Daily Archives: May 18, 2014

Mengenal budaya Mataram di kesejukan lereng Merapi

Kali ini, supaya gak bosan bolak-balik main di pantai terus, sekali-kali aku posting tujuan wisata lain yang bukan pantai ya. Yuk kali ini kita mendaki ke tempat yang agak tinggi, sekaligus mencari udara sejuk :). Masih di sekitaran Yogyakarta juga koq. Bisa menebak kan? Yup seratus buat yang menebak betul; pada kesempatan ini aku mampir di Kaliurang, sebuah tempat wisata yang berlokasi di sebelah utara kota Yogyakarta. Karena letaknya yang berada dilereng Gunung Merapi dengan ketinggian sekitar 900 meter di atas permukaan laut, Kaliurang berhawa cukup sejuk. Eh tapi sekali ini aku gak ngajak jalan-jalan di Kaliurang, melainkan langsung menuju ke salah satu sudut Kaliurang. Tepatnya ke Jalan Boyong, Kaliurang.

“Lhah emangnya ada apa di situ?” 😯

Nah di salah satu sudut kawasan Kaliurang ini, terselip sebuah bangunan yang sepintas tampak seperti bangunan yang terbengkelai karena hampir tertutup oleh berbagai jenis tumbuhan yang tumbuh subur dan rimbun di sekelilingnya. Tembok-temboknyapun kelihatan sudah berlumut. Hus jangan bisik-bisik gitu, kita bukannya mau berburu Dracula di situ. Mentang-mentang bentuk bangunannya mirip kastil-kastil di Eropa itu, jangan terus berpikir horror gitu ah. Meskipun bangunannya bergaya gothic, bangunan itu sepenuhnya bukan milik orang asing, bahkan bangunan itu sebetulnya merupakan sebuah museum yang didedikasikan untuk seni dan budaya Jawa. Jadi memang merupakan sebuah tempat yang pantang dilewatkan oleh para pecinta budaya, khususnya budaya Jawa. Namanya Museum Ullen Sentalu. Tuh lihat di pintu masuknya jelas terlihat namanya di sela-sela rimbunan pohon itu.

the entrance to the museum  ( pintu masuk museum )

the entrance to the museum ( pintu masuk museum )

“Namanya koq kedengaran tidak biasa ya? Bukan Bahasa Jawa rasanya, ataukah nama itu diambil dari Bahasa Sansekerta?” 🙄

Untuk namanya, memang sepintas seperti mempergunakan bahasa asing, tetapi sebetulnya Ullen Sentalu merupakan singkatan kata-kata dalam Bahasa Jawa, yaitu dari kata-kata ‘Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku’, yang mengandung arti ‘nyala dian yang menjadi penuntun dalam melangkah dan meniti kehidupan’. Hal ini sesuai dengan tujuan didirikannya museum tersebut oleh Yayasan Ulating Blencong pada tahun 1994 yang lalu, yaitu untuk melestarikan kebudayaan Jawa sehingga adanya museum ini bisa diibaratkan bagai sebuah lampu penerang yang bisa menerangi suasana redup yang melingkupi kebudayaan, khususnya Budaya Jawa, yang semakin terkikis oleh kemajuan jaman.

Di dalam museum tersebut tersimpan dan juga tersaji dengan apik berbagai benda, tulisan dan juga foto yang berkaitan dengan Dinasti Mataram yang pernah berkuasa di Tanah Jawa ini sebelum akhirnya pecah menjadi empat keraton, dua di Yogya dan dua lagi di Solo. Yang di Yogya adalah Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman; sedangkan yang di Solo adalah Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunegaran.

Untuk menjelajahi museum ini, pengunjung tidak dibiarkan kluyuran sendiri, melainkan dipandu oleh seorang pemandu yang menjelaskan dengan lancar dan cara yang cukup menarik mengenai isi keseluruhan museum itu dari ruangan ke ruangan, dari satu lemari pajang ke lemari pajang yang lain, dan dari satu panel ke panel yang lain juga. Lamanya penjelajahan ini kira-kira 1 jam. Jadi, kalau kebetulan ada pengunjung yang datang sendiri, biasanya akan digabung dengan pengunjung lain sehingga bisa membentuk suatu kelompok kecil.

Penjelajahan di dalam Museum Ullen Sentalu itu dimulai dengan memasuki Gua Selo Giri. Yang disebut dengan Gua Selo Giri ini sebetulnya bukan merupakan gua seperti bayangan kita, melainkan bangunan yang terletak sedikit di bawah permukaan tanah dan dibangun mengikuti kontur tanah dan juga akar-akar raksasa pepohonan yang sudah berusia ratusan tahun sehingga ruangan satu dengan ruangan lain dihubungkan dengan lorong-lorong. Dalam Gua Selo Giri ini pemandu menjelaskan mengenai sejarah dan kehidupan para bangsawan Dinasti Mataram jaman dahulu. Banyak benda dan lukisan baik besar maupun kecil yang merupakan peninggalan masa lalu terpajang di sana, antara lain perangkat gamelan dan lukisan-lukisan yang menggambarkan para penari keraton dan juga kehidupan para bangsawannya.

