Posts Tagged With: maninjau

A closer view to the lake

This short post was meant to conclude my previous post about Danau Maninjau (Maninjau Lake). If in the last post I brought to you the view of the lake from the top of Bukit Lawang (Lawang Hill), now I brought you closer to the lake. From Bukit Lawang, I came down to the lake through a scenic winding road known as Kelok Ampek Puluah Ampek which could be translated freely as a road that had 44 bends. The road started from a place called Ambun Pagi to the lake shore. Was there really 44 bends along the road? Yes, it was, as they were numbered, so travelers could count at each and every bends easily  🙂

Along the roads, sometimes travelers could see monkeys that sit in a row, side by side, on crash barriers by the side of the road, while far below the bluish green of the lake surface could be seen clearly. Some simple coffee stall could also be found in some places offering hot coffee and simple local snacks as well as beautiful scenery outside.

IMG_MAN04

Unfortunately, I was there in a cloudy day, as soon as I reached the lake shore, I could see the rain was starting not too far from the shore and it rapidly move to the place where I was standing taking pictures. Did not dare to take a risk wetting my camera and also my clothes, I ran back to the car. And . . that was why I’ve just got few pictures 😦

IMG_MAN05

 

Keterangan :

Postingan singkat ini aku buat untuk melengkapi postinganku sebelumnya yang bertutur mengenai Danau Maninjau, di Sumatera Barat. Jika sebelumnya aku sajikan pemandangan danau yang aku ambil dari Puncak Lawang, maka kali ini aku coba sajikan pemandangan Danau Maninjau yang aku ambil dari jarak yang lebih dekat. Jadi waktu itu, setelah puas mengambil foto dari Bukit Lawang, aku memutuskan untuk turun ke tepi danau. Memang tidak dapat dipungkiri, bahwa air danau yang tenang itu seolah memanggil orang yang memandangnya untuk berkunjung ke tepiannya, dan jika memungkinkan menjejakkan kaki di tepiannya untuk merasakan sejuknya air danau itu. Itu pulalah yang aku rasakan, sehingga melalui jalan berliku menurun yang terbentang dari daerah Ambun Pagi sampai tepi danau itu aku berkendara. Jalan berliku tersebut terkenal dengan sebutan Kelok Ampek Puluah Ampek. Jangan kuatir pusing melalui jalan tersebut karena pemandangan indah yang tersaji di sepanjang jalan membuat siapapun melupakan rasa pusing akibat jalan yang berkelok-kelok itu. O ya, buat yang gak percaya kalau ada betul-betul 44 buah kelokan di sepanjang jalan itu, aku sarankan gak usah repot-repot menghitung karena di setiap kelokan itu terdapat papan yang menjelaskan itu kelokan yang keberapa  🙂

IMG_MAN06

Di sepanjang jalan, kadang pelancong yang melewati jalan tersebut akan menjumpai gerombolan kera yang duduk berjejer di tepi jalan, seolah-olah menyambut setiap pelancong yang melalui jalan tersebut. Ada pula beberapa warung kopi sederhana di sepanjang jalan tersebut. Memang secangkir kopi hangat ditemani beberapa jenis kue-kue khas daerah tersebut sangatlah tepat untuk dinikmati di tengah hawa sejuk tempat itu, apalagi sambil memandang keindahan pemandangan yang tersaji di luar jendela tempat tersebut. Aku sendiri waktu itu menyempatkan berhenti di kelok 37, di sebuah warung kopi yang memasang nama Pondok Indah di depannya; padahal menurut aku, di situ yang indah adalah pemandangannya dan bukannya pondok yang dijadikan warung kopi itu 😛

IMG_MAN07

Sayangnya aku kesana tidak pada waktu yang tepat. Mendung yang terus membayang sejak dari Puncak Lawang semakin tebal. Dan ketika akhirnya aku menjejakan kaki di tepi danau, dari kejauhan aku melihat awan tebal mulai berubah menjadi hujan yang dengan cepat bergerak dari tengah danau ke arah dimana aku berdiri mengambil beberapa foto. Keadaan itu memaksaku untuk segera berkemas dan lari kembali ke mobil yang aku pergunakan karena aku tidak mau mengambil risiko menjadi basah kuyup tersiram hujan lebat itu. Dan . . . itu pula sebabnya mengapa aku hanya berhasil memperoleh sangat sedikit foto kali ini :(. Mudah-mudahan lain kali masih ada kesempatan untuk kembali ke sana lagi dalam cuaca yang lebih bersahabat.

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 35 Comments

A lake view from above

The lake in the picture below was Danau Maninjau (Maninjau Lake), a lake located in Tanjung Raya Sub-district, Agam Regency, in West Sumatra Province, Indonesia. It was the second largest lake in the province, and became the source of the water of Batang Sri Antokan River that flow to the Indian Ocean.

IMG_MBL01

To see the lake from above, travelers could see that the mountains rim around the lake was similar to that of a crater rim. Yes, Maninjau Lake was a volcanic lake which was formed after a massive eruption of an old volcano called Mt. Sitinjau. It was the caldera of the mountain that became the lake.

