Posts Tagged With: monkey

An island roamed by monkeys

I was still in South Kalimantan Province, Indonesia. That morning my travel partner and I were just visiting one of the famous floating markets of Banjarmasin in Lok Baintan. On our way back to our hotel via Martapura River, the boat man offered us to visit a small island located at the junction of Alalak River with its main river, the Barito. So the island was actually a river delta, a land formed by sediments carried years after years by rivers that met up at the junction. The tiny island was known as Pulau Kembang.

The island was known as the habitat of long tailed monkeys (macaca fascicularis) for a long time. It was said that there were hundredth of them living on the more than 125 acre island. The island, which now had become one of Banjarmasin’s tourist destinations could be reached easily by a small boat from many piers in the city. The distance from the city was only about 1.5 kilometres from the city, so it would only take about 15 minutes trip on the river to reach the monkey island.

img_puk01

To accommodate travelers who wanted to explore and interact with the monkeys, on the shore, the local government had built a permanent pier, so travelers could land on the island easily. Aside of the pier, they also built a ticket booth. Yes, to enter the island, travelers should buy a ticket. The price was relatively cheap, please not to worry 😎

On the island itself, to make travelers easy and comfortable exploring the mangrove forest which had been the nest of the monkeys, a wooden path had been made. The path crisscrossed some part of the island entering the forest, so travelers could see the monkeys playing, climbing the trees, running and doing anything in their natural habitat.

img_puk03

img_puk04

There were many legends lived among the locals that related to the origin of the island and many monkeys that inhabited it. One of them was about an invasion to the local kingdom of Banjar in the 18th century. It was said that a big ship from China once came through the river, and the intention was to conquer the kingdom of Banjar. Later on, the grand vizier of Banjar with its supernatural power could defeat the intruder and sunk the intruder ship along with all the people inside the ship.

Time after time, the sunken ship was covered by mud and sediments, and turned into an island. Seeing the island at the junction of Alalak and Barito River, the later king of Banjar ordered one of his men to guard the island. To accompany him guarding the newly formed island, the guard bring along with him two monkeys. After a long time, the monkeys bred and now the population was so big.

img_puk18

On the other hand, the Chinese community in the area considered the island as the tomb of their kin. They often pray for the deceased on the island. They brought flowers to use in their ritual. The locals who passed the island often saw many flowers laid on the island shore. And since then, the locals called the new island Pulau Kembang (pulau means island and kembang means flower). Later on, the Chinese community also built a small temple with an altar on the island for the purpose of their ritual. The altar was still existed up till now and still being used at a certain time.

img_puk05

So . . . are you interested to meet and play with some cute monkeys on the island? If so, please be careful because the monkeys on Pulau Kembang were still wild monkeys, they were not pets :mrgreen:

img_puk21

Keterangan :

Pagi itu, setelah berkunjung ke salah satu lokasi pasar terapung yang sudah menjadi ikon Banjarmasin, aku dan teman seperjalananku menyusuri Sungai Martapura untuk kembali ke kota ketika tiba-tiba si bapak yang mengemudikan perahu kelotok menawarkan untuk langsung ke Pulau Kembang sekalian sebelum kembali ke kota. Katanya sih lokasinya nggak jauh dari kota, paling juga sekitar 1.5 kilometer dan bisa ditempuh dalam waktu yang nggak terlalu lama dengan kelotok yang aku tumpangi itu.

