Posts Tagged With: waterfall

A big spring in a dry land

How time flies so fast, a month had passed since my last post … 😯

Anyway, for several posting ahead, I’ll take you back to Sumba, an island located in East Nusa Tenggara Province, Indonesia; an island that was started to be known to the world for its natural beauty. And this time, allow me to take you wander around in South Western Sumba Regency.

First stop was in a village called Tema Tana, in East Wewewa Sub District, about 30 kilometres to the south from Tambolaka. The distance could be covered in about one hour drive through a relatively good road; and when the car stop, the view of a lush paddy field stretched before our eyes.

As we looked at such a view, who would believe that Sumba was a dry land?

Yes, the dry season in Sumba took longer than the rainy season. Usually it took 9 months, while the rainy season was only about 3 months. The 3 months rainy season was not enough to water the dry land resulted by the long dry season. That was why in Sumba travellers could easily find savannah instead of green and lush field.

Fortunately, there were many springs could be found in some parts of the island, the one that considered the biggest spring in Sumba was located in Tema Tana Village; it called Waikelo Sawah. The lush paddy fields which pictures I put in here was the results of a good irrigation system with a constant flow of water from the spring.

The spring itself was located in a big cave which the entrance could easily been seen from the fields below. It was said that the spring was formed from an underwater river which stream broke through a crevice located in the cave which in turn formed a deep pool in the cave. The stream was proved to have a very fast current, so the water flowed from the cave was also very big.

In 1976, the local government started to build a dam in front of the cave, so the fast current could be more useful for the people in the area. With the dam, the water could be use as a hydroelectric power plant as well as a constant source of water for the local’s fields and needs.

And as the spring was so big, it never dry even in a long dry season, so in such season travelers could see that many locals came to Waikelo Sawah not to spend their leisure time, but for fulfilling their daily need of water, that was includes taking a bath and washing their clothes.

Usually Waikelo Sawah would be visited by many travelers on the months of February and March when the locals carried out their annual ritual called Pasola, and also in November when the locals held the Wula Podu ritual.–

Keterangan :

Wah nggak terasa sudah sebulan lebih aku nggak posting di sini. Cepatnya waktu berlalu . . . 😯

Kali ini aku balik lagi ke Pulau Sumba nih, yup Sumba yang terletak di Propinsi Nusa Tenggara Timur yang akhir-akhir ini mulai terkenal karena keindahan alamnya yang masih asli dan adat istiadatnya yang masih cukup terjaga. Mudah-mudahan setelah lebih banyak pelancong yang berkunjung ke sana, semuanya tetap terjaga dan tidak rusak ya.

Nah . . postinganku mengenai Sumba kali ini akan aku mulai dari desa Tema Tana yang terletak di Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya. Jaraknya kurang lebih 30 kilometer di sebelah selatan Tambolaka yang menjadi ibu kota kabupaten. Jarak sejauh itu bisa ditempuh dengan berkendara selama kurang lebih 1 jam melalui jalan yang relatif mulus, hanya saja di tengah perjalanan para pelancong akan menemukan pasar yang pada saat-saat tertentu akan menghambat laju kendaraan karena ramainya orang yang berlalu lalang membawa barang belanjaan, baik yang akan dijual di pasar maupun yang baru mereka beli di pasar itu.

Tempat yang aku tuju pagi itu dikenal dengan nama Waikelo Sawah. Setelah berbelok dari jalan utama, aku menyusuri jalan yang lebih kecil yang berakhir di tepi sawah yang kelihatan sangat subur. Ketika aku ke sana, padi sudah mulai menguning sehingga pemandangannya cukup menyegarkan mata.

Kalau melihat kondisi sawah-sawah di situ, percaya nggak sih kalau dikatakan bahwa Sumba merupakan pulau yang kering?

Iya, nggak salah, kering; karena musim kemarau di Sumba relatif panjang. Kemarau di sana bisa berlangsung selama 9 bulan tiap tahunnya,s ementara musim penghujannya hanya berlangsung sekitar 3 bulan. Tentu saja musim penghujan sesebentar itu tidak akan bisa menghapus semua kekeringan yang diakibatkan oleh kemarau yang berkepanjangan itu. Belum lagi kalau fenomena El Nino melanda, bisa-bisa sepanjang tahun kering terus.