IMG_ULS02

Setelah keluar dari Gua Selo Giri, pengunjung akan diajak menjelajahi ruangan-ruangan lain berikutnya. Antara lain ruangan yang berisi berbagai macam batik, khususnya batik dengan pola-pola klasik. Di sini pengunjung memperoleh penjelasan menggenai kapan waktu yang tepat untuk mempergunakan batik dengan pola tertentu. Ternyata tidak sembarang pola batik bisa dipergunakan di setiap kesempatan lho :P. Dijelaskan pula beberapa corak batik yang diciptakan oleh puteri-puteri kraton dan latar belakang terciptanya pola batik tersebut. Misal saja pola batik truntum yang diciptakan oleh salah satu puteri keraton ketika hatinya bersedih kala mengetahui suaminya menikah lagi. Tetapi ketika suaminya melihat pola batik ciptaannya tersebut, sang suami kembali terbit rasa cintanya kepada puteri tersebut, sehingga pola batik itu dinamakan ‘truntum’ yang bisa berarti bersemi kembali <3.

Ada pula ruangan khusus yang seolah menjadi saksi kisah cinta seorang puteri dari Keraton Solo yang dikenal dengan nama Puteri Tineke, sehingga ruangan tersebut dinamakan Ruang Tineke, meskipun sebenarnya bernama Ruang Sekar Kedaton. Puteri Tineke adalah puteri dari Sunan Pakubuwono XI. Puteri yang bernama asli GRAy Koes Sapariyam ini memiliki kisah cinta yang cukup menyedihkan, karena hubungan cintanya dengan pemuda pujaannya tidak direstui oleh orang tuanya. Untungnya saat itu Sang Puteri memilik banyak kawan yang selalu mendukungnya. Dukungan itu berujud surat yang dikirimkan kepada Puteri Tineke dalam kurun waktu antara tahun 1939 – 1947. Sekarang, surat-surat yang pada umumnya berbentuk puisi cinta itu terpajang dengan rapi, bahkan disertai juga dengan foto-foto pengirimnya, serta juga diberikan terjemahannya karena sebagian surat-surat itu aslinya berbahasa Belanda. Pengunjung bisa membaca satu demi satu kumpulan surat yang sudah terpajang dalam panel-panel di dinding karena kesemua surat tersebut masih terawat dan tulisannya masih terbaca jelas. O ya, mungkin ada yang penasaran dengan akhir kisah cinta Puteri Tineke ini? Well . . . akhirnya adalah akhir yang indah seperti dalam buku-buku cerita dongeng, karena Sang Puteri akhirnya bisa menikah dengan pria pujaannya dan hidup berbahagia ❤ 🙂 ❤

IMG_ULS11

woman statue by the pool in the backyard (patung wanita di tepi kolam di halaman belakang museum)

Ruangan lain yang juga didedikasikan untuk seorang puteri dikenal dengan nama Ruang Puteri Dambaan. Dalam ruangan ini, pengunjung bisa lebih mengenal sosok Gusti Nurul, seorang puteri Keraton Mangkunegaran Solo yang betul-betul menjadi dambaan banyak pria pada saat mudanya karena selain memang berparas cantik, Gusti Nurul juga dikenal pandai dan cakap dalam menari, berkuda, bermain tenis dan juga berenang. Puteri Mangkunegoro VIII dengan Gusti Ratu Timur ini bernama asli GRAy Siti Nurul Kamaril Ngarasati Kusumawardhani. Konon pada waktu itu, hampir setiap sore Gusti Nurul berlatih menunggang kuda di suatu tanah lapang, dan setiap kali Gusti Nurul berkuda di situ, hampir dipastikan kalau tanah lapang itu akan dipenuhi para pemuda yang ingin menyaksikan kecantikan Gusti Nurul. Di dalam ruangan Puteri Dambaan tersebut terpajang banyak sekali foto Gusti Nurul, sejak beliau masih bayi sampai sekarang. Di antara foto-foto itu, tampak juga foto Gusti Nurul sedang menari di hadapan para tamu agung pada pesta pernikahan Puteri Juliana di Belanda. Uniknya, saat itu Gusti Nurul menari dengan iringan gamelan yang dimainkan di Solo dan diperdengarkan melalui sambungan telepon. Kalau jaman sekarang sih mungkin merupakan hal yang biasa, tetapi waktu itu merupakan hal yang sangat luar biasa. Gusti Nurul yang sekarang sudah berusia lebih dari 90 tahun dan tinggal di Bandung ini dikenal sebagai seorang puteri yang dengan tegas menentang poligami, sehingga pada masa mudanya berulangkali menolak pinangan para pangeran maupun pejabat tinggi yang pada saat itu biasa memiliki istri lebih dari satu.

Di ruangan lain dalam museum ini, pengunjung juga akan bisa mengetahui perbedaan busana pengantin Jawa gaya Surakarta dan gaya Yogyakarta. Di situ, selain dijelaskan secara detail apa saja perbedaannya pengunjung juga akan dijelaskan apa arti dari semua riasan dan perlengkapan busana yang dikenakan sang pengantin.

