The land of a thousand fortresses

There were some places in Indonesia which known to have many specific buildings hence it called to have thousands of that specific buildings; for example Bali which called the island of a thousand Hindhu Temples; and other example was a small town called Singkawang in West Kalimantan which called a town with a thousand Chinese Temples.

Now, I’d like to introduce you to a place which known as a land of a thousand fortresses. The place was an island located at the south eastern of Sulawesi peninsula. The island was known as Buton Island. And although it was just a relatively small island, Buton had so many fortresses which originally were built during the sultanate era in the Middle Ages. Some of them were already ruined, while others were well maintained and became one of the island’s points of interests.

IMG_BKW14

One of the biggest fortresses in Buton was known as the Buton Palace Fortress or some people also called the Wolio Palace Fortress. The fortress was so big, as it covered an area of more than 57,700 acres and made the fortress been recorded as the most enormous fortress in the world by the 2006 Guinness Book of World Records.

The 2 meters thick and 4 meters high fortress was made of corrals and limestone. At first, it was built only as a border between the palace’s areas with the common people residences, hence it only in the form of corrals and limestone piles which was built surrounding the palace’s compound. Later on, in the reign of Sultan Dayanu Ikhsanuddin (1597-1631), the fourth Buton Sultan, the piles of rocks was being reconstructed and strengthened to become the real fortress.

IMG_BKW04

The Buton Palace Fortress had 12 gates along it and each gate had its own design and structure. The one I visited had a gazebo-like structure on top of the gate which functioned as an observation deck. The locals called the gate “lawa” and they believed that the 12 gates represented the 12 holes in a human body.

IMG_BKW01

Aside of the 12 gates, the fortress also had 16 “baluara” or bastions. On two of those bastions, there were armories to keep all the munitions. Travelers could also still see old canons that placed on top of the fortress every several meters, as if they were still ready to fire in defending the land against enemies’ attacks.

IMG_BKW12

Perhaps some of you would ask, what were there inside the fortress?
Well, inside the fortress, there were some old buildings and other things that were actually relics of the Buton Sultanate era in the past. For all those relics, however, I intended to bring to you in the next post along with a brief description about them. Ok?😎 .—

Keterangan :

Kita tahu ada beberapa tempat di negeri kita ini yang menyandang sebutan “seribu . . . “ karena di tempat itu banyak terdapat bangunan tertentu; misal saja Bali yang dikenal dengan sebutan Pulau Seribu Pura, atau Singkawang di Kalimantan Barat yang dikenal juga dengan sebutan Kota Seribu Kelenteng, selain itu ada juga Manggar di Belitung Timur yang juga dikenal sebagai Kota Seribu Warung Kopi. Nah . . dalam postingan kali ini, ceritanya aku sampai di Pulau Seribu Benteng nih. Mungkin sudah bisa menduga kan aku mau ngomongin pulau apa, khususnya buat mereka yang sudah sempat baca postinganku sebelum ini . . . yup, aku masih ngomong soal Pulau Buton.

Ya . . di pulau yang tidak terlalu luas ini memang terdapat banyak sekali benteng yang merupakan peninggalan berbagai kerajaan yang pernah berdiri di Pulau Buton pada abad-abad lalu. Beberapa benteng itu sudah berbentuk reruntuhan saja, tetapi ada juga yang masih utuh, bahkan kawasan sekitarnya sengaja ditata dan dilengkapi dengan taman sehinga kelihatan menarik. Salah satu dari yang masih utuh ini adalah benteng yang dikenal sebagai Benteng Keraton Buton atau ada juga yang menyebutnya sebagai Benteng Keraton Wolio. Dan tahu nggak sih kalau ternyata Benteng Keraton Buton ini pernah masuk di Guiness Book of World Records tahun 2006 sebagai benteng terluas di dunia? Hebat kan? Benteng yang meliputi wilayah seluas 23.375 hektar ini bahkan lebih luas dari benteng di Denmark yang sebelumnya dikatakan sebagai yang terluas di dunia😀

IMG_BKW06

Selain terluas, Benteng Keraton Buton juga disebut yang terunik, bagaimana tidak kalau bebatuan yang dipergunakan untuk membuat benteng ini tidak direkatkan dengan semen melainkan dengan campuran rumput laut, pasir dan putih telur. Dan hebatnya benteng ini masih bertahan setelah melalui rentang waktu terbilang abad. Benteng yang bertinggi rata-rata 4 meter dan panjangnya hampir 3 kilometer ini mengelilingi sebuah bukit sehingga betul-betul menjadi titik pertahanan yang susah ditembus.

IMG_BKW08

Cikal bakal benteng ini semula hanyalah tumpukan batu yang dimaksudkan sebagai pembatas wilayah istana dengan perkampungan penduduk. Pada masa pemerintahan Sultan Dayanu Ikhsanuddin (1597-1631), di beberapa tempat tumpukan batu itu diperkuat menjadi benteng pertahanan yang mereka sebut ‘baluara’. Tepatnya ada 16 baluara yang dibangun saat itu dengan dua diantaranya dibangunkan juga semacam gudang amunisi di atasnya. Gudang amunisi ini disebut ‘godo’ yang berarti ruang penyimpanan dalam bahasa setempat.

IMG_BKW05

Baru pada masa pemerintahan Sultan Buton yang kelima, yaitu Sultan Gafarul Wadudu (1632-1645), baluara-baluara itu mulai dihubungkan satu sama lain sehingga membentuk benteng yang kuat. Sang Sultan juga memerintahkan dibuatnya 12 gerbang yang menghubungkan wilayah di dalam benteng dengan wilayah di luar benteng. Dibuatnya 12 gerbang, atau ‘lawa’ dalam bahasa setempat, melambangkan adanya 12 lubang yang ada pada tubuh manusia. Masing-masing lawa tersebut memiliki bentuk dan bahan yang berbeda-beda. Salah satu lawa yang aku kunjungi memiliki semacam anjungan dari kayu di atasnya yang dahulu juga berfungsi sebagai pos pengamatan.

IMG_BKW07

Di atas benteng itu, sampai sekarang pelancong masih tetap bisa menyaksikan banyaknya meriam besi peninggalan Portugis maupun Belanda yang moncongnya mengarah keluar benteng, seolah-olah masih saja bersiaga untuk menangkis serangan musuh yang sewaktu-waktu akan menyerang.

IMG_BKW02

Nah . . kalau ada kesempatan ke Buton, nggak ada salahnya kalau sekalian berkunjung ke Benteng Keraton Buton ini. Dengan berdiri di atas benteng, selain kita bisa merasakan sensasi seolah sedang mengintai musuh yang siap menyerang, kita juga bisa menikmati pemandangan indah perairan Buton sementara di bagian lain kita bisa juga melihat kota Baubau dari ketinggian lho . . .

IMG_BKW03

Dari tadi kan ngomongin bentengnya melulu nih, trus di dalam bentengnya ada apa? Masa cuma tanah lapang luas?

Iya . . di dalam benteng ada banyak bangunan juga sih, selain perkampungan masyarakat adat juga banyak bangunan lain yang merupakan peninggalan Kesultanan Buton di abad yang silam. Tapi . . . nanti aku ceritakannya di postingan berikut aja ya. Kalau di sini kuatir kepanjangan juga nih😛 .–

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 16 Comments

Post navigation

16 thoughts on “The land of a thousand fortresses

  1. wah .. di sini banyak benteng?
    baru tau pak.., kupikir hanya benteng keraton ini aja.. nunggu lanjutan ceritanya

  2. Sunset di benteng mengarah ke laut ini keren loh om..

  3. ,Mantaaaaab…… makasih buat postingannya, Pak Chris… ditunggu cerita selanjutnyaaa

  4. mas chris saya suka banget liat foto view laut yang dari balik benteng itu juga sudut pengambilannya…. #cantiiik

    salam
    /kayka

  5. Menarik sekali Om Chris. Indonesia ternyata juga punya benteng klasik macam ini. Setahu saya benteng-benteng yang ada itu peninggalan kolonial yang mana bentuk bangunannya setipe. Kalau kiranya saya mampir ke Pulau Buton, nanti saya sempatkan mampir ke sana Om.

  6. ….Benteng Keraton Buton ini pernah masuk di Guiness Book of World Records tahun 2006 sebagai benteng terluas di dunia…. luar biasa, menggambarkan ketangguhan bangsa bahari ya Pak. Perekatnya juga kearifan lokal rumput laut.
    [semoga tidak bosan menerima syukur terima kasih saya diajak keliling Nusantara]

    • Setuju sekali, Bu. Memang bangsa kita luar biasa, yang sayangnya keunggulannya sering kali tidak terekspose dengan baik

  7. jadi benteng2 sebanyak itu dimiliki oleh semua keluarga kerajaan buton … apakah disana ada bekas benteng dari penjajah ?

    • Benteng bukan dimiliki oleh keluarga kerajaan, tetapi dimiliki oleh kerajaan. Jadi menurut info yang aku dengar ketika di sana, keluarga raja tidak berhak atas asset negara karena semua dimiliki oleh negara, dan raja juga tidak berlaku turun temurun melainkan dipilih secara demokratis.
      Benteng penjajah setahu aku nggak ada sama sekali di Buton

  8. Ooh..jadi di dalam benteng itu ada perkampungannya ya? Saya pikir tadinya mirip istana…apa mungkin benteng itu memang dibangun untukmelindungi penduduk setempat ya Pak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: