Posts Tagged With: buddha

A temple in the City of Flowers

That early morning, I woke up with a thought . . where else should I go while I was in Tomohon, the City of Flowers. Yes, Tomohon, a small town located close to Manado in North Sulawesi, Indonesia, known as the city of flowers. The city’s fertile soil along with its cool weather was a perfect condition for many kinds of flower to grow. Almost all of Tomohon’s inhabitants cultivate various kinds of flowers in their own garden as well as in their front or backyard. When travelers came to Tomohon at the right season, they could see that almost every household were full of pretty flowers.

As Tomohon was only a small city, travelers could not find the hustle bustle of a big city there. The peaceful atmosphere of the city made it a perfect place to meditate or just pray to the almighty. Because of that, some place of worship had been built in and around Tomohon. One of them was a compound of Chinese Temple with an 8 storey pagoda that known as Vihara Buddhayana Tomohon.

The temple was actually not an old building compound, from the information given to me; it was inaugurated in 2009 by North Sulawesi Governor at that time.

Entering the compound, travelers would be greeted by a row of big statues depicting the 18 arhats. They were said to be the first followers of Buddha who had already reached Nirvana thus they were free of worldly desires. The 18 arhats were ordered by Buddha himself to protect the Buddhist faith and to wait for the coming of Lord Buddha on earth.

After admiring the statues of the arhats, I continue my walk to a building which looked like the office of peoples who were been given responsibility of the whole compound. As they saw my trip partner and I coming, they kindly greeted us and welcomed us to explore the whole compound.

The tranquil atmosphere in the compound only filled with a faintly sound of a monk reading the Sutra in one of many prayer rooms in there. A faint smell of incense also hung in the air made my travel partner and I exploring the area in silent.

The temple compound was equipped with a nice garden that blend harmoniously with many Chinese style structures in there as well as with Mount Lokon that stood majestically as if guarding the compound on the west.

There was a big praying room at the back of the so called office with a big statue of Buddha sitting in the back of an altar. There was also a 9 storey pagoda in there. In front of the pagoda, there was a fountain with two dragons circling the fountain.

After the pagoda, there was a red colored small but pretty building dedicated to the Goddess of Mercy. A big inscription above the main entrance to the building stated that the name of the building was Guan Yin Palace.

Further back, there was a big turtle statue with a pond before it. There were many life turtles living in the pond. Many people believe that turtles symbolizing longevity.—

Anyway, to give you clearer illustration about the temple compound, I attach some pictures which I took when my travel partner and I visited the place. Enjoy!  😀

Keterangan:

Pagi itu, aku terjaga dari tidur nyenyakku dengan pertanyaan akan kemana lagi aku selama masih di Kota Bunga itu. Ya . . . aku masih di Tomohon ketika itu, sebuah kota kecil di Sulawesi Utara yang bisa ditempuh dengan berkendara dari Manado selama kurang lebih satu jam. Pelancong yang datang pada saat yang tepat ke Tomohon pasti tidak akan membantah kalau Tomohon disebut Kota Bunga, karena pada saat itu bunga berwarna-warni dari berbagai jenis bermekaran di sana sehingga aroma bunga pun akan samar tercium terbawa semilir angin pegunungan.

Anyway, kembali ke soal mau kemana lagi pagi itu, rasanya teman dan sahabat sekalian pasti setuju kan bahwa kalau kita melakukan perjalanan ke suatu daerah tetapi tidak memanfaatkan waktu yang ada untuk menjelajah daerah tersebut, rasanya koq ada yang kurang  . . .

Memang sih dari pembicaraan dengan pemilik penginapan semalam aku sempat mendapatkan informasi mengenai apa saja yang bisa dilihat di Tomohon ini. Katanya Tomohon memiliki destinasi wisata religi; maklumlah kota kecil ini cukup tenang sehingga cocok juga kalau dijadikan tempat bersemadi dan juga berdoa kepada Sang Khalik. Karena itu, tidaklah heran kalau di Tomohon dan sekitarnya banyak dibangun rumah ibadah dari berbagai agama.

Jadilah akhirnya pagi itu aku dan partner jalanku mencoba berkunjung ke rumah-rumah ibadah yang ada di Tomohon dan sekitarnya. Dalam tulisanku kali ini, aku mencoba mengajak teman dan sahabat sekalian menyertai aku dan partner jalanku ke sebuah Vihara yang dikenal dengan nama Vihara Buddhayana yang terletak di Kelurahan Kakaskasen Tiga di Tomohon.

