Daily Archives: January 17, 2015

Row of boats mooring off the shore

On one cloudy morning, after visiting a more known beach called Sendang Biru in Southern Malang, East Java, I stop in a nearby beach called Tamban Beach. And as soon as I stepped my foot on the beach, a thing got my attention . . . boats. Yes boats, there were many boats mooring off the shore as if they were a full armada of war ships ready to do a fierce sea battle. The view reminded me on a scene in a film about Trojan War; the row of boats mooring off the shore looked similar to row of Greece’s war ships that came to Troy by sea to reclaim Helen from Paris. The boats off the shore Tamban Beach, however, were not war ships, of course. They were all fishing boats, instead. Yes, Tamban was a fishing village.

IMG_TAM01

Tamban was a sandy beach that had a very long coastal line. It stretched for about 1,500 meter. The sands were white. Unfortunately when I visited the beach, it was quite dirty  :(. Plastic bottles, snack wraps, empty soft drink cans scattered on the beach. I’m pretty sure that the condition would make any travelers uncomfortable to spend their time there.

IMG_TAM03

As for the name Tamban, it was said that it derived from the word “tamba” or “tombo”. The word was in local language that means medicine or something that can cure. The story went back to the late 19th century; it was in 1880 to be exact. Three wise men called Kyai Ngastowo, Kyai Mangun and Kyai Yaser who intended to stay in that place, started to open the forest to make a village. In their hard effort, the three were dehydrated badly. As it was quite difficult to find fresh water in the region, the three were forced to drink from a nearby river. Alas . . . the water in the river was tasted very bad and made them sick. To wipe the bad taste from their mouths, the three ran to the beach and started to drink the clear sea water. To their amazement, they found that the sea water was pretty fresh and made the bad taste in their mouth vanished. To always remind the people of the incident, they named the place Tamban as the sea water in there cured them from the illness.

IMG_TAM02

To reach the beach was pretty easy. Travelers who departed from Malang should turn left and take a side road about 5 kilometers before Sendang Biru. There was a clear sign that showed the way to Tamban Beach. The road was quite good at that time although it was quite narrow. It took about 5 more kilometers from the sign to reach the beach. Tamban was not as famous as Sendang Biru, hence it was not as crowded as Sendang Biru.—

Keterangan :

Di suatu pagi yang berawan, dalam perjalanan pulang dari Pantai Sendang Biru yang terletak di Malang Selatan, aku memutuskan untuk mampir ke sebuah pantai lain yang terletak tidak jauh dari Pantai Sendang Biru. Pantai yang aku maksud dikenal dengan nama Pantai Tamban. Dan tahukah kawan, ada sebuah pemandangan menarik yang menyita perhatianku begitu aku menjejakkan kakiku di pasir pantai dan mengarahkan pandanganku ke arah laut. Di lepas pantai itu aku melihat puluhan kapal berjajar, seolah-olah satu armada kapal yang sudah siap tempur. Pemandangan seperti itu sontak mengingatkanku akan salah satu adegan di film yang pernah aku saksikan, yaitu adegan pengepungan kota Troya oleh pasukan Yunani di bawah pimpinan Agamemnon. Kala itu pasukan Yunani dengan menumpang berpuluh-puluh kapal perang menyeberangi laut menuju Troya demi merebut kembali Helen yang dilarikan oleh Paris ke Troya. Tetapi . . . tentu saja yang ada di lepas pantai yang berdekatan dengan Pantai Sendang Biru itu bukanlah kapal perang, melainkan kapal-kapal penangkap ikan milik nelayan setempat. Ya, Tamban merupakan perkampungan nelayan, sehingga tidaklah mengherankan kalau di lepas pantainya tampak puluhan kapal nelayan. Mungkin laut di sekitar Pantai Tamban tidak terlalu dalam sehingga para nelayan tersebut “berlabuh” agak jauh dari pantai untuk menghindarkan kandasnya kapal-kapal mereka.

IMG_TAM07

Pantai Tamban sebetulnya memiliki potensi untuk dikembangkan mejadi salah satu tujuan Wisata, apalagi pantai yang terbentang sejauh sekitar 1.500 meter itu tertutup pasir putih yang lembut. Sayangnya ketika aku berkunjung ke sana, aku mendapati bahwa pantai tersebut cukup kotor. Bekas botol maupun kaleng minuman dalam kemasan, juga bungkus makanan kecil dan sisa-sisa makanan tampak berserakan di beberapa bagian pantai 😦. Kondisi pantai yang seperti itu, tentulah akan menyebabkan pelancong enggan untuk berkunjung dan bermain-main di pantai.

IMG_TAM09

Mengenai nama Tamban itu sendiri, konon nama itu berasal dari kata “tamba” atau “tombo”. Kata yang berasal dari Bahasa Jawa itu bisa diartikan sebagai “obat” atau sesuatu yang membuat sembuh. Konon nama itu berasal dari adanya cerita mengenai tiga orang Kyai yang datang ke tempat itu pada akhir abad ke-19, tepatnya di tahun 1880, untuk menetap di situ. Ketiga orang itu dikenal dengan nama Kyai Ngastowo, Kyai Mangun and Kyai Yaser. Mereka bertiga bertekad membuka hutan yang ada di situ untuk diubah menjadi perkampungan. Karena itulah, setelah niat mereka mendapatkan persetujuan dari pemuka masyarakat yang tinggal tidak jauh dari situ, ketiganya segera bekerja keras membabat hutan. Karena di sekitar situ memang sulit sekali ditemukan air tawar untuk minum, ketiganya hanya sedikit minum. Alhasil ketiganya mengalami dehidrasi hebat sehingga jatuh sakit. Dalam usaha untuk menemukan sumber air tawar, mereka menemukan sebuah sungai kecil yang mengalir di dekat situ. Sayangnya ketika mereka mencoba meminum air sungai itu, bukannya dahaga mereka menjadi hilang, melainkan mulut mereka terasa pahit sekali dan sakit mereka malah menjadi-jadi. Dalam keputus asaan, ketiganya bergegas berjalan ke pantai untuk berkumur dengan air laut yang jernih dengan harapan agar rasa pahit di mulut mereka bisa berkurang. Ajaib . . . ternyata mereka bertiga merasakan kalau air laut di situ rasanya cukup segar, bahkan sakit mereka bertigapun mendadak lenyap. Untuk mengenang kejadian itu, mereka menamakan pantai itu Tamban, karena mereka mendapati air yang ada di pantai itu menjadi tamba atau obat yang menyembuhkan mereka dari sakit.

IMG_TAM06

Jalan ke Pantai Tamban tidak sulit untuk ditemukan. Jika berangkat dari Malang, kurang lebih 5 kilometer sebelum mencapai Pantai Sendang Biru, di sebelah kiri jalan akan ditemukan sebuah papan petunjuk bertuliskan “Pantai Tamban” dengan panah menunjuk ke sebuah jalan kecil di sebelah kiri. Ikuti saja jalan itu sejauh kurang lebih 5 kilometer lagi, dan tadaaa . . . sampailah kita di Pantai Tamban :D. Jalannya memang tidak terlalu bagus dan relatif sempit sih, tapi masih oke koq kalau mau dijalani. O ya, yang mau kesana mengandalkan kendaraan umum, sebaiknya merencanakan ulang perjalanannya karena tidak ada kendaraan umum yang menuju ke Pantai Tamban lho.–

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 34 Comments

Blog at WordPress.com.