Posts Tagged With: sunrise

Sunrise at a neglected old port

You still remember my last post, do you? It was about an old and neglected port in South East Sulawesi Province, Indonesia, called Tanjung Tiram. Just in case you still don’t remember it, you can see the post in here.

Anyway, while the last post was about the sunset moments I got at the port; my recent post would be about the sunrise moments I captured in the same location.

IMG_TTF01

So . . at that time, early in the morning, I was already in the car with my travel partner on our way from our hotel in Kendari, to Tanjung Tiram. The road was relatively empty, and that made our driver could bring the car faster than usual.

IMG_TTF03

When we arrived at Tanjung Tiram, I found that the place was as deserted as we found the day before when I captured the sunset moments. The main difference was the sea. It was at the lowest tide that morning, so the area around the wooden pier just looked like a muddy land.

IMG_TTF04

In this post I would not write too long as you could read the explanation about Tanjung Tiram in my last post. I don’t want to make you lost your interest because I put too many words in here 😛  I think it would be better to tell you about the place in sunrise time just by pictures. So . . please enjoy! 😀

IMG_TTF06

IMG_TTF07

IMG_TTF08

IMG_TTF09

IMG_TTF10

 

IMG_TTF12

IMG_TTF13

IMG_TTF14

 

Keterangan :

Masih ingat postinganku sebelumnya kan? Itu lho . . . yang mengenai Tanjung Tiram di kala senja menjelang. Tapi kalau masih belum ingat juga ya sudah lah, nggak perlu repot mengingat-ingatnya. Postingan yang aku maksud itu bisa di lihat di sini koq.

Kali ini aku masih akan memposting mengenai Tanjung Tiram, makanya judul postinganku kali ini juga mirip dengan judul postingan sebelumnya, hanya saja bedanya kalau sebelumnya aku menggambarkan suasana senja, kali ini aku mengangkat suasana fajarnya.

IMG_TTF02

Nah . . untuk bisa menyajikan suasana fajar di Tanjung Tiram itulah makanya di subuh itu aku sudah berada di dalam mobil bersama teman seperjalananku ketika banyak orang lain masih bergelung di balik selimut. Jalanan kota Kendari yang relatif masih sepi pagi itu memungkinkan Pak Sopir untuk memacu kendaraan lebih cepat dari biasanya menuju ke Tanjung Tiram.

Seperti sudah aku duga sebelumnya, suasana di Tanjung Tiram tetap sepi, sesepi ketika aku ke sana sore sebelumnya. Hanya saja pagi ini, karena laut sedang surut, maka di sekitar dermaga kayu rusak yang sore sebelumnya tertutup air laut, pagi itu nampak seperti daratan berlumpur.

IMG_TTF05

Eniwei, aku nggak akan nulis kepanjangan kali ini karena kan keterangan mengenai Tanjung Tiram sudah aku tulis di postingan yang lalu. Aku nggak mau bikin bosan. Jadi . . . rasanya akan lebih baik kalau kali ini aku menceritakan mengenai suasana di tempat itu di saat terbitnya matahari melalui beberapa foto yang aku dapatkan ketika itu. Ok? 😀

IMG_TTF17

IMG_TTF19

 

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 23 Comments

From dusk till dawn in Derawan

Derawan Islands, Indonesia . . . many people know the islands to have many beautiful diving sites; many have visited the islands and many dived the beautiful marine garden spread along the sea-bed. Because of that, almost all articles about Derawan talked about the beautiful coral reefs and many kinds of sea creatures lived in the area. Only a few talked about the beauty which could be found on the surface, how pretty the sunset or the sunrise was or about the sandy beaches on the islands. Perhaps I was one among the few, because what I post this time was about the beauty that I found when I spent a night on one of the islands called Derawan Island. Yes . . . the island had the same name as the archipelago.

IMG_DER01

Derawan Island was one of the four main islands on the area. The others were Kakaban, Maratua and Sangalaki. The island’s area was approximately 110.21 acre. There was a village on the island. Nowadays, as Derawan became a tourist destination, the residents of the village who once fishermen, now turn into tourism professionals.

