Posts Tagged With: sunset

It was really a long beach

That was a very famous beach which also became the city’s icon in Bengkulu. The beach had become one of Bengkulu’s tourist destinations for long, too. The beach name was Pantai Panjang, which literally means a long beach.

When travelers came to the beach, they would agree why the beach had such a name. The coastal line of the beach spanned for 7 kilometers, and at low tide, the beach could have an area of more than 500 meters wide of sandy beach which could be use for any kind of beach activities.

For them who came just to relax and enjoy the beach atmosphere, rows of cypress gave enough shade so travelers and visitors could relax without worry that the scorching sun would harm them with its heat.

Pantai Panjang was quite easy to access as it was very close to the city center. The 3 kilometers distance from the city center could be reached easily within 15 minutes with public transport. For them who prefer to use their own vehicles, spacious parking lots were one of many facilities equipped the beach area and made them not to worry about the safety of their vehicles.

At that time, I came to the beach just to wait for the sunset, and as the beach was very long, I just chose a spot on the beach which was facilitated with a paving path along the beach. It was located at the southern part of the main beach. In there I saw some couples sat at the side of the paving path side by side looking to the open sea which provides them with a first class seat to enjoy the sunset.

Here I share with you all what I got from Pantai Panjang that afternoon. Hope you can enjoy  🙂

Keterangan :

Kalau kita berkunjung ke Bengkulu, ada sebuah pantai yang sangat terkenal dan bahkan bisa dikatakan sudah menjadi ikon kota Bengkulu. Pantai ini juga sudah sejak dulu menjadi salah satu tujuan wisata yang banyak didatangi tidak saja oleh masyarakat sekitar, melainkan juga menjadi tujuan wisata bagi para pelancong dari luar kota. Pantai itu dikenal dengan nama Pantai Panjang.

Para pelancong yang sempat berkunjung ke sana, hampir semuanya setuju dengan nama yang diberikan kepada pantai itu karena Pantai Panjang betul-betul panjang. Bagaimana tidak, pantai ini memiliki garis pantai yang terbentang sejauh 7 kilometer dari arah selatan ke utara menghadap ke arah barat, atau ke arah Samudera Hindia. Pada saat surut, beberapa bagian pantai akan menjelma menjadi lapangan pasir yang sangat luas dengan lebar mencapai lebih dari 500 meter sehingga memungkinkan dipakai untuk berbagai jenis kegiatan di pantai.

Sepanjang pantai, deretan pohon pinus berdiri tegak seolah memagari wilayah pantai; dan dengan adanya deretan pohon pinus ini, siang hari di Pantai Panjang juga tetap dapat dinikmati dengan nyaman karena semilir angin sejuk tetap dapat dirasakan, bahkan banyak juga pelancong yang datang ke sana hanya untuk sekedar duduk-duduk santai di bawah deretan pohon pinus itu khususnya pada sore hari sambil menunggu saat-saat terbenamnya matahari di ufuk barat.

Pantai ini sangat mudah ditemukan, bahkan oleh orang yang baru pertama kali datang ke Bengkulu. Hampir tiap hari Pantai Panjang selalu dipenuhi pengunjung. Selain karena memang sudah cukup dikenal, lokasinya yang cuma berjarak sekitar 3 kilometer dari pusat kota dan adanya angkutan umum yang melayani trayek melalui kawasan pantai membuat orang tidak segan membuang sedikit waktu untuk sekedar bersantai ataupun sengaja datang untuk berolahraga di kawasan Pantai Panjang.

Buat mereka yang datang dengan mempergunakan kendaraan pribadi, pemerintah setempat selaku pengelola kawasan ini juga sudah menyediakan lokasi parkir yang cukup luas dan cukup dekat ke pantai, sehingga para pengunjung itu tidak perlu khawatir dengan keamanan kendaraannya.

Waktu itu aku ke Pantai Panjang bukan mau menikmati segala fasilitas yang tersedia di sana, aku kesana sore itu mau menunggu saat-saat terbenamnya matahari, meskipun sebetulnya dalam perjalanan ke sana sempat terbersit keraguan; bagaimana tidak, mendung cukup tebal masih menggantung rendah di langit. Ah . . tapi biarlah. Kadang awan mendung yang bergulung-gulung juga membuat sebuah foto jadi lebih bagus dan dramatis koq 😎

Dengan pemikiran itu, aku tidak membatalkan niat untuk datang ke pantai. Sesampai di sana, aku segera memilih spot yang aku rasa cukup nyaman di bagian selatan pantai, di bagian yang sudah dibangun jalur yang diperkeras dengan paving block di sepanjang tepi pantainya. Rasanya jalur itu dipergunakan juga sebagai jogging track.

