Welcoming evening on a bridge

On my second day in my last visit to a small town called Tegal in Central Java, I found myself ‘trapped’ in a rainy day, so I just spent my time in my hotel room. At about 4 PM, however, the rain stop; and although dark clouds still hanging here and there, I could see colorful sky behind the clouds. In hoping that I could get a pretty and colorful sunset from a beach nearby, I prepare myself to make a short trip to the beach.

IMG_MUR01

Knowing that usually the town beach was pretty crowded in such a time, I decided to go to another beach not too far from the town beach. My friend once took me there, so I hope that I could find the location easily. It was a beach surrounded by fisherman’s houses. Yes, it was in a village inhabited by fishermen and the beach’s name was taken from the village name, Muarareja. It was neither a tourist spot nor a leisure destination beach, so I could hope that the beach was not too crowded except for some locals doing their daily routines.

But, alas, I could not find the right way to the beach. Seemed that I was lost and I found myself on a narrow road with coastal ponds at either sides of the road. The beach was nowhere to be seen from that place because of the high mangrove trees on each sides of the coastal ponds blocked my sight to the sea.

IMG_MUR02

After trying to continue my trip on the narrow road for some time, at last I decided to turn back as the road became narrower and the sky became darker. Did not want to go back to the hotel empty handed, I stop on a bridge over an estuary on my way back when I saw the sky was like a giant canvas painted with beautiful pattern of amazing colors. I join some locals on the bridge enjoying sunset while fishing with a long fishing rod.

IMG_MUR07

So here I share what I saw at that time; but believe me, it was much prettier if you saw it directly on the bridge  :)

 

Keterangan  :

Di hari kedua pada kunjunganku yang terakhir ke kota Tegal, sebuah kota kecil di pesisir utara Jawa Tengah, aku sempat ‘terjebak’ di kamar hotel karena hujan yang turun seharian. Untungnya sekitar jam 4 sore hujan berhenti. Ketika aku melihat dari jendela kamar hotel, aku lihat langit yang dipenuhi aneka warna indah di ufuk barat meskipun awan mendung yang tidak merata masih juga nampak di sana-sini. Wah boleh juga nih cuacanya; rasanya boleh juga kalau ke pantai untuk menikmati saat-saat terbenanmya sang surya sore itu.

Aku segera bersiap-siap untuk berangkat ke pantai. Sore itu aku memutuskan untuk tidak mengunjungi pantai kota, melainkan ke pantai lain yang terletak di sebuah desa nelayan, dengan pertimbangan bahwa di sana akan lebih sepi. Seandainyapun ada orang, tentunya itu para nelayan atau anggota keluarganya yang sedang melakukan aktifitas harian mereka. Nama desa nelayan itu adalah Desa Muarareja dan pantainya diberi nama sesuai dengan nama desa dimana pantai itu berada, yaitu Pantai Muarareja.

IMG_MUR05

Kebetulan aku pernah diajak salah seorang temanku ke pantai itu, sehingga sore itu aku yakin pasti akan bisa menemukan jalan ke arah Pantai Muarareja dengan mudah. Tetapi apa yang terjadi? Ternyata aku tersasar dengan sukses saudara-saudara  :oops: Entah aku salah berbelok di mana, tahu-tahu aku sudah berada di sebuah jalan yang relatif sempit yang kedua sisinya terdapat tambak yang dipagari pohon bakau. Di depanku, aku melihat jalanan semakin sempit lagi. Waduh . . repot juga nih, perasaan dulu waktu aku diajak temanku itu jalanan cukup lebar dan kendaraan bisa diparkir sampai di tepi pantai. Akhirnya daripada terlanjur masuk dan akhirnya stuck di sana, apalagi juga hari sudah semakin sore, aku memutuskan untuk memutar balik kendaraanku untuk menuju pulang. Untungnya, masih untung juga sih  :P, ketika melewati sebuah jembatan yang membentang di atas muara sebuah sungai, aku melihat kalau langit bagaikan sebuah kanvas raksasa dengan lukisan yang indah berwarna-warni, sehingga aku memutuskan untuk memarkirkan kendaraan di tepi jalan kemudian bergabung dengan beberapa penduduk yang sedang memancing di atas jembatan sambil menikmati suasana senja.

IMG_MUR06

Nah di postingan kali ini aku sengaja share apa yang aku lihat sore itu. Tapi percayalah kalau melihat langsung di sana, keindahannya jauh di atas apa yang berhasil aku tangkap dengan kameraku ini. Jadi, jalan-jalan menikmati keindahan alam tidak selalu harus ke tempat wisata ya  :)

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 52 Comments

Birds under the domes

Hellooo . . .

Hellooo . . .