They change their fishing boats into speedboats to take tourists visiting many diving spots as well as visiting islands in the area. Some who had big houses turn their houses to become home-stays, while others turned their dwellings to restaurants or souvenir shops. Hotels and resorts could be easily found on the beach, some of them even had rooms in the form of cabanas on a wooden jetty over clear waters which showed the sands on the sea bed as the water was not too deep. Turtles and schools of fishes sometimes seen passing by under the cabanas.

IMG_DER15

That time, I arrived at the island at about 5 PM. Perfect time to wait for the sunset, was it? So after put my bag in the hotel room, I walked along the jetty to reach farthest point of the jetty where an open cabana with some wooden benches was waiting for me.

IMG_DER02

Unfortunately, it was not a perfect day to get a nice sunset 😦

So after a little chat with a guy who spent his evening fishing from the jetty, I walked back to the hotel and preparing myself to look for my dinner.

IMG_DER03

IMG_DER04

Early in the next morning, I walked back along the jetty in hoping that I could get a nice sunrise.

IMG_DER06

Hopes was hopes . . . the sky was not too clear. Clouds were hanging low in the east. But . . hey, seemed that the clouds made the sunrise more beautiful. Well, dark clouds were not always ruin the occasion, sometimes they made it more pretty 🙂 😎

IMG_DER09

After some clicks, before leaving Derawan Island, I explored the village on a rented bike. There was a hardened sands path along the beach of the tiny island, and it took not more than 30 minutes to go around the island 😀 .—

IMG_DER25

IMG_DER12

Keterangan :

Kepulauan Derawan, sebuah kepulauan di Propinsi Kalimantan Timur yang terdiri dari 31 buah pulau baik besar maupun kecil. Kepulauan yang dikenal memiliki titik-titik penyelaman dengan pemandangan bawah laut yang indah ini makin hari makin dikenal luas. Tidak bisa dipungkiri, dengan teknologi yang ada sekarang, keindahan di suatu tempat akan dengan cepat sudah diketahui oleh banyak orang, khususnya para pelancong yang selalu tertarik untuk berkunjung ke pelbagai tempat baru. Karena itu tidaklah heran kalau makin banyak saja pelancong yang datang ke Kepulauan Derawan, sebagian besar memang datang untuk menyelam dan mengagumi keindahan alam bawah lautnya yang konon tidak kalah dengan di Raja Ampat.

Karena orang lebih mengenal keindahan alam bawah lautnya, tidaklah heran bahwa hampir semua artikel mengenai Derawan membicarakan keindahan alam bawah laut dan berbagai mahluk laut yang tinggal di sana. Hanya sedikit yang mengulas keindahan apa yang tersaji di pulaunya, bagaimana keindahan saat-saat matahari terbit maupun terbenamnya, ataupun mengenai pantai-pantai dan pemukiman yang ada di sana. Nah . . mungkin postinganku kali ini termasuk di antara yang sedikit itu karena aku akan menyajikan apa yang aku temui di Pulau Derawan ketika aku dan teman seperjalananku menyempatkan diri menginap semalam di sana. Ya . . aku menginap di Pulau Derawan, sebuah pulau kecil yang memiliki nama yang sama dengan nama kepulauan yang melingkupinya.

IMG_DER13

Pulau Derawan yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Berau ini memiliki luas kurang lebih 44,6 Hektar. Tidak terlalu luas memang. Meskipun demikian, Pulau Derawan bersama dengan Pulau Kakaban, Pulau Maratua dan Pulau Sangalaki merupakan pulau-pulau utama di Kepulauan Derawan itu. Pulau Derawan bahkan bisa dibilang menjadi yang paling utama karena pulau ini memiliki penduduk paling banyak dan fasilitasnya juga sudah lumayan lengkap. Penduduk pulau yang semula adalah para nelayan, dengan majunya dunia pariwisata di sana banyak yang sudah berubah profesi menjadi pekerja di dunia pariwisata. Ada yang mengubah perahu pencari ikan mereka menjadi speedboat yang bisa dipergunakan para pelancong untuk menjelajahi berbagai pulau yang ada di kepulauan Derawan, ada pula yang kemudian mengubah rumahnya menjadi rumah makan atau home-stay. Kios pedagang cendera mata pun sudah ada di sana.

