Posts Tagged With: waingapu

A forest that emerged from the sea

Sumba, an island located in East Nusa Tenggara Province, Indonesia, never ceased to show it stunning beauty and sometimes even looked unreal, like the one that I saw in Walakiri Beach when I went back there.

Went back there?  😯

Yup, it was my second time to visit the beach; thus my note this time could be treated as a complement to my previous note about Walakiri Beach which could be seen in here.

img_wa201

If on the first visit I walked to the east to catch the sunrise, now, on the second visit, I walked to the west to get a different view of the beach. That time my intention was really to get a different view of the beach because it would be too long for me to wait until sunset time 😀

img_wa203

Walakiri was a unique beach; the characteristic of the eastern part of the beach was quite different with it western part although both parts were white sandy beach with ripples lapping the shore. In the western part, there was a group of mangrove trees which form a kind of forest at the beach. At high tide, it looked like a forest on the sea. It seemed that the forest contained of bushy mangrove trees with no bark grew in shallow water.

img_wa202

At low tide, however, the scenery would change totally. There was no forest contained of short bushy mangrove trees anymore. They turned into a forest contained of unique shaped mangrove trees as if the nature sculpted them artistically.

img_wa204

And for them who had seen the beach condition at high tide with short bushy mangrove trees, seeing the beach condition at low tide would give the impression that the unique shapes mangroves trees looked like a forest emerged from the sea.

img_wa205

Unfortunately I could wait until sunset time  😦 . I believe that the view of a forest emerged from the sea with a crimson sunset sky as the background would be amazing.—

img_wa212

img_wa206

img_wa207

img_wa216

Keterangan :

Pulau Sumba, sebuah pulau yang terletak di Propinsi Nusa Tenggara Timur seolah tak hentinya menunjukkan keindahannya yang selama ini belum banyak dikenal orang. Sebetulnya yang tersaji di sana bukan keindahannya saja sih, melainkan kadang-kadang juga sesuatu yang menakjubkan dan seolah muncul dari dunia dongeng. Salah satunya adalah apa yang sempat aku saksikan di Pantai Walakiri ketika aku kembali kesana lagi.

img_wa209

Ya . . . aku kembali berkunjung ke Pantai Walakiri yang lokasinya tidak terlalu jauh dari ibukota Kabupaten Sumba Timur, yaitu kota Waingapu. Dan karena ini kunjunganku yang kedua kalinya di sana, anggap saja catatanku kali ini melengkapi catatanku sebelumnya yang sudah pernah aku posting beberapa bulan yang lalu dan dapat di lihat di sini. Aku sebut melengkapi karena apa yang akan aku sajikan di sini mengulas sisi pantai yang berbeda dengan yang dahulu pernah aku ulas.

Koq bisa berbeda? Bukannya pantainya sama?

Betul pantainya sama. Aku juga memarkirkan kendaraan yang aku pergunakan di spot yang sama, tetapi jika dahulu aku berjalan ke arah timur karena hendak “berburu” momen matahari terbit, maka kali ini aku berjalan ke arah sebaliknya, yaitu ke mengarah ke barat. Bukan hendak “berburu” matahari terbenam yang juga bisa dinikmati dari pantai ini karena aku datang masih terlalu siang, melainkan ingin menikmati sesuatu yang lain yang tidak aku temukan di sisi timur Pantai Walakiri. Di sana aku ingin melihat hutan yang muncul dari dalam laut  😎

img_wa210

Pantai Walakiri memang unik karena karakterisitik pantai di sisi timur berbeda dengan yang di sisi barat meskipun sama-sama merupakan pantai berpasir putih dengan riak gelombang yang relatif tenang sehingga aman untuk mereka yang suka bermain air di pantai. Di sisi barat terdapat kawasan mangrove yang tidak terdapat di sisi timur pantai.

img_wa211

Pada saat air pasang, kawasan mangrove itu akan tampak sama seperti kawasan mangrove di tempat-tempat lain; yaitu berupa pucuk tanaman bakau dengan dedaunan yang menghijau dan batang yang hanya tampak sedikit di atas permukaan air laut.