What I mean with domes here, are giant bird cages in which people built ecosystems suitable for birds that put into the cages, so the birds feel as if they live in their own habitat. Yes, I talked about a bird park. Although it was not as big as other bird park in other places, the bird park I visited recently was well managed and it has various kind of birds from all over Indonesia. The bird park was located in a giant park in East Jakarta known as Taman Mini Indonesia Indah (Beautiful Indonesia in Miniature Park), a park dedicated to introduce many aspects of Indonesia’s uniqueness and diversities which still bound in unity under the philosophical foundation of the country.

IMG_TBU02

Ok, about the bird park, or here it called Taman Burung; it had only one dome-shaped cage when it was built in 1975, but when it was inaugurated in 1987, the bird park had already 9 domes on a 6 acres lawn. The biggest dome was 30 meters high with the diameter of 68 meters; while the smallest one was 9 meters high which diameter was 20 meters. The birds in the domes were divided according to their zoo-geography which basically consists of two main region: Western Indonesia and Eastern Indonesia. Aside being functioned as a typical zoo, the bird park here was also functioned as a bird breeding facility, especially for the extinct species.

According to the data I’ve got at that time, there were more than 300 species lived in the giant cages, as well as in the smaller cages along the boundary of the park. Travelers who came to the park could walk along a path in those giant dome-shaped cages and came very close to the birds without bordered by anything. For some big or wild species such as eagles and cassowaries, however, additional cages needed to protect the human as well as the birds themselves.

IMG_TBU08

Anyway, in my opinion, the park was a perfect place for every bird lovers, especially for they who want to know about Indonesian endemic birds; from the big and colorful birds originated from the eastern part of Indonesia to the smaller species of birds from the western part of Indonesia.–

Keterangan  :

Burung-burung yang ada di bawah kubah? Ya memang begitu karena yang aku maksud memang para pelancong betul-betul bisa melihat dan bahkan berinteraksi dengan berbagai jenis burung di dalam sangkar-sangkar raksasa yang berbentuk kubah. Sepintas malah bangunan sangkar-sangkar raksasa itu kelihatan seperti bangunan-bangunan yang sering muncul dalam film-film fiksi ilmiah  :)

IMG_TBU11

Sangkar-sangkar burung rkasasa itu terdapat di Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta Timur. Posisinya memang agak di belakang, dan sangkar-sangkar raksasa itu berada dalam sebuah kawasan yang dikenal dengan nama Taman Burung. Pada saat pertama kali dibangun pada tahun 1975, Taman Burung ini hanya memiliki sebuah sangkar raksasa berbentuk kubah. tetapi seiring dengan berlalunya waktu, Taman Burung ini semakin ditata dan disempurnakan, sehingga ketika diresmikan pada tahun 1987, di sana sudah terdapat 9 buah sangkar raksasa yang kesemuanya berbentuk kubah yang berdiri di atas lahan seluas 6 hektar yang tertata rapi dan enak dipandang mata. Sangkar terbesar memiliki tinggi 30 meter dan garis tengah kubahnya 68 meter, sedangkan yang terkecil berukuran tinggi 9 meter dengan garis tengah 20 meter. Kebayang kan betapa besarnya  :cool:

IMG_TBU12

Secara umum, sangkar-sangkar raksasa itu bisa dibagi menjadi dua bagian, yaitu yang berisi burung-burung yang berasal dari bagian barat Indonesia dan burung-burung yang berasal dari bagian timur Indonesia. Pembagian zoogeografi ini dahulu dilakukan oleh Albert R. Wallace, sehingga garis hipotetis pemisah kedua bagian itu dikenal sebagai Garis Wallace yang membentang di antara Kalimantan dan Sulawesi terus ke arah selatan sampai membelah Selat lombok. Sebetulnya yang dibagi oleh garis ini tidak hanya faunanya, melainkan juga flora-nya. Untuk burung-burungnya, spesies yang berasal dari sebelah barat garis hipotetis tersebut warnanya tidak terlalu mencolok dan ukurannya juga relatif kecil-kecil, sedangkan yang berasal dari sebelah timurnya biasanya memiliki warna yang lebih mencolok dengan postur tubuh yang relatif lebih besar.

Di dalam masing-masing sangkar raksasa itu juga ditanam berbagai jenis tumbuhan sesuai dengan dengan sebaran geografisnya juga; sehingga hampir tidak mungkin pelancong menemukan tumbuhan endemik dari bagian barat Indonesia dalam sangkar yang berisi burung-burung yang berasal dari bagian timur Indonesia. Penanaman berbagi jenis tumbuhan tersebut juga dimaksudkan agar burung-burung di dalam sangkar-sangkar raksasa itu merasa berada dalam lingkungannya alamiahnya sendiri. Maklum saja, selain berfungsi sebagai kebun binatang yang koleksinya hanya terdiri dari unggas, Taman Burung juga berfungsi sebagai sarana penangkaran burung, khususnya burung-burung yang di alam sudah terancam kepunahan.

