Posts Tagged With: flores

A mountain with three changing colors crater-lakes

Kelimutu was the name of an active volcano located in Flores, Indonesia. It was not considered as a very high mountain as it height was only 1,690 meters above sea level.

So . . . what so special about Kelimutu then?

Well . . . Kelimutu was said to be unique because it had three crater lakes which constantly changed their colors depended on the minerals composition change in the lake water triggered by the mountain volcanic activity, the quantity of the water microorganisms and also on the discoloration by the sunlight which included the reflection from the base and the surrounding walls of each lakes.

And as their colors change happened naturally, up till now the time of their color change was still unpredictable. Sometimes it changed quite often, while on any other time the lakes color were not change for a long time. In 2016, for instance, the colors of the crater lakes were changed 6 times, which was considered quite often for a certain period.

To see the three crater lakes, travelers should climb up to the summit. Don’t worry; the trek was not too hard since the local government had already built a climbing path through a forest on the mountain slope, there even a stone stairway close to the top to make it easier to reach the summit.

At the summit, there was a stone platform with a monument as a mark.

Usually, travelers would start their climb quite early in the morning in order to get the sunrise from the mountain top. For that, many travelers preferred to spend the night before the climb in Moni, a small town located about 13 kilometers from the car park which was usually being the starting point to start the climb, too.

But nature had its own rule. When I was there, instead of a bright and beautiful sunrise, what I found was thick cloud hung quite low and made it impossible to watch the sunrise.

But the attraction that could be enjoyed from the summit was not only the sunrise; the beautiful scenery with layers of mountains and the sight of the three crater lakes were enough to make many people dumbstruck and reluctant to go down from the summit.

Kelimutu was not a mere tourist destination; for the Lio tribe who lived there, Kelimutu was considered a sacred mountain. They believed that the mountain, especially the three crater lakes were the eternal resting place where all souls would return after their journey of life had ended.

According to them, when somebody died, his or her soul would come to Kelimutu and met Konde Ratu the gate keeper, who then sorted the souls depended on their deeds when they were still living humans. For them who were good and died at old age, they would be placed in the Lake of Old People or Tiwu Ata Mbupu to live in eternal peace and happiness. The lake location was separated from the other two lakes. When I was there, the lake’s color was dark green. According to the records, in between 1915 to 2011, Tiwu Ata Mbupu had changed its color 16 times. Once it reported to have dark brown, greenish brown even white color, but usually it had blue color.

The closest lake to the summit was the deepest as well as the largest lake known as Tiwu Koo Fai Nuwa Muri or The Lake of Young Men and Maidens. It has a soothing light green color. The Lio believed that the lake was the eternal resting place for they who died at young age. In the same period, the lake changed its color more often than Tiwu Ata Mbupu. It was said that it had already changed its color 25 times; but most of the times it retain its light green color although it was reported that once it had greenish white color.

The third lake was seen from the summit as if peeking from behind Tiwu Koo Fai Nuwa Muri; although for them who want to have a closer look could come to a specific spot on the crater-lake’s rim which located below the summit. The third lake was known as Tiwu Ata Polo or the Enchanted Lake of Evil Spirits. Tiwu Ata Polo was usually had red color, but when I was there it had green color that resembled the color of Tiwu Koo Fai Nuwa Muri. Tiwu Ata Polo was the smallest among the third lake, and it was believed that the lake was the resided place for the soul of people who did evil deed and practicing black magic when they were still living humans. Although the smallest in size, but Tiwu Ata Polo change its color most often compared to the other two.

Up till now, the Lio Tribe members still conducted a ritual called Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata which was held in an area close to the three lakes. At that time the tribe elders which known as the Mosalaki, would come together bringing offerings to the deceased who reside in the three lakes. Together they chanted prayers, praises and traditional song accompanied by traditional dances. The ritual usually held annually in mid August.

And at last . . . when the sun had already risen and the temperature became warmer, usually travelers started to go down from the summit. At the same time, the true inhabitant of Kelimutu came into sight. Some of them stood on the side of the climbing path hoping to get food from travelers, while others just staring from afar. Some of them were running along the lake wall with agility. Yes the true inhabitant of the forest of Kelimutu that also often roaming to the summit were monkeys . . .

So . . . interested in visiting the three lakes that naturally could change their colors?