Pemandangan berbeda akan tampak ketika air laut surut, seperti saat aku berkunjung ke sana kali ini. Batang-batang pohon bakau di hutan mangrove yang semula tertutup air laut kini tampak jelas bentuknya. Dan bentuknya yang unik seolah merupakan karya seni yang dipahatkan oleh Sang Seniman Agung dan dianugerahkan ke bumi Sumba.  🙂

img_wa217

Jadi kebayang bagaimana indahnya jika batang-batang pohon bakau yang unik itu berbentuk siluet dengan latar belakang langit senja yang kemerahan. Sayangnya ketika itu aku tidak punya cukup waktu untuk menunggu sampai tiba saatnya sang surya kembali ke peraduannya  😦 . Ah . . . rasanya memang aku harus kembali lagi ke Pantai Walakiri untuk membuat catatan yang ketiga yang akan menyajikan indahnya sunset di sana. Semoga bisa ya . . .  😉

img_wa208

img_wa213

img_wa214

img_wa215

img_wa218

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 17 Comments

A neglected historical hill

Close to Waingapu, the main city of East Sumba, Indonesia, there was a hill that had lots of history. The hill was stood looming the airport area; that was why everybody in a plane departing from or approaching the airport could see the hill clearly when they looked to the west. The hill’s name was Mau Hau Hill, thus the airport was named after the hill’s name before changed into its recent name in 2009.

According to people I met, Mau Hau means a place of residence for Sabu people who once were asked to help King Lewakambera of Sumba. So . . it seemed that the area was once been granted to the Sabu people as a reward for their support to the king, or it could be just the place for their encampment when they landed at the nearby port centuries ago. For you to know, the Sabu people were known as great warriors. Their native land was an island located between Sumba and Timor and called Sabu Island. Some people also called the island as Savu.

The hill was green when I was there. The grass looked very appetizing for horses and cows, and that made the people from the area often brought their horses and cattle to the top of the hill and let them grazing there.

img_mhh03

From above the hill, almost all Waingapu could be seen clearly; the residence area, airport, beaches and also public facilities in the city. Because of its strategic location, in the second World War era the Japanese built defense bunkers on the hill. Up till now, the entrance holes of the bunkers still existed. There were four holes at the top of the hill and the holes could be entered. The holes would bring travelers to the exit holes at the foot of the hill. Unfortunately, the holes were not maintained, garbage were seen around the holes . At least that was what I saw when I was there.

img_mhh01

The local history that related to the hill was not only happened in the past era. Once in modern era, a commotion burst in Waingapu between two groups of people, and the commotion was spread rapidly in almost all corners of the city. In order to regain peace in the area, the leaders of the groups made and then signed a peace agreement; and the place that was chosen in where the agreement was signed was at the top of Mau Hau Hill. The historical event made people also called Mau Hau Hill as Bukit Persaudaraan (Fraternity Hill)

img_mhh02

Nowadays, Mau Hau Hill was became one of Waingapu’s place of interests. People would go up to the top of the hill in their leisure time, either by cars or by motor-cycles. The road to the top was relatively good although it was not too wide. People would spend time enjoying the scenery unfolded below the hill while waiting for the sunset, while others chose another spot facing the airport to see planes take offing and landing at the airport. Teenagers came in a small group and did their activities with their friends.

img_mhh04

img_mhh05

And me? I was there to snap some sunset pictures. Unfortunately dark clouds prevented me to get clear pictures of the sun when it started to hide behind the rows of hill in afar  😦

img_mhh06

img_mhh07

img_mhh08

Keterangan :

Tiap kali pesawat akan mendarat di Bandara Umbu Mehang Kunda di Waingapu, Sumba Timur, jika para penumpang melihat ke arah barat, pasti akan tampaklah sebuah bukit yang di atasnya terdapat sebuah bangunan seperti paviliun. Belakangan baru aku tahu kalau bukit itu merupakan bukit yang sarat dengan sejarah, khususnya bagi masayarakat Waingapu dan sekitarnya.

