Row of boats mooring off the shore

On one cloudy morning, after visiting a more known beach called Sendang Biru in Southern Malang, East Java, I stop in a nearby beach called Tamban Beach. And as soon as I stepped my foot on the beach, a thing got my attention . . . boats. Yes boats, there were many boats mooring off the shore as if they were a full armada of war ships ready to do a fierce sea battle. The view reminded me on a scene in a film about Trojan War; the row of boats mooring off the shore looked similar to row of Greece’s war ships that came to Troy by sea to reclaim Helen from Paris. The boats off the shore Tamban Beach, however, were not war ships, of course. They were all fishing boats, instead. Yes, Tamban was a fishing village.

IMG_TAM01

Tamban was a sandy beach that had a very long coastal line. It stretched for about 1,500 meter. The sands were white. Unfortunately when I visited the beach, it was quite dirty 😦. Plastic bottles, snack wraps, empty soft drink cans scattered on the beach. I’m pretty sure that the condition would make any travelers uncomfortable to spend their time there.

IMG_TAM03

As for the name Tamban, it was said that it derived from the word “tamba” or “tombo”. The word was in local language that means medicine or something that can cure. The story went back to the late 19th century; it was in 1880 to be exact. Three wise men called Kyai Ngastowo, Kyai Mangun and Kyai Yaser who intended to stay in that place, started to open the forest to make a village. In their hard effort, the three were dehydrated badly. As it was quite difficult to find fresh water in the region, the three were forced to drink from a nearby river. Alas . . . the water in the river was tasted very bad and made them sick. To wipe the bad taste from their mouths, the three ran to the beach and started to drink the clear sea water. To their amazement, they found that the sea water was pretty fresh and made the bad taste in their mouth vanished. To always remind the people of the incident, they named the place Tamban as the sea water in there cured them from the illness.

IMG_TAM02

To reach the beach was pretty easy. Travelers who departed from Malang should turn left and take a side road about 5 kilometers before Sendang Biru. There was a clear sign that showed the way to Tamban Beach. The road was quite good at that time although it was quite narrow. It took about 5 more kilometers from the sign to reach the beach. Tamban was not as famous as Sendang Biru, hence it was not as crowded as Sendang Biru.—

Keterangan :

Di suatu pagi yang berawan, dalam perjalanan pulang dari Pantai Sendang Biru yang terletak di Malang Selatan, aku memutuskan untuk mampir ke sebuah pantai lain yang terletak tidak jauh dari Pantai Sendang Biru. Pantai yang aku maksud dikenal dengan nama Pantai Tamban. Dan tahukah kawan, ada sebuah pemandangan menarik yang menyita perhatianku begitu aku menjejakkan kakiku di pasir pantai dan mengarahkan pandanganku ke arah laut. Di lepas pantai itu aku melihat puluhan kapal berjajar, seolah-olah satu armada kapal yang sudah siap tempur. Pemandangan seperti itu sontak mengingatkanku akan salah satu adegan di film yang pernah aku saksikan, yaitu adegan pengepungan kota Troya oleh pasukan Yunani di bawah pimpinan Agamemnon. Kala itu pasukan Yunani dengan menumpang berpuluh-puluh kapal perang menyeberangi laut menuju Troya demi merebut kembali Helen yang dilarikan oleh Paris ke Troya. Tetapi . . . tentu saja yang ada di lepas pantai yang berdekatan dengan Pantai Sendang Biru itu bukanlah kapal perang, melainkan kapal-kapal penangkap ikan milik nelayan setempat. Ya, Tamban merupakan perkampungan nelayan, sehingga tidaklah mengherankan kalau di lepas pantainya tampak puluhan kapal nelayan. Mungkin laut di sekitar Pantai Tamban tidak terlalu dalam sehingga para nelayan tersebut “berlabuh” agak jauh dari pantai untuk menghindarkan kandasnya kapal-kapal mereka.