Keterangan :

Kelimutu, sebuah gunung berapi yang terletak di Pulau Flores, di Propinsi Nusa Tenggara Timur, sudah cukup terkenal karena memiliki tiga buah danau kawah di puncaknya. Uniknya, ketiga danau kawah itu memiliki warna yang berbeda jika dilihat dari kejauhan. Secara ilmiah, perubahan warna ketiga danau itu disebabkan oleh berubahnya komposisi kandungan berbagai mineral yang larut dalam air danau akibat aktifitas vulkanis gunung. Maklum saja karena Kelimutu merupakan gunung berapi yang masih aktif sampai sekarang. Perubahan warna danau juga dipengaruhi oleh banyak sedikitnya mikroorganisme yang hidup di air danau pada suatu saat dan juga akibat pantulan cahaya matahari di bebatuan di dinding maupun dasar danau.

Trus kapan tuh warna danaunya berubah?

Perubahan warna danau terjadi secara alamiah, karena itu sampai sekarang masih susah untuk diprediksi kapan akan terjadinya. Bisa saja dalam setahun danau-danau itu berganti warna beberapa kali, tapi bisa juga untuk waktu yang lama tidak terjadi perubahan warna, bahkan warna ketiga danau yang harusnya berbeda-beda justru tampak hampir sama semuanya.

Untuk bisa melihat ketiga danau yang unik itu, para pelancong harus mendaki sampai ke puncak Kelimutu. Jangan khawatir, treknya cukup ramah koq. Apalagi pemerintah setempat sudah membangun jalur pendakian yang jelas sejak dari tempat parkir mobil yang menjadi titik awal pendakian sampai ke puncak; bahkan mendekati puncak sudah dibuatkan undak-undakan dari batu yang memudahkan pelancong menggapai puncak.

Biasanya para pelancong akan memulai pendakian pada saat subuh dengan harapan bisa menyaksikan terbitnya matahari dari puncak Kelimutu. Karena itulah sebagian besar Pelancong lebih memilih menginap di Moni, sebuah kota kecil berjarak kurang lebih 45 menit berkendara sampai ke gerbang masuk kawasan Kelimutu, meskipun memang ada juga beberapa orang yang lebih suka berkendara selama 4 jam dari Ende selepas tengah malam dengan pertimbangan bahwa penginapan di Ende lebih baik dibanding penginapan di Moni.

Sayangnya ketika aku kesana, cuaca sedang kurang bersahabat. Harapan akan menikmati pemandangan indah saat terbitnya matahari harus aku kubur dalam-dalam karena pagi itu ternyata langit cukup berawan. Tapi . . . keindahan yang bisa dinikmati dari sana bukan melulu saat terbitnya matahari. Pemandangan alam yang tersajipun sangatlah indah. Deretan gunung di kejauhan yang tampak seperti berlapis lapis, ditambah juga dengan mulai tampak jelasnya danau kawah yang memang menjadi tujuan utama pendakian itu membuat banyak pelancong terkagum-kagum, tidak terkecuali aku sendiri.

Dan ketika banyak orang datang ke Kelimutu untuk berwisata karena tertarik dengan keindahan dan keunikannya, masyarakat Suku Lio yang bermukim di sekitar gunung itu memiliki tujuan lain ketika mereka datang mendaki Kelimutu. Bagi mereka, Kelimutu merupakan gunung yang mereka keramatkan. Mereka percaya bahwa Kelimutu, khususnya ketiga danau kawahnya merupakan tempat peristirahatan abadi arwah mereka yang sudah meninggal.

Menurut kepercayaan mereka, ketika seseorang meninggal, maka arwahnya akan datang ke Kelimutu dan bertemu dengan Konde Ratu sang Juru Kunci yang bertugas menilai perbuatan orang tersebut semasa hidupnya, kemudian menempatkannya di tempat yang sesuai.

Mereka yang selama hidupnya banyak berbuat kebaikan dan meninggal dalam usia lanjut, akan ditempatkan di Tiwu Ata Mbupu atau Danau Para Orang Tua. Danau ini terpisah lokasinya dari dua danau lainnya. Ketika aku ke sana, aku menemukan kalau danau ini berwarna hijau tua meskipun konon biasanya berwarna kebiruan. Berdasarkan catatan yang ada, sejak tahun 1915 sampai tahun 2011, Tiwu Ata Mbupu telah berganti warna sebanyak 16 kali. Tercatat bahwa danau ini pernah berwarna coklat gelap, coklat kehijauan, bahkan putih.

Kemudian bagi mereka yang meninggal selagi muda, arwahnya akan ditrempatkan di Tiwu Koo Fai Nuwa Muri. Danau ini merupakan danau yang paling besar selain juga paling dalam di antara ketiga danau yang ada di sana. Warnanya hijau cerah meskipun pernah juga warnanya berubah menjadi hijau muda mendekati putih. Dalam periode yang sama, dilaporkan bahwa Tiwu Koo Fai Nuwa Muri pernah berganti warna sampai 25 kali.