Pulau Kembang sebetulnya merupakan tanah delta sungai yang terletak di pertemuan antara aliran sungai Alalak dengan Sungai Barito. Endapan lumpur berbilang tahun di situ menyebabkan timbulnya daratan yang kemudian ditutupi mangrove. Pulau seluas kurang lebih 60 Hektar ini merupakan habitat kawanan kera ekor panjang (macaca fascicularis). Konon sih ada juga bekantan yang hidup di sana, tapi sayangnya bekantan-bekantan ini jarang menampakkan dirinya. Mungkin malu karena hidungnya yang besar itu 😆

img_puk09

Pulau Kembang sudah dikembangkan menjadi salah satu tujuan wisata andalan Banjarmasin. Di sana sudah dibangun dermaga yang memudahkan perahu-perahu kelotok yang mengangkut pelancong bersandar dan menurunkan penumpangnya. Di dekat dermaga juga sudah dibangun sebuah bangunan yang difungsikan sebagai loket penjualan tiket.

Lho . . jadi ke situ harus bayar tiket segala ya? 😯

Iya, tapi jangan kuatirlah. Buat kita orang lokal, harga tiketnya murah banget koq. Ketika aku kesana, per orang hanya dikenakan Rp 5.000,– pada hari biasa dan Rp 7.500,– di hari libur.

Kemudian untuk memudahkan para pelancong menjelajah sebagian pulau, pemerintah setempat sudah membangun jalur jalan dari kayu yang saling bersilangan masuk ke dalam hutan mangrove yang tumbuh lebat di pulau itu. Dengan demikian, pelancong juga tidak perlu berjalan di lumpur yang menutupi permukaan pulau kalau ingin melihat tingkah polah monyet-monyet di sana. Ya meskipun jadinya kita juga sering berbagi jalan bersama monyet-monyet yang kadang main kejar-kejaran di jalur jalan itu atau malahan asyik saling mencari kutu atau berpacaran layaknya jalur jalan itu punya moyangnya 😛

img_puk10

img_puk12

Ada banyak legenda yang berkaitan dengan asal mula Pulau Kembang dan monyet-monyet yang hidup di sana. Salah satunya menceritakan bahwa pada abad ke 18, sebuah jung besar dari negeri tirai bambu masuk melalui Sungai Barito dengan tujuan ingin menaklukan kerajaan Banjar. Patih Banjar yang sakti segera menghadang rombongan tersebut dan meminta mereka untuk mengurungkan niatnya. Tapi rupanya pertempuran tidak bisa dihindarkan.

Akhirnya Sang Patih berhasil mengalahkan para penyerbu itu; bahkan dengan kesaktiannya, perahu besar itu dapat ditenggelamkan beserta seluruh isinya.

Berbilang tahun kemudian, kapal yang tenggelam tersebut menjadi penghambat aliran air sungai Barito maupun Alalak sehingga tubuh kapal mulai tertutup lumpur yang terbawa aliran sungai-sungai tersebut. Lama kelamaan lumpur yang melapisi badan kapal menjadi semakin tebal bahkan mengendap dan membentuk daratan yang kemudian perlahan mulai ditumbuhi berbagai tanaman mangrove. Rupanya tanah endapan yang subur itu memang cocok sebagai tempat tumbuh tanaman mangrove sehingga tidak terlalu lama, tumbuhan yang ada di pulau itu sudah membentuk hutan.

Raja Banjar yang kemudian, meminta salah satu orang kepercayaannya untuk tinggal di pulau yang baru terbentuk itu sekaligus menjaganya. Orang tersebut membawa serta dua ekor kera kesayangannya untuk menemaninya di pulau itu. Konon setelah beberapa tahun orang tersebut menghilang dan rohnya dipercaya menjadi penunggu pulau; sementara sepasang kera yang dibawanya berkembang biak menjadi sangat banyak bahkan sekarang jumlah kera keturunannya di sana sudah ratusan.

img_puk11

Sementara itu masyarakat keturunan Tionghoa yang tinggal di sekitar sungai Barito, menganggap bahwa pulau yang baru terbentuk itu juga merupakan pusara bagi kerabat mereka. Karena itulah mereka sering datang ke pulau itu sambil membawa bunga dan melakukan ritual persembahyangan di sana.

