Daily Archives: April 7, 2013

When the gods came to dance

Bali is known as the land of gods, that’s why it is not impossible that the gods come to dance among the people of Bali. It is not in their own form of course, but the gods will manifest themselves in dancers who dance in trance. As you know, there are many Balinese dances which include tranced dancers because the dances were parts of their rituals in worshiping their gods in the temples.

One of such a dance is Kecak Dance. Although nowadays Kecak has been modernized, it is admitted that the origin of the dance is a sacred ritual called Sanghyang. In the rituals, it is believed that the tranced dancers communicate with the gods or their ancestor spirits.

preparation

preparation

Kecak is quite unique. Not like other traditional dances, there is no music at all in Kecak performance. It is only rhythmic and multilayered male voices of the performers which repeatedly say “cak . . cak . . cak . .” that function as the background music, instead. The word “cak” is pronounced “chuck”.

In Ubud, Bali, Kecak performance is also known as the Fire Dance. When I watched the performance in Sanggar Sahadewa, they divided their performance into three parts. The first part was the Kecak dance which told the story of Ramayana, the second part was the Sanghyang Dedari dance, and the last part was the Sanghyang Jaran dance.

About the first part; Ramayana is a great epoch originated from India which tells the story of Prince Rama of Ayodya in his journey and efforts to free his wife Sita, who was kidnapped by Rahwana of Alengka. In the battle with the soldier of Alengka, Prince Rama was aided by the monkey troops lead by Sugriwa the monkey king, and his nephew Hanoman, the powerful white monkey. After a long battle, at last Prince Rama defeated Rahwana and got his wife back.

The second part was the Sanghyang Dedari dance which featured two little girls who danced in trance. Along the performance they danced with their eyes closed. At the end of their performance, a priest helped them to bring their consciousness back. The dance was the sacred dance which is believed to have the power to purify the area from evil spirits.

The last part; featured a male dancer who seemed to ride a horse made of young coconut leaves. While a priest made him trance, some people brought dried coconut shells and fibers, and burned them on stage. The dancer in trance then danced and played on the fire barefooted without any harm. Again at the end of the performance, the priest helped him to gain his consciousness back with his magical spell.

sanghyang jaran in action

sanghyang jaran in action

Ringkasan :

Tari Kecak merupakan salah satu jenis tari Bali yang sudah cukup dikenal, baik di Indonesia maupun di manca negara. Tari Kecak sebenarnya berasal dari upacara keagamaan di dalam pura yang dikenal dengan nama Sanghyang, dimana pada upacara keagamaan tersebut penari-penarinya menari dalam keadaan tidak sadar, atau disebut dengan istilah kerawuhan. Dalam keadaan tidak sadar itu, mereka melakukan komunikasi dengan para dewata dan juga dengan arwah para leluhur.

Kecak sendiri merupakan sebuah tari yang bisa dibilang unik. Bagaimana tidak, jika biasanya suatu tarian selalu diiringi dengan musik, maka pada tari kecak, fungsi musik itu digantikan dengan paduan suara para penari laki-laki yang mengenakan kain bercorak kotak-kotak hitam putih dan secara berirama menyerukan kata-kata “cak . . cak . .cak . .”. Konon ini menirukan suara pasukan kera yang membantu Rama mengalahkan Rahwana dalam epos Ramayana.

the performer are bare-chested and sit in circle

the performer are bare-chested and sit in circle

Di Ubud, khususnya di Sanggar Sahadewa, pementasan tari Kecak dibagi menjadi tiga babak.

Babak pertama adalah Tari Kecak itu sendiri yang menampilkan kisah sejak Dewi Sita digoda kijang emas, kemudian diculik oleh Rahwana yang terpesona dengan kecantikannya, usaha Rama dan Laksmana yang dibantu oleh Sugriwa dan Hanoman beserta pasukan keranya dalam merebut kembali Dewi Sita, sampai kemenangan pasukan Rama dalam pertempuran dengan pasukan Rahwana sehingga Rama dan Sita dapat berkumpul kembali dalam kebahagiaan.

Babak kedua merupakan suatu tarian sakral yang disebut Sanghyang Dedari. Tarian ini ditarikan oleh dua orang gadis kecil yang masih suci dalam keadaan tidak sadar. Selama menari, kedua gadis cilik ini selalu memejamkan matanya. Diyakini pada saat menari, badan kedua gadis tersebut diambil alih oleh Dewi Supraba dan Dewi Tilutama. Kedua bidadari tersebut berkenan turun ke dunia untuk membersihkan daerah sekitarnya dari unsur-unsur jahat. Pada akhir tarian, seorang pendeta akan menyadarkan kembali kedua gadis cilik tersebut.

Babak terakhir yang sekaligus merupakan penutup berupa tarian Sanghyang Jaran, yang seperti halnya tari Sanghyang Dedari, juga bukan merupakan tarian sembarangan. Pada bagian ini, seorang pria yang menunggang kuda-kudaan yang terbuat dari janur (daun kelapa muda) akan dimanterai oleh seorang pendeta sehingga berada dalam kondisi kerawuhan. Sementara itu beberapa orang membawa sekeranjang batok dan sabut kelapa yang kemudian dibakar di atas panggung. Ketika api sudah membara dan alunan mantra mulai mengambang di udara, si penari yang sudah dalam keadaan kerawuhan mulai menari-nari dan bermain-main di atas api tanpa mengenakan alas kaki. Hebatnya si penari seolah-olah tidak merasakan panasnya api dan bara yang diinjaknya, sementara para penonton di barisan terdepan banyak yang bergeser karena merasakan panasnya api. Di akhir tarian, beberapa orang akan memegang si penari yang gerakannya semakin liar dan membawanya kepada si pendeta untuk disadarkan kembali.

Categories: Event Pictures | Tags: , , , | 87 Comments

Blog at WordPress.com.