Danau yang terakhir disebut Tiwu Ata Polo yang menjadi tempat berkumpulnya arwah para tukang tenung dan mereka yang selama hidupnya berbuat jahat. Biasanya danau ini berwarna merah gelap meskipun ketika aku kesana berwarna hijau terang sama seperti warna Tiwu Koo Fai Nuwa Muri. Danau ini merupakan danau yang paling kecil dan juga paling dangkal, sehingga kontras sekali dengan Tiwu Koo Fai Nuwa Muri yang berada di sebelahnya dan hanya dipisahkan oleh dinding tipis yang rawan longsor kalau sampai terjadi gempa besar.

Meskipun paling kecil, tetapi ternyata Tiwu Ata polo merupakan danau yang paling sering berganti warna. Tercatat sejak tahun 1915 sampai 2011 danau ini pernah berganti warna 44 kali. Jika dilihat dari puncak Kelimutu, Tiwu Ata polo seolah mengintip di belakang Tiwu Koo Fai Nuwa Muri. Meskipun demikian, sebetulnya danau ini bisa dilihat lebih dekat dari sebuah anjungan yang terletak sedikit di bawah puncak Kelimutu.

Kekeramatan Gunung Kelimutu masih terjaga hingga saat ini di antara masyarakat Suku Lio. Sampai sekarang mereka secara rutin tetap menyelenggarakan upacara Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata atau upacara membeir makan arwah leluhur dan sanak saudara yang tinggal di sana. Biasanya upacara dilakukan pada pertengahan bulan Agustus tiap tahunnya. Pada saat itu para pemuka masyarakat yang disebut Mosalaki akan secara bersama-sama berkumpul di sebidang tanah di dekat danau sambil membawa sesaji. Doa dan mantra akan diucapkan dengan diiringi lagu-lagu tradisional sambil menarikan tari tradisional Suku Lio yang disebut Gawi.

Nah . . . kembali ke puncak Kelimutu yang ketika subuh ramai pelancong; ketika matahari sudah semakin meninggi dan suhu yang semula dingin menggigit perlahan mulai menghangat kawasan puncak juga mulai ditinggalkan. Berbondong-bondong para pelancong mulai berjalan turun, tetapi pada saat itu pulalah para penunggu Kelimutu mulai muncul. Mereka biasanya hanya menatap para pelancong sambil berharap ada yang memberikan sekedar bahan pengganjal perut di pagi hari. Para penunggu Kelimutu ini adalah kera-kera berbulu abu kecoklatan. Beberapa dari mereka hanya duduk diam di pagar atau anak tangga menuju ke puncak, ada pula yang menatap para pengunjung dari balik semak dan perdu, sementara beberapa lagi aktif berlari-larian dengan cekatan di tebing dinding danau.

Nah . . . bagaimana? Tertarik untuk datang ke Kelimutu? Aku sendiri masih tertarik untuk berkunjung ke sana lagi . . . .–

Categories: My Pictures, Travel Pictures | Tags: , , , , , , , , | 11 Comments

Kembali ke jaman Jurassic

He he he . . . judulnya keren ya? Jadi kaya judul film fiksi ilmiah saja. Tapi . . . jujur aja sebetulnya aku bingung mau ngasih judul apa buat catatan perjalananku kali ini. Apalagi, sudah cukup lama juga aku gak bikin tulisan. Coba saja perhatikan, postinganku akhir-akhir ini kan kebanyakan berupa foto. Tulisan terakhir yang aku posting itu hasil tulisan beberapa bulan lalu.

Anyway, balik ke soal judul, kenapa aku sampai kasih judul itu? Well, aku pikir itu pas buat ceritain perjalananku mengunjungi habitat kadal raksasa di kepulauan Nusa Tenggara yang dikatakan merupakan sisa-sisa binatang purba yang masih exist sampai sekarang itu.

Waaahhhh . . . jadi sampai juga ke Pulau Komodo ya?

Iyaaaaa . . . akhirnya setelah selama ini cuma bermimpi dan bikin rencana perjalanan kesana yang selalu batal, bisa juga aku berkunjung ke Pulau Komodo dan bertemu langsung dengan sisa-sisa hewan purba itu di habitat aslinya.

to the island

to the island

Perjalananku kesana bermula dari ajakan beberapa teman untuk bergabung dalam outing ke Bali dan Komodo. Biasanya sih aku gak pernah ikut dalam acara-acara semacam ini, tetapi berhubung tujuannya adalah tempat yang memang aku ingin datangi, aku memutuskan untuk ikut kali ini.

Akhir November lalu, rombonganku berangkat dengan pesawat ke Bali, dan baru keesokannya lagi berangkat dari Denpasar menuju Labuan Bajo di Flores.

Tahu gak, gara-gara perjalanan ini akhirnya mau gak mau aku harus beli sepatu olah raga baru. Koq bisa? Iyalah, kan biasanya aku kemana-mana cukup pakai sandal gunung dengan pertimbangan mau jalan ke gunung ok, mau nyebur ke air juga ok, gak perlu repot buka sepatu segala. Dan memang sudah aku buktikan begitu dalam perjalanan-perjalananku sebelumnya. Apalagi dalam selebaran yang aku terima sebelum perjalanan, cuma ditulis “harap mengenakan sepatu yang enak dipakai jalan karena akan melakukan trekking di Pulau Komodo”. Tetapi ternyata dalam briefing lanjutan di Bali, baru aku tahu kalau seharusnya jangan pakai sepatu sandal saat trekking nanti, mengingat adanya kemungkinan bertemu ular di sana. Bahkan pada saat trekking itu diharuskan memakai celana panjang untuk berjaga-jaga. Waduh . . . kacau deh kalau gini  :(. Sewaktu aku tanyakan kenapa tidak dari awal saja dijelaskan kalau ada kemungkinan ketemu ular saat trekking, jawaban yang aku terima adalah karena kuatir pesertanya berkurang karena takut  :(. Ya sutra lah . . . apa boleh buat, akhirnya malam itu aku harus cari sepatu juga deh jadinya. Untung masih di Bali, dan aku nginap tidak jauh dari sebuah mall sehingga tidak susah menemukan toko olah raga yang menjual sepatu juga, kalau sudah terlanjur di Labuan Bajo kan repot jadinya.

Paginya, sesuai dengan rencana, aku dan rombongan berangkat menuju ke Labuan Bajo, Flores. Pesawat yang melayani rute ini rata-rata pesawat kecil. Jadinya karena rombonganku lumayan besar, lebih dari setengah pesawat diisi rombonganku. Perjalanan di tempuh dalam waktu sekitar 1,5 jam. Kebetulan aku dapat tempat duduk di dekat jendela, sehingga aku bisa melihat pulau-pulau yang dilewati sepanjang perjalanan dari Bali ke Flores itu.

labuan bajo airport

labuan bajo airport

Begitu sampai di Labuan Bajo dan turun dari pesawat, hampir semua penumpang menyempatkan diri untuk berfoto di depan nama bandara-nya. Lucu juga melihat orang antri untuk berfoto di situ. Ada juga yang berfoto dengan latar belakang pesawat yang membawa kita dari Bali.

Bandara Labuan Bajo tidaklah besar, bahkan menurut aku masih merupakan sebuah bandara yang sederhana. Di sini aku sempat dikagetkan dengan terdengarnya sirine mengaung. Ternyata sirine tersebut dibunyikan setiap kali akan ada pesawat yang take-off ataupun landing dengan tujuan mengusir kambing dan kerbau yang masih banyak berkeliaran di kawasan bandara. He he he . . . lucu juga sih  😀

Labuan Bajo yang merupakan kota terbesar di Kabupaten Manggarai Barat juga bukan merupakan kota yang besar. Udaranya saat itu panas sehingga menyebabkan aku dan teman-teman serombonganku agak malas untuk beraktifias. Dari bandara, rombonganku diantar langsung ke hotel untuk check-in dulu. Untunglah hotel yang jadi tempat menginap rombonganku cukup nyaman. Di bagian belakang hotel terdapat taman yang cukup luas dengan kolam renang, dan taman ini langsung menyambung ke pantai yang lumayan indah.