Bukit tersebut dikenal dengan nama Bukit Mau Hau. Dan karena bandara terletak di kaki bukit itu, maka dahulu nama bandara itu adalah Bandara Mau Hau. Baru pada tahun 2009 diubah namamya menjadi Bandara Umbu Mehang Kunda seperti yang kita kenal sekarang.

Menurut penduduk setempat, Mau Hau berarti kediaman orang-orang Sabu yang sejak dahulu dikenal sebagai orang-orang pemberani dan pejuang tangguh. Konon di jaman dahulu salah satu raja yang ada di Sumba ini, yaitu Raja Lewakambera, meminta pertolongan dari pahlawan-pahlawan Sabu. Kemungkinan Bukit Mau Hau itu dihadiahkan kepada mereka sebagai imbalan atau bisa jadi juga menjadi tempat berkumpulnya para pejuang Sabu itu ketika mereka baru mendarat di Pulau Sumba.

Bukit Mau Hau ternyata memiliki nilai strategis tersendiri, apalagi dari puncak bukit itu hampir seluruh wilayah Waingapu bisa terlihat jelas. Bandara sampai ke pesisir pantai di sebelah timur juga tampak dengan jelas. Itu pula rasanya mengapa Tentara Pendudukan Jepang pada masa Perang Dunia Kedua memilih Bukit Mau Hau sebagai salah satu titik penting yang harus dikuasai dan dipertahankan sampai-sampai mereka membangun bunker-bunker pertahanan di sana. Sampai sekarang lubang-lubang masuk bunker itu masih bisa ditemukan di puncak bukit. Bunker-bunker itu juga memiliki pintu-pintu lain di kaki bukit. Sayang keberadaannya sekarang praktis tidak terawat. Ketika aku ke sana, sampah nampak terserak dan bau tidak enak juga lumayan menyengat  😡

img_mhh12

Arti penting Bukit Mau Hau tidak berhenti sampai masa Perang Dunia Ke Dua saja. Ketika Waingapu sempat diguncang bentrokan antar kelompok, lagi-lagi Bukit Mau Hau berperan penting karena di atas puncak bukit itu akhirnya ditandatangai perjanjian damai yang mengakhiri pertikaian antar kelompok itu. Karena itulah Bukit Mau Hau disebut juga dengan nama Bukit Persaudaraan.

img_mhh17

Sekarang Bukit Mau Hau menjadi salah satu tujuan wisata bagi penduduk Waingapu maupun bagi pelancong dari luar daerah situ. Adanya jalan yang memungkinkan kendaraan roda empat mendaki sampai ke puncak bukit membuat puncak bukit itu lumayan ramai pengunjungnya, khususnya pada hari-hari libur. Tetapi tiap sore pun ada saja orang yang datang ke sana untuk sekedar bersantai sambil memandang bentang sawah menghijau yang terhampar di kaki bukit atau ada juga yang datang ke sana kemudian memilih duduk menghadap ke timur sehingga mereka bisa melihat bandara dan pesawat-pesawat yang baru take off atau mau mendarat dengan jelas.

img_mhh13

img_mhh14

Di puncak bukit itu penduduk setempat juga menggembalakan ternaknya, baik kuda maupun sapi. Ternak-ternak itu kelihatan gembira bisa merumput di sana karena rumputnya kelihatan tebal dan segar.

img_mhh15

Aku sendiri datang ke sana dengan tujuan menyaksikan saat-saat terbenamnya matahari di balik deretan pegunungan di kejauhan. Sayangnya mendung tebal menghalangi keinginanku itu. Saat-saat Sang Surya menghilang di balik bukit tidak bisa aku nikmati sepenuhnya  😦

img_mhh16

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 6 Comments

Natural art pieces on a beach

Once again I was in Sumba, an island which was located in East Nusa Tenggara Province, Indonesia. Sumba was not as famous as Bali, yet. The island which was located beyond Lombok and Sumbawa in the east, was known as Eden of the east for many travelers, because of its pretty landscape.