Di tepi pantainya, hotel dan resort dari bermacam kelas berjejer siap untuk dipilih oleh para pelancong yang datang ke Derawan. Beberapa hotel dan resort bahkan memiliki kamar-kamar yang dibangun di atas air sehingga ketika pelancong duduk di terasnya, pelancong bisa melihat hamparan pasir putih di dasar lautnya karena airnya yang sangat jernih. Bahkan pelancong juga sesekali bisa melihat penyu hijau dan penyu sisik yang mampir di kawasan hotel itu berenang dengan anggunnya melewati bawah bangunan kamarnya. Belum lagi rombongan bermacam ikan laut baik kecil maupun besar yang kadang juga melintas dan bisa terlihat jelas dari teras kamar.

IMG_DER11

Waktu itu aku tiba di Pulau Derawan sudah lumayan sore. Sekitar jam 5 sore kalau nggak salah. Pas waktunya buat menantikan saat-saat terbenamnya matahari. Karena itulah setelah menyelesaikan proses check in di salah satu hotel di situ dan menyimpan bawaan masing-masing di kamar, aku dan temanku bergegas menyusuri dermaga kayu yang ada di depan kamar menuju ke ujungnya dimana terdapat sebuah saung terbuka yang dilengkapi dengan beberapa bangku kayu. Sayangnya sore itu langit cukup berawan sehingga keinginanku untuk memperoleh foto matahari terbenam yang indah tidak tercapai 😦 .

IMG_DER14

Akhirnya setelah sempat ngobrol sebentar dengan seorang pemuda yang asyik memancing di situ, aku memutuskan untuk kembali ke kamar dan bersiap mencari makan malam.

IMG_DER07

Keesokan harinya, aku sudah terbangun ketika hari masih gelap. Segera kubangunkan teman seperjalananku yang masih asyik merenda mimpi. Setelah cuci muka untuk mengusir kantuk, aku dan teman seperjalananku bergegas kembali menyusuri dermaga kayu yang sama untuk menanti terbitnya sang surya dari saung terbuka di ujung dermaga.

IMG_DER16

Sayangnya awan mendung kembali mengagalkan niatku untuk bisa mengabadikan keindahan saat terbitnya matahari di ufuk timur. Eh tapi . . . kalau diperhatikan baik-baik, ternyata gumpalan-gumpalan awan itu terlihat indah juga koq. Karena itulah, semangatku yang semula sempat pupus, kembali menyala. Kamera yang semula sudah aku masukkan dalam tas aku keluarkan lagi. Hhmm . . . ternyata tidak selalu mendung itu merusak keindahan, kadang-kadang malah justru menambah keindahan 🙂

IMG_DER10

Akhirnya setelah beberapa jepretan dan ketika aku merasa bahwa matahari sudah terlalu tinggi, aku memutuskan untuk kembali ke kamarku untuk bebenah.

IMG_DER19

IMG_DER20

Sebelum betul-betul meninggalkan pulau kecil ini, aku mencoba menjelajahinyadengan sepeda, maklumlah di sana ada penyewaan sepeda juga yang harganya dipatok per dua jam. Tapi . . . setelah aku mencoba mengelilingi pulau melalui jalan-jalan yang terbentuk dari pasir yang dikeraskan, ternyata aku sudah mengelilingi pulau dalam waktu kurang dari 30 menit lho. Pun ketika aku memutuskan untuk berkeliling sekali lagi dengan mampir sebentar di salah satu pantainya, waktu satu jam pun belum terlewati.

IMG_DER21

Ternyata Pulau Derawan memang tidak terlalu luas 😀 .–

IMG_DER18

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 10 Comments

Waiting for the sunrise in the dark

That day was my second day in Sumba Island, Indonesia and in order to get my first sunrise pictures there, I asked Agus who accompanied me in my trip, where was the best place to catch the sunrise. He suggested visiting a beach not too far from my hotel in Tambolaka. So off we went to Ketewel, a beach inhabited by some settlers from other islands and they made salts traditionally for their living.

IMG_KET01

I arrived at Ketewel long before the sun rose. The sky was still dark although a slit of red and orange had already seen in the east. The village was still as if a deserted village. But it was not too long before my presence in their village was attracted the people lived in there. They surrounded me and Agus in curiosity, but Agus’ explanation was clearly understood by them and soon they let me explore their village while waiting for the sun to rise.