IMG_TAM07

Pantai Tamban sebetulnya memiliki potensi untuk dikembangkan mejadi salah satu tujuan Wisata, apalagi pantai yang terbentang sejauh sekitar 1.500 meter itu tertutup pasir putih yang lembut. Sayangnya ketika aku berkunjung ke sana, aku mendapati bahwa pantai tersebut cukup kotor. Bekas botol maupun kaleng minuman dalam kemasan, juga bungkus makanan kecil dan sisa-sisa makanan tampak berserakan di beberapa bagian pantai😦. Kondisi pantai yang seperti itu, tentulah akan menyebabkan pelancong enggan untuk berkunjung dan bermain-main di pantai.

IMG_TAM09

Mengenai nama Tamban itu sendiri, konon nama itu berasal dari kata “tamba” atau “tombo”. Kata yang berasal dari Bahasa Jawa itu bisa diartikan sebagai “obat” atau sesuatu yang membuat sembuh. Konon nama itu berasal dari adanya cerita mengenai tiga orang Kyai yang datang ke tempat itu pada akhir abad ke-19, tepatnya di tahun 1880, untuk menetap di situ. Ketiga orang itu dikenal dengan nama Kyai Ngastowo, Kyai Mangun and Kyai Yaser. Mereka bertiga bertekad membuka hutan yang ada di situ untuk diubah menjadi perkampungan. Karena itulah, setelah niat mereka mendapatkan persetujuan dari pemuka masyarakat yang tinggal tidak jauh dari situ, ketiganya segera bekerja keras membabat hutan. Karena di sekitar situ memang sulit sekali ditemukan air tawar untuk minum, ketiganya hanya sedikit minum. Alhasil ketiganya mengalami dehidrasi hebat sehingga jatuh sakit. Dalam usaha untuk menemukan sumber air tawar, mereka menemukan sebuah sungai kecil yang mengalir di dekat situ. Sayangnya ketika mereka mencoba meminum air sungai itu, bukannya dahaga mereka menjadi hilang, melainkan mulut mereka terasa pahit sekali dan sakit mereka malah menjadi-jadi. Dalam keputus asaan, ketiganya bergegas berjalan ke pantai untuk berkumur dengan air laut yang jernih dengan harapan agar rasa pahit di mulut mereka bisa berkurang. Ajaib . . . ternyata mereka bertiga merasakan kalau air laut di situ rasanya cukup segar, bahkan sakit mereka bertigapun mendadak lenyap. Untuk mengenang kejadian itu, mereka menamakan pantai itu Tamban, karena mereka mendapati air yang ada di pantai itu menjadi tamba atau obat yang menyembuhkan mereka dari sakit.

IMG_TAM06

Jalan ke Pantai Tamban tidak sulit untuk ditemukan. Jika berangkat dari Malang, kurang lebih 5 kilometer sebelum mencapai Pantai Sendang Biru, di sebelah kiri jalan akan ditemukan sebuah papan petunjuk bertuliskan “Pantai Tamban” dengan panah menunjuk ke sebuah jalan kecil di sebelah kiri. Ikuti saja jalan itu sejauh kurang lebih 5 kilometer lagi, dan tadaaa . . . sampailah kita di Pantai Tamban😀. Jalannya memang tidak terlalu bagus dan relatif sempit sih, tapi masih oke koq kalau mau dijalani. O ya, yang mau kesana mengandalkan kendaraan umum, sebaiknya merencanakan ulang perjalanannya karena tidak ada kendaraan umum yang menuju ke Pantai Tamban lho.–

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 34 Comments

Post navigation

34 thoughts on “Row of boats mooring off the shore

  1. Looks great in B&W!

  2. kyai yaser, namanya seperti nama orang dari timteng ya🙂

    tempat “melarikan diri” yang asyik ini mas. tempat-tempat spt ini kalo disini malah suka dirahasiain mengindari eksploitasi.