Hari berikut lagi, barulah aku dan rombongan berkesempatan berkunjung ke Pulau Komodo. Perjalanan dimulai dari dermaga Labuan Bajo dengan mempergunakan speed-boat. Jarak Labuan Bajo – Komodo ditempuh dalam waktu hampir dua jam dalam kondisi laut tenang. Perjalanan menuju Pulau Komodo melewati beberapa pulau kecil yang beberapa diantaranya dihuni oleh nelayan. Menurut penuturan salah seorang anak buah kapal, di pulau-pulau yang kelihatan gersang itu tidak terdapat air tawar, sehingga air tawar harus didatangkan dari Labuan Bajo. Repot juga ya.

the final briefing

the final briefing

Sesampainya di Pulau Komodo, aku dan teman-temanku langsung diminta berkumpul di sebuah gazebo yang terletak tidak jauh dari pantai untuk mendengarkan briefing lagi. Kali ini yang menjelaskan adalah salah satu ranger yang ada di situ. Yang ini ranger atau petugas penjaga hutan beneran lho ya, bukannya Power Ranger yang di film-film itu. Dalam briefing singkat itu, si Pak Ranger (sorry aku lupa namanya  :P) menjelaskan segala sesuatu mengenai si komo ini. Sifat-sifatnya dan juga kebiasaan-kebiasaannya. Termasuk juga ditanyakan apakah di antara anggota rombongan ada yang sedang datang bulan. Maklum anggota rombonganku waktu itu banyak juga ceweknya.

Memangnya kenapa sih kalau lagi datang bulan? Ya bukan kenapa-napa sih, cuma si komo ini kan penciumannya tajam, kuatirnya dia mencium bau darah datang bulan itu, terus pada datang dan nguber. Kalau kejadian gitu kan serem. Menurut informasi yang disampaikan Pak Ranger, para komodo itu bisa mencium bau mangsanya dari jarak 5 kilometer lebih. Makanya disarankan bagi mereka yang sedang datang bulan untuk tidak berkunjung ke situ demi keamanan bersama. Untunglah rupanya saat itu tidak satupun dari anggota rombonganku yang sedang datang bulan.

Pak Ranger ini juga menjelaskan bahwa kita akan trekking ke habitat asli komodo, dan karena komodo yang ada di Pulau Komodo ini bukan binatang peliharaan, maka Pak Ranger juga tidak menjamin bahwa kita pasti akan bertemu komodo dalam trekking nanti. Sebelum mulai melakukan trekking, Pak Ranger mengajukan pilihan kepada rombonganku untuk memilih route mana yang akan ditempuh. Maklum saja ada tiga route yang bisa ditempuh, yaitu route pendek, route menengah dan route panjang. Tentunya semakin panjang route, medannya akan semakin berat karena akan diajak masuk lebih dalam ke hutan di pedalaman pulau, tetapi kemungkinan ketemu komodo tentunya jadi lebih besar. Siang itu karena udara yang terasa panas ditambah keadaan pulau yang gersang, rombonganku memilih menempuh route pendek saja. Route pendek ini akan ditempuh dalam waktu kurang lebih 45 menit.

the rangers

the rangers

Setelah semuanya siap dan penjelasan Pak Ranger bisa dimengerti oleh semua anggota rombongan, maka rombongan dipecah menjadi dua rombongan besar, dan masing-masing rombongan itu didampingi oleh beberapa ranger. Perbandingannya untuk rata-rata 5 orang anggota rombongan, dijaga oleh seorang ranger yang bersenjatakn tongkat panjang yang ujungnya bercabang. Menurut para ranger itu, cabang yang ada di ujung tongkat tersebut dipergunakan untuk menekan kepala komodo kalau seandainya ada komodo yang mau menyerang anggota rombongan. Itupun menurut mereka kalau komodonya sedang beringas, bisa-bisa tongkat mereka tidak menolong, dan kita harus lari. Pada saat itu diinformasikan juga, kalau seandainya terjadi hal terburuk, kita harus lari dengan jalur berbelok-belok karena seperti halnya babi hutan, komodo sulit bermanuver dengan lincah pada saat mengejar mangsanya. Kemudian diusahakan juga untuk memanjat pohon untuk menghindar. Komodo dewasa tidak bisa memanjat pohon karena berat tubuhnya. Lho koq ditekankan komodo dewasa, komodo remaja dan komodo kecil gimana? Nah . . .kalau itu memang mereka hidupnya justru di atas pohon. Waduh . . serem juga dong, dibawah diuber komodo dewasa di atas pohon ditungguin komodo remaja dan komodo kecil  😦