IMG_KET02

I shot some picture in the dark and also walked to some simple huts that been used to store the salts they produce. From one of the villagers, I got information that they made salts not by let the sea water evaporated under the sun; but they boiled the sea water in a big wok instead.

IMG_KET03

When the sun rose, I could clearly see the condition of the village. How they made a simple sea wall to prevent the tides, and how their boats mooring in the water close to the sea-wall.

IMG_KET04IMG_KET09

I left the village after the sun shone brightly, and the village was alive with the villagers’ activities. Men mended their wooden boat, women went to the water to wash their family’s clothes, and children played in the field resulted from the low tide. Ah . . . daily life in a simple village . . .

IMG_KET05

Keterangan :

Hari itu adalah hari kedua aku di Pulau Sumba. Dan dalam rangka memperoleh foto-foto saat terbitnya matahari di Pulau Sumba, aku meminta Agus, orang yang menemani aku dan keluarga selama menjelajah Pulau Sumba, untuk mencari tempat yang ideal guna memperoleh foto-foto matahari terbit itu. Agus menyarankan untuk menuju ke Ketewel, sebuah desa di tepi pantai yang penduduknya mencari penghasilan dengan membuat garam secara tradisional. Dan itu pula sebabnya, di pagi buta itu aku dan putri bungsuku sudah berada di jalan menuju ke Desa Ketewel.

IMG_KET11

Hari masih gelap dan Ketewel masih sangat sepi. Beberapa orang terlihat baru saja selesai menunaikan shalat subuh di sebuah masjid sederhana yang terletak di mulut desa. Tak pelak kehadiran kendaraan yang membawa aku, putriku dan dikemudikan oleh Agus di tepi pantai pagi buta menarik perhatian penduduk. Segera beberapa lelaki sudah berkumpul mengelilingi kendaraan yang aku tumpangi. Untunglah penjelasan dari Agus dan juga sapaan sopan yang aku lontarkan bisa menghapus kecurigaan mereka. Sebentar kemudian obrolan santai diseling canda sudah terjadi. Itu juga sebabnya aku bisa tahu kalau mereka bukan penduduk asli Sumba, melainkan pendatang dari pulau lain.

Setelah berbincang sejenak dengan mereka, Aku dan putriku segera berpamitan untuk mulai membidik langit gelap yang mulai merona merah di ufuk timur. Suasana yang gelap memang agak menyulitkan untuk mencari foreground yang menarik.

IMG_KET12

Tapi seiring dengan makin meningginya sang surya, suasana Desa Ketewel dan juga pantainya terlihat dengan makin jelas. Pantai Ketewel bukanlah merupakan pantai wisata, melainkan betul-betul merupakan tepian laut yang menjadi batas antara pedesaan dengan laut, dimana beberapa perahu milik penduduk ditambatkan. Di tepi pantai itu juga telah dibangun semacam tembokan untuk menahan air pasang. Kebetulan pagi itu air laut sedang surut, sehingga dari pantai aku melihat air laut jauh di sana.

IMG_KET13IMG_KET14

Surutnya air laut menyebabkan timbulnya daratan yang cukup luas, dan itu dipergunakan oleh remaja setempat untuk menjadi lapangan tempat mereka bermain bola. Beberapa anak yang lebih kecil nampak pula berlarian di daratan yang timbul itu.

IMG_KET15

Kehidupan di Desa Ketewel makin terlihat dengan banyaknya pula kaum ibu yang berbondong-bondong menuju ke sumur untuk mencuci pakaian ataupun mandi. Beberapa pria juga mulai terlihat memperbaiki perahu, sementara beberapa orang lagi terlihat membuka gubug-gubug sederhana beratapkan ilalang yang mereka pergunakan untuk menyimpan garam yang mereka hasilkan.

IMG_KET10

Keasyikanku mengamati kegiatan penduduk Desa Ketewel pagi itu sedikit terusik ketika perutku mulai terasa lapar. Wah . . rupanya memang sudah waktunya buat aku dan putriku untuk meninggalkan desa itu. Diiringi lambaian tangan anak-anak dan dibawah tatapan ramah penduduk desa, mobil yang aku tumpangi melesat meninggalkan Desa Ketewel, untuk kembali ke hotel yang aku pergunakan untuk bermalam di Kota Tambolaka.–

IMG_KET16 IMG_KET17

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 23 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.