Daily Archives: April 2, 2013

The unfinished statue of Garuda Wisnu

On top of a hill in Ungasan, Bali, there lies an unfinished mega project, which although unfinished, it has already became one of Bali’s point of interest. The mega project itself is to build the biggest statue in the world in the form of the mythical bird carried Lord Wisnu (Visnu), the god of wisdom in Hinduism, on his back. Such a statue is known as Garuda Wisnu Kencana in Indonesia.

garuda's head statue

garuda’s head statue

The statue will be 150 meters high on top of a eleven storeys entertainment compound when it is finished. It will also surrounded by a more than 240 hectares cultural park. I heard that such a plan has caused uneasiness among the religious Balinese people, because they believe that the gigantic statue will disrupt the spiritual balance on the island. More than that, the height of the statue will surely be higher than the height of the sacred Besakih Temple, which according to Balinese people is a big taboo. Well, perhaps those are the unseen causes which preventing the project to finish, Who knows . . . ?

The fact is the project has been stopped for more than 10 years, now. Currently, there are three separate parts of the big statue have been finished, those are the bust statue of Lord Wisnu, the head of the Garuda, and a pair of Lord Wisnu’s hands. All parts of the statues made of copper and brass. The artist who made the statues is Nyoman Nuarta, a famous Balinese sculptor who now lives in Bandung, West Java.

Anyway, to know better about the statue, let’s look at the story, or the legend to be exact, of the Garuda Wisnu Kencana. The legend is actually carved in a series of reliefs not too far from the entrance gate to the compound. For you, however, I’ll try to re-tell the story.

So, it all began with a bet among sisters. Vinata and Kadru, the two sisters, bet about the colour of a mythical horse’s tail. They both agreed that the winner would enslave the loser. Vinata, Garuda’s mother, said that the colour was white, while Kadru, Naga’s (a mythical serpent) mother, said it was black.

Later, to make sure of her winning in the bet, Kadru told her son to burn the horse’s tail with his fiery breath, and made the horse’s tail really black.

Not knowing the trick, Vinata kept her promise and from that time on became Kadru’s slave. To see her mother condition, Garuda came to Naga’s dwelling and ask for her mother’s freedom. In reply, Naga asked Garuda to get Amerta, the water of immortality, which was in the possession of the gods and was guarded heavily by them.

In order to get the magical water, Garuda flew to the place where the gods kept it and soon he was already in a big battle with the gods. At last, Garuda’s defeated the gods and took the Amerta with him.

a relief showing  a scene when garuda met lord wisnu

a relief showing a scene when garuda met lord wisnu

On his way back to the eagerly awaiting Naga, Garuda met Lord Wisnu who offered Garuda the ability to be immortal without drinking the Amerta. In return, however, Lord Wisnu asked Garuda to be his mount from that time on. Since Garuda respected Lord Wisnu as the Supreme Being, he agreed with the term.

Not long after that, Garuda also met Indra, the god of the sky who asked Garuda to surrender the Amerta to him. Garuda gave the promise that if Indra let him fulfilled his task to get his mother freedom, Indra would get the Amerta intact. Indra agreed with the term and let Garuda continued in his way to see Naga; even he promised that if the gods could re-possessed the Amerta, all serpents would always be the prey for Garuda and his descendants.

Soon Garuda landed on a big lawn close to Naga’s dwelling, and called Naga to meet him there. Without any suspicion, Naga brought Vinata to the lawn to see Garuda who waited patiently. The Amerta was lying in the grass several meters in front of him. Seeing the Amerta, Naga agreed to release Vinata.

When Vinata was in a safe place behind Garuda, and before Naga could took the Amerta with Him, Indra swoop the Amerta from the sky and brought it back to its previous place.

From that time on, Garuda became the gods ally. More than that, as promised by Indra, up till now serpents are the prey for eagles, which is believed to be the descendant of Garuda. Do you see that eagles bear a strong resemblance to Garuda?

Ringkasan  :

Di atas Bukit Ungasan di Bali, terdapat sebuah kompleks yang sebetulnya merupakan sebuah mega proyek yang belum selesai dikerjakan hingga kini. Meskipun demikian, proyek yang belum selesai itu sudah menjadi obyek Wisata yang banyak dikunjungi.

Disebut mega proyek, karena kalau proyek itu selesai, maka di atas bukit tersebut akan berdiri sebuah patung yang akan merupakan patung tertinggi di dunia karena direncanakan tingginya lebih dari 150 meter, dengan lahan penyangga berupa kawasan budaya seluas lebih dari 240 hektar di sekitarnya. Patung tersebut akan berbentuk patung Dewa Wisnu yang menunggang Burung Garuda, dan dikenal dengan sebutan Garuda Wisnu Kencana.