Sebelum mengakhiri kunjungan di museum ini, pengunjung akan diajak beristirahat sejenak di suatu ruangan. Di situ pemandu akan menyajikan minuman berupa ramuan berbagai bahan yang dipercaya bisa menyegarkan tubuh. Konon ramuan tersebut adalah ramuan yang berasal dari keraton. Rasanya . . . uenakkk lho, segar dan tidak pahit. Sayang gak boleh minta tambah 😀

IMG_ULS05

Penjelajahan dalam museum yang seolah membawa pengunjung ke jaman yang telah lampau itu diakhiri di sebuah ruangan yang merupakan sebuah toko, dimana pengunjung bisa membeli cendera mata, batik, baju dan lain sebagainya.

O ya, mungkin banyak yang bertanya juga mengapa tidak banyak foto yang aku sertakan dalam postingan ini. Ya, hal ini dikarenakan di dalam area museum, pengunjung dilarang mengambil foto. Jadi buat yang kurang puas dan ingin tahu lebih banyak, mampirlah ke Museum Ullen Sentalu kalau pas ke Yogyakarta 🙂 .—

IMG_ULS10

 

Summary:

The post is about a museum called Ullen Sentalu. The name was an abbreviation of a Javanese quotes “Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku” which can be translated freely as the light that guides people in their living on the world. The museum was located in a corner of Kaliurang, a resort at the slope of Mount Merapi, about 30 kilometers from Yogyakarta to the north.

The museum was a place to preserve Javanese culture as well as to display everything about Mataram Dynasty, a dinasty that once became the ruler of Java before then it was separated into four centers of authorities, two of them were in Yogyakarta and the other two were in Solo. In Yogyakarta they were known to rule from two palaces, Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat (Yogyakarta Sultanate) and Kadipaten Pakualaman (Pakualam Princedom); while in Solo there were Kasunanan Surakarta (Surakarta Sunanate) and Praja Mangkunegaran (Mangkunegara Special Teritory).

IMG_ULS01

To enter the museum, travelers would be escorted by an experienced guide who would lead the way and explain about everything in the museum. Yes this was a guided tour through the museum; and during the excursions, travelers were free to ask about everything related to the displayed items in there. The duration of the tour through the museum was approximately 1 hour.

To start the excursion, travelers would be guided through a tunnel to a room called Gua Selo Giri. The name Gua Selo Giri could be translated as the Mountain Stones Cave. It was not a real cave, actually. It has the name because the room was built underground like a cave, even though when people entered the room it was far from a look of a room in a cave. In the room, there was a set of ‘gamelan’ – Javanese traditional music instruments which was said to be given by the Sultan of Yogyakarta. There were also some big paintings depicting the life of Javanese noblemen in the past as well as paintings depicting the royal dancers in action.

IMG_ULS06

To come to the next room, travelers would pass through a path with many antique paintings and statues, most of the paintings were about the Sultans, Princes, and Princesses of the dynasty. In one of the room, travelers would be explained about the ‘batik’; how they were be made, the different style and pattern of ‘batik’ originated from Yogya and Solo, when one should wear a special pattern of ‘batik’, and also the story behind some of the ‘batik’ pattern.

There were also two rooms dedicated to certain princesses of Solo. The first one was called Balai Sekar Kedaton (the Princess Room) or most commonly known as Tineke Room because many things about Princess Tineke was displayed in the room; most of them were letters be written by the princess friends to encourage and support her when she was very depressed because she was not allowed to marry her lover by his father, the king of Solo called Sunan Pakubuwono XI. The princess, whose real name was GRAy Koes Sapariyam, received so many letters, either in Dutch as well as in Bahasa Indonesia during the period of the year 1939 through 1947. Most of the letters were poems. Now, most of the letters were on display together with the picture of the senders, so travellers could read and feel the same feeling as the princess, as all the letters were still intact. And . . . don’t you want to know how about the end of her love story? Well, as in almost every fairy tale, the story ended with happiness as the princess married her lover at last ❤ 🙂 ❤

modern style statues in the park  ( patung bergaya modern di taman belakang )

modern style statues in the park ( patung bergaya modern di taman belakang )

The other room that also dedicated to a princess was called Ruang Puteri Dambaan (the Room of the Desired Princess). The princess was known as Gusti Nurul, the daughter of Mangkunegoro VIII of Solo. Her real name was GRAy Siti Nurul Kamaril Ngarasati Kusumawardhani, and she was known for her beauty. She was also known as a smart girl as well as good in traditional Javanese dancing, horse ridding, lawn tennis and swimming. She was also known to strictly say no to polygamy, which was why she refused many marriage proposals sent by many princes and noblemen, because it was a common practice that kings and noblemen had more than one wife at that time. In the room, travelers could see many pictures of Gusti Nurul and could prove how pretty she was. Nowadays, Gusti Nurul, who was more than 90 years old, was lived in Bandung, Indonesia.

Well . . . to end this post, I think it was a trip worth to join, especially for travelers who love to explore many cultures 🙂 .–

Categories: Travel Notes | Tags: , , , | 73 Comments

Blog at WordPress.com.