At that time, after a long flight from Jakarta via Bali, I was landed in Umbu Mehang Kunda Airport in Waingapu, East Sumba. Right after taking my luggage, I went out to meet the person who was assigned to accompany my travel partner and me in our trip in East Sumba.

My first stop was Londa Lima Beach, a beach that was quite known by locals and became their main destination for spending their weekends and also their holiday times. In such days, the beach would be pretty crowded by people playing, picnicking or just relaxing under the shade of the trees growing on the beach.

img_pll01

I was there on weekdays, so I found a deserted beach area, except for some teenagers looking for worms which would be used as baits when they fished. Something drew my attention, a big dry trunk lying on a beach. Perhaps it was common to find a log stranded on a beach, but in my eyes, it was not an ordinary piece of wood. It seemed like an art piece created by a famous artist.

img_pll03

The trunk was lying on the white sands. The sea which was in its low tide and the bluish hills afar became the perfect background for the natural art display. Not too far from the “pretty art piece”, grew a mangrove tree. The tree was shaped like an art piece too. Its crooked and overgrowth trunk was quite unique as well as pretty. Don’t you agree with me? 😎

Leaving the two “wooden art pieces” behind, I walked along the beach which at the end brought me to encounter another “wooden art piece”, and this time was bigger than what I saw before. It was so big so it was pretty safe to climb on top of it just to strike a pose on it like what my travel partner did  😀

img_pll12

Later on, I found that the pretty natural wooden sculptures were not consisted only of dead and dry trunks. Close to the children playground area, there were some big mangrove trees which had twisted and overgrowth trunks too which were quite photogenic :P. The horses that freely roaming the area, could add some plus point to make the picture prettier.

img_pll15

In the previous paragraph, I mentioned a children play ground area on the beach. Yes, Londa Lima was quite well managed. To attract people to come to the beach area, there were facilities provided by the management. Children playground and parking lot, as well as some simple hut were some examples of the facilities existed on the beach.

img_pll17

Londa Lima Beach was located in Kuta Village, some 15 kilometers from Waingapu to the north west. Travelers could reach the beach in a 30 minutes drive from Waingapu. No public transport serving the area from Waingapu, so it would be better for travelers to rent a car from Waingapu. Don’t worry, the road from Waingapu to the beach was quite good, but travelers who drove by themselves should be very careful for passing cattle or horses, even pigs on the road. Don’t be surprised to find cows lying on the road, too 😯

Hope that the “natural art gallery” in Londa Lima Beach was still as it was, and the area’s development would not ruin the natural art pieces on the beach because they could be used to attract travelers to come to the beach. Right? 😉

img_pll08

img_pll19

Keterangan :

Aku kembali berada di Sumba, sebuah pulau yang sudah berhasil membuat aku jatuh cinta dengan keindahan alam dan keramahan penduduknya. Meskipun belum setenar Bali, tetapi Sumba sudah berhasil mencuri perhatian banyak penikmat keindahan ciptaan Yang Maha Kuasa, bahkan banyak orang menyebut Sumba sebagai Taman Firdaus di timur karena keindahannya.

Ketika itu, segera setelah mendarat di Bandara Umbu Mehang Kunda di Waingapu, Sumba Timur, aku dan kawan seperjalananku bergegas mengambil barang-barang bawaan kami yang cuma sedikit itu dan langsung berjalan keluar untuk segera pula memulai perjalanan menjelajah sebagian Sumba Timur.

Perhentian pertamaku waktu itu adalah Pantai Londa Lima, sebuah pantai yang sudah cukup kondang bagi masayarakat Sumba Timur, khususnya mereka yang tinggal di kota Waingapu karena pantai ini sudah lama menjadi tujuan utama mereka untuk berwisata bersama keluarga atau orang-orang tercinta di akhir pekan ataupun di hari-hari libur. Di hari-hari seperti itu, Pantai Londa Lima akan dipadati pengunjung. Untungnya aku dan teman seperjalananku berkunjung ke pantai itu bukan pada akhir minggu atau hari libur, jadi yang aku jumpai adalah kawasan pantai yang kosong, tak seorangpun nampak di sana, kecuali beberapa pemuda yang sedang mencari cacing untuk umpan memancing.

img_pll11

Ketika itulah pandangan mataku tertumbuk pada potongan batang pohon yang tergeletak di pasir pantai. Kelihatannya itu potongan batang pohon yang entah berasal dari mana, kemudian terbawa arus laut dan terdampar di pantai situ. Di mataku, potongan kayu itu tampak indah, nggak seperti potongan-potongan kayu pada umumnya. Bentuknya mengingatkanku pada adikriya karya salah seorang seniman dari Pulau Dewata, hanya saja yang tergeletak di pasir pantai ini adalah bentukan alam.

img_pll02

Dan . . tahu nggak? Ternyata karya seni yang dihasilkan alam yang ada di situ tidak hanya satu. Tidak jauh dari bongkahan kayu tadi, tegak berdiri sebatang pohon bakau dengan batangnya yang unik dengan bonggol-bonggol yang sepintas mirip ukiran. Unik tapi juga indah kan?  🙂

img_pll09

Setelah beberapa saat mengagumi karya Sang Seniman Agung di situ, aku dan teman seperjalananku berjalan menyusur pantai mengarah ke barat, dan ternyata kembali aku menemukan sebuah “karya seni” lain di sana. Masih berupa ukiran alam dengan bahan kayu. Bahkan kali ini lebih besar dari sebelumnya. Sedemikian besarnya sehingga bisa dipanjat, bahkan teman seperjalananku sempat berpose narsis di atasnya 😀

img_pll13

Belakangan aku juga menemukan kalau “karya seni” bentukan alam ini tidak melulu berupa batang kayu mati yang terdampar di pantai. Di balik tembok rendah penahan abrasi, aku menemukan beberapa pohon bakau raksasa dengan batang yang berbentuk unik juga.

img_pll14

Pantai Londa Lima sudah lumayan tertata. Beberapa fasilitas sudah tersedia di sana. Lahan parkir, toilet, warung-warung sederhana yang menyediakan makanan kecil, dan juga taman bermain anak-anak merupakan sebagian fasilitas yang sudah tersedia.

img_pll18

Pantai yang terletak di Desa Kuta ini tidak jauh dari Waingapu yang menjadi ibukota Kabupaten Sumba Timur. Jaraknya hanya sekitar 15 kilometer dari Waingapu ke arah barat laut melalui jalan yang sudah cukup baik dan masih relatif sepi. Meskipun sepi, tetap saja para pengemudi harus berhati-hati karena banyaknya sapi atau kuda bahkan babi dan kambing yang bebas berkeliaran sampai ke jalan raya. Bahkan di malam hari, tidak jarang kendaraan harus berhenti karena adanya ternak yang berbaring di tengah jalan 😯

Wah kalau gitu, enaknya kita naik kendaraan umum aja dong ya kalau mau ke Pantai Londa Lima?

Nah ini . . . sayangnya sampai ketika aku ke sana waktu itu, aku masih nggak menemukan adanya kendaraan umum dengan rute Waingapu – Londa Lima, ataupun yang rutenya melewati Londa Lima. Jadi ya memang harus menyewa kendaraan dari Waingapu kalau mau ke Londa Lima.

img_pll04

Eniwei . . . aku sih berharap agar “ukiran-ukiran” kayu ciptaan alam yang ada di Londa Lima tetap terjaga dan tidak tiba-tiba sudah berada di salah satu rumah mewah entah dimana sebagai barang pajangan. Aku berharap juga semoga penataan dan pengembangan Pantai Londa Lima sebagai suatu tempat tujuan wisata tetap memperhatikan kelestarian lingkungan, termasuk juga pohon-pohon bakau berbatang unik itu. Bagaimanapun, keberadaan pohon-pohon bakau dan juga batang-batang kayu yang terdampar di pantai dan punya bentuk artistik tentunya akan merupakan salah satu daya tarik tersendiri bagi para pelancong yang berkunjung ke sana. Ya nggak? 😉

img_pll10

img_pll16

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 16 Comments

Blog at WordPress.com.