Posts Tagged With: bali

A cup of coffee with a view

Bali was quite known among travelers, especially for its tradition, temples and beautiful beaches. Aside of that, Bali also had many pretty places in their highlands. Ubud and Kintamani were among many places on the highland which had landscapes that soothed the eyes of many travelers. In my opinion, it was not only the pretty sceneries that attract people to come to those places; the cool air was also quite convenience for them who ran from the hustle bustle of big cities and looking for a place to relax.

And do you know what . . ? The best way to enjoy lovely views and cool breeze was in a nice chair with a cup of hot coffee. At least, that was for me  😎

In Ubud, travelers could enjoy relaxing atmosphere like that because there were many place that called themselves agro-tourism providers and they provide a simple tour in a coffee and chocolate plantations, as well as introducing the process in making one of the most expensive coffee called Kopi Luwak or Civet Coffee.

At that time, after visiting Pinggan Village in the morning, I continue my journey to such a place called Bali Pulina. It located about 12 kilometers from Ubud city center and about 5 minutes drive to the north from Tegalalang, the place famed for its terraced paddy field.

img_pul01

Upon arrival, I was greeted by a girl who then took me on a short tour around the place. First stop was at some cages with civet cats (Paradoxurus hermaphrodites) in the cages. In those cages there were also plates with coffee berries in it. The coffee berries were the civet cats favorite food. Actually they only like the berries’ flesh, but the cats swallowed the berries in a whole, including the hard seed inside the berries. The civet cats’ digestive system, however, could not digest the seed. So the seeds just passed through the system and out with the cats poops. It was said that the civet cat’s digestive system strengthens the coffee aroma and lessen the bitterness of the coffee taste, and that was why Kopi Luwak was sought by many coffee drinkers.

img_pul04

Later on, the poops would be collected and sorted. The coffee seeds been separated and dried under the sun; and when it was dry enough, the seeds would be washed, roasted and finally ground to make them into coffee powder.

img_pul11

After explaining the process in producing Kopi Luwak, she then showed me many traditional tools that been used in a coffee plantation, and finally ushered me to a kind of café to try the taste of various drinks they provide. There were 8 small cups on a wooden tray consisted of Lemon Tea, Ginger Tea, Ginger Coffee, Ginseng Coffee, Chocolate Coffee, Pure Cocoa, Vanilla Coffee and Pure Bali Coffee that could be tasted for free  😀

img_pul14

Aside of those small cups, travelers could order any other drinks and snacks, too. The Luwak Coffee was one among various kinds of drinks they served. When I was there, the price was IDR 50,000.—(approximately USD 4.–) per cup of black Kopi Luwak.

img_pul13

The café itself was a nice place that looked over a valley with terraced paddy fields. There were also wooden platforms that hung over the valley that could be used by them who want to take pictures with the valley and the paddy fields as the background. For them who did not want to take pictures, they could still sit on their chosen seat and enjoy the scenery while sipping a cup of hot coffee and savoring some delicious local snacks.

img_pul15

Done with the drinks and snacks, on the way out, travelers could stop by at Pulina’s shop and bought some packs of coffee powder as well as souvenirs. Well . . at least travelers still brought something home aside of a nice memory on the taste of the Kopi Luwak and pictures of pretty scenery captured from Bali Pulina  🙂 .—

Keterangan :

Bali, siapa sih yang nggak kenal dengan pulau yang juga dikenal sebagai Pulau Dewata ini? Pura-puranya yang indah, tradisi yang masih kental serta berbagai pantai indah membuat banyak orang tertarik untuk berlibur di sana. Dan meskipun sebagian besar orang lebih tertarik dengan pantai-pantainya yang indah, Bali sebenarnya masih menyimpan keindahan lain yang terletak di ketinggian. Bukan di langit tentu saja, melainkan di daerah pegunungannya. Ada banyak tempat yang memiliki pemandangan yang sungguh memanjakan mata siapapun yang datang ke sana. Misal saja pemandangan yang bisa kita jumpai di Ubud dan Kintamani. Udara yang sejuk merupakan nilai tambah yang membuat orang datang ke sana untuk bersantai dan lari sejenak dari rutinitas dan kesibukan sehari-hari

img_pul20

Dan . . . tahu nggak apa yang paling enak kita lakukan di tempat-tempat seperti itu? Buat aku, pemandangan indah yang memanjakan mata dengan udara sejuk yang membelai kita tentu akan lebih asyik kalau kita nikmati sembari duduk nyaman dengan secangkir kopi hangat di tangan. Apalagi kalau kopinya itu kopi kelas premium yang sudah terkenal kelezatannya  😎

Nah . . di Ubud, suasana nyaman seperti yang aku bayangkan itu bisa kita dapatkan karena di sana ada banyak tempat yang menawarkan kegiatan ber-agrowisata singkat di kebun kopi dan coklat yang diakhiri dengan mencicip kelezatan kopi yang mereka produksi, termasuk juga mencicip salah satu kopi yang masuk kategori premium, yaitu Kopi Luwak.

