cekungan itu berwarna kebiruan. Konon air itu akan membuat kulit kita teriritasi kalau mengenai kulit kita 😮

img_dbp09

Lama kelamaan, air yang mengisi cekungan itu semakin banyak sehingga cekungan itu berubah menjadi sebuah danau. Daerah tepian danau juga mulai ditumbuhi rumput dan ilalang serta berbagai tanaman lain yang membuat pemandangan di sana menjadi cukup menyejukan mata dan menarik pelancong untuk mengaguminya. Kedatangan para pelancong itu tentunya lama kelamaan akan membuat daerah yang semula sudah ditinggalkan menjadi hidup kembali.

Sore itu yang aku cari adalah sebuah danau yang dikenal dengan nama Danau Biru Pengaron. Nama itu disandangnya karena air danau tersebut betul-betul tampak berwarna biru jernih, biru kehijau-hijauan sih. Mungkin kalau aku ke sana pada siang hari bolong dimana matahari bersinar cerah, air danau itu akan nampak betul-betul biru, sementara aku ke sana sudah menjelang sore dan kondisi juga mendung berat.

img_dbp14

Seperti nampak dalam foto-foto yang aku sertakan di sini, danau itu terletak di sebuah dataran yang tanahnya berupa tanah merah. Bekas-bekas garukan ekskavator dan berbagai alat berat lain kelihatan jelas di dinding tebing yang ada di salah satu sisi danau. Sementara di sisi lain tanah liat yang terbentuk akibat hujan yang mengguyur daerah itu betul-betul membuat aku dan partner jalanku kerepotan akibat sandal dan sepatu yang semakin berat. Bahkan sesekali membuat langkah terhenti karena kaki seolah tertancap di tanah dan tidak bisa digerakkan. Tanah liat itu juga licin, sehingga aku membatalkan turun ke tepi danau karena medannya yang cukup curam.

Tapi kalaupun harus menikmati danau hanya dari atas, tetaplah tidak mengurangi keasyikannya. Kombinasi warna biru kehijauan air danau yang dikelilingi tanah merah kecoklatan yang di sana-sini dironai semburat hijau rumput dan perdu, membuat mata tak bosan-bosannya melalap apa yang tersaji di depannya. Suasana cukup tenang ketika aku ke sana. Maklum aku kesana bukan di hari libur, sehingga saat itu pengunjung danau hanyalah aku dan partner jalanku. Kesunyian yang menyelimuti daerah itu hanya sesekali dipecahkan oleh deru truk tambang yang lewat di seberang danau.

img_dbp10

Danau Biru Pengaron terletak di Desa Pengaron, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Kurang lebih berjarak 100 kilometer dari Banjarmasin ke arah selatan. Pada umumnya, jalan menuju ke lokasi sudah cukup baik selama masih berada di jalan utama. Tetapi ketika sudah memasuki daerah tambang, maka jalanan tanah yang membelah kebun dan bukitlah yang harus kita lalui. Jalan yang ketika hujan turun menjadi berlumpur dan licin , sementara ketika hari panas terik menjadi sangat berdebu. Apalagi kita harus berbagi jalan juga dengan kendaraan-kendaraan tambang yang besar-besar.

Sebagai informasi, nggak ada kendaraan umum yang bisa mengantar pelancong ke sana. Jadi mau nggak mau ya harus sewa kendaraan atau bawa kendaraan sendiri. Di lokasi juga tampak bahwa daerah itu masih alami, belum tersentuh tangan pengelola atau siapapun. Karena itulah, ketika aku ke sana masih belum ada penjual ticket masuk maupun pedagang yang menjual makanan dan minuman ringan di sana. Ya mudah-mudahan sih kalau nanti ada pihak-pihak yang mau menata dan mengelola Danau Biru Pengaron sebagai obyek wisata, kelestarian lingkungan sekitar bisa tetap terjaga, bahkan kerusakan yang sudah terlanjur terjadi bisa diperbaiki.-

img_dbp18

img_dbp19

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , , | 42 Comments

Corner of Wulla Waijelu – horses roaming at the beach

Wulla Waijelu was the name of a sub-district located in East Sumba, Indonesia. It was at the eastern tip of Sumba Island, more than 135 kilometers from Waingapu, the capital city of East Sumba. To reach the region, travelers should spend more than 3 hours drive on a relatively good road, although sometimes travelers should drove slowly or even stop because there were cattle stopping or laying on the road blocking the traffic 😛

Wulla Waijelu had many pretty beaches. One of them was Watu Parunu Beach which I visited before and my note about the beach could be seen in here.