Di luar dugaanku, ternyata yang disebut dengan Vihara Buddhayana ini merupakan sebuah kompleks bangunan yang terdiri dari beberapa bangunan dengan arsitektur bergaya China, bahkan dalam kompleks itu juga terdapat sebuah pagoda bertingkat delapan yang dikenal dengan nama Pagoda Ekayana. Di halaman dalam kompleks itu juga terdapat taman yang tertata apik yang benar-benar menambah keindahan pemandangan dalam kompleks itu, apalagi kala melihat ke arah barat, tampak dengan jelas Gunung Lokon yang berdiri gagah seolah menjaga kompleks vihara tersebut.

Aku coba gambarkan kondisinya sejak dari pintu masuk halamannya ya . . . jadi kalau kita masuk ke dalam kompleks ini, pertama-tama kita akan di sambut jajaran patung 18 Lohan di sisi kiri jalan masuk sampai ke depan sebuah bangunan yang difungsikan sebagai kantor penanggung jawab vihara. Sekedar menambah pengetahuan, 18 Lohan dikenal juga sebagai para murid langsung Buddha Gautama yang telah memperoleh pencerahan dan telah terbebas dari segala nafsu duniawi. Ke 18 tokoh ini ditugaskan untuk menjaga keyakinan umat Buddha di dunia ini sambil menunggu kedatangan kembali Sang Maitreya ke dunia ini.

Ketika ke sana aku dan partner jalanku disambut dengan ramah oleh salah satu pengurus vihara yang kemudian mempersilahkan aku dan partner jalanku untuk melihat-lihat kompleks vihara tersebut, bahkan mempersilahkan aku dan partner jalanku untuk naik ke puncak pagoda jika berminat. Tentu saja tawaran itu aku sambut dengan perasaan senang 🙂

Di depan bangunan yang difungsikan sebagai kantor itu, terdapat kolam air mancur dengan patung sepasang naga yang melingkar mengeliling air mancur itu. Di sana juga terdapat semacam aula untuk beribadah yang dilengkapi sebuah altar dengan patung Sang Buddha yang cukup besar. Pagodanya praktis berada di atas bangunan itu.

Di sebelahnya ada sebuah bangunan cantik yang juga bercat merah seperti bangunan-bangunan lainnya di kompleks itu. Di papan nama yang tergantung di atas pintu utama jelas tertulis “Istana Kwan Im”. Rupanya bengunan itu didedikasikan untuk Sang Dewi Welas Asih.

Di ujung belakang kompleks, terdapat patung kura-kura besar yang menghadap ke sebuah kolam yang di dalamnya banyak kura-kuranya. Konon patung kura-kura itu sebenarnya juga merupakan ruang doa, hanya saja waktu itu aku nggak sempat menelitinya lebih jauh.

Untuk melengkapi gambaran mengenai Vihara Buddhayana dan Pagoda Ekayana, seperti biasa tulisan ini sudah aku lengkapi dengan beberapa foto yang sempat aku ambil ketika aku kesana. Enjoy! 😀

Advertisements
Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , , , , , | 6 Comments

The procession of the monks in Jakarta

This morning, there was an unusual sighting on the street of Jakarta Old City Area. There was a line of brown-robed and bare footed Buddhist monks lined up with bowls in their hands, set out for alms, while on the sides of the streets many people stayed patiently with any kind of foods in their hands to be given to the monks. Unfortunately, due to my recent health condition I couldn’t come to the event :(. But . . . fortunately (still :)), I’m keeping the pictures of the same event I got two years ago, so now I can still give you some illustrations about the event  😉

Anyway, what so special with the event? Isn’t it a common thing to see Buddhist monks with their brown robe set out in the morning to get their foods? Well, in such countries with many Buddhist followers like Thailand and Myanmar, it is true that the sighting of Buddhist monks doing their daily ritual to get foods for their daily meal, which is known as”pindapatta“, is very common. Perhaps, even every day we can see them doing the ritual. But in Indonesia, especially Jakarta, where Buddhist followers are minority, to see such a ritual is very rare. What I know, they only held the ritual once a year. Usually it is in connection to the Vesak Day. That’s why each time Sangha Theravada Indonesia held the ritual; it always draws so much attention from Buddhist followers in greater Jakarta, as well as from others who just want to know about it.

IMG_PDP01

Vesak Day which is celebrated annually; and in 2013 will be on May 24, is a very special day for every Buddhist followers. It commemorates three main occasions in the life of the Lord Buddha himself; those are the birth of Prince Siddharta, the time when Prince Siddharta got enlightenment and became the Buddha, and the death of Lord Buddha.

As for the “pindapatta” itself, the way and the intention of the ritual held in Jakarta is slightly different compared to that in countries with Buddhist followers as a majority. From what I heard, the real intention of “pindapatta” is looking for foods to be eaten by the monks who do the ritual for the day, because the monks of Sangha Theravada are not allowed to make or cook their own meals. So, what they get in their wandering ritual is always ready-to-eat foods. In Jakarta, since the monks are not setting out every morning to gather foods, and also perhaps that their daily meals are already provided by their followers, the main intention of their “pindapatta” has shifted. They now are gathering donations to be relayed to others who are in need. That was why in Jakarta they received raw food as well as canned food, dry food, biscuits, and even medicines.