Tapi untunglah di Sumba banyak juga mata air yang bisa dipergunakan penduduk untuk memenuhi kebutuhan air mereka. Salah satu mata air yang terbesar ya Waikelo Sawah ini. Hamparan sawah yang subur seperti yang gambarnya aku sajikan di sini juga bisa dibilang merupakan hasil dari terjaminnya pasokan air untuk mengairi sawah-sawah itu.

Di Waikelo Sawah ini, sumber mata airnya terletak di dalam sebuah goa yang lumayan besar. Tinggi goa itu rasanya sih lebih dari 3 meter dan di puncak goa itu ada lubang sehingga sinar matahari bisa menerobos masuk dan menerangi ruangan gua yang bagian bawahnya berupa kolam yang cukup luas. Jadi kelihatan seperti danau di dalam gua. Limpasan air dari dalam gua inilah yang kemudian dialirkan ke sawah-sawah di sekitarnya selain juga untuk memenuhi kebutuhan air penduduk sekitarnya.

Konon sumber air ini sebetulnya merupakan aliran sungai bawah tanah yang muncul ke permukaan di situ. Derasnya aliran air membentuk semacam air terjun di mulut gua. Dengan adanya aliran air yang cukup deras ini, pemerintah daerah setempat pada tahun 1976 mulai membangun sebuah bendungan sehingga aliran air itu bisa memiliki manfaat lebih, bagaimana tidak, aliran air yang cukup deras itu sekarang juga sudah dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik tenaga air yang memasok daya listrik ke daerah sekitar situ.

Sumber air di Waikelo Sawah ini tidak pernah kering, bahkan di musim kemarau panjang sekalipun. Karena itulah di musim kemarau, jika pelancong berkunjung ke sana, maka pelancong akan mendapati bahwa banyak orang datang ke Waikelo Sawah. Tujuan utama mereka ke sana bukannya berwisata, melainkan untuk memenuhi kebutuhan mereka akan air, termasuk juga untuk mandi dan mencuci.

Biasanya Waikelo Sawah akan banyak dikunjungi pelancong pada bulan-bulan Februari dan Maret karena pada bulan-bulan itu bertepatan dengan diselenggarakannya Pasola yang rutin diadakan oleh masyarakat setempat setahun sekali. Kemudian pada bulan November kembali akan banyak pelancong datang karena di bulan itu bertepatan dengan diselenggarakannya ritual Wula Podu.–

Advertisements
Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 20 Comments

A warm watered waterfall

I was still in North Kalimantan Province, Indonesia. After spending a night in Tarakan, I moved further north to a town called Malinau.

To reach Malinau from Tarakan, travelers could choose to fly in a very short flight or a long trip through Sesayap River on a speedboat. The flight from Tarakan to Malinau was only 17 minutes, while the speedboat from Tarakan’s port to Malinau’s port took approximately 3 hours.

So what made me went to Malinau?  🙄

First of all, I’d never been in Malinau before. Another reason was . . . I heard that there was a unique waterfall located close to Malinau. The waterfall was not high; even it might be called a dwarfed waterfall. Or . . . was it waterfall the right term to call this one?

img_sem05

The height of the waterfall was only a few meters. It was a terraced waterfall that consisted of many terraces with a shallow pool under each terrace. The final pool was a river that literary bordering the forest area with the non forest area; and the two parts was connected by a hanging bridge.

img_sem04

Travelers could climb and play at each pool without worry because it was not slippery. Aside of that, the more interesting thing was the fact that the water flowed through the waterfall was quite warm.

img_sem07

At that time, triggered by an escalating curiosity, I asked my trip partner to walk deeper to the forest, along by the river to find the hot spring. After walking for about 200 meters, our steps stopped when there was a giant rock blocked our way. The river we followed also ended at that very place. It seemed that the spring was located behind the rock, because when we stood in the river, we could feel warmer current flow from that direction. We also saw a tiny waterfall beside the rock.

img_sem14

Before we decided to go back to the waterfall, my trip partner suddenly saw a path that almost covered by grass and bushes located across the river. Was that the path that would lead us to the real hot spring?

So . . . to find the answer, instead of heading back to the waterfall, we crossed the river and started to climb, to reach and then followed the hidden path.

The path ended at a point which forced us to go down to the river and we continued our trek literary in the middle of the warm current with cliff on both sides. We walked against the current, and the further we walk the warmer the water in the river.