    btw problemnya masih sama, kesadaran membuang sampah pada tempatnya belum merakyat.

    salam
    /kayka

    • Iya Mbak, namanya memang mengingatkan kita akan nama-nama orang Timteng 🙂

      Iya sih Mbak, tapi kalau pemanfaatannya tidak mengganggu keseimbangan dan kelestarian alam, aku rasa sih ya gak pa-pa juga ya, sekalian membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat

      Soal kesadaran membuang sampah, iya itu memang masih penyakit kronis yang susah diberantas. Kadang kita yang mengingatkan malah kena omelan 😦

      • betul mas sepajang gak menganggu keseimbangan dan bisa menyejahterakan masyarakat setempat.ä

        soal sampah tsk tsk galakan yang salah masih ya…

        salam
        /kayka

      • Iya Mbak, yang soal sampah itu memang kebanyakan masih galakan yang salah . . .😦

  3. unik pemandangan puluhan perahu berjajar seperti itu
    jadi tempat ini memang daerah perkampungan nelayan dan belum terbuka untuk wisata
    kurasa memang harus dipisahkan deh pantai wisata dan pantai nelayan, kasian nanti para nelayan nggak punya area sendiri terganggu oleh wisatawan

    • Sebetulnya di sini juga sudah dikembangkan jadi tujuan wisata, malah katanya desanya juga sudah dibentuk jadi desa wisata sih Mbak. Cuma pas aku ke sana memang gak terasa suasana seperti suatu daerah wisata. Mungkin karena aku ke sana bukan pas hari libur dan juga masih relatif pagi.
      Tapi kalau aku perhatikan, di negara kita ini banyak juga sih tempat-tempat yang sudah dibuka sebagai daerah wisata akhirnya mati lagi karena gak ditangani dengan benar, padahal daerahnya cukup menarik lho untuk dikunjungi

  4. Un gand bun pentru o noapte binecuvantata!🙂 ❤ * • ♫ ❤ ♫ ❤ ♫ • * ❤
    A good thought for a blessed night!


  5. Sayang sekali ya Om, potensi pantainya belum digarap maksimal sebagai tujuan wisata.
    Tapi memany banyak sih kondisi pantai yang seperti itu.

    • Betul Mbak, sebetulnya tidak digarap secara meksimal juga gak apa-apa asal bersih ya. Kalau pantainya bersih, otomatis kan pelancong juga akan berdatangan, bukan? 🙂

  6. kesannya kayak ke masa lalu yah pak chris

  7. Mas Krish koq fotonya selalu kerreeen siiih…. *sirik

  8. Kisah asal sebutan Pantai Tamba menjadi pengesah kearifan masyarakat lokal. Duh seandainya dilanjutkan dengan pengelolaan diantaranya kebersihan, benar-benar pantai Tamba jadi tamba bagi wisatawan menyesap kesegaran maupun nelayan penjemput rezeki ya Pak.
    Salam

  9. Wowwwww! Hayuk! Kapan ke Ciwidey nih:p

  10. Beautiful B&W images, Chris. Makes me wish I was there.🙂

  11. harumhutan

    sedihnya itu om kurangnya kesadaran dari para pengunjung untuk tidak membuang sampah disembarang, dan tak bisa menjaga kebersihannya, ternoda deh pantainya😦

    sendang biru seperti cerita dlm legenda ya om, tjantik…

    **hemm..om crish ketemuan ama ibu prikah?

    • Kelihatannya bukan cuma pengunjung yang nyampah sih Wiend 😦

      Soal ketemuan sama Bu Prih, sampai sekarang aku masih belum ketemu beliau

  12. Amazing shots~ Truly beautiful. Best wishes Aquileana😀

  13. Amazing🙂 Black and white looks fantastic – nice set of photos! Bye. Kamila

  14. So sad to see all the pollution on the beach. But the oceans are now full of human trash…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: