Posts Tagged With: city

Corners of Baubau – the city landmarks

It was my first visit to Buton, an island located off the southeast peninsula of Sulawesi, Indonesia. After a long flight from Jakarta via Makassar, I landed on Betoambari Airport. The airport was small and also the only airport on the island.

By flew in to Buton, actually I missed one of a city landmark which could be seen clearly from afar. The landmark was similar to the Hollywood landmark as it depicted a big set of letters which notify everyone about the name of a location. The thing that made the one in Buton was not the same with the one in Hollywood, that the one in Buton could only be seen clearly when travelers came to Buton by sea. And similar to that in Hollywood, the set of letters in Buton was also located in a hill; in Buton, it called Kolema Hill. The landmark was known as “Baubau Letter” as it showed the name of the largest city on the island, Baubau.

IMG_BAU01

To satisfy my curiosity to the landmark, I went to Kolema Hill by car in the next day. It was a nice place although looked quite deserted. From a small platform at the base of the landmark, travelers could see the blue sea spanned to the horizon. And to make it more perfect to everybody who want to enjoy the atmosphere there, some street vendors offered local snacks and drinks. Yes . . . Baubau Letter has become one of local’s tourist destinations, especially for the teenagers.

IMG_BAU08

Perhaps some of you would ask why was Baubau’s name which was put as a landmark on Kolema Hill? Well . . . actually it was quite natural, aside that Baubau was the largest city on the island; Baubau was once the center of the ancient Buton Kingdom, too. Baubau was also the center of local government. The office of the Mayor of Baubau was located up another hill called Palagimata, and facing the city below. That was why that the plaza in front of the Mayor Office also became an interesting destination for them who wanted to see Baubau from above.

IMG_BAU12

There were two such monuments in front of the Mayor Office. One on the left was in a form of four stone pillars standing on circular platform symbolizing the Mia Patamiana or the four founding fathers of Buton Kingdom. According to an old manuscript written in the 13th century, there were four brave men from Malay Peninsula named Sipangjonga, Simalui, Sitamanajo and Sijawangkati came to Buton and found a settlement which later became a village called Wolio. The Mia Patamiana then appointed a leader for the village who they called Limbo. As Wolio became larger and stronger, it then turned into a kingdom, and the person who was appointed as a leader, actually a woman called Wa Kaa Kaa. People believed that Wa Kaa Kaa was one of the Khan of China’s daughters. It explained why there were similarities in some of Buton’s traditional attires to China’s traditional dresses.

Beside the apparels, the kingdom also adopted the mythical dragon similar to Chinese dragons as their mascot. According to them, dragon was perfectly depicted the Buton people’s character as they were strong, persistent and triumphant as a dragon. And as a reminder of their characteristics, the other monument in front of the Mayor’s Office was in a form of a dragon tail.

What? A dragon tail? Why was it only the tail? 😯 And where was the head and the dragon’s upper body?

According to the locals, the dragon tail symbolizing that every power some day some how should end, no matter how big the power was. That was why the monument was built in front of the center of the power on the island. The head, however, was built in Kamali Beach, a beach located at the southern part of the island’s port. The head and the upper body looked like just emerged from a big hole, while 5 kilometres away, up the Palagimata Hill, the tail seemed jutted out from a hole. So . . . as a whole, it seemed that the dragon was entering a hole in front of the Mayor’s Office and emerged at Kamali Beach. Wow . . . it really was a very long dragon 🙂

IMG_BAU18

Anyway, those city landmarks were only some of many other interesting places in Buton. There were many more that worth to visit, as there were hills, waterfalls, beaches, caves and many other places and interesting things on the island of Buton 😉

Keterangan :

Saat itu adalah kali pertama aku berkunjung ke Buton, sebuah pulau yang cukup terkenal sebagai salah satu penghasil aspal dengan kualitas terbaik di dunia. Pulau yang terletak di ujung tenggara Pulau Sulawesi ini, bisa dicapai baik melalui jalur laut maupun melalui udara. Ketika itu aku memilih melalui jalur udara dengan pertimbangan waktu. Maklum saja jatah cutiku tidak mengijinkan aku untuk meninggalkan kantor berlama-lama. Nah . . . akhirnya setelah melalui penerbangan panjang dari Jakarta dan transit di Makassar, siang menjelang sore itu aku mendarat di Airport Betoambari, yang hanya merupakan sebuah airport kecil dan juga satu-satunya di Pulau Buton.

Sebetulnya dengan melalui jalur udara, aku melewatkan sebuah pemandangan tidak biasa yang mengingatkan kita pada Hollywood di Amerika sana. Bukan karena film-nya, tapi justru karena landmark yang dimiliki Buton dan bisa kelihatan dari kejauhan. Ya . . . kalau kita menggunakan transportasi laut, sebelum kita masuk ke dermaga Murhum di kota Baubau, dari kejauhan, nun di atas bukit, akan kelihatan tulisan “Baubau”. Memang tulisan yang dibuat di atas Bukit Kolema itu seolah mengucapkan selamat datang di Pulau Buton kepada semua orang yang masuk Buton melalui jalur laut.

IMG_BAU02

Untuk memuaskan rasa penasaran karena tidak bisa melihat tulisan itu dari tengah laut, hari berikut aku di di Pulau Buton, aku memerlukan untuk mendatangi Bukit Kolema dan melihat tulisan Baubau itu dari dekat. Memang lokasi tulisan itu yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan nama Baubau Letter, sekarang sudah menjadi salah satu tujuan wisata warga setempat. Bagaimana tidak, karena selain bisa menikmati udara sejuk, dari pelataran tulisan itu, pelancong bisa menikmati bentang laut yang membiru dengan Pulau Makassar yang ada di lepas pantainya. Dan yang menambah keasyikan, di Bukit Kolema, di sekitar Baubau Letter itu, beberapa pedagang tampak menjual penganan dan minuman khas Buton. Jadi, tidak hanya mata saja yang dipuaskan dengan indahnya pemandangan, tetapi perutpun bisa kenyang :D.

IMG_BAU04

Sstt . . tahu nggak kalau menurut kepercayaan setempat, Bukti Kolema juga merupakan bukit jodoh? Konon kalau ada jomblo yang datang ke bukti itu seorang diri, bisa dipastikan pulangnya dia sudah memiliki pasangan 😛

Nah . . kemudian mengapa nama Baubau yang dipilih untuk ditulis di atas Bukit Kolema? Sebetulnya wajar saja sih mengingat Baubau memang kota terbesar yang ada di Pulau Buton. Bahkan berabad yang lalu, Baubau merupakan pusat Kerajaan Buton. Baubau juga merupakan pusat pemerintahan di Pulau Buton. Apalagi sejak tahun 2001 yang lalu Baubau telah memperoleh status sebagai Kota. Karena itulah, tidak mengherankan kalau di Baubau ini terdapat Kantor Walikota. Dan tahu nggak? Kantor Walikota Baubau termasuk megah lho. Lokasinya berada di atas Bukit Palagimata dengan pemandangan Kota Baubau terbentang di bawahnya. Karena itu, tidaklah mengherankan kalau di depan Kantor Walikota itu juga menjadi tempat pesiar bagi warga lokal maupun para pelancong yang ingin menikmati pemandangan Kota Baubau dari ketinggian.

IMG_BAU11

Di depan Kantor Walikota terdapat pelataran yang luas dan bersih yang menurut perkiraanku merupakan tempat diselenggarakannya upacara-upacara resmi mengingat di situ juga terdapat tiang bendera yang cukup tinggi. Di seberang jalan raya yang terbentang di depan pelataran luas itu, di tepi tebing, terdapat lagi pelataran yang tidak terlalu luas. Di ujung kiri dan kanan pelataran itu terdapat dua bangunan serupa tugu, yang satu berupa empat pilar batu di atas sebuah pelataran bundar sementara yang lain berupa ekor naga.

Lho koq cuma ekor? Kepalanya kemana? 😯

Mau tahu . . . ? Ok aku kasih tahu deh dimana kepala naganya berada. Jangan kaget kalau aku katakan bahwa kepala naga itu terletak di Pantai Kamali yang berada di sebelah selatan Pelabuhan Murhum. Memang kalau di lihat, ekor naga itu mencuat dari pelataran berbentuk lingkaran yang kalau diperhatikan baik-baik mengesankan kalau sang naga masuk ke lubang menembus bukit sampai ke Pantai Kamali yang berjarak kurang lebih 5 kilometer dari situ dan muncul di sana karena kepala naga itu juga berdiri di atas pelataran bundar juga. Kebayang kan betapa panjangnya naga itu kalau memang badannya betul-betul dibikin juga?

IMG_BAU17

Kenapa naga? Begini . . . , jadi menurut penuturan warga setempat, naga atau Lawero menurut bahasa setempat, adalah binatang yang mengingatkan orang Buton akan asal-usulnya. Menurut cerita turun temurun, dipercaya bahwa leluhur orang Buton berasal dari Negeri China, bahkan raja pertama Kerajaan Buton adalah seorang putri yang berasal dari Negeri Tirai Bambu bernama Wa Kaa Kaa. Karena itulah Kerajaan Buton juga mempergunakan naga sebagai lambang resmi kerajaan. Bagi mereka, naga merupakan lambang kekuatan, kegigihan dan kejayaan. Meskipun demikian, menurut mereka, sekuat apapun kekuasaan, pada suatu ketika pasti akan berakhir, itulah sebabnya patung ekor naga di bangun di depan Kantor Walikota dan dimaksudkan sebagai pengingat bahwa kekuasaan diberikan oleh rakyat dan tidak bersifat abadi.

Sementara itu, bangunan tugu lainnya yang berupa empat buah pilar melambangkan Mia Patamiana, yaitu empat tokoh pendiri kerayaan Buton. Mereka adalah Sipangjonga, Simalui, Sitamanajo dan Sijawangkati. Asal usul keempat orang tersebut adalah dari Tanah Melayu; dan hal ini tercatat dalam Sejarah Semenanjung Tanah Melayu yang ditulis pada abad ke tiga belas. Konon Mia Patamiana ketika tiba di Pulau Buton, membuka lahan dan membentuk sebuah pemukiman yang kemudian dikenal dengan nama Wolio. Mia Patamiana kemudian juga menunjuk seseorang untuk memimpin pemukiman itu dengan sebutan Limbo. Nah . . Desa Wolio inilah yang menjadi cikal bakal Kerajaan Buton nantinya.

Itulah sepintas mengenai beberapa landmark yang ada di sekitar kota Baubau. Dan bagi para pelancong yang datang ke Buton, jangan kuatir kehabisan obyek yang dikunjungi, karena beberapa landmark yang aku sebutkan dalam postingan ini hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak tempat menarik yang layak dikunjungi kala kita menjejakkan kaki di Buton.–

IMG_BAU13 IMG_BAU03

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 25 Comments

Makan malam di Warung German

Warung German? Gak salah tulis tuh? Iya Bozz, aku gak salah tulis koq, karena memang itu yang tertulis di restonya dan juga di sign-board yang ada di depan gedung dimana resto ini berada. Tapi . . . biarlah, mungkin itu merupakan strategi pemiliknya untuk menarik pengunjung ke rumah makan yang sudah memiliki beberapa outlet ini. Aku sendiri, Jumat malam kemarin berkesempatan untuk mencoba beberapa makanan di warung modern yang mengusung slogan “happiness is homemade” itu di outlet yang baru saja dibuka tanggal 11 Oktober yang lalu di Bintaro Entertainment Center. Dan karena baru seminggu dibuka, masih ada beberapa jenis makanan yang belum tersedia meskipun tercantum dalam menunya. Waiter yang melayaniku sampai beberapa kali minta maaf karena beberapa menu yang ingin aku pesan ternyata belum tersedia.

IMG_FWR15Anyway, Warung German ini memiliki nama dagang Frank Wurst, dengan logo bergambar seorang lelaki gendut berkumis melintang memegang cangkir bir yang cukup besar, dan mengenakan busana khas Jerman, termasuk juga topinya. Kalau melihat nama dan logonya, orang boleh berharap bahwa di resto ini bisa diperoleh aneka makanan khas Jerman, khususnya berbagai jenis sosisnya dan tentu juga beer  😀

Outlet Frank Wurst – Warung German yang ada di Bintaro Entertainment Center terletak di lantai dua bangunan tersebut, dengan model gerai yang terbuka. Jadi jika kita berjalan-jalan di selasar lantai dua itu, maka interior resto yang kelihatan cukup cerah ini bisa tmpak dengan jelas tanpa perlu bersusah payah melongok melalui pintu. Ya iyalah wong di situ gak ada pintunya  😛

Pada saat aku ke sana, dari sekitar 15 meja yang tertata rapi di ruangan berbentuk huruf “L” itu, hanya beberapa yang terisi. Jadi masih mudah buat aku untuk memilih posisi meja yang aku kehendaki. Meja-meja yang dipergunakan di situ di finish dengan nuansa natural, jadi masih terlihat tekstur kayunya, demikian juga kursi-kursi yang melengkapi meja-meja berukuran kecil. Meja-meja yang berukuran lebih besar dilengkapi dengan tempat duduk semi sofa yang cukup nyaman dengan kain kursi bermotif bunga. Di atas masing-masing meja terletak hiasan berupa bunga dalam pot-pot mungil.

the interior of the restaurant

Di salah satu sudutnya terdapat bar yang dilengkapi kursi bulat dengan bantalan terbungkus kulit kambing lengkap dengan bulu-bulunya. Bar ini berfungsi sebagai tempat untuk meracik minuman yang akan disajikan. Di bagian lain terdapat sebuah jendela kaca yang cukup lebar yang membatasi area saji dengan area dapur yang kelihatan bersih dan terang.

Dinding resto di dominasi warna kuning tua dengan lantai dari parquette kayu sehingga suasananya terasa hangat dan homey. Beberapa poster bernuansa vintage menghiasai salah satu sisi dinding, sementara di sisi lain terdapat lukisan bermotif daun. Di belakang meja kasir juga terdapat lukisan, tetapi yang ini menggambarkan seorang gadis dengan rambut dikepang dengan busana khas Jerman sedang membawa sosis di atas piring.

Nah sekarang soal makanannya. terus terang menurut aku sih cukup enak. Jumat malam kemarin aku memesan bruschetta, nachos, bagel burger, spaghetti carbonara, dan chicken schnitzel. Banyak ya? He he he . . . itu gak aku makan sendirilah, gak muat perutku. Itu makanan pesananku beserta keluarga  :D. Semula sih pengen nyoba hot-dog atau bratwurst-nya, sayang kemarin itu semua jenis sosis belum tersedia.

Untuk harganya,menurut aku masih normallah untuk level sebuah rumah makan di sebuah mall. Satu porsi makanan rata-rata sekitar 50K, kecuali untuk beberapa jenis beef steak yang memang aku tahu di tempat lain harganya juga cukup mahal. Kemarin itu kebetulan aku lagi gak terlalu berminat makan beef. Lain kali aku harus balik lagi untuk mencoba nih  🙂

IMG_FWR06Untuk minumannya, cukup banyak juga pilihannya. Aku lihat ada beberapa jenis beer juga. Semula aku bermaksud untuk menggoda waiter atau waitress-nya kalau gak ada beer di resto yang mengusung tema resto di Jerman ini, eh ternyata ada. Jadi deh aku gak jadi godain mereka, lagi pula kemarin itu aku juga cuma pesan teh hangat koq.

Nah . . . untuk yang tinggal di Jakarta atau kebetulan berkunjung ke Jakarta dan pengen mencoba bersantap di resto ini, Frank Wurst punya dua outlet, yaitu di Kemang Timur Raya dan di Bintaro Entertainent Center itu. Di Yogya juga ada loh, posisinya di daerah kota Baru, tepatnya di Jalan Sabirin. Trus katanya mereka akan buka cabang juga di Malang, Jawa Timur.

Eh aku nulis ini bukan buat promo lho ya, aku gak dibayar buat bikin tulisan ini koq. Ini murni iseng gara-gara nyobain kamera-phone-ku untuk motret makanan. Terus karena suasana resto yang cukup homey, aku iseng juga motret suasana dan interiornya. Nah berhubung banyak juga hasil jepretanku, aku pikir kenapa gak bikin postingan aja. Yah itung-itung belajar bikin review gitu deh  😎

 

Summary :

This is a short review about a new outlet of a restaurant in Bintaro Entertainment Center in Tangerang, a Jakarta’s satelite city, as I happened to have dinner in there with my family last Friday. The restaurant adopts and also calls itself a German tavern. It name is Frank Wurst. It also has a slogan “happiness is homemade”. The outlet where I had my dinner is the third outlet of Frank Wurst and also the newest, since it has just opened for about a week. The other two are in Kemang – South Jakarta and in Yogyakarta. Soon they will also have another outlet in Malang – East Java.

The interior was quite homey and warm. Its yellow wall is decorated with some vintage style posters and some vignette. There are only about 15 tables in the room. In a corner there is a bar which is used as the serving corner for any kind of drinks ordered by the guests. The pantry is in another side, separated by a big glass window with the dining area.

The foods are quite delicious although some items in the menu were not avalilable yet when I was there. The waiter said that they will serve their full items in these days as the restaurant will be fully operated by then. Well . . . I think I have to go back there to prove what they had already said, and also to try other kind of foods, of course. Last Friday, I’ve just tried bruschetta, nachos, bagel burger, spaghetti carbonara, and chicken schnitzel. I hope that others I’ve never tried yet are as good as the ones that I’ve already tried  🙂

IMG_FWR13

Anyway, I wrote the review not to promote the restaurant. It was started when I tried my camera-phone to snap on some foods I ordered. When I saw the results, I thought that I have to share them to you all. So I started to snap also on the interior of the restaurant to make my post more complete, since I think it will look incomplete if I just posted some food pictures without anything. Say that I only learned how to write a review on something in this post  😛

Categories: Food Notes | Tags: , , , | 96 Comments

A corner of Bandung – From dusk till dawn

Bandung is the third largest city in Indonesia. It is also the capital of West Java Province. The city is located on a 768 meters above-sea-level plateau and surrounded by mountains, which makes the temperature quite cool all year long. The mountains around Bandung with their long volcanic activities make the land of the area fertile. The combination of fertile soil and cool temperature is perfect for plantations, especially tea. That is why travelers can find many tea plantations around Bandung.

With its beautiful landscape and cool weather, Bandung is known as a kind of resort area which attracted many people from Jakarta who flooded Bandung and make heavy traffics in Bandung almost every week-end.

5:28 PM

5:28 PM

With so many factories, especially garment, Bandung is also known as a business city as well, while for others it is also known as a student city, for there are many universities can be found in and around Bandung.

Dago, is an area in the northern part of the city which is considered as the residential area for the elite in the colonial era. Nowadays travelers who visit Bandung can find rows of restaurants and hotels as well as clothing outlets in the area.

I took these pictures from Dago Pakar, an area more to the north that considered as the highest part of the city. Nowadays, there are many cafes and restaurants which offer dramatic views of the city from above, so people can enjoy delicious meals while seeing the vistas. Some people prefer to visit the area by night in order to see Bandung’s city light. Can you imagine how romantic it is when you have a candle light dinner with your loved one overlooking the beautiful sea of city lights that glitter like diamonds while local musician playing a sweet love song?

7:44 PM

7:44 PM

 

Ringkasan :

Siapa yang gak kenal Bandung, sebuah kota indah dengan udaranya yang sejuk, yang juga menjadi ibu kota Propinsi Jawa Barat? Kota yang terletak di sebuah dataran tinggi dan dikelilingi gunung gemunung ini, akhir-akhir ini selalu mengalami kepadatan lalu lintas pada akhir pekan akibat membanjirnya pengunjung dari Jakarta dan kota-kota sekitarnya. Memang sejak dahulu Bandung yang terletak di ketinggian 768 meter di atas permukaan laut telah terkenal sebagai kota wisata, selain juga dikenal sebagai kota pelajar dan kota bisnis.

5:41 AM

5:41 AM

5:54 AM

5:54 AM

Di sebelah utara kota, terdapat sebuah daerah yang dikenal sebagai daerah elite-nya Bandung. Daerah yang sekarang penuh dengan berbagai factory outlet, restoran dan hotel ini dikenal dengan nama Dago. Lebih ke utara lagi, terdapat daerah perbukitan yang katanya merupakan tempat tertinggi di kota Bandung yang dikenal dengan sebutan Dago Pakar.

6:26 AM

6:26 AM

Foto-foto di postingan ini aku ambil di Dago Pakar yang sekarang mulai dipenuhi dengan cafe dan restoran yang menawarkan keindahan pemandangan kota dari ketinggian, khususnya pada malam hari. Kebayang gak betapa romantisnya suasana makan malam berdua dengan orang yang terkasih di sebuah cafe dengan diterangi cahaya lilin, sambil memandang kerlip lampu-lampu kota di kejauhan yang berkilau seperti berlian, sementara band setempat melantunkan tembang cinta?

a new day is coming

a new day is coming

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 74 Comments

Blog at WordPress.com.