Sore itu banyak juga pengunjung yang datang di bagian itu. Nggak kebayang bagaimana penuhnya di pantai utama dimana terdapat tulisan “PANTAI PANJANG” yang menjadi landmark dan juga background selfie favorit pengunjung.

Di sekitar tempat yang aku pilih buat nongkrong menunggu sunset, aku lihat banyak juga pasangan-pasangan yang duduk berdua sambil memandang ke laut lepas menunggu sunset. Romantis banget . . 😀

Anyway, aku nggak akan cerita kepanjangan kali ini. Biarlah foto-foto yang aku dapat di Pantai Panjang yang mewakili aku bercerita. Ok?  🙂

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 12 Comments

Fishing boats moored off the shore

It was late afternoon already, and I was still looking for a suitable place to catch the sunset moment at several beaches which spanned along the west coast of Bengkulu; I drove along the road started at Panjang Beach which was located behind the British Fort Marlborough, to Tapak Paderi Beach and went on to the north following the coastal road.

Soon the tourist areas were passed and I entered a fishing village. Malabero Baru, that was the sign by the road which stated the name of the village. I drove slowly into the village when suddenly I saw many traditional fishing boats moored off the shore. I also saw some fishermen on some of the boats, seemed that they were checking and preparing their boats to do their jobs for their living that night; catching fishes at the sea.

Rough sea and strong sea wind would not prevent those fishermen to go to the sea, because they had big responsibilities on their strong shoulders . . . . their family life.

The village was located not too far from the city center, 30 minutes was the maximum time to reach the place from the city center. Travelers could go to Malabero Baru by public transport as the village was passed by one of Bengkulu’s main road.

But bear in mind, as the village was not a tourist destination, travelers could not find any public facilities in there. I stop there just because I was interested by many fishing boats bobbing ups and downs on a relatively rough sea as if toys on a basin which water were churned by children hands.

The pictures I put in here were taken in the village. Yes . . at last I decided to choose it as a place to wait for the sunset. I just stop at the road side and walked up to the concrete sea-wall that prevented the sea water to invade the land at high tide. Unfortunately, clouds were still hanging low and made the sunset was not as I expected  😦

Keterangan :

Sore itu aku lagi agak galau. Bagaimana nggak, hari sudah semakin sore sementara aku masih belum menemukan tempat yang sreg buat mengabadikan saat-saat terbenamnya matahari. Salah satu penyebabnya adalah karena mendung tipis yang masih menggantung rendah di langit. Tapi . . . kalau aku memutuskan untuk pulang ke hotel koq ya sayang juga ya. Kan bisa saja tiba-tiba langit menjadi cerah dan sunset sore itu indah.

Akhirnya aku meminta Aga, teman yang menemaniku menjelajah Bengkulu, untuk menjalankan mobil yang aku tumpangi lanjut menyusuri jalan yang membentang sepanjang pantai sejak dari Pantai Panjang yang berada di belakang Benteng Marlborough terus ke utara, melewati Pantai Tapak Paderi, teruuuuss . . . hingga kawasan wisata seluruhnya terlewati, dan aku mulai memasuki daerah pemukiman nelayan setempat. Malabero Baru, demikian nama daerah itu.

Ketika mataku ku arahkan ke arah laut, aku melihat pemandangan yang menarik. Puluhan kapal nelayan tampak lepas jangkar di lepas pantainya.

Beberapa orang nelayan tampak pula di atas beberapa kapal. Kelihatannya mereka sedang bersiap-siap untuk melaut. Ya . . . memang biasanya para nelayan akan berangkat menangkap ikan di waktu senja dan kembali di waktu fajar. Pekerjaan yang berat memang, tetapi bagaimanapun mereka harus menjalaninya untuk menjaga agar dapur mereka tetap berasap.