Ooops . . .

Ooops . . .

Dari penuturan penjaganya, di Taman Burung ini diperlihara lebih dari 300 jenis burung dari seluruh Indonesia, sehingga bisa dikatakan merupakan Taman Burung yang terlengkap di Indonesia. Karena itulah, rasanya Taman Burung merupakan tempat yang cocok dikunjungi oleh para pecinta burung. Meskipun demikian, bagi yang bukan pecinta burungpun rasanya akan suka juga berkunjung ke sana, berjalan-jalan dan berinteraksi langsung dengan berbagai jenis burung yang terbang bebas di dalam sangkar-sangkar rakasa berbentuk kubah itu.–

Don't take my picture!

Don’t you dare taking my picture!

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 92 Comments

Row of boats selling a variety of foods

Hmmm . . . sounds interesting, isn’t it? Do you want to know where did I find that row of boats? Well, I found them in Lembang, a small town not more than 20 kilometers from Bandung, West Java, to the north. It was in place called Lembang Floating Market. Don’t think that the place was like the floating market in Thailand or in Kalimantan which was on a big river, and the sellers and buyers really doing their transactions on boat. In Lembang, it was only the idea of a floating market that took into a kind of food court in a recreation park in which all the food stalls were in a form of small boats tied along a pier, and people eat on the pier  :) .

IMG_PAL01

the 'coins'

the ‘coins’

The place was actually a natural lake called Situ Umar, and it really unique to find a kind of floating market not on a river but on a lake instead. The area has been changed to be a family recreation park with a unique concept. The management forbade any transactions in the area using any other means than their chip-like coins. There were 4 kinds of ‘coin’ with different values; Rp 5,000.–, Rp 10,000.–, Rp 50,0000.–, and Rp 100,000.–. So once travelers get off from their cars, they should buy the entrance ticket and also buy coins to be used in the area as well.

In the area, travelers could find a well managed and clean park located around the lake. There was a path which brought travelers to each and every corner of the park. Some buildings made of wood were functioned to be souvenir shops, snack counter and also restaurants.

There were many activities could be done in the area almost for every body. For the young ones, for instance, they could feed the geese in a small pond close to the entrance area, or they could try to drive an ATV on a track nearby. And for the little ones, they could feed and interact with cute bunnies in an open cage, or join a coloring class.

IMG_PAL08

There was also a mini paddy field in there, so travelers could join some traditional farmers cultivating the fields. In another corner. travelers could also picking strawberries in a strawberry field. For them who like to have activities on the lake, there were canoes and paddle-boats that could be rented. To swim in the lake, however, was prohibited.

IMG_PAL04

Back to the foods sold in the market area, almost all were traditional Indonesian foods, although there were one or two boats that sold lollipops and candies. The price range for each food in there were between Rp 10,000.– (approximately US$ 1.–) to Rp 25,000.– (approximately US$2.50).

For them who want to visit Lembang Floating Market, they better come early, since it will be quite crowded later, and to find a table to enjoy the foods will also be quite difficult  :mrgreen:

IMG_PAL06

 

Keterangan :

Kalau ada sederetan perahu yang menjual aneka jenis makanan yang rasanya lezat, tentunya menarik bukan? Apalagi tempatnya berhawa lumayan sejuk, sehingga menyantap aneka makanan itu tentu akan terasa semakin nikmat. Bisa menebak di mana? Nah . . biar gak penasaran, aku kasih tahu aja deh. Tempatnya di Lembang. Ya Lembang yang dekat Bandung itu. Nama tempatnya Lembang Floating Market atau Pasar Apung Lembang. Jangan berpikir bahwa tempat ini betul-betul merupakan lokasi pasar terapung seperti yang ada di Thailand atau di Kalimantan, karena di Pasar Apung Lembang, penjual dan pembeli tidak bertransaksi di atas perahu yang berlalu lalang sepanjang ruas sungai tertentu. Maklum saja, di Lembang kan gak ada sungai yang cukup lebar seperti di Thailand atau di Kalimantan itu. Di Lembang Floating Market ini, perahu-perahunya tertambat di pinggiran semacam dermaga yang ada di sebuah danau, dan yang dijual juga hanya aneka makanan, khususnya makanan tradisional Indonesia.