Ketika itu, sepulang dari Desa Pinggan, aku melanjutkan perjalanan ke arah Ubud. Tujuannya adalah sebuah tempat agrowisata bernama Bali Pulina yang terletak kurang lebih 12 kilometer dari pusat kota Ubud. Bali Pulina ini tidak jauh lokasinya dari Tegalalang yang sudah dikenal dengan keindahan sawah berundaknya.

img_pul03

Di Bali Pulina, begitu sampai, kita akan disambut oleh seseorang yang bertindak selaku guide bagi para pengunjung. Umumnya, begitu memasuki gerbang Bali Pulina, pengunjung akan diajak ke sebuah tempat dimana terdapat beberapa kandang besar yang berisi binatang luwak (Paradoxurus hermaphrodites). Di dalam kandang-kandang itu juga tampak adanya wadah yang berisi buah kopi masak yang memang menjadi makanan kesukaan para luwak itu. Sebetulnya sih yang disukai adalah daging buah kopinya karena bijinya kan keras banget. Hanya saja para luwak itu memakan buah-buah kopi itu secara utuh sama biji-bijinya. Nah . . biji-biji kopi itu saking kerasnya nggak bisa dicerna oleh system pencernaan luwak, sehingga akan keluar utuh bersama kotorannya.

img_pul05

Proses pembuatan kopi luwak sebetulnya mulai dari sini. Jadi . . kotoran-kotoran luwak yang mengandung biji kopi akan dikumpulkan dan biji-biji kopinya akan dipisahkan. Kemudian biji-biji kopi itu akan dijemur di bawah terik matahari sampai kering. Setelah kering, biji-biji itu akan dicuci bersih sebelum dijemur lagi. Tahap berikutnya adalah menyangrai biji-biji kopi itu. Di Bali Pulina aku melihat proses menyangrainya yang dilakukan secara tradisional. Biji kopi yang sudah matang kemudian dihaluskan dan diayak sehingga dihasilkanlah bubuk kopi halus yang siap seduh.

Trus kenapa kita mau-maunya minum kopi yang sebelumnya diambil dari kotoran binatang luwak?

Katanya sih, kopi luwak ini merupakan kopi yang paling enak. Selain luwak hanya makan buah kopi yang sudah betul-betul masak, juga sistem pencernaan luwak ini menghasilkan enzim tertentu yang menyebabkan aroma kopi menjadi lebih kuat tetapi rasanya justru menjadi tidak terlalu pahit.

Tour kita di situ akan berlanjut setelah selesai melihat proses pembuatan kopi luwak itu, petugas tadi akan mempersilahkan para pengunjung untuk menuju ke sebuah bangunan di tepi lembah untuk mencicipi beberapa jenis kopi yang mereka hasilkan. Jalan menuju bangunan tersebut akan melewati sebuah gubug terbuka dimana kita akan bisa melihat berbagai peralatan tradisional yang umum dipakai di perkebunan kopi dan coklat.

img_pul12

Ada 8 jenis minuman yang disajikan dalam cangkir-cangkir kecil yang bisa kita cicip dengan gratis di sana, yaitu Teh Lemon, Teh Jahe, Kopi Jahe, Kopi Ginseng, Kopi Coklat, Coklat, Kopi Vanili dan Kopi Bali murni. Buat mereka yang ingin mencicip rasa kopi luwak, bisa juga memesannya di situ. Mereka membanderol secangkir kopi luwak dengan harga 50K. Buat yang ingin mengunyah sesuatu, di situ juga disediakan berbagai snack yang lezat.

img_pul16

Selain tempat duduk untuk ngopi sambil memandang hamparan sawah berundak di dalam lembah, Bali Pulina juga menyedian beberapa anjungan dari kayu yang dibuat artistik sehingga mengundang banyak orang untuk berfoto di atasnya.