At that time, I was driving far to the east from Watu Parunu Beach. The road was not as good as before. In some parts, the road was so broken and made every driver who drove past those roads to be extra careful. The scenery along the road, however, was quite beautiful. The blue sea was clearly seen far below because the road took us along the ridge of a hill.

img_tab01

After about 30 minutes in a rough ride on the broken road, my travel partner and I arrived at a place that looked like a small forest consisted of trees with whitish barks. It Seemed that I was at a beach because the sea was clearly seen close enough from the forest. When I asked Pak Ebet, who accompanied us in the trip, he said that locals called the beach as Wairano Beach while others also called it Tamarind Beach because the forest consisted of tamarind trees.

img_tab02

There were no other people except the tree of us at the beach. Well . . . another “private beach” for us to explore then  😎

Pak Ebet parked the car under a sole tamarind tree not too far from the beach, so he could rest under the shade of the tamarind leaves while my travel partner and I explored the area and walked deeper among the trees.

img_tab03

Sumba could not be separated with horses. Here, in a remote area, I also found horses roaming freely. I was looking around to find the horses’ owner, but I could not find any. Yes, here in Sumba, horses were free to roam and looked for their own food from the surrounding area, but amazingly they would go to their own stables at night by themselves. The owners were only there to wait for the horses and close the stables.

img_tab04

img_tab05

Walking to the beach, I found that a part of the beach was a sandy beach with many beach plants and trees as if bordering the beach area. Far behind the beach, a row of hills was seen. At the opposite part of the sandy beach, there was a corral beach. Brownish corral was at the beach lapped by the sea and made the beach more pretty.

img_tab06

img_tab07

Seeing such a pretty scenery like I found in here, I always hope that the nature beauty would always never been harmed, never been disturbed or destroyed by unplanned area development. Let the nature still had its pride with its beauty and we could still admiring the pretty scenery for long  ❤ ❤

img_tab08

img_tab09

img_tab10

img_tab11

 

Keterangan :

Wulla Waijelu adalah nama sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Sumba Timur, rasanya kecamatan ini merupakan kecamatan yang paling timur di Pulau Sumba Ini. Lokasinya yang berjarak lebih dari 135 kilometer di tenggara Waingapu yang menjadi ibukota kabupaten, membuat para pelancong harus bersiap-siap menghabiskan waktu lebih dari 3 jam berkendara untuk sampai di sana. Jalannya memang lumayan mulus sih, tapi kendaraan juga tidak bisa dipacu terlalu kencang karena ada saja kawanan ternak yang berjalan santai di tengah jalan, bahkan di beberapa tempat akan kita temukan adanya sapi yang dengan tenangnya berbaring di jalan sambil memamah biak, tidak peduli bahwa dengan berbaring di jalan itu dia menutup lalu lintas dan membuat antrian kendaraan yang cukup panjang. Repotnya lagi, suara klakson yang dibunyikan para pengendara itu belum tentu ampuh untuk mengusir para sapi itu   😛

Tetapi perjuangan dan waktu yang cukup lama untuk mencapai Wulla Waijelu akan terbayar koq karena Wulla Waijelu memiliki banyak pantai indah. Salah satunya adalah Pantai Watu Parunu yang pernah aku kunjungi sebelumnya, dan catatan mengenai Watu Parunu bisa dilihat di sini.

Ketika itu, aku dan teman seperjalananku menyempatkan diri untuk menjelajah lebih jauh lagi, melewati Pantai Watu Parunu, menyusuri jalan yang tidak sebagus jalanan sebelumnya, bahkan di beberapa tempat cukup rusak karena aspal yang sudah mengelupas. Jalan tersebut membawa aku dan teman seperjalananku menyusuri lamping bukit dengan pemandangan birunya laut jauh di bawah dan hijaunya perbukitan nun jauh di sana seolah mencegah laut untuk tidak naik lebih jauh ke daratan.

img_tab13

Setelah kurang lebih setengah jam terguncang-guncang dan bahkan sesekali kepentok di dalam mobil yang berjalan pelan karena kondisi jalan itu, akhirnya aku dan teman seperjalananku sampai ke suatu daerah terbuka dengan sekelompok pepohonan yang kelihatan seperti hutan, meskipun tidak terlalu lebat. Pepohonan yang ada di situ berbatang keputih-putihan dan cabang-cabangnya cukup banyak. Rupanya itu adalah pohon-pohon asam. Aku lihat birunya air laut juga tidak jauh ada di belakang pepohonan itu. Wah . . . rupanya sudah sampai di pantai lagi nih. Ketika aku bertanya kepada Pak Ebet yang mengantar aku dan teman seperjalananku waktu itu, aku memperoleh informasi kalau penduduk setempat menyebut pantai itu dengan nama Pantai Wairano tetapi karena di pantai tersebut banyak pohon asamnya, pelancong yang datang ke sana banyak juga yang menyebutnya dengan nama Tamarind Beach.

img_tab14

Ketika aku sampai di sana, pantai dalam keadaan sepi, hanya ada aku, teman seperjalananku dan Pak Ebet. Wah ketemu “pantai pribadi” lagi nih   😎

Setelah Pak Ebet memarkirkan kendaraan di bawah sebatang pohon asam yang cukup rindang, aku dan teman seperjalananku segera berjalan masuk ke hutan asam yang ada di sana. Wah . . . banyak kuda ternyata. Ya memang sih, Sumba tidak bisa dipisahkan dari kuda; makanya nggak mengherankan kalau di situ aku menemukan banyak kuda. Dan seperti halnya di tempat lain di Pulau Sumba ini, kuda-kuda di pantai itu juga dibiarkan bebas karena aku juga nggak menemukan adanya penggembala atau pemilik kuda –kuda itu di situ. Eh tapi tahu nggak, meskipun nggak digembalakan dan juga nggak ditungguin, kuda-kuda itu nggak trus ngabur nggak karuan lho, bahkan ketika malam menjelang mereka akan pulang kembali ke kandangnya masing-masing dengan tertib. Si pemilik tinggal menunggu saja di kandang dan setelah kuda-kudanya masuk, tinggal mengunci pintu kandangnya saja.

img_tab15

img_tab16

img_tab17

Setelah puas menjelajah dan memotret di dalam hutan asam itu, aku dan teman seperjalananku beralih ke kawasan pantainya.

Pantai yang menempel dengan hutan asam itu merupakan pantai berpasir lembut. Kawasan yang berpasir dengan kawasan hutan hanya dibatasi dengan tumbuhan pandan laut yang banyak tumbuh di situ, dan pandan lautnya sudah tumbuh lumayan tinggi lho. Keindahan kawasan pantai itu menjadi lebih lengkap dengan adanya deretan perbukitan yang tampak menghijau di kejauhan.

img_tab18

Di bagian lain pantai, terdapat kawasan yang berbatu karang. Di kawasan itu praktis sedikit saja pasirnya. Pantainya didominasi bebatuan yang berwarna coklat kemerahan sehingga menambah keindahan pemandangan di sana.

img_tab19

Ah . . andai keindahan ini bisa lestari. Jangan sampai terganggu apalagi sampai rusak dengan pengembangan kawasan yang tidak terkontrol. Biarlah alam bisa tetap berbangga dengan kecantikannya dan kita bisa menikmati kecantikan itu sampai lama, bahkan anak cucu kitapun masih bisa menikmatinya. Semoga . . .   ❤ ❤

img_tab20

img_tab22

img_tab23

img_tab24

img_tab25

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , , | 11 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.