IMG_PAL02

Lokasi Pasar Apung Lembang yang berada di belakang Grand Hotel Lembang ini, semula hanyalah berupa danau kecil yang menjadi tempat pemancingan bagi penduduk sekitarnya. Belakangan, danau yang bernama Situ Umar itu dikembangkan dan diubah menjadi sebuah tempat rekreasi keluarga yang tertata rapi dan memiliki konsep yang lumayan unik.

Ayo kita lihat dari depan. Jadi lokasinya memang sedikit masuk kalau dari jalan utama, Tapi jangan khawatir, karena petunjuknya cukup jelas koq. Nah begitu sudah masuk ke area drop-off penumpang di depan sebuah bangunan seperti pendopo, kendaraan dapat langsung diparkir di area parkir yang lumayan luas. Sementara itu, penumpangnya dapat langsung masuk ke bangunan pendopo tersebut untuk membeli karcis masuk. Selain karcis, pelancong juga harus membeli sejenis koin berbahan plastik yang akan dipergunakan untuk melakukan transaksi selama berada di dalam kawasan Pasar Apung Lembang itu. Ya di situ tidak bisa melakukan transaksi dengan uang tunai ataupun kartu kredit. Jadi yang dipakai ya koin itu. Koin-koin yang dipergunakan itu memiliki 4 nominal, yaitu Rp 5.000,–, Rp 10.000,–, Rp 50.000,–, dan Rp 100.000,–. Bentuk koinnya seperti apa, tuh fotonya aku pasang di atas  :P

Begitu selesai dengan urusan beli karcis dan juga koin, pelancong dapat memasuki kawasan taman rekreasi itu melalui pintu belakang pendopo itu. Dan begitu keluar dari pintu, pelancong akan disuguhi pemandangan sebuah kawasan taman yang cukup luas dan rapi dengan sebuah danau di tengah-tengahnya. Di sekeliling danau ada jalan yang cukup lebar sehingga pengunjung tidak perlu berdesakan menyusuri tepian danau dan menjelajah sudut-sudut kawasan tersebut. Beberapa bangunan kayu di sepanjang jalan itu dipergunakan sebagai kios cendera mata ataupun sebagai restoran dan kios penjual makanan kecil.

IMG_PAL03

Ada banyak aktifitas yang bisa dilakukan di sana. Buat para remaja misalnya, mereka bisa memberi makan angsa-angsa yang berada di sebuah kolam kecil tidak jauh dari pintu masuk. Atau bisa juga menjajal kemampuan mereka mengendarai ATV di sebuah trek yang tidak jauh dari kandang angsa-angsa itu. Sedangkan buat mereka yang masih kecil, aktifitas memberi makan dan berkejaran dengan kelinci-kelinci lucu di sebuah kandang terbuka juga pastilah menyenangkan. Atau kalau tidak mau berlarian, duduk tenang menggambar dan mewarnai di salah satu saung yang ada di situ tentu akan mengasyikan juga.

IMG_PAL07

Di sudut lain, terlihat sebidang sawah dengan padinya yang baru ditanam. Kawasan sawah ini ditandai dengan sebuah gapura dengan papan nama “Kampung Leuit”. Para pelancong yang berkunjung ke situ bisa mengamati atau malah ikut serta melakukan kegiatan di sawah tersebut. Dan buat yang ingin melakukan aktifitas di danau, mereka bisa menyewa sampan dan berdayung berkeliling danau ataupun melatih otot-otot kaki dengan menggenjot perahu berpedal. Eh tapi kalau mau berenang di danau gak bisa ya. Ada larangan untuk berenang di situ.

IMG_PAL09

Sekarang balik ke soal makanan. Di salah satu sudut danau, dibuat semacam dermaga beratap dengan bentuk huruf “U” yang dipergunakan sebagai food court. Hanya saja bedanya dengan food court yang di mall-mall, kalau di sini tempat berjualan dan menyiapkan hidangan bukanlah berupa konter, melainkan berupa perahu-perahu kecil yang tertambat di sepanjang tepi dermaga itu. Perahu-perahu itu di cat dan didandani cukup meriah sehingga menambah keunikannya. Harga makanannya sih ya relatiflah. Sewaktu aku kesana itu, per porsi dihargai antara Rp 10.000,– sampai Rp 25.000,–

Nah kalau sekali waktu berencana berkunjungke sana, aku sih menyarankan untuk jangan kesiangan saja kesananya. Bukan apa-apa sih, hanya saja semakin siang di sana pengunjungnya semakin penuh. Apalagi di akhir pekan dan hari-hari libur. Kalau sudha ramai begitu, tentu akan susah juga memperoleh kursi untuk duduk menikmati berbagai jenis makanan yang kita pesan di situ bukan  :mrgreen:

IMG_PAL05

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 73 Comments

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 954 other followers