A hill in a tranquil valley

After admiring the Ngarai Sianok from above, I decided to drive down the gorge, along the Batang Sianok (Sianok River). At that time, I drove for about 4 kilometers to the direction to Kampung Jambak (Jambak Village), whenI came to a secluded valley with almost vertical stone cliff bordering around. Mount Singgalang was also  seen in the distance and became a good background. What interested me the most at that time was a sole hill located almost in the middle of the valley. A tree was seen at the top of the hill, while at the foot of the hill, a small river with its clear water flow to Batang Sianok. At the river side, there was a simple gazebo with its traditional Minangese roof.

IMG_TAR02

The valley was known as Lembah Taruko or Taruko Valley, while the single hill with a tree in its top was called Tabiang Takuruang by the locals. Tabiang Takuruang can be translated freely as a surrounded cliff, as the cliff was really surrounded in the middle of a valley.

IMG_TAR01

And to give more to every travelers who came to admire the beautiful landscape in Taruko Valley, there was a cafe in there. This was a real cafe that managed and ran professionally. The gazebo seen in the first picture and roofs seen in the second picture were all parts of the cafe. In there, travelers could spend their time, enjoying a tranquil moment and beautiful panorama while sipping a cup of coffee or drinking a glass or more of any kind of fresh fruit juices. For them who want to savor something, the cafe also had either snacks or any light meals that can be ordered with a reasonable price.

Well, I don’t want to add more words here, I presented some pictures I captured in the valley for you to enjoy, instead. Believe me, the beauty of Tabiang Takuruang would be more mesmerizing if you see it by yourself directly.—

IMG_TAR06

Keterangan :

Setelah beberapa saat menikmati keindahan Ngarai Sianok dari Taman Panorama, Bukittinggi; aku memutuskan untuk turun ke dasar ngarai dengan mobil. Di sana aku mencoba menyusuri aliran Batang Sianok menuju ke arah Kampung Jambak. Setelah melewati sawah-sawah yang padinya sudah menguning dan siap untuk dipanen, akhirnya di depanku berdiri tegak salah satu dinding ngarai, sehingga aku harus berbelok, saat itu arah kirilah yang aku ambil, sehingga aku masuk lebih dalam ke lembah; aku terus menyusuri aliran sungai kecil sampai ketika tiba-tiba mataku menangkap sesosok tebing yang seolah-olah berdiri angkuh di tengah lembah. Di puncaknya kelihatan tumbuh sebatang pohon. Gunung Singgalang tampak tegak menjulang dengan gagahnya, sehingga membentuk latar belakang yang menambah keelokan pemandangan yang tersaji. Sementara itu, tampak juga beberapa ekor kerbau sedang merumput di tepi sungai.

IMG_TAR10

Wah . . betul-betul pemandangan yang sayang untuk dilewatkan, sehingga aku segera meminta Pak Sopir yang mengemudikan kendaraanku untuk segera berhenti. Hanya saja ketika Pak Sopir melihat apa yang menjadi pusat perhatianku itu, Pak Sopir meminta aku untuk sedikit bersabar karena memang aku akan diajak untuk lebih mendekat ke bukit tersebut. Karena itulah aku kemudian melanjutkan perjalananku di dasar lembah itu sampai akhirnya kendaraan di hentikan dan kemudian diparkir di pelataran sebuah cafe. Pak Sopir segera mengajak aku untuk naik ke lantai atas dimana terdapat beberapa meja dan kursi buat mereka yang memesan minuman ataupun makanan di cafe tersebut, dan ketika aku berbalik ke arah tegaknya Gunung Singgalang, lagi-lagi mulutku ternganga melihat betapa indahnya lukisan alam yang tersaji di sana.

IMG_TAR07

Betapa tidak sebuah bukit kecil yang tampak seperti jari yang sedang menunjuk kelangit berdiri di depan Gunung Singgalang yang seolah mengawasinya dari belakang, sementara tebing-tebing tinggi memagarinya. Sebuah sungai kecil berair jernih mengalir dengan tenangnya di kaki bukit itu melintasi halaman belakang cafe. Ah . . pastinya tidak akan bosan-bosannya duduk di cafe itu sambil memandang keindahan yang tersaji, bahkan mungkin bisa saja secara tidak sadar kita memesan gelas demi gelas minuman hanya supaya kita bisa berlama-lama meresapi keheningan suasana lembah, menikmati semilir angin yang sejuk, sementara mata kita tak puas-puasnya memandang bentang alam yang tersaji di sana.

IMG_TAR08

Penduduk setempat menyebut bukit itu dengan nama Tabiang Takuruang yang bisa diartikan sebagai sebuah tebing yang terkurung. Ya terkurung dalam sebuah lembah permai yang bernama Lembah Taruko.