img_pul21

Setelah puas, pengunjung yang berjalan menuju pintu keluar akan melewati sebuah toko kecil yang menjual aneka olahan kopi dan teh seperti yang sudah dicicip sebelumnya, disamping juga beberapa jenis souvenir. Bagi yang berminat silahkan berbelanja sehingga ketika pulang tidak hanya kenangan yang dibawa, melainkan juga ada bawaan berupa kopi yang lezat  😛

img_pul22

img_pul24

img_pul26

Advertisements
Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 22 Comments

Visiting the land above the clouds

I was in Bali back then. Yes Bali, an island in Indonesia which was known as an island with thousands Hindhu Temples. Bali was also known as the island of gods; and as we all believe, gods were lived in a place high above, even beyond the clouds. Up till now, many people still wondering what was it like to live gods’ life.

Well . . . in Bali travelers could feel the feeling, not all for sure; at least to feel how it was like when the clouds were below us. Of course everybody could feel such a feeling in any places in the world when they climb a high mountain. But for that, travelers should spend a great effort to reach the top of a mountain.

 

IMG_PIN01

Here in Bali, travelers could enjoy the same feeling without much effort. They just need to wake up early and then drove to Kintamani.

Kintamani . . . ?

Yes, Kintamani; a region in Bali where travelers could enjoy the cool breeze of Bali highland and also a pretty scenery of a valley with Mt. Batur as the background. In the morning, the valley would be covered with fog that showered by the yellow sunshine. From certain places, the vista was amazing as the fog was looked like a blanket made of clouds spread over the valley.

IMG_PIN07

One of the best places to see such a view was from Pinggan Village. A village located just about 14 kilometers to the east from Kintamani. It was at about 1,000 meters above sea level, so the temperature would be pretty cool at dawn, say about 15 degree Celsius. It was said that Pinggan Village was one of the old villages of Bali since it had already existed since the thirteenth century.

IMG_PIN03

To get the amazing and yet mystical view of clouds covering the village, travelers should come early to the place. Before 6 AM was enough. So for travelers who spent their night in Kuta region, they should start at about 3 AM because it needed about 3 hours drive from Kuta to Kintamani.

IMG_PIN04

Anyway, here I presented to you some pictures I got from the land above the clouds. Hope you can enjoy  🙂

IMG_PIN09

IMG_PIN10

Keterangan :

Kali ini aku mampir ke Bali. Ya . . . Bali, sebuah pulau yang dikenal sebagai Pulau Beribu Pura. Disamping itu, Bali juga dikenal sebagai Pulau Dewata karena keindahannya bak negeri para dewata di atas sana.

Atas . . . ?   😯

Iya, hampir semua orang percaya bahwa para dewa tinggal di atas sana, jauh di atas awan; dan tahu nggak sih kalau sampai sekarang banyak orang sangat ingin merasakan bagaimana sih rasanya hidup bagaikan para dewa di atas sana? Dimana kita bisa memandang hamparan awan yang ada di bawah kita.

IMG_PIN08

Memang keinginan untuk berdiri di suatu tempat sambil memandang hamparan awan di bawah kita bisa saja terpenuhi dimana saja selama kita mau sedikit bercape lelah mendaki gunung. Tapi di Bali ada suatu tempat dimana kita bisa merasakan pengalaman seperti itu tanpa harus bercape lelah mendaki gunung. Pengorbanan yang harus kita berikan hanyalah berkurangnya waktu tidur kita karena kita harus bangun subuh kemudian berkendara ke Kintamani.

IMG_PIN11

Ya Kintamani yang terletak di dataran tinggi memang memungkinkan para pelancong memandang keindahan daerah yang letaknya lebih rendah di kejauhan dengan Gunung Batur yang berdiri kokoh sebagai latar belakangnya.

Kala subuh, di beberapa lokasi, akan tampak hamparan awan yang seolah selimut tebal berwarna putih menutupi lembah yang masih terlelap. Sedikit demi sedikit selimut putih itu akan mulai dihiasi semburat jingga terkena pantulan sinar sang mentari yang baru bangun dari peraduannya.

IMG_PIN02

Nah . . . salah satu tempat terbaik untuk menyaksikan keindahan itu adalah dari Desa Pinggan. Sebuah desa yang berjarak kurang lebih 14 kilometer ke arah timur dari Kintamani. Dengan ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut, tidaklah mengherankan kalau udara di sana ketika pagi menjelang lumayan dingin. Bisa sampai 15 derajat Celsius lho. Jadi buat yang nggak tahan dingin, sebaiknya jacket jangan sampai dilupakan. Sebagai informasi tambahan, Desa Pinggan merupakan salah satu desa tua yang ada di Bali; konon sudah ada sejak abad ke XIII.