Ngomong-ngomong, beneran nih komodo muda dan komodo kecil itu hidup di atas pohon? Iya bener. Ini merupakan salah satu mekanisme pertahanan diri alamiah para komodo itu. Koq bisa gitu, iya . . jadi berdasarkan info dari Pak Power Ranger itu, komodo termasuk hewan yang setia dengan pasangannya seumur hidup, dan ini merupakan suatu kondisi yang jarang ditemui di dunia perkadalan. Masa kawin para komodo ini biasanya terjadi antara bulan Mei sampai Agustus yang kemudian dilanjutkan dengan masa pengeraman telur yang memakan waktu antara 7 – 8 bulan. Selama masa pengeraman ini, komodo betina biasanya akan menjaga telur-telurnya dan menjadi sangat ganas, bahkan sering kali pula sama sekali tidak mau didekati oleh komodo jantan pasangannya. Sementara itu, komodo jantan akan melakukan patroli dan menjaga sarangnya dari serangan komodo lain ataupun dari serangan predator lainnya. Biasanya pula pada saat ini sering terjadi pertempuran antar komodo jantan untuk memperebutkan wilayah. Sebetulnya pengen juga sih lihat perempuran ini, soalnya keren. Dalam perempuran ini biasanya dua komodo jantan akan saling memeluk dan berusaha menjatuhkan dengan bertumpu pada kaki belakang masing-masing. Sepintas seperti sedang berdansa  :).

komodo's nest

komodo’s nest

Soal sarang, biasanya para komodo ini mempergunakan sarang yang sebetulnya dibuat oleh burung gosong berkaki jingga. Sarang tinggalan dari burung tersebutlah yang menjadi tempat favorit para komodo untuk meletakkan telur-telurnya. Biasanya pada akhir musim penghujan, telur-telur tersebut mulai menetas, dan keluarlah bayi-bayi komodo yang panjangnya sekitar 40 cm. Berbeda dengan pada saat masih berwujud telur yang selalu dijaga oleh induk komodo, begitu menetas bayi komodo sudah harus berjuang sendiri untuk hidup. Induk komodo akan meninggalkannya, bahkan tidak jarang malah memakan bayi-bayinya sendiri. Komodo jantan juga akan memburu bayi komodo jantan karena mereka menganggapnya sebagai ancaman dan pesaing. Jadi para komodo itu termasuk hewan kanibal juga. Oleh karena itulah begitu menetas, setelah beberapa saat para bayi komodo ini harus bergegas memanjat pohon untuk berlindung dari terkaman induknya ataupun juga berlindung dari incaran predator lain di darat.

Di atas pohon pun sebetulnya para bayi komodo ini tidak sepenuhnya aman. Burung Gagak, Burung Elang Flores, juga ular yang banyak dijumpai di pulau itu menjadi ancaman keselamatan bayi komodo yang berlindung di atas pohon. Sedangkan untuk makanannya, para bayi komodo dan komodo muda itu berburu anak-anak burung, dan binatang kecil lainnya yang dijumpainya di atas pohon. Biasanya mereka berada di atas pohon sampai berumur 3 – 5 tahun, dimana tubuh mereka sudah cukup berat untuk bisa tetap nangkring di atas pohon, sementara secara umur mereka juga sudah menjadi dewasa dan siap untuk mencari pasangan.

the komodo

the komodo

Pada saat melakukan trekking, rombonganku termasuk beruntung. Karena tidak begitu jauh memasuki hutan, seekor komodo jantan muncul dari balik semak di sebelah kiri rombongan, kemudian dengan santai berjalan menghampiri rombongan. Para ranger segera mempersiapkan tongkat saktinya sambil meminta kepada semua anggota rombongan untuk tidak berada di jalur yang sekiranya akan dilewati si komo ini. Kemudian dengan penuh percaya diri dan sambil menjulur-julurkan lidah bercabangnya, komodo dengan panjang badan lebih dari dua meter ini menghampiri rombonganku, dan setelah cukup dekat dia berhenti, dan dengan santai berbaring sambil menengok ke kiri dan ke kanan seolah-olah menikmati menjadi pusat perhatian seluruh anggota rombongan, Sementara itu anggota rombonganku segera memanfaatkan momen itu untuk memotretnya.

Setelah puas memotret, rombonganku kembali melanjutkan perjalanan menyusuri jalur-jalur jalan dalam hutan yang gersang itu. Selama perjalanan, Pak Ranger terus memberikan penjelasan mengenai komodo. Ditunjukkannya kotoran komodo kering yang kebetulan dijumpai di tengah jalur trekking ini. Kebetulan kotoran itu berwarna putih. Menurut Pak Ranger, itu sisa-sisa tulang binatang yang dimakan komodo, karena komodo memakan mangsanya secara utuh termasuk tulang-tulangnya. Kalau sisa-sia daging dan bulu biasanya kotorannya berwarna kecoklatan, katanya.