IMG_TAR09

Ah sudahlah, rasanya aku juga gak perlu menulis lebih panjang lagi ya. Mending menikmati saja keindahan tempat tersebut, meskipun apa yang aku tangkap dengan jepretan kameraku itu tidaklah ada artinya kalau dibandingkan dengan jika melihat langsung di lokasi. Mungkin karena kalau kita berada di sana langsung, bukan hanya indera penglihatan saja yang merasakan kenikmatan karena bisa menikmati pemandangan di sana, melainkan perasaan kita pasti juga akan ikut merasakan ketenangan lembah tersebut. Semoga Lembah Taruko tetap terjaga kelestariannya.–

IMG_TAR11IMG_TAR12

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 6 Comments

A gorge in a city

When talking about a gorge, it usually needs a certain times to walk outside of a town to reach the place. In West Sumatra, Indonesia, however, traveler could visit and enjoyed the landscape of a gorge in a city center. The gorge was located in a small city named Bukittinggi and the gorge known as Ngarai Sianok. The gorge separated Bukittinggi and the adjacent city of Koto Gadang.

IMG_NSI01

The gorge had two steep stone walls which stood almost vertically on each side. The walls’ heights were approximately 100 meters, while the gorge itself spanned about 15 kilometers long with the width of around 200 meters. At the floor of the gorge, there was a river that the locals called as Batang Sianok (in the local language, “batang” means river). At either side of the river, rice fields covering the land as if thick carpets which green in color that turn yellow when it came near to the harvest time.

IMG_NSI09

Ngarai Sianok was a part of the big land faults that known as Sesar Semangko. The fault itself was spanned from the northest part of Sumatra in Acheh to the southest part in Semangka Bay, Lampung. Aside of the gorge in Bukittinggi, the fault also formed the mountains known as Bukit Barisan which looked like the island’s back bone as it spanned along the island.

IMG_NSI02

To enjoy and admire the scenery of Ngarai Sianok, travelers could come to a park which had been built by the local government in Bukittinggi. The park was named Taman Panorama (which can be translated literally as Scenery Park). From there, travelers could see the gorge with its steep walls on either side of the gorge and the river at the base of the gorge, from above. For them who want to come into the gorge, they could drive down to the gorge through a road by the park. There travelers could enjoy the scenery from a different point of view while sipping a cup of coffee in one of many simple coffee stalls located at the shore of the river  :)

IMG_NSI07IMG_NSI04

Keterangan :

Biasanya kalau kita ngomong mengenai lembah atau bahkan lembah curam yang disebut ngarai, pikiran kita langsung terarah pada suatu tempat yang berada jauh di luar kota, di suatu daerah yang bergunung-gunung. Tetapi kali ini, ternyata untuk mencapai lembah atau ngarai yang satu ini, pelancong tidak perlu berjalan jauh keluar kota karena lokasinya bisa dibilang justru di tengah kota.

“Ah yang bener lo . . . “

Yup, lembah yang ini betul-betul ada di tengah kota, tepatnya di kota Bukittinggi, Sumatra Barat, dan lembah ini dikenal dengan nama Ngarai Sianok. Ngarai atau lembah yang dipagari dinding curam di kedua sisinya ini memisahkan Bukittinggi dengan Koto Gadang.

IMG_NSI06

Seperti sudah aku sebutkan tadi, Ngarai Sianok dibatasi oleh dinding-dinding bentukan alam yang tingginya sekitar 100 meter di sepanjang lembah yang panjangnya hampir 15 kilometer itu. Dinding yang hampir tegak lurus ini berdiri dengan gagah seolah melindungi apapun yang ada di dasar lembah yang lebarnya mencapai sekitar 200 meteran itu.

IMG_NSI05

Sementara itu, di dasar lembah, sebuah sungai mengalir berkelok-kelok menuju ke Samudera Hindia. Sungai tersebut dikenal dengan nama Batang Sianok. Menurut bahasa setempat, “batang” berarti sungai. Jadi Batang Sianok bisa juga disebut sebagai Sungai Sianok. Di sepanjang tepian sungai tersebut, terdapat pemukiman penduduk diselang-seling dengan hamparan tanaman padi yang seolah karpet tebal yang mengalasi dasar lembah itu. Karpet berwarna hijau segar pada awal musim tanam akan berubah warna menjadi kuning keemasan kala mendekati waktu panen.

IMG_NSI03

Ngarai Sianok ditengarai terbentuk karena terjadinya penurunan lempeng bumi secara vertikal sehingga membentuk sebuah lembah sempit dengan dinding-dinding curam. Pergerakan lempeng bumi yang menyebabkan terjadinya ngarai ini merupakan bagian dari pergerakan Patahan Semangko yang membelah Pulau Sumatra menjadi dua bagian. Patahan Semangko ini membujur sepanjang Pulau Sumatra dari Aceh di bagian utara sampai ke Teluk Semangka yang terletak di Propinsi Lampung, di sebelah selatan. Patahan ini selain membentuk ngarai juga menyebabkan naiknya permukaan tanah sehingga terbentuk Pegunungan Bukit Barisan yang tampak seolah-olah seperti tulang punggung bagi Pulau Sumatra.