Penduduk sekitar sering kali melihat taburan maupun tumpukan bunga yang cukup banyak di pulau itu, sehingga lambat laun mereka mulai menyebut pulau itu dengan nama pulau yang banyak bunga atau kembangnya; dan lama kelamaan nama Pulau Kembang menjadi sebutan untuk pulau tersebut.

Belakangan, di pulau tersebut dibangun juga sebuah bangunan terbuka dengan altar persembahyangan di dalamnya. Bangunan dan altar ini sampai sekarang masih sering dipergunakan oleh masyarakat Tionghoa setempat untuk melakukan ritual persembahyangan.

img_puk13

Nah itu sedikit gambaran mengenai Pulau Kembang, sebuah pulau yang ada di tengah sungai dan dihuni oleh ratusan ekor monyet. Tertarik ke sana? Kalau iya, tetap harus berhati-hati kalau bercanda dengan para monyet di sana ya. Biarpun kelihatan lucu dan jinak, tetap saja monyet-monyet itu hewan liar yang bisa sewaktu-waktu nakal dan bahkan beringas.–

img_puk20

Advertisements
Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 28 Comments

The world of primates

When talking about primates, aside of apes and monkeys, people will also refer to humans as human is included in the primates’ order. According to Wikipedia, A primate is a mammal of the order Primates. In taxonomy, primates include prosimians and simians. Primates arose from ancestors that lived in the trees of tropical forests; many primate characteristics represent adaptations to life in this challenging three-dimensional environment.

IMG_SCH11

Well, the fact that humans included in the same order as monkeys and apes makes humans always interested in watching their “long lost siblings” activities in the zoo; and the monkeys and apes seems also interested in mimicking humans gestures and activities in their daily life.

IMG_SCH01In Jakarta, Indonesia, there is a specific place where humans can try to know anything about monkeys and apes. In there, human can also learn about many species in the primate orders, from the one as big as a gorilla to the smallest member of the orders known as the tarsiers. The place was known as Schmutzer Primate Center. It is located inside the Ragunan Zoo’s complex.

The place, which was built in 1999 and inaugurated in 2002 by the Governor of Jakarta at that time, was initiated by a painter and animal lover known as Pauline Antoinette Adeline Schmutzer-versteegh (1924-1998). Her wealth, combined with the funds from The Gibbon Foundations, was fully granted to build a modern facility especially for primates in the zoo; hence the place was named after her name.

Schmutzer Primate Center was designed to be a recreational area as well as a place for research and educational activities. In there, travellers could find many facilities such as theater and library. The collections of the Center included primates originated from Indonesia such as Orang Utans and Bekantans; as well as primates from outside Indonesia such as low land gorillas and chimpanzees. Some of the primates lived in open cages similar to their own habitats, while others lived in big cages that enabled them to swing or jump freely.

The cages were surrounded by artificial forest which was equipped with walking path, so there were no chances for travelers to get lost in the Center compound. Along the path, in some places there was drinking fountain and also benches. Some statues could be seen in some corners. One of the statues was a bust statue of Benjamin Galstaun, the first Director of the Ragunan Zoo.

 

Keterangan :

Kalau kita berbicara mengenai primata, mau tidak mau pasti juga akan merujuk pada keberadaan manusia, primata yang paling maju perkembangannya. Ya . . manusia memang masuk dalam ordo primata kalau berbicara mengenai pengelompokkan mahluk hidup di dunia ini. Dan mungkin kesamaan ordo inilah yang membuat manusia selalu tertarik untuk mengamati tingkah laku “saudara jauhnya” ini dimanapun berada, utamanya tentunya di kebun-kebun binatang; sementara para kera dan sejenisnya selalu berusaha menirukan tingkah laku manusia yang dilihatnya.