IMG_PIN05

Pada postingan kali ini, aku sertakan beberapa foto yang aku ambil di salah satu sudut Desa Pinggan. Dan untuk mendapatkan foto-foto sejenis, sebaiknya pelancong sudah berada di lokasi sebelum jam 6 pagi.

Ya nggak masalah bagi mereka yang memang menginap di Kintamani. Tapi bagi mereka yang menginap di daerah Kuta . . . siap-siap sajalah untuk bangun selepas tengah malam karena jarak Kuta – Kintamani biasanya ditempuh selama 3 jam.

IMG_PIN06

Jadi . . . tertarik mau merasakan sensasi berdiri memandang awan yang berarak di bawah kita tapi tanpa kita perlu bersusah payah? 😛

IMG_PIN12

IMG_PIN13

IMG_PIN14

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 48 Comments

A corner of Canggu – A golden sunset at the beach

IMG_EBC01

By looking at the picture above, I believe that almost all of you know that I was in Bali when taking the picture; and you’re not wrong since I was really in Bali and I was in a beach called Echo Beach in Canggu, an area located in the southern part of Bali. The area spanned from Berawa Village located at the north of a tourist area known as Seminyak, to Cemagi Village located just at the south of the legendary Tanah Lot. The distance of those two villages were about 8 kilometers, and that was also the length of the beach line in Canggu area. Beaches in the area was named according to the closest village the beach in, so there were many beaches along the shore in the area namely Berawa Beach, Batu Bolong Beach, Echo Beach, Nelayan Beach, Pererenan Beach, Selasih Beach and Mengening Beach.

IMG_EBC02

Canggu was a rural area and although many came to the area, it was still not as crowded as the more famous Kuta Beach. At that time, I was visited Batu Bolong Beach in order to wait for the sunset. As soon as I came to the beach, however, I realized that there was a more open area at the neighbouring Echo Beach to get a better seat for the approaching nature show . . the sunset. So off I went to Echo Beach by walking along the shore from Batu Bolong to Echo Beach as the two beaches located side by side.

I found many restaurants and cafes with their by-the-sea tables and chairs, some of them were under some parasols, and all of the furniture were painted white as well as the parasols which made them looked clean.

IMG_EBC03

The beach itself was a black sandy beach. Many people were on the beach, many of them were walking or running on the beach, some of them bring their dogs that seemed quite happy to play at the beach along with their masters. Others were just sitting on the sands, chatting to each other. In the distance, I could see many parasols and also people that flew kites. Surfers were also seen riding the waves in the distance. I saw some were also waiting for the sunset like I did. Well . . the beaches in Canggu were known as proper beaches for them who want to enjoy sunset.

IMG_EBC04

And as I arrived at the spot at about 4:30 PM, I did not have to wait for long before the “show” began. The mighty sun slowly but surely was reducing his bright and intense light; while clouds helped him by covering his face. Sometimes the wind blew away the clouds and the sun show his reddish face as if he shy because he had to go to another part of the world leaving the people who still needed him in the area.

After the sun was really set, people started to leave the beach area. They moved to nearby restaurants and cafes that could be easily found in the area to continue their holiday time in there. The night was still very young for them to spend just in their hotel rooms. Don’t you agree? 😎 .—

 

IMG_EBC12

 

Keterangan :

Kalau para sahabat melihat foto yang aku pasang di awal postingan ini, pasti para sahabat segera tahu bahwa postingan ini masih mengenai Bali. Dan para sahabat tidak salah karena memang aku masih ingin menyajikan keindahan salah satu sudut Bali, tepatnya di daerah Canggu yang terletak di bagian selatan Pulau Bali. Daerah Canggu meliputi wilayah yang terbentang sejak Desa Berawa di sebelah utara Seminyak sampai Desa Cemagi yang terletak di sebelah selatan Tanah Lot. Ya . . daerah ini memang terletak di antara Seminyak dan Tanah Lot. Canggu juga memiliki garis pantai yang membentang sepanjang kurang lebih 8 kilometer, dan meliputi beberapa desa sehingga pantai-pantai itu memiliki sebutan atau namanya masing-masing tergantung lokasinya. Kalau diurut dari arah selatan, ada Pantai Berawa yang terletak di Desa Berawa, kemudian Pantai Batu Bolong, Echo Beach, Pantai Nelayan, Pantai Pererenan, Pantai Selasih and Pantai Mengening.