At last, hidden behind a cliff, we found a pool with vapor emanating from the water, indicating that the water was quite hot comparing to the temperature of the surrounding area. In the middle of the pool, there was a rock covered by yellowish material, and from the rock hot water gushed like a man made fountain.

img_sem16

The same yellowish material also covering some parts of other rocks located at the pool side. Some of those rocks also had hot water squirting although those were not as big as the natural fountain in the middle of the pool.

img_sem18

The place, which was known to locals as Semolon Hot Spring, located in Paking Village, Malinau Regency. It took approximately 1.5 hours drive to come to the place from the town center. There was no public transports serving the route, so to come to Semolon, travelers should rent a car or a bike in Malinau. The place was relatively deserted when I was there, but it was good for travelers who want to feel and to hear the nature, wasn’t it? 🙂

img_sem09

Keterangan :

Aku masih pengen sedikit membagikan catatan dan foto-foto yang aku dapatkan di Propinsi Kalimantan Utara nih ceritanya. Jadi . . . setelah semalam bermalam di Tarakan, aku beranjak lebih jauh ke utara, menuju sebuah kota yang menjadi ibukota dari salah satu kabupaten yang berlokasi tidak jauh dari perbatasan negara kita dengan Malaysia. Nama kota yang menjadi tujuanku itu adalah Malinau. Konon nama kota ini muncul pada masa penjajahan Belanda. Jadi ketika itu ada orang Belanda yang datang kepada penduduk setempat dan menanyakan nama sungai yang mengalir di daerah itu, tetapi penduduk setempat menyangka kalau orang Belanda itu menanyakan apa yang sedang mereka kerjakan. Karena itu mereka menjawab sedang membuat sagu dari pahon aren. Dalam bahasa penduduk setempat, membuat sagu disebut mal dan pohon aren di sebut inau. Dari situlah orang-orang Belanda mengenal daerah itu dengan nama Malinau, dan sampai sekarang daerah yang akhirnya menjadi kota itu tetap disebut dengan nama Malinau.

Untuk menuju Malinau, pelancong bisa memilih moda transportasi udara ataupun moda transportasi air. Jika memilih untuk terbang, jarak Tarakan – Malinau bisa ditempih dalam waktu yang sangat singkat, kurang lebih hanya 17 menit; sedangkan jika mempergunakan transportasi air, jarak tersebut bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam dengan mempergunakan speedboat.

Jadi . . . apa yang membuat aku tertarik untuk ke Malinau?  🙄

Pertama-tama tentu saja karena aku belum pernah ke sana sebelumnya 😛. Alasan lain adalah karena aku dapat kisikan bahwa di sana terdapat sebuah air terjun yang unik meskipun air terjun tersebut tidaklah tinggi, bahkan mungkin bagi beberapa di antara kita tidak akan menyebutnya sebagai air terjun.

img_sem06

Betapa tidak, dengan tinggi yang hanya beberapa meter, itupun airnya tidak terjun dengan deras ke sebuah kolam di dasarnya seperti umumnya air terjun yang kita kenal, melainkan airnya seolah turun melalui beberapa tingkatan yang masing-masing tingkatannya memiliki kolam dangkal, sebelum akhirnya mengalir ke sebuah sungai yang seolah membatasi wilayah hutan tempat air yang mengaliri alur air terjun itu berasal, dengan daerah yang tidak berhutan, dan sebagian sudah dijadikan sarana parkir kendaraan yang dilengkapi dengan bangunan serupa gazebo untuk duduk-duduk para pelancong.

img_sem02

Meskipun demikian, pelancong tetap bisa menyeberangi sungai tersebut dan bermain di kaki air terjun itu, baik dengan cara menyeberangi sungai yang dangkal itu ataupun melalui jembatan gantung yang melintang di atas sungai.

img_sem03

Selain untuk mengagumi keindahannya, banyak pelancong sengaja menyeberangi sungai dan bermain di kaki air terjun itu, bahkan memanjat dan bermain di kolam-kolam kecil yang berada di masing-masing tingkatan air terjun itu. Banyak dari mereka sengaja duduk dan berendam di situ karena air yang mengalir di air terjun itu hangat. Yup, betul-betul hangat, dan itulah keunikan air terjun ini disamping bentuknya yang tidak biasa itu. Banyak yang percaya kalau air yang hangat itu bisa menyembuhkan penyakit kulit  😕

img_sem08

Keunikan itu membuat aku dan teman seperjalananku tertarik untuk menyusuri sungai yang air hangatnya mengalir di air terjun itu untuk mencari mata air panasnya.

Perjalanan menyusuri sungai dan menembus hutan cukup menyenangkan dan relatif tidak sulit karena sudah ada jalurnya, maklumlah karena tempat itu sempat dicoba dikembangkan menjadi tujuan wisata pemandian air hangat meskipun rupanya tidak berhasil. Aku sempat melihat bekas-bekas bangunan kolam renang dan kamar ganti yang sudah rusak. Ada juga beberapa jembatan kayu yang dibangun untuk memudahkan para pelancong menyeberangi anak-anak sungai yang sesekali memotong jalur jalan di tengah hutan itu. Suasana cukup sunyi, hanya desir angin yang menggoyangkan daun-daun pepohonan saja yang terdengar. Sesekali terdengar juga suara burung ataupun suara berkeresek ketika ada binatang yang lari karena terusik dengan kehadiranku berdua teman seperjalananku. Tidak terdengar suara pelancong lain ketika itu. Apalagi matahari juga sudah mulai condong ke barat.

img_sem10

Perjalananku akhirnya terhenti ketika aku dan teman seperjalananku mendapati kalau jalan setapak yang kami ikuti bercabang dua, yang pertama melewati sebuah jembatan kayu yang sudah lapuk dan kelihatan sudah lama tidak dilewati sementara cabang yang kedua berbelok di samping jembatan dan berakhir di sungai. Wah . . . dua-duanya mentok 😦 . Sungainya pun seolah-olah memang bersumber di situ karena aku melihat sebuah batu besar menutupi aliran sungai dan tampak air sungai keluar dari bawah batu itu. Di sampingnya tampak sebuah pancuran kecil. Aku mencoba merasakan suhu air di pancuran itu yang ternyata cukup dingin, sementara air yang mengalir di bawah batu terasa hangat. Jangan-jangan memang mata airnya ada di bawah batu besar itu . . .

Kebetulan tepat sebelum kami memutuskan untuk kembali ke air terjunnya, teman seperjalananku sempat melihat kalau di seberang sungai, mengarah agak ke atas, tampak ada jalan setapak yang tertutup belukar. Setelah berunding sejenak, akhirnya diputuskan untuk mencoba mengikuti jalan setapak itu. Jalurnya memang tidak mudah. Di beberapa tempat harus memanjat dengan berpegangan pada akar atau batang pohon yang terdapat di situ; bahkan di suatu tempat jalurnya berhenti di tebing sungai yang menyebabkan aku dan teman seperjalananku masuk ke sungai dan melanjutkan perjalanan melalui sungai yang diapit tebing dan airnya terasa semakin meningkat suhunya.

Akhirnya, dibalik sebuah tebing, kami menemukan sebuah kolam dangkal dengan uap tipis melayang di permukaannya yang menandakan bahwa air kolam itu relatif panas jika dibandingkan dengan kesejukan alam sekitarnya. Di tengah-tengah kolam tersebut, terdapat sebuah batu yang permukaannya seolah dilapisi sesuatu yang berwarna kuning. Dan dari batu itu memancar air yang cukup deras sehingga menyerupai air mancur. Rupanya inilah sumber airnya karena air yang terpancar dari bebatuan itu terasa panas.

img_sem17

Air panas juga memancar keluar dari beberapa celah batu di sekitar kolam itu, meskipun alirannya tidak sederas air yang memancar dari batu yang berada di tengah kolam.

img_sem19

Setelah beberapa saat mengagumi keunikan tempat itu sekalian beristirahat, aku dan teman seperjalananku segera kembali menyusuri sungai dan mencari jalan setapak yang semula sudah membawa kami berdua ke situ. Sebetulnya jaraknya sih tidak terlalu jauh. Dari air terjun ke mata air panas itu rasanya hanya sekitar 250 meter. Cuma memang medan yang harus ditelusuri sejak jalur setapak yang tertutup belukar itu agak berat.

img_sem15

Eh iya, sejak tadi aku belum menyebutkan nama tempat ini ya? Sorry, keasyikan cerita akhirnya jadi lupa :P. Orang mengenal tempat itu dengan nama Sumber Air Panas Semolon. Lokasinya ada di Desa Paking, Kecamatan Mentarang, Kabupaten Malinau. Untuk mencapai tempat ini, waktu itu aku butuh waktu sekitar satu setengah jam berkendara dengan mobil dari pusat kota Malinau melalui jalan yang beberapa ruasnya tidak terlalu bagus.

Nah . . . tertarik untuk berkunjung ke tempat yang unik ini?

img_sem01

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 23 Comments

Soft trekking to the waterfalls

When my colleagues knew that I intended to go to Samarinda, the capital city of East Kalimantan Province in Indonesia, almost all of them asked me, “What do you want to see in there, there are nothing that you can see except the city itself and perhaps the sunset over the Mahakam River”

As usual, I always think that there must be a place which will make me interested in every corner of the world. I always want to proof to them that my opinion was right. And I thought the same about Samarinda and its surroundings. I believed that the area, for sure, had some interesting places.

So . . . in my second day there, I went out of town on purpose to look for any interesting places worth to visit. My aim was pretty landscapes and not museums nor historical buildings. My lungs need to be filled with fresh natural air and not with canned air :P. So . . off we went to the north part of the city, passed the city border to a village called Barambai in Sempaja Ujung area because I heard that there was a small waterfall in there; and nowadays, the waterfall became the main destination for local teenagers who want to spend their holiday time to camp.

IMG_BAR05

To reach the waterfall was quite easy. It need only about 15 minutes walk from the parking lot through an oil palm plantation, and then entering a forest.

IMG_BAR01

The waterfall itself was not big. The height was only about 2 to 3 meters and there was a pool at the base of the falls. Around the pools, there were stones that made the view quite pretty.

IMG_BAR06

Trees shaded the waterfall area, so it was quite cool and really comfortable to sit and relax in there. No wonder that many local teenagers choose the place to set their tent and spent their leisure time. When I was there, around 15 teenagers had already in there; and it was from them that I know that there was two other waterfalls deep in the forest but not too far from the one they used to spend their relax time.

IMG_BAR09

So after taking some pictures there, I started to walk on a dirt path deeper into the jungle. It was just a soft trekking since the track was quite flat. I needed another 15 minutes to reach the second waterfall. The path to reach the base of the second waterfall, however, was quite steep, but it was not too high.

IMG_BAR04

For me, the second waterfall and its surroundings were prettier than the first one. It was also higher. What do you think? Do you agree with me or not after you saw the pictures below?

IMG_BAR15

At that time, I decided not to continue my trek to the third waterfall because the third waterfall was even smaller than the first one and it was not worth to visit. At least that was the information I got from some people I met. So it was time for me to go back to Samarinda after I spent some time in the quieter atmosphere of the second waterfall, contemplating and enjoying the soft cool breeze while enjoying the pretty landscape.

To visit Barambai village was quite a challenge. It needed around one and half hour on a not so good road from Samarinda to the village, although the distance was only about 30 kilometres. The signs which could guide travellers to Barambai Village were pretty scarce, so travellers should ask the locals whenever they are in doubt to take a road every time they found a fork road or a cross road. Once travellers entering the village, there was a small sign on the right that marked the path to the waterfall which known as Barambai Waterfalls.

So . . . I was right that Samarinda also had a pretty destination aside of the city itself and the river that flowed through the city 🙂  .—

IMG_BAR11

Keterangan :

Ketika beberapa teman mengetahui kalau aku mau ke Samarinda, ibu kota Propinsi Kalimantan Timur, mereka nggak bisa menutupi keheranannya.

“Ngapain elo kesana, di sana ngak ada yang bisa dilihat selain kotanya itu sendiri atau palingan lihat matahari terbenam dari tepian Mahakam”, itu komentar yang sering aku dengar.

Trus aku jadi batal ke Samarindanya? Ya nggaklah. Aku tetap berangkat, malah aku jadi seolah tertantang untuk menemukan tempat-tempat menarik di sana sehingga aku bisa tunjukan kalau perjalananku ke Samarinda juga tidak sia-sia.