Dalam berburu, komodo biasanya sendirian dan dilakukan dengan cara menyergap mangsanya yang lengah. Biasanya mangsanya akan digigit kemudian dibiarkan menjadi sangat lemah atau bahkan mati. Butuh waktu antara 2 – 3 hari sampai mangsanya tersebut mati. Dan selama itu dengan sabar si komodo akan mengikuti mangsanya. Begitu memungkinkan baru komodo akan menerkam dan memakannya sampai habis tidak bersisa. Oleh karena itu, menurut Pak Ranger pernah ada peneliti asing yang hilang di Pulau Komodo, dan tidak pernah ditemukan lagi. Para pencari hanya menemukan kacamata, kamera dan tasnya. Diperkirakan peneliti malang tersebut telah habis dimakan komodo. Pernah pula ada kejadian seorang anak penduduk setempat yang sedang buang air di semak-semak tiba-tiba digigit dari belakang oleh komodo. Meskipun tidak bisa diselamatkan secara utuh, tetapi sebagian jasadnya masih bisa dibawa karena kebetulan saudara anak itu berteriak dan mendapatkan pertolongan dari kerabatnya yang kemudian berhasil mengusir komodo yang datang karena bau kotoran anak kecil itu dan kemudian memangsanya. Dengan berbagai kejadian itu, diterapkan peraturan bahwa untuk menjelajah Pulau Komodo tidak boleh sendirian, melainkan harus berombongan. Hal ini untuk mencegah terulangnya serangan komodo terhadap manusia.

the trekking

the trekking

Selain tidak berjalan sendirian, ada juga anjuran lain bagi pengunjung. Antara lain jangan membawa barang yang dijinjing sehingga barang tersebut berayun-ayun, karena inipun akan memancing komodo untuk mendekat dan kemudian berusaha untuk meraih barang yang terayun itu. Hal lain yang juga disarankan adalah tidak berisik selama melakukan trekking karena komodonya lagi tidur siang, juga dianjurkan untuk tidak memakai pakaian dengan warna mencolok dan juga tidak memakai parfum dengan bau yang kuat. Topi dianjurkan untuk dipakai, dan oleskan juga sun-block buat yang tidak terbiasa berada di bawah terik matahari. O ya, jangan lupa bawa air minum karena sepanjang jalur trekking gak ada warung 😛

Sepanjang jalur trekking itu, aku dan rombongan beberapa kali bertemu dengan hewan-hewan lain yang juga hidup bebas di situ. Ada kijang, babi hutan, juga beraneka jenis burung, tapi yang aku lihat paling banyak sih burung gagak hitam yang cukup besar dan terus berkaok-kaok dengan suaranya yang parau.

a view from frigatta hill

a view from frigatta hill

Sebelum sampai di akhir route trekking, rombonganku sempat diajak juga mendaki ke Frigata Hill yang merupakan sebuah bukit, dan dari atas bukit ini kita bisa memandang keindahan pantai dan pelabuhan Pulau Komodo. Jalur trekking ini berakhir di mess para Ranger, dimana terdapat juga sebuah kantin sederhana, sehingga aku dan teman-teman berebutan membeli minuman dingin untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering karena sepanjang jalur trekking itu medannya gersang, ditambah sengatan sinar matahari yang lumayan terik.

Tidak jauh dari kantin itu, terdapat deretan kamar kecil dan juga deretan kamar sederhana yang bisa disewa pengunjung yang ingin bermalam di Pulau Komodo. Di seberang kantin, terdapat dapur yang dipergunakan memasak makanan para ranger dalam bentuk rumah panggung. Nah di bawah dapur ini berkumpul beberapa komodo yang tertarik datang karena mencium bau masakan. Buat yang belum puas memotret komodo, disinilah kesempatan untuk memotretnya. Mumpung lagi pada ngumpul tuh komodonya.

Setelah cukup beristirahat, aku dan rombonganku kembali ke titik awal route trekking, yaitu di dekat dermaga. Kali ini melalui jalur di tepi pantai yang juga melewati beberapa lapak penjual souvenir, sehingga jalannya mudah dan tidak melelahkan. Sebentar kemudian rombonganku sudah sampai lagi di dermaga.

the pink beach

the pink beach

Perjalanan kembali ke Labuan Bajo kembali ditempuh dengan speed-boat. On the way kembali itu, aku dan rombongan menyempatkan diri mampir sebentar di Pink Beach yang terletak di salah satu sudut Pulau Komodo. Di Pink Beach ini sebagian besar anggota rombonganku menyempatkan diri untuk mencebur ke laut untuk berenang, dan beberapa orang melakukan snorkeling karena pemandangan bawah air di daerah tersebut sangat indah. Siang itu Pink Beach cukup ramai. Karena tampak beberapa kapal yang ditumpangi turis-turis asing juga sedang berlabuh di lepas pantainya. Cuma saja aku dan rombongan tidak terlalu lama berada di Pink Beach. Menurut beberapa teman, arus bawah lautnya kuat sekali di situ, sehingga kurang nyaman untuk berenang.

Perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Bidadari untuk sekali lagi berlabuh dan sejenak bermain air di pantainya yang indah. Disini boleh dibilang semua anggota rombongan turun ke pantai. Sebagian berenang-renang di laut yang sangat jernih dan sebagian lagi duduk-duduk sambil ngobrol. Menjelang sore, perjalanan dilanjutkan lagi menuju ke Labuan Bajo.

Asyik juga petualangan kali ini kembali masuk ke jaman Jurassic dan bertemu sisa-sisa dinosaurus di pulau Komodo. Sayang para komodo yang ditemui terkesan kurang buas. Eh . . .tapi kalau lagi buas memangnya berani ngadepinnya? Ya, memang mikir-mikir juga sih ya kalau ketemu komodo yang lagi buas-buasnya, he he he . . .

Summary :

Last November, I got an opportunity to visit an island that inhabited by creatures which is known as the remaining living dinosaurs. The creatures are known as the komodo dragons, and the island I visited was Pulau Komodo or Komodo Island.

I started my journey with a direct flight from Jakarta to Denpasar, Bali. After an overnight in Bali, the following morning, I continued my trip with a flight to Labuan Bajo, in Flores. A hot and dry climate greeted me and my group in Labuan Bajo, which made us prefer to stay in the hotel than having a city tour around the city.

fisherman's village

fisherman’s village

The following morning was the time we went to Komodo Island. The journey was started from the city port. We used a big speed-boat to reach the island in about 2 hours. En route, we passed several islands inhabited by fishermen. According to one of the sailors, the fishermen conduct hard living there. Those islands are dry; and to fulfill their need of fresh water, they have to buy form Labuan Bajo.

On arrival at Komodo Island, we gathered in a small hut close to the simple port to get briefs from the rangers about the island and also about the komodo itself. The rangers explain the dos and the don’ts for the visitors of Komodo Island. Among all, they asked if any members of the group having her period at that time. If so, the ranger suggested her not to follow the group that would trek through the dry forest of the island; because the komodos can smell blood from as far as 5 kilometers, and if such a woman joining the trek, she would increase the risk to be attacked by komodos. Fortunately there was nobody that having period  🙂

At that time, the ranger offered us three routes; the short, middle, and long trek; in which my group chose to trek on the shortest route which took approximately 45 minutes. Since the komodos live freely in their habitat on the island, there was no guarantee that our group met them on the path we chose. To increase the chance to meet the komodos, one should choose the longest trek actually.

one of the komodos

one of the komodos

On our trek, every 5 persons will be accompanied by 1 ranger for precautions. Along the trekking path, the ranger told us more details about komodo. So according to them, if chased by komodo, one should run zigzagging because komodo cannot maneuver easily. It would be better if the person being chased find a tree so he or she can climb on it. Beware, however, that while the adult komodos cannot climb a tree, the baby and young adult komodos live on a tree as their natural defense system. In the wild, the baby and young adult komodos are the easy preys for predators such as, crows, eagles, vipers, and other adult komodos that include their parents as well.

Fortunately on our group’s short trek, we found some komodos. One on our path in the dry forest, and some others under the ranger’s headquarters. Our trek included a short climb to Frigata Hill, a low hill that facing the sea, where we can enjoy the beautiful scenery of Komodo Island’s port and beach.

On our way back to Labuan Bajo, we stop for swimming and snorkelling at the Pink Beach and the Angel Island. .–

Categories: Travel Notes | Tags: , , | 69 Comments

Sunset on the shore

It was the second day I stayed in Labuan Bajo, Flores. After visiting Komodo Island in the morning, I spent the late afternoon in my hotel room to avoid the heat and humid weather which made me uncomfortable.

At 4.30 PM, after a quick shower, I decided to stroll along the beach which located at the back of the hotel. So . . . off I went, passed the swimming pool where some of my friends spent their afternoon there, directly to the shore. I’d like to wait for and enjoy the sunset from there.

As the beach heads to the west, I got a perfect place to enjoy the sunset. And . . below are the pictures I got at that time, here I share them with you  🙂

Categories: Travel Pictures | Tags: , , | 82 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.