Happy Vesak Day, may all being be always happy!

 

Keterangan :

Minggu pagi ini ada sesuatu yang berbeda di Kawasan Kota Tua Jakarta. Dengan dipayungi mendung tipis yang menggelayut manja di langit pagi, serombongan Bhikkhu berjubah oranye (atau mungkin lebih tepat aku sebut coklat kekuningan saja ya?  :)), berjalan beriringan dengan bertelanjang kaki dari halaman Museum Jakarta sambil memegang “patta”-nya masing-masing di depan tubuhnya. “Patta” adalah sejenis mangkuk atau bejana yang dipergunakan para Bhikkhu aliran Theravada untuk mengumpulkan makanan yang akan mereka santap selama hari itu. Itu pulalah sebabnya ritual harian mereka berjalan keluar dari asramanya dipimpin oleh seorang Bhikkhu senior setelah melakukan meditasi pagi dengan tujuan untuk mencari derma berupa makanan dikenal dengan istilah pindapatta.

Pemandangan demikian tentunya merupakan suatu hal yang lumrah di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Buddha seperti Thailand dan Myanmar. Tetapi, tentunya akan menjadi pemandangan langka jika terjadi di Jakarta yang kita tahu mayoritas penduduknya bukan penganut agama Buddha.

Sayangnya aku tidak bisa ikut menyaksikan langsung acara pindapatta hari ini karena kondisi tubuhku yang belum memungkinkan. Untung saja aku masih menyimpan foto-foto yang aku dapatkan ketika aku menyaksikan pindapatta dua tahun lalu, sehingga pada kesempatan ini aku masih bisa memberikan sedikit gambaran mengenai ritual tersebut kepada para sahabat sekalian.

Di Indonesia, biasanya pindapatta diadakan setahun sekali, yaitu tiap menjelang Hari Raya Waisak, yang pada tahun ini akan jatuh pada tanggal 24 Mei yang akan datang. Seperti kita ketahui, Hari Raya Waisak merupakan hari besar bagi umat Buddha, dimana pada hari tersebut umat Buddha secara sekaligus memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Sang Buddha; yaitu saat kelahiran Pangeran Siddharta, saat Pangeran Siddharta menjadi Buddha setelah meperoleh pecerahan di Bodhgaya, dan saat wafatnya Sang Buddha.

IMG_PDP07

Sebetulnya ada sesuatu yang berbeda dengan pelaksanaan pindapatta di Indonesia, dan khususnya di Jakarta seperti yang aku lihat. Jika seharusnya ritual tersebut merupakan ritual mencari derma berupa makanan jadi yang akan menjadi santapan para Bhikkhu selama hari itu, maka apa yang dilaksanakan di Jakarta tidaklah demikian. Mungkin karena ketersediaan makanan para Bhikkhu ini sudah dijamin oleh umatnya, maka pindapatta di sini bergeser tujuannya menjadi sarana untuk mencari sumbangan yang nantinya akan disalurkan lagi kepada pihak-pihak yang lebih membutuhkan. Oleh karena itulah alih-alih makanan siap santap yang diletakkan dalam patta para Bhikkhu itu, justru berbagai bahan mentah, makanan kaleng, makanan kering, dan aneka macam biskuit yang dimasukkan. Bahkan aku melihat ada juga yang memberikan obat-obatan. Meskipun demikian, selama tujuannya baik, tentulah hasilnya akan baik pula, bukan?

Selamat Hari Raya Waisak bagi yang merayakannya, semoga semua mahluk berbahagia!

Categories: Event Pictures | Tags: , , | 54 Comments

Visiting a new Buddhist temple

beautiful golden stupa

beautiful golden stupa

“Did you go to Thailand recently?”

“Is that the famous temple in Myanmar?”

Those are some of many questions asked by my friends after they saw the pictures above. What about you? Do you think that the building in the above picture is in Thailand or Myanmar, too? If that so, then you are wrong my dear friends. The building is in Indonesia. It is in North Sumatera to be precise, even it is not too far from Medan. You are not too wrong to think that the building is not in Indonesia, because the physical appearance of the building is like those in Myanmar. Yes, the building here is a replica of Shwedagon Pagoda in Myanmar, although the one in North Sumatera is not as big as the original one. The place is called Taman Alam Lumbini (Lumbini Natural Park). It is a Buddhist centre as well as the place for worship to the followers of Lord Buddha.