Karena itu pulalah di hari kedua aku di Samarinda, aku sengaja jalan ke sebelah utara kota, melewati batas kota, trus meluncur di jalanan yang sebagian lumayan rusak sehingga diperlukan waktu sekitar satu setengah jam hanya untuk menempuh jarak sejauh kurang lebih 30 kilometer menuju ke daerah Sempaja Ujung, tepatnya ke Desa Barambai. Aku ke sana karena aku memperoleh info bahwa di sana terdapat sebuah air terjun yang belakangan ini lumayan nge-hits buat para remaja setempat untuk dijadikan tempat camping di tiap akhir pekan.

IMG_BAR07

Sepanjang perjalanan, karena minimnya rambu, aku jadi harus sering-sering bertanya kepada penduduk setempat, yang konyolnya kadang mereka juga nggak tahu dimana ada air terjun di Desa Berambai. Bahkan ada juga yang justru mengarahkan aku ke air terjun lain yang lokasinya tidak terlalu jauh dari situ. Tapi akhirnya GPS yang aku pergunakan membuahkan hasil. Eh GPS ini bukan GPS alat penentu lokasi berdasarkan satelit itu ya, GPS yang aku pergunakan merujuk pada “Gunakan Penduduk Setempat”, untuk bertanya tentunya 😛

Di suatu tempat aku melihat sebuah papan bertuliskan “Air Terjun Barambai” di sebelah kanan jalan. Papannya tidak terlalu besar, sehingga akan gampang terlewat kalau nggak hati-hati. Di dekat papan petunjuk itu terdapat sebuah lahan yang dipergunakan sebagai tempat parkir mobil dan motor pengunjung, yang ketika aku sampai di sana sudah terdapat beberapa buah motor yang terparkir rapi.

Beberapa pemuda yang baru tiba kembali setelah menghabiskan malam di sekitar air terjun menjadi sumber informasi bagi aku untuk mengetahui medan yang akan aku tempuh ke air terjun itu. Mereka mengatakan bahwa jalannya tidaklah berat. Cukup mengikuti jalan tanah di samping lahan parkir itu, menembus kebun sawit, dan sedikit masuk hutan maka aku akan sampai ke air terjun. Dan ketika aku mengikuti jalur yang mereka tunjukkan itu, dalam waktu kurang lebih 15 menit aku sudah sampai di air terjunnya.

IMG_BAR02

Air terjunnya sendiri tidaklah besar. Tingginya pun hanya berkisar antara 2 – 3 meter saja. Airnya yang cukup jernih mengalir mengikuti tebing batu dan akhirnya jatuh di sebuah kolam di dasarnya. Di sekitar kolam, terdapat banyak batu yang seolah-olah menjadi batas tepi kolam. Suasana di sekitarnya cukup sejuk. Sinar matahari tidak menyorot langsung karena terhalang rimbunnya pepohonan di sekitar air terjun. Tidaklah heran kalau suasana yang menyenangkan itu mengundang para remaja Samarinda untuk menikmati alam di sana.

IMG_BAR08

Setelah mengambil beberapa foto, aku memutuskan untuk meninggalkan air terjun tersebut dan masuk lebih jauh ke dalam hutan karena beberapa remaja di sana mengatakan bahwa masih ada air terjun lain di aliran sungai itu, dan letaknya pun tidak terlalu jauh dari situ.

Dan memang dengan trekking sedikit lebih jauh, aku menemukan air terjun kedua yang ternyata selain sedikit lebih tinggi juga nampak lebih indah kalau dibanding dengan air terjun yang pertama. Bagaimana menurut pendapat teman-teman setelah melihat foto di bawah ini? Setuju apa nggak kalau aku bilang air terjun kedua lebih indah dari yang pertama?

IMG_BAR16

IMG_BAR18

Nah . . trus gimana dengan air terjun yang ketiga? Sayangnya waktu itu aku tidak melanjutkan perjalananku menuju ke air terjun yang ketiga. Berdasarkan informasi yang aku terima, perjalanan ke air terjun ketiga sedikit lebih sulit tetapi keindahannya kurang, bahkan kalau dibandingkan dengan air terjun yang pertama sekalipun.

Meskipun demikian, aku masih bisa membuktikan bahwa Samarinda maupun daerah sekitarnya memang memiliki beberapa tempat yang cukup indah dan layak dikunjungi. Jadi perjalanan ku ke Samarinda memang tidak sia-sia kan? 🙂 .–

IMG_BAR17

IMG_BAR20

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 18 Comments

Blog at WordPress.com.