Desa Malabero Baru mudah sekali dijangkau. Jaraknya yang tidak jauh dari pusat kota Bengkulu dan juga adanya angkutan umum yang melewati daerah itu membuat siapapun yang ingin berkunjung ke sana tidak menemui kesulitan. Tetapi . . . buat para pelancong yang mau ke sana, haruslah diingat kalau Malabero Baru bukanlah tempat wisata, bukan pula merupakan desa wisata. Malabero Baru betul-betul merupakan kawasan pemukiman nelayan. Jadi ya jangan berharap kalau di sana dapat dengan mudah menemukan fasilitas umum yang bisa dipakai oleh para pelancong. Bahkan mungkin buat sebagian orang, nggak ada sesuatu yang menarik di sana. Buat aku lain . . seperti sudah aku katakan tadi, aku tertarik melihat pemandangan puluhan kapal nelayan yang sedang terombang-ambing oleh ombak yang sore itu kelihatan agak besar dengan latar belakang langit senja yang dihiasi awan mendung, apalagi anginpun juga bertiup lumayan kencang. Meskipun demikian, tampaknya parta nelayan setempat menganggap cuaca seperti itu biasa saja. Terbukti beberapa orang pergi pulang ke kapal mereka dengan cara berenang di laut. Di wajah mereka juga nggak terlihat tanda-tanda khawatir akan kondisi cuaca sore itu.

Anyway, foto-foto yang aku sertakan dalam postingan kali ini semua aku ambil di Pantai Desa Malabero Baru. Ya . . akhirnya memang aku memutuskan untuk menantikan saat-saat terbenamnya matahari dari sana. Aku menantikan sunset di atas tembok tanggul yang menghalangi meluapnya air laut kala pasang tinggi ke jalan raya. Dengan adanya tanggul itu, diharapkan laju abrasi pantai juga bisa dikurangi sih. Tanggul itu juga bisa jadi tempat nongkrong dan tempat bermain anak-anak setempat karena temboknya tidak terlalu tinggi tetapi lumayan lebar.

Sayangnya sore itu mendung tipis tetap bergantung di langit, khususnya di arah barat, sehingga aku agak kecewa karena keindahan saat-saat matahari terbenamnya tidak seperti yang aku harapkan. Meskipun demikian, aku tetap bersyukur karena aku masih bisa memperoleh beberapa foto ini  🙂

Categories: Pictures of Life, Travel Pictures | Tags: , , , , , , | 12 Comments

My last post in 2016

“A large drop of sun lingered on the horizon and then dripped over and was gone, and the sky was brilliant over the spot where it had gone, and a torn cloud, like a bloody rag, hung over the spot of its going. And dusk crept over the sky from the eastern horizon, and darkness crept over the land from the east.”
― John Steinbeck, The Grapes of Wrath

img_tak01

Every day, God provide us with two brilliant shows which never be the same; one in the early morning and the other in the late afternoon. The shows always free for us to enjoy, but almost all of us tend to let the shows gone. The title of the shows was sunset and sunrise. Same titles every day, never ceased even just for a single day.

Today was the last day of 2016. So the sunset would be the last show in 2016. The last sunset of 2016 was the mark that tomorrow would be the first sunrise in 2017. A new year which surely would be full of anything that we should face and conquer in an optimistic way.

In that case, along with the last sunset of 2016, let us throw away any hurt feeling, hatred, envy, disappointments and any other bad feelings. Let us forget those all bad memories and prepare ourselves in welcoming the first sunrise of 2017 that bring along the hope of new beginnings and possibilities.

Happy New Year to you all. May the New Year brings us good times, happiness, health and great success 🙂

Anyway, the pictures in here were taken in Takisung Beach, a beach located in Pelaihari District, South Kalimantan, Indonesia. The beach could be reached easily within 2 hours drive from Banjarmasin through a relatively good road.

img_tak02

Takisung Beach had already been developed into a tourist destination and also been equipped with many public facilities. At the beach there were many simple stalls that sold simple foods and refreshments as well as souvenirs. An operator at the beach rented some unit of ATVs to travelers. Many sampan owners also offered to bring travelers riding their sampans around the beach or visiting small islands off the shore.

img_tak03

The beach itself was a beach with brown sands. The water was quite muddy so it was not suitable for swimming even though the wave was calm. People usually came to the beach just for enjoying the facilities or waiting for the sunset as the beach facing to the west.

img_tak04

As far as I know, Takisung Beach was the most popular beach among any other beaches in Pelaihari District. No wonder there was always travellers at the beach almost every day. And since it was the most popular beach in there, it was easy to find the direction to the beach. I believe if the beach could be managed well, it will become the main tourist destination of Pelaihari.—

img_tak06

img_tak07

img_tak08

Keterangan :

Disadari ataupun tidak, tiap hari Sang Maha Pencipta menyajikan dua buah pertunjukan akbar yang tidak akan pernah sama sampai kapanpun; satu di kala fajar dan yang lainnya di kala senja. Pertunjukan itu selalu diberikan untuk dinikmati secara gratis oleh seluruh umat manusia meskipun sebagian besar dari kita cenderung untuk mengabaikannya dengan berbagai alas an. Pertunjukan akbar itu dikenal dengan nama matahari terbenam dan matahari terbit. Judul yang sama tiap hari tetapi keindahannya tidak akan pernah sama.

img_tak12

Hari ini, tanggal 31 Desember 2016, merupakan hari terakhir di tahun 2016, sehingga matahari terbenam hari ini akan merupakan pertunjukan akbar terakhir yang digelar di tahun 2016 ini pula. Tetapi terbenamnya matahari kali ini bukanlah merupakan suatu akhir, justru ini merupakan suatu pertanda bahwa setelah sang bagaskara kembali ke peraduannya dan beristirahat sepanjang malam, esok dia akan datang lagi menyertai hari yang baru di tahun yang baru juga. Ya . . besok pagi akan merupakan pertunjukan akbar yang pertama di tahun yang baru. Tahun yang pastinya terdiri dari hari-hari yang harus kita lalui dengan cara menghadapi semua hal, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, dengan optimis dan dengan keyakinan bahwa di akhir tahun 2017 nanti kita akan bisa dengan bangga berkata “aku menang!

Karena itu, marilah semua rasa sakit hati, kebencian, iri dengki, kekecewaan dan semua perasaan buruk lainnya kita biarkan ikut terbenam bersama terbenamnya sang surya. Kita lupakan semua kenangan buruk yang kita alami di tahun 2016 dan kita ganti dengan semangat penuh menyambut tahun yang baru yang akan segera tiba. Tahun baru yang tentunya akan membawa harapan dan kemungkinan-kemungkinan baru juga.

Selamat Tahun Baru, Sahabat. Semoga tahun 2017 membawa damai, kebahagiaan, kesehatan dan juga kesuksesan buat kita semua   🙂

Anyway, foto-foto yang aku sertakan dalam postingan kali ini aku ambil di Pantai Takisung, sebuah pantai yang terletak di Kecamatan Takisung, Kabupaten Pelaihari, Kalimantan Selatan. Jarak sejauh kurang lebih 87 kilometer dari Banjarmasin dapat ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam berkendara melalui jalanan yang relatif sudah bagus.

img_tak13

Pantai ini sudah dikembangkan menjadi salah satu tujuan wisata daerah setempat, dan juga sudah dilengkapi dengan fasilitas umum. Di tepi pantai yang berbatasan dengan jalan raya telah didirikan lapak-lapak sederhana yang dipergunakan oleh penduduk setempat untuk berjualan makanan dan minuman selain juga cendera mata dan oleh-oleh khas daerah itu yang berupa berbagai jenis ikan asin. Lebih dekat ke batas air, ada juga orang yang menyewakan ATV kepada para pelancong.

img_tak14

Banana Boat juga tersedia untuk disewa bagi mereka yang berminat. Sementara itu, di bibir pantai, beberapa tukang perahu kelotok berteriak-teriak menawarkan jasanya mengantar para pelancong yang ingin berperahu di sekitar situ.

img_tak16

Di Pantai Takisung, telah dibangun tanggul pencegah abrasi, dan diatas tanggul ini didirikan huruf-huruf yang menandai nama pantai tersebut. Banyak pengunjung yang menyempatkan diri berfoto di depan tulisan itu.

img_tak15

Aslinya Pantai Takisung merupakan pantai berpasir coklat yang lembut. Pantai ini menghadap ke Laut Jawa sehingga ombaknya juga relatif kecil. Sayangnya air laut yang keruh kecoklatan menjadi kendala bagi siapapun yang ingin bermain air di sana. Mungkin adanya beberapa sungai yang bermuara di dekat situ berpengaruh terhadap tingkat kekeruhan air laut di Pantai Takisung. Karena itulah sebagian besar pengunjung di sana hanya bermain di pantai, berfoto ria, ataupun menunggu saat-saat terbenamnya sang matahari seperti yang aku lakukan di sana waktu itu.

img_tak05

Sejauh yang aku tahu, pantai ini merupakan pantai yang paling terkenal jika dibandingkan dengan beberapa pantai lain yang ada di Kabupaten Pelaihari. Karena itu, tidaklah mengherankan kalau pantai ini selalu ramai meskipun bukan pada hari libur atau akhir pekan. Para pedagang di sana pun rata-rata buka tiap hari, tidak seperti di pantai-pantai wisata lainnya. Dengan penataan yang lebih optimal, rasanya pantai ini akan bisa menjadi tujuan wisata utama di Pelaihari.–

img_tak11

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 16 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.