Taman Alam Lumbini was inaugurated with a great ceremony in October 2010. The ceremony itself was attended by more than 1300 monks and more than 200 lay people from various countries around the world.

The main building of Taman Alam Lumbini is a two storey building with a giant golden stupa above it. The stupa itself is 46.8 meters tall.

The building compound is surrounded by a brick wall with a very big gate. There are two pillars with dragons side by side the gate, and behind the gate there are two statues which depicting The Goddess of Mercy and Ksitigarbha Boddhisattva. There is also a tall pillar with small bells that tinkling loudly as the wind blows. Some similar small bells are also placed at the top of the main stupa.

Inside the wall, a beautiful garden with many Buddhist statues is surrounding the main building. Before the main building there is a plaza, which always crowded by visitors. There are also some stalls sell vegetarian foods in there.

In the main building, there is a giant hall with four marble Buddha statues facing to every cardinal directions. In front of every statue lay some cushions to be used by kneeling worshippers, and there are also four cone-shaped-rotated lamps which housing many small Buddha statues in the corner between every two marble statues.

Non Buddhist visitors are allowed to enter the hall, but they have to keep silent and not to disturb other people praying in there. To enter the hall, ones should take off their shoes. Taking pictures with other means than camera is not allowed in there.

Everybody is free to visit Taman Alam Lumbini. There are no tickets or admissions to enter the place, but please keep your manner and ethics while you are in the compound considering that the place is the place of worship.

 

Ringkasan :

Ketika pertama kali melihat foto-foto di atas tanpa membaca keterangannya, banyak teman menyangka bahwa foto-foto itu aku ambil di Thailand atau di Myanmar. Memang jadi tidak terlalu salah, mengingat bahwa bentuk bangunannya menyerupai bentuk bangunan-bangunan di sana. Tapi jangan salah lho, bangunan ini terletak di Indonesia, tepatnya di Sumatera Utara. Posisi tepatnya adalah di antara Berastagi dan Medan. Memang tidak tepat di tepi jalan raya yang menghubungkan kedua kota itu, tetapi dari jalan puncak stupa yang menjulang setinggi 46,8 meter itu kelihatan dengan jelas.

Bangunan yang merupakan replika Pagoda Shwedagon di Myanmar ini dinamakan Taman Alam Lumbini. Tempat ini dibangun untuk menjadi pusat Agama Buddha terbesar di Indonesia. Peresmiannya baru dilakukan pada akhir Oktober 2010 yang lalu, dengan dihadiri oleh lebih dari 1300 rahib dan lebih dari 200 perwakilan umat dari berbagai negara di dunia ini.

Kompleks Taman Alam Lumbini dikelilingi pagar tembok dengan sebuah gapura yang diapit pilar berwarna merah dan dililit oleh naga di kiri kanannya. Di belakang gapura tersebut, terdapat patung Dewi Welas Asih di satu sisi, sementara di sisi lainnya terdapat patung Boddhisatva Ksitigarba. Kalau kita melangkah melalui gapura, kita akan berada di sebuah pelataran luas di depan bangunan utama. Di sebelah kiri terdapat semacam tiang berwarna emas dengan patung-patung yang indah, dimana pada puncaknya tergantung lonceng-lonceng kecil yang akan bergemerincing akibat tiupan angin. Di puncak stupa di bangunan utama juga terdapat lonceng-lonceng kecil sejenis. Di salah satu sudut pelataran itu terdapat beberapa kios yang menjual aneka makanan vegetarian.

marble statue in the main hall

marble statue in the main hall

Bangunan utama di kompleks ini berbentuk sebuah aula besar yang terletak di bawah stupa. Di tengah aula terdapat empat patung Buddha yang terbuat dari batu marmer dan diletakkan menghadap ke empat arah mata angin. Di sudut-sudutnya, di antara dua patung Buddha, terdapat lampu berbentuk kerucut yang berputar dan didalamnya terdapat banyak sekali patung-patung Buddha berukuran kecil.

Semua orang, termasuk yang tidak beragama Buddha, diperkenankan berkunjung ke Taman Alam Lumbini, bahkan sampai masuk ke dalam bangunan utamanya. Untuk masuk tidak dipungut biaya apapun, hanya saja kita diminta untuk melepas alas kaki jika ingin memasuki bangunan utamanya. Selain itu, kita juga harus tenang dan menjaga kesopanan karena banyak juga orang yang berdoa di situ. Anehnya, kalau biasanya diberbagai tempat lain pengunjung dilarang memotret mempergunakan kamera, khususnya kamera-kamera serius (SLR), di sini justru sebaliknya. Pengunjung dilarang memotret mempergunakan kamera yang terdapat di handphone ataupun di perangkat lainny.–

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 97 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.