Sayangnya proyek ini sekarang terkatung-katung. Pengerjaannya praktis sudah sepuluh tahun terakhir ini terhenti. Patung yang merupakan karya Nyoman Nuarta ini sekarang yang sudah selesai barulah berupa patung dada Dewa Wisnu, patung kepala Garuda, dan sepasang patung tangan Dewa Wisnu.

Kisah Garuda Wisnu Kencana terpahat dalam beberapa panel relief tidak jauh dari pintu masuk kompleks ini. Ceritanya bermula dari pertaruhan yang dilakukan oleh dua orang bersaudara, yaitu Vinata dan Kadru, yang bertaruh menebak warna ekor dari seekor kuda. Vinata, yang merupakan ibu dari Garuda, menebak warnanya putih, sementara Kadru, ibu dari Naga, menebak warnanya hitam. Mereka sepakat, barang siapa yang kalah harus bersedia menjadi budak pihak yang menang.

Kadru dengan licik berusaha memenangkan pertaruhan dengan meminta anaknya untuk membakar ekor kuda tersebut dengan api beracun yang disemburkan dari mulutnya, sehingga sekarang warnanya betul-betul hitam. Karena itulah, Vinata akhirnya menjadi budak Kadru.

Garuda yang iba melihat keadaan ibunya kemudian mendatangi Naga dan memintanya untuk membebaskan ibunya. Naga bersedia membebaskan Vinata dengan syarat Garuda harus mengambil Amerta milik para dewa yang menyebabkan siapapun yang meminumnya dapat hidup abadi.

Garuda menyanggupi syarat itu dan segera terbang menuju kediaman para dewa untuk mengambil Amerta. Para dewa tentu saja tidak mau memberikan Amerta kepada Garuda sehingga terjadilah pertempuran yang sangat dahsyat antara Garuda dengan para dewa tersebut, yang pada akhirnya dimenangkan oleh Garuda.

a model of the finished statue when it finished

a model of the statue when it finished

Dengan membawa Amerta, Garuda segera terbang kembali menuju kediaman Naga. Dengan tanpa diduga, Garuda bertemu dengan Dewa Wisnu yang menghadang perjalanannya. Keduanya tahu kesaktian pihak lawan dan mereka juga saling menghargai, sehingga akhirnya, mereka tidak bertempur, melainkan justru terjadi kesepakatan di antara keduanya. Sejak saat itu, Garuda dianugerahi hidup abadi tanpa perlu meminum Amerta, dan sebagai imbalannya Garuda bersedia menjadi tunggangan Dewa Wisnu.

Tidak lama setelah bertemu Dewa Wisnu, Garuda dihadang pula oleh Dewa Indra sang penguasa langit yang meminta agar Garuda bersedia mengembalikan Amerta yang diambilnya tersebut. Garuda berjanji bahwa Dewa Indra akan dapat memiliki lagi Amerta secara utuh jika mau membiarkan Garuda menyelesaikan tugasnya demi membebaskan ibunya. Dewa Indra yang terharu melihat betapa berbaktinya Garuda kepada ibunya, membiarkan Garuda menyelesaikan tugasnya, bahkan Dewa Indra berjanji akan menjadikan keturunan Naga menjadi mangsa keturunan Garuda jika Amerta dapat kembali ke tangan para Dewa.

Sepeninggal Dewa Indra, Garuda segera melanjutkan perjalanannya dan mendarat disebuah lapangan di dekat tempat tinggal Naga. Diletakkannya Amerta beberapa meter di hadapannya, sambil memanggil Naga untuk menjumpainya di situ. Naga yang melihat keberhasilan Garuda segera melepaskan Vinata dan bersiap untuk mengambil dan meminum Amerta. Sementara itu Dewa Indra yang melihat bahwa Vinata telah aman bersama Garuda, segera melayang turun dan menyambar Amerta dari hadapan Naga, kemudian membawanya kembali ke tempatnya semula.

Sejak saat itulah garuda menjadi sahabat para dewa dan juga menjadi tunggangan Dewa Wisnu. Selain itu, sesuai dengan janji yang disampaikan Dewa Indra, sejak saat itu pula ular selalu menjadi mangsa elang. Pantas kan kalau elang atau rajawali disebut sebagai keturunan Garuda? Coba saja lihat, rupa mereka mirip kan?

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 93 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.