Untuk menikmati keindahan Ngarai Sianok, pelancong bisa memandangnya melalui sebuah taman yang sudah dibangun oleh Pemerintah Setempat khusus untuk menikmati keindahan ngarai yang berada di bawahnya itu. Taman tersebut dikenal dengan nama Taman Panorama. Meskipun demikian, jika ada pelancong yang ingin menikmati pemandangan Ngarai Sianok dari sudut pandang yang berbeda, bisa saja mereka turun ke dasar lembah melalui jalan yang berada di sisi Taman Panorama itu. Jalan yang cukup mulus itu akan membawa pelancong sampai di tepian Batang Sianok di dasar ngarai. Nah di tepian Batang Sianok itu, sekarang banyak terdapat warung kopi sederhana yang bisa dipergunakan untuk beristirahat, menyelami kesunyian lembah sambil menikmati keindahannnya dan tidak lupa menyeruput secangkir kopi hangat :)

IMG_NSI08

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 36 Comments

A closer view to the lake

This short post was meant to conclude my previous post about Danau Maninjau (Maninjau Lake). If in the last post I brought to you the view of the lake from the top of Bukit Lawang (Lawang Hill), now I brought you closer to the lake. From Bukit Lawang, I came down to the lake through a scenic winding road known as Kelok Ampek Puluah Ampek which could be translated freely as a road that had 44 bends. The road started from a place called Ambun Pagi to the lake shore. Was there really 44 bends along the road? Yes, it was, as they were numbered, so travelers could count at each and every bends easily  :)

Along the roads, sometimes travelers could see monkeys that sit in a row, side by side, on crash barriers by the side of the road, while far below the bluish green of the lake surface could be seen clearly. Some simple coffee stall could also be found in some places offering hot coffee and simple local snacks as well as beautiful scenery outside.

IMG_MAN04

Unfortunately, I was there in a cloudy day, as soon as I reached the lake shore, I could see the rain was starting not too far from the shore and it rapidly move to the place where I was standing taking pictures. Did not dare to take a risk wetting my camera and also my clothes, I ran back to the car. And . . that was why I’ve just got few pictures :(

IMG_MAN05

 

Keterangan :

Postingan singkat ini aku buat untuk melengkapi postinganku sebelumnya yang bertutur mengenai Danau Maninjau, di Sumatera Barat. Jika sebelumnya aku sajikan pemandangan danau yang aku ambil dari Puncak Lawang, maka kali ini aku coba sajikan pemandangan Danau Maninjau yang aku ambil dari jarak yang lebih dekat. Jadi waktu itu, setelah puas mengambil foto dari Bukit Lawang, aku memutuskan untuk turun ke tepi danau. Memang tidak dapat dipungkiri, bahwa air danau yang tenang itu seolah memanggil orang yang memandangnya untuk berkunjung ke tepiannya, dan jika memungkinkan menjejakkan kaki di tepiannya untuk merasakan sejuknya air danau itu. Itu pulalah yang aku rasakan, sehingga melalui jalan berliku menurun yang terbentang dari daerah Ambun Pagi sampai tepi danau itu aku berkendara. Jalan berliku tersebut terkenal dengan sebutan Kelok Ampek Puluah Ampek. Jangan kuatir pusing melalui jalan tersebut karena pemandangan indah yang tersaji di sepanjang jalan membuat siapapun melupakan rasa pusing akibat jalan yang berkelok-kelok itu. O ya, buat yang gak percaya kalau ada betul-betul 44 buah kelokan di sepanjang jalan itu, aku sarankan gak usah repot-repot menghitung karena di setiap kelokan itu terdapat papan yang menjelaskan itu kelokan yang keberapa  :)

IMG_MAN06

Di sepanjang jalan, kadang pelancong yang melewati jalan tersebut akan menjumpai gerombolan kera yang duduk berjejer di tepi jalan, seolah-olah menyambut setiap pelancong yang melalui jalan tersebut. Ada pula beberapa warung kopi sederhana di sepanjang jalan tersebut. Memang secangkir kopi hangat ditemani beberapa jenis kue-kue khas daerah tersebut sangatlah tepat untuk dinikmati di tengah hawa sejuk tempat itu, apalagi sambil memandang keindahan pemandangan yang tersaji di luar jendela tempat tersebut. Aku sendiri waktu itu menyempatkan berhenti di kelok 37, di sebuah warung kopi yang memasang nama Pondok Indah di depannya; padahal menurut aku, di situ yang indah adalah pemandangannya dan bukannya pondok yang dijadikan warung kopi itu :P

IMG_MAN07

Sayangnya aku kesana tidak pada waktu yang tepat. Mendung yang terus membayang sejak dari Puncak Lawang semakin tebal. Dan ketika akhirnya aku menjejakan kaki di tepi danau, dari kejauhan aku melihat awan tebal mulai berubah menjadi hujan yang dengan cepat bergerak dari tengah danau ke arah dimana aku berdiri mengambil beberapa foto. Keadaan itu memaksaku untuk segera berkemas dan lari kembali ke mobil yang aku pergunakan karena aku tidak mau mengambil risiko menjadi basah kuyup tersiram hujan lebat itu. Dan . . . itu pula sebabnya mengapa aku hanya berhasil memperoleh sangat sedikit foto kali ini :(. Mudah-mudahan lain kali masih ada kesempatan untuk kembali ke sana lagi dalam cuaca yang lebih bersahabat.

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 31 Comments

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,224 other followers