IMG_EBC09

Aku sendiri ketika itu memutuskan untuk berkunjung ke Pantai Batu Bolong, bukan karena alasan khusus sebenarnya, cuma karena kebetulan di Pantai Batu Bolong aku bisa menemukan tempat parkir untuk kendaraanku 😛 . Dan ketika aku sampai di pantai, aku segera menyadari kalau tidak jauh dari Pantai Batu Bolong ada tempat yang lebih nyaman untuk menikmati pertunjukan alam yang ingin aku saksikan sore itu, yaitu saat-saat terbenamnya sang surya. Cuaca yang relatif cerah menjanjikan sebuah pertunjukan yang menarik, meskipun sedikit awan mendung sempat membuat aku was-was juga. Jadi . . supaya dapat “tempat duduk” yang lebih nyaman aku berjalan menyusuri pantai menuju ke pantai sebelah, yaitu Echo Beach. Di situlah aku menanti saat-saat terbenamnya matahari bersama dengan banyak orang lain.

IMG_EBC10

Di Echo Beach terdapat sebuah pelataran yang dipenuhi meja kursi bercat putih dengan sebagian di antaranya dipayungi deretan payung pantai berwarna putih juga sehingga tampak indah dan rapi dipandang dari arah pura yang berdiri gagah di tepi pantai, di antara Pantai Batu Bolong dan Echo Beach. Ya meja dan kursi itu memang tempat bersantap yang disediakan oleh pengelola pantai bagi mereka yang ingin bersantap di situ karena di sebelah belakang deretan meja kursi itu berderet pula bermacam sajian yang bisa dibeli dan di santap sambil menikmati belaian angin laut.

IMG_EBC08

Aku hanya melewati deretan meja dan kursi itu dan memilih untuk duduk di pasir pantai yang hitam dan lembut seperti banyak juga pengunjung pantai lainnya. Selain mereka yang hanya duduk-duduk di pasir, banyak juga yang berjalan-jalan atau bahkan berlarian di sepanjang pantai. Beberapa orang asing berjalan-jalan bersama keluarga sambil membawa anjing. Anjing-anjing itu tampak gembira bisa menemani tuan mereka bermain-main di pantai sore itu. Di kejauhan aku melihat beberapa orang asyik menunggangi ombak di atas papan seluncur masing-masing. Ada pula beberapa orang yang asyik menyiapkan kamera untuk mengabadikan saat-saat indah yang akan segera tiba. Pantai-pantai di daerah Canggu memang terkenal sebagai pantai yang ideal untuk menikmati keindahan matahari terbenam, tidak terkecuali Echo Beach.

IMG_EBC11

Karena kebetulan aku berada di sana sudah cukup sore, aku tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menyaksikan saat-saat terbenamnya sang bagaskara itu. Perlahan tetapi pasti sinar yang menyilaukan itu meredup. Awan-awan yang berarak sesekali menutupi wajah matahari yang memerah seolah malu karena harus meninggalkan banyak orang di Canggu yang masih setia menatapnya ketika ia beranjak ke peraduannya. Sayangnya keinginan sebagian besar orang yang berada di pantai itu untuk menyaksikan sebuah bola merah raksasa terbenam di balik horizon tidak tercapai. Awan yang melayang rendah sudah terlebih dahulu menyambut sang matahari dan menyelimutinya. Memang sesekali tampak sinar memerah di antara selimut awan itu, tapi langit yang semakin temaram seolah memberikan pengumuman bahwa pertunjukan sore itu sudah usai.

Berangsur orang-orang meninggalkan pantai. Keramaian yang tadi ada di pantai beralih ke jalan-jalan yang dipenuhi manusia yang meninggalkan kawasan pantai; dan sebentar lagi jalan-jalan itu juga akan menjadi sepi karena keramaian beralih ke banyak resto dan cafe yang ada di sekitar situ. Ya hari masih terlalu sore untuk segera kembali ke kamar penginapan masing-masing. Lebih baik bercanda ria dan menghabiskan waktu di resto dan cafe bersama sahabat dan kerabat sambil mengisi perut daripada segera terbang ke alam mimpi. Setuju kan?  😎

IMG_EBC13

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 22 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.