Di Jakarta, terdapat sebuah tempat yang dapat memuaskan keinginan manusia yang ingin mengamati, bahkan mempelajari berbagai jenis primata yang ada di dunia ini, dari yang berukuran besar seperti halnya gorilla sampai yang memiliki ukuran yang sangat kecil seperti halnya tarsier. Tempat tersebut berlokasi di dalam kawasan Taman Margasatwa Ragunan, dan dikenal dengan nama Pusat Primata Schmutzer.

IMG_SCH02

Tempat tersebut mulai dibangun pada tahun 1999 dan diresmikan pada tahun 2002 oleh Gubernur DKI Jakarta pada waktu itu. Penggagas berdirinya tempat ini adalah seorang pelukis dan penyayang binatang keturunan Belanda bernama Pauline Antoinette Adeline Schmutzer-versteegh (1924-1998). Ketika beliau meninggal, beliau mewariskan semua kekayaannya untuk membangun sebuah fasilitas modern khusus untuk primata di dalam kawasan Taman Marga Satwa Ragunan. Dengan tambahan dana dari The Gibbon Foundations, terwujudlah sebuah pusat primata yang diklaim merupakan yang terbesar di dunia. Kemudian untuk mengenang jasa-jasa beliau, pusat primata tersebut dinamakan sesuai dengan namanya.

Pusat primata Schmutzer dirancang untuk menjadi sebuah wahana rekreasi yang sekaligus juga berfungsi sebagai sarana penelitian dan keilmuan. Karena itulah di sana juga terdapat perpustakaan yang cukup lengkap dan juga sebuah teater kecil untuk memutar film-film yang berkaitan dengan kehidupan primata. Sementara itu, koleksi Pusat Primata Schmutzer sendiri meliputi lebih dari 25 species primata yang meliputi primata yang berasal dari Indonesia sendiri seperti Orang Utan dan Bekantan, maupun yang berasal dari luar Indonesia seperti gorila dataran rendah dan chimpanse. Kebanyakan dari primata koleksinya tersebut yang masuk kategori kera besar hidup dalam suatu enklosur atau kandang terbuka yang dirancang menyerupai habitat asli mereka; sementara jenis-jenis primata kecil tinggal dalam kandang-kandang tertutup yang cukup luas dan masih memungkinkan mereka untuk melompat dan berayun dari satu sudut ke sudut lainnya di dalam kandang-kandang masing-masing.

IMG_SCH06IMG_SCH10

Di sekeliling kandang-kandang maupun enklosur-enklosur itu tumbuh berbagai macam pohon baik besar maupun kecil sehingga menyerupai suasana hutan. Meskipun demikian, pengunjung pastilah tidak akan tersesat ketika menjelajah seluruh kawasan dalam Pusat Primata Schmutzer ini karena di sana sudah dibangun jalan setapak yang cukup rapi, dimana di sepanjang jalan setapak tersebut sudah pula disediakan bangku-bangku untuk beristirahat bagi mereka yang kelelahan setelah berkeliling di kawasan seluas 13 hektar ini. Untuk mereka yang haus, sudah pula disediakan kran air minum di beberapa sudut. Maklum saja karena untuk masuk ke kawasan ini pengunjung tidak diperkenankan membawa makanan ataupun minuman sama sekali, dan peraturan ini dijalankan dengan tegas. Untuk menambah keindahan kawasan, beberapa patung terlihat berdiri di beberapa tempat. Salah satunya adalah patung dada Benjamin Galstaun, Direktur Taman Margasatwa Ragunan yang pertama.

Jadi . . tertarik mengamati berbagai jenis primata yang ada di sana?

That's all folks . .  :P

That’s all folks . . 😛

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 32 Comments

Malibu . . ? No, it is Malimbu

On the way to Senggigi Beach from Lombok International Airport, travelers will surely pass through a road on a hill which is bordered by a higher hill on the left and the sea far below the road on the right. The area is called Malimbu Hill. Yes . . it sounds similar to the name of a beach area in The States, Malibu. The hill in here, however, has an additional letter “M” in its name. So . . . if Malibu is in The States, then Malimbu is in Lombok, Indonesia  🙂

IMG_MLB01The hill is a perfect place to enjoy sunset, but it is also worth it to stop at any time other than sunset time, because the view from the hill is always lovely. Travelers can see the Three Gilis from there, and in a clear weather, even Mount Agung in Bali can be seen from Malimbu Hill.

Malimbu Hill is located in West Lombok District, quite close to Senggigi Beach and not too far from Mataram, the main city of Lombok. Unfortunately there are no proper hotels or restaurants on the hill area, only simple stalls sell bottled water, soft drinks, and local snacks. There are no public transport to go the hill either. Travelers who want to go to the hill should use taxi or rented car. Please bear in mind to ask the taxi driver to wait or else one should walk 7 – 8 kilometers to Senggigi where they can find public transports to Mataram or to any other places in Lombok.

IMG_MLB03Malimbu Hill is also inhabited by monkeys. Compared to the monkeys in Uluwatu, Bali, the monkeys in Malimbu Hill seems quite “civilized”. Many travelers give peanuts which can be bought in the stalls on the area. When in there, I saw some of them threw the peanuts to the monkeys, while many braver travelers gave the peanuts directly from their hands, which in return been received by the monkeys politely  🙂

The pictures in here were taken on my way to Senggigi at noon. Unfortunately I didn’t have enough time to wait until sunset  :(. Maybe next time I will visit the hill at sunset time to enjoy the magic moment when a day is closed.

 

Keterangan :

Dalam perjalanan dari Bandara Internasional Lombok ke Senggigi, ataupun sebaliknya, travelers pasti akan melewati jalan di lamping bukit dengan pemandangan laut lepas di salah satu sisinya. Pada sore hari, tempat ini pasti akan dipenuhi oleh mereka yang ingin menikmati saat-saat tenggelamnya matahari. Ya . . . tempat ini memang dikenal sebagai tempat yang sangat pas untuk menikmati sunset. Tempat atau bukit yang aku maksud di sini adalah Bukit Malimbu yang berjarak sekitar 7 – 8 kilometer dari Pantai Senggigi. Kedengarannya mirip dengan Malibu yang juga merupakan kawasan pantai dai Amerika sana ya? Katanya sih memang nama Malimbu ini terinspirasi dari Malibu itu. Betul tidaknya aku gak tahu  😛

IMG_MLB02Meskipun merupakan tempat yang pas untuk menyaksikan tenggelamnya sang surya, bukan berarti di waktu-waktu lain pemandangannya menjadi tidak menarik. Aku sendiri berkesempatan mampir di tempat tersebut pas tengah hari, dalam perjalanan menuju Senggigi. Menurut aku, pemandangan dari atas bukit itu masih saja cukup menyejukan mata. Kita bisa melihat deretan Tiga Gili dengan jelas, bahkan kalau cuaca mendukung, kita bisa melihat Gunung Agung dari kejauhan. Sayangnya waktu itu aku tidak bisa menunggu sampai saat matahari terbenam  :(. Yah . .  mudah-mudahan lain kali aku masih berkesempatan balik lagi ke Bukit Malimbu untuk ikut menikmati senja yang indah.

Sepengetahuan aku, di Bukit Malimbu tidak terdapat hotel atau restoran yang lumayan, yang ada hanyalah beberapa warung kecil yang menjual minuman botolan ataupun makanan kecil, termasuk juga menjual kacang untuk monyet-monyet yang banyak berkeliaran di situ. Pengunjung tidak perlu khawatir, meskipun tidak bisa dibilang jinak, tapi menurut aku monyet-monyet di Bukit Malimbu ini sudah lebih beradab. Mereka tidak iseng seperti monyet-monyet di Uluwatu, Bali. Bahkan beberapa monyet bisa dengan sopan menerima kacang yang diulurkan pengunjung  😀

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 119 Comments

Blog at WordPress.com.