IMG_MBL02

I took all the pictures in this post from the highest point on the mountains range surrounding the lake that called Puncak Lawang or Lawang Top. Lately Puncak Lawang became one of the top view point of Danau Maninjau, and for that there was a resort at Puncak Lawang which enabled travelers who want to spend a night or two just for experiencing the tranquil atmosphere there while enjoying the view of Danau Maninjau. Aside of them who spend their night in the resort, there were also many who came to Puncak Lawang just to admire the beauty of God’s creation that laid below them like what I did. Unfortunately, when I was in Puncak Lawang, dark clouds covering the area above so the view to the lake was quite dull  😦

With the height of 1,200 meters above sea level, it was sure that the temperature in Puncak Lawang was quite cool all year long. It was quite windy too at the top. So . . make sure to bring the jacket along with you when visiting Puncak Lawang.

To reach Puncak Lawang from the province’s capital city, Padang, travellers had two alternative routes. The first route was from Padang through Pariaman to the lake shore, and then drove upward to Puncak Lawang; and it took about 3.5 hours drive. The other route was from Padang through Bukittinggi then went directly to Puncak Lawang; it took longer if travellers chose the second route as it need more or less 4 hours drive through a scenic road. Unfortunately, there were no public transports to reach the place, so travellers could either use a taxi or a rented car.—

IMG_MBL10

 

Keterangan :

Pemandangan danau yang aku sajikan kali ini adalah pemandangan Danau Maninjau yang merupakan Danau terluas kedua di Propinsi Sumatera Barat. Danau yang terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, ini juga merupakan hulu dari Sungai Batang Sri Antokan yang mengalirkan air danau ini dengan deras, sehingga Pemerintah membangun sebuah PLTA di sungai tersebut.

IMG_MBL06

Kalau kita lihat dari ketinggian, akan tampak bahwa deretan pegunungnan yang mengelilingi Danau Maninjau menyerupai dinding kawah sebuah gunung berapi. Hal ini tidaklah mengherankan karena Danau Maninjau merupakan sebuah danau vulkanik yang terbentuk akibat meletusnya gunung api purba yang bernama Gunung Sitinjau. Kisah meletusnya gunung ini menjadi legenda yang dipercaya masyarakat setempat sebagai asal mula terbentuknya danau yang indah ini dan juga asal mula nama-nama nagari yang ada di sekitar danau tersebut. Bagi rekan-rekan yang ingin mengetahui kisah legenda tersebut secara lengkap, bisa membacanya di sini.

IMG_MBL08

Foto-foto yang aku sajikan di sini aku ambil dari salah satu titik tertinggi yang ada di deretan pegunungan yang mengelilingi Danau Maninjau tersebut. Titik tertinggi tersebut sekarang sudah semakin dikenal sebagai salah satu titik terbaik untuk menikmati keindahan Danau Maninjau dari ketinggian. Orang menyebut tempat tersebut dengan nama Puncak Lawang. Di Puncak Lawang sekarang sudah terdapat sebuah resort yang memungkinkan para pelancong yang ingin menghabiskan waktu untuk merasakan ketenangan sambil mengagumi keindahan ciptaanNya tinggal barang semalam atau dua malam. Meskipun demikian, selain mereka yang menginap, Puncak Lawang juga tidak pernah sepi dari pengunjung yang hanya sekedar ingin lepas dari kejenuhan maupun mereka yang ingin menghabiskan waktu dengan orang-orang yang dikasihinya sambil memandang keindahan yang terhampar di bawahnya.

IMG_MBL07

Sayangnya ketika aku berkunjung ke sana, awan hitam bergayut sepanjang waktu sehingga pemandangan yang seharusnya indah terkesan agak suram. Itupun tidak mengurangi minat banyak pengunjung lain yang datang untuk menikmati semilir angin dan udara yang cukup sejuk di Puncak Lawang itu. Maklumlah, dengan ketinggian kurang lebih 1.200 meter di atas permukaan laut, bisa dipastikan bahwa hawa di tempat itu akan selalu sejuk sepanjang tahun. Karena itu, bagi mereka yang tidak tahan dengan udara dingin, ada baiknya tidak lupa membawa jaket jika ingin berkunjung ke tempat ini.

IMG_MBL11

Untuk mencapai Puncak Lawang, para pelancong yang mengambil Padang sebagai titik awal perjalanan mereka bisa memilih salah satu dari dua rute yang bisa ditempuh. Yang pertama dari Padang pelancong bisa berkendara menuju Lubuk Basung melalui Pariaman, dan setelah mencapai tepian Danau Maninjau bisa mengambil jalur naik menuju Bukittinggi melalui Kelok Ampek Puluah Ampek yang terkenal itu. Tidak jauh dari kelokan yang terakhir akan ada petunjuk arah berbelok ke kiri, naik menuju ke Puncak Lawang. Jalur ini bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 3,5 jam. Jalur lain yang juga bisa diambil jika tidak mau lewat Pariaman adalah dengan melalui jalur Padang – Bukittinggi kemudian di teruskan ke arah Danau Maninjau. Jalur ini merupakan kebalikan dari jalur yang pertama, oleh karenanya jalan masuk menuju ke Puncak Lawang terdapat sebelum kelokan pertama dari Kelok Ampek Puluah Ampek itu. Tepatnya di Kecamatan Matur. Dengan mengambil jalur ini, Puncak Lawang bisa dicapai dalam waktu kurang lebih 4 jam berkendara. Hanya saja perlu diingat, bahwa belum ada kendaraan umum yang melayani penumpang langsung ke Puncak Lawang ini, sehingga pelancong yang ingin berkunjung ke Puncak Lawang disarankan untuk mempergunakan taksi ataupun mobil sewaan.–

IMG_MBL09

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 44 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.