Daily Archives: May 4, 2014

A beach with many cliff climbing tracks

Yogyakarta, a city that once been the capital of Yogyakarta Sultanate; not only known as a student city as it had many universities and colleges, it was also known to have many beautiful beaches even though the beaches were not too close to the city. The most famous beach was Parangtritis. Farther to the south east, there were also more known beach such as Baron, Kukup and Krakal. Aside of those known beaches, there were also many pretty beaches hidden behind the limestone hills that bordered the area in the south, and those beaches started to gain popularity because each of them had their own uniqueness. Siung Beach was one of those beaches. It located in Tepus District, Gunungkidul Regency; about 80 kilometers from Yogyakarta. To reach the beach, people usually used private cars or motorbikes, since there were no public transports that could be used to reach the beach.

IMG_SIU06

Siung Beach was facing the south sea which known to have big waves and strong currents. Its specific characteristic was a beach in a gulf bordered by cliffs. Its condition made the beach pretty secluded. That was why that its beauty only known recently. It was said that some rock climbers from Japan who had found the beach in the late 1980 when they looked for new and challenging tracks to be conquered. Siung’s name then became more famous, especially among the rock and cliff climbers, when in 2005 it became the venue for Asian Climbing Gathering which attended by climbers from Singapore, Malaysia, The Philippines, Germany, France, and hosted by Indonesia. Up till now, many climbers still tried to test their skill in one of so many climbing tracks that had already opened in Siung with various difficulty levels, while many others still tried to open new tracks.

As for its name, it was said that local people saw that the cliffs and big corral rocks at the beach were looked like animal teeth formation; especially they looked like monkeys teeth since there were many long tailed monkey inhabited the forest around the beach. Unfortunately the monkey population was diminishing rapidly along with the soaring of the beach popularity 😦 . Anyway, back to the cliffs which looked like monkey’s teeth, in local tongue, any animals’ teeth and fangs were called ‘siung’, and that was how the beach got its name.

IMG_SIU01

So . . . is it quite worth to visit Siung Beach if we are not a rock or cliff climber? I said yes, because travelers can do many thing on the beach aside of playing spiderman on the cliff :D. When I was there, the white sandy beach and clear sea water was so tempting, not only for me but also for others. I saw many people playing or just sitting in the shallow water at the beach. I also saw many people tried their luck to capture fishes with their fishing rods on a certain spot in the east corner of the beach. Many others just sit under the trees enjoying the beautiful scenery in there. Can you imagine, craving a barbecued fishes in a beautiful beach while our body caressed by a gentle breeze came from the sea? Hmmm . . . must by a luxury for busy people, I think 😛

IMG_SIU12 IMG_SIU13

 

Keterangan :

Yogyakarta, sebuah kota yang dulu merupakan pusat dari Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, tidak hanya terkenal sebagai kota pelajar yang memiliki banyak universitas, akademi maupun kolese, melainkan juga terkenal karena memiliki banyak pantai indah, meskipun pantai-pantai itu tidak terlalu dekat dengan kotanya. Parangtritis adalah pantai yang paling terkenal kalau orang menyebut nama Yogyakarta. Sedikit lebih jauh, ada pantai-pantai Baron, Kukup, dan Krakal yang sudah cukup lama dikenal masyarakat. Tetapi, selain pantai-pantai tersebut, ternyata masih banyak lagi pantai-pantai indah di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yang sebelumnya tersembunyi di balik gugusan bukit-bukit kapur yang membentengi bagian selatan wilayah ini. Pantai-pantai tersebut akhir-akhir ini namanya semakin dikenal masyarakat, apalagi pantai-pantai tersebut memiliki keunikannya sendiri-sendiri. Salah satu dari pantai-pantai tersebut adalah Pantai Siung yang beberapa waktu lalu sempat aku kunjungi.

IMG_SIU08

Pantai Siung terletak di Desa Wates, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul. Kira-kira berjarak 80 kilometer dari kota Yogyakarta. Biasanya pelancong berkunjung ke pantai ini dengan mempergunakan kendaraan pribadi atau motor, karena belum ada kendaraan umum yang bisa dipergunakan sampai ke tepi pantai. Paling-paling berhenti sampai di Tepus, dan untuk mencapai pantai masih harus menempuh jarak yang lumayan.

Pantai Siung seolah-olah berada di lekukan sebuah teluk karena di kiri kanannya dipagari oleh tebing karang. Itu pula sebabnya pantai ini kesannya cukup terpencil. Di ujung-ujung pantainya terdapat banyak tebing-tebing karang yang berdiri kokoh, seolah-olah muncul dari laut. Menurut informasi yang aku dapat, justru sekelompok pecinta alam dari Jepang yang menemukan pantai ini pada tahun 80-an akhir ketika mereka sedang mencari trek panjat tebing baru dan lebih menantang untuk mereka taklukan. Nama Pantai Siung kemudian semakin terkenal, khususnya di antara para pemanjat tebing ketika pada tahun 2005 pantai ini menjadi ajang diselenggarakannya Asian Climbing Gathering yang dihadiri pemanjat tebing-pemanjat tebing dari Singapura, Malaysia, Filipina, Jerman dan Perancis dengan Indonesia sebagai tuan rumahnya. Sampai sekarangpun masih banyak pemanjat tebing yang menjajal kemampuan mereka merayap di dinding-dinding terjal batu karang raksasa dan tebing-tebing di pantai itu karena di sana terdapat banyak sekali jalur panjat tebing dengan berbagai tingkat kesulitan yang bisa dijajal. Sementara itu, jalur-jalur baru juga banyak dibuka oleh para pemanjat yang datang kesana, baik jalur yang betul-betul baru maupun meneruskan jalur lama yang terhenti di suatu titik.

IMG_SIU17

Mengenai nama Siung itu sendiri, konon orang-orang setempat melihat kalau formasi batu karang yang ada di sekitar pantai itu mirip formasi gigi monyet. Kenapa monyet? Karena kebetulan di situ dulu banyak sekali dijumpai monyet ekor panjang yang memang berdiam di hutan sekitar situ dan juga di puncak-puncak tebing karang. Sayang dengan semakin terkenalnya pantai Siung dan juga semakin banyaknya pengunjung, habitat kera juga kena gusur sehingga sekarang sangat jarang ditemukan kera berkeliaran di sekitar pantai itu 😦 . Kembali ke soal formasi karang itu, karena mirip gigi atau taring atau juga disebut ‘siung’, maka akhirnya pantai itu dikenal dengan nama Pantai Siung hingga sekarang.

Trus kalau dilontarkan pertanyaan, memangnya mau ngapain ke Pantai Siung kalau kita bukan seorang pemanjat tebing? Jawabannya adalah, banyak hal bisa dilakukan di sana selain mencoba jadi spiderman dan merayap-rayap di tebing 😀. Pasir pantai yang putih dan air laut yang jernih pastilah merupakan godaan tersendiri untuk bermain-main di pantai, baik bermain pasir, mencari kerang, ataupun berkejaran dengan ombak di laut yang dangkal. Buat yang hobi mancing, mungkin bisa mencoba peruntungannya dengan memancing ikan di sisi timur pantai seperti beberapa orang yang aku temui ketika aku ke sana waktu itu. Yang hanya duduk-duduk santai di bawah pohon sambil memandang keindahan pemandangan di hadapannya juga banyak koq. Aku temukan juga pemandangan yang membuat perutku mendadak dangdutan. Bagaimana tidak, duduk santai di bawah rindangnya pepohonan di tepi pantai, menyantap nasi hangat dengan lauk ikan laut segar yang dibakar di situ sambil menikmati lembutnya belaian angin yang bertiup lembut dari laut. Hmm . . . asyik banget kan. Ah sudah dulu ya, dengan menuliskan ini saja membuat perutku lapar lagi. Yuk ah aku mau cari makanan dulu 😛

IMG_SIU16

Advertisements
Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 82 Comments

Blog at WordPress.com.